Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Permintaan


__ADS_3

Jadwal periksa kandunganku adalah hari ini. Hari Senin, pukul 10.00 WIB. Mas Arlan bersedia meminta izin untuk menemaniku. Bahkan ia menunda rapat di jam yang bertabrakan dengan jadwal pemeriksaan janinku. Entahlah, apa yang membuat Mas Arlan sampai seperti itu. Sepertinya anak kami dan diriku adalah yang paling penting. Selama tidak terlalu banyak merugikan pekerjaannya, aku bisa menerima.


Lagipula aku sudah sering berkata--jangan terlalu memaksa. Namun, Mas Arlan masih bersikeras dalam hal ini. Biarlah, biar aku menikmati kasih sayangnya dimasa-masa kehamilan ini.


Hingga kami sampai di rumah sakit, Mas Arlan sudah membuat janji dengan salah satu dokter kandungan yang ia kenal. Aku rasa, bekas dokternya Nia. Ck! Jika itu benar, lagi-lagi aku harus menggunakan semua bekas Nia. Entah mengapa, belakangan ini benakku terua terbayang wajah wanita itu. Aku tidak tahu pasti, antara kesal atau bagaimana. Terlebih, sampai saat ini dia orang belum berbuat apa-apa.


Lupakan tentang Nia terlebih dahulu. Karena Mas Arlan sudah sampai di rumah kami, mobilnya terhenti tepat didepan gerbang rumah ini. Karena tidak mau menyulitkannya, aku yang sudah siap segera datang menghampirinya. Kuserahkan semua urusan rumah dan didalamnya pada tukang kebun kami. Setelahnya, aku segera masuk ke dalam mobil Mas Arlan.


"Hai, Sayang." Mas Arlan memberikan sapaan ramah padaku diiringi kecupan manis di pipiku. "Mas lama ya?" tanyanya sembari melaju mobilnya kembali.


"Enggak, Mas. Cepet kok. Emang nggak apa-apa nih, nemenin aku?"


"Udah tenang aja. Mas udah izin ke Pak Ruddy juga. Lagian keadaan kantor sedang kondusif."


"Terus meeting-nya?"


"Meeting sama Celvin doang, Dek. Jadi dia bisa ngerti kok."


"Oh, Celvin. Hmm ... apa kabar dia, Mas? Rindu juga."


"Huuus! Sembarangan, rindu ya sama suamilah. Ngawur kamu!"


Aku terkekeh kecil dibuatnya. "Orang nanya kabarnya doang kok. Lagian aneh sih kamu, Mas. Masih aja kesel kayak gitu, kalau aku bahas Celvin. Dia kan pacarnya Riska, Mas. Lagian aku udah hamil kok. Dasar!"


"Nggak peduli. Sebagai suami kamu, Mas berhak melarang kamu untuk hal rindu."


"Hmm ... baiklah, Pak Bos-ku tersayang."


"Nah, gitu kan bisa jadi istri teladan. Emm ... ngomong-ngomong, Selli aman, kan?"


"Iya, Mas. Sama Bi Onah, aku udah suruh kunci semua pintu kalau mau tidur. Bahkan ke Pak Edi juga."


"Bagus kalau gitu, Dek."


Deru mobil ini masih mengalun menyeruak masuk ke dalam pendengaranku. Bersama suami yang baik hati ini, aku hendak memeriksakan calon anak kami. Kubelai halus perutku, aku tersenyum sembari berfantasi tentang wajah anakku. Cantik ataukah tampan? Apapun hasilnya nanti, aku wajib berbangga hati. Ini adalah hasil jerih payahku dengan Mas Arlan dan kami wajib menjaganya.


Sampai beberapa saat kemudian, kami bersama mobil ini sampai di rumah sakit yang dituju. Mas Arlan mencegahku untuk membuka pintu. Entahlah, mungkin ia hendak membukakannya untukku. Dan benar saja, ia turun terlebih dulu. Berputar menghampiri pintu yang menjadi jalan keluar terdekat untukku. Ia membukanya untuk diriku. Perhatian kecil nan manis, gratis dan tanpa rasa ironis. Seperti senyum indah yang selalu Mas Arlan torehkan di wajahnya pada saat menghadapi diriku ataupun Selli.


"Baiklah, yuk masuk, Dek." Tangannya diserahkan padaku Tentunya agar aku menyambutnya, sehingga membentuk suatu gandengan yang mesra. Kami berdua mengambil langkah untuk masuk ke dalam rumah sakit.


Meski selama ini masih dalam keadaan baik, entah mengapa jantungku masih berdebar. Takut-takut jikalau terjadi sesuatu yang tidak baik didalam kandunganku. Oh ... jangan sampai! Aku berharap kondisi calon anakku dan juga diriku tetap baik-baik saja. Lagipula, aku sangat memperhatikan asupan makananku dan perawatan dari suamiku.


Tak banyak orang disini, mungkin tingkat orang sakit tahun ini tidak terlalu banyak. Alhamdulillah. Kini aku dan Mas Arlan sudah sampai di depan pintu suatu ruangan. Yang pasti khusus untuk kandungan.


"Eh? Arlan, masuk gih," sapa seorang Dokter disana. Parasnya cukup manis dengan kulit sawo matang, hidung mancung bersama satu lesung pipit di pipi kirinya. Begitulah visual Dokter tersebut, nyaris mirip penyanyi Indonesia yang bernama Afgan. Lebih tepatnya Dokter yang sudah membuat janji dengan Mas Arlan. Tampaknya mereka adalah teman lama. Dan pasti, Dokter yang merawat Nia juga. Baiklah, ini bukan masalah besar. Tak mungkin aku merasa kesal karena hal itu.


"Iya, Nu. Tolong bantu istriku ya?" pinta Mas Arlan sembari menggandengku untuk masuk ke dalam.


"Siap, Lan. Udah jadi tugas gue sebagai Dokter. Mari, Mbak Fanni. Kita periksa dulu di bilik sini."


Aku mengangguk dan melepaskan genggaman tangan suamiku. Setelah itu, aku berjalan memasuki ruang pemeriksaan. Diriku disarankan untuk merebah diatas ranjang pasien. Aku menuruti. Lalu Dokter yang bernama Wisnu Aditama ini mulai melakukan beberapa prosedur pemeriksaan tertentu.


"Bahagia sama Arlan, Mbak?" tanyanya.


"Emm ... ya bahagialah, Dok. Apalagi lagi hamil sekarang," jawabku.


Dokter Wisnu tersenyum. "Dia emang orang baik, Mbak. Emang agak culun aja hehe."


Begitu dikatai culun, terus gue kek gimane?


Aku hanya membalas senyumannya saja. Aku rasa, Dokter Wisnu adalah teman sekolah dari Mas Arlan. Aku teringat akan cerita dari Mas Arlan bahwasanya ia adalah orang yang sangat menggilai buku. Menurutku, itulah yang menyebabkan Dokter manis ini menyebutnya begitu. Tak apa, sebagai panggilan akrab mungkin. Yang penting, Mas Arlan saat ini malah jauh lebih keren. Bahkan melebihi Dokter Wisnu ini.


Tak lama kemudian, Dokter Wisnu memintaku untuk bangun kembali. Beberapa hal disampaikan padaku, mungkin nanti pada suamiku juga.


"Alhamdulillah semua sehat, Mbak. Yuk ... sudah boleh keluar. Keburu ditunggu suami nanti."


"Baik, Dok. Terima kasih."


"Oh iya, nanti duduk dulu didepan meja saya ya. Saya perlu menyampaikan beberapa hal."

__ADS_1


"Baik, Dok."


Selepas itu, aku keluar dari bilik periksa ini. Kuhampiri Mas Arlan yang sudah duduk dengan tenang di hadapan meja konsultasi milik Dokter Wisnu. Sorot matanya begitu teduh disertai semburat senyuman, senyum yang kerap kali membuatku tersipu malu. Kemudian aku duduk disalah satu kursi tepat disampingnya.


Tak lama setelah diriku mengambil posisi duduk, Dokter Wisnu pun keluar. Ya, ia menemui kami. Tersenyum, itulah respon awal yang ia berikan pada kami berdua. Seolah memberikan tanda bahwa aku baik-baik saja seperti yang sempat ia ucapkan tadi.


"Emm ... Mbak Fanni ini memiliki riwayat sakit kan ya? Maag, kan?" tanya Dokter Wisnu padaku.


Aku mengangguk pelan. Namun ketika hendak menjawabnya, Mas Arlan segera menyela, "emang kenapa, Nu? Berpengaruh ya? Istri dan anakku baik-baik aja, kan?"


"Haha ... tenang, Lan. Baik semua kok, tak usah khawatir dirimu. Dengan catatan, istrimu jangan terlalu lelah. Banyak minum vitamin, buah-buahan yang dianjurkan dan yang tepat. Nanti aku tulis resep pereda mualnya juga, khusus ibu hamil."


Aku manggut-manggut. "Tapi, emang masih sering mual saya, Dok. Muntah juga walaupun hanya berupa cairan."


"Iya, itu wajar kok, Mbak. Saya juga pernah bilang sebelumnya, mungkin memasuki bulan ke empat bulan. Yang sabar, Mbak. Nikmati prosesnya saja. Tiap orang memang agak berbeda, kadang bahkan ada yang enggak sama sekali."


"Iya, Dok. Saya sabar dan kuat kok hehe."


Ya! Aku sabar dan kuat. Demi anak didalam kandunganku tentunya. Meski belum bisa memastikan antara cewek atau cowok, tak apa. Toh apapun hasilnya aku akan tetap menyayanginya.


Selanjutnya, Dokter Wisnu memberikan beberapa saran lagi. Untuk yang tidak boleh dilakukan olehku, ataupun yang boleh. Bahkan perkataannya sama seperti yang ibuku katakan. Yah, namanya juga sudah berpengalaman. Kecuali, Bi Onah, lantaran beliau masih mempercayai beberapa mitos dari kampung beliau. Apapun itu dan dari siapapun itu, selagi masuk akal dan baik untuk diriku, pasti akan aku ikuti.


"Oh iya, kalian ini sudah nikah berapa lama?" tanya Dokter Wisnu lagi.


Mas Arlan menghela napas panjang lalu mengembuskannya. "Kira-kira satu tahun lebih, Nu. Kenapa?" tanyanya kembali.


"Enggak, masih mesra aja. Kali ini kamu harus lebih menjaga, Lan. Mbak Fanni tampaknya orang yang baik."


"Pasti, Nu. Tak perlu kau suruh-suruh diriku ini."


Mendengar keakraban mereka, sepertinya Dokter Wisnu juga mengetahui tentang masa lalu Mas Arlan. Wajar saja, jika memang benar Dokter Wisnu yang menjadi dokter pribadi untuk Nia. Jujur, sedikit menyebalkan. Tak seharusnya ia berkata tentang masa lalu, sedangkan aku masih ada disini. Meskipun meminta Mas Arlan menjagaku, namun semakin lama malah jatuhnya menggoda.


Namun, diriku tiada daya. Aku tidak berani mengatakan apa-apa. Aku hanya bisa terdiam sembari mendengarkan kelakar dari keduanya. Bahkan, tawa mereka sering terdengar begitu nyaring sampai mengisi ruangan ini. Beruntungnya, ruang ini kedap suara. Sehingga tidak terlalu memalukan.


"Bentar, bentar, saya heran lho, Mbak Fanni."


"Kenapa, Dok?"


"Maksud Dokter karna dia seorang duda beranak satu? Ah ... jelas dia lebih tampan dari Dokter Wisnu, jadi saya mau."


Dokter Wisnu terkekeh seketika tatkala mendengar jawabanku. "Haha ... bukan itu, Mbak. Emang Mbak Fanni nggak tahu?"


Aku mengernyitkan dahi dan menatap curiga pada Mas Arlan. "Tahu soal apa? Apa yang kamu sembunyikan, Mas?"


"Eh enggak kok. Nggak ada, Dek. Aneh dia mah. Suwer," jawab Mas Arlan.


Dokter Wisnu kembali terkekeh. "Bukan, bukan soal begitu. Kami ini sudah berteman sejak lama, Mbak. Tapi, sudah lama juga enggak bertemu. Lama banget ya, Lan?"


Mas Arlan mengangguk. "Beberapa tahun yang lalu. Tepatnya saat aku dapat masalah besar dan menghilang."


"Jangan begitulah. Ada istrimu disini, kalian sudah bahagia."


Benar saja, mereka sudah kenal sejak lama. Dokter Wisnu juga mengetahui masa lalu Mas Arlan yang adalah Nia. Dugaanku benar. "Lalu, kok bisa bertemu lagi?" tanyaku.


"Entah kebetulan atau apa ya, Mbak. Pas banget sama kehamilan Mbak Fanni. Kami dipertemukan kembali, istri saya bekerja di Sanjaya Group. Saya menjemputnya malah ketemu pimpinannya. Enggak menyangka, dari Harsono sampai ke Sanjaya. Hebat kamu, Lan."


Mas Arlan menghela napas dalam dan mengembuskannya kembali. Pandangan matanya mengarah ke atas, tepatnya ke plafon ruangan ini. Seolah ia tengah bernostalgia dengan kenangan masa lalunya. Atau mungkin sudah tidak mau membahasnya.


Namun, Dokter Wisnu sepertinya adalah tipikal orang yang to the point alias blak-blakan. Meski seorang dokter, ia tidak terlalu peka akan perasaan orang lain. Yah, wajar saja. Ia spesialis kandungan dan bukan dokter mental.


"Banyak yang udah terjadi, Nu. Selepas keributan itu, aku menarik diriku. Entah dari jabatan, ataupun lingkup pertemanan. Aku terlalu malu lantaran gagal. Kamu pasti tahu, rajinnya aku dalam belajar. Pada akhirnya malah gagal seperti waktu itu," jelas Mas Arlan.


"Namanya juga kehidupan, Lan. Enggak ada yang tahu ke depannya. Dan sekarang, kurasa dirimu telah bahagia dengan istri dan anak. Intinya sabar dan ikhlas."


"Iya, Nu. Sorry, aku nggak pernah kasih kabar."


"Haha ... aku bisa mengerti. Oh iya, Mbak. Aku pikir Mbak Fanni ini takut sama suami lho. Enggak ya?"


Dahiku berkernyit lagi. "Memang kenapa, Dok? Takut soal bagaimana?" tanyaku dengan bahasa sebaku mungkin, karena belum terbiasa berbincang dengannya.

__ADS_1


"Oh, enggak tahu ya? Pak Arlan ini tegasnya luar biasa. Istri saya banyak bercerita. Wow! Galak, parah katanya. Meskipun hanya ada satu titik kesalahan dipekerjaan, bisa kena marah sepanjang hari lho."


Mas Arlan menyela, "halah! Lebay loe, Nu. Enggak gitu juga. Ah ... jangan hasut istriku. Tegas doang, beda sama galak."


"Beda tipis, Lan. Istri gue sampe takut."


"Hahaha ... enggak, Dek. Mas nggak sejahat itu kok. Ya udah, ayo pulang, Dek. Thanks, Nu."


"Oke, sama-sama Brother. Hati-hati di jalan kalian."


Aku dan Mas Arlan menjabat tangan Dokter Wisnu. Selepas itu, kami berdua keluar dari ruangan ini. Langkah kami terus tarayun menyusuri lantai rumah sakit ini. Beberapa pernyataan dari Dokter Wisnu berhasil membuatku terbayang. Mas Arlan galak? Hmm ... tidak buruk juga. Biar saja ia galak dan tegas, yang penting dalam hal untuk kebaikan karyawan.


Mengapa aku malah senang? Ya, setidaknya para karyawan merasa takut padanya. Nyali untuk menyukai suamiku pun akan hilang dan sirna. Jadi, aku tidak perlu khawatir. Aku sangat mempercayai suamiku, namun bukan berarti aku tidak punya rasa takut. Kerap kali, aku bertanya-tanya. Adakah wanita yang menyukai Mas Arlan diluar sana. Namun mendengar pernyataan dari Dokter Wisnu, malah membuat hatiku lebih tenang seketika. Bahkan, sampai tersenyum-senyum sendiri dalam membayangkan wajah wanita lain yang ketakutan atas ketegasan dari suamiku.


"Masuk, Dek. Senyum-senyum bae. Mikir apa sih?" Mas Arlan memintaku memasuki mobilnya pada saat kami sampai di tempat keberadaan mobil tersebut.


"Nggak apa-apa, Mas," jawabku sembari bergerak masuk melalui pintu yang telah ia bukakan untukku.


Dan ketika aku sudah berada didalam, Mas Arlan berjalan setengah putaran menuju pintu kemudi mobilnya. Kemudian, ia menyusulku masuk ke dalam mobil. Perlahan namun pasti, mobil ini dilaju untuk meninggalkan rumah sakit ini.


Deru mobil kembali terdengar nyaring. Panasnya mentari seakan mampu menembus kaca mobil ini. Cuaca cukup cerah, tiada awan gelap satupun di angkasa sana. Seakan mengerti perasaanku yang sedang berbunga-bunga. Selain kondisi diriku dan anak didalam kandungan baik-baik saja, aku juga mendapatkan kabar atas sikap suamiku pada wanita orang lain.


Mungkin hal itu terdengar sangat sepele. Namun bagiku sangat mengesankan. Bagaimana tidak, aku merasa diperlakukan sebagai wanita paling berbeda. Untuk Fanni yang gendut ini, Mas Arlan begitu lembut dan baik hati. Semoga apa yang dikatakan oleh Dokter Wisnu memang benar adanya. Agar aku tidak merasa risau lantaran rasa hati yang kerap khawatir.


"Hei, Dek!"


"Hmm? Apa, Mas?"


"Kenapa sih? Senyum-senyum gitu? Jangan-jangan kamu kesengsem sama Wisnu?"


"Ya Allah, Mas. Ya enggaklah, ih cemburuan deh kamu. Aneh."


"Terus?"


"Hmm ... aku seneng aja, kamu galakin cewek lain. Maksudku orang lain, karyawan kamu."


"Lho? Jahatnya. Tapi emang bener sih, Dek. Mas nggak bisa ramah kalau di kantor. Dari jaman di Harsun Group. Kenapa bisa gitu ya?"


"Maybe, kamu terlalu fokus sama pekerjaan, Mas. Jadi terkesan cuek. Tapi emang harus gitu. Biar aku aja yang menikmati senyuman kamu, Mas. Kamu jadi galak aja kalau di kantor. Jangan genit, jangan nakal, jangan suka sama cewek lain. Aku nggak mau kalau salah satu atau semuanya dari itu sampai terjadi."


"Duh ... gemesnya, si bumil satu ini. Mas bolos ah."


"Eh? Nggak boleh!"


"Biarin, cari alasan aja nanti. Mas nggak bisa tahan sama keimutan kamu, Dek. Pokoknya harus cepat sampai rumah."


"???"


Apa gue salah bicara? Dimana? Gue cuma ngingetin aja kok. Imut? Ah ... konyol!


Mobil yang kami tumpangi melesat lebih cepat daripada sebelumnya. Tampaknya niat bolos Mas Arlan bukan main-main semata. Sungguh, hal ini tidak pantas menjadi contoh untuk orang lain. Jadi, jangan sampai diikuti. Sedangkan diriku, tampaknya perlu bersiap-siap untuk pertempuran nanti. Oh ... aku sedang hamil!


****


Rencana Mas Arlan terpatahkan secara tiba-tiba. Ia membolos bukan untuk diriku, melainkan untuk sang pemilik mobil putih yang tengah berhenti didepan gerbang rumah kami. Sialnya, pemiliknya adalah mantan istrinya yaitu Nia.


Aku hanya bisa menelan saliva pada saat Mas Arlan turun dan mendatanginya. Demi memastikan semuanya, aku mengikuti langkah yang ia lakukan. Ya, aku ikut turun dari mobil ini. Mengapa Nia harus bertindak secepat ini?


"Apa maksud kamu datang kemari?" tanya Mas Arlan pada Nia, sesaat setelah wanita itu bersedia turun dari mobilnya. Tatapan mata Nia begitu tajam dalam memandang kami secara bergantian.


"Saya ingin anak saya, Mas. Bukan! Bapak Arlan," jawab Nia penuh kemantapan.


"Tidak akan saya serahkan anak kami pada wanita seperti dirimu!"


"...."


Leher Nia tampak naik turun, tampaknya ia sedang menelan salivanya. Kedua telapak tangannya mengepal, seolah sedang menahan amarah. Kali ini Nia datang untuk merebut Selli bukan mengemis cinta lagi pada Mas Arlan. Bahkan, sepertinya ia tidak sedang main-main. Ia terlihat sangat serius. Membuat jantungku berdebar tidak menentu.


Tidak! Aku tidak akan menyerahkan Selli. Maksudku aku dan suamiku. Apa rencana dibalik semua ini? Demi Selli atau demi keuntungannya? Ada dua kemungkinan yang kiranya bisa terjadi. Pertama--ia benar-benar menyesal atas perlakuannya terhadap Selli selama ini dan ingin menebus semuanya. Hanya saja, ia malah mengatakan hal-hal buruk. Kedua--ia ingin memanfaatkan Selli, jika Selli berada di tangannya, maka ia bisa memeras Mas Arlan dengan mudah. Menggunakan Selli sebagai alasan.

__ADS_1


Bersambung ...


Budayakan tradisi like+komen


__ADS_2