
Setelah sampai di apartemenku. Aku membersihkan tubuhku dari debu dan juga lelah. Setelah itu menunaikan ibadah maghribku.
Aku sudah mendapat apa yang aku inginkan selama ini. Lalu mengapa aku belum juga bahagia? Apakah semua manusia di dunia ini pernah mengalami hal sepertiku? Aku harap iya, agar aku bisa meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja seperti orang lain.
Aku sendiri sudah memberitahukan kepulanganku dengan mas Arlan. Tampaknya ia juga akan datang. Aku tau mas Arlan pastinya khawatir padaku. Dia kekasihku dan aku rasa itu adalah hal yang wajar. Ia masih terus membawa nama Selli untuk menjadi alasan bertemu denganku.
Aku pikir itu bukan ide buruk juga. Toh, kami tidak perlu canggung jika hanya berdua saja didalam apartemenku.
TING... TONG...
Bunyi bel pintuku akhirnya berbunyi. Aku rasa orang tersebut adalah mas Arlan. Lalu dengan cepat aku beranjak dan menghampiri keberadaan pintu.
Saat aku membukanya, memang benar ialah mas Arlan bersama Selli yang digendong depan olehnya. Entah mengapa perasaan kalutku hilang seketika tatkala menatap senyum Selli yang begitu imut dan manis.
"Selli cantik, uluh-uluh," ujarku pada gadis kecil tersebut.
"Hai tante, maafin Selli udah ganggu malem-malem," jawabnya memohon maaf padaku sehingga membuatku ingin menyentil gemas pada pipinya.
"Gadis pinter, masuk yuk gendong sama tante ya?"
"Nggak mau, Selli mau tulun, telus jalan sendili."
"Hehe... Selli udah gede ya ternyata."
Aku tersenyum sama halnya dengan mas Arlan. Ia mengerjipkan satu matanya dengan genit padaku. Sontak aku membalas dengan ekspresi geli. Namun diiringi tawa dari bibir kami.
Aku mempersilahkan pasangan ayah dan anak ini untuk masuk ke dalam apartemenku. Beruntung aku memiliki tiga jenis cemilan yang sudah aku beli dalam perjalanan pulangku dari rumah orang tuaku. Saat itu mas Arlan memang memanggil suara padaku. Dan tentu saja, aku memberitahukan bahwa aku pulang dan ia akan datang.
Untuk saat ini aku berusaha membuang segala macam pikiran kalutku. Aku ingin selalu tersenyum dihadapan gadis kecil yang telah menumbuhkan rasa sayangku padanya. Berbeda dengan perasaanku yang masih membeku pada ayahnya. Namun, itu urusanku dengan mas Arlan dan tidak ada sangkut pautnya dengan Selli.
"Nih cemilan buat tamu cantik yang dateng," ujarku sembari berjalan menghampiri mas Arlan dan Selli yang tengah duduk diatas sofa empuk milikku.
"Yeee... tante besal baik sekali deh," jawab Selli dengan riang gembiranya yang tersirat melalui ekspresi wajahnya yang ceria.
"Issh... tante cantik sayang, maaf ya Dek," sambung mas Arlan untuk mengingatkan Selli agar tidak memanggilku dengan sebutan tante diiringi embel-embel besal alias besar.
"Haha... santai Mas lagian itu kenyataannya, aku malah seneng dipanggil gitu daripada kamu penuh gombalan yang nggak real."
"Apa sih Dek? Jangan gitu, Mas mah selalu bilang apa adanya lho."
"Halah... isinya gombal mulu kayak anak baru gede."
"Aku serius lho sayangnya Mas."
"Isshh... ada Selli jangan manggil gitu."
"Biarin sih kan sama calon mama barunya ini."
"Mas!"
"Hmm... galak bener sih pacarku."
"Dasar ABG tua, nggak inget umur deh."
"Hehe... kalau lagi sama kamu, Mas rela dikata-katain deh yang penting Adek bahagia."
"Haha... makasih lho jadi terharu akunya."
Godaan demi godaan yang masih terdengar aneh di telingaku terus diucapkan oleh mas Arlan. Sedangkan aku hanya membalasnya dengan perkataan acuh dan rasa geli dihati.
Aku memilih untuk fokus pada Selli daripada ayahnya. Mendengar semua keluh kesah Selli. Mulai dari teman sekolahnya, rasa kesal karena ditinggal bekerja oleh mas Arlan, tidak lupa juga tentang masakan yang dihidangkan neneknya yang menurutnya terasa asin.
Selli begitu antusias dalam menceritakan berbagai hal padaku. Sampai aku menangkap perasaan kesepian yang berusaha gadis itu tahan. Aku tau dan aku paham. Seharusnya ia sudah bahagia bersama ayah ibunya. Namun, kenyataan berbanding terbalik dari yang seharusnya.
"Tante celalu tidul sendilian ya?" tanya Selli padaku.
"Iya sayang hehe," jawabku sembari mengangguk pelan padanya yang duduk tepat disampingku.
"Tante nggak takut sama pocong?"
"Ehh... pocong?"
"Iya Tante, kata temen Selli, dia pelnah ketemu sama pocong... seleeeem banget."
"Ketemu dimana katanya sayang?"
"Di kamalnya, kan waktu itu mama cama papa dia lagi bobok di kamal, telus temen Selli juga bobok di kamal sendili telus ada yang ketok jendela telus dibukain cama dia telus katanya pocongnya didepan jendela."
"Hahaha... iya deh Tante percaya sama Selli, makanya Selli jadi anak yang baik juga ya, jangan lupa baca do'a sebelum tidur. Oke?"
"Oke Tante, tapi Selli boleh nginep disini nggak?"
"Haah?"
Aku maupun mas Arlan dibuat terkejut dengan permintaan gadis kecil tersebut. Bahkan aku sempat berpikir, apakah mas Arlan yang mengajarinya meminta seperti itu.
Namun, saat aku menatap mas Arlan yang sedang melotot dengan rahang yang jatuh alias menganga. Aku rasa mas Arlan tidak mungkin mengajari anaknya meminta seperti itu.
"Selli mau tidur sama Tante?" tanya mas Arlan pada anak semata wayangnya tersebut.
"Iya Pa, Boleh ya Pa," pinta Selli lagi.
"Kapan-kapan aja ya sayang, kasian nenek lho dirumah."
"Tapi Pa."
"Selli sayang kan sama Papa? Kalau sayang nurut ya, kasian Tante Fanninya juga capek, besok kerja, Selli kan masih suka ngompol... gimana hayo?"
"Tapi Selli kangen banget sama Mama, Pa, kalau Selli tidul sama Tante bial lasanya kayak tidul sama Mama, kalau sama Nenek, ngolok mulu."
"Nak-"
Aku menyentuh tangan mas Arlan yang duduk di satu sofa di hadapanku. Aku menghentikan mas Arlan yang mungkin akan memberikan nasehatnya lagi pada Selli.
Hatiku pun seperti ditusuk sebuah pisau belati. Rasanya perih disaat Selli mengungkapkan perasaan rindunya pada ibu yang telah melahirkannya. Kini gadis tersebut hanya menunduk sambil terisak, ia menangis dengan suara yang terdengar ditahan. Begitu juga mas Arlan yang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Aku akui untuk anak seusia Selli, ia sudah bisa berpikir cerdas. Ia tidak mau kesedihannya ditampakkan pada orang lain. Namun, mau bagaimanapun itu, ia tetaplah seorang anak kecil yang haus akan kasih sayang seorang ibu. Meski aku tau, mas Arlan telah melakukan segala hal untuknya. Mas Arlan tetaplah seorang ayah yang tidak bisa menjadi ibu.
__ADS_1
"Sabar Mas," kataku untuk menenangkan hati mas Arlan sembari mendekap tubuh Selli dengan lengan tanganku.
"Aku sabar Dek, selalu... tapi Mas nggak tau Selli masih menyimpan rindu itu sendirian padahal dia terus keliatan ceria," jawabnya.
"Dia selalu ceria Mas, tapi rasa kangen sama ibunya bisa muncul kapan saja. Apalagi dia pasti sering lihat temennya dianter sama ibunya."
"Ya, Mas tau Dek, tapi kalau denger anak ngomong kayak gitu rasanya sakit banget."
"Nggak apa-apa Mas, wajar aja. Selama ini Mas udah berjuang jadi single parent yang baik, sekarang ada aku... Aku bakal bantuin beban apapun yang bikin Mas Arlan capek, aku janji."
"Tapi kamu masih jadi bayangan bagi Mas dek."
"Aku tau, tapi aku juga terus berusaha Mas... Aku tau aku udah jahat sama Mas, tapi aku janji aku nggak akan bikin Mas Arlan terluka untuk kedua kalinya, makanya aku minta sama kamu Mas, kamu juga jangan capek buat bikin aku cinta sama kamu sepenuhnya."
"Iya Dek, makasih. Mas akan terus berusaha perjuangin kalian berdua."
"Iya Mas, aku yang seharusnya makasih sama kamu, aku juga minta maaf."
Entahlah apa yang sudah kukatakan kini. Aku hanya tidak tega menyaksikan kesedihan mereka berdua sampai melontarkan kalimat yang tentu saja belum aku ketahui hasilnya. Apalagi dalam hatiku masih tersimpan rasa cemburu pada Celvin dan Riska.
Aku selalu saja seperti ini. Menambal sebuah kesedihan dengan hal yang belum pasti. Kemudian masalah lain akan datang. Tapi apa boleh buat, semua telah terucap. Tidak ada jalan lain kecuali berusaha menepatinya.
Aku membuang semua kegusaran hatiku dan memilih fokus kembali dengan Selli. Aku memangkunya diatas pahaku yang besar. Gadis itu menghadapku sekarang. Ia menatapku sebentar dan kuusap sisa air matanya yang membasahi pipi. Kemudian ia merebahkan kepalanya diatas dadaku sambil memelukku. Aku trenyuh sampai bersenandung kecil untuk sekedar menghibur hatinya.
Senandung indah adzan isya' mulai terdengar bersahut-sahutan dari masjid-masjid yang berada di kota ini. Alunan itu terdengar karena aku masih membuka jendela apartemenku. Bersamaan dengan Selli yang tertidur karena lelah menangis. Mas Arlan mengambil tubuh mungil gadis kecil itu, ia menggendongnya dengan penuh kasih sayang.
"Tidurin didalem lagi Mas," kataku.
"Nggaklah Dek, biar Mas gendong aja," jawabnya.
"Mas nggak sholat emang? Nggak pegel juga emang?"
"Oh iya ya, tapi Mas takut ngrepotin kamu terus Dek."
"Yaelah sama siapa aja deh."
"Sama pacarku sih."
"Hmm... mulai deh, udah tidurin dulu sana, kasian lho."
"Iya Dekku sayang."
"Hmm."
"Mas sekalian sholat ya?"
"Ke mesjid kek."
"Hehe... disini ajalah."
"Yaudah iya."
Mungkin memang terlihat ambigu saat mengizinkan seorang pria yang belum menjadi suami untuk beribadah di apartemenku. Aku tau itu, namun masih saja menjadi manusia yang bandel dengan aturan agama. Yah, manusia memang begitu bukan?
Mas Arlan mengambil air wudhu setelah merebahkan tubuh Selli diatas ranjangku. Ia kembali menumpang ibadah diruang ibadah yang telah kutentukan. Durasinya terasa begitu lama dari biasanya, mungkin mas Arlan membaca dzikir di akhir sholatnya. Aku rasa ia ingin menenangkan hatinya setelah merasakan perihnya hati dari ungkapan perasaan Selli.
"Nggak apa-apa Mas, santai aja," jawabku.
"Makasih Dek, yaudah giliran kamu sana."
"Iya Mas."
Aku beranjak dari dudukku di sofa. Aku mengambil air wudhu untuk bersuci. Kemudian menjalankan ibadah isya' yang sudah menjadi kewajiban umat islam.
Sama halnya dengan mas Arlan, aku menambah durasi untuk berdzikir dan meminta jalan terbaik untuk hidupku kepada Yang Maha Kuasa. Serta meminta ampunan atas semua dosa yang telah aku lakukan dan sampai sekarang belum mampu aku tinggalkan. Sampai selesai.
"Mas udah makan?" tanyaku.
"Belum Dek," jawab mas Arlan.
"Selli juga belum?"
"Udah kalau Selli, mas selalu biasain dia makan dulu sebelum kemana-mana."
"Terus bapaknya nggak gitu ya?"
"Hehe..."
"Aku pesenin lagi ya?"
"Jangan Dek, Mas belum pengen makan apalagi nasi."
"Mas Arlan sakit?"
"Nggak sih, cuman nggak selera aja."
"Jangan gitu, yaudah aku beliin bakso aja ya."
"Serius jangan, mie instan aja kalau ada."
"Tapi Mas, masa' mie instan?"
"Nggak apa-apa Dek, udah lama nggak makan mie instan, tapi kalau nggak ada nggak apa-apa kok."
"Hiii... dasar, padahal orang kaya masa' makannya mie instan."
"Maksud kamu?"
"Nggak hihi."
Aku bergerak kearah dapur dan mengambil dua bungkus mie instan dan dua buah telur. Tak lupa ku masukkan irisan cabai didalamnya. Sebuah makanan yang selama ini menjadi menu utama saat sarapan atau malas keluar. Apalagi jika datang tanggal tua.
Tak lama kemudian aku menyajikannya pada dua mangkuk. Lalu kembali menghampiri mas Arlan dan hendak menyantapnya bersama.
"Maaf ya Mas, baru bisa masakin ini," ujarku.
"Makanya belajar masak sana Dekku sayang," jawab mas Arlan diiringi senyum genitnya padaku.
__ADS_1
"Iya entar kalau nggak sibuk Mas, hehe."
"Iya deh, ditunggu masakan kamu."
Kami bersantap hidangan ekonomis tersebut. Lalu menghabiskan dalam waktu yang lumayan singkat.
Setelah itu aku membawa kembali mangkuk bekas. Aku berjalan kearah dapur dan menemui wastafel cuci piring. Aku termasuk orang yang tidak mau repot, maka dari itu selalu mengerjakan segalanya sesegera mungkin agar tidak menumpuk dan bisa membuatku malas.
"Dek?" panggil mas Arlan saat aku sudah kembali ke sofa dimana ia masih duduk diatasnya.
"Iya Mas," jawabku.
"Mama kamu tadi gimana?"
"Masih sama aja, dia masih melarang kita deket."
"Hmm... wajar aja kok."
"Maaf ya Mas."
"Bukan salah kamu Dek, lagian orang tua manapun pasti mau yang terbaik buat anaknya. Tapi Mas belum bisa berbuat apa-apa sekarang karna kita masih dalam tahapan perjanjian, Mas takut kalau ibu kamu udah luluh kamunya belum, tapi kalau akhirnya kamu udah luluh sama Mas, Mas bakal berusaha dapetin hati Mama kamu Dek."
"Maaf ya Mas, harus bikin masalah kayak gini buat Mas."
"Nggak apa-apa Dek, biar Mas juga tau rasanya perjuangin cinta Mas dan mempertahankannya suatu saat nanti biar kita nggak berakhir kayak hubungan Mas sama Nia."
"Mas aku mau jujur."
"Soal?"
"Emm... itu Mas, aku, aku kemarin ditanyain atasan tapi belum ngaku kalau yang telpon dari Mas yang udah jadi pacar aku. Maaf aku bingung dan nggak tau dan apa ya, pokoknya gitu."
"Celvin?"
"Mas tau?"
Mas Arlan terdiam. Lalu menghela napas panjang dan perlahan menghembuskannya kembali. Sedangkan aku cemas, aku takut mas Arlan kecewa terhadap diriku. Belum ada satu bulan saja aku telah membuatnya kecewa lagi.
Debaran jantungku pun mulai tidak beraturan. Saat mas Arlan belum juga berbicara. Aku bahkan tidak tau darimana ia tau nama Celvin.
"Mas?" panggilku lagi, tentu saja dengan segala keberanian yang masih tersisa.
"Iya Dek," jawabnya singkat.
"Maaf."
"Nggak apa-apa Dek, jujur sih Mas emang cemburu. Mas juga tau kamu suka sama Celvin, tapi Mas pikir perasaan kamu cuma perasaan kagum yang banyak cewek rasain sama Celvin."
"Dari siapa? Terus kenapa tau nama Celvin?"
"Siapa sih yang nggak tau nama keluarga Sanjaya, Dek. Kalau soal kamu, Mas udah tau semua."
"Ya sih, tapi Mas ngorek-ngorek soal aku dari siapa?"
Mas Arlan kini mengembangkan senyum dari wajahnya. Ia belum mau mengungkapkan siapa yang memberitahukannya tentang aku. Aku sendiri terus berpikir siapa yang bisa memberikan informasi tentangku pada mas Arlan.
Sampai akhirnya terlintas nama Nike dalam benakku. Mungkin saja benar, apalagi Nike telah membantu mas Arlan untuk menemuiku pada saat itu. Jadi hari ulang tahunku pun pasti Nike juga yang memberitahukannya. Wanita berhijab itu, membuat perasaanku sebal saja.
"Dari Nike ya?" tanyaku kemudian untuk memastikannya.
"Bukan kok," jawab Mas Arlan.
"Jangan bohong deh."
"Hehe... bukan dari Nike tapi dari suaminya."
"Sama ajalah."
"Tapi kamu jangan marah sama dia Dek."
"Nggak sih, sebel aja, emangnya Mas Arlan apanya suami Nike?"
"Temen kerja kok Dek."
"Temen kerja? Ngomong-ngomong soal kerjaan, sebenernya kerjaan Mas Arlan itu apa? Masa' kalau karyawan biasa mobilnya bagus? Belum lagi kalung kado kemarin"
"Kamu penasaran?"
"Iya."
"Dua bulan lagi, bersamaan sama jawaban pasti dari kamu. Anggep aja kita impas gitu."
"Lah?"
Aku tidak bisa menyangkal lagi. Aku belum punya hak menanyakan hal tersebut lebih dalam. Mungkin memang benar kita impas sekarang sampai dua bulan keputusanku nanti. Yah, kita bisa saling menunggu jawaban satu sama lain.
Waktu cepat berlalu dan semakin malam. Tepatnya di jam sembilan malam, mas Arlan menggendong tubuh mungil Selli yang masih tertidur untuk pulang. Ia masih belum mau menyetujui permintaan Selli untuk menginap di apartemenku. Aku juga memaklumi itu.
Aku akan mengantarkan mas Arlan sampai bawah. Kami berjalan bersama menyusuri lantai gedung apartemen ini dan memasuki lift untuk sampai di lantai dasar atau luar gedung.
"Kamu tidur yang nyenyak ya Dekku sayang," kata mas Arlan padaku.
"Iya Mas, Mas juga hati-hati bawa mobilnya," balasku.
"Siap sayang."
"Hmm."
Mas Arlan melaju mobilnya meninggalkan aku dan gedung apartemen. Setelah ia menghilang dari pandangan mata, aku berjalan untuk kembali ke istana kecilku.
Bersambung...
Budayakan tradisi like+komennya yaaa...
NIA adalah mantan istri mas Arlan. Terus kalo aneh nggak ada ttangga yang gosipin mereka bareng, karna kebnyakan orang2 yang tinggal di apartemen itu para pekerja yg sibuk dan nggak ada waktu buat gosipin orang. Saling cuek satu sama lain. Berbeda kalo tinggal di kampung atau komplek perumahan kota.
Tetep stayy yaa guys..
__ADS_1