
Pagi hari, aku sudah disuguhi oleh langkah kaki seseorang yang berjalan kesana kemari bagaikan gosokan. Tepatnya di teras rumahku. Ia menggigit ibu jarinya terus menerus bersamaan dengan langkahnya itu. Sesekali melenguh pelan, ia tampak sedang memikirkan sesuatu yang justru menggusarkan hatiku. Melainkan perihal semalam, mungkin tentang saranku yang memintanya untuk pulang karena demi anak-anakku juga.
Aku menghela napas dalam, lalu kuhembuskan kembali. Dengan membawa Sella di gendonganku, aku lantas melangkah menghampirinya. Ia bahkan belum menyadari keberadaanku. Ya, Riska benar-benar dipusingkan dengan masalahnya. Aku paham, namun tidak bisa berbuat banyak lantaran sudah memiliki anak. Bukan tidak ingin membantu, namun aku tidak ingin lagi melibatkan keluarga ini pada permasalahan anggota keluarga besar Harsono. Terlebih, Mas Arlan sedang tidak ada disini.
Aku menghentikan langkahku, tepat di ambang pintu utama rumah ini. Aku menatap Riska, kemudian mulai berkata, "apa kamu enggak puasa, Ris? Kenapa gigitin jari dari tadi?"
"Eh?" Riska terkejut. Seketika itu juga, ia menghentikan gerak kakinya yang sempat seperti gosokan yang dimaju-mundurkan. Riska menatapku kemudian. "Puasa, Kak. Kita kan sahur bareng," jawabnya.
"Iya, tapi sejak tadi kamu gigitin jati. Setahu aku, itu makruh."
Riska tertawa kecil disertai pipi yang memerah karena malu. "Maaf, Kak. Aku lupa, dan kebiasaan reflek."
"Jangan minta maaf sama aku. Aku bukan Tuhan .... Apa yang bikin kamu gelisah? Orang itu, atau keputusan pulang ke rumah?"
"Dua-duanya ...," jawab Riska melemah. Ia tidak lagi menatapku, melainkan memilih menunduk setelah menjawab pertanyaanku.
Aku tidak ingin membahas lagi. Semua keputusan ada pada dirinya, selama tidak melibatkan keluargaku, aku akan terima. Aku pun tidak ia tidak terlalu bodoh dalam mencari jalan keluar. Tidak mungkin ia merepotkan orang lain lagi. Sudah cukup keluargaku untuk melibatkan diri ke dalam masalahnya, cukup ketika ia berbuat tidak benar bersama Celvin. Sekali lagi aku katakan, hanya saran yang bisa aku sampaikan.
Aku berbalik badan, hendak mengambil langkah masuk ke dalam rumah lagi. Tanpa menghiraukan Riska lagi. Sella juga sudah tertidur pulas kembali.
Namun apa daya, langkahku harus kembali terhenti. Tepatnya saat aku mendengar mesin mobil yang dihentikan tepat di depan gerbang rumahku. Lantas, aku berbalik lagi dan keluar dari separuh jalanku. Siapa lagi kalau bukan Nyonya Sarita yang paling menawan dan cantik sejagar raya. Hari ini, beliau masih mengurus Sella. Hari pertama puasa, sanggupkah ibuku? Aku juga, apalagi masih memberikan--ASI. Entahlah, aku tidak janji, yang penting niat dulu.
"Pagi, Ma," sapaku kepada beliau yang baru turun dari mobil dan masuk ke dalam pekarangan rumah ini.
Namun beliau tidak menjawabku. Tatapannya begitu tajam diarahkan kepada Riska. Bahkan, bola mata ibuku tampak naik turun seolah sedang menghapal setiap lekuk bentuk tubuh Riska. Tentu saja, hal itu membuat Riska merasa tidak nyaman. Keponakan iparku itu, kini tengah menggaruk-garuk kepala lantaran bingung.
"Riska kan ya?" tanya ibuku kepadanya.
Riska tersentak kaget, ia berusaha menampilkan senyuman. "Iya emm ...?"
"Tante aja, umur kamu enggak jauh beda sama Fanni."
"Oh i-iya, Tante. Selamat pagi."
"Ya, ya, ngapain disini? Nggak kerja? Kayaknya baru bangun tidur?"
Duh, Mama!
Riska gelagapan dan salah tingkah. "I-iya ini mau kerja kok, Tante."
"Oh, gitu toh. Ya sudah, saya mau masuk." Wajah dingin ibuku tampilkan. Ada sesuatu yang sepertinya tidak beliau sukai. Entah apa, aku rasa mengenai keberadaan Riska pagi ini dan sudah ada di rumah ini.
Aku menghela napas dalam. Bingung, hanya bisa kuikuti langkah ibuku yang sudah berani masuk ke dalam rumah tanpa harus aku persilahkan. Sebelum pergi, aku hanya tersenyum kepada Riska. Selanjutnya meninggalkannya di teras. Langkahku dan ibuku saling beriringan untuk mencapai lantai dua, dimana kamar Selli berada. Selli sudah aku antarkan pagi-pagi tadi, sesuai waktu yang ditetapkan oleh sekolahnya.
Anak-anak tangga berhasil kami tapaki. Tidak seperti biasanya yang langsung girang menyambut Sella, kini ibuku hanya diam. Entah apa yang ada di pikiran beliau. Kalau belum berucap, maka aku tidak berani memulai. Aku sudah sangat paham mengenai omelan yang teramat panjang ketika beliau tengah tidak senang.
Lalu, sesampainya di kamar Selli, ibuku langsung duduk di tepian ranjang yang ada didalamnya. Helaan napas begitu dalam, beliau lakukan, setelah itu dihembuskan secara kasar. Beliau tengah kesal, aku sangat yakin.
"Sini biar Mama yang gendong," ujar ibuku meminta Sella dariku.
Karena tidak ingin berdebat, akhirnya segera aku serahkan putriku kepada beliau. "Ini, Ma. Pelan-pelan, masih bobo'."
"Ya, Mama tahu. Persediaan--ASI--gimana? Udah cukup?"
Aku mengangguk pelan. "Udah, Ma."
__ADS_1
"Kamu puasa, Fanni?"
"Udah niat sih. Enggak tahu nanti ditengah hari."
Ibuku kembali diam. Beliau malah asyik dalam menimang Sella, meski bayi cantik itu tengah tertidur pulas. Kutilik jam tangan yang aku pakai. Sudah hampir jam tujuh, mungkin terhitung lima belas menit lagi. Ingin rasanya tidak berangkat. Tentu saja berat untuk meninggalkan Sella. Belum lagi raut ibuku yang sedang masam-masamnya. Rasanya tidak nyaman, bahkan sangat!
Aku terdiam sembari memejamkan mata dalam beberapa saat. Pikiranku menduga-duga tentang sesuatu. Dan akhirnya muncul satu dugaan. Ya, pasti karena Riska. Mungkin ibuku berpikir bahwa ada masalah lagi dari keluarga besar Harsono. Rasanya ngilu di hati. Saliva pun terasa kelu untuk ditelan.
"Dia ngapain di sini?" tanya ibuku tiba-tiba.
Tentu saja pertanyaan itu sangat membuatku terkejut. Aku gelagapan, namun segera kuatur napas dan pita suara dengan dehaman sedikit kencang. Aku memberanikan diri untuk menghampiri beliau. Kemudian duduk di samping beliau. "Riska cuma main sama nginep doang kok, Ma," jawabku berbohong.
"Yang bener?" Ibuku menatapku. "Tapi muka dia kayak ada masalah lho. Mana jam segini harusnya udah rapi dan berangkat kerja."
"Emm." Aku kembali bingung untuk memberikan penjelasan bagaimana. Kuputar-putar bola mataku ke segala arah dengan harapan ada insipirasi sebagai kebohonganku kepada ibuku.
"Kenapa, Fanni? Ada masalah lagi?"
Diriku kembali tersentak. "En-nggak a-ada, Mama," jawabku terbata-bata.
"Jangan bohong! Mama emang bukan cenayang, tapi Mama seorang ibu yang perasaannya lebih peka. Mama juga pinter kok, dulu mau jadi psikolog enggak jadi gara-gara bapakmu itu."
"Emang Papa kenapa? Kok Mama malah salahin Papa?"
"Ada deh! Udah jangan bahas yang lain. Kamu sendiri gimana? Masalah apa lagi itu? Heran lho, ada aja. Keluarga kaya raya kok nggak bisa ngatur keluarga dengan baik. Emangnya nggak ada pendidikan agama disana? Udah anak perempuannya kabur, nggak mau jadi pimpinanlah, inilah, itulah."
Aku menepuk bahu ibuku dengan pelan. "Mama enggak boleh julid! Hari ini puasa lho, nanti batal mau? Fanni kan udah ngomong nginep doang dianya."
Bibir beliau mengerucut sebal. "Lagian, ada-ada aja! Kamu juga pasti bohong, lindungin aja terus orang kaya itu. Hidupmu sama suamimu aja jauh beda sama mereka. Masih aja, heran! Punya anak cewek satu-satunya, mau-maunya ditindas mulu. Emang Mama pernah ngajarin kamu jadi anak lemah? Inget Fanni, kamu pernah dibully nyampe bulim ... bula ... bulam ... apa ya?"
"Iya itu!"
Pada akhirnya aku tidak bisa melarikan diri dari kejaran omelan ibuku. Bahkan suara khas milik beliau berhasil membangunkan Sella. Dengan gerak cepat, tentu saja beliau langsung berdiri dan menimang sang cucu. Sedangkan aku terdiam membisu, meski terkadang mengambil napas dalam karena rasa tidak nyaman lagi. Aku juga khawatir jika Riska tengah mendengar perbincangan kami.
Aku tahu, ibuku sedang mengkhawatirkan diriku lagi dan lagi. Kenangan ketika aku terpuruk dan berada di titik paling rendah, membuat beliau benar-benar ketakutan. Bagaimana jika aku kembali tidak berguna seperti pada saat itu? Atau aku kembali diremehkan oleh orang lain karena fisik maupun statusku? Mungkin pertanyaan semacam itu yang ada didalam benak beliau.
Aku pun tetap berusaha untuk tidak melibatkan diriku ke dalam masalah Riska. Namun hal itu tidak harus aku jelaskan, bukan? Yang ada nanti ibuku semakin garang atas pemikiran itu. Belum lagi jika merambat kepada nama Mas Arlan. Sehingga ada baiknya aku menutupi permasalahan yang menimpa Riska. Toh, aku sudah berniat untuk tidak terlibat dan ikut campur.
"Fanni." Ibuku kembali memanggilku, beliau meletakkan tubuh Sella di atas ranjang milik Selli yang kembali tertidur. Setelah itu, menatapku dari sana. "Gimana Arlan? Dia kapan pulang?"
Glup! Aku menelan saliva lagi. Rasanya ingin mengeluh serta melarikan diri. Namun belum bisa. "Mas Arlan baik-baik aja, Ma," jawabku.
"Iya tahu. Di Australia, sambil liburan, ya baik-baik ajalah! Maksud Mama kapan dia pulang?!"
"Ada saatnya, Ma."
"Beneran tiga bulan?"
Aku menggeleng. "Enggak tahu. Itu masih belum pasti. Ta-tapi katanya udah ada perkembangan kok dari infonya. Mama nggak perlu khawatir."
"Kalau bukan suami kamu dan ayah dari anak kamu. Mama juga nggak mau khawatir sama dia, Fanni."
"Ih, Mama kok gitu sih? Kan Mas Arlan juga baik sama Mama."
Beliau melenguh. "Iya, dia baik. Tapi bodoh banget. Pokoknya, kalau sampai dua bulan Arlan nggak pulang. Enggak! Kalau satu setengah bulan dia nggak pulang. Kamu dan anak-anak kamu, Selli juga, harus ikut Mama!"
__ADS_1
Astaghfirllah!
Kuhela napas lagi, sangat dalam dan mengembuskannya secara kasar. Ibuku sudah mulai bersikap tegas. Ketika aku ingin melawan, aku memikirkan banyak hal. Aku khawatir jika kami bertengkar. Akan sangat memalukan jika hal itu sampai terjadi, apalagi aku sudah memiliki seorang, maksudku dua orang anak. Akhirnya aku hanya mengangguk saja.
Hatiku terus berharap agar Ibu Leny dan William cepat ditemukan. Supaya tidak ada lagi pemikiran negatif yang ada didalam benak ibuku. Demi semuanya, aku juga tidak ingin merusak citra Mas Arlan di mata keluargaku. Jika aku dan anak-anakku dibawa pulang, pasti ia akan kesulitan untuk membawa kami kembali. Bahkan, ibuku akan berencana membawa Selli yang merupakan cucu tiri.
"Ya udah, Ma. Fanni mau berangkat. Tapi, Mama janji jangan aneh-aneh sama Riska ya? Dia itu cuma mau pindahan ke rumah orang tuanya kok. Ke sini cuma mau minta izin. Tapi mobil dia di bengkel, jadi ke sininya pake taksi. Dia cemas mau pindahan pake apa. Pacarnya kan CEO lagi sibuk-sibuknya. Dia anak orang kaya, enggak sembarangan cari jasa pindahan," bohongku kepada ibuku.
Beliau termangu-mangu. Ada rasa ragu ketika hendak menerima alasanku. Namun itu tidak berlangsung lama, pada akhirnya beliau menghela napas yang terdengar lega. "Ya udah, berangkat sana. Hati-hati di jalan."
"Nitip Sella ya, Ma." Kuraih tangan beliau dan mengecup punggung telapaknya.
Setelah itu, aku berpindah kepada putri keduaku tersayang. Kukecup perlahan pipinya yang mulai mengembang chubby. Aku tersenyum, dengan rasa berat, aku kembali bangkit. Berbalik badan lalu keluar. Tidak lupa aku ucapkan salam.
Setelah mendapatkan tas, ponsel dan juga kunci mobil, aku kembali menapaki anak tangga. Berjalan pelan sembari memikirkan ucapan ibuku. Gusar itu sudah pasti menjadi perasaanku. Yah, semoga Mas Arlan bisa cepat pulang. Tidak ada jalan lain selain itu.
"Kak Fanni, aku nebeng ya? Mau ke apart," celetuk Riska pada saat aku sampai di lantai bawah. Ia baru saja keluar dari kamar tamu di sana.
"Oh ya, ayo. Masih banyak waktu kok."
"Iya, Kak." Riska menenteng dua plastik putih berisi kebutuhannya tadi malam.
Setelah itu, kami bergegas keluar dan menghampiri mobil. Bi Onah pun sudah siap untuk menutup pintu utama rumah ini. Sedangkan pikiranku menduga Riska akan memutuskan dalam waktu yang sedikit lama dan tentunya akan tetap berada disini. Ternyata tidak, meski aku belum tahu atas keputusannya itu.
Selanjutnya, kami telah berada didalam mobil milik Mas Arlan yang jadwalnya sedang aku gunakan. Perlahan aku mulai melaju mobil ini untuk meninggalkan rumah dalam waktu yang sementara. Pak Edi juga sangat sigap dalam membukakan gerbang rumah, lalu menutupnya kembali ketika aku sudah berhasil keluar bersama mobil ini.
Suasana pagi ini masih sama saja seperti sebelum-sebelumnya. Bedanya hari ini adalah hari pertema berpuasa. Semenjak tadi malam, aku belum sempat berbincang dengan Mas Arlan kecuali lewat pesan saja. Tampaknya ia banyak kesibukan. Perkembangan info, sepertinya sudah ia dapatkan. Aku tidak tahu, karena Mas Arlan belum menceritakan secara detail.
"Kak Fann, maafin aku dan makasih ya?" Riska berbicara dengan malu-malu.
Aku tersenyum. "Justru aku yang minta maaf sama kamu karna enggak bisa bantu banyak dan aku berharap kamu bisa ngerti ya, Ris," jawabku.
"Enggak, Kak. Aku yang salah, aku nggak enak sama mama-nya Kak Fanni."
"Udahlah, lupain. Ngomong-ngomong setelah ini, kamu mau gimana? Mau tetep di apart atau pulang ke rumah."
"... Aku mau pulang ke rumah, Kak."
Aku menghela napas lega. Akhirnya ia membuat keputusan yang menurutku tepat. Mungkin sebelum berangkat bekerja, aku masih bisa mengantarkannya. Tidak mengapa jika harus sedikit terlambat.
Aku menatap Riska sekilas, kemudian kembali pada fokusku dalam menyetir. "Aku selalu dukung kamu, Ris. Kamu pintar, aku yakin orang itu ak--"
Riska memotong ucapanku, "aku kayaknya tahu dia siapa, Kak."
"Siapa?"
"Dia ...."
Bersambung ....
Emang dasarnya emaknya Fanni ini enggak suka dari dulu, jadi senggol dikit hatinya ya bgitu ya. hihi
Jangan jadi mertua yg jahat ya hehe.
JIKA BERKENAN MASUK GC-KU YA, AKU BAKAL KASIH CLUE ATAU KISI2. (・∀・)
__ADS_1
Budayakan like+komen