
****
“Maksudnya apa Vin?” tanyaku lagi pada Celvin dengan hati yang masih tak bisa percaya.
Ia tak langsung menjawabku. Sepertinya hal ini sudah menjadi rahasia baginya serta keluarganya. Aku sempat berpikir, bahwa orang yang mirip denganku adalah salah satu korban pembullyan yang Celvin lakukan. Apalagi ia memohon padaku agar aku menjadi temannya dengan harapan aku bisa menolongnya.
Menolong apa dan untuk apa? Aku belum mengerti sama sekali sampai ia mau menjelaskan padaku lebih detail lagi. Entah mengapa aku perlu tau hal itu. Meski memang bukan urusan yang bisa merugikanku.
“Hei!” seruku pada Celvin agar ia segera berucap.
“Seperti yang aku bilang tadi Fann, aku seorang pembully jahanam,” jawabnya.
“Siapa yang kamu bully?”
“Banyak mungkin lebih dari tujuh orang.”
“Di Indonesia atau Amerika.”
“Ada juga di Indo sebelum aku dikirim ke Amerika, disana pun juga ada.”
“Gilak kamu!”
Aku tak bisa berpikir jernih lagi sekarang. Bahkan aku tidak memperdulikan status diantara kami. Kurasa Celvin lebih dari seorang yang jahanam, ia hampir mirip dengan bos mafia saat itu. Hatiku kelu, ada sedikit sesal telah menilai dirinya dengan sempurna. Apalagi aku sempat terjebak pada perasaan semu padanya.
Tubuhku terus gemetar luar biasa. Aku hanya bisa menelan salivaku sembari menatap wajah Celvin yang memerah, sampai otot-otot berwarna hijau menghiasi wajahnya yang putih bersih.
Bayangan beberapa mahasiswa nakal yang sempat membullyku pun kini turut hadir dalam benakku. Ketakutanku pada mereka seolah datang lagi untuk bernostalgia bersama hatiku. Aku tidak habis pikir, mengapa orang-orang seperti mereka begitu entengnya melakukan kekerasan. Enak secara verbal ataupun non verbal. Membuatku bergidik ngeri sampai mual kurasakan bergejolak didalam perutku.
“Jadi temen kamu yang kata kamu mirip aku itu?” tanyaku kembali padanya.
“Iya, dia korbanku juga tapi di Amerika sana, kamu tau Fann kehidupan di Amerika sangat keras. Pembullyan disana bukan hanya perkataan tapi sampai bentuk kekerasan fisik,” jawab Celvin.
“Terus kenapa kamu lakuin Vin? Dia mirip aku? Dia orang gemuk juga kan?”
“Dia mirip banget sama kamu Fann, segi fisik dan sifat pemalunya. Bedanya kamu dari Belanda dia Amerika.”
“Aku Indo Belanda Vin, tapi buat apa kamu lakuin itu?”
“Mungkin pelampiasanku karna kesepianku, sifat kejamku muncul saat sudah SMA kalau nggak salah kelas tiga. Aku senang membuat anak yang lemah dariku menjadi kacungku, masuk ke jenjang kuliah pun sama aja, pas dikirim ke luar negeri aku semakin parah. Apalagi teman-temanku hampir sama denganku, entah itu cewek atau pun cowok yang ekonomi dan parasnya level tinggi.”
“Gimana soal Riska waktu itu?”
“Kamu tau Fann, aku sama seperti Papa, yang hebat bersembunyi dalam topeng senyuman indah. Padahal dibalik itu kami sama-sama kejam, sebelum Papa dan Mama cerai, beberapa kali kusaksikan kekerasan yang dilakukan Papa sama Mama.”
“Jadi waktu itu Riska nggak tau sifat aslimu selama lima tahun?”
Celvin mengangguk pelan. Sedangkan aku semakin menganga kaget dibuatnya. Mana mungkin selama itu, akal busuknya tidak pernah ketahuan sama sekali. Dongeng macam apa ini?
Aku masih senantiasa bersabar menunggu ucapan Celvin lebih lanjut. Walau terkadang aku memilih menunduk atau menghindari kontak mata dengannya. Sampai saat ini, aku masih sangat membenci para pembully. Bahkan Mita masuk dalam list perasaan benci tersebut.
“Selama dua tahun kami hanya sekedar kenal biasa, beberapa kali juga bertemu di negara ini. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk menyatakan ketertarikanku padanya, Riska anak yang periang waktu itu, ia bisa ramah pada siapa saja,” katanya lagi.
“Tapi kenapa kamu tak mau berubah?”
“Aku terlalu gila Fann, aku belum bisa ninggalin hobi busukku waktu itu. Aku terus merahasiakan sifat busukku dari Riska selama kami pacaran.”
“Nggak ketahuan sama sekali?”
“Nggak mungkin kalau enggak, pernah beberapa kali ketahuan sama dia. Apalagi kami masih dalam satu lingkup perguruan tinggi walaupun beda bidang. Tiap kali aku ketahuan, aku selalu berkilah bahwa itu semacam pembelaan, Riska terus berusaha mempercayaiku. Dia selalu yakin aku bisa berubah.”
“Ohh...”
“Sampai tiga tahu berpacaram kurang lebihnya, aku masih nggak bisa berubah. Aku masih terus cari kesempatan demi kesenanganku, hingga suatu hari aku bertemu gadis seperti kamu. Gadis itu tertarik padaku karna wajahku yang memiliki paras Asia dan mirip idolanya di korea.”
“K-pop?”
“Ya, aku jijik karna khayalannya itu setelah mendengar kabar dia menyukaiku.”
"Kapan?"
"Empat tahun yang lalu, seminggu sebelum Riska meminta putus."
Oh shit! Ini lebih gila dari apa yang aku bayangkan. Celvin terus menceritakan tentang masa lalu kelamnya padaku. Ia sama sekali tidak peduli dengan perkenalan kami yang belum lama terjadi. Ia tak memikirkan siapa aku.
Memang cukup mengherankan. Tapi itulah yang terjadi pada Celvin. Sepertinya ia sudah tidak mampu menanggung beban hatinya sendiri. Seperti yang ia katakan tadi, ia baru menceritakan hal ini padaku.
Padahal, jauh dalam lubuk hatiku. Aku sangat marah padanya. Sikap bodohnya saat itu, sama sekali tidak bisa ditolerir lagi. Apalagi selama ini, aku elalu menganggap orang seperti dirinya adalah iblis yang tidak mempunyai hati.
“Apalagi?” tanyaku tegas.
“Iya setelah itu, ku cari siapa dia. Aku hina dia
habis-habisan dibantu oleh temanku disana yang memang warga asli. Aku punya kekuasaan uang Fann saat itu, mudah bagiku menaklukkan siapapun menjadi pengikutku. Apalagi Papa memiliki kerja sama dengan salah satu pembisnis di negara itu.”
“Udah, nggak usah sombong!”
“Maaf. Ya akhirnya kutarik dia beberapa kali, kusuruh dan kuminta apapun yang aku mau dan tanpa sepengetahuan Riska. Gadis itu dihajar habis oleh teman cewekku yang emang nakal sampai terluka. Kejamnya aku tertawa terbahak-bahak.”
__ADS_1
“Loe gila Vin!”
Aku tak lagi melihat Celvin sebagai bos yang selama ini aku kagumi. Tengkukku mulai kaku dengan perasaan ngeri yang menghujam dadaku. Aku membayangkan kisah tersebut dengan kesedihan yang mendalam.
Apalagi kasusku sering kuanggap paling parah. Nyatanya , ada yang jauh lebih parah dariku. Luar biasanya, Celvin yang tengah duduk dihadapanku sekarang menjadi tersangka di balik itu semua.
Ponsel yang beberapa kali bergetar ditanganku, selalu kuabaikan. Untuk sekedar bernapas saja, susah sekali. Aku bahkan tidak bisa menatap wajah Celvin. Aku terus bertanya dengan kepala menunduk. Entahlah raut wajah bagaimana yang Celvin pasang sekarang.
Mungkinkah penyesalan atau malah bangga? Apalagi seperti yang ia katakan, ia pandai bersembunyi di balik senyumnya yang indah.
“Fann?” ujarnya padaku.
“Ya,” jawabku singkat.
“Pulang aja Fann, maaf aku malah nyeritain hal sekejam ini sama kamu.”
“Siapa?”
“Siapa? Maksud kamu?”
“Siapa yang kamu bunuh Vin?”
“Gadis itu.”
“Gimana kamu bisa sekejam itu?”
“Aku marah, karna ia memasang fotoku banyak sekali dilokernya layaknya stalker.”
“Sesepele itu dan kamu sampe ngilangin nyawa orang lain?”
“Iya, kubawa dia keatas atap. Dengan niatan ngasih dia pelajaran tanpa mau membunuh Fann. Tapi setelah sampai disana, dia kabur dari cengkramanku, dia bilang lebih baik berakhir ditangannya sendiri daripada berakhir ditangan orang sekejam aku. Dia... dia...”
“Dia kenapa Vin? Jawab Vin?”
“Dia ngancem lompatat dengan sendirinya dari atap gedung saat itu, aku terus tertawa nganggep semua itu hal konyol. Tapi, semua berubah, dia bener-bener lompat sampe aku nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Yang aku inget sekarang Cuma wajahnya yang lebam dan menangis karena aku dan teman-temanku, dia bilang padaku agar aku terus hidup dengan penyesalan atas kesalahanku. Dan sekarang aku bener-bener nyesel Fann, berita ini nyebar sampe ke telinga Riska. Aku nggak dihukum karna emang itu kasus masuk dalam kasus bunuh diri.”
Linangan air mata membasahi pipiku. Frustasi berat pastinya, jika posisiku sama seperti gadis tersebut. Sebagai seseorang yang pernah mengalami pembullyan, aku bisa merasakan perihnya sakit hati. Aku pun sempat akan mati karena penyakit yang kuderita.
Penyakit gangguan makan yang sampai mengantarkanku pada kasur rumah sakit. Dan penyebabnya adalah dari dampak bullying. Keluarga turut bersedih dan susah hati karena keadaanku. Semua sifat periangku seolah hilang ditelan bumi pada saat itu. Aku trauma psikis dan menarik diri dari lingkungan. Apalagi sebutan **** londo terus bergeming di telangaku setelahnya. Aku benar-benar mengecam segala bentuk kasus pembullyan apalagi sampai menghilangkan nyawa manusia.
“Fann, aku harus gimana buat buang perasaan ini?” tanya Celvin lagi, ia memegang jari jemariku yang tidak berkutik diatas
mejanya.
“Buang?” tanyaku kemudian.
Aku tau Celvin telah menyesal. Namun, bagiku karma tetaplah karma. Meski ia bergelimang harta, hidupnya tidak akan tenang. Hubungannya bersama Riska mungkin juga tidak bisa diperbaiki.
Kini aku tau alasannya mengapa Ivan begitu geram saat mendapati dirinya menyentuh tangan Riska. Sebagai penggemar Nona Riska dari tahun ketahun, tentunya Ivan khawatir. Apalagi Celvin telah menorehkan nama buruk untuk dirinya sendiri.
Jika aku menjadi Riska, aku tidak akan mau kembali. Aku tau semua yang dirasakan Celvin sekarang. Bisnisnya boleh saja terus maju, namun rasa kesepiannya tidak akan kunjung sembuh. Terlebih jika Celvin merupakan tipe yang setia, ia tidak akan bisa berpaling dari Riska sampai ia akan menikah dengan pria lain nanti.
“Fanni?” ujarnya padaku.
“Vin?”
“Iya.”
“Jangan pernah kamu buang semua itu, itu sudah jadi karma buat kamu.”
“Tapi-“
“Kamu pikir orang seperti kami maksudku orang segemuk dan sejelek kami hanya barang usang yang bisa dipermainkan seenaknya saja?”
“Fann it-“
“Walaupun itu dulu, tetep aja kamu salah, loe udah salah besar! Memangnya kami mau terlahir seperti ini? Otak kamu ditaruh dimana saat itu?”
“Fann dengerin du-“
“Seperti kata gadis itu Vin, hiduplah dengan penyesalan itu jangan pernah membuangnya.”
“Tapi aku udah berubah.”
“Semua udah terlambat, nggak ada yang bisa balik kan sekarang? Gue juga orang terbully Vin, makanya gue benci sama loe walaupun loe atasan gue! Gue baru tau ada orang sekejam loe Vin. Gilak! Terserah loe, kalau setelah ini gue dipecat. Gue benci segala macem jenis bullyan apalagi separah bunuh orang!”
“Fanniiiiiii?”
Aku beranjak dari kursi tempatku duduk. Kuambil ranselku yang masih berada di meja kerjaku. Aku keluar dari ruangan ini dan meninggalkan Celvin yang masih menyerukan namaku. Air mataku masih mengucur deras di pipi. Aku terus berjalan untuk mencari keberadaan kamar kecil. Mual sekali kurasakan. Tampaknya efek traumaku kembali datang.
Pikiranku kacau, sampai menjawab perkataan Celvin dengan begitu lantangnya. Entahlah esok hari bagaimana hasilnya. Mungkin Celvin bisa memecatku dengan mudah. Meski aku tidak ingin hal itu sampai terjadi. Mau makan dengan uang siapa nanti.
Apalah dayaku yang terlalu emosional dan tidak memikirkan segala akibatnya. Memangnya siapa yang bisa seberani itu pada putra Sanjaya kecuali aku yang bodohnya tidak ketulungan.
“Hooeekkk... hooeekk...”
Beruntung tidak keluar ditengah jalan. Aku mengeluarkan semua rasa mualku di wastafel toilet. Yah, meskipun tidak ada apapun yang keluar dari mulutku.
__ADS_1
Setelah itu kutenangkan diriku kembali. Mataku masih berkaca-kaca dan memerah saat kulihat pantulan wajahku di cermin toilet. Aku membasuhnya dengan air melalui kedua telapak tangankun. Kini napasku telah kembali normal.
Aku melangkah keluar dari toilet tersebut. Baru kusadari bahwa kondisi kantor sudah sangat sepi. Aku bergidik ngeri dibuatnya.
“Ya Allah! Mas Arlan gimana?” ujarku sendiri.
Pasti Mas Arlan sudah sangat lama menungguku. Bodohnya aku tidak menyadari pesan dan teleponnya yang masuk. Aku terlalu marah pada Celvin sampai lupa semuanya. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung berlari keluar.
Mobil hitam milik Mas Arlan masih menungguku di seberang jalan dari gedung kantor. Kemudian ku hampiri benda yang berisi kekasihku tersebut.
“Mas Arlan!” seruku padanya.
“Udah keluar Dek?” tanyanya.
“Iya maaf ya lama.”
“Iya nggak apa-apa masuk gih udah sore.”
“Iya Mas.”
Kubuka pintu mobil lalu aku masuk kedalamnya.
“Dek lembur ya?”
“Eng... eh iya Ma, maaf ya lama hehe.”
“Bentar deh.”
“Apa?”
Tangan Mas Arlan menjulur menyentuh pipiku. Aku segera berpaling darinya saat teringat akan tangisanku. Pasti mataku dan hidungku yang panjang masih memerah menyisakan bekas tangisan tadi.
Aku melupakan itu karena terburu-buru. Kekhawatiran dan tidak enak pada Mas Arlanlah yang utama. Lagipula menghilangkan bekasnya pasti lama. Dan kini mau tak mau aku harus mencari alasan tepat untuk menjawab pertanyaannya.
“Kenapa Dek,” tanya Mas Arlan seperti yang aku duga.
“Nggak apa-apa kok, tadi kelilipan,” jawabku.
“Bohong.”
“Pulang dulu Mas, ayo.”
“Kita kan udah janji nggak ada yang diumpetin lagi.”
“Iya aku inget kok, aku pasti cerita tapi pulang dulu ya. Please?”
“Iya oke oke, tapi janji beneran ya.”
“Iya aki-aki bawel.”
“Yeee... dasar si embem.”
“Apa?”
“Enggak kok hehe.”
“Apaan tadi?”
“Imut hehehe.”
“Coba aja manggil gitu lagi, aku makan kamu.”
“Mau dong.”
“Ihhh...”
Mas Arlan hanya terkekeh girang mendapat responku terhadap panggilan sayangnya yang baru diberikan padaku. Sedangkan aku terus mencubitnya karena sedikit kesal. Aku tidak mau dipanggil seperti itu, karena umur kami sudah bukan anak remaja lagi. Apalagi sudah ada Selli disisi Mas Arlan.
Mas Arlan melaju mobilnya perlahan-lahan. Kami meninggalkan gedung kantor milik keluarga Sanjaya tersebut. Tentunya dengan segala macam perasaanku yang masih berkecamuk di dasar hati.
Bersambung...
Karakter Fanni : Sebelum dibully merupakan anak yang ceria dan humoris bak seorang comika. Setelah masuk perkuliahan, ia dibully dengan sebutan : gendut, b*bi londo, b*bi, sapi, dll. Sekarang : Minderan, tidak enakan, lebih baik diam namun kadang kala spontanitas, pintar, mudah tersinggung, plin-plan. Fanni merasa senang kalau ada orang yang mau mengajaknya bicara lebih dulu, misalnya Mas Arlan, Nike, Tomi, dan Ivan. Ia menghindari berteman dengan wanita cantik dan cowok ganteng ya. Dia mau kerja sama Celvin aja kan awalnya menolak dan ragu-ragu. Pokoknya dia paling menghindari itu. Eh belum ada sehari menjalin pertemanan sama si Bos ganteng, malah denger masa lalu buruknya si Bos. Mau gimana dia nanti ya
Tapi Fanni perlahan bisa membuka diri setelah bertemu Mas Arlan ya hihi...
DUA TAHUN KENALAN+PDKT CELVIN DENGAN RISKA DIUMUR 22-23 TAHUN.
TIGA TAHUN PACARAN DIUMUR 23-26 TAHUN KURANG LEBIH
EMPAT TAHUN YANG LAGU, PEMBULLYAN TERTRAGIS YANG DILAKUKSN CELVIN DIUMUR 26 TAHUN SEMINGGU SEBELUM PUTUS DENGAN RISKA.
sekarang usia Celvin otw 31 tahun.
Nb: INI HANYA
KISAH FIKTIF BELAKA, TIDAK ADA MAKSUD MENYINGGUNG SIAPAPUN.
__ADS_1
Emang ada gak ya, pecinta K-Pop dari Amerika ? 😆 ideku keluar begitu saja, maafin kalau kurang cocok 😁