Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Damai


__ADS_3

William belum kunjung pulang hingga sekarang. Padahal hari telah berganti. Dan itu juga menyebabkan Mbak Leny murung sepanjang hari, bahkan tidak mau menyentuh makanan sama sekali. Aku hanya bisa menatap miris kepada beliau, tanpa bisa melakukan apa pun. Dibujuk pun sulit sekali, sehingga aku dan Mas Arlan sudah lepas tangan.


Penerbangan yang seharusnya dilakukan kemarin pagi, telah dibatalkan. Itu juga akibat dari kepergian William begitu saja. Aku sangat berharap masalah mereka cepat selesai. Keras hati masing-masing orangnya juga bisa meluluh seketika.


Aku menghela napas dalam, lalu kembali aku hembuskan. Kupasang dasi di kerah kemeja yang dikenakan Mas Arlan sembari memikirkan permasalahan itu.


Cup! Kecupan manis dari suamiku mendarat di bibirku. Aku menatapnya seketika. Ia tersenyum. Kemudian, kedua telapak tangannya menangkup wajahku. Mas Arlan melakukannya lagi. Hangat dan manis seperti biasanya. Aku pun, lumayan menikmatinya.


"Untungnya, aku ini orangnya rajin mandi pagi lho, Mas," ujarku setelah Mas Arlan menyudahi ulahnya itu.


"Hmm? Emang kenapa, Dek?" tanyanya kembali.


"Biar enggak bau."


Mas Arlan terkekeh kecil. "Berarti kamu ini istri pinter, Dek. Selalu tampil cantik dan bersih di hadapan suami."


"Sayangnya, suaminya agak jorok. Susah disuruh mandi, kalau sore. Apa lagi, kalau libur. Hmm ... nyampe dicontoh lho sama Selli."


"Mager, Dek. Hehe."


"Enggak boleh gitu. Anak udah ada dua, jadi bisa jadi contoh yang baik. Anak-anak kamu cewek semua lagi."


Mas Arlan manggut-manggut saja. Lalu tersenyum. Biasanya, ia mendengar namun tidak dilakukan. Hal buruk dari suamiku adalah kemalasannya yang super duper, bak takut dengan air. Terlebih, saat membangunkannya, luar biasa sulit!


"Udah, selesai! Kamu berangkat sana. Udah siang, Sayang," ujarku sembari tersenyum kepada Mas Arlan.


Namun, ia malah menatapku. "Kamu cantik."


"Hmm. Makasih lho, Mas. Udah bilang aku cantik. Setiap hari lagi."


"Mas mau kamu, Dek."


Dahiku mengernyit. Setelah itu, aku menelan ludah seketika. Aku tahu apa yang Mas Arlan maksudkan. "Hmm ... berangkat, Sayang. Udah siang."


"Nanti malem, ya? Kamu udah beres, kan?"


"Emm ... emm ... i-iya."


Ia tersenyum senang. Detik berikutnya, ia tertawa cukup kencang. "Gemes! Kalau digodain gitu, mukanya langsung merah."


Aku menatapnya dengan sinis. "Kamu parah! Nanti malem enggak jadi!"


"Yeh! Ja-jangan gitu dong, Dek."


"Bodo amat!"


"Dek?"


Aku meninggalkan Mas Arlan begitu sajam Kesal. Ia selalu membuatku malu-malu, kemudian ia permalukan sendiri. Bisa dibayangkan bagaimana perasaanku? Awas saja, nanti malam!


Beberapa saat kemudian, aku mengantar Mas Arlan ke depan. Tentunya bersama kedua putriku juga. Mas Arlan mengecup kening dan pipi kami semua. Setelah itu, ia masuk ke dalam mobil, tepatnya di ruang kemudi. Hari ini, ia membawa mobil merahku sesuai jadwalnya.


"Hati-hati, Mas," ujarku kepadanya sebelum melaju mobilnya.


Mas Arlan tersenyum. "Iya, Dek. Kakak sama Adek jangan nakal ya?" Setelah memberikan jawaban untukku, Mas Arlan memberikan wejangan kepada kedua putrinya ini. "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumssalam," jawabku dan Selli secara bersamaan.


Perlahan namun pasti, mobil yang sedang dikendarai Mas Arlan berhasil keluar dari pintu gerbang. Sampai akhirnya benar-benar tidak nampak oleh mata kami. Setelah ayahnya pergi, Selli langsung berlari ke dalam rumah. Kalau sudah bangun seperti ini, biasanya ia langsung menonton acara televisi bertajuk cartoon. Ya, ia bisa mendengar nasehatku kemarin--harus rajin bangun pagi.


Aku mendorong kereta dorong Sella. Aku hendak masuk ke dalam, karena ada beberapa pekerjaan yang seharusnya aku tuntaskan. Tentu saja, sembari mengemong Sella. Memiliki kereta dorong seperti ini, membuatku lebih mudah untuk melakukan aktivitas lain, ketika sedang tidak berada di dekat kasur untuk meletakkan Sella.


"Eh? Mbak Leny." Belum ada separuh perjalanan menuju ruang belakang, aku melihat Mbak Leny yang tengah berdiri.


Beliau tersenyum, namun terlihat begitu getir. "Selamat pagi, Dek. Bahagianya, memiliki keluarga yang harmonis. Aku senang melihatnya."


"Emm ...." Aku menunduk. "Selamat pagi juga, Mbak. Kami enggak seharmonis itu kok. Kami juga sering bertengkar hehe."


"Bumbu cinta, Dek Fanni. Yang penting jangan masalah besar aja yang datang."

__ADS_1


"Iya, Mbak. Hehe."


"Emm ... boleh aku bantu bawa Sella, kayaknya ada pekerjaan lain ya?"


"Bo-boleh, Mbak. Emm ... makasih, Mbak."


Setelah itu, aku memberikan kereta dorong yang berisi Sella kepada Mbak Leny. Beliau selalu menikmati momen ketika sedang bersama Sella. Ya, bersama seorang bayi, seringkali membuat hati yang pedih menjadi agak tenang.


Setelah itu, aku bergegas ke belakang untuk mengurus cucianku yang belum diambil dari mesin pengering di mesin cuci. Tentunya dengan membawa sejumlah perasaan tertentu. Perasaan tidak tega, ketika Mbak Leny mengatakan bahwa keluargaku sangat harmonis. Aku tahu, di balik perkataan itu, beliau merasa sedih atau bahkan iri. Beliau hanya memiliki William saat ini dan itupun harus ada perbedaan pendapat.


"Mbak Fanni, sebenarnya Bibi enggak tega sama Nyonya Leny. Kasihan," ujar Bi Onah ketika aku sedang sibuk mengurus cucianku dan beliau berada tidak jauh dari posisiku. Beliau duduk lesehan sembari mengurus sayur mayur yang baru dibeli dari pasar.


"Yah, Bi. Kita kan hanya jadi saksi aja. Mau kasihan atau gimana, kita enggak berhak ikut campur," jawabku sembari menoleh sekilas ke arah Bi Onah.


"Bibi enggak tahu sih masalahnya apaan, Mbak. Tapi, Bibi denger pertengkaran Nyonya sama Den Willi."


"Iya, Bi. Aku malah pas lewat di depan pintu kamar mereka kemarin."


"Wajahnya Nyonya, sedih banget, pucet juga. Kasihan, Mbak. Andai Bibi ini pahlawan, pasti akan Bibi kasih kekuatan."


"Eh?!" Aku tertawa. "Mana ada begitu. Kayaknya keseringan nonton kartun sama Selli nih ya?"


Bi Onah pun tertawa kecil juga. "Iya, Mbak."


Setelah itu, kami melanjutkan perbincangan dengan macam pembahasan. Entah penting, garing atau bahkan konyol sekali. Ketika, semua cucianku selesai aku tampung di sebuah keranjang, baru aku membawanya ke tempat yang disediakan untuk menjemur baju.


****


Aku terpana pada mobil mewah yang tidak asing. Ketika aku baru selesai menjemur pakaian tadi, mobil itu memasuki perkarangan rumah ini setelah gerbang rumah dibukakan oleh Pak Edi. Mobil milik Mas Gunawan? Untuk apa beliau datang ke sini? Aku rasa berkaitan dengan Mbak Leny.


Tampak Mas Gunawan turun dari mobil bersama William. Sedangkan sopir pribadi beliau hanya menyapaku sekilas, kemudian berjalan untuk menghampiri Pak Edi. Tampaknya mereka sudah sangat akrab.


"Selamat pagi, Mas," sapaku kepada kakak iparku itu.


"Selamat pagi, Fanni," jawab beliau sembari tersenyum. "Maaf, saya mengganggu pagi-pagi begini."


"Ah, enggak apa-apa kok, Mas. Ayo, ayo silahkan masuk. Sa-saya, taruh keranjang dulu ke belakang."


Ketika Mas Gunawan telah masuk bersama William, mereka aku persilahkan duduk di ruang tamu. Setelah itu, dengan langkah tergopoh-gopoh aku menuju belakang untuk meletakkan keranjang cucianku ini.


"Bi, minta teh hangat emm ... empat cangkir ya," pintaku kepada Bi Onah. Tentu saja sajian air untuk tamu istimewa itu.


"Iya, Mbak. Cemilan gimana?" tanya Bi Onah kembali.


"Orang kaya, Bi. Aku bingung ngasih cemilan apa hehe. Minumnya aja deh. Malu kalau enggak cocok."


"Ba-baik, Mbak."


Aku menarik napas, untuk membuang segala kegusaranku. Lalu tersenyum, namun segera membuang senyumku ketika Bi Onah melihatku. Justru malu! Konyol sekali kelihatannya. Beruntungnya pagi ini, aku menggunakan dress yang masih agak pantas, bukan daster rumahan.


Kemudian, aku segera mengambil langkah untuk menuju ruang tamu. Disusul Bi Onah yang berjarak dua meter dari diriku.


"M-mbak Leny ...? Ah!" Ketika aku memandang punggung Mbak Leny, rasanya kelu sekali saliva ini untuk ditelan. Beliau masih dalam keadaan berdiri tanpa ada Sella.


Mbak Leny menatap diriku yang telah berada di samping beliau. "Sella tidur, Dek. Ada di kamar," ujar beliau. Tampaknya beliau mengerti atas keherananku karena Sella tidak ada.


"Emm ... iya, Mbak. Biarin dulu. Ayo duduk dulu."


"Emm."


Aku dan Mbak Leny duduk saling bersebelahan dan saling berhadapan dengan kedua pria di depan kami. Dalam beberapa saat, suasana masih sangat hening. Tidak ada suara, hanya hembusan napas yanh terdengar kami hela bak berebutan oksigen satu sama lain.


"Monggo diminum dulu, anget-angetnya." Akhirnya Bi Onah yang sempat menghentikan langkah, kini datang. Beliau menyajikan cangkir-cangkir berisi teh hangat itu di hadapan kami semua.


"Makasih, Bi," ujarku kepada Bi Onah dan beliau hanya tersenyum. Setelah itu, beliau kembali ke belakang.


Selli, jangan nyampe ke sini ya, Nak. Enggak bagus suasananya. Nonton TV aja, please!


"Leny saya, saya nggak ada maksud apa-apa. Saya datang untuk membi--" Ucapan Mas Gunawan terpotong begitu saja.

__ADS_1


"Apa aja? Apa aja fasilitas yang bisa kamu berikan ke anakku, Gunawan?" potong Mbak Leny.


Kami bertiga terkesiap.


"I-itu, semua yang anak-anakku dapatkan." Mas Gunawan menunduk.


Mbak Leny menghela napas. "Lalu, dengan keponakanmu yang ada di sini? Selli, Sella? Anaknya Robi? Apa aja?"


Mas Gunawan salah tingkah seketika. Aku tahu, beliau bingung harus menjawab apa. Karena sejauh ini, anak-anakku juga tidak mendapatkan fasilitas apa pun dari beliau. Mas Arlan berusaha sendiri untuk anak-anaknya. Mungkin hanya Riska, Diandra dan Ajeng saja yang mendapatnya sesuai aturan keluarga besar Harsono.


Tegang sekali hati ini. William sejak tadi juga hanya terdiam, meski mimik wajahnya cemas sekali. Terkadang ia menatap wajah ibundanya, dan aku rasa ia telah merasa bersalah. Aku teringat akan diriku sendiri di masa lalu, aku juga pernah seperti itu. Mungkinkah ibuku merasakan kepedihan hati seperti Mbak Leny ini? Anak macam apa diriku pada saat itu? Aku sangat menyesal.


"Kenapa diam aja, Gunawan? Hmm ... apa kamu sangat peduli dengan William karna dia anak laki-laki? Anak-anak Dahlia, putri semua. Anak kamu, anaknya Arlan, putri semua? Roby? Anak dia masih sangat kecil, kan?" Mbak Leny terus mendesak Mas Gunawan, bahkan dengan bola mata yang terbelalak.


"Itu ...." Mas Gunawan tidak segagah biasanya kali ini. Aku rasa, ada sesuatu lain di balik kepedulian beliau terhadap William. Sepertinya, apa yang aku pikirkan sama dengan yang dipikirkan Mbak Leny.


"Itu?" Mbak Leny menghela napas. "Perusahaan, kan? Aku dengar, sebentar lagi Riska juga akan menikah. Lalu, ... kamu menginginkan William untuk menyetir dia, kan? Hanya William yang bisa menggantikan Riska ketika, dia udah nggak bisa di perusahaan kamu."


Ah! Luar biasa, analisis Mbak Dahlia. Benarkah beliau, hanya lulusan SMA?


Mas Gunawan menghela napas. "Benar, Leny."


Kami semua terkesiap. Bahkan William juga. Anak itu akan diperalatkah?


"Dengarkan saya dulu, Leny. Awalnya aku berpikir begitu. Meski saya sudah merestui hubungan Riska dengan Celvin Sanjaya, saya tetap enggak setuju jikalau pihak Sanjaya ikut campur di dalam perusahaan Harsono. Kamu pasti tahu, Leny. Perusahaan itu sangat penting bagi kami. Saya hanya ingin mewariskannya kepada orang yang memiliki darah keluarga kami."


"Tapi, William masih terlalu muda, Gunawan. Jangan coba-coba memperalat dia!"


"Saya sudah bilang, kalau itu awalnya. Sekarang, saya ikhlas ingin bertanggung jawab atas nama Dian kepada kalian Leny. Usia William juga masih terlalu muda seperti perkataanmu. Dia masih memiliki banyak waktu untuk belajar dan memilih bidang yang ditekuni. Ajeng dan Diandra masih kelas tiga SMA, mereka sama sekali enggak tertarik dengan bisnis. Jadi, saya sempat berpikiran seperti itu. Maaf."


Mas Gunawan tampak mengatur napas. Kemudian, beliau menyesap teh hangat yang telah disajikan oleh Bi Onah. Aku sedikit lega, karena kali ini, Mbak Leny tidak terlalu emosi dan jangan sampai. Ya, meski suasananya tetap sangat menegangkan. Aku saja, sampai panas dingin seluruh badan. Terlebih Mas Arlan sedang tidak ada, aku takut terjadi sesuatu yang tidak bisa kami atasi.


Tak lama kemudian, terdengar suara dehaman dari William. "Emm ... Om, emangnya umur berapa, sampai bisa masuk ke dalam perusahaan?" tanyanya kepada Mas Gunawan.


Mbak Leny tampak terkejut. "Willi ...!" ujar beliau


Mas Gunawan tersenyum. "Semampunya orang itu. Sampai lulus kuliah. Seperti Riska, ia bahkan berhasil menjadi CEO sebelum berumut tiga puluh tahun," jelas beliau kepada William.


"Oh ... begitu. Kata Papa, jadi pembisnis itu harus pintar ya?"


Mas Gunawan mengangguk. "Iya, punya jiwa kepimpinan juga. Tanya Tante Fanni, dia pernah jadi direktu dan sekretaris dari CEO."


"Woh! Be-beneran, Tante?"


Aku terkesiap. "I-iya, Will. Tapi hanya bentaran."


William tersenyum-senyum. Tampaknya, ia sangat tertarik dengan dunia bisnis. Melihatnya yang sangat antusias itu, membuat senyumku perlahan mengembang. Namun tidak dengan Mbak Leny yang masih memasang wajah tidak percaya. Aku mengerti, pasti beliau saat ini sedang bimbang. Satu sisi, beliau sangat membenci Mas Gunawan. Namun di sisi lain, beliau harus memikirkan keinginan William.


Jalan William sedang terbuka lebar sekarang. Mungkin memerlukan waktu tujuh sampai sepuluh tahun, ia benar-benar bisa masuk ke dalam perusahaan Harsun. Peluangnya sangat besar, terlebih ia merupakan seorang laki-laki. Riska akan menjadi istri Celvin dan belum tentu Celvin mengizinkan Riska untul bekerja. Ajeng dan Diandra, aku rasa mereka menekuni bidang fashion, karena terlihat dari penampilan harian mereka. Dan kedua putriku, Mas Arlan tidak akan pernah setuju.


Terlebih, Mas Gunawan tidak ingin perusahaan itu dipimpin oleh pihak diluar keluarga Harsono. Roby dan Mas Arlan juga sudah mengundurkan diri.


Mbak Leny terdengar menghela napas dalam. "Jika itu mau Willi, Mama akan dukung," ujar beliau dengan raut wajah yang sendu. Keputusan yang sangat berat, sungguh!


"Mama ...?" Raut wajah William yang sempat ceria kini melemah seketika. Ia tahu, akan kekecewaan hati sang ibunda.


"Jika Willi tertarik dan kamu memberi peluang, maka lakukanlah. Aku mengerti."


Mas Gunawan menjawab, "saya akan mengusahakan yang terbaik untuk William, Leny. Kamu masih bisa membawanya pulang ke Canberra, tapi jangan membatasi komunikasi kami. Carikan kampus ternama dan saya akan menanggung biayanya dan semua fasilitasnya, Leny."


"Gun?" Mbak Leny menatap Mas Gunawan. "Terima kasih telah memikirkan anakku. Tapi, ... aku belum bisa memaafkan kalian dengan sepenuhnya. Dan, jangan terlalu mengekang anakku suatu saat nanti. Kamu juga harus bersikap adil dengan sanak-saudaramu, Arlan, Roby dan keluarga mereka. Perjuangkan kesembuhan Dahlia juga, hanya itu mauku."


"Saya, ... saya akan melakukan semuanya. Mungkin kesalahan saya di masa lalu teramat banyak dan besar. Saya enggak bisa memungkiri hal itu, Leny. Saya akan terus belajar menjadi pribadi yang baik selama napas masih ada, Leny. Terima kasih."


"Dan sampai kapanpun, aku enggak bisa rujuk lagi dengan Dian. Pintakan surat cerai yang resmi darinya, Gunawan."


"Saya tahu, Leny. Tapi, saya berharap hubungan kita enggak ada perselisihan lagi. Suatu saat, ketika William lulus dari pendidikannya, kalian harus menetap di sini. Saya ingin William menjadi salah satu pewaris perusahaan milik keluarga besar Harsono."


Senyum merekah. Aku terharu. Akhirnya datang perdamaian juga. Meski belum bisa memaafkan secara sempurna, kali ini Mbak Leny sudah bisa membuang ego benci beliau yang teramat besar. Kami semua bisa bernapas lebih lega sekarang. Kata maaf itu memang mujarab.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2