Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Extra Part]-Investor


__ADS_3

Mungkin cukup sulit melupakan semua yang pernah terjadi. Cinta dan benci saling berperang di dasar hati, membawanya benar-benar seperti manusia hidup tetapi mati hatinya. Nur Imran menyesal atas pola pikirnya selama ini. Ia pikir dengan bekerja kerja dan terus membangun usahanya, ia bisa membuat bahagia keluarganya. Nyatanya, uang bukanlah segalanya.


Pertama--bagi Jelita, gadis itu bak sebatang kara, karena ulah ayahnya sendiri. Anak piatu karena ditinggal mati oleh ibu kandungnya sejak masih duduk di bangku SD kelas dua. Pada saat itu pun, Nur Imran sudah mengabaikannya. Kehilangan sosok istri yang sangat dicintai itu bukan perkara mudah. Ia menyibukkan diri dengan bekerja siang dan malam agar bisa melupakan mendiang istrinya.


Lalu, satu tahun berselang, datang seorang Riris yang juga seorang janda. Namun karena janda cerai, sampai sekarang pun, Nur Imran tidak tahu alasan di balik perceraian itu. Wanita cantik yang selalu membawa anak perempuan ke mana-mana. Merupakan salah satu karyawan di perusahaannya. Riris mendatangi kantornya dan meminta izin agar diperbolehkan membawa anak kecil. Melihat wajah Riris yang begitu memelas, hatinya tergerak sehingga memberikan izin itu. Saat itu, perusahaannya belum sebesar sekarang.


Waktu berjalan, dan tumbuhlah rasa kagum di hati Nur Imran untuk Riris. Bagaimana tidak, wanita itu begitu sabar dalam bekerja sembari mengurus anaknya. Lingkup kantor Nur Imran yang masih kecil membuatnya bisa melihat Riris dengan mudah. Mulai dari situ, ia mencoba mendekati Riris, tanpa ia sadari bahwa itu adalah sebuah perangkap yang sudah dipasang dengan rapih.


Riris masuk ke dalam keluarganya, mengenalkannya dengan Jelita. Lalu, waktu kembali berselang, ia pun melamar wanita beranak satu itu. Banyak sekali yang ia kagumi dari sosok Riris. Bisa dikatakan pintar dalam segala hal, entah memasak, mengurus anak juga soal karir. Sayangnya, keinginannya untuk memiliki bayi dengan Riris tidak terkabulkan hingga sekarang. Ada sesuatu yang merusak rahim istrinya itu.


Sampai akhirnya, Nur Imran menyerah, toh sudah ada dua putri cantik. Ia bekerja dan Riris di rumah merintis usaha kosmetik yang saat itu hanya dikenalkan kepada para teman dan kerabat. Masa yang membuat Riris sukses dalam bisnis online karena semakin canggihnya media komunikasi dengan masyarakat luas.


Namun di balik itu, ada ketakutan yang luar biasa di dalam hati Riris, perihal posisi Jane yang hanya anak tiri, berbeda dengan Jelita. Ketakutannya bertambah besar, karena hubungan Nur Imran dan sang gadis kecil semakin dekat. Hati Nur Imran yang sudah menghangat dan bisa melupakan mendiang istri, membuat pria itu kembali menyayangi sang putri. Sayangnya, respon Riris berbeda. Muncul rasa dengki dan benci terhadap Jelita. Dari situ, ia mulai menyusun rencana. Dari rencana kecil hingga tumbuh menjadi besar, sudah seperti kewajiban yang harus ia lakukan.


Jika kembali diulas tentang masa lalu, sebenarnya Riris sangat membantu berkembangnya bisnis Nur Imran. Bahkan, ia memiliki penghasilan sendiri dari bisnis online-nya. Sayangnya, ia terlalu menuruti rasa dengki dan nafsu, ia sudah jatuh ke dalam lubang mengerikan bernama keserakahan dan ketidakpuasan hidup.


Kini, Nur Imran sendiri lagi, menduda tanpa kasih sayang seorang istri. Ayah dari dua anak yang hebat dalam segala bidang bisnis, bak semuanya bisa ditaklukan olehnya, meski belum sehebat Ruddy dan Celvin di Sanjaya, ia sudah tidak memikirkan perihal pernikahan dan tidak akan terjadi sampai tiga kali. Ia berjanji!


"Tolong, untuk beberapa waktu ke depan, jangan ada yang menemui Riris," ujar Nur Imran kepada dua buah hatinya. Setelah sebelumnya, ia memanggil mereka agar masuk ke dalam ruang kerja.


Tentu saja, hal itu cukup sulit bagi Jane. Ia tahu posisinya sebagai anak tiri di keluarga ini. Bukan hanya malu, ia juga merasa bersalah karena ulah sang ibu tercinta. Sebenarnya, ketika ibunya tidak ada, ia tidak akan ditekan untuk terus berlatih dalam beberapa hal. Namun, ia tetap anak kandung dari wanita kejam itu, apalagi semua yang dilakukan Riris adalah karena dirinya. Agar ia bisa menempati hati Nur Imran yang paling tinggi, sehingga meski anak tiri, ia tidak disingkirkan begitu saja.


"Tapi, aku adalah anaknya mama, Pa," ujar Jane. "Aku bukan bagian keluarga ini." Raut wajahnya melemah.


"Kamu dan Jelita, semuanya anak Papa. Jangan pernah berpikir seperti itu," jawab Nur Imran.


"Apa aku juga?" tanya Jelita. "Ah, enggak, lupakan."


Nur Imran berdiri dari duduknya. Ia menghampiri dua anaknya yang tengah di kursi masing-masing. Kemudian, ia duduk di antara keduanya. Menggenggam tangan mereka berdua. "Saya adalah ayah kalian. Jangan pernah berpikir kalau saya ini orang lain. Untuk Jelita, Papa memang banyak sama kamu, malahan bersikap enggak adil sama kamu. Kesannya lebih menyayangi adikmu daripada kamu. Tapi, sekarang Papa akan berusaha untuk bersikap adil."


Jelita menatap wajah sang ayah yang menampilkan raut serius. "Tapi, Jelita belum sehebat Jane dan masih buruk rupa."


"Kak Jelita, jangan begitu, aku ... aku yang merampas semua milik Kak Jeli. M-maafkan aku, Kak," sahut Jane merasa bersalah atas semua perasaan yang dikatakan oleh sang kakak tiri. Bahkan, ia sampai menitikkan air mata.


"Kamu juga salah satu alat bagi ibumu. Kamu enggak salah, aku yang salah karna selama ini justru iri dengki sama kamu. Padahal, kita memiliki derita masing-masing."


"Ayo, berdirilah," pinta Nur Imran.


Kedua putrinya yang tengah menitikkan air mata itu, kini mengikuti permintaannya. Mereka semua telah berdiri. Jane dan Jelita memilih menundukkan kepala karena isak tangis yang sudah tidak tertahankan. Sedangkan, Nur Imran hanya memberikan pandangan penyesalan. Apa yang menjadi beban selama ini, berangsur membaik, setelah si biang keladi sudah pergi.


Meski, tidak untuk Jane yang merasa bersalah. Ingin mengikuti ucapan sang ayah, tetapi beban itu masih tetap ada. Juga tentang ibunya, anak mana yang tega jika ibunya sendirian? Dan entah kapan ia bisa bertemu dengan Riris, jika peraturan dari sang ayah masih berlaku keras. Entah sampai kapan masa berlakunya.


"Papa ini sayang sama kalian berdua. Di sisa hidup Papa, Papa akan menyerahkannya untuk menyayangi kalian. Papa berjanji enggak bakalan menikah lagi. Ini cukup, asal ada kalian, Papa sudah senang." Nur Imran melebarkan kedua tangannya agar kedua putrinya masuk memberikan pelukan.


Ya, akhirnya mereka saling berpelukan satu sama lain. Merasa prihatin, sedih tetapi tetap mengandung suatu kelegaan. Meski merasakan sakit hati yang luar biasa, Nur Imran tetap bersyukur karena Tuhan telah membuka tabir yang sebenarnya. Mungkin, jika tidak, hidupnya akan terus seperti itu. Penderitaan Jelita dan Jane akan berlanjut. Mulai saat ini, ia tidak akan menekan tentang kehidupan Jelita dan Jane. Ia akan mendukung semua kedua putrinya itu lakukan, asal dalam jalan yang baik.


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Jane dibawa oleh Riris. Biasanya, seorang anak akan tumbuh seperti apa yang ia lihat dan dari apa yang dididikkan kepadanya.


****


Mita melenguh cukup keras. Bagaimana tidak, akhir-akhir ini pikirannya kacau. Pertengkaran sering terjadi di antara dirinya dan suami. Richard yang tidak bisa peka terhadap permintaannya, bahkan Mita nyaris melakukan semuanya sendirian. Ia kesal, tetapi tetap sayang. Menjadi wanita yang kuat, kadangkala justru membuat sang pria merasa lebih tenang, tidak terbebani lagi dengan manjaan sang wanita. Hal itu yang membuat Mita sebal, Richard tidak terlalu bisa melindungi dirinya.


"Ngeselin tahu, enggak!" pekiknya sembari mengcengkeram sofa di salon yang saat ini ia duduki.

__ADS_1


Fanni hanya bergeleng kepala. Ia merasa heran--mengapa sejak tadi partner kerjanya itu menggerutu, bahkan tidak peduli dengan adanya pelanggan. Meski pada akhirnya ia meminta maaf, tetap saja ulah si setan cantik itu membuat para tamu sedikit terkejut.


Fanni duduk di sampingnya, setelah sebelumnya ia menyelesaikan pelayanannya terhadap seorang pelanggan. Diambilnya napas dalam sembari menatap Mita dalam-dalam. "Loe kenapa sih, Mit?!" tanya tegas. Sudah muak dengan sikap yang uring-uringan sendiri.


"Kenapa apanya sih?" tanya Mita kembali.


Fanni yang sudah kesal, kini memberikan toyoran di kening Mita. "Loe yang menggerutu, loe sendiri yang enggak tahu. Dasar setan cantik!"


"Eh?!" Dahinya berkerut. "Setan cantik? Gue?"


Ibu dari dua anak itu cekikikan. "Iya, loe."


"Kok gitu sih, Fann? Masa' gue setan?"


"Mantan sih."


"Kenapa loe sebut gue gitu? Emang muka gue mirip setan?"


"Iya, judes, tapi cantik. Makanya jadi setan cantik.Terus gue dulu sebel banget sama loe. Loe jahatin gue sih."


"Oooh! Jadi selama ini loe sebut gue pake sebutan itu? Kenapa enggak iblis aja sekalian?"


"Oke, ya udah mulai sekarang diganti iblis cantik aja."


"Fann ... gue marah nih."


Fanni tergelak. Mata Mita memang sudah tajam, tetapi kini justru terlihat lebih lucu dan menggemaskan. Tidak seperti beberapa tahun yang lalu, ketika ia membully Fanni karena rasa iri. Bagi Fanni--mata Mita bagaikan mata macan yang menatap tajam dan siap menerkam. Sampai sekarang, ia tidak percaya hubungannya dengan Mita justru sedekat ini, bahkan melebihi dengan Nike dan Tomi.


Fanni menghela napas dalam, dan ia hembuskan kembali. Mulai hari ini, ia bisa bekerja dengan sedikit gerak bebas, ada pengasuh yang sudah menjaga Sella di lantai atas. Ketika pengunjung datang, ia tidak perlu lagi menitipkan kepada penunggu toko busana muslim di sebelahnya.


Fanni memastikan, kemudian menggelengkan kepala. "Gue enggak tahu tuh. Orang nanya alamat kali." Namun, ia tersentak ketika sosok pria muncul dari dalam mobil itu. "Nur Imran!" pekiknya sembari berdiri dari duduknya.


"Nur Imran, bokapnya Jelita, maksud loe?"


"Iya, Mita."


"Mau ngapain dia ke sini? Mau ngelabrak gue juga?"


"Mungkin."


"Ck, gue, kan, bantuin bocahnya dia."


Fanni tidak memperdulikan ucapan Mita lagi, ia bergegas keluar dan hendak memberikan sambutan. Melihat Fanni yang begitu antusias, Mita segera bangkit dan mempersihkan tempat untuk tamu. Suhu AC, ia turunkan agar lebih dingin, takut jika pengusaha kaya itu tidak betah.


Fanni mempersilahkan Nur Imran untuk masuk. Kemudian, meminta pria itu untuk duduk di sofa yang sebelumnya ia duduki. Sementara itu, Mita sudah gesit menuju dapur. Ia menghidangkan kopi hangat untuk sang tamu terhormat itu.


"Selamat siang, Nona Fanni dan ...?" sapa Nur Imran kepada pemilik salon itu.


"Mita, Pak," jawab Mita sembari sedikit membungkukkan punggung.


"Oooh! Saya ingat, jadi Anda yang membantu program diet anak saya, ya?"


Mita mengangguk. "Iya, Pak, saya. Mohon maaf jika ada kelancangan yang saya lakukan."

__ADS_1


"Ayo, silahkan duduk," pinta Fanni.


"Hmm ... jadi Anda ini adiknya Tuan Celvin, ya?" Nur Imran manggut-manggut.


"Ah, itu hanya adik-adikan saja, Pak. Bukan kandung hehe."


"Ya enggak apa-apa, toh memang sangat berharga bagi Tuan besar Ruddy juga."


"Saya tersanjung, Pak."


Nur Imran mengulas senyuman di bibirnya. Ia mengamati salon itu dengan seksama. Ada rasa miris yang muncul dari dalam hatinya. Bagaimana bisa, mereka memilih tempat ini? Mengingat sosok Mita yang cukup berharga di mata Ruddy, juga Fanni yang cukup pintar dalam mengolah bisnis perusahaan. Apakah mereka kurang modal? Sayang sekali kemampuan mereka.


Sementara itu, Fanni dan Mita diam-diam saling memberikan lirikan mata satu sama lain. Bertanya-tanya untuk apa Nur Imran sampai datang ke tempat kumuh bagi para orang kaya ini? Jantung mereka berdetak cukup kencang. Tidak tahu harus berbuat apa. Dan entah mengapa, mental keras milik Mita justru menciut seketika.


Fanni berdeham, memberanikan diri untuk menghempas kecanggungan. "Jadi, ada apa ya, Pak Nur datang ke tempat ini?" tanyanya kemudian.


Nur Imran menatap Fanni, lalu mengulas senyuman. "Hanya datang berkunjung, Nona Fanni," jawabnya.


"Untuk apa Bapak mengunjungi salon seperti ini? Tidak mungkin mau mengeriting rambut, kan?" celetuk Mita sungguh tidak terduga-duga.


Nur Imran terkesiap, setelah akhirnya justru tergelak. "Untung rambut saya pendek. Jadi, mungkin tidak bisa. Hmm ... jadi begini, kedatangan saya ke sini untuk menghaturkan rasa terima kasih."


"Terima kasih?" tanya Mita dan Fanni secara bersamaan.


Nur Imran menganggukan kepala. "Benar, Nona-Nona. Semua upaya yang telah kalian berikan untuk Jelita, putri saya. Juga telah membantunya mengatasi trauma bully dan saya dengar, Nona Mita yang mengatasi para pembully itu."


"Tidak perlu sungkan, saya dan Fanni hanya membantu yang kami bisa. Semua usaha dan hasil adalah murni karena Jelita sendiri. Dan Bapak juga perlu ikut andil dalam mengembangkan rasa percaya diri anak itu, bukan malah membuatnya semakin terpuruk."


Mendengar ucapan Mita yang menohok, membuat Nur Imran jatuh tertunduk. Sudah pasti ia merasa sangat malu, tetapi ucapan Mita tidak ada salahnya sama sekali. Untuk hal ini pun, Fanni justru mendukung ucapan Mita yang terkesan sangat berani. Ya, jika tidak ada orang yang berani memberitahu, Nur Imran tidak akan pernah menyadari kesalahannya sama sekali.


Demi menghilangkan rasa malu, juga dahaganya, Nur Imran menyesap kopi yang sudah mendingin karena suhu AC. Setelah itu, ia meletakkannya kembali.


"Benar, saya tadinya lebih menyayangi adiknya daripada dirinya. Perbedaan mereka cukup banyak, membuat saya menyerah akan Jelita yang bahkan tidak bisa merawat dirinya sendiri." Nur Imran tersenyum kecut. Bayangan wajah Riris muncul kembali di benaknya. Sulit, melupakan itu sulit. Namun, kenyataannya membuatnya tidak bisa mempertahankan istrinya. "Dan ternyata, selama ini yang membuat anak saya seperti itu adalah istri saya sendiri. Mungkin kalian sudah tahu, karna Jelita lebih nyaman dengan orang selain saya."


"Jadi, ... Pak Nur mau gimana setelah ini? Saya sudah mendengar semuanya dari suami saya," sahut Fanni sebelum Mita berhasil mengutarakan pendapatnya.


"Saya akan menyayangi mereka dengan adil dan saya sudah menceraikan istri saya."


"Woh! Udah dicerai? Ops!" Mita sontak menutup mulutnya yang lemes itu. "M-maaf."


"Bukan hanya ulah dia ke anak saya. Tapi, juga ada hal yang lain, yang tidak bisa saya utarakan."


"Tidak apa, Pak Nur. Anda juga memiliki privasi. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, kalau keputusan itu sudah tepat dan mantap, semoga ke depannya menjadi lebih baik lagi." Dengan sikap yang semakin bijak, Fanni memberikan harapan bagus untuk partner bisnis suaminya itu. Raut wajah Nur Imran cukup membuatnya merasa iba.


Sementara itu, Mita memilih diam saja setelah sebelumnya keceplosan dengan gaya *selengek*an-nya. Jika ia berbicara, takut membuat kesalahan yang justru memperkeruh suasana. Karena kehadiran Nur Imran itu pun, membuat Fanni terpaksa menutup salonnya untuk sementara waktu, agar tamunya bisa lebih nyaman lagi.


"Ada hal lain lagi yang perlu saya sampaikan, Nona Fanni dan Nona Mita. Perihal salon ini, bagaimana kalau kalian menempati salah satu aset kios saya di sebuah mall kota ini?"


"Eh?!" Kedua wanita itu sangat terkejut.


"Anggap saja saya dengan investasi properti. Saya juga akan menanam modal di salon kalian, soal keuntunggan mungkin bisa dibahas ketika sudah lancar dan ramai nantinya. Dan mall itu, kan, di bawah naungan Sanjaya Group, ditangani oleh perusahaan suami anda sendiri, Nona Fanni."


Rezeki memang tidak ke mana. Ada hasil dan hikmah di balik kesusahan yang menerpa. Juga Mita yang sudah mengusahakan waktunya untuk mengurus Jelita. Tidak lama setelah penawaran oleh Nur Imran, mereka mulai membahasnya. Tentang modal dan bagaimana membagi keuntungan. Salon kecil ini, bisa jadi menjadi besar dan ternama, bahkan melebihi salon artis-artis ibukota.

__ADS_1


****


Yuk poin yuk. Hari ini bakalan tamat, tiga bab lagi yaa. Termasuk apa yang terjadi sama Riris nanti. Stay tune dan love u all


__ADS_2