
Kali ini, lupakan sejenak soal kehidupanku yang penuh dengan lika dan liku. Karena tiba-tiba ada wanita cantik yang judes datang berkunjung ke rumahku. Aku sedikit heran, akhir-akhir ini banyak tamu-tamu penting yang singgah di rumah tempat tinggalku dimana suamiku sebagai pemiliknya. Rasanya, diriku sedikit spesial. Entahlah, namun menduga hal yang baik-baik, tidak masalah, bukan?
Sebenarnya, beberapa saat yang lalu, sosok cantik ini mengajakku bertemu diluar. Namun aku teringat usia kandunganku yang sudah delapan bulan, maka aku menolaknya tanpa pikir panjang. Namun bukan berarti aku ingin mengabaikan, melainkan mengganti dengan izin agar ia datang ke rumahku untuk berbicara empat mata. Yah, mungkin perihal kehidupannya yang tidak ada sangkut pautnya dengan diriku ataupun keluargaku. Namun sebagai seorang teman, tentunya aku memiliki kewajiban mendampinginya dengan semampuku dikala ia merasa sedih seperti ini.
"Jadi, ada apa, Mit?" Kumulai pembicaraan disaat Mita mulai tenang dari tangisan pedihnya.
Ia yang terbalut baju formal bak ingin bekerja, kini tengah meringkuk diam di lantai teras rumahku. Ia merasa enggan pada saat aku persilahkan masuk, mungkin karena aku sudah bersuami. Yah, meskipun Mas Arlan sudah berangkat bekerja, namun tetap saja ia merasa tidak enak hati. Lalu, perlahan ia mengusap air mata yang membasahi pipinya. Menatapku dengan mata yang sayu seperti seseorang yang tengah putus asa. "Gue berantem sama bokap, Fann. Sakit, gue dihajar," ujarnya.
Bagaimana aku tidak merasa pilu pada saat mendengar pengakuan dari Mita. Seorang anak perempuan yang baru saja bertengkar dengan ayahanda. Aku menarik tubuh Mita agar menghadapku untuk memastikan ia tetap baik-baik saja. Namun keadaan kini berbeda, di tulang pipi sebelah kirinya tampak lebam seperti bekas pukulan.
Oh, parah! Gimana bisa seorang bapak melakukan hal sekasar itu?
Mendapati luka yang diderita oleh Mita, membuatku termangu dalam beberapa saat. Aku masih tidak mengerti mengapa ayahnya berbuat demikian. Membayangkannya saja, membuatku bergidik seram. Sejak dulu, Mita memang seolah dikuasai oleh ayahnya. Terlebih ia adalah anak perempuan, bukan seorang anak laki-laki yang amat diharapkan. Mungkin tidak terlalu aneh jika ayahnya bisa melakukan hal sekasar itu kepadanya. Namun, ya jangan main tangan!
Tanpa bertanya lebih dalam, aku mencoba berdiri dari dudukku. Tidak kusangka, dalam keadaan bersedih pun ia bersedia membantuku yang sedang hamil besar ini. Mita memang bengis dan terlihat kejam, namun hatinya rapuh. Ia telah berubah dari sesosok setan cantik menjadi sosok yang luar biasa baik. Jangan tanya soal karakter, ia telah memilikinya sejak lahir. Akan sulit jika dipaksakan untuk lebih lembut sedikit, apalagi ia tumbuh didalam keluarga yang keras.
"Mau kemana, Fanni? Disini aja, gue nggak enak sama orang rumah loe." Mita menahan gerakan tanganku yang mencoba membawanya untuk masuk ke dalam.
Aku menggelengkan kepalaku sembari memberikan jawaban, "kita perlu bicara yang nyaman. Ada tempat yang nggak akan didenger orang. Jangan disini, tuh ada Pak Edi."
"Tapi, Fann? Gue nggak enak."
"Jangan sungkan, Mit. Suami gue juga lagi kerja kok. Ada gue sama Bibi doang, beliau pun sibuk di dapur."
Dalam sejenak waktu, ia tampak berpikir. Sampai akhirnya ia memberikan anggukan kepala kepadaku, membuktikan bahwa ia sedang setuju dengan perkataanku. Tanpa menunggu lama lagi, aku membawa Mita untuk masuk ke dalam rumah ini. Kebetulan aku mendapati Bi Onah tengah membersihkan meja ruang tamu dan aku meminta tolong agar beliau berkenan menyajikan segelas susu untuk diriku dan kopi susu untuk Mita.
Tentu saja, Bi Onah menyetujuinya dan aku tidak lupa mengatakan rasa terima kasih. Dan langkah kami berlanjut untuk menuju tempat favorite tempatku ngalamun, berkhayal dan juga membaca buku-buku novel. Mita tidak segan lagi untuk membantuku berjalan. Hal ini membuatku sesekali tersenyum karena sikapnya semakin hari semakin manis saja.
"Gue agak sangsi masuk rumah orang, Fann. Jujur, gue nggak pernah bertamu di tempat orang," jelas Mita mengenai rasa enggannya ketika aku mempersilahkan dirinya untuk masuk beberapa saat yang lalu.
Hal itu tentu saja menumbuhkan rasa heran di hatiku. "Kok bisa? Temen loe? Kerabat loe?" tanyaku untuk memastikannya lagi.
Mita menggeleng. "Gue dan keluarga gue itu terkenal angkuh. Gue ini juga nggak pernah punya temen gegara judes. Loe tahu sendiri lah gue dulu kayak gimana."
Benar juga, jika diingat kembali ke masa lalu, Mita ini memiliki sifat yang sangat buruk. Pada saat itu aku menjadi incaran pertama dan target paling diminatinya. Aku pikir karena alasan gemuk pada badanku, ternyata ia hanya iri dengan kinerja dan prestasiku di mata Pak Ruddy. Dan karena rasa iri itu, Mita menggunakan kekuranganku untuk menghina dan berusaha menyingkirkanku. Entahlah, analisaku seperti itu. Namun semua tetap masa lalu, kini tidak ada lagi dendam diantara kami.
Sesampainya di tempat tujuan, kami sama-sama mengambil posisi duduk di kursi yang ada disini. Biasanya untuk kencan manisku bersama Mas Arlan, tentu sudah diatur se-demikian rupa semenjak aku hamil besar. Supaya aku tidak jenuh lantaran berada di rumah terus menerus.
"Ini, Mbak, Non cantik, monggo diminum." Sembari berkata demikian, Bi Onah yang telah sampai disini kini meletakkan satu gelas susu untukku dan kopi susu untuk Mita.
"Makasih, Bi," ujar Mita.
__ADS_1
"Sama-sama, Non. Saya undur diri."
Aku menimpali, "iya, Bi. Mari minum, Mit."
"Iya, Fann. Thanks."
Mita meraih cangkir berisi kopi susu tersebut. Ditiupnya si minuman supaya lebih hangat dan enak dalam dinikmati olehnya. Sama halnya dengan Mita, aku pun berlaku demikian pada gelas susuku. Sedangkan angin tengah bertiup sepoi, berhasil memainkan rambut panjang kami yang terurai. Hari memang masih terbilang pagi, baru memasuki pukul sembilan siang.
Seharusnya, Mita bisa berangkat bekerja meskipun harus telat. Namun rasa syok-nya sepertinya belum reda. Sehingga aku tidak menanyakan perihal pekerjaannya. Mungkin hari ini, Celvin akan merasa kewalahan sendiri. Jika ia mengetahui kondisi Mita, pasti ia tidak merasa kecewa. Secara, Mita dan dirinya kan sudah seperti kakak dan adik yang sesungguhnya.
Aku menghela napasku sebelum membuka pembicaraan dengan sang pemiliki kisah pilu. Kemudian, aku menatapnya yang masih dipenuhi rasa gusar. Bahkan ia menggigit jari dalam keadaan bibir yang berkata. Siapa yang tidak akan turut bersedih hati ketika menatap seorang teman mengalami hal gila itu. Kendati dirinya terlihat sangar dan kuta, Mita tetaplah seorang wanita yang lemah hatinya. Terlebih jika sudah menyangkut orang tua. Aku pun tidak bisa membayangkan jika berada pada posisinya. Trauma bullying saja, aku hampir gila, apalagi jika menyangkut orang tua.
"Mita, pertama gue mau bilang loe harus sabar. Mau gimanapun beliau orang tua, Mit." Dengan menatapnya penuh keseriusan, aku berkata demikian. Meski aku tidak pernah tahu ketika berada diposisinya itu rasanya seperti apa.
Dalam beberapa saat Mita hanya menatapku diam. Sampai akhirnya ia memberikan jawaban untukku, "gue nggak tahu lagi, Fann. Mengenai bokap gue yang super kejam itu, gue udah muak."
"Kalau boleh tahu, loe tadi diapain? Sampai begitu?"
"Dilempar HP. Tahunya kena muka gue, gue nggak tahu itu disengaja atau enggak. Yang pasti, itu bener-bener keterlaluan. Gue baru mau berangkat kerja, Fann. Tiba-tiba, bokap gue nongol aja didepan pintu apartemen gue. Iya sih, semalem gue nggak mau disuruh pulang."
Penjelasan dari Mita membuatku merasa bimbang, siapa tahu lemparan itu hanya tidak disengaja. Untuk sekarang, aku tidak mau memihak pihak manapun sebelum mendengarkan kelanjutan ceritanya. Mungkin akan terasa berat ketika ia mengucapkan sebuah masalah yang ada didalam keluarga, bisa saja hal itu dianggap sebagai sebuah aib.
Namun, aku pribadi merasa tidak tega pada saat harus membiarkan Mita merasakan semua kepiluan itu sendiri. Ini dua kalinya aku melihat ia menangis, setelah dua tahun yang lalu pada saat kami pertama kali berdamai. Ia tidak sekuat karakter angkuh yang melekat pada dirinya. Ya, Mita tetaplah seorang wanita biasa. Ia membutuhkan bimbingan yang tepat.
Mita melayangkan pandang ke arah jalan didepan rumah ini dengan tatapan yang terlihat kosong. "Gue mau dijodohin sama Papa. Gue udah nggak mau lagi jadi boneka orang-orang di rumah itu," jelas Mita.
Aku termangu, kilatan petir seolah tengah menyambar perasaanku. Tentu saja aku terkejut, mengingatkan diriku pada masa lalu dimana ibuku selalu mengatur kencan buta dan perjodohan untuk menentang Mas Arlan. Saat itupun aku merasa benar-benar muak, meski sejatinya beliau melakukan semua itu untuk kebaikanku. Namun mengertilah, perjodohan itu agak menyesakkan hati. Sehingga aku tidak merasa heran akan respon yang diberikan oleh Mita kepada sang ayahanda.
"Gue nggak tahu harus bilang apa soal ini ya, Mit. Secara, gue juga pernah sangat muak dengan perihal perjodohan."
Mita menatapku. "Loe pernah dijodohin?"
Lantas, aku mengangguk pelan. "Ya, awalnya kencan buta. Terus beberapa kali ketemu cowok yang seleranya tinggi, jatuhnya gue dihina karna gemuk. Yang kedua, karna Mas Arlan seorang duda, nyokap gue nggak mau."
"Terus? Kenapa akhirnya loe bisa nikah?"
"Mas Arlan berjuang keras. Ada banyak hal yang dia lewati, walaupun berat. Demi gue yang gemuk ini, dia bisa menembus dinding kokoh di hati nyokap gue."
"Itu bagus. Tapi gue? Masalahnya gue nggak punya pacar, Fann. Gue benci sama cowok gegara bokap."
"Tapi loe nggak belok, kan?"
__ADS_1
"Kagaklah, males aja gitu sama cowok. Gue takut dikasarin, terus loe inget, kan? Waktu gue dapet misi dari Kak Celvin, gue ketemu tua bangka yang hampir lecehin gue."
"Iya inget. Tunggu! Tapi kenapa loe nggak benci sama Celvin dan Pak Ruddy?"
"Nggak tahu. Mungkin karna sejak kecil gue bareng jadi udah kenal banyak. Itupun, gue juga sempet takut gegara kabar Kak Celvin pernah bully cewek nyampe tuh cewek bunuh diri. Gue butuh waktu lama buat deket sama dia lagi."
Aku manggut-manggut saja. Kemudian aku teringat sosok Nia yang memiliki respon yang sama seperti Mita yaitu tentang kebencian dan rasa trauma mereka kepada para pria karena alasan seorang ayah. Bedanya, Nia melampiaskan dengan cara memanfaatkan mereka semua, sedangkan Mita malah terkesan menghindar kecuali dalam konteks bekerja. Pasti semua itu sangat sulit ia hadapi.
Sedangkan diriku malah tidak terlalu menyukai wanita-wanita cantik pada saat itu. Lantaran sosok para pembully-ku adalah wanita-wanita yang berparas sempurna dan orang-orang kaya. Beruntung, responku hanya diam tidak balas dendam. Yah, aku akui saat itu aku cemen sekali.
"Fann, gue nggak tahu harus gimana lagi. Gue capek sama keadaan kayak gini. Terlalu banyak Papa manfaatin gue, Fann. Bahkan kali ini perjodohan sama om-om gendut tapi kaya. Bisa bayangin nggak loe? Betapa jijiknya gue sama bokap gue sendiri. Gue udah kayak dijual, ngerti nggak? Gue capek, Fann." Penjelasan yang mengandung bawang, membawaku jauh menerawang dan akhirnya air mataku membentuk buliran.
Nestapa macam apa itu? Tidak bisakah sang ayah diam dan menyerahkan segala hidup kepada Mita sebagai pelaku utama dalam cerita hidupnya? Aku tidak tega ketika ia harus menangis namun terkesan ditahan-tahan. Pasti hatinya merasakan sesak yang luar biasa. Sedangkan diriku hanya sebagai pendengar tanpa bisa memberikan saran apa-apa. Yah, karena aku tidak pandai dalam memberikan nasehat yang bijak.
"Sabar, Mita." Hanya itu yang terucap dari bibirku untuk membuat hati Mita lebih tenang, meskipun kemungkin berhasil hanya tiga persen.
"Maaf, seharusnya gue nggak bilang kayak gini yang malah bikin loe ikutan nangis. Apalagi saat loe hamil tua kayak gini. Tapi bener-bener nggak tahu mau ngeluh sama siapa lagi kecuali loe, Fann. Gue orang angkuh yang nggak punya temen."
"Nggak apa-apa kok, Mit. Gue jauh lebih khawatir kalau loe pendem sendiri, nanti malah jatuhnya depresi."
"Gue emang udah depresi. Malah rasanya pengen mati. Gue selalu merasa Tuhan itu nggak pernah adil sama hidup gue. Kenapa harus gue yang terlahir dikeluarga biadap itu? Harta, tahta, duit? Pers*tan sama semua itu!"
Aku menelan salivaku seketika. Mita sudah berada pada batas kesabarannya. Hatiku bak tersayat-sayat dan hanyut ke dalam emosi kepiluannya. Samar, aku mendengar Mita mengucapkan umpatan beberapa kali disela-sela isak tangisnya. Ia menjadi tidak terkendali dalam mengatasi ucapannya. Aku bingung sekaligus merasa prihatin atas dirinya. Aku hanya bisa menunggu dirinya lebih tenang dan akan sedikit kuberikan nasehat sesuai pengetahuanku.
Sampai akhirnya, ia terdiam. Menatapku dengan ragu dan mengatakan kata maaf lagi. Disini, aku mulai menyusun kata-kata yang pas untuk aku ucapkan sebagai bentuk nasehat. Semoga ia bisa menerima dan tidak tersinggung.
"Mita, lebih baik loe mendekatkan diri sama yang di atas," ujarku dengan nada yang sangat lembut.
"Buat apa, Fann? Toh yang di atas nggak pernah sayang sama gue," tolak Mita putus-asa.
"Jangan gitu, Mit. Kalau Dia nggak sayang sama loe, nggak mungkin loe masih diberi nyawa, napas, dan uang dari pekerjaan loe."
"Gue nggak paham soal agama, Fann. Percuma."
"Belajar, Mit. Zaman udah modern, cari ilmu cari guru itu udah mudah. Koneksi internet pun ada. Yang penting hati-hati sama orang yang membimbing. Gue yakin, saat loe udah ngerti agama, bisa ibadah rajin hati loe bisa lebih tenang."
"Apa iya?"
"Iya, Mit. Gue jamin, tapi harus tetep dibarengi sama usaha. Loe pulang, baikan sama bokap loe. Terus bicarain baik-baik perihal perjodohan itu. Kalau kalian bisa ngomong lebih pelan dan nyaman, gue yakin kondisi kalian nggak kayak sekarang. Kalau seandainya gagal, loe boleh lepas tangan dan pergi dari kehidupan menyebalkan itu."
"...."
__ADS_1
Bersambung ....
Budayakan lagi like+komen ya