Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Mama Oh Mama


__ADS_3

Sore harinya, tatkala aku ingin beranjak pulang ponselku berdering. Saat ini aku sudah berada diatas bangku alias jok didalam mobilku. Mas Arlan lagi, ia tak bosan-bosan terus menghubungiku.


Rentetan pesan yang ia kirimkan melalui aplikasi pesan bertumpuk menjadi sejumlah angka yang tertulis dalam pemberitahuan pada layar ponselku. Aku rasa lelaki itu benar-benar bahagia sekarang. Ia melupakan satu hal yaitu sebuah kesepakatan yang masih berjalan sampai dua bulan nanti.


Jujur saja, aku sedikit jengah dan kesal. Mas Arlan begitu antusiasnya padaku. Selain membuatku merasa bersalah, ia juga berhasil menguras habis baterai ponselku dengan banyaknya panggilan dan pesan yang ia kirim. Aku menjadi heran, sebenarnya apa yang ia lakukan? Maksudku memangnya ia tidak sibuk bekerja?


Rasa penasaran hatiku tentang kehidupan mas Arlan yang belum aku ketahui semakin besar. Di satu sisi, hatiku masih juga merasakan nyeri karena pertemuan Celvin dan Riska beberapa saat yang lalu.


"Halo Mas," jawabku ketika mengangkat panggilan kedua dari mas Arlan. Ya! Di panggilan pertama aku sengaja mengabaikannya terlebih dahulu karena aku pikir mas Arlan akan menyerah nyatanya tidak.


"Assalamu'alakum Adek Fanni sayang," sapa mas Arlan dengan salam umum yang biasa dipakai oleh umat muslim.


"Wa'alaikumssalam Mamas Arlan."


"Hehe... hari ini kamu sibuk banget ya?"


"Iya Mas, udah gitu ada orang telpon mulu daritadi."


"Haha... maaf, maafin Mas ya Dekku sayang."


"Geli ih."


"Geli kenapa?"


"Manggilnya biasa aja sih, nggak cocok ama umur yang udah setengah abad."


"Masih jauh Dek, masih tujuh tahun lagi baru setengah abad."


"Bentar lagi Mas."


"Nggak apa-apalah yang penting masih awet muda."


"Iya deh, kenapa Mas?"


"Kangen Dek."


"Entar aja deh, aku mau pulang nih."


"Boleh maen lagi? Selli juga pengen ketemu kamu."


"Maaf Mas, aku sebenernya juga kangen sama Selli tapi aku harus ke rumah Mama."


"Yaudah yang penting hati-hati dijalan, salam buat calon mertua Mas ya."


"Yeee... Ya, udah dulu ya, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumssalam Adek sayang."


Aku menutup percakapan ponselku dengan mas Arlan. Rona merah terlukis di wajahku saat aku menangkapnya dikaca kecil yang terpasang dihadapanku. Sunggingan senyum tipis pun kini tergambar juga.


Kuakui tingkah mas Arlan yang kocak bagaikan seorang bocah kecil yang manja sedikit membuat hatiku terhibur dari rasa sakitku pada Celvin. Aku juga tahu bahwa Celvin tidak mempunyai salah sama sekali padaku. Disini, akulah yang bersalah karena sudah menjatuhkan hatiku kepada orang yang luar biasa.


Meski begitu, perasaanku masih tetap respek terhadap apa yang dilakukan mas Arlan. Sebisa mungkin aku menghargainya. Aku juga berniat akan mencoba jujur padanya tentang apa yang sudah kulakukan. Mungkin, termasuk setiap perbincanganku dengan Celvin.


Ya! Itu hanya mungkin dan baru rencana. Karena aku masih belum tau, sanggup tidaknya aku mengutarakannya pada mas Arlan.


Aku mulai menyalakan mesin mobilku. Kemudian melajunya meninggalkan gedung kantorku. Meski aku memang kabur dari permintaan ibuku, aku tetap ingin pulang untuk sekedar formalitas sebagai keluarga dan adik yang baik bagi Kak Pandhu.


Mobilku melintasi jalanan yang masih sama saja selama tiga puluh tahun aku hidup di kota ini. Bedanya hanyalah pada suasana serta infrastruktur, kios, bangunan serta gedung yang semakin bagus dan modern. Tentu saja dengan kemacetan dibeberapa titik jalan yang semakin banyak.


Tak perlu menghabiskan waktu terlalu lama, akhirnya aku sampai di rumah orang tuaku. Aku memarkir mobil ditempat yang biasa aku pakai. Aku bergegas keluar dan hendak berjalan masuk kedalam rumah.


TOK... TOK... TOK...


Bunyi daun pintu terdengar, tercipta dari jari-jari gembulku yang bertemu papan kayu daun pintu tersebut.


"Assalamu'alakum Pa," sapaku tatkala melihat ayahku membukakan benda tersebut untukku.


"Masuk sayang," jawab ayahku.


Aku melangkah masuk kedalam rumah orang tuaku tersebut dengan mengiringi langkah ayahku.


Ibuku tampak berkacak pinggang diambang pintu masuk ke ruang rumah yang lain. Aku terperanjat dibuatnya. Seolah-olah beliau memang sengaja berlaku seperti itu untukku.


Dan yeah! Ibu menghampiriku lalu menarik daun telingaku dengan sebal. Aku mengaduh kesakitan dengan pikiran yang masih bingung menerka-nerka. Bukannya aku telah mengatakan bahwa aku sibuk dan ada meeting pada ibuku tadi? Tapi kenapa beliau semarah ini?


"Mama apa sih? Duh... sakit tauk, emangnya aku anak kecil apa?" tanyaku penasaran sembari berusaha melepas jari-jari ibuku yang sedang menarik daun telingaku.


"Kenapa-napa... kamu masih bandel ya Fann jadi anak!" ujar beliau dengan nada tegas, kata yang belum aku mengerti sama sekali maksudnya.


"Udah Ma, jangan kasar-kasar ngomong baik-baik aja," sergah ayahku guna meredakan emosi ibuku.


"Anak ini kalau nggak dikerasin nggak mau nurut Pa."


"Yaudah dibicarain aja, lagian Fanni udah dewasa Ma, jangan nganggep kayak anak SMA terus."

__ADS_1


"Halah... Papa selalu manjain anak, makanya bikin anak bertindak tanpa mikir lebih dulu."


"Bukan gitu Ma, Fanni kan baru pulang, kasian masih capek dia."


Aku masih benar-benar belum mengerti apa yang membuat ibuku semarah ini. Ibuku dan ayahku malah terlibat cekcok sekarang. Lalu aku diam-diam melangkah pergi ke kamar lamaku. Sampai semua tenang dan menanyakannya nanti.


Dengan hati yang masih sedikit berdebar-debar, aku berbaring pada ranjang lamaku. Tak lupa pintu kamarpun aku kunci. Benakku mulai melayang tentang apa yang sudah aku lakukan hari ini. Tidak mungkin ibuku semarah itu hanya karna aku kabur dari acara fitting baju. Itu kurang masuk akal.


Lalu apa?


"Astagfirullah!!!" ujarku tersontak pada saat teringat tentang mas Arlan.


Ya! Sepertinya karena hal itu. Ibuku bertemu mas Arlan di apartemenku pagi tadi. Pantas saja beliau marah. Kenapa aku melupakan hal sepenting itu? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Lalu alasan apa yang akan kukatakan pada orang tuaku?


Aku segera merogoh ponselku didalam kantong blazer ya masih aku pakai. Aku mencari nomor mas Arlan dan ingin meneleponnya. Setidaknya aku harus tau dengan jelas apa yang sempat ia katakan dengan ibuku.


"Assalamu'alaikum Dek," sapa mas Arlan dari kejauhan sana.


"Wa'alaikumssalam Mas, aku mau nanya," balasku.


"Kenapa Dek? Kangen ya?"


"Bukan waktunya becanda Mas."


"Terus kenapa Adek sayang?"


"Tadi pagi Mas Arlan ngomongin apa sama Mama?"


Mas Arlan terdiam sejenak. Mungkin ia sedang mengingat lagi insiden pagi tadi.


"Seinget Mas, Mas nggak bilang apa-apa kok Dek," katanya selanjutnya.


"Mas yakin?"


"Entar dulu."


"Mas nggak bilang soal hubungan kita kan?"


"Enggak kok, Mas belum bilang apa-apa."


"Terus ngomongin apa?"


"Nggak ngomongin apa-apa Dek, abis ngasih salam sama pamit, Mas langsung pergi."


"Yakin banget, kenapa Dek? Mama kamu marah?"


"Iya Mas, kayaknya Mamaku udah mikir yang macem-macem deh."


"Maafin Mas, Dek... tadi bener-bener nggak nyangka bakalan ketemu Mama kamu disana."


"Bukan salah Mas Arlan kok, aku kan udah bilang dari awal Mama nggak setuju soal hubungan kita apalagi masih dalam kesepatan dua bulan ini. Walaupun seandainya nanti kita bener-bener punya hubungan resmi, Mama juga belum tentu akan setuju Mas."


"Hmm... Mas ngerti kok Dek, setelah menaklukkan hati kamu, Mas akan menaklukkan hati calon mertua dengan sekuat tenaga."


"Emang kami hewan buas apa? Main ditaklukkin aja."


"Hehe... yaudah kamu bicarin dulu sama Mama kamu, kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin aku ya Dek, maafin Mas sebelumnya udah nyebabin ini semua."


"Stop minta maaf yang nggak perlu Mas, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumssalam."


Aku mematikan panggilan tersebut. Ini memang bukan salah mas Arlan. Aku sangat tidak menyukai kata maaf yang selalu diucapkan mas Arlan padaku. Ia tidak pernah bersalah. Menurutku, sedari awal semua terjadi karena diriku.


Seandainya dulu aku mendengar perkataan ibuku untuk menjaga jarak dengan mas Arlan. Aku pasti tidak menjebak mas Arlan dalam perasaan semacam itu. Parahnya lagi aku malah membuat kesepatan baru dengan mas Arlan. Bagaimana jika nanti aku tetap tidak memiliki perasaan apapun padanya? Lalu seandainya mas Arlan berhasil membuatku luluh, bagaimana caranya agar keluargaku menerima dirinya?


Astaga! Hidupku bagaikan alur sebuah sinetron. Bedanya, jika di sinetron peran utamanya sangat cantik. Sedangkan aku adalah wanita biasa-biasa saja yang bertubuh gemuk. Dan sangat tidak tau diri.


Ada apa denganku? Mengapa aku bisa menjebakkan diri dalam masalah seperti ini diusia yang sudah mencapai kepala tiga. Aneh sekali.


"Fanni keluar, Mama mau bicara," ujar ibuku dari balik daun pintu kamar yang telah aku kunci.


"Nggak mau, entar malah disiksa sama Mama," jawabku menolaknya.


"Keluar! Atau Mama dobrak."


"Coba aja kalau bisa."


"Fanni! Kalau kamu nggak keluar, Mama bakal kunciin kamu didalam biar nggak bisa kemana-mana apalagi ketemu Arlan."


Deg!


Dengan terpaksa aku beranjak bangun dari ranjangku. Aku tidak ingin membuat masalah ini lebih runyam lagi.


Ku buka gagang pintu dan tampak ibuku sudah berkacak pinggang sama seperti beberapa saat yang lalu. Hal itu membuatku bergidik ngeri dan menundukkan kepala guna menghindari tatapan tajam dari mata beliau.

__ADS_1


Ibuku memberikan isyarat agar aku mengikuti langkahnya. Kami berjalan kearah ruang tengah. Dengan hati yang takut dan berdebar, aku berjalan sembari memikirkan jawaban apa yang pantas aku berikan pada ibuku agar beliau menerimanya.


Sesampainya di ruang tengah, tampak ayah dan Kak Pandhu sedang duduk di sofa masing-masing. Saat ini, aku terlihat seperti terdakwa yang sempat tertangkap basah melakukan suatu kejahatan.


"Duduk!" perintah ibuku dengan tegas.


Untuk sesaat, aku menatap wajah ayahku dan Kak Pandhu. Sialnya, aku menangkap senyuman yang disunggingkan oleh kak Pandhu. Sepertinya ia sedang menertawakanku sekarang.


'Sialan!' gumamku dalam hati.


Kemudian aku duduk disalah satu sofa yang dekat dengan ayahku. Aku memilih sofa tersebut dengan harapan ayahku bisa membelaku disaat aku merasa tersudut oleh perkataan ibuku.


"Bisa kamu jelaskan Fanni?" tanya ibuku kemudian.


"Soal Mas Arlan, Ma?" tanyaku kembali.


"Siapa lagi?!"


"Kami masih berteman Ma."


"Jujur aja kamu Fann."


"Aku jujur kok."


Ibuku terdengar menghela napas dengan berat. Beliau tampaknya tau bahwa aku sedang berbohong sekarang. Disaat seperti ini, beberapa kali aku memberikan isyarat pada kak Pandhu agar ia membantuku.


Namun, lagi-lagi ia hanya memberikan senyum yang terkesan meledek.


"Jujur Fanni!" ujar ibuku lagi dengan tegas.


"Udah Ma, jangan terlalu keras," akhirnya ayahku ikut bersuara.


"Iya Ma, lagian Fanni udah gede," kak Pandhu pun tak ketinggalan.


Rasa syukur kukatakan dalam hati. Karena masih ada orang yang mau membantuku sekarang. Meskipun, aku tau ibuku tidak akan menerimanya dengan cuma-cuma.


"Gimana sih kalian? Ini anak gadis kita satu-satunya lho Pa, adek cewek kamu Pandhu!" tegas ibuku lagi


"Maaf Ma, tapi kayaknya bukan waktu yang tepat lagi buat melarang Fanni, dia udah tiga puluh tahun lho," jawan Kak Pandhu.


"Yang penting dia bahagia, Papa juga mendukung apapun itu," sambung ayahku.


"Nggak wajar pemikiran kalian ini, Arlan itu duda Pa, Pandhu. Dia cerai karna broken home bukan cerai mati, emang kalian mau Fanni berakhir begitu juga? Umur pun jauh sekali sama Fanni bahkan Pandhu juga lho."


"Papa tau Ma, tapi lihat putri kita sampai sekarang belum menikah. Jangan menolak jodoh kalau sudah diberikan Allah sama dia, Mama mau anak kita jadi perawan tua?"


"Nggak! Ibu mana yang mau anaknya kayak gitu, tapi bukan berarti main terima orang gitu aja dong... apalagi buat jadi suami Fanni sekaligus menantu kita, belum lagi pagi-pagi udah nyamperin ke apartemen Fanni, emangnya dia nggak kerja apa?"


"Jangan su'udzon dulu Ma, Pandhu aja nggak mikir nyampe segitunya lho. Masa' pengangguran mobilnya bagus."


"Kamu tau darimana mobilnya bagus, Pandhu?"


"Ya waktu dia nyamperin Pandhu dulu diulang tahun Fanni."


"Bisa jadi kan itu mobil pinjeman."


Mama oh mama, ada saja pikiran prasangka dalam benak beliau. Aku tau ibuku sedang mengkhawatirkanku sekarang. Namun, aku merasa ini berlebihan. Beliau sudah seheboh itu pada saat hubunganku dengan mas Arlan belum resmi. Bagaimana kalau nantinya kami saling mencintai?


Aku benar-benat tidak bisa berkata apapun sekarang. Semua keluargaku saling beradu argumen satu sama lain. Demi aku, demi anak yang sudah berusia dewasa. Aku bagaikan meloncat lagi ke jenjang SMA yang penuh aturan.


Mungkin jika mas Arlan adalah Celvin, pasti akan berbeda cerita. Namun, kenyataan bukan begitu. Celvin hanya angan-angan bagiku, ia terlalu sempurna untuk aku dapatkan. Ia jauh diatas langit ketujuh dan aku didasar lautan dalam.


"Udah Stop!!!" ujarku, akhirnya aku merasa jengah juga.


"Apa?" tanya ibuku.


"Aku tau Mama khawatir sama Fanni, tapi nggak gini caranya. Kalau terus-terusan kayak gini kapan Fanni bisa nikah?"


"Jadi maksud kamu, Mama yang bikin kamu susah jodoh gitu?"


"Bukan gitu Ma, Fanni belum mikirin ke jenjang sampe seserius ini lho sama mas Arlan, tapi kenapa harus sampe seheboh ini?"


"Karna kamu terus-terusan membangkang!"


"Ya! Fanni tau Fanni bukan anak yang bisa turutin semua kata orang tua, tapi Fanni tau mana yang terbaik buat Fanni. Huhh... padahal niatnya kesini buat minta maaf karna nggak ikut fitting baju, tapi malah diomelin kayak maling!"


"Fanniiiii!"


Aku pergi meninggalkan semua anggota keluargaku. Aku berjalan kearah kamar lamaku guna mengambil tas yang masih berada disana.


Lalu, dengan perasaan takut yang sudah berganti kesal, aku keluar rumah. Aku masuk kedalam mobilku dan bergegas kembali ke apartemenku. Aku takut keadaan emosi ibuku yang semakin tidak stabil atau mungkin juga emosiku. Bisa-bisa aku mengeluarkan kata jahat kepada beliau.


Bersambung...


Budayakan tradisi like+komennya...

__ADS_1


__ADS_2