Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Memberanikan Diri


__ADS_3

Akhirnya, seharian ini aku terhitung tidak bekerja. Celvin terus menggangguku dengan berbagai cerita seputar dirinya atau bahkan hal yang tidak penting. Sampai-sampai aku tidak bisa berkata apapun lagi kecuali anggukan dan kata "iya".


Bahkan Celvin melarangku untuk makan diluar, dengan alasan kita rayakan jalinan pertemanan ini. Ia memesan makanan kepada sopirnya dan ia mengintruksikan untuk diantarkan ke ruangan tempat kami bekerja. Entahlah, harus bersyukur atau tidak. Rencanaku bertemu Nike dan Tomi harus gagal siang tadi. Aku hanya keluar untuk ke kamar mandi saja


Celvin terlihat seperti seorang anak kecil yang baru memiliki teman. Terlalu antusias untuk mengajak bermain. Lucu sih, tapi itulah yang terjadi. Seharian ini kharisma Celvin yang gagah, entah hilang kemana. Ia terlihat seperti orang pada umumnya. Bercengkerama, mengeluh, tertawa dan kadang kala menangis.


Mau bagaimana pun Celvin masih seorang manusia biasa. Ia adalah seorang anak yang kini sedang merindukan ibunya. Tak banyak yang bisa kulakukan untuknya, kecuali mendo'akannya. Aku berharap Celvin bisa segera menemukan ibunya.


Hingga saatnya aku dan Celvin harus berpisah di penghujung hari. Karena waktu masih terus berjalan, aku atau pun dirinya harus pulang.


"Aku pulang dulu ya," pamitku padanya.


"Iya Fanni, makasih buat hari ini ya," jawab Celvin.


"Iya sama-sama."


"Semoga kedepannya kita bisa lebih akrab Fann, kamu juga nggak canggung lagi."


"Amin hehe... Oh iya, aku mau ambil cuti bisa nggak ya?"


"Kapan?"


"Emm... mungkin hari Jum'at dan Sabtu."


"Mau kemana Fann?"


"Kakak aku mau nikah dihari itu."


"Iya nggak apa-apa, ambil aja tiga hari izin sesuai prosedur perusahaan Fann. Jadi cuti kamu biar utuh buat nikah nanti."


"Ehh? Hehe... masih lama kok."


"Haha... iya becanda kok, yaudah entar urus aja ya."


"Iya, makasih ya. Aku pulang dulu."


"Hati-hati ya Fann."


"Iya, kamu juga."


"Oke."


Kuraih ranselku yang masih tergeletak di meja kerjaku. Setelah berpamitan pada Celvin, aku bergegas keluar dari ruangan kerja ini.


Mungkin Mas Arlan sudah menunggu diluar sana. Dengan tergesa-gesa lagi, aku berusaha sampai tepat waktu. Karena tidak mau membuat Mas Arlan menunggu lagi, jadi aku melakukannya.


"Fanniiiiiii!" seru seseorang dari arah belakang sesaat sebelum aku masuk kedalam lift.


Spontan aku menengok siapa pemilik dari suara tersebut. Nike disana, ia tampak berlari kecil untuk menghampiriku. Terpaksa aku menunda masuk kedalam lift untuk menunggunya. Aku tidak enak jika menahan pintu lift, karena yang memakai bukan aku saja.


"Hai Ke," sapaku pada wanita berhijab abu-abu tersebut.


"Fanni aku kangen lho," jawabnya.


"Gue nggak kangen tuh."


"Kok gitu sih Fann?"


"Biarin deh."


"Fanni kamu kenapa?


"Nggak apa-apa tuh."


"Fanniiii??? Kamu marah sama aku?"


"Nggak!"


Iya! Aku sebal padamu Nike. Aku teringat bagaimana Nike menjebakku saat itu. Belum lagi ia bocorkan informasi tentang diriku pada Mas Arlan yang tidak memakai izinku sama sekali.


Aku tidak marah pada wanita berhijab yang menjadi temanku ini. Hanya saja, sepertinya asyik jika sedikit iseng padanya. Supaya kita impas, merasakan sebal yang sama. Lagipula mana bisa aku marah pada Nike. Toh, ia juga ikut andil dalam hubunganku dengan Mas Arlan.


Nike terus mencercaku, ada apa dengan diriku. Ia terus bergelayut pada lengan tanganku. Sampai pintu lift terbuka lagi, dan kami masuk kedalamnya.


Sejujurnya, aku sudah tidak kuat menahan tawa karena melihat raut panik yang membuat wajah Nike memerah. Lucu sekali.


"Mari Mbak Mita masuk," ajak Nike tatkala Mita berlenggak-lenggok menghampiri lift sebelum pintu tertutup.


"Sorry, gue nggak mau satu kotak sama kalian. Apalagi ada si gajah, entar gue sesak napas," jawab Mita dengan sengit sembari memutar bola matanya dengan sinis


Jika sudah seperti itu Nike terdiam. Wanita itu memang penakut. Lebih penakut daripada aku.


"Udah gih tutup Ke," kataku pada Nike tanpa menggubris keberadaan Mita.


"Cih! Dah sana tutup, sebelum gue muntah," tegas Mita.


Aku segera menutup pintu lift yang didepan Nike. Nike terlalu lambat. Memangnya Mita saja yang mau muntah. Aku juga. Herannya, mengapa kami harus bertemu di tempat ini. Padahal selama ini tidak pernah, aku pikir ia sering menggunakan lift khusus atasan. Apalagi karena koneksi kuat yang ia miliki.


Bukannya aku masih takut dengan Mita. Aku hanya tidak ingin bertengkar dan membuat masalah baru nantinya. Sebisa mungkin aku menahan diriku, walau tanganku sudah gemetar. Rasa gemetar antara takut, malu dan kesal. Biarlah Mita merasa berbangga diri.


Kini hanya ada aku dan Nike yang berada didalam kotak lift. Menuruni lantai demi lantai untuk mencapai dasarnya, berjalan keluar lalu menghirup udara segar setelah menghadapi kejenuhan di kantor.


"Fanni nggak apa-apa kan?" tanya Nike, mungkin ia menyadari apa yang sedang aku rasakan.


"Nggak kok, santai. Terus jangan gelendotan ah, panas," jawabku.


"Iihh... Fann marah kenapa sih sama aku?"


"Pikir aja sendiri."


"Fanniiiiii!"


"Aduh sakit Nike, entar gue makin ngambek nih. Jangan ngajak ngobrol, sekarang aja masih ngambek kok! Duhh..."


Cubitan jari Nike terasa membakar kulitku yang putih sampai terlihat memerah. Sakit sekali. Tenaganya jauh lebih besar daripada tubuhnya. Nike sudah cukup sebal sekarang.


Sudah saatnya aku menyelesaikan keisenganku padanya. Namun sebelum itu, kami melangkah keluar terlebih dahulu dari lift. Kami berjalan beriringan hendak menuju gerbang.


"Loe sih, cerewet banget Ke... udah geh ninggalin gue, ngasih info soal gue lagi," ujarku.


"Owalah... maaf Fann, abis aku kasian. Kata suami aku, Mas Arlan nyampe mohon-mohon lho Fann," jawabnya.


"Terus harus jahat gitu ya? Gue emang bukan orang penting, tapi privasi gue yang loe tau juga jangan disebarluaskan dong Ke."

__ADS_1


"Hehe... maaf Fanni, janji deh entar aku traktir buat permohonan maaf."


"Nggak perlulah, gue masih punya duit Ke."


"Jangan gitu Fann, aku jadi nggak enak lho. Emm... by the way gimana hasilnya waktu itu?"


"Seminggu ya kita nggak ketemu? Banyak yang terjadi Ke."


"Apa aja?"


"Panjang kalau diceritain sekarang, satu hasilnya coba liat kesana."


Telunjukku kuarahkan pada mobil Mas Arlan yang berada di seberang jalan agak sudut. Sontak saja, Nike terpana kaget. Rahangnya jatuh menganga dengan ditutupi telapak tangan kirinya.


Setelah itu, ia menoleh lagi padaku. Nike menyunggingkan senyum padaku kemudian mencubitku lebih keras lagi. Sakit!


"Nikeeee... usil deh jarinya," omelku padanya.


"Aku ikut seneng Fanniii... ihh gemes tauk," jawab Nike lagi yang kini mengarahkan jari-jarinya pada pipi bulatku dan mencubitnya lagi.


"Nikeeee!!! Sakit!"


"Hehehe... iya iya maaf. Kamu yang jadian aku yang kesenengan tauk."


"Emang gue udah ngomong kalau jadian?"


"Belum sih, tapi kan nggak mungkin dijemput kalau belum. Apalagi kamu orangnya susaaaahhh banget."


"Cerdas! Yaudah gue samperin dulu ya kasian Mas Arlan."


"Iya hehe. Pajak jadiannya ya besok."


"Minta sama do'i aja ya."


"Malulah Fann."


"Hehehe."


Aku dan Nike akhirnya berpisah. Kami menyelesaikan kelakar kami. Kuhampiri Mas Arlan dan Nike menghampiri suaminya. Kedua pria yang mungkin telah melaju mobilnya dengan cepat untuk menjemput kami. Sedangkan kami tinggal berlama-lama didalam ruang kantor untuk menunggu mereka.


Satu hal yang membuat senyumku merekah adalah kini aku tidak terlalu iri lagi pada Nike. Sebelumnya, aku hanya bisa menatap ngilu saat ia dengan riang gembira menghampiri suami yang telah menjemputnya. Sekarang kami sama, walau aku masih dalam fase berjuang dengan Mas Arlan.


"Hai Mas," sapaku sembari mengetuk kaca mobil milik Mas Arlan.


"Hai juga sayang," jawabnya genit sekali.


Kemudian aku membuka pintu dan masuk kedalam mobil. Kutatap wajah Mas Arlan secara diam-diam. Aku merasa rindu sehari tak bertemu. Meski sedikit berlebihan tapi itulah yang terjadi pada hatiku. Wajahnya yang manis seolah sudah menghipnotis untuk selalu ingin bertemu.


Kupalingkan pandanganku segera saat Mas Arlan menoleh padaku. Terdengar tawa kecil darinya. Oh malunya, aku heran ia selalu bisa menangkap basah diriku yang sedang mencuri pandang. Aku terlalu gengsi untuk berterus terang.


"Kenapa ketawa?" tanyaku padanya.


"Siapa yang ketawa? Hehe," jawab Mas Arlan.


"Kamulah Mas."


"Kamu lucu Dek hehe."


"Iya iya... aku kangen sama kamu Mas! Puas kan! Jangan ketawa lagi!"


"Nggak mau!"


"Duhh... pacarku gengsi lho."


"Enggak kok kan tadi udah bilang."


"Yaudah sini kecup, katanya kangen kan?"


"Dihh... tambah nggak mau, jalan ayok Mas. Udah sore lho ini."


"Hahaha... suka nolak gitu, padahal hatinya mau lho, siapa juga yang bilang pagi coba?"


"Mas!!!"


"Iya iya Dekku sayang hehehe."


"Dasar..."


Mas Arlan terus terkekeh sembari melaju mobilnya untuk meninggalkan kantor. Ia sama sekali tidak peduli pada wajahku yang sudah seperti udang direbus. Apalagi rasa maluku semakin bertambah saat ia meminta kecupan padaku. Tentu saja aku menolak.


Seumur hidupku, aku tak pernah melakukan itu. Dan semalam adalah pertama kalinya. Andai Mas Arlan tau, aku sampai terbayang-bayang. Aku baru tertidur sekitar jam setengah dua belas karena saking malunya.


Mas Arlan adalah lelaki pertama yang menyentuh tanganku, memelukku, mengecup keningku. Yah, selain Ayahku dan Kak Pandhu pastinya. Yang aku maksud adalah dalam hubungan seperti ini. Mungkin aku masih sangat awam mengenai hal-hal tersebut.


"Dek?" panggil Mas Arlan.


"Iya Mas? Apalagi?" tanyaku kembali.


"Duhh... judesnya."


"Enggak kok hehehe."


"Nah gitu kalau senyum kan cantik."


"Hmm... jangan menghina deh."


"Mas serius Dekku sayang."


"Iya makasih Mas."


"Sama-sama buleku sayang."


"Ada lagi aja panggilannya. Kenapa nggak gendutku sekalian?"


"Ahh kamu, kurang sweet itu. Mas kan asli cinta kamu."


"Iya percaya Mas."


"Kamu gimana?"


"Apanya?"


"Hatinya?"

__ADS_1


Uh... Mas Arlan mulai memancingku lagi. Jelas-jelas sudah kukatakan kalau aku telah jatuh cinta padanya. Memangnya sepenting itukah ungkapan cinta? Bukan apa-apa, aku hanya malu dan geli untuk sekedar mengucapkannya.


Lagipula yang terpenting sekarang bukankah kami sudah bersama? Atau Mas Arlan masih tidak percaya padaku?


"Mas Arlan kok tanya lagi sih?" tanyaku kemudian.


"Buat memastikan Dek hehe," jawab Mas Arlan.


"Mas Arlan belum percaya sama aku?"


"Percaya kok percaya, pengen denger aja Dek."


"Kan yang penting kita udah bareng, jadi nggak haruslah nanyain itu lagi Mas."


"Iya Dek, tapi Mas cuman pengen denger aja kok."


"Itu buktiin kalau Mas Arlan belum percaya sama aku!"


"Lho kok kamu malah marah sih? Kan Mas cuman nanya gitu doang tadi."


"Nanya tapi kan maknanya bisa beda-beda lho."


"Halah... yasudah, Mas minta maaf nggak lagi-lagi deh."


Mas Arlan terdiam. Sepertinya ia kesal padaku. Lalu apa salahku? Bukannya yang kukatakan benar? Seharusnya Mas Arlan tidak perlu menanyakan lagi jika memang percaya.


Apalagi kami bukan anak remaja yang alay. Seharusnya ia paham itu.


Kutarik napasku dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. Melihat Mas Arlan yang masih diam, benar-benar membuat hatiku gusar. Mobil yang ia setir pun semakin melambat. Seolah menandakan bahwa ia sedang malas.


Kulirik wajah Mas Arlan yang terpasang dengan ekspresi datar. Mau sampai kapan ia diam seperti ini? Hari jadi kami baru terhitung beberapa hari dan sekarang kami saling kesal satu sama lain.


"Mas?" ujarku memangilnya.


"Hmm," jawab Mas Arlan.


"Tambah manis aja kalau manyun ya?"


"Biarin."


"Mas?"


"Hmm."


Cup!


Kudaratkan kecupanku pada pipinya. Tentunya dengan segala keberanian yang luar biasa. Ia tersontak kaget sampai menghentikan laju mobilnya dipinggir kiri dari jalan yang kami lalui.


Sedangkan aku menutup wajahku yang merah padam menggunakan ranselku. Panas sekali, aku malu sekali. Aku bahkan tidak berani menatap wajah Mas Arlan sama sekali.


Semua kulakukan demi hubungan kami. Aku hanya tidak ingin bertengkar itu saja. Sudah cukup banyak, sakit hati yang kuberikan padanya. Lagipula wajarkan jika aku berlaku seperti itu pada pacarku?


Mas Arlan belum juga melaju mobilnya kembali. Entah apa respon yang ia berikan padaku. Sampai akhirnya jariku terasa hangat tersentuk oleh jarinya. Mas Arlan membuka perlahan ransel yang menutupi wajahku.


Dan aku masih terpejam, sama sekali tak bergeming. Entah apa yang akan dilakukan Mas Arlan, aku hanya merasa hembusan napasnya semakin dekat dan dekat lagi padaku. Intinya, aku gemetaran hebat saat ini.


"STOOPP!!!" Ujarku dengan sedikit keras sembari membuka mataku lebar-lebar. Sampai membuat Mas Arlan tersontak kaget.


"Ma-maaf Dek," jawabnya tergagap dengan rona merah yang sama sepertiku.


"Ha-ha-ha... a-nu la-lanjut ja-lan lagi Mas."


"Iya ya haha... keburu sore ya? Ya kan ya? Hahaha"


"Iya iya hehe."


Oh Tuhan! Kami hampir khilaf. Duhh... jantungku tak beraturan lagi. Aku bisa mati jika hal tersebut berlanjut.


Aku dan Mas Arlan salah tingkah. Kupalingkan wajahku kearah jendela yang menembus luar. Beruntungnya tempat ini tak terlalu ramai, kaca mobil Mas Arlan pun tak tembus pandang dari luar. Mati jika, ada orang melihat.


"Pffttt... hahaha," Mas Arlan yang tiba-tiba terkekeh. Sampai membuatku terheran-heran padanya.


"Apa???" tanyaku tegas.


"Hahaha... duh kita lucu ya?"


"Kok bisa?"


"Kayak anak baru gede aja."


"Yaudah nggak usah dibahas deh Mas, malu-maluin."


"Tapi muka kamu merah banget lho Dek haha."


"Dihh... ngatain lagi, sendirinya juga gitu kok."


"Masa' sih?"


"Iya sama aja."


"Tapi boleh dong dikecup lagi sayang."


"Nggak mau!"


"Tadi mau?"


"Kan tadi, lagian Mas Arlan pake ngambek segala sih."


"Abis kamu gitu sih, yaudah gini aja ya kalau nggak mau ngomong cinta berarti diganti kecupan."


"Nggak mau nggak setuju. Titik!"


"Ayolah Dek."


"Entar hampir khilaf lagi."


"Nggak kok janji."


"No!"


Mas Arlan terus merengek seperti bocah kecil. Untung saja ia tak membawa Selli. Aku tidak bisa membayangkan jika gadis kecil tersebut ada disini.


Bersambung...

__ADS_1


Budayakan tradisi like+komen yaaa...


Gimana? Pendapatnya?


__ADS_2