
Ikhlas, itulah kata yang patut aku berikan untuk keputusan mulia dari Mas Arlan dan Riska. Pada saat kami sedang berkunjung disebuah rumah sakit ternama di kota ini. Rumah sakit yang juga menjadi tempat untuk diriku memeriksakan kandunganku. Dimana Dokter Wisnu ditugaskan. Tempat yang sama, dimana Nyonya Dahlia sedang dirawat secara intensif.
Tubuh itu terbaring lemah di atas ranjang medis milik rumah sakit ini. Jarum infuse terpasang di lengan tangan sebelah kiri. Tubuh sang Nyonya terlihat lebih kurus daripada sebelumnya. Rasa simpatiku muncul seketika saat memastikannya dari kaca yang terpasang di pintu ruang rawat beliau. Ajeng dan Diandra didalam, merangkul sang ibunda dengan isak tangisan. Hatiku merasa pilu dibuatnya, malang sekali nasib si kembar. Ibunda sakit, sedangkan sang ayah didalam penjara.
Kanker stadium tiga sudah teramat terlambat untuk disembuhkan, dan penyakit itu datang sangat tiba-tiba. Maksudku, bagi kami semua yang mendengar. Penyakit yang diderita Nyonya Dahlia sungguh luar biasa menakutkan. Bukan maksudku mendo'akan hal yang buruk kepada beliau, namun sejauh ini si penderita tidak berhasil sembuh karena momok mematikan itu. Nikotin r*kok adalah penyebabnya. Bagaimana mungkin seseorang yang se-elegan beliau bisa kecanduan? Apakah karena banyak pikiran? Namun, untuk apa?
Kehidupan Nyonya Dahlia sudah terbilang mewah, kaya dan tidak pernah kekurangan. Mungkin banyak sekali perhiasan dan barang-barang branded yang beliau miliki. Namun, ketidakpuasan yang kerap kali mampu menggerogoti hidup sang manusianya. Apakah karena cinta? Rindu kepada suami yang sedang mendekam di penjara?
Aku tidak bisa menyalahkan akan perasaan cinta yang menggebu seperti itu. Karena diriku juga tidak mungkin sanggup jika dipisahkan dengan Mas Arlan, walau barang sekali saja. Dan hal semacam itu tengah dialami oleh beliau, ya, Nyonya Dahlia. Tampaknya rasa cinta terhadap Mas Dian sangat besar. Bisa jadi, kelicikan beliau pada saat merebut sang pria dari wanita pertama bukan karena harta, melainkan cinta yang buta. Hal itu menyebabkan beliau benar-benar tidak bisa menguasai diri.
Itulah mengapa ada kalimat yang mengatakan--jangan terlalu berlebihan dalam mencintai hamba Tuhan. Meski, akupun belum tahu, apakah aku bisa menuruti kalimat itu atau tidak. Bahkan, sampai saat ini aku selalu mengagumi Mas Arlan. Aku tidak bisa membayangkan jika hidupku tanpa dirinya.
"Mas, apa yang akan terjadi jika kita seperti ini?" tanyaku untuk memastikan respon apa yang suamiku itu berikan.
Mas Arlan menggelengkan kepala. "Mungkin, Mas bisa sama kayak Mbak Dahlia, Dek. Mas nggak bisa hidup tanpa kamu," jawabnya tanpa sedikit pun rasa ragu.
Kini aku mulai paham. Paham tentang keputusan yang dibuat oleh Mas Arlan, karena ia juga tidak bisa berpisah dengan diriku. Hal itu yang membuat dirinya mantap untuk mencabut laporan pencemaran nama baik, sekiranya bisa sedikit membantu. Namun, untuk kasus penggelapan dana sepertinya akan sulit. Sudah banyak bukti yang diterima oleh pihak penyelidik. Tidak ada celah bagi Mas Dian untuk terbebas sebelum masa tahanan usai.
"Mas."
"Iya, Sayang."
"Emangnya Mas Dian bisa bebas?"
Mas Arlan bergeleng lagi. "Soal penggelapan sana yang nggak bisa, Dek. Hal itu udah sulit, apalagi kalau penyidik udah memiliki banyak bukti. Emm ... Mas yang kasih semua bukti sih. Para pemegang saham juga nggak mungkin setuju tentang hal itu."
"Lalu, kenapa kamu mencabut laporan kamu mengenai kasus lain?"
"Ya, seenggaknya bisa mengurangi masa tahanan Mas Dian, Dek."
"Emang nggak bisa ditangguhin, Mas? Yang kasus penggelapan dana itu?"
"Nggak bisa, Sayang. Waktu Mama meninggal itu, karna sidangnya belum selesai. Tapi, untuk sekarang udah nggak bisa. Udah, duduk dulu kamu."
Aku manggut-manggut saja. Lantas, kuhampiri kursi yang disediakan di rumah sakit ini bagi pengunjung yang datang. Terlalu banyak yang tidak aku mengerti soal hukum. Aku hanya tahu masa tahanan Mas Dian berkisar tiga tahun lamanya, termasuk kasus pencemaran nama baik tersebut. Jika dikurangi masa tahanan kasus pencemaran nama baik, aku rasa tinggal satu tahun lebih enam bulan. Ah! Aku tidak mengerti sama sekali. Selama ini Mas Arlan dan beberapa orang yang mengurus dan mengikuti persidangan.
Mas Arlan duduk disampingku. Sampai saat ini, ia belum ingin masuk ke dalam ruang rawat Nyonya Dahlia. Entah, aku rasa ia masih sedikit enggan. Apalagi, sosok Nyonya Dahlia yang begitu tempramental. Rasanya, akan menakutkan jika beliau emosi dalam keadaan sakit seperti ini. Kedua anak beliau pun belum kunjung keluar untuk sekedar menyapa kami. Apakah mereka dendam kepada kami? Terlebih, Mas Arlan yang memasukkan Mas Dian ke dalam jeruji besi. Aku tidak tahu.
Kugenggam tangan Mas Arlan yang masih terdiam bimbang. Lantas, ia menatapku bersama senyumannya. Mungkin jika kami di rumah, ia sudah menyenderkan kepalanya di bahuku, atau bahkan merebah dengan bantalan pangkuanku. Karena ini di tempat umum, kami harus bersikap lebih sopan dan patut untuk merasa malu.
"Dek," panggil Mas Arlan. "Makasih ya? Kamu selalu temani Mas kemana-mana."
Aku tersenyum tipis. Kuanggukkan kepalaku pelan sembari memberikan jawaban, "aku istri kamu, Mas. Selagi bisa, aku pasti akan melakukannya. Lagian, hari ini berbarengan dengan jadwal periksa kandungan kok. Jadi, nggak apa-apa."
__ADS_1
"Tapi Mas tetep khawatir. Terlalu banyak masalah yang Mas hadapi, kamu pasti akan terkena imbasnya. Kadang Mas ngerasa nggak enak sama kamu, sampai saat ini Mas selalu ngasih beban buat kamu."
"Apaan sih? Nggaklah, lagian aku cuma diem aja kok. Nggak pernah ikut bantuin kamu, selama ini kamu yang selesaiin semuanya. Justru aku yang malu, karna nggak pernah bisa bantuin kamu, Mas."
"Kamu mah dari dulu kayak gitu, Dek. Selalu merendah. Tapi bagi orang lain, kamu itu sangat bermakna."
"Oh ya? Emm ... alhamdulillah kalau gitu, Mas."
Entah makna yang bagaimana, suatu kebanggaan tersendiri bagiku. Entah hanya gombalan semata atau memang benar adanya, hal ini membuatku mampu tersenyum diam-diam. Jika diriku cukup bermakna bagi orang lain, apalagi Mas Arlan yang selalu memberikan kebaikan. Aku tidak tahu lagi harus menggambarkan sosok suamiku ini dengan cara apa. Ia berhati mulia, ikhlas dan juga bijak. Dendam di hatinya bisa berangsur pergi atas nama ketidaktegaan. Ia mencabut laporan atas pencemaran nama baiknya supaya mengurangi masa tahanan dari sang kakak kedua.
Dan disisi lain, Mas Arlan adalah sosok suami dan ayah yang sangat penyayang serta bertanggung jawab. Seseorang yang pintar dalam menempatkan diri ketika berada didalam lingkup keluarga kecilnya. Seseorang yang rela bersikap konyol untuk membuat diriku dan anak kami bisa tertawa. Lalu, seorang pemimpin yang begitu tegas. Meski aku tahu, Mas Arlan bukanlah orang yang sempurna. Kami kerap kali bertengkar karena hal sepele, beberapa pemikirannya pun terkadang tidak sama denganku. Namun bagaimanapun dirinya, aku selalu mengagumi sisi baiknya.
Ah, jika berbicara tentang suamiku pasti tidak ada habisnya untuk memuji. Yang ada malah semakin banyak rasa kagum yang pantas untuk ia terima, hal itu bisa saja membuat orang lain iri hati kepadaku. Jadi, lupakan terlebih dahulu tentang ini. Fokus kami ada di tempat ini, tempat dimana saudara kami sedang dirawat karena penyakit menakutkan.
"Om, Tante, Mama mau bicara." Wajah datar dan terkesan tidak suka ditunjukkan oleh Diandra bersama ucapannya kepada kami.
Mas Arlan sontak berdiri. Ia melangkah untuk menghampiri si kembar--Ajeng dan Diandra. Paras keduanya memang tidak sama, namun mereka lahir secara bersamaan dari rahim Nyonya Dahlia. Lalu, sesampainya dihadapan mereka berdua, Mas Arlan membelai halus kepala mereka. Namun, suatu respon tidak baik ia dapatkan. Secara bersamaan pula, kedua tangan Mas Arlan ditepis oleh keduanya.
"Jangan sentuh kami!" tegas Ajeng tidak terima. Hal itu membuatku tidak menyangka, aku berdiri dari dudukku dan berjalan ke tempat mereka berada.
Mas Arlan sedikit lebih mundur. Aku menghampirinya, kemudian aku merangkul satu lengannya. "Bersikaplah lebih sopan kalian," ujarku menimpali.
"Apa maksud Tante Fanni? Sopan? Hah! Kalian berdua yang menghancurkan keluargaku!" Itulah jawaban yang diberikan oleh Ajeng kepadaku. Meski Diandra menahannya, ia tetap bersikeras dalam menunjukkan kebenciannya kepadaku dan Mas Arlan.
Urat hijau muncul di wajah Mas Arlan. Ia menekan giginya dari dalam mulutnya. Bahkan, ia mengepalkan telapak tangannya untuk menahan amarah yang ada. Tak lama setelah itu, Mas Arlan menghela napas dalam. "Baiklah, kami masuk. Kalian istirahat, jangan lupa makan."
Ajeng yang sepertinya lebih pemarah daripada Diandra, kini tengah mengecap kesal melalui bibirnya. Kedua anak itu mundur dan membiarkan kami masuk ke dalam ruang rawat Nyonya Dahlia. Begini saja, jantungku sudah sangat berdebar. Pertengkaranku dan Nyonya Dahlia kala itu masih sangat membekas didalam ingatanku. Apakah pertemuan kami kali ini tetap akan baik-baik saja? Aku tidak tahu.
Sama seperti saat aku mengintip melalui kaca transparan yang terpasang di pintu ruang ini dibeberapa saat yang lalu, tubuh Nyonya Dahlia jauh lebih kurus daripada sebelumnya. Air obat di infuse menetes pelan-pelan melalui selang kecil kemudian diserap oleh tubuh beliau. Wajah beliau terlihat pucat pasi bak manusia yang sudah menyerah akan hidupnya, mata terpejam dan lemah sekali. Melihat beliau seperti ini, hatiku bagai teriris sakit. Bahkan, aku sampai menitikkan air mata.
"Kalian, apa kabar ...?" Itulah kalimat pertanyaan pertama yang muncul dari bibir beliau. Pelan sekali, bahkan nyaris tidak terdengar oleh kami.
Mas Arlan berjalan lebih maju. Ia mendekati tubuh lunglai sang kakak ipar kedua. "Baik, Mbak. Kami turut prihatin atas apa yang menimpa Mbak Dahlia," jawab Mas Arlan.
Perlahan, Nyonya Dahlia tengah membuka mata kembali. Namun tatapan beliau sangat enggan untuk memandang kami. Beliau menatap langit-langit ruangan ini. Ada setetes air mata di wajah beliau yang mengalir dari mata. "Aku terlalu malu untuk menyapa."
"Kami pun terlalu malu untuk tidak peduli, Mbak."
"Kamu pasti senang, Arlan. Satu persatu orang yang menjatuhkan dirimu, kini saling tumbang."
"Saya tidak pernah berpikiran seperti itu, Mbak."
"Yah, kamu memang orang yang baik. Kami yang terlalu jahat."
__ADS_1
Hanya perbincangan seperti itu saja sudah membuatku terisak. Apalah diriku yang cengeng ini? Tidak pernah kuat dalam menahan air mata, baik terharu maupun sedih. Meski belum ada kata maaf yang terlontar dari bibir Nyonya Dahlia, aku tahu bahwa beliau sudah sangat menyesal dan pasrah. Tidak ada sandiwara lagi. Sangat berbeda dengan respon Diandra dan Ajeng yang masih menumpahkan kekesalan terhadap Mas Arlan. Kedua anak itu masih remaja dan belum bisa berpikir dewasa, aku bisa mengerti.
Mas Arlan memberikan satu kursi yang berada di ruang ini kepadaku. Mungkin ia tidak mau jika aku terlalu lama dalam berdiri. Aku menerimanya dan duduk di samping bawah dari ranjang Nyonya Dahlia. Sedangkan Mas Arlan memilih berdiri sembari menatap Nyonya Dahlia. "Kenapa Mbak tidak bilang apapun sebelum separah sekarang?" tanyanya.
Nyonya Dahlia menghela napas. "Aku tidak tahu, banyak keluhan yang tidak aku anggap serius," jawab beliau.
"Apa ini karna saya? Karna saya telah memasukkan Mas Dian ke sana?"
"Awalnya aku pikir juga seperti itu. Namun, Tuhan tidak pernah tidur 'kan, Arlan? Tuhan menghukum satu persatu hamba yang tidak baik. Termasuk aku dan Dian. Aku malu, sangat malu. Kini hanya berbaring seperti ini dan menyudahi segala niat busuk yang sempat kurencanakan."
"Saya yakin Mbak Dahlia bisa sembuh dan berkumpul lagi dengan keluarga. Saya sudah mencabut laporan kasus pencemaran nama baik, tidak akan lama lagi Mas Dian bisa keluar. Mbak Dahlia bisa menunggu beliau, 'kan?"
Nyonya Dahlia memejamkan mata dalam sejenak waktu. Buliran air mata kembali mengalir tanpa diusap sama sekali. Hal itu membuat hatiku semakin teriris.
"Sudah banyak dosa yang aku perbuat, Arlan. Bahkan, menghancurkan hubungan Dian dan Leny dimasa lalu. Padahal aku tahu bahwa Leny sudah memberikan segalanya kepada Dian, bahkan sampai mengandung putra mereka. Aku terlalu mencintai Dian, sampai berbuat demikian. Rasanya kini semua yang terjadi berbalik padaku."
"...."
"Semua yang terjadi pada Leny dan putranya, kini berbalik menyerangku. Aku dan kedua putriku dipisahkan dari Dian. Seperti ini rasanya, sakit!"
Diantara aku dan Mas Arlan tidak ada kata untuk menjawab lagi. Hukum karma tampaknya masih berlaku. Meskipun Nyonya Dahlia adalah istri pertama, namun beliau bukan wanita pertama. Entah apa yang beliau lakukan dimasa lalu sampai membuat Mas Dian bertekuk lutut kepada beliau. Aku rasa, bukan hal yang baik dan bahkan menyebabkan penderitaan bagi Ibu Leny dan William.
Jika itu benar, mengapa ada saja orang sejahat itu? Apakah mereka tidak memikirkan akibat dari keburukan itu yang akan terjadi dimasa depan? Setelah semua hukuman telah berjalan, mereka baru menyadari dan menyesalkan segalanya. Mungkin masih bisa diperbaiki ketika sang manusia masih hidup. Namun, apakah orang lain yang tersakiti bisa memaafkan dan menerima perdamaian? Aku rasa, itulah hal yang paling sulit. Ikhlas hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang bisa bersikap bijak.
"Arlan? Jika nanti aku benar-benar mati, apakah kamu bisa membantuku?" Pertanyaan yang membawa kata mati, cukup membuat bulu kudukku berdiri. Bahkan, Mas Arlan dibuat terkesiap atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Nyonya Dahlia itu.
"A-apa maksud, Mbak? Mbak Dahlia bisa sembuh sampai Mas Dian keluar, kalian bisa bersatu lagi bersama Diandra dan Ajeng."
Nyonya Dahlia tersenyum sekilas. "Penyakitku sudah parah, Arlan. Hanya satu dari seratus orang yang bisa sembuh dari penyakit menakutkan ini. Aku tidak yakin umurku bisa panjang. Hanya padamu aku bisa meminta tolong sekaligus meminta maaf."
"Tidak ada yang tidak mungkin jika terus ada semangat untuk tetap sembuh, Mbak."
"Aku harap juga seperti itu. Aku berharap bisa melihat anak kalian sampai lahir nantinya. Pasti anak kalian akan lucu sekali ditambah paras blasteran dari Nona Fanni. Namun ... aku tidak yakin hidupku bisa sampai disaat itu."
"Mbak ...."
"Arlan tolong dengarkan aku. Aku ingin minta tolong agar kamu bisa memaafkan diriku dan Dian. Jangan ada dendam, berikan kesempatan pada Dian supaya hidup lebih baik setelah keluar dari penjara. Dan ... satukan Dian dengan Leny beserta putra mereka selepas aku pergi dan dia kembali."
"Mbak? Ah ... baiklah, aku akan berusaha memenuhinya. Mbak sendiri harus kuat sampai bisa sembuh."
"Terima kasih, Arlan."
Senyuman itu, mengapa terasa menyakitkan ketika dipandang? Tidak ada yang tahu tentang usia manusia kecuali Tuhan yang maha pencipta. Mendengar permintaan dari Nyonya Dahlia, tampaknya beliau sudah pasrah tentang kesembuhan atau kematian. Permintaan mulia dari sebuah penyesalan. Disaat seperti ini, aku berharap beliau bisa sembuh. Setidaknya, beliau bisa berdamai dan hidup lebih baik lagi setelah semua yang menimpa. Meski bagi pasien penderita kanker ini akan terasa sulit untuk bertahan dalam jangka lama.
__ADS_1
Bersambung ...