
Akhirnya tiba waktunya untuk pertemuan itu. Pagi ini, aku sudah membantu merapikan pakaian suamiku. Bukan ingin mengabaikan Selli, namun Mas Arlan memintaku untuk tidak terlalu lelah terlebih dahulu. Oleh karena itu, aku memberikan Selli kepada Bi Onah terlebih dahulu. Meski sebenarnya, aku sangat merasa bersalah. Namun, suamiku sepertinya ingin memanjakan diriku.
"Sayang, kamu beneran mau ikut?"
Aku mengangguk pelan sembari menjawabnya, "ya, Mas. Aku udah bilang sama Celvin kok."
"Hmm ... sebenarnya nggak perlu lho, Sayang. Kamu juga harus pikirin kandungan kamu."
"Nggak, aku pengen ikut. Anggep aja ini lagi ngidam."
"Aneh-aneh aja kamu, Dek. Masa' ngidamnya soal kayak gitu."
"Kan, calon anak kamu adalah orang pinter, Mas."
"Amiiiiiiin."
Aku tersenyum tipis menyambut ucapan Mas Arlan. Yah, sebenarnya memang cukup aneh. Tapi, jika aku tidak ikut, cerita ini tidak akan berjalan, bukan? Aku sangat penasaran, bahkan lebih dari batas rasa penasaranku. Lagipula aku masih menjadi sekretaris pribadi dari Celvin. Ia masih punya hak untuk tahu dan aku mesti mendampinginya. Meski dibalik itu semua, sebenarnya aku ingin membayar rasa penasaranku sekaligus mendukung suamiku.
Selanjutnya, kami melakukan rutinitas seperti biasa. Sampai tuntas, lalu berangkat. Mas Arlan akan mengantarkan diriku ke kantor Sanjaya terlebih dahulu, lantaran aku harus datang bersama Celvin.
****
Semua orang yang terlibat sudah hadir di gedung pertemuan ini. Diantaranya Pak Ruddy, Mas Gunawan dan Mas Dian beserta beberapa bawahannya. Mas Arlan pun sudah duduk nyaman di atas kursinya sembari menatapku yang berjalan memasuki ruangan ini bersama Celvin. Aku membalas senyumannya diam-diam.
Ketegangan pastinya menjadi peran utama didalam pertemuan ini. Bahkan mereka saling melemparkan tatapan tajam bagaikan hunusan pisau belati. Sampai-sampai aku menelan ludah seketika. Jiwaku seperti sedang digoyahkan. Bagaimana tidak? Aku sama sekali tidak penting. Hanya karena rasa penasaran, aku sampai masuk ke dalam situasi semacam ini. Aku terlalu terburu-buru dalam meminta sesuatu. Apa ini salah satu dari efek hamilku?
Aku berharap bayiku baik-baik saja dan jiwanya tidak terguncang seperti ibunya.
"Fanni, duduk saja." Celvin menarikkan satu kursi untukku. Aku pun mengangguk dan tersenyum sebagai tanda terima kasih.
Tatanan ruangan ini seperti sebuah ruang rapat dalam perusahaan. Mewah dengan gaya yang elegan dan simpel dengan warna orange yang mendominasi. Aku tertegun sebentar, kemudian menunduk memandangi papan meja dihadapanku. Aku rasa, pihak Harsono sedang bertanya-tanya, untuk apa seorang Fanni disini?
Oke, lupain aja. Gue harus fokus!
"Jadi, untuk apa kalian membuat pertemuan seperti ini?" Suara Mas Gunawan terdengar parau namun cukup dingin. Aku rasa, dendam kesumat didalam hati beliau belum kunjung memudar begitu saja. Terlebih saat Riska tidak kunjung pulang.
Kulirik sekilas keadaan. Tampak Pak Ruddy melukiskan senyuman di wajah beliau yang sudah menua. Lantas, beliau mulai bersuara, "saya ingin mengajak kerja sama, Pak Gunawan. Anda pasti tahu perusahaan kita sudah cukup lama saling bersaing secara tidak sehat."
Deg!
Mas Gunawan menyeringai dingin sembari menatap Pak Ruddy. Aku berdebar dibuatnya, sampai aku menunduk kembali dan menangkap genggaman telapak tangan Celvin yang mencengkeram saku blazernya. Celvin tengah gemetar dan tegang tentunya. "Jangan cemas, Vin ....," bisikku kepadanya.
"Aku berharap, ini berjalan lancar ...." Celvin menjawabku. Namun kecemasan tidak menghilang dari dirinya. Aku tahu, pertemuan ini bagaikan sidang tentang vonis kematian bagi dirinya. Bukan raga yang mati, melainkan hati.
"Kerja sama?! Kalian ingin menghancurkan kami perlahan-lahan, begitu?!" Mas Gunawan tampak tidak terima dengan saran dari Pak Ruddy. Beliau bahkan membuang seringainya dan malah menegaskan sesuatu yang menurutku sangat konyol.
Jika orang yang mengatakan hal itu adalah orang biasa sepertiku, mungkin aku bisa memakluminya. Namun Mas Gunawan? Beliau dari keluarga terpandang nan kaya. Latar belakang pendidikan pun tidak perlu diragukan lagi. Namun, pemikirannya sama saja seperti emak-emak, termasuk ibuku. Ah ... ternyata usia tidak menentukan kedewasaan seseorang.
Mas Arlan tahan emosi kamu ya, Sayang. Aku dan si Dede mencemaskanmu disini.
Selanjutnya Pak Ruddy tampak meminta sesuatu kepada Celvin. Lalu, Celvin memintaku. Ia meminta sebuah berkas yang sempat aku bawa datang kemari. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menyerahkannya. Entah apa isinya, karena berkas itu disusun oleh Celvin sendiri. Tugasku hanya membawakannya selama tidak memberatkan kondisiku yang tengah hamil.
__ADS_1
Setelah mendapatkan barang itu, Pak Ruddy mengalihkannya kepada orang kepercayaan beliau. Setelahnya diberikan kepada Mas Gunawan. Sebelum membukanya, beliau memandangi kami dengan penuh curiga. Dan kemudian membaca. Sebenarnya apa yang tertulis didalamnya?
Brak! Tiba-tiba Mas Gunawan menggebrak meja dihadapan beliau. Raut wajah beliau sangat merah, mungkin lebih merah dari udang rebus. Membuatku dan Celvin semakin cemas dan tentunya tegang. Apa isinya? Aku tidak tahu. "Kalian mengancam kami?!" tanya beliau tegas.
Namun Pak Ruddy malah tersenyum dan tenang. "Tidak, Pak. Tapi ini adalah salah satu strategi pemasaran, bukan? Ada kalanya sang lawan menjatuhkan para pesaing, bahkan sampai nilai saham mereka turun," jawab beliau penuh wibawa.
"Tenang, Mas. Aku bisa atasi," ujar Mas Dian sembari menenangkan Mas Gunawan. Namun tatapan mata beliau sangat menyeramkan, terutama kepada Mas Arlan.
"Kenapa kamu tidak bilang padaku, Dian?!"
"I-itu ...."
Aku tahu, ya, aku mengerti. Manipulatif? Manipulasi pasar. Mas Arlan dan Pak Ruddy telah melakukannya. Modal yang besar telah dikeluarkan untuk memanfaatkan media massa untuk menurunkan nilai saham Perusahaan milik keluarga Harsono. Sehingga muncul kepanikan sekarang. Tapi, mengapa kami tidak tahu? Maksudku aku dan Celvin.
Jangan-jangan, Pak Ruddy sengaja memposisikan Mas Arlan di perusahaan cabang untuk melakukan hal tak terduga ini? Cerdas sekali. Tentu saja, pihak Harsun terkejut bukan kepalang. Aku rasa mereka tengah kebingungan. Mungkin beberapa hari yang lalu, mereka sudah merasa kesulitan. Hanya saja tidak bisa menuduh Sanjaya secara sembarangan. Karena kantor pusat kami hanya sebagai kamuflase saja. Pada kenyataannya, sang penyerang adalah kubu dari bawah.
Disini aku tahu, bahwasanya suamiku bukanlah orang sembarang. Ia sangat hebat, wajar saja banyak kerabatnya yang merasa iri. Bahkan menjebaknya ke dalam kasus penggelapan itu.
"Apa mau kalian? Membuat kami bangkrut? Hancur? Bahkan kami telah kehilangan dua anggota keluarga karena kalian!" Mas Gunawan sudah tidak bisa menguasai amarah lagi. Beliau sampai berdiri lagi dari duduk. Tatapan kebencian masih tersirat di bola mata beliau. Aku dan Celvin hanya bisa tertegun. Mungkin otak kami belum sampai ditahap ini.
Kemudian kutilik Mas Arlan tengah berdiri. "Akhiri semuanya, Mas. Harsono telah kalah, tidak ada cara lain kecuali berdamai dan bekerja sama dengan kami," katanya.
"Lancang kamu, Arlan!" tegas Mas Dian menyuarakan amarahnya. "Dasar pengkhianat. Uang diembat, sekarang kamu menyerang keluargamu sendiri?! Anak macam apa kamu? Tidakkah kamu memikirkan tentang ibumu?!"
"Bagaimana bisa kalian mengatakan hal itu padaku? Bukankah kalian sendiri yang ingin aku pergi? Bahkan menjebakku ke dalam kasus penggelapan itu."
Mas Gunawan menyela. "Apa maksud kamu, Arlan?!"
"Apa Mas Dian belum bicara? Heh, aku bukan adik yang paling cupu lagi. Namaku sudah tercoreng setelah sekian lama. Ini saatnya aku membuktikan. Masuk Roni dan bawahanmu."
Aku terkejut. Bahkan sampai saling berpandangan dengan Celvin yang sama kagetnya. Berbeda dengan kami, Pak Ruddy hanya duduk diam dan tenang penuh kewibawaan. Sejak kapan Mas Roni ada disini? Untuk apa?
Mas Roni masuk ke dalam dan membawa dua orang yang tidak aku kenal. Sepertinya pihak bank dan satu orang lagi aku tidak tahu. Setelah itu, Mas Roni mulai menyalakan laptop dan layar presentasi. Dan muncul data-data pemasukan dana dari perusahaan Harsono yang masuk ke dalam suatu rekening. Kami semua tertegun. Bukan hanya dari satu tahun silam, beberapa bulan belakangan juga terpampang nyata disana.
Tampaknya semua sudah disusun dan disajikan sedemikian rupa. Setelah itu para saksi mulai mengeluarkan suaranya, mengatakan beberapa hal yang ia tahu. Ternyata salah satunya adalah sang pelaku. Iming-iming hidup enak tanpa bekerja menjadi dasarnya. Siapa yang ada dibalik semua ini? Kami masih menunggu pernyataan selanjutnya. Atau mungkin memang belum terkuak. Lantaran sang penerima rekening adalah nama yang tidak kami tahu.
"A-apa maksudnya ini?" tanya Mas Gunawan tidak menyangka.
"Jangan berkilah! Aku Arlan merasa terhina diperlakukan seperti ini oleh kakak-kakakku sendiri. Ternyata musuh adalah teman yang tersembunyi!" Mas Arlan menyanggah keterkejutan Mas Gunawan. Ia sampai berkaca-kaca. Rasanya aku ingin berlari dan memeluk dirinya. Namun itu tidak mungkin, bukan? Aku harus sabar dan tahan.
Sedangkan kakak ipar keduaku pun tampak tidak terima. "Jangan menuduh kami! Jelas-jelas tidak ada bukti bahwa kami melakukannya!" tegas beliau.
"Tidak! Anda terlibat, Pak Dian. Mohon maaf kalau saya pun berkhianat. Tapi ini salah, ini suatu kesalahan besar. Nama yang tertera di rekening itu adalah nama anak anda dari istri simpanan, bukan?" tanya Mas Roni. "Anak yang berada di Australia dalam kurun waktu 17 tahun ini. Sampai akhirnya anak itu berhak untuk mendapatkan hak waris anda."
Apa-apaan ini? Ini sesuatu yang gila dan teramat menjijikkan. Bisa-bisanya selama tujuh belas tahun menyembunyikan anak dan istri simpanan. Mas Dian?! Astaga! Keluarga macam apa mereka? Mas Arlan adalah orang yang paling waras. Jadi, demi memberikan biaya yang semakin besar membuat Mas Dian menghalalkan segala cara. Apa istri pertama dan anak-anaknya tahu akan kebusukan ayahnya itu?
Namun tampaknya Mas Gunawan tidak mengetahui akan hal ini. Beliau menepuk kepala sembari mengelus bagian depan badan beliau. Terduduk lesu sembari dibantu oleh sang asisten. Mungkin jika aku diposisi beliau, aku akan seketika pingsan atau bahkan jantungan. Jadi, semua manipulasi kebusukan didalam keluarga Harsono sudah terkuak. Mas Dian dalang dibalik semuanya. Namun ....
"Ja-jangan menuduhku sembarangan kamu, Roni! Tidak ada bukti bahwa itu adalah anakku! Siapa itu, aku tidak kenal. Jangan-jangan kalian yang malah menjebakku?!" ujar Mas Dian masih berkilah.
Mas Arlan maju. "Kami bukan penipu seperti anda, Bapak Dian yang terhormat. Anda bukan lagi seorang kakak yang bisa saya hormati. Kekuatan Sanjaya saat ini jauh lebih besar. Untuk memeriksa identitas dari anak anda yang bernama William Anderson itu adalah hal yang mudah. Apalagi dia pernah tinggak di negara ini, bukan?"
__ADS_1
Plak!
"Aaaaaaaaaaa!" Aku terpekik kencang pada saat telapak tangan Mas Dian mendarat di pipi Mas Arlan. Bahkan aku sempat ingin berlari menghampiri keduanya. Namun Celvin menahanku.
"Jangan ikut campur, Fanni. Ini masalah para orangtua. Ingat anak didalam kandunganmu," ujar Celvin.
"Orangtua? Mas Arlan masih muda, dia suamiku. Apaan sih kamu, Vin?!"
"Iya, iya. Maaf kecuali beliau kok."
"Yaudah lepasin tanganmu, Vin. Nanti suamiku cemburu."
"Heh? Masih sempat-sempatnya, Fanni."
Aku menghela napas dalam-dalam. Kemudian aku memilih duduk kembali, aku khawatir jika bersikap gegabah aku malah diusir keluar ruangan. Ternyata, ada sesuatu yang aku lewatkan. Sepertinya Mas Dian masih tidak terima. Memang benar, ia masih bisa berkilah. Karena sosok sang anak yang bernama "William Anderson" itu memang tidak ada. Bukti tentang ini belum komplit. Mas Dian masih memiliki celah untuk berkilah.
Ya, suasana semakin menegang luar biasa. Mas Gunawan hanya bisa pasrah melihat kedua adik beliau tengah bersitegang. Bahkan lengan Mas Dian sampai dicengkeram oleh sang asisten supaya tidak melakukan hal tidak terduga.
"Jangan menuduh, jangan menuduh! Aku tidak ada hubungannya dengan anak itu! Kamulah penyebab kekacauan keluarga kamu sendiri, Arlan! Kamu pengkhianat!" tegas Mas Dian lagi.
"Cukup, Dian! Kita sedang ditertawakan oleh musuh! Jangan kamu tambah lagi!" Mas Gunawan akhirnya kembali tidak tahan dengan suasana ini.
"Jangan percaya, Mas. Aku tidak melakukan itu. Toh, anak itu tidak ada orangnya. Tidak ada tes DNA yang menunjukkan bahwa dia anakku. Ingatlah, Mas. Bagaimana Arlan mengkhianati keluarga kita. Bahkan mempengaruhi Riska untuk mengikuti jejak buruknya itu, Mas."
"Tidak!" Seseorang menyanggah tegas pernyataan dari Mas Dian. Sontak kami semua menoleh ke arah sumber suara itu. Bagaimana bisa, Riska datang kemari? Ia berjalan dengan penuh kharisma menghampiri keberadaan kami semua. Tampilannya kembali elegan seperti dulu.
Namun ada satu hal yang membuat kami terkejut lagi. Seorang anak lelaki remaja bersamanya. Parasnya tampan dan aku rasa memiliki kemiripan dengan kakak ipar kedua. Astaga! Jangan-jangan anak itu adalah William Anderson?
Glup! Aku sampai menelan salivaku dengan ngilu. Riska kini berada dihadapan kami. "Aku bukan penulis, aku adalah hacker," ujarnya.
Buseeeeet! Apa lagi ini? Duh, Nak. Kamu bakal pinter deh nantinya. Tapi jangan kayak mereka ya, kayak bapak kamu aja.
"Riska? Apa maksud kamu? Setelah setahun kamu pergi dan sekarang datang dengan pengakuan itu? Apa-apaan ini?" tanya Mas Gunawan--sang ayah.
Riska mengangguk mantap. "Pa, Papa ingat aku sekolah dimana? Aku pintar dalam bidang apa? IQ-ku setinggi apa? Anak Papa yang telah rusak ini berhasil membuat hal yang mengejutkan. Meng-hack semua data perusahaan Harsun bahkan hal sekecil apapun yang bersangkutan dengan keluarga kita, itu cukup sulit. Tapi aku bisa, karna aku mantan pemimpinnya. Apalagi data milik Om Dian yang pengamanannya tidak seberapa."
"Jadi, apa mau kamu, Nak? Apa yang ingin kamu sampaikan?"
"Dalam persembunyianku. Aku akui aku pun berkhianat. Untuk apa? Untuk menyatukan kedua keluarga yang sudah diamanati untuk tetap bersatu sesuai perkataan Om Arlan dan Pak Ruddy."
Hening. Semua terdiam sembari mendengarkan penjelasan Riska lebih lanjut.
"Aku memang sempat terpuruk. Tapi, Om Arlan bukanlah orang yang bodoh. Beliau mengajakku bekerja sama dalam mencapai tujuan mulia itu. Diam-diam, bahkan hanya kami bertiga yang tahu termasuk Pak Ruddy."
"...."
"Aku pergi ke luar negeri. Makanya kalian tidak menemukan diriku. Untuk apa? Untuk mencari salah satu sepupuku."
"...."
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan gagal fokus sama kata "Mas" ya hehe.
Fanni ini hanya saksi ya, jadi tidak tahu banyak