Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Kata Mama


__ADS_3

Mobilku terhenti tepat dibagian sudut kanan dari halaman rumah kediamanku. Sudah waktunya aku memberikan kewajibanku sebagai seorang ibu, setelah itu baru makan siang untuk mengisi perutku. Sudah tidak sabar lagi untuk bertemu, maka aku segera turun dari mobil tanpa pikir panjang lagi. Tentu saja untuk melihat kedua putriku tercinta.


Setelah turun dari mobil, gerak kakiku melangkah begitu cepat. Bahkan aku hampir tersandung lantaran buru-buru. Yah, beginilah kerinduan seorang ibu kepada anaknya. Baru setengah hari tidak bertemu rasanya seperti sewindu. Aku memencet bel pintu yang tengah ditutup rapat, hanya tiga kali karena aku mendengar tapak kaki seseorang yang menghampiri daun pintu rumah ini. Sampai tidak lama kemudian, pintu itu dibukakan untuk diriku.


"Assalamu'alaikum, Ma," sapaku kepada beliau. Ya, tentu saja ibuku yang menjadi pengasuh Sella saat ini.


"Wa'alaikumssalam. Masih tidur sih anak kamu, dua-duanya. Kamu makan dulu aja, kalau nggak dhuhur dulu. Biasain cuci tangan sebelum pegang anak," jawab beliau dengan beberapa nasehat untuk diriku.


"Iya, Ma."


Aku segera masuk ke dalam rumah. Karena Sella masih tertidur, kuambil kesempatan ini untuk ibadah. Maka, aku hendak menuju mushola rumah ini. Langkahku masih sama saja, tergesa-gesa. Mengingat waktu istirahat yang tidak panjang, aku tidak bisa seperti Mas Arlan yang dulu gemar membolos. Disisi lain, aku juga khawatir putriku terbangun.


Sesampainya di tempat wudhu, aku segera bersuci. Kran telah aku buka, aliran airnya membasahi telapak tanganku. Kubaca do'a yang diperuntukkan, lalu melakukan tata caranya. Segar, itulah pertama kali rasa yang didera oleh wajahku. Semua kepenatan bak hilang dibawa air yang mengalir terbuang. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan wudhunya. Kemudian, aku masuk ke dalam mushola dan memulai ibadah siangku. Aku berharap bisa lebih khusyuk.


****


Selang beberapa menit kemudian, ibadahku selesai. Peralatannya kurapikan lagi. Setelah itu, aku keluar dari tempat ini. Langkahku mulai bergerak tergesa lagi. Samar, kudengar suara tangis bayi yang tidak lain adalah putri keduaku. Hal itu membuatku semakin mempercepat langkahku sehingga membentuk gerak lari. Kutapaki anak tangga satu persatu untuk sampai di kamar Selli dimana mereka berada. Ya, Selli, karena ibu tidak berkenan berada didalam kamarku dan Mas Arlan.


Kubuka pintu kamar Selli dan masuk ke dalam. Tampak ibuku tengah menggendong Sella dengan penuh rasa sayang. Hal itu membuatku terbayang tentang masa lalu kami yang pasti tidak aku ingat, namun sepertinya sikap ibuku terhadapku sama saat beliau merawat Sella. Waktu berjalan begitu cepat, bukan? Justru diriku yang kini telah menjadi seorang ibu.


"Ma, aku udah beres kok. Sini Fanni kasih minum dulu," ujarku sembari membentuk gerak tangan yang ingin mengambil alih tubuh kecil Sella.


"Hati-hati, Sayang. Mama ambilin makan siang buat kamu ya?" Sembari menjawabku, ibuku menyerahkan Sella kepadaku diiringi tawaran tentang makan siang.


Aku mengangguk pelan. "Iya, Ma. Kalau nggak ngerepotin mah."


"Nggaklah, Fanni."


Aku terkekeh pelan. Sedangkan beliau tengah berjalan untuk keluar dari kamar ini. Aku mengambil posisi duduk di tepian ranjang. Sembari memberikan--ASI, aku menatap Selli yang tengah tidur siang. Tidak heran karena ia baru saja pulang dari sekolah. Sama seperti sebelumnya, ia tidur dengan kelopak mata yang tidak terpejam sempuran. Cantik dan imutnya masih sama, meski disaat seperti ini aku baru menyadari bahwa Selli semakin tumbuh besar.


"Sabar ya, Nak. Kalian harus terlibat dalam urusan Mama dan Papa," gumamku. Mengingat aku dan Mas Arlan kini sudah tidak memiliki waktu banyak untuk bersama mereka. Hanya panggilan video yang terkadang menjadi obat kerinduan kami. Namun tidak bisa setiap hari. Ketika malam tiba, aku harus kerepotan mengurus Sella sendirian. Beruntung ada Bi Onah yang bisa menjaga Selli. Karena hal-hal itu, komunikasiku dengan Mas Arlan juga tidak banyak. Belum lagi, kalau aku sudah teramat lelah, maka paginya banyak panggilan darinya yang tidak terjawab.


Aku selalu berpikir positif dan mencoba bertahan atas rasa rindu dan lelah. Aku pun selalu berpikir bahwa ini baru awal kepergian Mas Arlan ke negara orang, mungkin jika sudah satu bulan, aku lebih bisa terbiasa. Namun, semua itu tidak mudah bagiku. Rasa rindu itu selalu menyesakkan perasaanku. Apa aku lemah? Mungkin bisa dikatakan seperti itu. Ketika hampir menangis, aku selalu membayangkan istri-istri lain yang nasibnya jauh lebih miris. Dan ketika membayangkan mereka yang kuat, aku bisa menghilangkan semua rasa gusar.


"Anak Mama yang cantik, udah kenyang bobo' lagi. Kamu pengertian banget, Nak," ujarku sembari membelai halus pipi Sella yang kemerahan. Senyumku merekah, melihat wajahnya semangatku menjadi bertambah. Aku harus kuat demi semuanya dan mendukung Mas Arlan meski dari kejauhan.


Sampai beberapa saat kemudian, pintu kembali dibuka. Ibuku masuk ke dalam kamar ini sembari datang menghampiriku. Sesampainya dihadapanku, beliau memberikan tatapan mataku kepadaku diiringi helaan napas yang teramat berat. "Mama tahu kamu pasti kesulitan, Fanni," ujar beliau sembari duduk disampingku.


"Enggak kok, Ma. Aku kan juga pernah kerja bareng Celvin. Emm ... mana makanannya?" tanyaku kembali dengan maksud untuk mengalihkan topik pembicaraan.


"Kenyangin dulu anak kamu. Makannya jangan disini, ada anak bayi."


"Iya, iya. Emm ... makasih ya, Ma. Mama udah mau bantuin Fanni."


"Mama kamu ini juga nenek dari anak-anak kamu. Jadi wajar aja kalau bantuin kamu. Kalau kalian niat pake jasa pengasuh, justru semakin memberatkan beban. Otomatis suami kamu nggak kerja dan butuh makan disana. Keperluan kalian bertambah karna hadirnya Sella, belum lagi upah buat pekerja rumah tangga kalian."


Ucapan ibuku seketika membuatku diam. Beberapa kali aku menelan saliva karena perasaan yang tidak nyaman. Aku tidak menyangkal semua ucapan beliau, karena memang benar adanya. Apalagi hidup di negara orang bukan perihal yang mudah, pengeluaran disana selama tiga bulan bukanlah pengeluaran yang sedikit. Belum lagi sewa hotelnya, keperluan Sella disini, sekolah Selli lalu upah Bi Onah dan Pak Edi.

__ADS_1


Tiga bulan disana, bukanlah waktu yang sebentar untuk keluarga yang tidak memiliki perekonomian tinggi. Aku tahu upah dari Pak Ruddy juga tidak sedikit, namun jika diperhitungkan dengan macam hal pasti akan habis karena aku bukan direktur dari pendiri perusahaan, melainkan dari Mas Arlan yang hanya ditunjuk dan dipercayakan. Nilai saham yang ia miliki pun cukup kecil, keuntungan pasti tidak terlalu banyak.


Aku sedikit berdeham kemudian memberikan jawaban, "mama jangan khawatir, Fanni baik-baik aja kok. Lagian Mas Arlan punya saham disana, terus ke Canberra pake uang beda. Ada tambahan dari uang sewa apartemen aku juga."


"Iya, Mama tahu. Mama juga nggak mau ikut campur soal keuangan kalian, Fanni. Mama tahu kalau Mama udah setuju tentang keberangkatan Arlan ke sana. Tapi, setelah dipikir-pikir, beban terberat justru kamu yang menanggungnya."


"Mama tenang aja pokoknya. Fanni ini strong, syukur-syukur kalau gegara ini Fanni jadi langsing."


"Halah! Jangan mikirin langsing lagi, makanmu aja banyak banget. Nanti malah stress lagi."


"Ya, namanya punya bayi, Ma. Banyak kan wajar aja."


"Ya udah iya. Bentar lagi puasa, kalau nggak kuat jangan dipaksain. Kamu juga harus kerja, bolak-balik. Inget riwayat sakit kamu."


"Iya, Mama cantik."


"Alah!"


Melihat respon ibuku yang sebal membuatku justru tertawa. Namun tawaku tidak bertahan lama, karena mengingat banyak hal yang sempat beliau katakan. Aku takut karena masalah ini, hati ibuku kembali tidak suka terhadap Mas Arlan. Padahal semua sudah dilalui sampai sejauh ini, Mas Arlan sudah berjuang keras demi mendapatkan hati ibuku. Aku hanya bisa berharap; semoga semua yang aku khawatirkan tidak akan terjadi.


Lalu, setelah Sella kembali tertidur, aku menyudahi memberikan minum untuknya. Perlahan-lahan, aku menaruhnya kembali ke dalam ranjang goyang khusus untuknya. Namun percayalah, ketika hendak diletakkan disana, suara tangisnya kembali pecah. Sella sudah seperti mengerti ketika akan aku tinggalkan. Demi anakku, maka aku rela melakukan apapun. Kutunda makan siangku dan kembali menimang Sella untuk sisa waktu yang ada.


"Kamu makan dulu, Fann. Sini Mama aja." Ibuku berdiri dari duduk dan meminta Sella dariku.


Namun aku menggeleng. Rasanya aku ingin lebih lama dalam menimang buah hatiku tercinta. "Nanti aja, Ma. Mama istirahat dulu," jawabku.


"Enggak, Ma. Nanti aja."


"Nanti kapan? Kamu juga harus balik kerja, kan?"


"Iya, Ma. Nanti kalau udah mepet aja, anak aku masih kangen aku ini."


Ibu menghela napas. "Ya udah, Mama ambilin ke sini aja. Tapi makannya hati-hati, jangan sampai kena ke Sella."


Tanpa adanya persetujuan dariku, ibuku kembali keluar dari kamar ini. Aku dibuat terdiam karenanya. Beliau mengkhawatirkan diriku, itu sudah pasti. Namun yang membuatku risau adalah hal-hal yang membuat beliau ikut kerepotan. Terlebih mengurus anak bayi bukanlah perkara mudah. Aku tahu, ibuku sudah memiliki pengalaman, namun usia beliau yang semakin tua seharusnya sudah beristirahat.


Aku menghela napas dalam-dalam. Kubuang semua pemikiran itu sembari menatap wajah Sella. Cantik dan imut, perlahan parasnya ke arah bule daripada lokal. Besar nanti, aku berharap; jangan sampai berbadan melar seperti diriku. Tak ingin melihat ia bernasib sama seperti ibunya. Semoga saja tidak, kedua putriku harus bahagia.


"Ini makan dulu. Sella-nya coba ditidurin lagi. Nanti kalau mewek, Mama yang urus. Waktunya hampir habis," ujar ibuku sembari meletakkan nampan berisi piring dan gelas air putih di atas meja belajar Selli.


Sembari mengangguk pelan, aku memberikan jawaban, "iya, Ma."


Dengan penuh kehati-hatian, aku menaruh tubuh Sella ke dalam ranjang goyangnya. Bibirku berbisik khas seorang ibu untuk anaknya. Dan yeah! Akhirnya berhasil dan putri keduaku itu tidak bangun. Aku bernapas lega. Setelah itu, aku menghampiri meja belajar Selli.


Kuambil nampan itu dan membawanya duduk lesehan di lantai kamar ini. Pertama, aku menyesap air putihnya demi mengurangi rasa dahaga dan kering di tenggorokanku. Setelah itu, aku mulai menyantap makanan yang disajikan didalam sebuah piring.


"Mama udah makan, kan?" tanyaku demi memastikan makan siang ibuku.

__ADS_1


"Udahlah, Mama mah enggak nyiksa diri kayak kamu. Pas Sella tidur langsung gas dapur cari makanan," jawab beliau dengan nada yang jutek.


"Ya syukur. Fanni cuma nanya kok."


"Hmm ... ini kenapa, dulu Mama nggak kasih izin sama kamu dan Arlan dulu. Apalagi pas tahu Arlan itu anaknya orang kaya. Masalah dari orang kaya itu banyak, Fann. Apalagi kalau masalah warisan, udah deh."


"Ih, enggak ah. Mama kebanyakan nonton sinetron kali. Orang ini baru pertama kali kok, Mas Arlan dimintain tolong sama kakak iparnya yang sakit."


"Halah! Kamu pikir, emak kamu ini bodoh apa? Kalau nggak ada masalah, ngapain Arlan malah kerja di perusahaan Sanjaya. Terus ada saham disana lagi, bukannya di keluarganya sendiri."


"I-itu karna ... karna Mas Arlan mau mandiri. Nggak ada masalah apapun!"


Ibuku membentuk bibir seakan tidak percaya dan aku rasa memang tidak percaya. Karena setelah itu, beliau berkata, "nggak ada masalah? Halah, omong kosong. Udah Arlan di Sanjaya, keponakan yang nyewa apartemen kamu, gimana? Bukan masalah juga?"


Pasti yang ibuku maksud adalah Riska. Beliau memang sudah tahu sejak dulu. Aku tidak mengira bahwa beliau akan sepintar ini dalam menebak sesuatu. Meski tidak tepat pada permasalahannya, yang pasti dugaan beliau selalu benar. Hal itu membuatku seketika bungkam. Beruntung, nafsu makanku sedang besar-besarnya, sehingga tidak mudah hilang. Semua kekhawatiranku dibeberapa saat yang lalu, sepertinya akan benar-benar terjadi. Entahlah!


Jika dipikirkan lagi, sejauh ini semua permasalahan memang datang dari pihak keluarga Mas Arlan. Namun aku tidak terlibat banyak, aku hanya duduk diam sembari menunggu hasil dari upaya yang dilakukan Mas Arlan. Dalam kesibukan dirinya pun, ia masih menyempatkan waktu untuk diriku dan Selli. Itu yang membuatku tidak pernah merasa merana menjalani biduk rumah tangga bersamanya. Namun hal itu justru akan berbeda dari pandangan ibuku.


Tak lama kemudian, ibuku terdengar menghela napas dalam. "Mama tu, sebenarnya nggak mau ikut campur, Sayang. Tapi, ... kalau terlalu banyak beban dari mereka, lama-lama Mama juga nggak tahan lagi. Mama khawatir sama kamu," ujar beliau.


Kuhentikan aktivitas bersantapku. Terdiam sejenak, lalu menatap beliau yang tengah duduk di tepian ranjang milik Selli. "Aku nggak apa-apa kok, Ma. Mungkin, ... untuk sekarang aku kelihatan kesulitan. Tapi percaya deh, Ma. Selama ini Mas Arlan selalu menyelesaikan setiap masalah dengan baik tanpa ngelibatin aku," jawabku.


"Oh, jadi bener banyak masalah?"


"Duh!" Aku menepuk jidatku seketika. "Iya ada, Ma. Mana mungkin nggak ada. Tapi beneran, aku nggak terlibat urusan mereka. Baru sekarang doang karna Mas Arlan harus pergi ke Canberra. Itu pun nggak lama kok."


"Hmm ... Mama tahu kamu lagi melindungi suamimu itu, kan?"


"Enggak, Ma. Serius, aku ngomong apa adanya."


"Awas aja kalau si Ar--"


Segera aku potong ucapan ibuku, "Ma, udah ya? Udah kelar aku makannya. Bentar lagi jam masuk. Aku taruh sini ya, Ma. Minta tolong bawain ke dapur hehe."


Aku meletakkan piringku yang masih berisi sedikit nasi ke atas nampan. Sebelum meletakkannya di atas meja, aku menyesap air putih terlebih dahulu. Sebenarnya agak kurang ajar ketika hal sepele saja, aku serahkan kepada ibuku. Namun, hal konyol ini akan membuat beliau diam dan tidak akan mengatakan perihal Mas Arlan lagi.


Kuambil blazer yang sempat aku lepas, lalu tas selempang beserta ponsel. Sebelum berangkat, aku mengecup pipi kedua putriku. Setelah itu, segera bergegas.


"Fanni berangkat lagi, Ma. Fanni titip mereka dulu. Nanti pulangnya, Fanni bawain oleh-oleh buat Mama." Sembari berpamitan, aku mengecup punggung telapak tangan ibuku.


"Halah! Nggak perlu, yang penting kamu hati-hati."


"Iya, Ma. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumssalam."


Bersambung ...

__ADS_1


Budayakan tradisi like+komen. ya. gratis!


__ADS_2