
Kunjungan keluargaku tiga hari yang lalu mampu menorehkan sejumlah bahagia di hatiku. Bahkan, banyak ilmu yang aku terima dari ibuku. Tentunya ilmu tentang kehamilan, bagaimana aku harus bergerak atau apa saja yang tidak boleh aku makan dan lain sebagainya. Tak lupa juga, ayahku memimpin do'a serta ucap syukur atas kehamilanku ini. Mungkin saat Kak Febi mengandung, do'a tersebut dilaksanakan. Hanya saja, kala itu aku tidak sempat hadir. Aku merasa sangat beruntung, dibalik semua yang terjadi padaku, ada keluarga yang terus menungguku.
Bahkan memberikan kesempatan pada Mas Arlan, bagaimana rasanya memiliki keluarga yang begitu hangat. Meski kami hanya orang biasa bukan konglomerat. Namun kebahagiaan kami melebihi harta para konglomerat.
Hari ini adalah hari Minggu. Hari dimana kebebasan para karyawan perkantoran ataupun yang lainnya. Hari yang selalu aku tunggu tatkala masih duduk di kursi putar di ruang kerjaku bersama Celvin. Ah ... rasanya sangat rindu. Bahkan sampai ingin menangis. Biasanya aku keluar masuk menemui para relasi, klien dan para petinggi. Maksudku mendampingi Celvin--sosok terpenting di perusahaan.
Bagaimana bisa, waktu berjalan secepat ini. Aku hamil, putriku--Selli semakin pintar dan lancar berbicara. Hidupku sungguh berharga. Jika dulu sering berkeluh disetiap waktu, kini aku berusaha bersyukur disetiap detiknya. Bagaimana tidak, kehadiran Mas Arlan dan Selli menorehkan bermacam-macam warna. Tidak stabil dalam kelesuan, namun lebih ke senang ataupun sedih dengan banyaknya hal yang datang menghampiriku. Meski begitu, aku masih berdiri tegak dengan santainya.
Kini aku definisikan bahwasanya kebahagiaan bukan hanya kesenangan saja. Melainkan kesedihan, masalah, pertengkaran kecil yang selalu berakhir baik. Bahkan disertai hikmah dibalik itu semua. Ah ... hampir setiap hari aku berkata seperti ini. Rasanya cukup aneh, namun begitulah yang terjadi.
Dan lagi-lagi, aku berada di balkon rumah ini. Balkon yang menghadap jalanan depan. Selepas membantu Bi Onah membereskan rumah, aku datang kemari. Menghirup udara segar dipagi hari. Burung berkicau sembari terbang tinggi. Tanaman masih segar dan asri karena embunnya belum sirna. Seandainya tempat ini adalah perdesaan, pasti jauh lebih asri suasananya. Hanya mungkin, karena aku tidak tahu pasti. Aku sejak kecil sudah berada di kota ini.
Oh iya, ngomong-ngomong Mas Arlan masih tertidur. Bukan dirinya saja, bahkan Selli juga. Anak dan ayah yang sangat kompak, bukan? Siapa yang gendut, namun siapa yang malah tidur seperti kerbau. Yang pasti keduanya sudah melaksanakan ibadah pagi. Aku hanya membiarkannya lantaran merasa iba. Apalagi pada Mas Arlan yang selalu bekerja keras. Tak apa, aku bisa menghabiskan pagi ini sendirian. Maksudku bersama calon anakku.
"Kamu nanti jangan malas seperti Papa ya, Nak," gumamku sembari membelai perutku. Tentu saja tidak ada jawaban. Justru kalau ada, aku pasti akan berlari tunggang langgang. Kemudian mataku kembali berfokus pada suasana jalan. Perumahan elite yang bersih, bahkan pedagang kaki lima tidak ada satu pun yang berkeliling. Temoat semacam ini memang sangat dijaga ketat oleh security. Yah, namanya kompleks orang kaya. Meski suamiku tidak terlalu kaya, ia masuk ke dalam jajaran orang terpandang sesuai identitas yang melekat pada dirinya.
Aku mengembuskan napas panjang, mencoba membuat tubuhku senyaman mungkin. Diriku masih harus melalui yang namanya morning sickness sampai menjelang empat bulan seperti kata ibuku. Waktu yang kurasa akan panjang.
"Dek, selamat pagi." Sapaan itu terdengar diiringi gerak tangan yang melingkar di pinggangku. Siapa lagi kalau bukan suamiku. Dari belakang, ia memeluk tubuhku. Memberikan belaian halus di perutku. Napasnya hangat merambat di telingaku, lantaran ia menjatuhkan kepalanya di bahuku.
"Ini udah siang, Mas," jawabku sembari menjatuhkan telapak tanganku di atas telapak tangannya. Ia terdengar sedang tertawa kecil. "Hari minggu adalah pagi hari yang panjang. Hari yang pantas untuk terlelap tidur."
"Nggak boleh gitu, Sayang. Olahraga kek, pagi-pagi kok masih mau tidur aja."
"Ah ... nantilah, Mas mau di rumah sepanjang hari. Lelah, Dek. Pengen dipeluk sama kamu sepanjang hari."
"Nggak bisa dong. Aku kan harus ngurusin hal lain."
"Ada Bi Onah. Ya, Dek? Kata Dokter boleh kok. Yang penting hati-hati."
"Apanya?"
"Itunya, Dek. Udah lama lho."
"Sabar dong, Mas. Aku kan lagi isi, aku takut ah."
"Ih, nggak apa-apa, Sayang. Kan kita udah dikasih tahu rambu-rambu yang perlu diperhatikan sama Dokter. Ayolah, Dek."
"Mas, sabar ya? Nanti aja ya?"
"Hmm ...."
"Ini anak kedua kamu dari aku lho. Terus anak pertama aku dari rahim aku. Ya?"
"Enggak apa-apa. Mas bakalan hati-hati kok."
Astaga! Aku harus bagaimana? Memang sih, diperbolehkan menurut Dokter, asal sesuai aturan dan kewajaran. Hanya saja, aku masih tidak berani. Disisi lain, aku merasa iba pada Mas Arlan yang terlalu lama menahan gejolak alamiah itu. Sedangkan tatapannya terus-terusan memancarkan permohonan.
Aku menghela napasku dalam-dalam, lalu mengebuskannya kembali. Kucoba menenangkan diri ini. Sudah menjadi kewajibanku pada suamiku. Baiklah, aku akan mencobanya. Lalu perlahan aku mengangguk. Tentu saja senyum sumringah itu tersirat di wajah Mas Arlan. Kami mengambil langkah menuju kamar.
****
Waktu bergulir, aku memastikan jam yang ternyata sudah pukul sembilan. Tampaknya aku kembali tertidur berkat ulah suami. Aku melengos menatap ke arah kiri--dimana suamiku tertidur. Kelegaan terpancar di wajahnya. Matanya masih terpejam, seperti biasa bibirnya sedikit menganga sampai rasanya ingin mengerjai dirinya. Namun tidak mungkin aku lakukan pada saat keadaan seperti ini.
Lalu, aku membelai halus wajahnya itu. Hidung mancung, mata sedikit sipit yang kini sedang terpejam, bibir manis seperti gula tebu dan semua itu sudah menjadi milikku. Ia seperti vampire yang tidak ada tuanya. Usianya empat puluh tiga tahun, namun seperti tiga puluh-an tahun. Warna hitam pekat rambutnya, tanpa uban putih yang tumbuh disana. Mas Arlan-ku tersayang, ia manusia apa bukan? Mengapa awet muda sekali? Seolah alam telah memberikan skin care secara otomatis di wajahnya.
"Euum ... udah bangun, Dek?" tanya Mas Arlan sembari menyentuh telapak tanganku yang berada di atas wajahnya. Perlahan ia membuka mata namun segera aku tutup kembali.
"Udah, tidur lagi aja, Mas. Mumpung libur," jawabku.
"Makasih ya, Sayang."
__ADS_1
"Buat apa, Mas?"
"Service-nya."
"Hmm ...."
"Bonusnya Mas ajak jalan-jalan, Dek. Mau kemana?"
"Stay at home, Mas. Aku pengen di rumah aja bareng kamu dan Selli."
"Kenapa gitu? Mas kan libur, Sayang."
"Kamu capek, Mas. Perlu istirahat. Lagipula, aku masih kerap mual. Takut enggak enak badan di jalan nanti."
"Ya udah, Sayang. Mas manut."
Betapa hatiku ingin berjalan-jalan seperti dulu. Ke taman, mall atau sekedar makan dan ngopi di kafe. Namun, kondisiku benar-benar tidak memungkinkah. Bisa saja aku berangkat, hanya saja aku takut melemah di tengah-tengah perjalanan. Yang ada, malah membuat kerepotan. Tak apa, asal ada Mas Arlan dan Selli di hari Minggu ini. Rasanya sudah lebih dari cukup.
Hingga beberapa saat kemudian, aku membangunkan diriku. Kukenakan kembali pakaianku dan turun dari ranjang ini. Tiba-tiba, Mas Arlan meraih lengan tanganku. Lantas, aku membatalkan rencanaku dan berbalik badan kembali demi memastikan maksud dari Mas Arlan.
"Kamu mau kemana, Dek?"
"Mau keluar, udah siang, Mas."
"Sini dulu ih."
"Enggak mau! Entar malah lanjut lagi."
"Enggak akan. Janji."
Aku tetap menggelengkan kepalaku. "Nggak etis, Sayang. Aku harus lihat Selli dulu."
Aku tersenyum diiringi juluran lidah menggodanya. Karena alasan Selli, Mas Arlan bersedia melepaskan jerat tangannya di lenganku. Kemudian, aku kembali melanjutkan rencanaku untuk keluar dari kamar ini. Kubuka perlahan pintu kamar dan melongok keadaan sekitar. Masih sepi, Bi Onah selalu di bawah, sedangkan Selli belum juga bersuara. Sepertinya ia masih tidur, namun tidak biasanya seperti ini.
Demi memastikan keadaannya, aku mengambil langkah menuju kamarnya. Aku berharap Selli sudah terbangun atau bahkan sudah meminta mandi pada Bi Onah. Sesampainya didepan pintu kamarnya, kucoba mengetuk daun pintunya.
"Selli? Udah bangun, Nak?" tanyaku.
"Udah, Ma," jawabnya dari dalam.
"Udah mandi?"
"Bentar lagi, Ma. Selli lagi cari baju ganti."
"Sama Mama apa Bibi Onah, Sayang?"
"Sama Bibi aja, Ma. Kasihan Dede' bayinya nanti."
"Anak pintar. Ya udah, nanti Mama tunggu di balkon ya, Nak."
"Siap, Mama."
Setelah mendapatkan jawaban itu, lantas aku berlalu pergi. Ya, sesuai penyataan terakhirku pada Selli, aku berencana kembali ke balkom rumah ini. Entahlah, rasanya memang cukup nyaman berada disana. Aku bisa memandang keadaan luar dengan bebas, bahkan udara segar masih bisa dihirup bebas.
Sesampainya di tempat itu, aku duduk di kursi yang tersedia. Kursi yang berdekatan dengan pagar balkon, sehingga pemandangan jalan terlihat jelas di mataku. Ternyata kicauan burung sudah tidak nampak lagi, mungkin karena hari sudah beranjak siang. Namun, karena sinar mentari belum mengarah ke tempat ini, jadi udara panas karenanya belum tersampaikan.
Deg! Apa itu? Mataku yang sedang menikmati suasana, malah menangkap sosok manusia. Entah laki-laki atau wanita. Ia bersama mobil berwarna silver. Ia menatap rumah ini dibalik jendela mobil yang terbuka. Namun mataku masih sanggup menangkapnya. Untuk wajah, tidam jelas lantaran tertutup sebuah kain. Oh ... apa ia sedang mengenakan masker? Lalu ia siapa? Apa hanya orang lewat yang kebetulan berhenti?
Sudahlah, aku rasa begitu. Demi menepis kerisauan hatiku, aku membuang rasa curigaku terhadap orang itu. Meski memang sangat mengganggu. Namun biarlah, selama tidak terjadi hal buruk apapun.
"Eh? Lho, lho? Ada satu lagi? Kok?" Aku tersentak pada saat satu orang berjalan menghampiri mobil silver itu. Satu orang lainnya. Siapa? Tampaknya sempat mendatangi gerbang rumah ini. Jangan-jangan Nia? Ah ... tidak mungkin! Ini hari minggu, mana berani Nia datang kemari.
__ADS_1
Akan tetapi ... tak lama kemudian, sosok yang sedari tadi mengawasi rumah ini perlahan mengarahkan pandangannya padaku. Pas, tepat! Ya, ia sedang menatapku. Kini kami saling bertatapan, meski dari kejauhan. Sampai membuatku menelan saliva. Dia siapa?
"Lho? Eh?" Aku bertanya-tanya, tepat saat ia mengacungkan jari tengah padaku. Apa-apaan itu? Aku yang bingung penuh tanda tanya, lantas bergerak cepat untuk berdiri. Kubalikkan badanku dan masuk ke dalam lagi.
"Mas! Mas Arlan! Mas!" Aku menyerukan nama suamiku sembari berjalan cepat demi memberitahukannya atas sikap orang itu.
"Kenapa, Dek? Mas disini." Mas Arlan yang sudah mendengar panggilanku kini sedang datang menghampiriku.
"Itu, Mas. Ada orang."
Mas Arlan mengernyitkan dahi lantaran heran. "Orang? Ya iyalah ada, Dek."
"Bukan, maksudku di luar gerbang."
"Lah, emang banyak, Sayang."
"Masalahnya, dua."
"Hmm ...."
"Dua orang, Mas. Salah satunya habis ngintip dari gerbang rumah kita. Satunya lagi ada didalem mobil terus ngasih jari tengah sama aku. Itu siapa, Mas? Seolah ngasih ancaman buat kita."
"Eh? Jangan-jangan?! Cari Selli. Mas ikuti dia."
Selli? Nia-kah? Ah ... aku harus cepat mencari Selli. Mas Arlan yang terkejut langsung melesat cepat menuruni tangga. Jantungku berdebar, langkahku tergopoh demi menuju kamar Selli.
Sesampainya di kamarnya, Selli tampak tidak ada disana. Aku panik seketika. Bibirku bergetar, sedang dalam kondisi ini aku perlu menjaga anak didalam kandunganku. Lalu, Selli dimana? Astaga! Apa lagi ini? Tapi, tadi orang itu tidak membawa anak kecil. Namun, mengapa Selli tidak ada di kamarnya?
Kedamaianku, kebahagiaanku seolah disirnakan seketika. Bibirku terus memanggil nama putriku. "Selli?! Dimana kamu, Nak?" Begitu.
Oh ... semoga tidak terjadi hal buruk apapun. Kemudian, aku bergegas menuruni tangga rumah ini. Untung hanya terdiri dari dua lantai. Tidak terlalu tinggi tentunya. Langkahku tetap tergopoh-gopoh demi mencapai lantai bawah dan dapur rumah ini.
"Selli?! Nak?! Bi Onah?! Kemana kalian?!" Seruanku masih terdengar nyaring mengiai segala penjuru rumah ini. Mas Arlan pun belum kunjung kembali.
Ya Allah, bantu hamba menjaga keluarga. Jangan ada lagi orang jahat yang mencoba merusaknya. Ya Allah, Selli dimana?
Tepat didepan belokan menuju dapur, aku mendengar gebyuran air dari kamar mandi. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera memastikannya. Langkahku tidak tergopoh lagi, melainkan lebih cepat. Sesampainya disana aku mengetuk pintu kamar mandi.
"Bi Onah?! Bi Onah?! Selli?!" panggilku.
Ceklek! Pintu kamar mandi sedang dibuka dari dalam. Tampak Bi Onah bersama Selli yang tubuhnya masih terbalut handuk. Aku terduduk seketika, napasku tersenggal sekaligus lega. Kuraih tubuh Selli dan memeluk erat dirinya. Bahkan aku sampai meneteskan air mata dan terisak dalam tangisanku. Aku benar-benar takut jika harus kehilangan Selli.
Bodohnya diri ini sampai termakan kepanikan. Bahkan aku sampai melupakan ucapan Selli yang hendak mandi bersama Bi Onah beberapa saat yang lalu. Ya, jika Mas Arlan tidak memintaku mencari Selli, mungki. aku tidak sepanik sekarang.
"Kenapa, Mbak?" tanya Bi Onah.
"Iya, Mama kenapa? Kok meluk Selli? Selli kan baru selesai mandi, Ma," sambung putriku itu.
Aku menarik pelukanku dan menatap wajah manisnya. "Enggap apa-apa, Sayang. Hehe, Selli janji ya? Jangan tinggalin Mama Fanni?"
Selli mengangguk pelan. "Iya, Selli janji, Ma."
"Emm ... Bi? Mulai hari ini, tolong bantu aku dalam menjaga Selli lebih waspada lagi. Ada orang aneh barusan didepan rumah kita. Nggak tahu ketangkep Mas Arlan apa enggak ...," bisikku pada Bi Onah.
Beruntung Bi Onah hanya mengangguk dan tidak banyak bertanya. Karena Selli sangat pintar, jika sampai mendengarnya, pasti ia penasaran. Lalu, aku mengambil alih untuk mengurus Selli. Aku menggandeng tangannya untuk kembali ke kamar. Karena diriku, pakaian ganti yang ia bawa, bahkan belum sempat dikenakan.
Sembari mengurus Selli, aku menunggu kedatangan suamiku.
Bersambung ...
Budayakan tradisi like+komen
__ADS_1