
Seorang gadis kecil sedang menghampiri kami. Ia berlarian kecil dengan langkah pendek namun begitu menggemaskan. Sang nenek yang juga Ibu dari Mas Arlan sudah menyiapkan gerakan merangkul untuk menyambut sang cucu.
Ingin sekali aku yang menyambut seperti itu. Tapi, rasa getir gugup memaksaku untuk tidak melakukannya. Rasa rinduku pada Selli sangatlah besar. Seperti aku sudah menganggapnya seperti anak sendiri.
"Tanteeeeeeeeeeee!" Teriak Selli.
Aku terkejut dibuatnya. Selli mengabaikan penyambutan dari sang nenek dan malah berlari menghampiriku. "Ehh???" ujarku penuh kebingungan.
Aku merasa tak enak hati pada ibu-nya Mas Arlan. Namun, aku tetap menyambut dengan gadis kecil tersebut. Kuabaikan dulu perasaan itu dan memilih untuk menggendong tubuh mungilnya. Mas Arlan tersenyum manis, sedangkan sang Ibu mengerutkan dahi tanda penuh heran.
"Hai sayang, apa kabar?" tanyaku Selli.
"Alhamdulillah baiiiik Tante, Selli seneng tauk. Tante main ke lumah Selli dan Papa," jawabnya.
"Oh ya? Selli kangen dong sama Tante?"
"Kangen banget, sama kayak Papa katanya juga kangen telus sama Tante."
"Ehh?"
Sontak saja, wajahku memerah karena tersipu malu. Berbeda denganku, Mas arlan hanya terkekeh girang. Apalagi, Selli mengatakan semua itu tepat dihadapan neneknya. Astaga! bagaimana nanti respon beliau?
"Oma, ini Tante Fanni yang mau jadi mamanya selli, Oma. Tante Fanni baiiiikkk cekali," ujar Selli.
Oh Tuhanku! Dua kali.
Aku menurunkan Selli dari gendonganku. Kemudian Selli berjalan menghampiri sang nenek. Kuikuti langkah kecilnya dari belakang. Setelah semakin dekat dengan beliau. Aku mengumpulkan berbagai keberanian untuk mengenalkan diriku dengan baik dan tepat.
Aku tak menampik, jantung ini seolah sedang dipacu kencang. Sekujur badan sangat gemetar. Sedangkan batinku terus mengucapkan kalimat basmallah terus menerus. Berharap respon yang baik bisa diberikan padaku.
"Na-nama sa-saya Fanni, Nyonya. Salam kenal dari saya," ujarku sembari menjulurkan tanganku pada beliau.
Beruntungnya telapak tanganku disambut. Setelah beliau menyentuh tanganku, kukecup menggunakan dahi.
"Santai saja, tidak usah gugup. Jangan panggil seperti itu, saya hanya seorang nenek tua biasa, Nak. Nama saya Darsini," jawab beliau.
"La-lantas, saya harus memanggil bagaimana Nyonya? Karna Nyonya adalah seorang ibu yang baik dan ternama di negara ini. Sa-saya sangat merasa terhormat bisa bertemu. Dan... dan mohon maaf jika ada kekurangan pada saat pertama kali bertemu. Sa-saya emm... i-ini pertama kalinya bagi saya."
"Santai saja, Nak. Panggil nenek saja, juga tak masalah."
Mas Arlan maju mendekati kami. Ia menggelengkan kepalanya pada sang ibu. "Tidak Ma, nggak mungkin calon menantu sendiri manggilnya nenek," ujarnya.
Aku terkejut. "Ma-mas, apaan sih?" bisikku.
"Ya sudah, ya sudah. Panggil saya Ibu Darsi saja, ada yang protes tuh."
"Maaf I-ibu."
"Tak perlu minta maaf, mari makan malam dulu. Sudah semakin gelap, nanti malah pulangnya kemalaman. Tidak etis seorang perempuan keluar malam."
Deg! Rasanya, aku seperti sedang disindir oleh beliau. Aku ciut nyali seketika. Bagaimana kalau nanti kami tidak mendapat restu? Sepertinya kesan pertamaku pada beliau tidaklah baik. Sudah gendut, lalu keluar malam.
Duh... ini kan yang ngajakin Mas Arlan. Tapi?
Sudahlah, kuikuti saja langkah mereka. Lewati semuanya. Berpura-pura menikmati dan bersikap sebaik mungkin. Tak apa, ini baru permulaan. Ingat saja, saat Mas Arlan memperjuangkanku dihadapan Ibuku. Ia bahkan sampai terluka. Bukan hanya fisik tapi juga jiwa dan hati. Oleh karena itu, aku tidak boleh takut.
Setelah sampai di ruang makan. Mas Arlan mempersilahkan Ibu-nya untuk duduk setelah ditarikkan satu kursi untuk beliau. Lalu giliran aku yang diperlakukan selembut itu.
"Makasih Mas," ujarku.
"Sama-sama, Dek. Anggep rumah sendiri aja," jawab Mas Arlan.
Selli kembali menghampiriku. Setelah sampai, ia bergelayut padaku. Sepertinya meminta untuk dipangku. Sehingga, aku mengangkat tubuh mungilnya keatas pangkuanku.
"Aku mau dicuapin Tante ya?" pintanya.
__ADS_1
"Siap Bos," jawabku sembari tersenyum.
"Yeeeeee... Selli mau dicuapin cama Tante."
"Gemes deh."
Adanya Selli, membuat hatiku sedikit tenang. Beberapa kekhawatiran perlahan hilang. Karena aku terlalu sibuk dengannya. Tertawa, bercanda lalu saling menyuapi satu sama lain. Aku rasa, kami sudah seperti anak dan Ibu yang asli.
Keberadaan Mas Arlan dan sang Ibu pun seolah menghilang dari pandanganku. Hanya Selli yang tampak. Entah apa yang ada dipikiran mereka sekarang. Melihat sikapku yang se-akrab ini dengan sang anak yang juga seorang cucu mungil. Aku rasa Mas Arlan juga tengah sibuk berbincang dengan sang Ibu. Entahlah, aku tidak terlalu memperhatikan.
Lambat laun hidangan yang tersaji berkurang. Beberapa menit telah berlalu. Karena Selli, aku bahkan tak menyantap dengan baik. Bisa dihitung tidak makan. Aku hanya melahap apa yang Selli berikan saja. Tapi, tak apa. Malah bagus karena tidak ada nilai rakus. Meski, tubuhku besar yang berarti gendut ini.
Setelah dirasa selesai. Aku menunggu seorang asisten rumah tangga untuk membereskan. Namun, tidak ada satu orangpun. Sepertinya memang tidak ada. Aku curiga ini merupakan sebuah tes yang diberikan padaku.
Baiklah! Mari kerjakan yang bisa dikerjakan.
Sepertinya dugaanku memang benar. Ibu Darsi alias ibu dari Mas Arlan tidak mencegahku sama sekali, saat aku mulai menurunkan Selli dan menumpuk piring kotor. Meski diam, beliau juga membantuku menumpuknya.
"Ti-tidak perlu Ibu, biar saya saja yang merapikan," ujarku.
"Kamu kan seorang tamu, Nak," ujar beliau.
"Kan tadi kata Mas Arlan, saya boleh menganggap rumah sendiri. Jadi, saya bereskan saja hehe."
"Wah... dasar kalian kompak sekali. Ya sudah, Arlan bantuin ya, kasian baru datang malah direpotkan. Saya tunggu Nak Fanni di ruang tengah."
Beliau berlalu meninggalkan kami. Sedangkan aku dan Mas Arlan sibuk membersihkan peralatan makan yang kotor. Kami membawanya kebelakang. Setelah sampai di dapur, aku menuju sebuah wastafel. Lalu mulai mencuci peralatan yang kotor tersebut.
Mas Arlan yang usil, memang selalu memiliki cara untuk membuatku malu-malu. Bukannya, membantuku lagi. Ia malah duduk disebuah kursi sembari menatapku dan kesibukanku.
"Kedip oeyy!" ujarku.
Mas Arlan tersenyum. "Calon istri rajin banget, kan calon suami jadi bangga, Dek," jawabnya.
"Belum Mas, Ibu kamu belum ngasih restu."
"Aku nggak yakin, Mas. Kesan pertamaku pada beliau sangatlah buruk."
"Kata siapa? Mama suka kamu kok."
"Oh ya? Masa'?"
"Iya sayang."
Bagus sekali, kalau memang begitu. Namun, tetap saja hatiku tak tenang. Sebelum mendengarnya langsung dari beliau. Apalagi beberapa saat yang lalu, beliau seperti sedang menyindir diriku. Ah... jika dipikirkan saja memang mengkhawatirkan dan memusingkan. Susun kata-kata manis saja untuk menjawab berbagai interview yang mungkin akan ditanyakan oleh beliau. Lagipula, Mas Arlan tidak akan bisa membantu.
Setelah selesai mencuci peralatan makan tersebut, aku menaruh dengan rapi pada rak-rak yang sesuai jenisnya. Setelah itu, mengajak Mas Arlan untuk kembali ke ruang yang sudah ditentukan.
Kami berjalan bersama sembari berbincang pelan. Meski ia tidak dapat membantuku, ia memberikan beberapa saran untukku. Boleh juga, dengan begitu aku sedikit memiliki bekal untuk menghadapi dan menaklukkan hati calon mertua.
"Arlan, kamu tidurkan Selli dulu. Mama mau bicara empat mata saja dengan Nak Fanni," ujar Ibu Darsi setelah kami sampai.
"Ba-baik Ma. Kamu semangat ya, Dek. Hehe," jawab Mas Arlan.
Deg! Aku kembali berdebar. Karena keinginan beliau untuk berbincang berdua saja denganku. Kutelan salivaku dengan kelu tatkala Mas Arlan dan Selli telah berlalu. Sedangkan Ibu Darsi masih menatapku beberapa kali.
Aku memberanikan diri untuk duduk lebih dekat dengan beliau. Dengan sabar dan tabah, aku menunggu ucapan yang hendak beliau sampaikan. Tentunya kalimat basmallah terus terucap dalam batinku. Aku berharap Tuhan membantuku untuk melalui malam yang terasa panjang ini.
"Jadi," ujar beliau. "Nak Fanni ini dari negara mana?"
"Sa-saya blasteran Indo-Belanda Ibu," jawabku.
"Sebuah kebanggaan tersendiri. Salah satu dari keluarga kami bisa mengenal sosok bule."
"Terima kasih, tapi saya tidak se-istimewa itu Ibu. Sa-saya gemuk."
__ADS_1
Beliau terdiam. Namun, senyuman tersungging dari wajah beliau yang telah dipenuhi dengan keriput karena usia. Aku akui sudah setua ini, beliau masih memiliki kharisma tersendiri. Memang wajar, karena beliau adalah seorang konglomerat.
Detikan jam dinding terdengar oleh telinga. Memecah kesunyian yang berlangsung beberapa saat. Setelah ucapan gemuk yang aku ucapkan beliau belum juga memberi respon. Terkaan demi terkaan datang satu persatu, karenanya.
Sedangkan waktu terus berjalan. Tak terasa sudah jam sembilan malam. Aku semakin risau, karena masih tertahan disini. Belum lagi, anggapan dari Ibu Darsi. Akan ada berapa banyak nilai negatif yang beliau berikan padaku? Apakah aku bisa lolos menjadi calon menantunya?
Pertanyaan-pertanyaan kembali berkecamuk mengisi relung hati. Menunggu keputusan seadil-adilnya untuk cinta kami. Dengan harapan, jangan sampai tidak mendapat restu untuk kedua kalinya.
"Nak Fanni?" Akhirnya beliau berucap. "Kamu benar-benar mencintai anak saya?"
"Be-benar Ibu! Aduh maaf, saya kelepasan," jawabku.
"Tidak apa, saya malah suka. Perlu kamu ketahui, Nak. Arlan terhitung paling gagal, setelah perceraiannya dengan Nia. Anak itu memilih turun jabatan dan meminta menjadi manager biasa saja. Rumah dan mobil ini saja yang anak itu ambil. Untuk uang dia nggak pernah meminta sepeser pun kecuali gaji. Jadi, apa kamu sanggup hidup susah?"
"Ibu, saya mencintai Mas Arlan menggunakan hati bukan harta semata. Sayapun baru mengetahui tentang identitas yang asli dari Mas Arlan. Ibu perjuangan kami untuk menjalin hubungan ini sudah sangat berat. Saya sanggup menemani Mas Arlan, apapun keadaannya. Sa-saya memohon supaya Ibu memberi kami restu."
Beliau hanya tersenyum lagi. Padahal aku gemetar hebat setelah mengatakan itu. Aku terlihat seperti sedang meminang seorang pria. Mau bagaimana lagi, jika kondisi sudah se-gugup ini. Apa yang terlintas dipikiran itulah yang bisa aku ucapkan. Entah berhasil atau tidak, itu urusan belakangan. Namun tetap saja, harapanku masih sama. Mendapat restu.
Sebuah restu sudah seperti sebuah tumpukan emas dihadapanku sekarang. Aku harus bisa mendapatkannya walau banyak paku dan besi tajam yang menjadi penghalang. Disertai do'a-do'a yang terus terucap dalam batin. Semoga masalah ini terselesaikan dengan baik.
"Nak, kamu itu cantik. Mungkin Arlan yang merasa beruntung karena bisa mendapatkan hati kamu. Saya hanya berharap anak yang selalu mengalah itu mendapat kebahagiaannya sendiri. Di pernikahan pertamanya harus gagal, padahal saat itu dia sudah menikah diusia sangat matang. Namun, tetap saja anak itu begitu bodoh sampai bisa dibohongi seorang wanita," ujar beliau.
"Mas Arlan hanya terlalu lembut hatinya, Ibu," jawabku.
"Yah, bisa dibilang begitu. Tapi, saya sudah pernah melarang pernikahan itu. Namanya seorang ibu pasti memiliki perasaan aneh tersendiri ketika sang anak akan diperlakukan sedemikian rupa. Patokan kecantikan sekarang ini bukanlah dari penampilan saja, tapi dari ketulusan hati yang tidak dibuat-buat."
Suatu kehormatan tersendiri, ketika beliau menganggap diriku cantik. Rasanya seperti diawang-awang dan terbang. Setidaknya ada satu kelegaan yang muncul.
Kuberanikan diri untuk menghampiri beliau. Lalu, aku duduk bersimpuh dihadapan beliau sembari mengenggam tangan keriput milik beliau. Tampak buliran bening jatuh membasahi pipi. Aku tertegun sebentar, lalu ada rasa sesak yang juga kurasakan. Semua kegagalan yang Mas Arlan alami sepertinya telah membuat beliau terluka dan menyesal.
"Usia saya mungkin tinggal sebentar lagi, Nak. saya hanya ingin anak-anak saya bahagia. Tapi herannya, anak sebaik Arlan malah mendapat kegagalan bertubi-tubi, rasanya sakit sekali didada. Saya tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk anak dan cucuku itu," ujar beliau dengan tetesan air mata yang semakin mengucur deras.
"Jangan begitu Ibu, semua orang pasti memiliki kesulitan tersendiri. Nyatanya Mas Arlan bisa melalui semua masalahnya dengan baik sampai sekarang," jawabku.
"Saya tau tentang itu, saya hanya menyesal sebagai orang tua. Nak?"
"Iya Ibu."
"Jagalah Arlan dan Selli. Menikahlah agar terbangun sebuah keluarga. Saya yakin saya bisa menitipkan mereka sama kamu, Nak. Saya yakin kamu adalah anak yang baik, setiap kali Arlan menceritakan tentang kamu. Anak itu terlihat bahagia sekali. Bersediakah kamu menjaga mereka?"
Aku hanya mengangguk dengan derai air mata yang ikut keluar. Rasanya haru bahagia serta sesak didada. Ada beberapa perkataan yang beliau sampaikan begitu menusuk-nusuk hatiku. Membuatku teringat pada sosok Ibuku sendiri.
Aku sampai sesenggukan seperti ini dihadapan Ibu Darsi yang awalnya aku takuti. Bagaimana tidak, jika seorang Ibu mempercayakan anak dan cucunya padaku disertai pembahasan tentang usia yang sudah renta.
"Se-sebenarnya saya sangat takut dan minder masuk kedalam keluarga Ibu. Sa-saya hanya orang biasa yang tidak menarik, saya gemuk dan tidak cantik, Ibu," ujarku.
"Lupakan soal kecantikan Nak, bagi saya dan Arlan kamu sudah cukup cantik. Paras Eropa-mu berbeda dari yang lain. Saya hanya yakin kamu bisa menjaga mereka dan menjadi istri serta ibu yang baik."
"Te-terima kasih, Ibu."
"Berjanjilah Nak. Jangan sampai ada keretakkan dikeluarga kalian nantinya. Menikahlah sebelum saya tidak ada."
"Ja-jangan berbicara seperti itu. Ibu pasti sehat dan panjang umur."
"Soal usia memang tidak ada yang tau. Tapi sebelum itu, Ibu hanya ingin anak-anak Ibu akan bahagia dengan jalannya masing-masing. Sehingga Ibu bisa pergi dengan tenang nantinya."
"Duuhh... yakinlah Ibu. Bahkan sampai kami memiliki anak, pasti Ibu masih sehat wal'afiat.,"
"Sudahlah Nak, jangan ikut menangis seperti itu. Pikirkan tentang urusan kalian, apalagi perusahaan keluarga sedang dirundung masalah. Arlan anaknya tidak bisa tinggal diam begitu saja, bantu dia membantu permasalahan. Agar selesai dengan cepat lalu kalian bisa menikah."
"I-iya Ibu, saya berjanji."
Beliau merengkuh kepalaku untuk dibelai diatas pangkuan ternyaman milik beliau. Dan aku masih saja meneteskan air mata. Air mata yang sedang berkolaborasi antara senang dan sedih. Aku tidak sanggup jika sudah mendengar kalimat "sebelum saya tidak ada".
Kan! Cengeng lagi.
__ADS_1
Bersambung...