
Mas Arlan datang menghampiriku. Ya, setelah semua yang terjadi hari itu. Ia memeluk erat tubuhku sembari terisak pelan. Sedangkan, Mas Gunawan berlalu pergi begitu saja. Tidak beliau hiraukan Riska dan Celvin yang sudah saling mendekatkan diri. Kesepakatan belum diambil sama sekali, namun Pak Ruddy tidak memaksa. Aku sangat mengagumi sifat Pak Ruddy yang sangat bijak tersebut. Lalu, untuk Ibu Leny dan William undur diri, entah mau kemana. Setelah itu, aku tidak tahu terjadi huru hara apalagi di kediaman keluarga besar Harsono.
Dan waktu kembali bergilir, dua hari berikutnya datang. Selama itupun, Mas Arlan masih tidak banyak bicara. Aku tidak mendesak dirinya lantaran jiwanya masih terguncang. Ia adalah pelaku yang menguak semua masalah didalam keluarganya. Meski sangat mulia, pasti perasaannya tidak menentu. Aku hanya bisa memahami dan tidak banyak bertanya, kecuali untuk menguatkan saja.
Selepas pertemuan itu, aku masih harus berangkat ke kantor. Dan hari ini, adalah hari terakhir aku bekerja disini. Tidak banyak yang aku lakukan diakhir-akhir pekerjaan, karena Celvin juga sudah membatasi. Berbicara tentang Celvin, tampaknya ia sudah mulai ceria. Hubungannya dengan Riska sudah mulai terjalin. Yah, meskipun restu dari Mas Gunawan belum didapatkan. Namun aku yakin, tidak ada hal yang mustahil di dunia ini. Terlebih tekad Celvin sangat besar, dalam persembunyian Riska ia masih sering datang ke kediaman keluarga Harsono. Mengingatkanku pada sosok kekasihku pada waktu itu, kekasihku yang kini menjadi suamiku.
Oh .... jangan-jangan Celvin banyak mendapat nasehat dari Mas Arlan? Bisa jadi dan sangat masuk akal. Bedanya, Mas Arlan tidak sepanjang itu waktunya. Mas Arlan lebih beruntung, ketidak beruntungannya adalah mendapatkan diriku yang tidak secantik Riska. Aku tidak menampik, bahwa diriku terkadang masih merasa ciut jika bersanding bersama suamiku. Tapi, aku selalu berusaha membuang perasaan itu. Intinya, Mas Arlan dan Celvin adalah dua orang pria yang sangat luar biasa, dua orang pria yang bersedia memberikan dukungan untuk diriku yang tidak sempurna ini. Tentunya dengan cara yang berbeda. So, Fanni wajib bangga atas pencapaian ini.
"Siang." Seseorang menyapa salam siang sembari membuka pintu ruangan kerjaku. Lantas, aku menoleh ke arahnya. Mita disana, ia berdiri dihadapanku. Kemudian bergerak duduk.
"Siang juga, Mit," jawabku kemudian. Entah apa yang membuatnya datang menemuiku. Padahal beberapa saat yang lalu, Celvin masih mengajaknya dalam suatu pertemuan. Aku menilik waktu pada jam di dinding. Ternyata jam makan siang sebentar lagi akan tiba. "Celvin kemana?"
"Makan siang bareng pacarnya. Mau makan siang bareng gue nggak? Gue traktir deh buat bumil."
"Eh? Kok tahu?"
Mita tersenyum, sangat cantik. Sama cantiknya dengan Riska. "Selain hal itu, kayaknya nggak ada lagi yang membuat seorang Fanni melepas jabatan ini dan resign."
"Cerdas! Yaudah, traktir gue makanan yang mahal dan sehat. Kebetulan Mas Arlan juga masih ada kerjaan. Emm .... Nike dan Tomi?"
"Nggak, gue pengen berdua aja sama loe, Fann."
"Sweet banget, Mit?"
"Haha .... anggep aja jadi rekan terakhir."
"Rezeki bumil hehe."
Kemudian aku beranjak berdiri. Aku dan Mita keluar dari ruangan ini. Entah apa yang membuatnya mengajakku makan siang berdua saja. Yang pasti rezeki anakku mengalir terus. Dalam hal sekecil apapun, dalam konteks yang baik, perlu dianggap sebagai rezeki. Karena dengan begitu, diri ini bisa lebih banyak bersyukur.
Detik-detik pemberhentian karirku, aku menatap ke segala penjuru gedung kantor ini sembari melangkah keluar. Sekali lagi, aku merasa terharu. Banyak hal yang aku capai, dan sudah aku katakan sebelumnya. Bahkan diriku bisa membantu merubah seorang Mita yang terkenal judes, menjadi seseorang yanf ramah. Yah, walaupun karakter kasarnya tidak pernah hilang. Aku rasa, ia juga telah berbaikan dengan Riska. Lagipula, kesalahpahaman mereka sudah terjadi dalam waktu lama.
Mungkin, jika saat itu aku menertawakan dan menolak permintaan Mita, ia tidak akan berubah seperti sekarang. Bukti bahwa api bisa diguyur dengan air kedamaian. Dalam artian, bahwa segala keburukan tidak harus dibalas hal buruk juga. Orang seperti Mita, atau bahkan diriku dengan segala kekuranganku, harusnya diberikan dukungan. Untuk apa? Untuk membantu kami menjadi lebih baik lagi. Begitupun sebaliknya diriku untuk orang lain.
Setelah sampai di lantai dasar, kami berjalan menuju area parkir. Sembari melangkah, aku merogoh ponsel didalam kantong blazerku. Tentunya untuk mengirim satu pesan untuk suamiku. Rasa getir sedikit menyeruak masuk, lantaran Mas Arlan tidak mengirimkan pesan satupun untukku. Sesibuk apa dirinya? Ah .... aku tidak boleh bersikap egois, kali ini aku yang harus memulainya, bukan? Lagipula, ini bukan kali pertama.
"Masuk, Fann. Apa perlu gue bukain?" Mita berucap demikian, sesaat setelah kami sampai dihadapan mobilnya.
Aku menggelengkan kepala sembari tersenyum. "Nggak perlu. Gue dan anak gue, bukan tipikal orang manja haha," jawabku.
Ia tersenyum. Kemudian kami berdua membuka pintu mobil dari sisi yang berbeda. Selanjutnya, Mita mulai melaju mobilnya meninggalkan gedung kantor ini untuk sementara waktu.
Siang ini cukup terik. Tidak ada hujan, tidak ada badai. Seolah ikut serta dalam kelegaan hatiku karena Mas Arlan berhasil membuktikan semuanya. Yah, meskipun suamiku itu belum terlepas dari kepedihan yang masih tersisa. Akan tidak wajar, jika ia malah merasa senang. Apalagi, Mas Gunawan masih belum memberikan keputusan. Perusahaan Harsun milik mereka diambang penurunan kinerja, bahkan bisa jadi bangkrut jika tidak ada kepastian tentang kerja sama. Aku tidak tahu, siapa yang menggantikan Mas Dian sekarang. Image perusahaan itu bisa berkurang juga, karena terlalu sering berganti-ganti atasan.
"BTW .... loe mau makan dimana, Fann?"
"Dimana aja deh. Nggak perlu mahal yang penting sehat. Gue tadi becanda doang, Mit."
"Mahal juga nggak apa-apa. Gue banyak duit."
__ADS_1
"Jangan takabur, Mit."
"Becanda, Fann. Serius amat dah, loe."
"Gue juga ngingetin doang, Mit. Hehe."
Sepertinya sifatku memang sangat berbanding terbalik dengan Mita. Aku mudah sensitif, sedangkan dirinya lebih kuat. Menambah komplit dalam hubungan pertemanan ini. Tampaknya, bukan hanya percintaan, pertemanan atau persahabatan juga memerlukan sebuah pengertian. Misal--Nike yang sangat rajin dalam agama itu, ia bahkan selalu bersedia memahamiku. Tentunya, banyak nasehat yang ia berikan terhadapku. Dan aku tidak pernah menyangkal atau menganggap dirinya aneh, karena semua ucapan Nike benar.
Sampai tak lama kemudian, Mita membelokkan arah mobilnya ke suatu restoran yang lumayan mewah. Sepertinya ia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri dihadapanku. Jadi, ia membawaku ke tempat ini. Meski sebenarnya, tidak perlu sejauh ini, yang penting bersih saja sudah cukup bagiku. Aku tidak menampik lantaran Mita sangat keras kepala. Daripada berdebat dengannya, lebih baik aku bersyukur sembari membelai perutku.
Rezeki kita, Nak. Hari ini makan enak. Tapi, Mama yang akan bayar kok, tenang aja.
Ya, aku tidak ingin merepotkan Mita lebih jauh. Meski tadi meminta dirinya untuk mentraktir, sepertinya aku tidak setega itu. Walaupun harganya satu menu akan selangit, aku tetap akan melakukannya. Anggap saja sebagai perayaan keluarnya diriku dari pekerjaanku. Semoga suami dan Selli--putri kami makan enak siang ini.
Seperti ritual pelanggan kebanyakan, kami mencari meja makan dan memilih salah satu tempatnya. Lalu, pelayan datang memberikan buku menu dan mencatat pesanan kami. Pelayan itu kembali berlalu dan kami menunggu.
"Kenapa loe nggak ambil cuti aja, Fann?"
"Emm .... pengennya gitu sih, dulu. Tapi, gue udah janji sama suami kalau udah berhasil mengandung akan resign."
"Kontrak habis? Atau baru jalan setengah?"
"Baru jalan setengah, Mit. Tapi, gue udah bikin perjanjian soal ini sama Celvin. Kurang ajar ya gue?"
"Nggak sih. Loe kan anak kesayangan Kak Celvin. Tapi, imbang sih sama kemampuan loe. Jujur gue agak iri sama loe." Mita mengatakan itu dengan nada ringan. Meski begitu, ia tampak sendu. Ia menatap papan meja sembari mengaruk meja. Apa yang membuat dirinya merasa iri terhadapku? Toh, dirinya jauh lebih cantik dariku. Mita sempurna, bukan gendut seperti ini.
Saat aku hendak bertanya, dengan cepatnya sanv pelayan kembali datang. Ia menyuguhkan beberapa hidangan yang kami pesan termasuk dua gelas minumannya. Yang namanya ibu mengandung tidak perlu ditanya lagi ambisinya terhadap makanan. Tidak perlu waktu lama, aku langsung tancap gas untuk melahap makanan dihadapanku. Sembari menelan suap demi suapnya, aku terus berharap dalam hati. Semoga suami dan anakku makan enak sepertiku. Entahlah, mungkin terdengar berlebihan, tapi itulah yang terjadi pada diriku.
****
Lima belas menit kemudian, kami selesai. Aku makan banyak sekali sampai melupakan harga diriku dihadapan Mita. Beruntung, Mita bukanlah dirinya yang dulu. Mungkin jika ia belum berubah, ia akan mengataiku dengan sebutan sapi banyak makan atau semacamnya. Aku hanya bisa tersenyum malu-malu pada saat ia menatapku. Mungkin ia sedang membatin sesuatu. Yang penting, ia tidak mengatakannya saja.
"Loe mau ngetawain gue, Mit?"
"Nggak, su'udzon loe! Gue ngerti selera bumil, Fann."
"Siapa tau hehe."
"Loe masih kepikiran perbuatan gue dimasa lalu, Fann? Sorry, Fann. Waktu itu gue emang nggak jelas banget jadi orang."
Aku tersenyum tipis. "Gue munafik kalau bilang nggak inget, Mit. Tapi yang pasti gue nggak permasalahin hal yang lalu. Gue bukan orang suci, tapi gue yakin, kita masih punya banyak waktu buat berubah."
Mita terdiam. Tatapannya kembali ke bawah, tepatnya ke papan meja yang kini terdapat piring kosong. Ia menghela napas beberapa kali, menandakan suatu kelegaan hati. Tampaknya sampai saat ini, Mita masih merasa bersalah terhadapku. Hal ini membuat diriku sangat terharu. Setidaknya ia benar-benar menyesal dan ada pengingat untuk kehidupan ke depannya lagi.
"Gue iri banget sama loe, Fann. Sumpah! Dari dulu, tapi cara gue dulu emang salah." Mita kembali mengulik tentang masa lalu. Padahal kala itu ia pernah membahas hal ini. Ya, ia iri terhadap kinerjaku yang selalu menjadi tolok ukur rasa bangga dari Pak Ruddy terhadapku. "Apalagi sekarang, Fann. Loe bisa memiliki suami yang hebat dan bertanggung jawab. Akan punya momongan, loe disayang banyak orang."
"What?! Haha .... loe pasti punya Mitaaa. Nggak mungkin orang secantik loe nggak punya mereka."
"Karna kata cantik itu. Sampai sekarang nggak ada yang tulus dari hati. Kata cantik itu, yang membuat mereka berniat membanggakan diri sendiri. Untuk membuktikan bahwa mereka berhasil mendapatkan yang lebih dari orang lain. Gue muak."
__ADS_1
"Maaf, gue nggak tahu."
"Haha .... nggak apa-apa, Fann. Gue sedikit cerita aja. Emm .... makasih karna loe udah rekomendasiin nama gue ke Kak Celvin."
Seketika itu, aku menatap wajah Mita. Ternyata ia tahu, apakah Celvin yang memberitahu? Aku benar-benar tidak enak hati, aku takut Mita merasa benci kepadaku. Aku takut jika Mita menilai bahwa aku tengah menganggap bodoh dirinya.
Namun, tak lama kemudian Mita meraih telapak tanganku di atas meja ini. Ia menyunggingkan sebuah senyuman, sangat cantik. Aku hanya bisa menelan saliva, berharap ia tidak salah terima. Celvin? Mengapa orang itu malah membuka suara tentang keputusan ini? Aku benar-benar kecewa.
"Fann?"
"Y-ya, Mit. I-itu, gue nggak ada maksud apa-apa. Sumpah!"
Mita terkekeh saja. Lalu ia berkata kembali, "gue nggak mikir jelek, Fanniiii. Gue cuma mau bilang makasih aja. Dan .... Kak Celvin nggak ngasih tahu soal ini kok."
Tepat! Mita seolah mengerti apa yang sedang aku pikirkan. Ia memang cerdas, namun agak malas. "Jadi, loe tahu dari siapa?"
"Dari gue sendirilah. Lagian nggak mungkin juga seorang Celvin Hariawan Sanjaya bisa memutuskan sesuatu yang paling dia hindari itu. Pasti ada sesuatu yang mendorongnya. Tauk! Dia orang kayak anti banget sama gue." Mita melanjutkan beberapa keluh kesahnya mengenai Celvin yang tidak bisa aku ulangi. Meski begitu, ia terlihat lebih ceria dan lega. Aku rasa, ini adalah jalan yang paling ia nantikan untuk membuktikan bahwa dirinya bisa dihadapan orang tuanya.
Selanjutnya, kami beranjak pergi keluar dari restoran ini. Bahkan aku sampai lupa niatku untuk membayar hidanganku. Mita maju lebih dulu dan mencegah niatku tersebut. Dalam hati aku sedikit senang, namun tetap tidak enak hati. Sesampainya dihadapan mobilnya, kami masuk ke dalam kembali. Lalu Mita melajunya untuk menuju gedung kantor milik Sanjaya karena waktu sudah hampir habis.
"Fann, kalau ada apa-apa loe bisa hubungin gue."
"Ada apa ya?"
"Ya, misal loe punya masalah. Pasti gue bantu."
Aku tersenyum dibuatnya. "Oke, boleh juga. Kita bisa saling bantu."
Sedangkan suara mesin mobil terus menderu menyeruak jalan aspal yang memanjang. Hari terakhir yang indah bersama Mita--mantan setan cantik itu. Sekarang ia telah menjadi wanita yang benar-benar cantik. Tidak ada dendam yang bergelayut. Ia bisa mulai berkarir dengan tingkatan yang lebih tinggi. Sejujurnya, aku merasa sedikit bangga lantaran bisa membantunya.
Sampai akhirnya, kami sampai di gedung kantor Sanjaya. Setelah memarkir sang mobil, kami turun dan masuk ke dalam gedung. Di akhir hari ini, aku akan menyerahkan semua pekerjaanku kepada Mita. Dengan ikhlas karena aku berhenti dengan meninggalkan sesuatu yang mengesankan. Tidak ada lagi musuh, tidak ada lagi masa lalu yang kelam. Akhirnya aku memiliki pengalaman yang menyenangkan didalam lingkup karyawan seperti ini. Hari ini tugasku selesai, aku akan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya setelah ini. Semoga semua selalu lancar untuk siapapun juga, termasuk Celvin dan Mita sebagai atasan dan sekretaris yang baru.
Bersambung ....
Hai semua. maaf ya baru up. aku penderita insomnia. ada yang tahu obatnya nggak sih? Tiap malem nggak ngantuk tapi kalo pagi kayak zombie. (‘◉⌓◉’)
Ah .. ternyata aku udah nulis sejauh ini ya. Nggak nyangka banget lho. Dari bulan agustus 2019. Akhirnya karyaku bisa dinikmati orang lain. Walaupun emang belum terlalu rame hehe. Dan penuh pro kontra, karena kalau bawa fisik memang agak sensitif hehe. Tapi aku wajib bangga, karna berapapun peminatnya, itu adalah pencapaian yang luar biasa. Apalagi amatiran kayak aku.
Jadi penulis itu susah-susah gampang guys. Apalagi pake sudut pandang orang pertama(Fanni) sulit hehe. Aku sering kehabisan akal, gimana ya seorang Fanni bisa nyeritain kisah orang lain ini? Dll. Aku juga masih terus revisi tanda baca dan kalimat di bab-bab awal. Biar rapih hehe.
Aku selalu berharap pembaca selalu bersikap bijak dalam menanggapi sebuah karya, dari penulis manapun. Entah yang sudah terkenal atau masih baru. Hargai kami, karena berkarya itu tidak mudah. Kritikan boleh saja, tapi yang membangun dan menggunakan kata-kata yang sopan. Di karya ini sudah, alhamdulillah baik-baik semua (◕ᴥ◕). Aku cuma mengingatkan ya.
Kalau nggak sopan udah termasuk Pembullyan lho. Hehe. Jadi, berubah dari hal sekecil apapun ya guys.
Tetap waspada semua pembaca aku, sehat selalu dan tentunya semakin lebih baik ke depannya.
MOHON BERSABAR YA, KALAU AGAK MEMBOSANKAN. AKU PUNYA TARGET SAMPAI LEBARAN BUAT TAMATIN KARYA INI.
Terima Kasih.
__ADS_1
Vhy'dHeavy