
****
"Kamu kenapa sih, Dek?" Mas Arlan menggenggam tanganku tiba-tiba. Aku yang sejak tadi terdiam, kini spontan menatapnya. Raut wajahnya penuh tanda tanya, perihal mengapa aku selalu diam bahkan merasa kesal sendirian.
Aku menghela napas dalam dan mengembuskannya lagi. "Nggak apa-apa, Mas!" jawabku.
"Bohong!" Mas Arlan tidak mau menerima jawabanku. Ia tahu bahwa aku sedang menutupi perasaanku yang sebenarnya. "Kata orang, cewek kalau bilang enggak apa-apa justru kenapa-napa."
"Aku di luar kalimat itu, Mas."
"Kenapa?!"
"Enggak apa-apa!"
Mas Arlan melepaskan genggamannya dari tanganku. Ia mengusap wajahnya, menatapku sekilas lalu berdiri. "Suka gitu, kesel sendiri, tiap ditanya enggak pernah ngaku. Laki-laki serba salah, nggak selalu tahu mau wanita. Jangan salahin Mas kalau acuh, Dek."
"Ih! Apaan sih, orang dibilang enggak apa-apa kok!"
Mas Arlan berbalik lagi dan menatapku. "Sekali lagi Mas tanya, kamu kenapa?!"
"Uh!" Aku semakin terdesak. Padahal memang tidak apa-apa, hanya saja perbincangan Mas Arlan dengan wanita itu masih menggangguku. Namun aku tidak ingin mengatakannya karena takut dikira berlebihan.
"Dek?!"
"Iya! A-aku sebel, ce-cembu-buru."
Dahi Mas Arlan mengernyit seketika. "Apa tadi? Cembukur?"
"Cembukur apaan?"
"Cemburu itu, sama siapa?"
"Entah!"
Mas Arlan semakin menatapku dengan heran. Sepertinya aku memang terlalu berlebihan dan wanita itu bukan seperti bayanganku. Benar saja, aku pasti terlihat sangat konyol saat ini.
Ketika Mas Arlan kembali menghampiriku, aku beringsut mundur. Kemudian, aku berdiri dari dudukku. Aku berjalan dan masuk ke dalam rumah dengan meninggalkan Mas Arlan yang masih duduk di teras depan. Tentu saja bersama dengan Sella yang berada di dalam kereta dorongnya. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal, malu!
Aku menghela napas. Duduk di kasur lantai di dalam ruang santai keluarga dan bersandar pada tembok. Aku menatap ke langit-langit ruangan ini. Sedangkan di sampingku ada Sella yang baru saja aku turunkan dari keretanya. Ia sedang bermain mainan yang sang ayah belikan.
"Gue kapan dewasa sih?!" gumamku bertanya pada diri sendiri yang selalu seperti ini. Pasti Mas Arlan sedang tidak habis pikir sekarang. Aku menyesal karena mengatakannya, sungguh!
"Dek, masih puasa jangan marah-marah mulu kenapa?" Tiba-tiba Mas Arlan berceletuk. Detik itu juga, aku langsung menatapnya. Ia tersenyum, sedangkan aku semakin ciut. Tentu rasa malu karena sikap kekanak-kanakanku.
Kemudian, ia duduk di sampingku. Tidak, tepatnya di samping Sella yang masih bermain sendiri. Ia berceloteh kecil dengan Sella, bahkan tanpa melihat diriku lagi. Di sini, aku sibuk mengusap-usap telapak tanganku. Aku merasa salah tingkah.
"Kamu ini cemburu sama siapa sih, Sayang? Kenapa pas ditanya langsung kabur?" tanya Mas Arlan.
Aku semakin bingung untuk menjawabnya. "A-aku tadi cuma becanda kok, Mas," jawabku sekenanya.
"Sama yang semalem?"
Aku menatap Mas Arlan sekilas. Kemudian aku mengangguk pelan. "Iya, Mas. I-itu siapa?"
"Pft ...." Mas Arlan sontak tertawa. Benar seperti dugaanku, ia menganggap diriku lucu. Padahal rasa cemburu itu memang benar-benar ada. "Ada-ada aja kamu, Dek. Emang Mas ada bicara sayang sama itu orang?"
Aku terdiam, namun dengan bibir yang merengut. Bukan marah kepadanya, namun kepada diriku sendiri yang sangat memalukan ini. Sedangkan Mas Arlan masih asyik dengan tawanya, atau sesekali mengataiku di hadapan Sella.
"Lagian malem-malem teleponan lho, Mas. Kan siapa yang enggak curiga? Udah gitu, langsung diem. Aku kasih minum ke Sella, malah kamu asyik sama HP. Belum lagi rela enggak tidur. Suaranya suara perempuan. Hati istri mana yang enggak menjerit?!" Akhirnya aku berhasil mengatakan semua isi hatiku. Bahkan, meski merasa malu, kini aku lebih lega dari pada sebelumnya.
Mas Arlan tampak menelan saliva. Kali ini, ia menyudahi tawanya. Ia menatapku bukan penuh tanda tanya, melainkan rasa bersalah. Ia juga mengangkat tubuh Sella untuk dipangkunya. Setelah itu, ia mendekatiku. Menggodaku dengan senyumannya yang selalu manis itu. Duh!
__ADS_1
"Maafin Mas, Sayang. Bukan maksud Mas buat kamu enggak nyaman gitu, Sayang. Sumpah!" ujarnya sembari mengangkat telapak tangannya yang membentuk dua jari diangkat.
Aku masih bersikap acuh. "Enggak apa-apa, kok!" timpalku.
"Tapi, suwer, Mas enggak aneh-aneh. Tadi malam juga bukan perempuan genit kok. Percaya sama Mas, Dek."
"Aku lebih percaya sama Tuhan dari pada kamu, Mas."
"Ih, Mama ngambek mulu ya, Sella, ya?" Mas Arlan tidak menghiraukanku lagi. Ia kembali menggodaku bersama si bule kecilnya.
Ingin rasanya mendiamkan lebih lama, namun sesuatu lebih mendominasi hatiku. Yaitu rasa penasaran perihal siapa lawan bicaranya tadi malam itu. Aku segera mengatur napasku, memperbaiki raut wajahku agar lebih lembut dan ramah, serta berusaha membuang rasa tengsin dan gengsi.
Setelah itu, aku menoleh ke arah Mas Arlan. Sangat pelan. Sampai akhirnya, mataku berhasil menangkap dirinya yang masih asyik bersama Sella.
Aku menghela napas dalam, kemudian kembali aku hembuskan. Selanjutnya aku bertanya, "la-lalu, perempuan itu siapa, Mas?"
Mas Arlan beralih menatapku. "Udah ngambeknya?" tanyanya kepadaku.
"Iya, udah!"
"Hmm ... kayak gitu ya kalau istri aku cembukur."
"Kenapa emang aku-nya?"
"Ngambek, uring-uringan, bibirnya macam lumba-lumba."
"Mana ada aku kayak gitu. Enggaklah, biasa aja!"
"Tuh kan, kayak gitu lagi. Dahinya ikut kerutan itu."
"Mas! Aku serius."
"Ya, siapa yang bilang kamu enggak serius, Dek?"
Mas Arlan terkekeh lagi. Namun kali ini, aku berusaha untuk tetap bersabar. Aku ingin sekali mengetahui siapa yang ia ajak bicara tadi malam.
Namun ketika melihat ia masih asyik bersama Sella, rasanya aku tidak ingin mengganggunya. Biarlah, nanti jika kami hanya berdua. Aku tidak ingin melewatkan momen manis bersama mereka. Hanya saja, saat ini Selli sedang tidur karena berpuasa. Aku paham, anak itu masih dalam tahap belajar. Ia memilih tidur untuk menghilangkan lapar di perutnya ketika masih siang.
Aku terenyak, sudah tiga kali ramadan aku bersama Mas Arlan. Kehidupan rumah tangga kami yang tidak mudah, mampu kami arungi sampai saat ini. Diriku yang memiliki banyak kekurangan dan ia selalu menerimaku dengan senantiasa tersenyum. Meski beberapa kali marah kepadaku, ataupun sebaliknya, namun kami bisa menyelesaikannya dengan baik.
Aku kembali menatapnya. "Mas, kita lebaran kemana?" tanyaku.
Mas Arlan membalas tatapanku. "Mau kamu kemana, Dek? Kalau Mas pengen bulan madu, biar nambah dede' lagi," jawabnya diiringi tawa nakalnya.
"Sella baru beberapa bulan, Sayang. Ya kali mau ditinggal bulan madu?"
"Nggaklah, kita bisa bawa. Sama Selli juga, sewa pengasuh sementara."
"Hmm ... emangnya kamu mau ajak aku kemana, Mas?"
"Ke Bali yang dalam negeri, atau mungkin ke Paris gitu."
"Paris? Gaya banget, kamu bukan orang kaya lagi, Mas. Lagian dari pada ke Paris, mending ke Belanda. Aku mau tengok saudara Papa yang masih ada di sana."
"Hmm ... boleh, Mas juga enggak pernah ke Eropa, Dek. Mas melancongnya dulu ke Amerika."
"Aku pernah, tapi waktu masih kecil ke Belanda. Habis itu enggak pernah lagi."
Benar juga, aku adalah keturunan Belanda. Namun setelah sekian lama, terakhir duduk di bangku SD, aku tidak pernah lagi menapakkan kaki di negara itu. Hanya beberapa kali bibi-ku menghubungi ayahku dan jujur, aku kurang mengerti Bahasa Belanda. Meskipun ayahku adalah asli orang sana.
Aku menjadi berpikir--akan lebih indah jika hari raya tahun ini aku berlibur sembari bersilahturahmi. Hanya saja, Sella masiu kecil dan keuangan kami tidak terlalu tinggi. Sepertinya kami harus menunda keinginan itu terlebih dahulu. Entahlah.
__ADS_1
"Dek?" Mas Arlan tiba-tiba saja menggenggam tanganku.
Aku menatapnya. "Iya, Mas? Kenapa?" tanyaku kembali.
"Soal tadi malam ... itu tuh bukan orang aneh, atau macem-macem."
"Oh ... terus?"
"Itu Ibu Leny."
Aku terkesiap. "I-ibu Leny? Tapi kok malam-malam gitu teleponnya?"
"Hmm ... beliau gelisah. Terus siangnya Mas juga kerja terus."
"Aku pikir siapa, Mas. Emm, ... kamu masih berusaha bujuk beliau dan anaknya?"
Mas Arlan mengangguk. "Iya, Dek. Terus di sana kan jam lebih cepat tiga sampai empat jam, jadi tadi malam itu beliau sekalian mau masak sahur dan santap. Jadi, beliau telepon. Mas rasa, Ibu Leny lupa soal perbedaan waktu di negara itu maupun di sini."
"Oh gitu ya. Ya udah, aku ngerti kok, Mas."
Ya, tentu saja aku akan mengerti jika hal itu bersangkutan dengan Ibu Leny dan William. Aku juga tidak pikir panjang tadi malam, sampai mencurigai Mas Arlan. Rasanya memang sangat memalukan. Ternyata suamiku ini, meskipun sudah gagal, ia tetap tidak menyerah. Ia melupakan perihal kejahatan Mbak Dahlia bahkan Mas Dian, dan masih mengusahakan amanat itu.
Mengingat tentang Mbak Dahlia, rasanya memang membuat sesak setiap orang yang melihat. Kondisi yang semakin menurun, bahkan tubuh beliau semakin kurus kering. Itu yang aku lihat melalui foto yang dikirimkan oleh Riska siang kemarin. Aku dan Mas Arlan belum sempat menengok karena masih harus mengurus beberapa hal, terlebih aku memiliki Sella. Aku juga belum tahu perihal keputusan Ibu Leny.
Lalu, aku memutuskan untuk bertanya kepada Mas Arlan. "Jadi, ... gimana, Mas?"
Mas Arlan menunduk. "Mas sebenarnya enggak enak sama kamu, Dek. Mas harus pakai beberapa uang lagi untuk keperluan mereka jika mereka benar-benar setuju untuk bertemu Mbak Dahlia. Meskipun keadaan ekonomi kita udah mendingan, tetap aja kita ini bukan pengusaha yang kaya raya. Tapi ...."
Aku menggenggam telapak tangan Mas Arlan sembari tersenyum kepadanya. "Nggak apa-apa, Mas. Asal buat kita masih cukup dan ada uang yang belum terpakai, aku enggak masalah."
"Hmm ... tapi Mas enggak enak sama Mama juga, Dek."
"Mama emang bener, Mas. Tapi, ... ini juga menyangkut nyawa seseorang, aku enggak masalah, Mas. Lagian rejeki itu enggak kemana, kan? Kamu pake dulu, nanti ada gantinya."
"Uh!"
"Kenapa, Mas?"
"Kamu baik banget, Dek."
"Haha ... iyakah? Aku ngambek-an lho."
"Itu udah pasti. Tapi kamu baik banget. Ya Allah!"
"Terus kenapa?"
"Kapan maghrib? Mas pengen peluk kamu!"
"Dasar!"
Ketika semua masalah bisa diselesaikan, maka hati pun tenang. Tampaknya, aku mendapatkan satu pelajaran lagi; aku tidak boleh berprasangka buruk sebelum mengetahui yang sebenarnya. Dan untuk niat Mas Arlan dalam membantu Ibu Leny dan William, serta Mbak Dahlia; semoga memang bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Akan sangat bagus, jika Mbak Dahlia bisa sembuh total dan Mas Dian segera keluar dari jeruji besi.
Bersambung ...
Hai Selamat malam. Selamat hari kemenangan, selamat bertakbir.
Selamat Hari Raya
Mohon maaf lahir dan batin. Untuk kesalahan yang sempat saya lakukan, baik disengaja maupun tidak. Sejatinya manusia memang tidak luput dari kesalahan, dan saya mohon maaf sebesar-besarnya untuk itu.
Minal aidzin walfa'idzin. Semoga dipertemukan lagi di bulan suci Ramadan tahun depan.
__ADS_1
Stay safe semuanya. ʘ‿ʘ