Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2-END Part Satu]-Kesempatan


__ADS_3

Akhirnya, Mas Arlan bersedia mengikuti anjuranku. Ia akan datang ke acara makan malam yang dibuat oleh Nia. Meski raut wajahnya terlihat masam sekali, namun saat ini ia sudah siap dengan pakaian yang dikenakannya secara rapih. Pukul tujuh menjadi waktu yang ditentukan untuk perjanjian makan malam itu, sehingga kami akan berangkat tepat setelah maghrib agar tidak terlambat.


Mas Arlan terdengar sedang menghela napas dalam, setelahnya ia hembuskan kembali. Meski, Sella berada di gendongannya, ia tampaknya tidak bisa membuang segala rasa gusarnya. Aku yang masih sibuk di depan cermin rias, kini menghentikan gerakan tanganku. Aku menelan saliva, aku merasa sedikit tidak enak karena agaknya aku memaksa suamiku itu untuk datang.


Aku menoleh ke arah Mas Arlan yang sedangbduudk di tepian ranjang bersama putri keduaku. "Mas, maaf ya? Kayakny aku bikin kamu enggak nyaman," ujarku. Setelah itu, aku kembali menatap cermin yang menggambarkan pantulan diriku.


"Enggak kok, Dek. Kamu bener, kita harus berdamai juga sama Nia," jawab Mas Arlan. Dari cermin ini pula, aku bisa memastikan raut wajahnya. Ia tampak lesu sekali.


"Kamu yakin? Mumpung belum terlambat, kita batalin aja gimana, Mas? Kamu kayak enggak nyaman gitu."


"Enggak, Sayang. Mas enggak apa-apa. Kamu bener kok, kita harus kasih kesempatan pada Nia untuk bertemu Selli."


Aku menghela napas lagi, dan kuembuskan kembali. "Aku harap, Nia juga menepati janji supaya enggak bikin ulah lagi."


"Amin, Dek."


Setelah itu, aku melanjutkan gerak tanganku untuk merias wajahku. Seperti biasanya, aku lebih suka pada riasan mata yang lebih cerah daripada bagian bibir. Beberapa jenis make up memang aku poleskan di wajahku, namun masih memberikan kesan natural nan elegan. Korset perut, tidak pernah ketinggalan terpakai untuk menyembunyikan tumpukan lemakku di perut. Dan saat ini, aku menggunakan dress berwarna putih cream di bawah lutut. Rambut terurai bergelombang, anting lalu kalung pemberian Mas Arlan turut menunjang penampilanku.


Meski tidak secantik dan selangsing Nia, aku tetap tidak ingin merasa dikalahkan oleh mantan istri dari Mas Arlan itu. Meski masih memiliki tubuh gempal, aku tetap ingin terlihat pantas bersanding dengan Mas Arlan. Beruntungnya, Mas Arlan memiliki tubuh yang kokoh dengan otot-otot yang terlihat jelas di lengan tangannya.


Aku berdiri dari dudukku, kuambil tas pemberian Mas Arlan juga sebagai hadiah beberapa waktu yang lalu. Tas cantik berwarna putih. Sedangkan untuk keperluan Sella juga sudah aku persiapkan dengan baik. Lagi pula hanya sebentar. Aku juga sudah meminta tempat makan malam yang masih pantas untuk membawa bayi kepada Nia. Jadi, kami tidak perlu terlalu khawatir lagi.


"Udah siap, Dek?" tanya Mas Arlan. Ia menatapku, pada saat aku menghampiri mereka.


Aku mengangguk pelan. "Udah, Mas. Gimana? Aku cantik enggak? Hehe," tanyaku sembari malu-malu.


"Cantik banget! Setiap hari kamu juga cantik, Sayang. Tumben banget nanya gitu? Biasanya kalau dibilang cantik aja, enggak mau."


"Hmm ... aku mau ngetes kemampuan berdandanku, Mas."


"Kamu serba bisa, Sayang. Mas kan makin love sama kamu. Kerja bisa, ngurus anak bisa, dandan bisa emm ... melayani suami bisa. Tapi, ... masaknya belum meningkat nih. Terus enggak bisa diet." Mas Arlan tertawa kecil.


"Masak belum bisa, tapi makan bisa. Cita-cita pengen kurus, tapi males diet dan itu aku. Tapi, ... kamu sayang sama aku kan, Mas?"


"Sayang banget! Gimanapun kamu, Mas akan selalu sayang kamu. Enggak usah diet-dietan, nanti sakit lagi. Mas enggak mau kamu sakit. Dan, ... juga nggak mau kalau kamu kurus. Nanti tambah cantik. Saingan bisa banyak."


Aku tertawa. "Mana ada yang begitu? Ada-ada aja. Aku udah jadi emak-emak anak dua, Mas. Suami aku juga ganteng banget kok."


"Tumben? Biasanya paling anti kalau Mas bilang ganteng, ini ngomong sendiri."


"Sekali-sekali hehe. Udah yuk, berangkat. Keburu ditungguin enggak enak, Sayang. Kamu panggil Selli ya, Mas. Mana Sella sama aku dulu."


Aku mengambil Sella dari Mas Arlan. Beruntung, ia sedang tidak tidur. Kalau masih tidur, aku tidak akan tega membawanya keluar rumah. Aku harap, malam ini pun hanya sebentar. Kemudian, aku maupun Mas Arlan keluar dari kamar ini. Tidak lupa, pintu ditutup rapat dan dikunci.


Belum sempat kami masuk ke dalam kamar Selli, gadis kecil itu sudah berada di ujung tangga dengan style kasual yang begitu trendi dan tentu diriku yang merias dirinya. Rambutnya yang panjang, aku ikat ke belakang. Ia imut sekali, kolaborasi paras Nia dan Mas Arlan. Ah ya, aku memang harus mengakui hal itu.


"Ayo, Papa, Mama. Selli udah tungguin dari tadi lho," ujarnya. Ia tampak sangat antusias atas acara yang akan kami datangi. Aku tahu, ia pasti sangat rindu kepada ibu kandungnya.


"Iya, iya, Kakak. Sabar dong. Mama kan dandannya lama," jawab Mas Arlan sembari melirik ke arahku. Tentu aku menatapnya dengan sinis.


"Aku lama kan ngurusin dua anak, Mas. Enggak aku sendiri ...!" tegasku.


"Kan Mas juga bantuin jaga Sella, Dek. Cewek kan emang suka lama."


"Lama kan juga biar cantik. Kalau aku cantik kamunya juga enggak bakalan malu, Mas."


"Mas enggak pernah malu kok, gimanapun kamu."


"Iya, tapi nggak udah nyindir gitu do--"


"Mama, Papa ayok. Jangan berantem!" Selli menegaskan hal itu kepadaku dan Mas Arlan yang saling beradu argumen. Tentu saja kami tersentak dan seketika diam. Namun setelah itu tertawa, tidak aku sangka, orang galak di rumah ini bertambah lagi. Salahku, menanggapi perkataan Mas Arlan itu. Lagi pula, seharusnya ia bisa mengerti apa yang dilakukan wanita, kan? Dasar pria!

__ADS_1


Selli telah berlali lebih dulu ke lantai satu. Mas Arlan meminta tas yang berisi keperluan Sella dariku. Ia membantu membawanya. Setelah itu kami berjalan bersama. Menapaki anak tangga yang tidak pernah berkurang jumlahnya. Lalu, sampai di lantai bawah.


Selanjutnya, kami masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan setelah ibadah maghrib tadi. Tampak Bi Onah sedang mengantarkan kami sampai teras rumah.


"Bi, nitip rumah. Enggak apa-apa kan, kalau di rumah sendiri dulu?" tanya Mas Arlan kepada asisten rumah tangga kami tersebut.


Bi Onah tampak mengangguk. "Iya, Mas. Tenang aja, hati-hati di jalan," jawab beliau.


"Nanti kalau ada apa-apa, panggil Arlan aja ya, Bi."


"Siap, Mas."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumssalam, Mas. Hati-hati di jalan."


Mobil hitam yang tidak pernah diganti selama beberapa tahun ini, mulai dilaju oleh Mas Arlan. Keluar melalui gerbang rumah ini yang sudah dibukakan oleh Pak Edi, sebelum beliau pulang ke rumah sendiri. Mungkin setelah kami berangkat, beliau akan segera pulang atau bisa jadi menunggu kami karena tidak tega jika Bi Onah hanya sendiri. Entahlah, semua biar Pak Edi yang mengatur.


Jujur saja, aku merasa sangat gugup. Ini pertama kalinya kami bertemu Nia setelah ia memutuskan untuk mundur dan pergi ke luar negeri. Ya, semoga pertemuan kami akan berjalan lancar dan tidak menimbulkan sesuatu apa pun, terlebih yang buruk.


****


Hidangan mewah tersaji di meja, tepat di hadapan kami. Mas Arlan di sampingku, sedangkan Nia berada di seberang bersama Selli. Ada Sella di dalam stroller yang kami bawa. Kecanggungan lebih dulu menyambut daripada keakraban. Bahkan, sejak tadi Mas Arlan hanya terdiam. Hanya aku dan Nia yang sempat bertanya kabar.


"Jadi, Mbak Nia kerja di Nevada?" tanyaku kepada Nia setelah ia menjelaskan kehidupan barunya yang sudah berjalan hampir satu tahun lamanya.


Nia mengangguk. "Iya, Fann. Awalnya ada tawaran bisnis di sana. Tadinya aku masuk dunia perfilman kan, tapi enggak cocok. Jadi, ada temen tawarin aku pekerjaan lain dan itu di sana," jelasnya.


"Emm ... jadi, warga negara sana berarti?"


Nia menggeleng. "Belum, aku masih menggunakan visa bekerja."


Nia tersenyum. Sedangkan tangannya sibuk mengiris daging steak milik Selli, setelah itu ia suapkan pelan-pelan ke dalam mulut Selli. "Nanti, kamu ajak Papa dan Mama ke sana ya, Selli. Kamu makin cantik deh. Mama kangen sama kamu."


"Selli juga kangen sama Mama Nia. Lamaaa banget, kita enggak ketemu."


"Ih, ngomongnya makin lancar ya sekarang?"


"Iya dong, Ma. Selli juga udah punya adik namanya Sella, cantik banget! Matany kayak Mama Fanni, Ma."


Nia hanya tersenyum. Setelah itu, ia kembali memandangku. Sella yang berada di dalam stroller pun juga tidak luput dari pandangannya. Hanya saja, ia enggan bertanya atau menatap Mas Arlan. Mungkin, ia masih merasa bersalah kepada mantan suaminya yang telah menjadi suamiku ini.


Dalam beberapa saat, kami hanya sibuk bersantap tanpa berkata apa pun. Namun aku menangkap sesuatu hal dari Nia. Sejak tadi, ia sibuk menatap arah pintu, seperti sedang menunggu sesuatu. Entahlah, aku juga tidak berhak menanyakan hal itu.


"Jadi, ... apa mau kamu?" tanya Mas Arlan tiba-tiba. Hal itu, membuat Nia tersentak. Ia salah tingkah seketika.


"Aku hanya ingin bertemu kalian aja kok," jawabnya sembari menunduk.


"Kamu ingin bertemu Selli?"


Sesaat, Nia terdiam. Lagi pula, Mas Arlan ini bertanya sesuatu yang sudah jelas jawabannya. Astaga!


"Arlan, kamu masih membenciku?" Tangan Nia berhenti dalam mengiris daging steak miliknya. Ia memberanikan diri, menatap Mas Arlan dengan tajam.


Dan yeah, Mas Arlan membalas tatapannya itu, bahkan tanpa tersenyum sedikit pun. "Kenapa kamu tanya begitu?"


Nia menggigit bibir bawahnya. "Aku tahu, kamu pasti masih dendam padaku. Tapi, udah setahun, Arlan. Aku juga rindu dengan anakku."


"Selli juga kangen sama Mama Nia, Pa," sela Selli detik berikutnya setelah perkataan dari ibundanya.


Mas Arlan menekan rahangnya. Ia seperti sedang menahan suatu perasaan tertentu. Ya, memaafkan memang sesuatu yang bagus namun sangat sulit sekali. Kendati begitu, aku tetap ingin Mas Arlan bisa berdamai dengan masa lalunya dan orang di masa lalunya.

__ADS_1


Aku menggenggam tangan Mas Arlan. Ia menatapku setelahnya. Aku tersenyum tipis kepadanya. Ia menghela napas dalam lalu ia hembuskan kembali. "Lalu, berapa lama kamu di sini?" tanya Mas Arlan kepada sang mantan istri lagi.


"Aku ambil cuti satu bulan," jawab Nia. Ia memandang Mas Arlan secara sekilas, lalu tersenyum kepadaku.


"Aku, aku." Mas Arlan tampak ragu.


Sulit sepertinya membuat suatu keputusan. Aku paham, aku akan terus memberikan kekuatan dan dukungan kepada suamiku dengan genggaman tanganku pada telapak tangannya. Namun, Sella tiba-tiba menangis, sehingga aku melepaskan telapak tangan Mas Arlan. Aku mengangkat tubuh Sella dari stroller itu. Kuambil susu yang telah disajikan di dalam bayi. Sembari memangkunya, aku memberikan susu itu kepadanya.


"Nia!" Tiba-tiba seseorang menyerukan nama Nia. Spontan aku menolah, tampak seorang pria mendatangi meja kami.


"Ridwan. Iya, di sini," jawab Nia kepada pria paruh baya itu, sembari berdiri.


Entah siapa pria itu. Usianya sepertinya tidak jauh berbeda dengan Mas Arlan, empat puluh empat atau empat puluh limaan atau mungkin lebih. Entahlah. Nia menarikkan satu kursi dan pria yang bernama Ridwan itu duduk.


"Emm ... Arlan, Fanni. Kenalin ini, Ridwan. Calon suamiku."


"Hah?!" Spontan aku dan Mas Arlan tersentak kaget. Namun, kami segera menyalami Ridwan yang sudah memajukan tangannya.


"Saya, Ridwan," ujarnya.


"Arlan."


"Fanni."


Nia tersenyum. Detik berikutnya, ia menyodorkan sesuatu yang telah ia ambil dari tas brandednya. "Ini, undangan pernikahan kami."


Aku segera mengambil kertas undangan tersebut. Kubaca dan sekitar satu minggu lagi, resepsi akan digelar. "Selamat ya, Mbak," ujarku. Kali ini, aku menatap Nia dengan perasaan lega. Akhirnya, ia bisa mendapatkan tambatan hati lagi dan tampaknya pria itu sangat baik.


"Terima kasih, Fanni. Sebenarnya, ... aku ingin kalian datang dan membawa Selli. Emm ... Arlan, aku tetap ibu dari Selli, kan? Aku ingin pernikahanku kali ini, ada Selli." Raut wajah Nia begitu memelas, bahkan ada buliran air mata yang jatuh. Membuat hatiku ikut bergetar.


Ridwan menghela napas dalam. "Saya ini rekan kerja Nia dan kebetulan sama-sama orang Indonesia. Ada momen di mana kami mulai dekat dan di situ saya tahu tentang masa lalu Nia, Mas. Tapi, saya yakin Nia sudah berubah. Saya tahu, saya enggak pantes ngomong seperti ini di depan Mas Arlan selaku mantan suami dan semua permasalah yang disebabkan oleh Nia di masa itu. Tapi, saya memohon kalian bisa datang dan membawa anak Nia dengan Mas Arlan."


Mas Arlan terlihat getir. Sesekali ia menatap Nia, juga Selli yang terbengong-bengong karena tidak mengerti. Aku kembali mengenggam tangannya lagi. Dalam beberapa saat, suamiku ini memang diam, namun setelah itu ia meminta kertas undangan dariku. Ia membacanya dengan seksama.


Kini pun, aku tahu perihal alasan Nia begitu memaksa agar kami datang ke acara makan malam. Ia ingin memberitahukan perihal pernikahannya sekaligus ingin meminta kesempatan agar Selli bisa mendampingi dirinya ketika menjadi seorang ratu sehari satu minggu lagi.


Mas Arlan menghela napas. "Maaf sebelumnya. Karna aku begitu membatasi pertemuan kamu dengan Selli. Kamu pasti tahu penyebabnya, kan?" tanyanya kepada Nia.


"Aku tahu, Arlan. Tapi, kali ini aja. Aku ingin potret pernikahanku ada anakku di dalamnya," pinta Nia. Ia memeluk Selli setelahnya.


"Mas, Nia sangat merindukan putrinya. Saya tahu itu," timpal Ridwan.


"Jangan khawatir. Saya akan datang membawa Selli."


Nia terkejut. "Beneran? Kamu kasih aku kesempatan?"


Mas Arlan mengangguk pelan. "Ya, tapi aku belum bisa kasih Selli bersamamu dalam waktu yang lama Nia. Hanya hari itu aja. Sampai perasaanku bisa sepenuhnya percaya padamu."


"Iya, iya, aku paham. Terima kasih, Arlan. Aku tahu perasaan kamu. Setelah hari itu, aku akan menunggu sampai Selli besar. Sampai Selli bisa menemuiku sendiri dan aku enggak bisa menculiknya lagi. Maksudnya enggak dicurigai seperti itu lagi."


Nia menangis haru. Ia sangat berterima kasih. Terpancar kelegaan hati pada parasnya yang awet ayu itu. Ia terus memeluk Selli. Padahal, hanya itu permintaannya. Ia ingin Selli mendampingnya saat ia menikah dengan Ridwan nanti. Ia rela tidak bisa bertemu Selli setelahnya karena Mas Arlan juga belum bisa sepenuhnya percaya kepadanya.


Aku tersenyum kepada Mas Arlan yang kini bisa mengesampingkan egonya. Ia memandangku dengan wajah yang masih getir.


"Kalian boleh mengunjungi Selli ke rumah, selama di sini," tambah Mas Arlan. Membuatku semakin terkejut dan justru membuat Nia semakin bersemangat.


Kali ini, Nia begitu tulus. Aku tahu, ia sudah berubah menjadi lebih baik. Makan malam ini menjadi acara yang mengharu biru seketika. Namun tetap ada suatu kelegaan. Masalah Mas Arlan dan Nia telah diselesaikan. Aku berharap, ke depannya tidak ada masalah lagi. Dan aku percaya kepada suamiku, ia bisa bersikap bijak dan mengatur semuanya dengan baik.


****


Next--

__ADS_1


__ADS_2