
Suatu hari, datang tiga orang tamu. Maksudku empat sekaligus Pak sopir yang sedang berbincang dengan Pak Edi diluar. Sebelum mereka dipersilahkan masuk oleh Mas Arlan, aku tertegun diam dalam beberapa saat. Hal yang membuatku sedikit heran, mengapa mereka datang bertamu ke rumah ini? Ada apa lagi? Begitulah kiranya pertanyaan yang sempat muncul dari dalam benakku.
Ya, Nyonya Dahlia bersama kedua putri kembarnya. Bahkan bukan hanya diriku, melainkan juga suamiku. Kami tidak menyangka, meski menggunakan kursi roda, Nyonya Dahlia bersedia bersinggah di rumah ini. Aku tidak tahu perihal apa yang membuat beliau berkenan datang. Terlebih dalam kondisi sakit keras yang tidak kunjung sembuh seperti sedia kala.
"Assalamu'alaikum Arlan dan Fanni," sapa beliau. Sapa islam yang terkesan aneh jika dilontarkan oleh beliau. Mungkin karena image seram yang sempat ada pada diri beliau.
"Wa'alaikumssalam," jawabku bersama Mas Arlan yang tidak sengaja kami katakan secara berbarengan.
"Kalian nggak mempersilahkan kami masuk?"
"Oh, ya. Silahkan masuk, Mbak. Ajeng dan Diandra juga. Mari saya bantu." Mas Arlan bergerak cepat untuk meminta pegangan kursi roda yang digenggam oleh Diandra. Setelah itu, ia mendorong pelan untuk masuk ke dalam. Dan kami semua mengikutinya. Namun sebelum itu, Diandra dan Ajeng menyalami dan mengecup punggung tanganku secara bergantian.
Apa ini? Haruskah gue seneng? Nggak tahu deh. Bingung. Nggak ngerti sama sekali, sumpah!
Dengan perasaan yang penuh tanda tanya, aku berjalan menuju dapur untuk mencari Bi Onah. Sedangkan mereka sudah duduk di ruang tamu bersama suamiku. Aku berharap kedatangan mereka membawa kabar dan maksud yang baik. Setidaknya agar kami se-keluarga bisa tenang. Sekalipun meminta bantuan, Mas Arlan pasti berkenan membantu dengan upaya dan apa yang bisa ia lakukan.
Di tengah pintu keluar belakang, tampak Bi Onah tengah bersenandung sembari menyibukkan diri dengan mengusap buah-buahan segar. Orang tua satu itu selalu sibuk seperti itu, ada saja aktivitas yang dilakukan. Apalah diriku yang merupakan kaum rebahan, rasanya sangat malu jika melihat beliau yang sangat rajin meski Mas Arlan tidak meminta beliau bekerja terlalu keras.
"Bi?" Aku memanggil Bi Onah, sampai beliau menatapku.
Tidak perlu diulang, beliau sudah sadar akan kedatanganku. "Iya, Mbak. Bentar." Beliau berdiri dari duduk lesehan dan menghampiriku.
"Fanni minta tolong, bikinin teh ya, Bi. Yang anget."
"Siap, Mbak. Berapa gelas?"
"Delepan, Bi."
"Banyak amat, Mbak. Ada tamu besar kayaknya ya?"
Aku tersenyum. "Iya, Bi. Dari rumah besar, satu gelas buat Bibi. Lima gelas buat yang di ruang tamu."
"Terus yang dua gelas lagi?"
"Buat Pak Sopir dan Pak Edi, Bi."
"Siap, Mbak Fanni. Nanti saya anter. Tapi tujuh aja, saya udah minum kok. Hemat hehe."
"Hmm ... iya deh iya. Yang penting tamunya dibikinin ya."
Setelah itu, aku hendak kembali melangkah menuju ruang tamu guna menemui mereka semua. Sedangkan Bi Onah sudah menyibukkan diri sesuai permintaanku. Bersama perut yang besar ini, aku berjalan dengan langkah yang pelan. Begini rasanya hamil, aku dibuat terkesan setiap saat. Suatu hari nanti, pada saat si bayi sudah keluar, aku pasti merindukan saat-saat seperti ini.
Sejenak kuhentikan langkahku, menilik keadaan mereka. Dari balik dinding, aku tengah mengintip. Mengapa tidak ada satu pu orang yang tersenyum? Semua begitu serius. Apa sebenarnya yang terjadi? Aku sampai dibuat tegang sendiri. Ah, tidak! Tidak boleh ada masalah lagi.
Ya Allah, lindungilah keluargaku dari segala hal yang buruk. Amin
Sebelum melanjutkan langkah, kuhela napas dalam dan mengembuskannya kembali. Bersama ketegangan ini, aku berjalan lagi guna menghampiri ruang tamu dimana mereka berada.
__ADS_1
Tersenyum, itulah yang aku lakukan ketika Nyonya Dahlia memberikan tatapan mataku kepadaku. Beruntungnya, beliau membalas dengan hal yang serupa. Sedangkan Ajeng dan Diandra? Mereka duduk sembari menunduk diam. Entahlah, aku rasa mereka masing enggan kepada kami, terlebih kepada Mas Arlan. Yah, namanya anak remaja pasti belum memiliki pemikiran yang dewasa. Apalagi mereka tumbuh didalam keluarga yang kaya dan aku tidak tahu cara didik keluarga Harsono itu bagaimana.
"Sini, Dek," pinta Mas Arlan kepadaku sembari menunjuk kursi yang tepat berada di sampingnya.
Tidak perlu berpikir lama lagi, aku mengangguk pelan. Kemudian mengambil posisi senyaman mungkin agar tidak merasa begah karena perut yang besar.
"Nggak kerasa, udah makin besar aja perutnya. Sebentar lagi melahirkan ya?" tanya Nyonya Dahlia kepadaku. Beliau tersenyum ramah. Jujur saja, aku melihatnya malah merasa aneh.
"Iya, Nyonya. Mungkin hitungan minggu," jawabku.
"Hmm ... jangan panggil nyonya. Aku ini kakak kamu, Fanni. Maaf, mungkin kamu belum bisa menerima perlakuan dan sikap saya waktu itu."
"O-oh, en-enggak gitu kok. Emm ... M-mbak Dahlia."
Lagi-lagi beliau tersenyum. "Begitu lebih terdengar enak di telinga."
"Ah, iya."
Setelah perbincangan singkat diriku dan Nyonya, bukan! Maksudku Mbak Dahlia, kemudian terhenti lantaran datangnya Bi Onah bersama nampan berisi cangkir teh hangat. Beliau menghampiri meja dan meletakkan lima gelas dihadapan masing-masing orang. Ucapan terima kasih diterima oleh beliau dari semua orang yang ada disini, termasuk diriku. Selanjutnya beliau membawa dua cangkir ke depan dimana Pak Sopir sedang bercengkerama dengan Pak Edi.
"Ayo, silahkan diminum air murah ini." Mas Arlan mempersilahkan tamu-tamunya untuk menyesap sajian yang disediakan.
Lalu Mbak Dahlia dan kedua putrinya, mulai menyesap air teh yang disajikan didalam cangkir masing-masing. Sejauh ini, aku belum mendengar satu kata pun perihal maksud dan tujuan mereka datang. Aku rasa, Mas Arlan pun juga belum mengetahuinya. Tampaknya, kami perlu waktu bicara yang panjang.
"Emm ... Om Arlan, Selli dimana? Bolehkan kalau aku temui?" tanya Diandra tiba-tiba.
Ajeng pun menimpali, "aku juga naik ya, Om?"
"Iya, naik aja. Jangan sungkan gitu ah."
Keduanya tersenyum malu-malu, setelah itu berunding sebentar lalu beranjak berdiri dan mengambil langkah untuk ke tempat dimana Selli berada. Aku bersyukur, ternyata sudah tidak ada dendam kepada kami dari mereka berdua. Tampaknya, sang ibu sudah memberikan pengertian.
Selepas kepergian si kembar, kini hanya ada kami bertiga disini. Aku terdiam untuk menunggu pembicaraan yang akan terjadi antara Mas Arlan dan Mbak Dahlia. Mbak? Jujur, masih sedikit aneh bagiku. Namun mau bagaimana lagi, ini permintaan beliau. Lagipula panggilan itu sebenarnya panggilan yang tepat dariku untuk beliau. Hanya saja, memang belum terbiasa.
Mas Arlan berdeham pelan. "Jadi, ... ada apa Mbak datang kesini? Masih belum pulih lho. Kalau ada sesuatu seharusnya aku yang datang ke rumah," ujarnya.
Mbak Dahlia menatap Mas Arlan. "Kamu mempunyai istri yang sedang hamil. Aku nggak mau kamu kerepotan lagi, Arlan. Apalagi hari libur begini pasti jarang kamu dapatkan," jawab beliau.
"Iya sih. Tapi, si istri baik-baik aja. Ditinggal sebentar pun nggak apa-apa. Iya kan, Sayang?"
"Emm." Aku mengangguk pelan.
Mas Arlan kembali berfokus kepada Mbak Dahlia. "Tentang Ibu Leny lagi, kah?"
"Ya, apa kamu masih belum menemukan mereka?"
Mas Arlan terdiam dalam beberapa saat. Kini aku tahu maksud kedatangan Nyonya Dahlia. Aku juga baru tahu, kalau Ibu Leny dan William masih belum ditemukan tempat tinggalnya. Tampaknya mereka berdua benar-benar sudah muak dengan keluarga Harsono, terlebih perihal perilaku Mas Dian yang tidak mengakui mereka pada saat itu. Jika aku diposisi mereka pun, responku akan sama. Rasa sakit hati yang luar biasa.
__ADS_1
Mengetahui Mas Arlan yang diam seolah mengiyakan perkataan beliau, Mbak Dahlia hanya menampilkan raut kecewa. Mungkin niat hati yang sempat beliau sampaikan kepada suamiku sampai kini masih tetap harus dilakukan.
"Maaf, Mbak. Belum ada info lagi soal mereka. Aku juga masih sibuk kerja. Beberapa kali aku mengunjungi kantor kependudukan bersama Roni, tapi nggak ada hasilnya. Kayaknya mereka enggak tinggal di negara ini," jelas Mas Arlan.
Mbak Dahlia tampak sedang menelan saliva. "Kayaknya mereka juga udah mengganti kewarganegaraan. Jadi, nggak ada data mereka disana. Sebelum itu, kamu bertemu mereka dimana?"
"Canberra, Australia. Itu pun nggak mudah buat melacak keberadaan mereka. Tempat itu terlalu luas. Sangat luas, dan aku nggak yakin mereka masih ada disana. Pasti mereka berusaha menyembunyikan diri dari kami."
"Canberra? Ibukota ya? Apakah kamu nggak bisa ke sana? Kayaknya mereka pulang ke sana deh."
"Maaf, Mbak. Istriku lagi hamil besar, aku nggak bisa bepergian jauh. Lagipula, aku ini direktur di Sanjaya Group. Dengan kata lain, aku masih bekerja dibawah naungan orang lain walaupun udah memiliki beberapa persen saham. Karna aku memiliki saham yang nggak terlalu besar."
"Hmm ... iya. Aku tahu, Arlan. Maaf, kayaknya Mbak-mu ini terlalu berambisi."
Mengapa Mbak Dahlia begitu menginginkan Ibu Leny kembali bersama Mas Dian? Padahal beliau pasti tahu bahwa hubungan kedua orang itu sudah rusak dan tidak bisa diperbaiki. Apalagi oleh ulah mereka sendiri. Aku tidak mengerti. Seharusnya, beliau berfokus pada kondisi diri sendiri dulu. Harus sembuh lalu meminta maaf dengan benar kepada sanga korban dari kejahatannya.
Entahlah, setiap orang memiliki pemikiran masing-masing. Siapa yang tahu, jika beliau menginginkan hal tersebut demi ketenangan batin.
"Kenapa? Kenapa emm, ... Mbak Dahlia nggak fokus pada kondisi sendiri dulu?" tanyaku dengan segala keberanianku.
Lantas, beliau memberikan tatapan seketika kepadaku. "Siapa yang tahu kalau aku bisa sembuh dengan cara menebus kesalahanku, Fann. Aku merasa nggak pernah tenang, kalau mereka berdua belum bersatu," jawab beliau.
Mas Arlan pun ikut menimpali, "sebenarnya nggak perlu memaksakan kehendak, Mbak. Benar kata Fanni, lebih baik sembuh dulu. Makin hari kondisi Mbak Dahlia makin lemah. Tanpa mereka bersatu pun, rasanya Ibu Leny dan William udah lebih tenang dan bahagia."
Mbak Dahlia menggelengkan kepala. "Enggak, Arlan. Aku merasa, mereka harus bersatu. Sekalipun nanti aku berhasil sembuh. Aku ikhlas kalau harus pergi bersama kedua putriku.
"Begini, Mbak. Seharusnya dipertimbangin lagi, dirundingin sama Mas Dian juga. Nanti bisa disampaikan oleh Mas Arlan. Keinginan Mbak Dahlia belum tentu sama dengan Mas Dian," ujarku.
"Enggak. Kalian nggak ngerti gimana perasaanku. Serasa setiap hari ditekan oleh sesuatu yang berat. Aku harus menyatukan mereka berdua dan sang putra. Mohon bantu aku, Arlan, Fanni. Hanya kalian yang bisa membantu. Mas Gun udah lepas tangan. Setidaknya, setelah Fanni melahirkan nanti."
Sulit, Mbak Dahlia memiliki tekad yang kuat. Rasa bersalah yang besar menyelimuti hati beliau setiap harinya. Meski tubuh sudah kurus kering, beliau tidak peduli. Keinginan beliau hanya satu yaitu menyatukan Ibu Leny dan Mas Dian bersama William. Seandainya berhasil sembuh pun, beliau berjanji akan pergi bersama Diandra dan Ajeng. Lantas, bagaimana perasaan si kembar tentang tekad sang ibu? Aku tidak tahu.
Dalam beberapa saat, Mas Arlan juga tampak bimbang. Ada perasaan ingin menolak, namun ada juga perasaan tidak tega. Sebenarnya bisa saja ia pergi ke luar negeri setelah aku melahirkan nanti, namun apakah Ibu Leny dan William bisa ditemukan lagi? Sekalipun ditemukan, apakah mereka bersedia kembali datang ke negara ini dan bersatu dengan Mas Dian yang sudah menghancurkan hidup mereka?
Beberapa kebimbangan itu sepertinya sangat mengganggu suamiku. Bahkan aku yang tidak terlibat jauh, merasa bingung sendiri. Mbak Dahlia tidak bersedia mendengarkan saran dari kami mengenai fokus kepada diri sendiri. Padahal tujuan itu membuat diri beliau merasa kesulitan dan tertekan sendirian. Aku juga tidak tahu, apakah Mas Dian mengetahui rencana ini dari dalam jeruji besi sana.
"Baik, Mbak." Mas Arlan kembali membuka suara. "Aku akan mencari mereka. Nanti bisa atur cuti kerja. Tapi, aku harus menunggu sampai istriku melahirkan."
"Ah! Baik, nggak apa-apa, Arlan. Terima kasih banyak. Harapanku satu-satunya hanya padamu," jawab Mbak dahlia dengan raut sumringah.
Sedangkan diriku tidak tahu harus berkata apa. Tidak merasa keberatan namun juga tidak merasa senang, entahlah aku bingung. Hal itu sudah diputuskan oleh Mas Arlan, lantas aku bisa apa kecuali mendukungnya? Aku rasa, ia juga sudah memikirkan beberapa kemungkinan sebelum memutuskan. Baiklah, tidak apa-apa. Demi niat baik dari Mbak Dahlia, aku yakin hasilnya pun bisa baik. Lagipula membantu orang lain tidak ada salahnya, meski aku harus ditinggalkan jauh ke Canberra, Australia. Dan mungkin akan memakan waktu yang cukup lama. Baiklah, tidak apa-apa. Semoga misi ini berhasil.
Setelah membahas hal itu, kami hanya berbincang ringan perihal kehamilanku dan beberapa nasehat yang diberikan oleh Mbak Dahlia. Tidak ada lagi keberatan hati lagi diantara kami, yang ada beratnya badanku ini. Raut wajah beliau yang tadinya cemas, kini berangsur lebih ceria. Meski jauh didalam tubuh beliau tersimpan penyakit ganas yang mematikan, bahkan sampai menyebabkan beliau tidak kuat berjalan dan menggunakan bantuan kursi roda.
Semoga saja, beliau bisa sembuh seperti sediakala. Disisi tidak tega kepada beliau, aku juga kasihan melihat Ajeng dan Diandra. Kedua anak remaja itu, masih membutuhkan figure seorang ibu secara sempurna.
Bersambung ....
__ADS_1
Budayakan lagi like+komen ya