
HAPPY READING, HAPPY 200 EPISODE. GIVEAWAY DI NEXT YA
****
"Dek, kamu beneran nggak apa-apa? Mas bisa lho langsung kerja sekarang," tanya Mas Arlan sembari menyantap hidangan sahurnya.
Aku tersenyum. "Enggak apa-apa, Mas. Kamu istirahat dulu, anak-anak masih kangen sama kamu," jawabku.
"Bisa sih, Mas pernah ngurus Selli sendirian. Tapi kamu-nya nanti kewalahan."
"Nggak, Sayang. Aku ini ibu hebat!"
"Cantik lagi, ya?"
"Gendut juga, ya?"
"Iya. Eh! Sexy deng."
Aku menatapnya nanar. "Fitnah lebih kejam daripada enggak fitnah!"
"Ya iyalah, Dek. Aneh kamu!"
"Yee, ... dibilangin kok."
Mas Arlan hanya tertawa, bahkan bukan hanya dirinya saja, melainkan juga Bi Onah yang turut sahur dipagi buta ini. Sementara itu, Selli saling berbagai dengan Mas Arlan. Aku sibuk bersama bule kecilku. Suasana puasa pertama kalinya bersama Sella. Ada suatu bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Semua serba indah untuk dipikirkan, bahkan dijalani.
Terlintas kenangan puasa ditahun lalu yang hanya ada aku, Mas Arlan dan Selli. Keadaan waktu itu juga tidak stabil lantaran masih ada sisa ketegangan dari permasalahan Mas Dian. Belum lagi, ibuku masih acuh tak acuh kepada Mas Arlan. Namun kini, keadaan berbanding terbalik. Meski semuanya belum tuntas, tetap ada perbedaan yang bisa dikatakan jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Senyumku pun kian merekah pada saat menatap semua keluarga kecilku berkumpul. Sesuatu yang tidak bisa digantikan dengan uang ataupun harta.
"Mas, aku mau curhat sama kamu," ujarku kepada suamiku itu.
Sontak, ia menatapku dan menghentikan santapannya sejenak. "Apa, Dek? Cerita aja, Mas dengerin sambil makan ya?"
"Iya, Sayang. Ini soal kantor."
Dahi Mas Arlan mengernyit seketika. "Kantor? Ada masalah apa, Dek? Kata kamu, kamu disambut baik-baik sama karyawan, kan?"
Aku mengangguk pelan sembari tersenyum. "Malah, mereka minta aku yang di sana. Enggak kamu lagi."
"Lho? Kok gitu?"
"Aku nggak tahu, Mas. Kamu jahat kali."
"Hmm, ... apa-apaan tuh? Masa' citra istri lebih baik daripada suami."
"Emangnya kamu ngapain aja pas di kantor? Nyampe mereka pada kayak gitu."
Mas Arlan kembali menghentikan bersantapnya. Dahinya berkerut, bibirnya mengerucut. Sepertinya ia tengah mengingat-ingat sesuatu, mungkin berhubungan dengan pekerjaan di kantornya. "Kayaknya gegara Mas galak deh, Dek."
"Galak?"
Mas Arlan mengangguk. "Iya, Dek. Walaupun sebenarnya tegas doang. Nggak galak-galak banget, tapi Mas ini pemberi hukuman, Dek. Kalau ada yang nggak disiplin, sepanjang jam kerja, Mas suruh orang itu buat ngalungin kertas yang ada tulisannya dan minta tanda tangan dari semua karyawan dari divisi manapun."
Aku terkesiap. Kemudian menelan saliva dengan perasaan kelu. Hukuman yang ia berikan, apakah tidak berlebihan? Mungkin jika aku yang berada di dalam posisi itu, aku pasti sudah tidak tahan. Akan malu jadinya jika kemana-mana membawa kalung kertas bertuliskan sesuatu dan meminta tanda tangan dari semua karyawan, yang bahkan belum dikenal. Kali ini aku menilai Mas Arlan bukan sosok pria lembut, melainkan ada sesuatu yang sedikit menyeramkan di dalam dirinya.
Pantas saja, hampir semua karyawan sangat bersyukur ketika aku menggantikan posisinya. Mungkin mereka merasa bebas dalam sementara waktu dari direktur killer. Astaga! Suamiku? Entah aku harus mengucapkan apa lagi kepadanya. Bagi diriku saja, hal itu sangat mengerikan. Terlebih bagi mereka di dalam lingkup kantor sana.
"Kenapa, Dek?" tanya Mas Arlan tiba-tiba, sehingga berhasil membuyarkan pikiranku yang sedang menerawang. Ia begitu santai, bak sudah terbiasa dengan sifatnya itu.
Aku tersenyum kecut. "Nggak apa-apa, Mas. Enggak nyangka aja," jawabku.
"Nggak nyangka gimana, maksud kamu?"
"Kamu jahat! Kalau aku jadi bawahan kamu, juga nggak bakalan betah."
"Kamu kan bawahan ter-spesial." Mas Arlan terkekeh kecil. Bagaimana bisa pria sekonyol ini, berbuat seperti itu terhadap karyawannya? Rasanya memang sangat sukar dimengerti.
"Nggak boleh kayak gitu kali, Mas. Jangan galak-galak begitu ih. Kalau pada kabur gimana coba?"
"Mas kan cuma tegas, Dek. Alasennya juga sama kok, karna perusahaan itu kecil. Jadinya pada menganggap remeh. Lagian karyawannya nggak banyak, nggak nyampe seratus orang. Jadi gampanglah nyari tanda tangan."
"Ya, tetep aja! Malu kalau enggak kenal mereka."
"Ya, salah sendiri, siapa suruh nggak disiplin. Masih ada kerjaan pada seenaknya, coba deh kalau nganggur, bingung kan pasti? Orang kayak gitu harus dikasih pelajaran, biar menghargai waktu dan pekerjaan. Kalau udah nyerahin tanda tangan itu, Mas kasih wejangan."
"Emangnya, tanda tangan nggak bisa dimanipulasi? Bisa aja kan, kamu cuma dibohongin."
__ADS_1
"Jangan panggil Mas Arlan kalau enggak cerdas, Dek. Setiap karyawan kan punya nomor di Id-card, setiap tanda tangan harus ada nomor pemiliknya. Jadi enggak bisa bohong." Mas Arlan tertawa dengan bangga bak telah mendapatkan sejumlah piala kemenangan.
Sedangkan diriku terdiam bersama perasaan yang getir. Aku masih tidak menyangka. Entah bagaimana karyawannya bertingkah, sampai ia membuat kebijakan itu. Sepanjang aku menggantikannya, rasanya semua aman-aman saja. Oh, atau aku sedang dibohongi? Aku memang tidak pernah mengawasi mereka, kecuali mendapatkan laporan dari Rose--sekretaris Mas Arlan.
Bukan hanya di kampus yang memiliki seseorang killer, melainkan juga lingkup kantor ketika direkturnya setegas itu dalam memimpin. Aku terenyak. Meski begitu, ada sisi positif yang bisa aku ambil. Suamiku tidak akan mudah digoda oleh wanita lain. Untuk hal ini, aku sedikit memberikan dukungan.
Hehehe.
"Ya udah, bentar lagi imsak. Buruan makan kurmanya, jangan banyakan becanda sama anak. Anak masih makan juga digangguin!" tegasku pada saat Mas Arlan menggoda Selli dan menyebabkan gadis itu berteriak sebal.
"Orang becanda ya, Kak, ya? Masa' Mama yang marah," balas Mas Arlan tidak mau kalah.
Selli menggerutu, "Papa yang salah. Papa nakal banget, Mama enggak salah! Week."
"Eh?! Kok gitu sama Papa sih? Sini, sini." Mas Arlan menangkap tubuh Selli dan digelitik sampai sang anak berteriak.
"Papa jahat!" Akhirnya Selli jatuh menangis. Teriakannya berubah menjadi tangisan khas anak kecil. "Mamaaa! Papa jahat, Maaa!"
"Mas! Udah dibilangin juga. Itu anaknya udah nangis. Ya Allah! Ini tuh udah mau imsak. Jangan begitu dong, ih! Anak lagi anteng malah dibikin nangis. Mikir atuh, ini jam berapa. Anak lagi belajar puasa kok malah dibikin down." Aku sudah tidak bisa menahan kekesalan lagi. Ditambah Sella turut rewel karena terganggu dengan keberisikan yang dibuat oleh Mas Arlan.
"Iya, iya, maaf. Maafin Papa ya, Kak?"
"Nggak mau! Papa jahat!"
Selli dilepas olehnya seketika, gadis itu berlari meninggalkan makanannya dan menghampiriku. Ia berdecak sebal, kuputar bola mataku pada saat Mas Arlan cengengesan penuh rasa bersalah. Bayiku menjadi tidak hanya satu, melainkan ada tiga. Jika sudah seperti ini, rasanya ingin meledak. Suamiku jika sedang usil, sangat menyebalkan!
Kuambil piring makanan Selli. Kemudian aku duduk di salah satu kursi. Sembari memberikan ASI kepada Sella, aku menyuapi putri pertamaku itu. Aku tidak enak hati karena Bi Onah pun masih bersantap, sehingga memutuskan untuk mengatasi Selli. Apalagi Selli tidak akan berkenan, jika tidak bersama seseorang yang ia pilih detik ia menangis.
"Sini sama Papa ya, Kak? Kasihan Mama masih ngurus Dede'," tawar Mas Arlan kepada putri pertamanya nan cantik itu.
"Nggak mau, Papa nakal banget!" tolak Selli detik berikutnya.
Aku masih mendengkus kesal. "Udah sana, ngapain kek. Minum yang belum diminum, makan yang masih bisa dimakan. Jangan bikin anak rewel lagi," selaku.
"Kasihan kamu, Sayang. Kerepotan."
"Kalau kasihan ya dari tadi. Bukan pas udah begini baru sadar."
"Iya, iya, Mas minta maaf. Maafin Papa ya, Kak Selli?"
Mas Arlan mengangguk mantap. "Iya, siap, Papa janji!"
"Terus nanti pas buka puasa, Selli mau cookies yang enak itu sama ice cream, sama waffle, sama martabak manis sama brownies yaaa?"
Mas Arlan tampak terkesiap. "Kok jajannya banyak sih? Siapa yang ngajarin begitu?" Sontak ia menatapku penuh rasa curiga.
Aku menelan saliva seketika. "Apa?!" tegasku.
"Jangan dimanjain jajan dong, Dek. Entar kebiasaan lho."
"Lho? Kok aku sih, kan anaknya yang minta, Mas."
"Iya, tapi Mas belum ke Canberra, anaknya nggak jajan sebanyak itu."
"Ih! Apaan sih?! Terus kamu mau bilang kalau aku yang ngajarin jajan gitu? Apaan sih? Aku nggak gitu, lagian bisa aja Selli cuma becanda.Udah ah! Males aku." Setelah itu, aku beralih kepada Selli. "Yuk, Kak. Kak Selli sama Bi Onah dulu ya? Sikat gigi, minum air putih. Kalau udah imsak, ambil wudhu ikut papa ke masjid atau sama Bibi terserah. Nanti gantian jagain Dede' Sellanya."
Selli mengangguk. Beruntung kali ini ia menurutiku, karena memang sudah berbaikan dengan sang ayah. Kini malah, aku yang berganti sebal kepada si ayah itu. Bi Onah sudah selesai dan membawa Selli.
Aku mengabaikan Mas Arlan. Kuambil langkah pergi dari sini, dengan masih membawa Sella di gendonganku. Pagi buta seperti ini, ada saja yang membuat kesal. Padahal aku tidak berlaku seperti yang ia tuduhkan. Mungkin hanya beberapa kali, aku menuruti keinginan Selli, tidak sering. Jika dibandingkan dengan dirinya, bahkan ia lebih parah dalam memanjakan anak. Tidak hanya makanan, game, atau mainan pun ia berikan. Ah! Ya sudahlah!
****
"Sayang, bangun." Mas Arlan terdengar sedang berbisik di telingaku.
Aku membuka mataku perlahan. Ternyata mentari sudah menampakkan diri bersama sinarnya. Tidak aku sadari, aku tertidur kembali usai memberikan--ASI--kepada Sella. Tepatnya usai menjalankan ibadah subuh beberapa saat yang lalu. "Iya, Mas," jawabku sembari membangunkan tubuhku.
"Udah jam setengah tujuh. Kamu jadi ke kantor ini?"
Aku mengangguk pelan. "Iya, Mas."
"Ya udah, siap-siap dulu. Nanti Mas anter, ya?"
"Nggak mau!"
Mas Arlan terkejut. "Lho? Kok gitu?"
"Aku masih kesel sama kamu. Jangan ngomong sama aku."
__ADS_1
"Lah? Dari tadi juga udah ngomong, ini juga udah ngomong lho, Dek."
"Ya udah, dimulai lagi dari sekarang."
"Dih! Maafin Mas, kenapa? Tadi kan cuma nanya doang, enggak nuduh."
Aku terdiam. Tidak aku pedulikan lagi ucapan Mas Arlan, mungkin sampai suasan hatiku kembali baik. Kutengok Sella sebelum bergegas, ia masih tertidur pulas. Ketenangan dan wajah anak memang menjadi obat paling mujarab. Hatiku bak disiram air segar, sehingga merasa lebih nyaman. Aku membungkukkan badan dan memberikan kecupan manis di pipi Sella.
"Yah!" Mas Arlan menepuk dahinya. "Tadi kan Mas belum dapet kecupan manis, Dek?"
"...."
"Dek? Ih, jangan ngambek lagi. Mas minta maaf, Sayang. Bulan puasa lho, masa' gitu? Masa' kalah sama Selli sih."
Aku meliriknya sinis, kemudian masih kubiarkan. Diri ini telah sibuk mencari pakaian kerja yang akan aku pakai hari ini. Seperti yang Mas Arlan katakan tadi, sesuatu yang tidak benar harus diberikan pelajaran. Maka daripada aku menanggapi dirinya, lebih baik bersenandung kecil agar lebih santai.
"Eh?!" Benakku terbayang wajah Selli tiba-tiba. "Selli udah berangkat ke sekolah, Mas?"
Mas Arlan tersenyum. "Katanya nggak mau ngomong sama Mas, Dek?"
"Ih!" Aku mendengkus kesal.
"Hei, siapa yang bikin aturan, siapa yang marah."
"Kamu mah gitu! Nyebelin!"
"Lah, kok Mas lagi sih?"
"Pokoknya kamu!" Aku berjalan menuju pintu dengan perasaan sebal yang terus tumbuh subur.
Mas Arlan bergumam, "Emak-emak nggak pernah mau kalah. Hmm ...."
"Apa?!" Aku berbalik badan seketika.
Ia terkejut, bahkan kedua bahunya sampai terangkat. "En-enggak, Dek. Kamu cantik, i love you."
"Halah!"
Kembali kulanjutkan langkahku yang sempat terhenti. Aku memilih menuju kamar mandi bawah supaya bisa bertemu dengan Bi Onah, dengan begitu aku bisa bertanya kepada beliau perihal Selli. Sejumlah anak tangga, aku tapaki satu persatu seperti biasanya. Benakku teringat gumaman dari Mas Arlan perihal emak-emak. Why? Mengapa aku tersinggung, meski sudah mendapatkan gelar itu? Terlebih emak dari dua anak. Entahlah, aku masih ingin dianggap muda.
Hihi.
Sesampainya di dapur, aku mendapati Bi Onah yang tengah membuat adonan. Sepertinya beliau hendak membuat kue. Lantas, aku menghampiri beliau sebelum lanjut ke kamar mandi.
Aku melirik adonan tersebut. "Mau bikin apa, Bi?" tanyaku.
Bi Onah tersenyum tanpa menatapku. "Kue kering khas lebaran, Mbak. Bentar lagi kan, ya? Siapa tahu ada tamu nanti," jawab beliau.
"Oh, bisa ya, Bi? Fanni mah nggak bisa, boro-boro kue, bikin nasi aja jadi bubur."
"Nanti kalau senggang Bibi ajarin, Mbak. Lumayan kan kalau bisa bikin sendiri, apalagi papa-nya Mbak Fanni lagi bisnis roti-rotian."
"Iya, Bi. Nanti yah? Biar nggak malu juga. Oh iya, Selli udah berangkat, Bi?"
"Udah, Mbak. Diantar sama Mas Arlan tadi. Katanya mau bangunin Mbak Fanni, kasihan gitu."
"Owalah, ya udah, Bi. Fanni mau mandi. Hari ini, Fanni nitip anak-anak lagi ya, Bi. Sama mama-ku nanti masih ke sini. Maklumin kalau lagi ngomel, apalagi sasarannya udah pulang."
Bi Onah tersenyum. "Siap, Mbak."
Aku melanjutkan langkahku menuju kamar mandi. Kemudian, memulai ritual bebersih diri.
****
Pukul setengah delapan tadi, aku baru berangkat dengan diantarkan oleh Mas Arlan.
"Hati-hati, Dek. Jangan genit, salam buat semuanya. Umumin Mas bakal balik segera, biar mereka kejang-kejang," ujar Mas Arlan sebelum aku turun dari mobil yang kami tumpangi.
"Hus!" Sontak, aku mencubit bahunya, bahkan ia sampai menampilkan raut yang kesakitan. "Ngaco Mas kamu kalau ngomong. Dasar! Kamu juga hati-hati, siapin telinga dan hati untuk mendengar ceramah dari Mama." Senyumku merekah mengejeknya.
Aku mengecup punggung telapak tangan Mas Arlan. Setelah itu turun, kemudian ia melaju mobilnya kembali. Aku menunggu mobilnya sampai hilang dari padangan mata sebelum masuk ke dalam kantor.
Bersambung ...
Yuk, main kata!
Next episode!
__ADS_1