Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Tidak Kusangka


__ADS_3

Kini pun tak ada yang bisa kulakukan kecuali diam. Raut wajah dari Mas Arlan tampak geram. Entah apa yang membuatnya marah. Sedang Riska terlihat salah tingkah. Aku rasa, ia bingung akan berbuat apa. Begitu juga Celvin. Tingkah mereka sama sekali tidak membuat aku mengerti dengan cepat.


Mas Arlan menggelengkan kepalanya sembari menatap Riska dengan tajam. "Jadi selama ini yang bantuin kamu, dia orangnya?"


"E-nggak Om," jawab Riska tergagap.


"Riska! Jawab saya dengan jujur!"


"Om Arlan a-aku bisa jelasin soal ini."


Celvin pun maju, ikut andil dalam perdebatan mereka. Sedang aku dan Ivan sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.


"Maaf Om Arlan jangan salah paham," ujar Celvin selanjutnya.


"Diam kamu!"


Sontak saja, Celvin tidak bisa berkata apapun lagi.


Sepertinya amarah Mas Arlan telah mencapai puncaknya. Baru kali ini, aku melihat Mas Arlan yang seperti ini. Tanpa aku ketahui sedikit pun permasalahan apa yang sedang diperdebatkan sekarang.


Ivan akhirnya maju, ia menenangkan hati Mas Arlan terlebih dahulu. Lalu mempersilahkan untuk duduk disalah satu bangku.Meski awalnya Mas Arlan menolak, namun akhirnya ia bersedia. Saat ia menatap mataku dan aku memberikan isyarat agar ia lebih tenang.


Demi menunggu urusan mereka, aku menjauh terlebih dahulu. Aku dan Celvin duduk di bangku yang terpisah. Yang aku dengar, Riska terus berusaha menjelaskan tentang hubungan kerja dengan Celvin.


Oh... jangan-jangan, Mas Arlan adalah kerabat Riska. Dan sesuai dengan cerita dari Celvin. Keluarga Riska tidak ada yang mengetahui tentang kerja sama ini. Kemungkinan besarnya, memang begitu. Lalu saat ini Riska tengah terciduk oleh Mas Arlan.


Astaga! Mana mungkin se-kebetulan ini?


Urat-urat hijau menghiasi wajah Mas Arlan. Membuatku sedikit cemas padanya. Aku sendiri tidak mengenal tentang amarah Mas Arlan. Yang aku tau hanya sikap lembut dan sabarnya padaku. Lalu, jika seperti ini. Aku bisa membantu apa?


Pada Riska saja, aku sudah takut. Aku jauh dari kata sempurna dan juga disiplin kerja. Apa respon yang akan wanita cantik itu berikan padaku? Jika ia mengetahui aku adalah kekasih barunya Mas Arlan. Belum lagi, ternyata Mas Arlan merupakan anggota keluarga dari pemilik perusahaan besar juga.


Oh Tuhanku! Mengapa banyak sekali masalah dalam hubungan kami?


BRAAAKKK!!!


Sontak saja aku kaget. "Celvin???"


"Om ini salah saya, bukan salah Riska," ujar Celvin dengan tegas diiringi langkah kakinya menghampiri Mas Arlan.


Tidak hanya aku yang kaget, melainkan Riska, Ivan juga Mas Arlan. Aku semakin bergidik ketakutan dibuatnya. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada mereka. Belum lagi, ada cctv dan juga para pengunjung lain. Bukan hanya nama mereka yang akan buruk jika terlibat dalam perkelahian. Namun juga nama perusahaan mereka juga.


Lalu aku harus bagaimana? Aku takut dan juga tidak punya hak untuk ikut campur.


GREEPP!!!


Astaga! Mas Arlan menarik paksa kerah baju Celvin saat atasanku tersebut sudah ada dihadapannya. Aku terbelalak hebat lagi dan lagi. Ivan sendiri tidak bisa berbuat apapun, hanya Riska yang mencoba melerai.


"Gue udah ngomong sama Loe jangan deketin keluarga kami, terlebih Riska! Apa belum cukup, keluarga kalian menghancurkan keluarga kami saat itu? Apa belum cukup, satu orang saja yang Loe bunuh?" tegas Mas Arlan penuh emosi, yang aku rasa tinggi.


"Om Arlan lepasin Celvin, ini salah Riska juga!" sergah Riska sembari mencoba melepaskan cengkeraman tangan Mas Arlan pada kerah baju Celvin.


"Pak tolong lepasin beliau dulu," sambung Ivan.


Mas Arlan tampaknya tetap bersikeras menghajar Celvin dihadapan umum. "Gue nggak terima! Loe pikir keluarga kami bakalan memaafkan kesalahan kalian semua??? Celviiiinn anda itu pembunuh!!!"


"STOOOOPPPP!!! Atau kita putus!!! Oppss," teriakku, keceplosan begitu saja.


Sontak saja kubungkam mulut lebarku ini sembari memejamkan mata. Betapa malunya aku. Seandainya Mas Arlan tidak berbuat seperti itu, pasti aku bisa menahan diriku. Sial sekali. Akhirnya aku ketahuan oleh Riska, Ivan, maupun Celvin.


Mereka semua menatapku penuh tanda tanya. Membuatku sangat gusar dan risih. Namun, kata-kataku berhasil membuat Mas Arlan melepas Celvin. Meski masih kesal, ia mulai melunak. Hanya saja, sekarang ini aku yang akan mendapat masalah baru.


"O-om maksudnya apa? Om Arlan kenal Nona Fanni?" tanya Riska akhirnya.


"Seperti yang kamu tau, Fann-" jawab Mas Arlan yang belum selesai.


"Saya cuma asal bicara hahaha," ujarku memotong kata-kata Mas Arlan yang hendak dikatakan.


Mas Arlan sedikit bingung karena ucapanku. Lalu bagaimana? Mana mungkin aku mengungkapkan hubungan kami di situasi sekarang ini. Yang ada akan semakin runyam saja. Dengan sebuah gelengan pelan, aku memberikan isyarat tidak pada Mas Arlan. Dengan harapan ia bisa mengerti lebih dulu.


Walau akhirnya, ia sedikit kecewa. Terbukti saat kekasihku tersebut membuang napas dengan kasar.


Riska yang begitu pintar, tampaknya tidak bisa aku kelabui. Beberapa kali, wanita cantik tersebut melirik diriku kemudian Mas Arlan. Seolah tengah menyelidik apa yang kami sembunyikan.


"Emm... Pak Celvin mari kita kembali," ajakku pada Celvin.


Saat aku lirik dimana kekasih berada, ia tampak terkejut.


"Dek???" ujar Mas Arlan memanggilku.


"Dek? Apa-apaan ini, kalian saling kenal kan?" tanya Riska lagi.


Sekali lagi, aku dibuat pusing oleh mereka. Padahal niatku mengajak Celvin kembali agar tidak ada perkelahian lebih lanjut. Namun, Mas Arlan malah tidak berpikir sejauh itu. Lebih mengkhawatirkan lagi, jika ia berpikir yang tidak-tidak. Misalkan saja, aku lebih membela Celvin daripada dirinya. Terlebih, aku sempat menyukai Celvin.


Namun, aku tetap mengesampingkan masalah itu. Dengan segera aku tarik lengan Celvin dengan sembarangan. Celvin yang masih terbengong, hanya bisa mengikutiku tanpa perlawanan. Sedangkan Riska dan Ivan masih tidak menyangka soal ini. Mungkin soal diriku yang mengenal Mas Arlan lalu sikap beraniku pada Celvin.


Jika dipikirkan terus, tidak ada selesainya.


Namun pada saat aku dan Celvin berjalan melewati Mas Arlan. Mas Arlan menarik tanganku tiba-tiba. " Nggak! Kamu nggak boleh pulang sama dia!"


"Ta-tapi ini kan, aduuuhhh... jangan mempersulit dong Mas," ujarku.


"Apanya yang mempersulit Dek? Kamu mau bela dia dibandingkan Mas?"


"Bukan gitu, tapi situasinya lagi kayak gini. Mas mau hajar Celvin sampe bengkak dulu, baru lepasin kami?"


"Lepasin kami? Maksud kamu Mas lagi nawan kalian? Selama ini Mas diem Dek, karena dia Bos kamu. Dan Mas nggak punya hak larang kamu, toh sumber penghasilanmu sama dia."

__ADS_1


"Aku aja nggak tau lho ini masalahnya apa. Kenapa nggak ngomong baik-baik dan harus kayak gini? Di tempat umum."


"Semua karena dia masih berani ngedeketin Riska, keponakan saya!"


Jadi begitu. Mungkin Mas Arlan tau tentang kasus Celvin dimasa lalu. Ditambah lagi perusahaan mereka yang pernah bersaing. Namun, semua tetap tidak bisa dibenarkan untuk sekarang.


Sebagai, kekasihnya. Aku tidak ingin nama Mas Arlan tercemar hanya karena emosi sesaat. Tidak ada cara lain kecuali memisahkan mereka terlebih dahulu. Aku pun masih mengesampingkan masalah baru dari Riska.


"Terserah!" ujarku tegas pada Mas Arlan. Lalu kukibaskan kasar tangannya sampai terlepas dariku.


Aku dan Celvin berjalan keluar, meninggalkan kubu mereka yang masih penuh pertanyaan. Sedang aku, membawa sejumlah ketakutan tersendiri. Maksudku kekhawatiran, entah dari respon Riska nanti atau Mas Arlan yang kecewa.


Akhirnya, aku kembali menumpang mobil pada Celvin. Seharusnya jika tidak ada insiden tadi, aku bisa pulang tenang bersama Mas Arlan. Yasudahlah, toh aku bisa turun di setengah jalan nantinya.


Mobilpun dilaju oleh Pak Sopir meninggalkan restoran.


"Aku bingung," ujar Celvin tiba-tiba.


"Sama, aku juga," jawabku.


"Kamu kenal Om Arlan?"


"Kenal baik."


"K-kok bisa Fann?"


"Dia pacarku."


"A-apa?"


"Kenapa? Aku sama Om-Om ya?"


"Bukan gitu, tapi..."


"Emang gitu Vin, mending Om-Om masih keliatan muda penuh wibawa. Sedangkan aku tak secantik mantan istrinya dulu."


"Tante Nia?"


"Iya."


"Oh.."


"Ehh... kok tau juga?"


"Tau Fann, aku tau."


"Dari mana? Dari kamu sama Riska masih pacaran ya?"


"Nggak kok, tau aja."


"Oh... oke."


Kruyuuuuukkk!


Oh tidak! Aku melupakan perutku yang kelaparan sejak tadi. Sialnya, harus berbunyi nyaring seperti ini. Membuatku malu saja. Apalagi Celvin seketika itu langsung menatapku.


"Hahaha..." tawanya kemudian.


"Kenapa tertawa?" tanyaku.


"Kamu lapar Fann?"


"Enggak kok, biasa saja."


"Bohong, ya sudah kita makan aja dulu. Aku juga lapar."


"Ehh... nggak usah, nanti aku turun depan itu aja. Biar kamu bisa pulang."


"Enggak Fann, masih ada yang ingin aku tanyakan sekalian."


"Tapi Vin..."


"Tolong ya, Pak ke tempat makan depan itu ya."


"Baik Den."


Tanpa bisa kutolak, akhirnya Pak Sopir membawa mobil yang kami tumpangi. Kami menuju ke sebuah restoran yang tidak kalah mewah. Padahal aku ingin sekali menyantap pecel lele yang porsinya lebih banyak dan juga murah. Apa dayaku sekarang, rencanaku gagal.


Setelah sampai ditujuan, Celvin dan juga aku beranjak turum dari mobil. Kami masuk kedalam dan memilih salah satu bangku kosong. Seorang pelayan dengan ramahnya, langsung saja menghampiri.


Aku memesan ala kadarnya dengan harga yang masih normal bagiku. Semacam desert dan jus saja. Jika makanan berat akan lebih mahal. Apalagi kalau Celvin yang membayar pasti aku merasa sangat tidak enak padanya.


"Fann, emm... apa Om Arlan nggak marah sama kamu?" tanya Celvin.


"Mungkin marah," jawabku singkat.


"Terus kenapa kamu?"


"Spontanitas, karena nggak ingin ada perkelahian. Jadi maaf tadi aku tarik-tarik kamu, nggak mungkinkan aku bawa dia pas ada Riska. Aku belum siap."


"Jadi Riska juga belum tau hubungan kalian?"


"Belum. Aku nggak tau juga respon dia setelah ini."


"Hmm... semua serba tidak terduga Fann, akupun kaget."


"Iya sama, aku jadi takut."

__ADS_1


"Takut kenapa?"


"Sama Riska sama keluarga besar mereka, aku kayak gini."


"Emangnya kamu kenapa? Kamu normal kok."


"Nggak bisa aku sebutin semuanya Vin."


"Hmm..."


Perbincangan kami berhenti sejenak, ketika salah seorang pelayan membawakan hidangan yang kami pesan. Lalu, aku begitu juga Celvin memilih untuk menyantap terlebih dahulu.


Waktu sudah semakin sore. Membuatku semakin gusar pula. Beberapa kali Mas Arlan mengirim pesan padaku. Namun, karena tidak enak pada Celvin. Aku membiarkannya terlebih dahulu. Sepertinya aku membutuhkan jawaban yang tepat untuk nanti.


"Jadi kamu kenal Om Arlan sejak kapan Fann?" tanya Celvin.


"Udah lama Vin," jawabku.


"Pantes."


"Pantes kenapa?"


"Mobil yang sering jemput kamu, kayak nggak asing."


"Jadi, kenapa Mas Arlan semarah itu sama kamu?"


"Maybe, soal larangan hubungan kerja perusahaan kami dan juga kasusku pada saat itu."


"Dia tau?"


"Tau, Om Arlan sempet tinggal di Amerika."


"Iyakah?"


"Tapi sebentar aja, karena ada kerjaan. Dan sialnya beliau ada, mendengar kasus itu dan membawa Riska pulang agar aku nggak mengganggu."


"Aku nggak tau soal itu."


"Yah, setiap orang punya privasi Fann, walaupun udah pacaran. Karna nggak itu saja yang membuat Om Arlan membenci keluarga kami."


"Terus apalagi?"


"Untuk itu, kamu bisa langsung tanyakan pada beliau."


"O-oke."


"Lanjutin makan dulu, karna udah semakin sore juga."


"Iya Vin."


Meski masih sangat penasaran, sebisa mungkin aku tetap bersabar. Aku tidak ingin mencerca pertanyaan pada atasanku tersebut. Selain tidak sopan, aku juga belum cukup memiliki hak tentang itu. Apalagi jika termasuk dalam hal yang rahasia.


Biarlah, seandainya Mas Arlan merasa aku adalah orang penting. Berarti ia bisa menceritakan segalanya padaku. Bahkan hal rahasia sekalipun. Namun jika tidak, berarti bukan hal yang pantas aku dengar. Namanya juga orang kaya pasti memiliki rahasia masing-masing, demi menjaga nama baik keluarga dan juga perusahaan.


Akhirnya selesai sudah aku dan Celvin menyelesaikan santapan penunda lapar ini. Celvin mengangkat tangannya untuk memanggil salah satu pelayan. Mungkin hendak membayar.


"Aku aja yang bayar Fann," katanya.


"Ehh... jangan, ini aku juga ada," jawabku menolak.


"Nggak apa-apa, jarang-jarang kayak gini kok."


"Tapi kan ngrepotin lagi nanti."


"Nggak Fann, tenang saja."


"Tapi Vin..."


"Ssstttt..."


Celvin melakukan pembayaran menggunakan sebuah kartu berwarna emas. Yang aku tau adalau kartu transaksi yang dimiliki para petinggi. Ia tidak mendengar penolakanku sama sekali. Membuatku tidak enak hati lagi padanya. Boleh jadi, aku sedang beruntung sekarang. Bersyukur saja lebih baik, daripada menggerutu.


Setelah itu, aku dan Celvin keluar dari restoran ini. Bergegas untuk pulang masing-masing. Aku sendiri berencana untuk memesan sebuah taksi online. Tidak ingin rasanya merepotkan atasanku berkali-kali. Yah, semoga saja ia tidak bersikeras untuk mengantarku juga. Lagipula aku siapa, bisa diperlakukan seistimewa ini dan itu oleh atasanku sendiri. Macam orang cantik saja.


"Fann, ayo," ajak Celvin lagi.


"Enggak Vin, aku naik taksi aja," jawabku menolak.


"Lho? Sekalian saja kok."


"Enggak usah ya hehe... lagian arah kita berbeda."


"Nggak apa-apa, ayo naik."


"Maaf Vin, tapi beneran nggak usah. Emm... aku khawatir Mas Arlan lagi nungguin di pintu masuk apartemenku."


"Emang biasanya kalau sedang bertengkara suka kayak gitu?"


"Iya hehe... emm... terimakasih makanannya."


"Sama-sama Fann, ya sudah kalau begitu. Aku duluan ya, kamu hati-hati."


"Iya Vin, hati-hati kembali."


Kami berpisah. Celvin berlalu dengan mobil dan supirnya sedang aku masih diam ditempat. Sembari menunggu kedatangan taksi yang telah aku pesan.


Bersambung...

__ADS_1


Budayakan tradisi like+komen


Maaf ya baru up, sempet flu disertai demam kemarin hehe


__ADS_2