Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Punya Pacar


__ADS_3

Pukul empat subuh aku sudah terbangun dari tidurku. Tidak! Lebih tepatnya beberapa kali terjaga dari tidurku. Selepas kepulangan mas Arlan kembali ke rumahnya, aku benar-benar mengalami kegelisahan yang luar biasa. Aku bahkan lupa jika mas Arlan tidak membawa mobil pribadi. Entahlah, mungkin ia memesan taksi secara online.


Bayangkan saja, aku sekarang mempunyai seorang kekasih setelah tiga puluh tahun usia hidupku. Sialnya, aku belum mencintai kekasihku dengan sepenuh hati. Aku masih sebatas mengagumi kekasihku. Jiwaku seolah bergetar mendapat kejutan ini dari Tuhan Yang Maha Kuasa.


Tidak hanya itu saja, hal yang membuatku sulit untuk tertidur adalah pesan. Ya! Ponselku terus menerus dihujani pesan dari mas Arlan setiap jamnya . Sampai akhirnya aku memutuskan untuk membisukan kontak mas Arlan pada pukul setengah tiga pagi. Nyatanya tindakanku tidak membuahkan hasil.


Aku memang tertidur namun tidak nyenyak sama sekali. Beberapa kali aku terjaga dengan perasaan dan hati yang masih ambyar tidak stabil. Dan terakhir kalinya adalah saat ini, meski mataku terasa pening, aku sama sekali tidak bisa kembali terlelap.


Aku memilih bangun dengan posisi masih berbaring sembari menunggu kumandang adzan subuh. Selain itu, aku memainkan ponselku dan membuka banyak pesan yang belum aku baca dari mas Arlan. Ia bagaikan seorang anak kecil yang dijanjikan hadiah dengan syarat harus peringkat satu.


Aku terkekeh geli membaca setiap pesannya. Ungkapan syukur dan bahagia terus mas Arlan tulis dan dikirim padaku. Padahal ia belum bisa menumbangkan kerasnya hatiku. Demi menghargai usahanya, akhirnya aku memutuskan untuk menelepon mas Arlan. Aku rasa ia tidak tidur nyenyak sama sepertiku.


Benar saja, tidak perlu menunggu lama, panggilanku langsung disambut oleh mas Arlan. Aku benar-benar terkesiap dibuatnya.


"Pagi sayang," ujar mas Arlan dengan nada yang terdengar sedikit genit.


"Assalamu'alaikum Mas," jawabku tidak memperdulikan kegenitannya tersebut.


"Wa'alaikumssalam sayang."


"Ihh... biasa aja sih."


"Emang salah ya?"


"Ya geli aja dengernya."


"Kan ama pacar sendiri lho Dek."


"Iya sih tapi kan masih dalam perjanjian."


"Kan Mas ini lagi berjuang."


"Tapi aku geli dengernya."


"Nggak apa-apa ih, biar romantis."


"Mas Arlan udah tua, nggak cocok kali."


"Tua-tua gini juga masih manis kali."


"Dih... yaudah ya aku matiin."


"Kok matiin?"


Tanpa mau menjawab pertanyaan mas Arlan lagi, aku segera menutup panggilanku. Rasanya masih aneh sekali, mungkin karena aku baru pertama kali dipanggil dengan sebutan "sayang".


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... jijik!" teriakku sembari menggeleng-gelengkan kepalaku yang masih terpangku bantal.


Aku gemas dengan diri sendiri. Malu, tengsin dan juga tidak percaya diri. Apakah aku bisa luluh oleh mas Arlan? Lalu perasaan macam apa yang aku berikan pada sosok Celvin?


Jangan sampai ada hal bodoh yang aku lakukan. Apalagi menyangkut perasaan manusia. Aku harus bisa berpikir jernih selama dua bulan ini. Dan aku juga tidak boleh salah penafsiran tentang perasaanku untuk Celvin.


Jika salah sedikit saja, aku bisa hancur. Harapan bodohku pada Celvin tidak boleh muncul selama aku menjalani kisahku dengan mas Arlan. Celvin ibarat dewa diatas langit ketujuh sedangkan aku hanya seorang manusia yang tenggelam di laut paling dalam. Apakah wajar jika aku benar-benar menyukai sosok Celvin? Bukankah seharusnya aku sudah sangat beruntung memiliki mas Arlan disampingku sekarang?


Lalu kenapa aku terus ragu? Aku hanya berharap mas Arlan mampu menaklukkan hatiku dan hati orang tuaku dua bulan kedepan. Ya! Itu harus dan wajib. Agar aku dan mas Arlan merasa bahagia. Sedangkan Celvin tidak merasa terganggu dengan keberadaanku jika terjadi kehaluan yang tidak hakiki.


Tak lama kemudian, alunan indah suara adzan subuh begitu merdu terdengar. Membuat siapapun kehilangan kerisauannya dan muncul rasa tenang dalam jiwanya. Aku beranjak bangun dari ranjangku. Aku melangkah kearah kamar mandi pribadiku.


Setelah membuang air kecil dan membasuh wajah serta gosok gigi. Aku mengambil air wudhu dan berniat ingin menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim.


Aku menjalankan ibadahku se-khusyuk mungkin. Aku berdo'a dan meminta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan jalan terbaik. Tak lupa permintaan maafku atas segala dosa yang telah aku perbuat. Aku yakin do'a-do'aku akan terkabul suatu saat nanti. Karena manusia memang butuh proses untuk menjalani hidup bahagia.


****


Ketika mentari sudah tak malu-malu lagi, haripun perlahan mulai terang benderang. Aku mempersiapkan segala keperluanku untuk berangkat ke kantor.


Tak lupa sedikit santapan seadanya, dua lembar roti tawar terbalur selai strawberry yang manis. Dengan harapan hati yang manis pula. Ya! Aku harus merasa bahagia, aku sekarang sudah menjadi kekasih orang. Meski masih dalam tahap kesepakatan. Aku belum bisa memperkirakan hari kedepan, dan masih berusaha menjadi wanita yang terbaik untuk mas Arlan.


Drrrttt.... Drrrttt... Drrrttt...


Suara ponselku yang bergetar kencang terdengar dari balik bantal tidur. Sampai saat ini aku memberi mode getar saja pada ponselku karena sudah menjadi kebiasaan ketika di kantor.


Aku tidak terlalu mempedulikan siapa pemanggil suara tersebut. Aku hanya berpikir bahwa itu adalah mas Arlan.


Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...


Ponselku terus bergetar bebarapa kali. Hal tersebut berhasil membuatku jengah. Dan akhirnya memutuskan untuk mengambilnya.


Tidak disangka tidak dikira. Aku melupakan sesuatu yang penting. Ibuku lah yang meghujani ponselku dengan beberapa panggilan. Aku benar-benar lupa dengan permintaan ibuku. Karena merasa khawatir, aku tidak mengangkatnya sama sekali. Aku membiarkanya, sampai saat ini prinsipku tetap sama. Aku tidak mau mengikuti fitting baju sialan itu. Lagipula, berapa lama pegawai salon bisa mendapatkan baju yang bisa memuat seluruh badanku.


Dengan tergesa-gesa aku melangkah menghampiri mobilku. Padahal jam belum juga menunjukkan angka tujuh. Aku hanya tidak ingin tertangkap basah oleh ibuku sendiri di apartemenku. Jadi aku berniat berangkat bekerja lebih awal guna menghindari kedatangan ibuku. Untuk pencegahan awal aku mengirimkan pesan berisi pemberitahuan bahwa ada meeting dadakan di jam sekarang. Aku mengirimkannya kepada kontak milik ayah maupun ibuku. Untuk Febi aku hanya berharap ia bisa memaklumiku.


Mesin mobil aku nyalakan segera untuk berangkat menuju medan perangku. Ada gunanya juga aku terbangun lebih awal. Aku tidak perlu merasa khawatir dengan kedatangan si nyonya galak yang menjadi seseorang tersegalanya.


Beberapa saat kemudian, akhirnya aku sampai di kantor dengan selamat. Seperti biasa, aku memarkir mobil di area yang sama. Lalu melenggang masuk kedalam gedung kantor.

__ADS_1


Alangkah terkesiapnya diriku, tatkala menangkap tubuh indah dan tegap berkharisma yang sedang berdiri menghadap jendela kaca didalam ruang tempat kerjaku bersama atasanku. Pria gagah bagaikan seorang pangeran, siluet tubuhnya dari belakang saja sudah membuktikan ketampanannya. Aku menelan saliva dengan kelu. Wanita mana yang tidak terpana. Sudah ganteng, rajin pula.


"Pagi Pak Celvin," sapaku seramah mungkin.


"Ohh... Fanni udah dateng, pagi juga," jawab Celvin diiringi sunggingan senyum mematikan dari raut wajahnya.


Jantungku seakan-akan ingin meloncat dari singgasananya. Lalu akan terpasang kuat pada dada Celvin. Khayalan bodoh macam apa ini? Aku harus ingat, sekarang aku adalah kekasih mas Arlan. Aku harus setia sampai keputusanku dua bulan nanti.


Benar-benar wanita yang sok cantikkan?


Ya! Inilah aku sekarang, meski rasa minder masih ada. Namun, keberanian perlahan muncul. Tidak aku pungkiri semua ini terjadi setelah pertemuanku dengan mas Arlan dan kekacauan yang telah aku buat malam itu. Aku bertengkar dengan ibuku dan Kak Pandhu hanya karena iri terhadap Febi yang begitu menawan. Serta lagi-lagi kalah dengan Kak Pandhu. Namun semua itu sudah berlalu dan berangsur membaik sekarang.


"Kok Bapak jam segini udah dateng?" tanyaku mencoba mengorek apa yang dilakukan Celvin sepagi ini.


"Nggak ada alasan pasti sih Fann, pengen aja hehe," jawabnya.


"Soal masalah kemarin gimana Pak?"


"Pelan-pelan bisa diatasi kok, hanya ada sedikit kekeliruan dalam pembuatan laporannya."


"Bisa berakibat fatalkah?"


"Semoga tidak, kita harus bekerja keras lagi, apalagi perusahaan kontemporer begitu gesit dalam bertindak dengan semua strategi yang epik."


"Wajar sih Pak."


"Ya kita harus bekerja keras, kamu mau kan kerja sama saya?"


"Haha... kan dari kemaren juga kerja sama Bapak."


"Nanti diluar inikan lingkup dalam."


"Maksudnya diluar?"


"Nanti saya jelaskan, mau kopi?"


"Emm... saya mau ambil sendiri aja Pak, terima kasih."


Celvin manggut-manggut mendengar jawabanku. Sedangkan aku pergi meninggalkannya untuk menyeduh segelas kopi dari fasilitas di dapur perusahaan.


"Segar," gumamku pelan.


Hatiku bertanya-tanya, apa yang dimaksud tentang bekerja diluar dengan Celvin. Semoga saja bukan hal yang sulit. Pekerjaan sekretaris saja belum aku kuasai dengan baik. Apalagi kalau sudah bersinggungan dengan proyek secara langsung. Mau berpikir seperti apa lagi aku nanti.


Lagi-lagi ponselku berbunyi membuyarkan lamunanku yang membayangkan wajah Celvin maupun mas Arlan. Aku tersadar. Kemudian aku ambil ponsel dari dalam tas selempang yang baru aku pakai setelah sekian lama.


"Halo," sapaku singkat.


"Kamu dimana Fanniiiii??? Mama udah di apartemen kamu ini," ujar ibuku dengan kencang, seperti yang aku perkirakan sebelumnya beliau akan kesana.


"Kan udah dibilang Fanni ada meeting awal kerja Ma."


"Bohong, buktinya kamu bisa angkat telpon Mama. Emang nggak bisa kamu minta izin satu jam aja buat keluar nanti?"


"Nggak bisa Mama, pekerjaan Fanni banyak banget dan harus kelar sekarang lho."


"Anak ini, alesan aja kerjaannya. Terus itu si duda kenapa pagi-pagi gini nyamperin kamu, emangnya dia nggak kerja sendiri?"


"Haaah? Duda?"


"Iya si nak Arlan, kamu masih deket sama dia atau jangan-jangan kalian pacaran ya?"


Aku menutup panggilan ibuku tanpa persetujuan dari beliau. Rasa khawatir menerpa diriku. Aku takut ibuku mengatakan hal buruk pada mas Arlan. Mau bagaimana pun saat kini, ia adalah kekasihku. Jangan sampai muncul rasa benci diantara mas Arlan dengan orang tuaku.


'Jangan sampai deh, amit-amit!'


Aku telah mengirimkan pesan singkat untuk mengetahui keadaan mas Arlan. Namun, itu tidak membuahkan hasil, ia tidak membalasnya sama sekali. Perasaanku merasa semakin khawatir. Aku hanya berharap semoga tidak terjadi apapun diantara ibu dan kekasihku.


Aku kembali ke ruang kerjaku dengan perasaan yang terus saja gelisah. Warna mukaku mungkin terlihat sangat lesu. Kepalaku menunduk tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Fanni kamu kenapa?" tanya Celvin saat aku masuk kedalam ruangan dengan keadaan yang masih sama.


"Nggak apa-apa kok Pak," jawabku sembari mengangkat wajah dan berusaha menunjukkan raut ceria.


"Serius?"


"Iya Pak."


"Kalau ada apa-apa jangan sungkan cerita, seperti yang pernah saya bilang diawal anggep aja saya ini teman dekat kamu."


"Janganlah Pak, nanti keterusan."


"Ya nggak apa-apa sih, itu malah bagus kita semakin dekat."


"Hahaha... iya ya Pak, hehe."

__ADS_1


"Kenapa ketawa?"


"Tadi lesu ditanya kenapa, sekarang seneng ditanya kenapa lagi... emang butuh alasan pasti ya Pak buat melakukan semua itu?"


"Hmmm... Cerdas!"


"Apanya?"


Celvin tersenyum, lalu kembali duduk di kursi kerjanya. Aku terdiam. Dengan segala kemampuan, aku terus mengerahkan otakku untuk mas Arlan ataupun pekerjaan. Aku tidak boleh masuk kedalam lubang jebakan.


Ucapan Celvin tidak perlu aku tanggapi secara serius. Ya! Itu keputusan yang tepat, karena aku sudah punya pacar. Aku punya mas Arlan seorang.


'Harus yakin!'


Drrrtt... Drrrttt... Drrttt...


Ponselku bergetar untuk kesekian kalinya. Aku bagaikan wanita karir yang sibuk dengan kenyataan kesibukan yang tidak penting. Sebenarnya aku ingin mengabaikannya. Namun terlintas nama kontak milik mas Arlan saat aku melongok sedikit kedalam tasku.


Tanpa pikir panjang aku mengambilnya lalu menekan tombol hijaunya.


"Mas?" ujarku memanggil mas Arlan khawatir.


"Halo sayang, Assalamu'alaikum," jawabnya genit disertai salam khas umat muslim. Sehingga menghasilkan perkataan yang ambigu.


"Dih... Wa'alaikumssalam, gimana tadi?"


"Kamu nggak sibuk Dek? Tadi kapan?"


"Belum mulai jam kerja sih jadi masih bisa angkat telpon, tadi katanya ke apartemen aku terus ketemu Mama aku."


"Oh... iya Dek, Mas udah kangen berat sama kamu."


"Ih... Mas serius, diomelin nggak?"


"Hehe... enggak kok, calon mertua aku tetep baik kok, cuman yaa-"


"Yaa apa Mas?"


"Ya agak nggak nyaman gitu ketemu Mas."


"Maaf Mas."


"Bukan salah kamu kok Dek, Mas bakalan berusaha sebaik mungkin."


"Jangan memaksakan diri ya Mas."


"Tenang aja sayang, kamu kerja yang bener ya, udah dulu Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumssalam."


Panggilan suara kami berakhir. Aku merasa tidak enak hati pada mas Arlan atas sikap ibuku. Meski begitu, aku masih lega karena ibuku tidak sampai membuatnya malu.


Kuakui mental mas Arlan sangatlah kuat. Semoga saja mas Arlan berhasil menjalankan misinya dan Tuhan berbaik hati menumbuhkan rasa cinta dalam hatiku untuknya.


"Dari pacar ya Fann?" tanya Celvin tiba-tiba.


"Ehh... a-anu bukan kok Pak, hehe."


"Dari pacar nggak apa-apa kok, wajar Fann."


Aku tersenyum. Namun, aku bingung. Mengapa aku harus berbohong? Harusnya aku menjawabnya dengan jujur.


Apa yang sudah kulakukan ini? Aku benar-benar tidak tau diri. Dan menyia-nyiakan pengorbanan mas Arlan. Aku benar-benar menyesal mengeluarkan statement seperti itu.


Ya Tuhanku, aku baru saja berdo'a tentang hatiku. Namun, mengapa Engkau membiarkan lidahku begitu mudahnya melakukan kesalahan. Meski terbilang sepele, hal tersebut bisa menjadi bumerang suatu saat ini. Aku ingin tetap fokus dengan mas Arlan bukan Celvin yang hanya bisa menjadi angan-angan belaka. Aku ingin mencintai mas Arlan dengan sepenuh hati, tapi bagaimana caranya menumbuhkan perasaan cinta dalam hati?


Bersambung...


Untuk pendukung Celvin jangan kecewa ya hihi 😁😁😁


Budayakan tradisi like+komen,,


tunjukkan pesonamu dengan sidik jari jempolmu..


Terima kasih aku berikan kepada reader setia ku, apalgi yang sering komen. Dengan adanya kalian, aku bener-bener merasa karyaku cukup berharga. Aku tau novel ini perkembangannya masih jauh, pembaca pun tidak terlalu banyak.


Tapi dari awal aku sudah katakan. Ingin memberikan inspirasi buat kalian yang mengalami atau menemui orang yang sama seperti Fanni ini.


Setidaknya tingkatkan percaya diri kalian dengan baik, buat yang berfisik sempurna jangan sampai mencaci atau menghina mereka.


Kadangkala kita lupa, dengan memanggil orang gemuk dengan kata "ndut" saja sudah cukup membuat dia down. Tapi kita lupa, bahwa tidak semua orang bisa diajak bercanda apalagi yang pernah mengalami bullying, body shaming dan dalam tahapan traumatik..


Hati-hati jaga lisan ya guys buat aku, kamu dan kalian semua..


Karena akupun masih sering melupakan hal itu.. 😭

__ADS_1


__ADS_2