
Seteguk demi seteguk air teh hangat tertelan di tenggorokan masing-masing insan. Keakraban dan juga beberapa kelakar yang sempat dicelotehkan, kini menjadi hilang. Entah itu Mas Arlan ataupun Mas roni saling tertunduk diam. Aku dan Nike hanya bisa sesekali memandang heran. Sedangkan Rafif--anak Nike telah berada di kamar putriku bersama Selli dan juga Bi Onah.
Ada apa lagi ini? Itulah pertanyaan yang muncul didalam benakku. Aku tidak mengerti dengan raut wajah kedua pria ini yang menyebabkan kondisi pertemuan menjadi kurang nyaman. Aku menghela napasku dalam-dalam. Kemudian kuraih telapak tangan Mas Arlan. Ia menatapku gusar, lantas aku tersenyum.
"Bisa dimulai, Ron?" tanya Mas Arlan memulai pembicaraan.
"Ya, Mas. Bisa," jawab Mas Roni.
"Jadi, ada kabar apa?"
"Maaf, Mas. Bukan mau menuduh yang tidak-tidak. Tapi... masalah kemarin ada keterlibatan dari kerabatmu, Mas."
"Maksudmu?"
"Ya, seseorang dari keluargamu membayar karyawan dalam yang menangani untuk melakukan penggelapan itu. Yang mana dananya masuk ke dalam rekening sang penyuruh."
"Gimana kamu bisa tahu?"
"Aku udah bekerjasama dengan Pak Dian dalam masalah ini. Mencari semua bukti yang ada."
Pak Dian? Maksudku Mas Dian--kakak iparku. Apa yang mereka bahas? Penggelapan dana itu? Aku masih tidak mengerti. Hubungan semacam ini. Padahal yang aku ketahui, Mas Dian juga membenci Mas Arlan. Bahkan beliau telah mendapatkan kedudukan tinggi menggantikan Riska di kantor besar milik keluarga Harsono. Sebenarnya konspirasi semacam apa yang sedang menyerang perusahaan suamiku?
Bukan hanya diriku, bahkan Mas Arlan pun merasa terkejut. Seseorang dari dalam perusahaan itu sendiri terlibat, bahkan kemungkinan adalah kerabat atau saudara Mas Arlan. Kalau bukan Mas Dian, lalu siapa? Seharusnya yang mendapatkan prediksi paling mencurigakan adalah beliau. Motif untuk menjatuhkan Mas Arlan pun cukup terlihat. Apalagi sebelum kasus ini, beliau merasa iri terhadap pencapaian sang adik yang lebih bagus.
"Siapa yang menggantikan posisi Riska sekarang, Ron?" tanya Mas Arlan lagi.
Mas Roni pun hanya menggeleng sembari menjawabnya, "aku kurang tahu kabar itu. Tapi, sepertinya Pak Dian. Soalnya beliau udah jarang masuk kantor lagi. Posisi atasan pun masih simpang siur."
"Ya, aku denger emang Pak Dian. Emm... maksudku Mas Dian, Mas. Tapi, kenapa posisi atasan di kantor Mas Roni masih dibiarkan kosong?" selaku.
"Kamu tahu dari mana, Dek? Mungkin karena kantor cabang jadi nggak terlalu dikhawatirkan. Bisa jadi pemegang saham lain yang mengisinya. Semua juga butuh diskusi lagi." Mas Arlan menjawabku sembari menampilkan raut wajah keheranan atas kabar yang aku benarkan. Didalam situasi ini, aku benar-benar bingung untuk jujur atau masih menyembunyikan kedatangan Riska.
Sampai akhirnya aku memilih diam lagi dan menunduk saja. Yah, kalau bisa aku katakan, aku tidak ingin mengatakan tentang kondisi Riska pada saat orang lain ada disini. Selain tidak pantas, aku juga ingin menjaga nama baik keluarga suamiku. Terlebih Nike yang super kepo itu.
Aku menyesap air teh milikku, sembari mengatur napasku. Baiklah, aku akan memilih diam dan mendengarkan saja sama seperti yang Nike lakukan sejak tadi. Mungkin ini adalah pembahasan yang penting. Aku rasa mereka juga tidak ingin para wanita ikut campur, namun juga tidak enak jika disembunyikan.
Mas Arlan menghela napasnya, kemudian mulai bersuara, "Roni, aku telah mendapatkan pekerjaan."
"Oh... dimana?" tanya Mas Roni dengan raut wajah tidak percaya. Mungkin karena waktu sesingkat itu, menurutnya tidak biasa untuk mencari pekerjaan dengan cepat. "Apakah ada pihak yang membantumu, Mas?"
Mas Arlan mengangguk. "Ada... dan mungkin ini akan membuatmu terkejut."
"Pihak mana? Salah satu pemegang saham atau relasi perusahaan Harsun?"
"Bukan, melainkan dari pihak kompetitor alias musuh."
"Uhuk." Mungkin Mas Roni memang benar-benar terkejut akan pernyataan dari Mas Arlan. Bahkan ia sampai tersedak air teh yang baru saja ia minum. Matanya terbelalak lebar kemudian dahinya berkerut. Bahkan Nike pun menampilkan ekspresi yang sama.
Sejujurnya, jantungku berdebar sangat kencang. Hawa ruangan semakin membuat tegang. Haruskah secepat ini Mas Arlan membeberkan posisi dan pekerjaan barunya? Aku takut, aku khawatir jika Mas Roni langsung mengatakannya kepada Mas Dian. Kemudian gejolak permusuhan suamiku dengan keluarganya semakin besar sebelum dicapainya misi dibalik posisinya sekarang.
Untuk kali ini, aku tidak bisa berkata-kata lagi. Tidak bisa mempengaruhi Mas Arlan untuk menunda pengakuannya terlebih dahulu. Bukannya diriku tidak mempercayai keluarga Nike, hanya saja setiap manusia pasti memiliki sifat spontanitas. Siapa yang tahu, kalau nantinya Mas Roni membeberkan semuanya tanpa kendali dirinya sendiri.
"Oh... ma-maksudnya perusahaan, dimana aku dan Fanni bekerja, Mas?" tanya Nike, ia bahkan mulai membuka suara karena rasa penasarannya.
__ADS_1
"Ya!" Mas Arlan menjawabnya secara mantap.
Aku menepuk dahiku karena tidak tahu harus berbuat apa lagi. Semua telah terbongkar oleh orang lain, meskipun Nike adalah sahabatku sendiri. Aku menghela napasku yang terasa berat, menundukkan kepalaku lagi sembari menghembus kasar napasku itu.
"Tolong, rahasiakan hal ini terlebih dahulu. Kita perlu tuntaskan masalah korupsi itu," pinta Mas Arlan.
"Tapi...? Kenapa? Itu sama saja kamu mengkhianati keluargamu sendiri, Mas," ujar Mas Roni.
"Ada alasan dibalik ini semua, Ron. Aku mengatakan ini semua karna udah mempercayai kalian. So, tolong bantu rahasiakan sebelum aku berkeinginan untuk mengaku."
"Ini sama sekali nggak masuk akal, Mas. Kenapa nggak perusahaan lain aja? Jangan menghancurkan dirimu sendiri, Mas. Aaah! Kalau aku dan istri, wajar saja. Karna kami pegawai biasa, bukan anggota keluarga. Waow!"
Bahkan Mas Roni sampai berdiri dari duduknya. Ia merasa heran dan terkejut. Bagaimana mungkin Mas Arlan menerima tawaran itu? Atau mungkin, bagaimana bisa seorang Arlan bisa membuat keputusan yang menurut orang lain dianggap pengkhianat? Aku rasa pertanyaan itulah yang muncul didalam benak Mas Roni. Aku mengerti jika soal ini, ia bersedia membantu mengungkap kasus penggelapan itu. Namun, Mas Arlan malah membuat sesuatu yang mengejutkan dan tentunya akan berakibat lebih fatal lagi bagi dirinya dari keluarganya.
Aku akui, segala kemungkinan itu bisa saja terjadi. Namun, jangan menilai pada satu sisi saja. Ada sisi lain yang lebih penting, yaitu tentang misi baik untuk mempersatukan dua keluarga besar. Menurutku Mas Arlan adalah yang paling luar biasa, lantaran ia bersedia menjadi tameng penengah. Ia tidak peduli, jika kebencian akan terpupuk lagi jika tidak berhasil. Namun, sebaik apa niat Mas Arlan, orang lain belum tentu menerima. Orang lain hanya melihat sisi resiko tanpa mau mencoba. Orang lain tidak peduli akan tujuan baiknya, melainkan merasa khawatir akan sesuatu buruk yang terjadi.
Dan itu semua adalah hal-hal lumrah yang sering manusia berikan sebagai respon alamiah dari otak.
"Mas, apa kamu nggak khawatir kalau sedang dijebak?" tanya Mas Roni lagi.
Mas Arlan menggeleng mantap. "Enggak, sudah kubilang tadi. Ada alasan dibalik ini semua," jawabnya.
"Kenapa semudah itu membuat keputusan, Mas? Korupsi itu belum terbongkar, namamu masih kotor, kamu masih belum melunasi dana yang hilang. Dan... masalah atasan pusat alias Bu Riska yang sama sekali nggak kami ketahui. Posisi atasan di kantor kami masih kosong. Why???"
"Aku tahu, Roni. Makanya aku minta kamu dan istri rahasiakan masalah ini dulu."
"Yah, mungkin kami bisa merahasiakannya. Tapi, bukan berarti hal ini bisa disembunyikan dalam kurun waktu yang lama. Terlebih karyawan barumu pasti tahu siapa kamu, Mas."
"Yah, itu emang bener. Mungkin nggak lama lagi keluargaku akan mengetahuinya dan semakin membenciku. Tapi, aku punya hak untuk menafkahi istri dan anakku, Ron. Kamu tahu? Usiaku nggak lagi muda, aku udah setua ini, Ron," jawab Mas Arlan. "Bahkan melamar kerja jadi pelayan saja tidak diterima. Perusahaan mana yang mau menerimaku lagi setelah namaku tercoreng gara-gara Nia dan bedebah itu? Belum lagi kalau mereka tahu aku sudah melepas hubungan kekeluargaan itu."
Memang ada kemungkinan karyawan barunya untuk menggungkap posisinya. Namun, menurutku Pak Ruddy sudah mengatasi itu semua sesuai janji beliau terhadap Mas Arlan. Aku meraih telapak tangan suamiku lagi. Aku membelainya halus penuh kasih sayang. Semua sudah terlanjur dikatakan, sudah tidak ada gunanya aku memarahi sikap terburu-burunya itu. Hanya bisa mendukungnya saja, yang aku lakukan.
"Oke. A-aku hanya bisa bantu kamu untuk masalah penggelapan itu, Mas. Segala kemungkinan tentang pilihanmu itu, nantinya aku udah nggak bisa membantu. Itu bukan urusan kami. Dan... kami hanya pegawai biasa yang masih membutuhkan pekerjaan," jelas Mas Roni.
"Ya, aku mengerti, Ron. Aku hanya mengutarakan pada kalian aja. Tolong pura-pura nggak tahu aja. Aku pun tidak ingin melibatkan kalian berdua," jawab Mas Arlan.
"Untuk kasus penggelapan itu, benar adanya. Ada pihak dari kerabatmu yang menjadi otak dibalik keberanian sang pelaku. Secara logika, mana ada karyawan bisa melakukannya dengan berani. Bahkan tata caranya pun cukup rapih."
"Hmm... tapi siapa? Kalau Mas Dian malah membantumu mengungkapkan itu. Lalu siapa lagi?"
"Adik, keponakan, sepupu, ipar atau salah satu pemegang saham yang cukup punya nama? Emm... atau salah satu keluargamu yang ingin menjatuhkanmu sebagai kambing hitam atas keserakahan itu?"
"Mungkin, emang salah satu dari mereka. Terus cek di divisi yang menangani soal itu. Cek bank, dimana terjadinya transaksi pemasukan dana itu."
"Kami butuh waktu, Mas."
"Akan aku tunggu."
Mas Arlan sedikit bernapas lega tatkala Mas Roni bersedia membantunya tentang masalah itu. Bahkan merahasiakan tentang pekerjaannya sekarang. Ia menatapku dan aku membalas tatapan itu. Ia tersenyum begitu manis kemudian merengkuh diriku ke dalam pelukannya, tanpa rasa malu terhadap pasangan didepan kami.
Sehingga, membuat Mas Roni tidak mau kalah. Ia berdiri lalu menghampiri Nike dan duduk disebelahnya dalam satu kursi yang sempit. Beruntungnya keduanya memiliki tubuh yang kecil. Mungkin jika Mas Arlan bersamaku tidak akan muat. Badan suamiku begitu kekar dan kokoh, sedangkan diriku gendut sekali. So, bisa dibayangkan seperti apa hasilnya.
Tiba-tiba terdengar suara brak tiga kali dari arah pintu utama. Kami sontak terkejut dan segera berdiri. Kami berempat mengambil langkah dan menuju keberadaan pintu itu. Langkah tergopoh dan raut penuh tanda tanya tergambar di wajah kami.
__ADS_1
"Siapa, Fann?" tanya sahabatku itu.
"Nggak tahu, Ke. Gue khawatir pihak Harsono dateng terus ngamuk," jawabku. Dan memang benar, aku sangat mengkhawatirkan hal mengenai itu. Aku takut pekerjaan Mas Arlan sudah diketahui dalam waktu sesingkat ini dan pihak keluarganya sama sekali tidak mau mengerti dan lantas marah besar.
Sesampainya di tempat yang dituju. Mas Arlan mulai membuka pintu itu. Dan perlahan sang pelaku terlihat nyata dihadapan kami. "Om... tolong aku," ujarnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Riska.
"A-apa? Darimana kamu? Kenapa disini?" tanya Mas Arlan bertubi-tubi.
Aku dan Nike segera mengambil alih tubuh Riska dan memapahnya ke dalam rumah. Tanpa menjawab pertanyaan Mas Arlan, ia kuajak menuju ruang tamu. Sesampainya disana, aku dan Nike mendudukkannya disalah satu sofa yang memanjang. Aku berdiri lagi dan menuju dapur.
Disetiap langkah, aku terus didera pertanyaan. Apa yang terjadi dengan Riska? Bukankah ia tadi bersama Celvin? Mengapa ia datang kemari dengan rasa frustasi? Semua hal tidak terduga terjadi dalam satu hari ini. Niat hati ingin menyembunyikan masalah Riska, kini malah terbuka lebar didepan mata Mas Roni dan Nike. Ada apa dengan keluarga ini? Aku rasa, dendam yang terlalu besar bisa membuat hancur segalanya. Oh... aku tidak ingin lagi menyimpan dendam dan kebencian lagi untuk para pembully. Aku tidak ingin kehidupanku bahkan keluargaku mendapatkan sesuatu buruk akibat rasa itu.
"Minum dulu, Ris," ujarku setelah kembali dari dapur dengan membawa segelas air putih.
Riska tidak menjawabku, namun tangannya berusaha meraih gelas yang kuberikan. Sepertinya ia tengah kehausan, terbukti saat bibirnya terlihat begitu kering.
"Ada apa, Riska?!" tanya Mas Arlan.
"Jangan ditanya dulu, Mas. Biar tenang dulu Mbak Riska," sela Nike.
"O-oke."
Meski mengiyakan ucapan Nike, mata Mas Arlan tidak bisa berbohong. Ia begitu penasaran dan tidak sabar untuk mengetahui alasan dibalik kedatangan Riska. Ia hanya bisa menghela napas dan menghembuskannya beberapa kali. Mengambil posisi duduk, namun kemudian berdiri lagi untuk mondar-mandir gelisah.
Mas Roni masih menganga, bahkan nyaris tidak berkedip dalam menatap kondisi Riska. Mungkin didalam benak dan hatinya dipenuhi akan pertanyaan-pertanyaan yang sama denganku. Terlebih, Riska adalah atasannya yang paling berkuasa sebelum posisinya dicabut. Sedangkan aku dan Nike memilih untuk diam dan tenang, supaya Riska lebih nyaman terlebih dahulu.
"Emm...," deham Mas Roni. "Sepertinya, kami harus pamit pulang, Mas. Emm... anakku besok masih sekolah."
Mas Arlan menghela napas. "Ya, pulanglah kalian. Maaf atas ketidaknyamanan ini. Sekali lagi, aku minta tolong rahasiakan hal tadi dan juga tentang Riska."
"Tenang aja, Mas."
"Emm... terima kasih, Ron dan Nike."
"Sama-sama."
Kemudian Nike berbenah diri dan berpamitan denganku dan Riska. Sedangkan Mas Roni diantar oleh Mas Arlan untuk menuju kamar Selli demi mengambil Rafif--anaknya. Selepas itu mereka pulang tanpa kuantar ke depan, melainkan Mas Arlan saja. Aku masih harus menemani Riska.
Bersambung...
Alhamdulillah aku masih bisa up guys. maaf ya lama, aku rada nggak enak badan nih.
Emang sih lagi musim penyakit. So, kalian jaga kesehatan diri sendiri, lalu keluarga yaa. Daaaaan... Usahakan jangan panik.
Waspada boleh, panik jangan.
Budayakan like+komen oey. Kayaknya makin menurun aja ya jumlah likenya??? Padahal like doang lho, gratis.
padahal udah sedikit, makin sedikit aja. Hmm...
Atau mungkin novel ini udah agak ngebosenin ya??? Emm... maaf. Aku belum bisa cari gebrakan baru hehe.
tapi nggak apa-apalah, selama masih ada yang baca. Karna aku yakin setiap karya pasti memiliki pembaca, walaupun nggak banyak.
__ADS_1
Terima kasih, yang selalu menanti.