
Seketika Mas Arlan melepaskan tangan Selli, ia beralih menatapku. Untuk saat ini, aku tetap memilih untuk menunduk sembari melirik beberapa kali. Masih tidak kusangka Nia akan berbuat hal seperti ini. Ia bahkan sudah mempengaruhi Selli. Apa yang salah? Aku yang salah lantaran aku bukanlah ibu kandung Selli. Tidak ada hak untuk melarangnya bersama sang putri. Namun, tentu berbeda jika kepada suamiku.
"Bawalah Selli, Tante Nia. Mungkin kesempatan anda untuk bersama Selli tidaklah banyak, saya bisa memberikan kesempatan. Namun, jangan suami saya," ujarku.
Mas Arlan terkejut akan ucapanku, bahkan ia sampai berdiri seketika. "Dek? Apa maksud kamu? Menyerahkan Selli?" tanyanya.
"Ya! Karna Selli memang bukan anak kandungku. Tante Nia berhak untuk berjalan-jalan atau menemuinya."
"Fanni?! Selli anakku!" Mas Arlan tampak marah atas keputusanku. Hal itu membuat Nia semakin berbangga hati, terbukti melalui senyumannya. Sejujurnya, aku sendiri sangat kesal karena telah mengatakan itu semua. Namun, aku adalah manusia biasa yang masih memiliki batas kesabaran. Selli juga bukan anak kandungku, tidak bisa aku terus menahannya. Sedangkan Nia, ia bahkan punya banyak cara lagi yang bisa digunakan untuk mempengaruhi Selli.
Mas Arlan yang sudah berjalan menghampiriku, kini ia menatapku penuh ketajaman. Sekali lagi, aku memilih menunduk. Aku tahu dan aku sangat mengerti, ia tidak bisa menerima keputusanku ini. Selama ini, ia telah merawat dan membesarkan Selli. Aku sangat lancang jika memberikan sang anak secara cuma-cuma kepada Nia. Namun, aku harus bagaimana? Aku hanya ingin mempertahankan hakku, ya, suamiku.
"Apa maksud kamu, Dek?" tanya Mas Arlan lagi. Padahal tadi sudah aku jelaskan. Mungkin ia masih tidak habis pikir dan berharap aku bisa menarik kata-kataku. "Kamu tahu, kan? Selli anakku, putri kandungku yang selama ini telah aku besarkan dengan tanganku sendiri."
Aku berdeham dengan maksud untuk memperbaiki pita suara yang serak. "Aku tahu, bahkan lebih tahu dari apa yang kamu duga. Tapi, Tante Nia juga ibunya, Mas. Selli berhak mengenal ibu kandungnya. Udah cukup, kamu jangan egois," jawabku. "Lihatlah anak kamu yang sangat berharap bersama sang ibu, meskipun hanya sebentar."
"Ck! Heran saya sama kamu, Dek. Saya pikir kamu mau berjuang dalam menjaga Selli. Tapi, apa sekarang? Dengan entengnya kamu menyerahkan putriku pada orang yang sama sekali tidak memiliki hati nurani? Apa ... apa kamu sungguh-sungguh menerima anakku? Atau hanya karna diriku?"
"A-apa?" Spontan, aku mengankat kepalaku. Merasa tidak percaya dengan perkataan yang dilontarkan oleh Mas Arlan. Bagaimana bisa ia menilaiku demikian? Padahal selama ini aku yang mengurus Selli. Bahkan ketika aku masih bekerja, aku terus menyempatkan waktu untuk mengurus Selli. Perkataan Mas Arlan cukup pelan namun terbilang sangat tajam. Aku tidak mengerti, jika ia bisa menberikan penilaian se-demikian rupa setelah semua yang aku lakukan.
Beruntung, aku masih bisa menguasai diri. Jika tidak bisa, mungkin aku sudah menampar wajahnya. Jika itu terjadi, maka Nia akan semakin angkuh lantaran rencananya berjalan dengan lancar, bahkan melebihi ekspetasi. Apalagi ada Selli disini, bisa saja ia membenci diriku jika tanganku melayang ke arah wajah Mas Arlan.
"Sudah, sudah hahaha. Lucu sekali lihat keakraban sepasang suami istri ini. Aku pikir kalian akan memanas-manasi aku lagi dengan kemesraan palsu. Ck! Ck! Ck!" Nia menyindir, bahkan menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak percaya. "Tenang saja, mungkin aku tidak terlihat baik di mata kalian. Tapi aku tidak pernah merusak hubungan rumah tangga orang. Emm ... kecuali rumah tanggaku sendiri hehe."
"Pulanglah, Nia. Berikan Selli padaku," jawab Mas Arlan.
"Lah? Tanya sendiri sama anaknya. Nggak mau, kan? Aku ibunya, Arlan. Aku juga berhak bertemu dengannya seperti kata istrimu. Ya kan, Selli? Kita mau jalan-jalan bareng."
Selli mengangguk pelan. "Iya, Mama Nia. Tapi, aku juga mau sama Papa. Emm ... sama Mama Fanni juga ya?"
"Kita berdua saja, Selli. Papa dan Mama barumu sedang rib--"
"Stop!" Aku menghentikan perkataan Nia yang akan mengarah pada hal yang buruk. Bahkan akan dikatakan kepada Selli. "Pergi saja bersama Selli."
"Dek?!"
Aku mengembuskan napasku. "Kamu ikut aja, Mas. Mungkin kamu bisa menjaga Selli tanpa merasa khawatir. Mau gimanapun, Selli tetap seorang anak kecil yang merindukan kasih sayang kalian sebagai orang tua kandungnya. Maaf, jika aku lancang. Mumpung ada waktu libur, maka turuti permintaan putrimu, Mas."
"Dek?"
__ADS_1
"Udah ya, Mas dan Tante Nia. Aku capek, mau istirahat."
"Dek?!"
Aku bergerak mengambil langkah cepat, untuk naik ke lantai dua, lebih tepatnya ke kamarku dan Mas Arlan. Aku tahu, Mas Arlan tidak akan mengejarku lantaran khawatir jika Selli dibawa kabur oleh Nia. Baiklah, aku tidak apa-apa. Aku tidak akan menangis lagi, karena saat ini aku adalah orang yang kuat. Meskipun harus menggigit bibir sampai terluka, aku pasti bisa menahan air mata dan rasa sakit yang muncul dari dasar hatiku.
Satu demi satu, anak tangga sudah aku tapaki. Kini aku telah sampai di lantai dua rumah ini. Aku melanjutkan langkah untuk masuk ke dalam kamarku. Kubuka pintu perlahan dan bergerak sesuai rencanaku. Melihat ranjang yang besar membuatku ingin merebahkan diri. Namun, aku memilih untuk duduk di kursi santai dan menghirup udara segar yang masuk melalui jendela kamar ini.
Pemandangan luar sana masih terlihat sama saja. Pemandangan jalan komplek yang terlihat dari tempatku berada. Udara siang hari yang sudah beranjak waktu sore, tidaklah terlalu segar seperti tadi pagi. Sama seperti kondisi hatiku saat ini yang sangat berbeda dengan beberapa waktu yang lalu. Niatku dalam menahan air mataku benar-benar bisa aku lakukan. Yah, meski tatapan mataku akan tampak hampa atau kosong.
Apakah yang aku lakukan sudah benar? Mungkin bagi diriku cukup benar, berbeda dengan Mas Arlan yang tidak akan tinggal diam. Membayangkan bagaimana mereka bertiga menghabiskan waktu bersama, kuakui membuat hatiku terasa teriris dan sakit. Bagaimana jika suamiku kembali mencintai wanita itu? Aku tidak akan rela. Namun, apa yang bisa aku perbuat selain hal ini? Selli tetaplah penting bagiku. Ia memang gadis kecil yang sangat pintar. Namun, perlu ditandai lagi bahwa ia hanyalah seorang gadis kecil yang masih polos hatinya dan pasti sering merasa iri terhadap teman-temannya.
"Nggak apa-apa, Fanni. Kamu bisa dan harus kuat. Yah, aku harus kuat. Ada satu anak manis didalam kandunganku. Kata Dokter Wisnu, aku nggak boleh stress," gumamku pelan.
Setelah bergumam seperti itu, aku benar-benar tersenyum. Tidak apa-apa, ini adalah perasaan seorang ibu yang ingin anaknya bahagia. Meskipun kebahagiaan sang anak adalah hal yang menyakitkan bagi hati sang ibu. Aku yakin, jika Selli benar-benar anak yang pintar, maka ia akan kembali kepadaku. Terlalu banyak yang aku alami didalam rumah tanggaku dengan Mas Arlan. Aku pasti menang dalam artian aku bisa tetap baik-baik saja dan semua masalah bisa terselesaikan. Aku tidak mau menjadikan beban setiap masalah yang datang lantaran ada anak didalam kandunganku yang saat ini perlu aku utamakan.
Krek! Sekitar setengah jam kemudian, pintu kamar ini dibuka oleh seseorang. Aku tahu pasti, bahwa itu adalah Mas Arlan. Tanpa menolehnya, aku masih asyik memandang ke arah luar. Tapak kakinya terdengar menghampiri diriku. Dekat dan semakin dekat, akhirnya ia sampai setelahnya ia menyentuh pundakku.
"Kenapa kamu seperti itu, Dek?" tanya Mas Arlan.
Aku menghela napas panjang dan mengembuskannya kembali. "Aku nggak mau bahas lagi, Mas. Aku capek, aku hamil dan nggak mau banyak pikiran. Tolong, kamu ngertiin aku," jawabku.
"Ck! Kenapa tadi aku nyerahin Selli gitu aja, Mas? Karna anaknya yang meminta. Apa aku yang sebagai ibu tiri bisa mencegahnya? Aku berkata demikian supaya kamu tetap tinggal. Seenggaknya, ada satu orang yang bisa aku pertahankan, Mas! Kamu, suami aku."
"Tapi, Selli juga anakku, Dek. Mas nggak rela memberikan pada Nia gitu aja. Bisa aja, kan? Nia nggak pulangin Selli."
"Itu, nggak bisa. Sekalipun terjadi, Nia harus berurusan dengan kepolisian, kan? Kita bisa ambil Selli kapan aja sesuai hukum yang mengatakan bahwa kamu yang berhak atas anak kamu. Tapi, kalau yang dibawa Nia adalah kamu dan kamu mencintai dia lagi. Atas dasar apa, aku bisa membawamu kembali, Mas?"
"Astaga! Ya Allah, Mas nggak mungkin jatuh cinta sama dia lagi, Dek. Mas hanya ingin Selli ada disini tanpa bertemu Nia lagi."
"Aaaaa, udahlah, Mas! Aku capek, habiskan waktu kalian. Jaga Selli saat kamu bersama Nia nanti. Aku ... aku percaya sama kamu, Mas. Ya, kamu nggak mungkin suka lagi sama dia. Jadi, tolong! Jangan bahas ini lagi. Aku capek, aku hamil, aku nggak mau banyak pikiran. Ingat! Anak adalah yang paling penting! Jangan membuatnya terluka."
Aku berdiri dari dudukku. Tidak mau di kamar ini lagi bersamanya, maksudku untuk waktu sekarang. Jika aku dan Mas Arlan bersama dalam keadaan emosi, pasti kami akan terus bertengkar. Tanpa persetujuannya, aku mengambil tas selempangku serta ponselku secara diam-diam dan juga kunci mobilku. Mungkin mencari suasana baru untuk sekarang adalah waktu yang tepat.
Kembali kupastikan posisi Mas Arlan. Ia masih menghadap ke luar jendela sana. Kesempatan yang bagus untuk diriku. Setidaknya, ada waktu dan tempat yang bisa membuat hatiku tenang sampai kekesalan di hatiku ataupun suamiku sama-sama menghilang.
Dengan langkah yang sangat pelan, aku berhasil keluar dari kamar kami. Sekalipun ketahuan, Mas Arlan pasti tidak akan menduga bahwa aku akan keluar dari rumah ini dalam sementara waktu. Tas selempang dan kunci mobil benar-benar aku sembunyikan darinya. Kulihat keadaan rumah yang kembali sepi. Kini Selli dan Nia sudah tidak ada. Mungkin Selli didalam kamarnya, dan Nia pulang untuk mempersiapkan dirinya nanti malam.
Lalu, setelah sampai di luar rumah, aku menghampiri mobilku dengan melongok beberapa kali ke arah jendela kamarku. Semoga ia sudah tidak ada disana, maksudku ke tempat lain, misalnya--meja kerjanya atau merebah di atas ranjang.
__ADS_1
Aku masuk ke dalam mobil merahku. Kunyalakan dengan sangat hati-hati, meski suaranya tidak berbeda sama sekali. Beruntung, rumah berlantai dua ini lumayan luas. Kamarku juga kedap suara, sehingga suara mobilku tidak akan terdengar dari sana. Aku mulai melajunya untuk meninggalkan rumah ini, bahkan tanpa memperdulikan pertanyaan dari tukang kebun kami.
Maaf, Mas. Aku butuh waktu sendiri.
Sekarang sudah benar-benar jam tiga sore, adzan ashar telah berkumandang. Sedangkan kondisi jalan raya di jam sekarang ini masih lumayan sepi. Sudah lama juga, aku tidak mengendari mobilku sendiri. Beruntungnya, si merah ini tidak dibiarkan begitu saja. Sehingga masih sangat nyaman dan tidak mengalami kerusakan. Sesekali juga digunakan oleh Mas Arlan untuk berangkat bekerja.
"Tunggu!" Aku menghentikan mobilku sejenak di sebelah kiri jalan. "Gue mau kemana? Nggak mungkin gue pulang ke rumah Mama. Ck, apartemen ada Riska. Nike pasti sama suaminya. Ah! Parah sih, nggak ada temen lagi."
Bingung, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan diriku sekarang. Akan kemana diriku menenangkan pikiranku? Jika pulang ke rumah orang tuaku, pasti semua akan bertanya. Ada apa? Dimana Arlan dan Selli? Dan juga, mengapa sendirian dalam keadaan hamil seperti ini? Dilanjutkan dengan segala omelan dari ibuku.
"Ah! Males. Emm ... Mita? Mita? Mita?" Lalu, terlintas nama Mita di benakku. Ia adalah wanita yang belum menikah. Pastinya akan memiliki banyak waktu senggang dihari libur seperti ini. Segera kuambil ponsel yang sudah aku masukkan ke dalam tas selempang ini. Ibu jariku menari di atas layarnya demi mencari keberadaan kontak milik Mita. Setelah mendapatkannya, aku segera menekan tombol berwarna hijau untuk meneleponnya.
"Halo, Fann. Kenapa?" Tidak butuh waktu lama, Mita mengangkat panggilan dariku.
"Assalamu'alaikum, Ibu Mita," sapaku.
"Eh, sorry. Wa'alaikumssalam hehe. Ada apa? Tumben?"
"Ada waktu nggak, sekarang? Sibuk nggak?"
"Emm ... enggak sih. Menjadi kaum rebahan dihari minggu. Apalagi gue udah tinggal di apartemen sendiri."
"Wah! Selamat ya, udah tinggal sendiri. Gue pengen ketemu, Mit. Maksud gue, emm ... temenin gue. Kemana gitu. Ma-maaf, kalau misal ngerepotin."
"Bisa sih, gue lagi senggang. Kenapa loe? Nggak sama suami? Sore kayak gini."
"Nggak! Gue mau mampir masjid dulu. Entar ketemu di kafe aja ya. Yang menurut loe enak buat bumil kayak gue. Tolong ya?"
"Oke, oke, gue siap-siap dulu. Entar gue WA di kafe yang mana."
"Thanks, Mita."
"Santai, Fann."
Aku mematikan panggilan telepon kami. Kuhela dan kuembuskan napasku. Apa ini hal yang tepat? Hanya Mita yang bisa menemaniku sekarang. Ya! Hanya menemani, tidak akan menimbulkan masalah. Aku akan berusaha menyembunyikan masalah keluargaku serapat mungkin. Itupun, kalau aku tahan. Apalagi seorang wanita bertemu temannya.
Drrrt! Tiba-tiba saja, ada panggilan masuk lagi. Bukan dari Mita, melainkan dari Mas Arlan. Aku rasa, ia sudah menyadari kepergianku saat ini. Tidak! Aku belum ingin kembali. Biar saja jika saat ini aku seperti seorang anak kecil. Aku butuh waktu, sampai kekesalanku menghilang dan tidak mau bertengkar.
Kumatikan panggilan dari Mas Arlan, lalu aku mengirimkan pesan singkat bahwa aku hanya ingin mencari udara segera dalam waktu yang sebentar. Setelah itu, aku kembali melaju mobilku untuk mampir ke sebuah tempat ibadah demi melaksanakan ibadah ashar.
__ADS_1
Bersambung ...