Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Dugaan


__ADS_3

Mobilku berhenti di gedung apartemen milikku yang kini dihuni oleh Riska. Aku memutuskan untuk ikut ke dalam, dan menyerahkan pekerjaanku kepada Rose--sekretaris dari Mas Arlan terlebih dahulu. Bukan tanpa sebab, melainkan justru ada sebab yang perlu aku pastikan lagi. Aku tidak akan terlibat, namun entahlah, rada' penasaran. Namanya juga Nona Fanni yang gendut ini.


Dengan sikap cemas, Riska melihat-lihat sekitar gedung apartemen ini. Bahkan, ia memakai masker yang kebetulan ia beli tadi malam. Ia mengajakku untuk mempercepat langkah demi naik ke lantai, dimana kediamannya berada. Sungguh! Langkahnya begitu cepat, mungkin karena bantuan badannya yang kecil. Tidak seperti diriku yang gendut, yang ada engap jika lebih berlari lagi. Karena sudah sangat mengerti tempat ini, aku memilih untuk berjalan pelan. Aku tahu, Riska tengah panik, sehingga aku bisa lebih mengerti.


Sejak tadi, Riska belum mengatakan siapa yang ia curigai. Aku masih harus menunggunya. Tidak ada satu orang pun yang terlintas didalam benakku. Aku berpikir, jika Riska juga memiliki masalah dengan orang lain. Bahkan, bisa jadi dari pihak Celvin. Celvin orang yang tampan. Tidak menutup kemungkinan jika ada wanita yang terobsesi dengannya. Entahlah, aku tidak tahu perihal hidup mereka selama ini.


Kemudian, aku masuk ke dalam apartemen yang pintunya masih terbuka sedikit. Ruangan yang sudah lama tidak aku lihat maupun tinggali. Riska tidak nampak, sepertinya tengah berada didalam kamar. Aku menghela napas dalam dan mengembuskannya lagi. Kulangkahkan kakiku untuk ikut Riska ke dalam sana.


Pintu kamar terbuka. Aku melongok sebelum masuk. Riska berada di meja yang sepertinya ia gunakan untuk bekerja, ada laptop yang tengah ia mainkan di sana. Sesaat aku berpikir, kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam.


Aku berdeham pelan. "Riska, ada yang bisa aku bantu?" tanyaku kepadanya.


"Enggak, Kak," jawabnya singkat.


Aku terdiam, kutemui ranjang yang tersaji rapi. Tampaknya ia sangat rajin dalam membersihkan tempat ini. Lantas, aku duduk di tepiannya. "Emm, ...."


"Kak Fanni, kayaknya dugaanku beneran," celetuk Riska memotong ucapan yang hendak aku katakan.


"Oh ya? Siapa?"


"Ivan!"


Dahiku mengernyit. "Ivan? Ivan yang mana? I-ivan, mantan asisten pribadi kamu?"


"Iya, Kak." Riska mengangguk dengan sangat yakin.


Ivan? Mungkinkah dugaannya benar? Sudah lama aku tidak mendengar nama itu. Bahkan sampai terlupakan dari ingatanku. Biang kerok atas kehancuran hubungan Riska dan keluarga besarnya. Ingin rasanya hatiku menepis, karena menurutku tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pria itu pelakunya. Seandainya benar, memangnya untuk apa?


Namun Riska sangat yakin, ia menatap tajam pada ponsel yang sudah ia keluarkan dari saku celana jeans-nya. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya menahan rasa geram. Aku tidak tahu mengenai hubungan mereka. Entah Riska, Celvin ataupun Ivan. Yah, kecuali didua tahun yang lalu. Ivan merupakan kawan lama sekaligus penggemar berat sosok Riska. Ia sempat mengaku bahwa itu sebuah perasaan cinta yang dipendam sejak lama.


"Eh?! Cinta?!" Aku terpekik pada saat teringat akan perasaan Ivan terhadap Riska yang bagaikan obsesi.


Riska menatapku seketika. "Ada apa, Kak?" tanyanya kepadaku.


"Masa' sih, Ris? Kamu yakin itu adalah Ivan?"


Riska mengangguk lagi. "Aku yakin, siapa lagi kalau bukan dia? Aku hanya dekat dengan Celvin setelah insiden waktu itu, Kak."


"Bukti apa yang kamu punya, selain penalaran itu?"


"Gaya tulisan pesan."


"Maksud kamu?"


Riska bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiriku. Disini, aku termangu-mangu, belum mengerti apa yang ia maksud. Setelah sampai di dekatku, Riska lantas duduk di sebelahku. Ia terdengar menghela napas dalam dan mengembuskannya kemudian. Sementara itu, tangannya masih disibukkan dengan menekan tombol ponsel atau sesekali laptop.


Perlahan, aku melirik pada layar laptop yang ia pangku. Sebuah aplikasi sosial media tengah ia buka. Aku semakin tidak mengerti dibuatnya. Pada kolom pencarian, ia mengetik nama Ivan sampai muncul beberapa orang yang memiliki akun bernama Ivan. Kugaruk kepalaku yang tidak gatal karena masih belum mengerti. Apa hubungan Ivan dengan sosial media yang bernama instragram itu?

__ADS_1


"Ah!" pekik Riska tiba-tiba. "Aku dapet akunnya," lanjutnya.


"Emm, apaan?" Aku mengikuti gerak tangan Riska yang mengatur kursor didalam monitor.


"Ini sisa DM aku sama Ivan satu tahun yang lalu. Habis itu, aku jarang banget buka sosial media apapun, jadi enggak lanjut lagi."


Dahiku kembali mengeryit. "Satu tahun yang lalu?"


"Iya, Kak. Ivan masih hubungin aku lewat mana aja yang bisa dihubungi. Dia minta maaf sebesar-besarnya. Kata dia, dia terlalu syok dan sakit hati."


"Terus kamu?"


"Ya, aku enggak maulah, Kak. Gilak apa? Aku benci sama dia. Hidupku dihancurkan sama dia. Em, kesalahan aku dan Celvin juga sih. Tapi, ... dia kan nggak berhak ngadu. Karna aku ini bukan orang yang demen main sosmed beginian, kecuali lagi senggang. Ya, aku diemin dia sampe capek sendiri."


"Nggak diblokir?"


Riska menggeleng. "Enggak, Kak. Mungkin itu salah satu kesalahanku. Aku pun nyakitin dia, dia emang udah lama suka sama aku. Bahkan, saat aku di Amerika, dia masih nungguin aku. Tapi, ... aku malah suka sama Celvin yang waktu itu masih jadi preman."


Sorot mata Riska menjadi lemah, meski sesekali ia menyunggingkan semburat senyuman. Aku bukan seorang wanita yang populer seperti dirinya, aku tidak mengerti rasanya disukai sampai sedalam itu oleh seseorang. Meski ia berkata bahwa membenci Ivan, ada suatu rasa bersalah yang terpancar di wajah ayunya. Yah, mau bagaimanapun Riska tetaplah seorang manusia.


Jika benar orang tersebut adalah Ivan, apa yang mendasari semua perbuatannya itu? Menjadi seorang penguntit dan pengancam, memangnya apa untungnya? Semua permasalahan yang menimpa Riska, aku benar-benar tidak mengerti. Cinta yang tersemat di hati Ivan, apakah benar-benar cinta atau sebuah obsesi, dendam dan kebencian?


"Aku enggak paham, Ris. Aku juga nggak bisa bantu apapun," ujarku sembari menunduk dan mengusap-usap jari jemariku.


"Kak Fanni dan Om Arlan, udah banyak bantuin aku. Kalau bukan karna kalian, aku udah tidur di jalanan, waktu itu," jawab Riska. Ia membelai bahuku dengan halus.


Aku menatapnya. "Lalu, apa yang membuat kamu curiga sama Ivan? Nggak mungkinkan kamu asal nuduh, karna hanya ada dia kecuali Celvin."


Aku meminta ponsel Riska dan mengamatinya lebih jelas. Sedangkan ia, menunjukkan laptop yang sudah ada tampilan sosial media itu, mengarah pada pesan yang dikirim Ivan dari satu tahun yang lalu. Benar kata Riska, setiap orang memiliki ciri khas pada sebuah kalimat yang ditulis melalui ponsel. Dan memang cocok antara pesan SMS peneror dan DM itu.


Bibirku yang terkatup, kini perlahan menganga. Bukan karena kecocokan kedua pesan tersebut, melainkan isi yang tertera di sana. Pada DM tersebut, Ivan mengatakan bahwa ia minta maaf dan akan menerima Riska apa adanya asal Riska bersedia meninggalkan Celvin. Ivan ingin Riska bahagia dengan orang yang tepat, daripada si preman--Celvin--yang telah merusak harga dirinya. Ia mencurahkan semua perasaannya terhadap Riska yang sudah disimpan sejak lama, bahkan tidak bisa berpaling dari sosok Riska. Itu obsesi, ya, menurutku begitu.


Sementara di pesan peneror berisi mengenai ancaman. Aku rasa, ia sudah mengetahui perihal rencana pernikahan Riska dan Celvin. Ia tidak terima dan berencana menghancurkan resepsi ataupun akad yang akan dilangsungkan. Si peneror mengaku akan terus mengawai Riska dimana pun berada, bahkan ketika malam tiba. Ia mengancam akan menghancurkan Celvin, jika Riska tidak menjaga jarak.


What the hell?!


Aku menghela napas sangat dalam dan mengembuskannya kembali. Aku menggeleng-geleng karena tidak menyangka atas semua yang terjadi. Kutatap Riska yang masih belum mengeluarkan suara lagi. "Kamu benar, dia Ivan," ujarku kemudian.


"Tadi malam, di tempat Kak Fanni, aku nggak bisa tidur. Aku bacain semua SMS dari peneror itu lagi, satu persatu. Samar, aku teringat dan enggak asing sama tulisan itu. Aku inget-inget terus sampai muncul nama Ivan," jelas Riska.


"Ivan udah terobsesi sama kamu, Ris. Dia enggak nyerah, bahkan sampe sekarang. Mungkin dia nggak terima sama kabar rencana pernikahan kamu."


Riska memejamkan matanya sejenak. Kemudian, ia membukanya lagi. "Kenapa sih, Kak. Tiap mau nikah ada aja halangannya? Apa aku enggak pantes nikah karna udah rusak? Aku udah berusaha berubah, Kak. Dan setelah insiden itu, aku sama Celvin nggak berbuat aneh-aneh lagi kok. Kemarin Tante Dahlia, sekarang ada lagi si Ivan."


"Aku juga nggak tahu, apa ini mitos atau emang fakta. Tapi sebelum aku nikah sama om kamu, Nia juga datang minta balikan. Pasti ada hikmah dibalik semua ini, kamu yang sabar ya?"


Ia terdiam, hanya menatapku sekilas saja. Ia tampak lunglai, sembari menutup laptopnya. Setelah itu, ia membawanya ke meja kerjanya. Ujian Riska dan Celvin memang jauh lebih berat dariku. Rencana pernikahan mereka sempat diundur, dan kini malah hadir sang pengganggu. Apa yang bisa aku bantu? Niat hati tidak ingin terlibat, namun aku tidak tega melihat kondisi Riska. Bahkan, ia menghadapi orang itu sendirian karena tidak ingin membawa Celvin ke dalam masalah yang berbahaya.

__ADS_1


Seperti yang aku duga sebelumny, ada alasan mengapa Riska seenteng itu mengajak Celvin untus putus hubungan. Dan kini sebab hal itu sudah aku ketahui, tidak dengan Riska. Sejatinya, wanita akan berkorban banyak jika sudah benar-benar cinta. Bahkan jika diriku diposisi Riska, aku bisa melakukan hal yang sama. Namun aku belum tentu sekuat dirinya. Meski badanku besar, pada kenyataannya diriku lebih banyak dilindungi bukan melindungi.


Miris sekali.


"Apa rencana kamu, Ris? Enggak jadi pulang?" tanyaku dengan segala keberanianku.


Riska menatapku dari kursi kerjanya. "Aku ingin bertemu Ivan," jawabnya.


"Apa?! Jangan gila, Ris. Kamu bisa dalam bahaya."


"Enggak, Kak. Kalau didiemin, nyampe kapan bakalan kayak gini? Aku juga mau nikah, Kak. Aku harus tahu apa maunya dia sebenarnya."


"Tapi, Ris? Kamu nggak ada rencana ngomong sama Celvin?"


Riska menggeleng. "Aku tahu siapa Celvin, Kak. Misal dia bisa melindungi diri, justru Ivan yang bisa dalam bahaya."


"Maksud kamu?"


"Kak Fanni pasti tahu perihal kasus Celvin dimasa lalu. Dia itu kejam kalau udah marah, Kak. Dia bukan hanya membully secara verbal, melainkan fisik. Kalau nggak suka, Celvin enggak segan main tangan. Aku takut, kalau monster yang ada dalam dirinya muncul lagi karna Ivan. Ivan juga salah, tapi dia kayak gitu karna aku."


"Aku mengerti, Ris. Aku tahu kasus Celvin dimasa lalu. Tapi, aku enggak tahu metode bully apa yang dia pake. Aku hanya tahu Celvin yang udah berubah dan baik hati."


Ya, aku mengerti pemikiran Riska. Ia tidak hanya melindungi Celvin, melainkan juga Ivan. Tampaknya kecurigaannya terhadap Ivan sudah muncul jauh-jauh hari, tadi malam ia baru menyadari dan mencurigai secara pasti. Untuk Celvin, aku tahu tentang kekhawatiran Riska terhadap sifatnya itu. Seseorang memang bisa berubah, namun tidak menutul kemungkinan orang itu menunjukkan jati diri dimasa lalu pada saat keadaan mendesak. Celvin, sampai sekarang pun, aku tidak menyangka ia adalah seoang pembully jahat. Karena yang aku tahu, Celvin yang baik hati dan menerimaku sebagai seorang teman, meskipun aku gendut.


"Kamu mau bertemu Ivan dimana, Ris?"


Riska menggeleng. "Aku belum tahu, Kak."


"Kamu harus bawa seseorang. Bodyguard mungkin. Jangan atasi semuanya sendiri. Aku bisa bantu cariin."


"Apa itu perlu?"


"Sangat! Aku bisa bantu cariin, daripada kamu dalam bahaya. Dengan adanya mereka, kamu bisa bicara dengan tenang bersama Ivan tanpa merasa was-was. Kita enggak pernah tahu, rencana jahat orang lain. Kalau kamu nggak mau pake, aku bakalan panggil Celvin."


Riska menghela napas. "Oke, aku mau, Kak."


"Kamu jadi pulang? Aku bisa antarkan."


"Jadi, Kak. Aku takut."


Aku menghela napas lega. Bukan hanya menerima saranku saja, Riska juga masih memutuskan untuk pulang ke rumah istana milik keluarga besar Harsono.


Kemudian, ia berdiri dan menuju sebuah almari. Ia mengambil beberapa helai pakaian, setelah itu, ia berjalan keluar. Aku rasa, ia akan mandi. Karena sudah bukan kamarku lagi, aku pun memutuskan untuk keluar.


Di ruang tamu, aku duduk untuk menunggu kesiapan Riska. Benakku melayang membayangkan tentang Ivan. Orang itu, aku masih tidak menyangka. Seingatku, aku pernah memintanya untuk menyerah. Namun sepertinya ia tidak bisa. Rasa suka yang ia pendam dalam waktu lama, pasti membuatnya kesulitan sampai tega berbuat demikian. Sementara itu, pasti sulit menjadi diri Riska. Ia cantik jelita, namun ada saja halangan untuk bahagia.


Bersyukurlah diriku, meskipun gendut, aku sangat bahagia saat ini dan semoga sampai nanti. Suamiku yang manis itu begitu menyayangiku dan kedua anakku. Banyak badai yang menerpa, namun bisa berlalu dengan mudah. Mungkin Mas Arlan masih kesulitan di negara orang, namun aku yakin bahwa Tuhan tidak akan memberika kesulitan kepada Mas Arlan melebihi kemampuannya. Sang Kuasa hanya ingin kami merasakan apa rasa rindu itu.

__ADS_1


Bersambung ...


Budayakan like+komen ya. OJO ORA YA


__ADS_2