
Karena Sella sedang rewel-rewelnya, bahkan kakaknya juga, membuatku sangat kewalahan. Mereka berdua seolah tidak ingin berpisah denganku. Mungkin karena merasa sangat rindu dengan Mas Arlan dan sering aku tinggalkan untuk ke kantor, sehingga keduanya terbilang sangat manja. Hal ini membuat Riska turun tangan membantuku. Ketika si gadis cantik--Selli ingin bersamaku, maka aku meminta bantuan dari Riska agar menjaga Sella begitu pun sebaliknya.
Hal itu membuat Riska harus menunggu lebih lama lagi untuk mendengar semua penjelasanku. Meski merasa sangat penasaran dan tidak sabar, ia tidak lantas memaksaku. Ia cukup mengerti atas situasiku yang memiliki dua anak seperti ini. Dan kenyataannya memang teramat repot. Hal seperti ini pula yang terkadang membuatku tidak berpuasa.
"Kak, pusing banget yah?" tanya Riska. Di gendongannya ada Sella yang tengah menatap polos ke arah wajah ayu milik Riska.
"Pusing sih enggak, Ris. Tapi repot, kadang kewalahan. Kamu capek?" tanyaku kembali. Aku baru saja muncul setelah memandikan putri pertamaku.
"Belum kok, Kak. Santai aja. Sambil belajar aku-nya."
Aku tersenyum. "Kalau enggak nangis, taruh aja di ranjang Selli. Bentar lagi bedug maghrib, Ris. Bi Onah udah masak, kamu buka di sini aja. Sama mereka berdua, biasanya gimana makannya?"
"Mereka non muslim, Kak. Dan selalu cari makan sendiri di luar, saling bergantian."
"Oh, maaf aku kampungan. Enggak tahu cara kerja mereka, Ris." Aku tersenyum malu-malu.
"Kak Fanni ambil yang VVIP, ya? Agak mahal sih. Tapi pelayanannya lebih tinggi, jadi Kak Fanni enggak perlu khawatir."
"Hmm ... oke, aku yang cari aku yang enggak ngerti hehe."
Betapa malunya diri ini ketika membicarakan sesuatu yang tidak aku pahami dan hanya orang-orang kaya yang paham akan hal itu. Disini, aku kembali menyadari--meskipun sudah masuk ke dalam keluarga besar Harsono, kastaku masih berbeda dengan mereka. Apalah arti diriku bagi mereka, tidak ada. Mungkin jika bukan karena Mas Arlan, aku tidak dihargai sama sekali. Bahkan oleh Riska sekalipun.
Namun keadaan sekarang sudah berbeda. Riska juga sudah merasakan bagaimana sulitnya menjadi orang susah dengan perekonomian pas-pasan. Tampaknya ia sudah banyak belajar. Sifat kerasnya berangsur menghilang, ia lebih ramah, cara bicaranya lebih santai dan tidak lagi menekan. Semua masalah yang ada didalam hidupnya, perlahan menumbuhkan sesuatu yang berharga bagi dirinya.
Aku meminta Sella dari gendongan Riska karena waktu berbuka sebentar lagi tiba. Ia begitu gemas kepada putri bule-ku yang bermata biru. Tidak segan, ia mengecup pipi Sella, bahkan sampai berkali-kali. Menatap Riska yang seimut ini dalam bersikap, terkadang membuatku iba. Bagaimana tidak, ia sudah berjuang keras untuk hidupnya. Namun, ada saja orang lain yang mengganggunya. Aku tahu perihal masa lalunya dengan Celvin yang bisa dikatakan sebagai zina, tapi itu sudah lalu dan mereka berusaha berubah menjadi lebih baik. Sakit hatiku pada saat teringat lagi akan ucapan Ivan perihal kerusakan diri Riska. Sesuatu yang kasar dan sangat tidak pantas.
Aku menghela napas begitu dalam, lalu mengembuskannya kembali. Sekuat tenaga, aku bertahan agar tidak menumpahkan air mata yang sejatinya bukan untuk masalah hidupku, melainkan masalah Riska. Aku menggantinya dengan senyuman, kemudian berkata, "kamu ke meja makan sama Selli. Dia udah di bawah sama Bi Onah. Nanti aku nyusul, Ris. Aku mau telepon Mas Arlan dulu."
Riska mengangguk pelan, kemudian ia memberikan jawaban, "iya, Kak. Makasih ya hidangan buka puasanya hehe."
"Sama-sama, Ris." Aku membalas senyuman yang ia torehkan melalui bibirnya yang indah sensual.
Selanjutnya, Riska berjalan keluar dari kamar ini. Sedangkan aku sibuk menimang-nimang Sella--gadis bule milikku. Kemudian, aku duduk di tepian ranjang bersama ia di pangkuanku. Secara kebetulan, ponselku berada di samping diriku. Lantas, aku meraihnya guna menelepon suamiku. Maksudku, panggilan video yang lebih murah melalui sebuah aplikasi.
Setelah panggilanku diterima olehnya, tampak wajah yang selalu kurindukan itu. Ia tersenyum dengan manisnya. "Assalamu'alaikum kesayangan Papa Arlan," sapanya dari negara nun jauh sana.
Aku membalas senyuman itu, kemudian menjawab salamnya, "Wa'alaikumssalam, Mas. Lagi ngapain?"
"Lagi beres-beres, Dek. Kamu sendiri lagi apa? Sekarang jam berapa di situ?"
"On the way maghrib, Mas. Di situ udah gelap ya?"
Mas Arlan menganggukkan kepalanya. "Iya, Sayang. Kamu nggak buka puasa?"
Aku menggeleng. "Enggak, Mas. Belum puasa lagi hehe."
"Ya udah, nggak apa-apa, Sayang. Itu kamu lagi ngapain?"
"Lagi manjain si bule kecil nih, Pa. Udah mulai manja nih, enggak mau ditinggal. Papa kapan puyangnya yah Dek ya? Sella kangen sama Papa." Sembari berkata demikian, aku memposisikan ponselku agar bisa menangkap wajah Sella. Sehingga, Mas Arlan bisa menatapnya.
"Sabar Dede' bule-nya Papa, sama Kak Selli dulu ya? Papa juga kangen sama kalian. Kangen banget. Di sini, Papa enggak ada yang manjain. Nggak ada yang bikin anget."
Anget? Asem! Gue disindir lagi sendiri. Begini nih derita orang gendut.
Setelah dirasa cukup, aku kembali menarik ponsel agar menangkap wajahku. Aku kembali bertatap wajah dengan suamiku yang super usil itu. Namun sesuatu tidak terduga malah aku dapatkan. Mas Arlan mewek? Sepertinya memang begitu, entah cahaya lampu atau apa, namun ujung hidungnya terlihat memerah. Sekilas tadi, aku melihat buliran air mata yang membasahi pipinya. Aku terharu sekaligus tidak tega. Meski begitu, ia berusaha menutupi kejadian itu dengan segera membuang wajahnya dariku.
Hati istri mana yang tidak menjerit? Seorang suami bahkan bisa menitikkan air mata ketika kami sedang berpisah. Bukan hanya seorang suami yang ia sandang, melainkan seorang ayah juga. Betapa perih hatinya ketika ia harus berpisah dengan istri dan kedua anaknya. Namun, Mas Arlan tetap bertahan sesuai amanat yang diberikan, ia berusaha tidak membuat kami khawatir.
"Kamu nangis ya, Mas?" tanyaku kemudian.
Mas Arlan berkilah, "enggak, Dek? Siapa yang nangis? Cemen banget laki-laki nangis."
"Halah, bohong! Aku lihat lho, aku kan juga ikut nangis." Kuusap air mataku yang ikut serta dalam suasana rindu ini menggunakan telapak tangan yang memegang ponsel. Sehingga, Mas Arlan tidak mendapati wajahku dalam beberapa saat.
"Hei, Sayang? Mana mukanya? Mas masih kangen lho. Lah kok malah ikutan nangis sih?"
__ADS_1
Aku kembali memposisikan ponselku seperti tadi. "Ikutan nangis? Berarti bener kan kamu juga nangis?"
"En-enggak, Dek. Mas nggak nangis kok."
"Dasar cemen! Masa' nangis."
"Enggak, Sayang!"
"Bohong ih. Bapak-bapak nangis ih, cemen!"
Mas Arlan bergumam pelan, "emak-emak mah nggak ada kalahnya...."
"Apa?!"
"N-nggak apa-apa, Dek. I love youuuuuu!"
"Nggak mau. Tadi ngomong apa dulu, coba?"
"Iya, i love you, Dekku sayang."
Aku masih memaksa, "enggak! Bukan itu, tadi kamu ngatain aku emak-emak gendut ya?"
Mas Arlan mengernyitkan dahi. "Apa sih? Nggak ada kata gendutnya. Ya Allah."
"Berarti bener emak-emak gitu, kan?!"
"Astaghfirllah, Dek. Ih! Emang bukan?"
Aku terdiam sejenak. "Iya, udah sih. Anak dua lagi."
Spontan, Mas Arlan tertawa terbahak-bahak. Ia bak mendapatkan suatu kemenangan. Berbeda dengan dirinya yang tengah girang, aku malah mengerucutkan bibirku lantaran sebal. Meski merasa sebal, aku bersyukur karena ia tidak lagi menangis. Tidak tega rasanya, jika mendapati suamiku bersedih hati.
Tak lama kemudian, azan maghrib mulai berkumandang. Bedug terdengar, menandakan waktu berbuka. Namun, yah, aku tidak sedang berpuasa karena kewalahan dalam mengurus kedua putriku. Belum lagi staminaku harus terkuras habis karena masih memberikan--ASI.
"Itu udah buka tuh," ujar Mas Arlan. Sepertinya suara azan terdengar olehnya. Karena posisi masjid pun tidak jauh dari rumah ini.
"Nggak apa-apa, Sayang. Semoga dimaklumi, asal kamu juga menghargai yang sedang berpuasa."
"Bentar, Mas." Aku bergerak memberikan--ASI--kepada Sella karena sempat merengek kecil. Setelah itu, sembari demikian, aku kembali mengambil ponselku yang sempat kuletakkan.
"Nangis ya, Dek? Bule kecilku?"
Aku mengangguk. "Haus, Mas."
"Coba lihat, Sayang."
"Apanya?"
"Sellanya-lah, Dek."
"Enggak mau. Kamu mah nyari kesempatan dalam kesempitan!"
Mas Arlan terkekeh. "Hih! Lihat Sella kok."
"Bohong! Sambil lihat yang lain deng."
"Ya udah mana?"
"Enggak mau! Maghrib nih, mau persiapan salat juga. Udah ya?"
"Yah." Mas Arlan menepuk dahinya. "Iya udah, sana. Hati-hati di sana, Mas minta tolong jagain anak-anak dan kantor dulu. Tunggu Mas nyampe pulang ya, Sayang. Love you, Assalamu'alaikum."
"Love you to, Wa'alaikumssalam."
Panggilan video ini kami matikan.
__ADS_1
Lalu, ketika merasa cukup dalam memberikan minum kepada Sella, aku membawanya keluar. Aku teringat akan Selli dan Riska yang sedang berbuka puasa. Terutama untuk Selli, aku khawatir ia mengganggu Bi Onah yang sedang berbuka juga. Aku menapaki anak tangga satu persatu, kemudian berjalan ke arah ruang makan.
Tampak mereka bertiga, sekaligus Bi Onah sedang menyantap takjil. Selli seketika turun dari kursi dan menghampiriku. Ia menarik kain dasterku dan mengajakku ke ruang makan.
"Selli mau disuapin lagi sama Mama ya?" pintanya.
"Eh?" ujar Riska. "Itu mama-nya lagi pegang Sella, Adek."
"Nggak mau, maunya sama Mama Fanni."
Aku tersenyum kepada Riska, kemudian Selli. "Iya, Mama suapin, tapi jangan di sini. Takut Dede'nya kena pedes." Aku menatap Riska. "Nggak apa-apa, Ris. Lagi manja, kangen bapaknya. Tinggal dulu ya? Kamu yang kenyang makannya."
"Iya, Kak. Hebat banget Kak Fanni."
Setelah itu, aku membawa Selli ke tempat yang lebih aman untuk Sella. Sembari menggendong si bule, aku menyuapi sang kakak dengan takjil berupa kolak yang aku bawa ke tempat ini. Selli begitu sumringah, sepertinya ia merasa kesepian, sehingga memanfaatkan waktu untuk bermanja denganku disaat aku mendapat hari libur.
Nia, anak kamu udah makin besar dan cantik. Semoga kalian bertemu dalam keadaan yang sudah membaik.
****
Pukul sembilan malam. Segala ibadah pun sudah kami laksanakan. Kedua putriku sudah berhasil aku tidurkan, setelah segala macam tingkah mereka berdua. Aku pun masih menahan Riska di rumah ini, bahkan bisa jadi aku pinta ia untuk menginap saja.
Di ruang keluarga kami tengah berdua. Saling duduk bersebelahan, meski harus lesehan di atas kasur lantai. Aku berencana untuk menceritakan kejadianku saat bertemu Ivan siang tadi. Riska pun terlihat sudah sangat tidak sabat lagi.
"Apa yang terjadi, Kak? Sampai Kak Fanni minta aku bawa dua pengawal itu?" Riska bertanya terlebih dahulu sebelum aku memulainya.
Aku menghela napas dalam dan mencoba tenang terlebih dahulu. Kemudian, aku membalas tatapan penuh harap dari Riska. "Siang tadi aku ketemu Ivan," ujarku.
"Apa?!" Mata Riska terbelalak lantaran kaget. Rahangnya menganga jatuh sedang tidak menyangka.
"Iya." Kuanggukkan kepalaku dan melanjutkan ucapanku, "enggak tahu ini takdir atau apa. Tapi aku bener-bener ketemu dia. Dan ... bicara banyak sama dia. Dia berpakaian serba hitam, penampilannya kumal banget. Seolah enggak mandi dua hari lamanya."
"Pasti, dia nungguin aku di apartemen itu, Kak. Otomatis lampu ruang yang deket jendela enggak nyala, kan? Dia pasti disitu selama itu."
"Aku nggak tanya soal itu sama dia. Tapi dia tetap seorang penjahat amatir. Mudah panik dan nggak bisa nyembunyiin rahasia. Pada saat aku tanya dia apa bukan pelakunya, dia langsung kaget dan keceplosan nyuruh aku biar nggak ikut campur."
"Aku udah nyari dia, Kak. Dan aku udah minta ketemu, tapi tiap hari dia ganti nomor. Habis teror aku, nomor dia nggak aktif. Besoknya ada nomor baru. Hampir lima kali ada nomor baru dalam satu hari masuk ke HP aku. Kayaknya dia udah tahu kalau aku udah curiga sama dia. Makanya dia kayak gitu."
Benar seperti dugaanku, Riska belum sempat bertemu dengan Ivan. Pergantian nomor ponsel yang begitu cepat, pastinya akan menyulitakan dalam pencariannya. Aku menjadi heran, Ivan mendapatkan uang dari mana? Aku rasa ia tidak sedang memiliki pekerjaan.
"Ah?!" Aku tersentak seketika. Lebih tepatnya pada saat teringat jika Ivan sudah tidak memiliki mobil. Jangan-jangan ia menjual segala asetnya untuk menjalankan rencananya? Entahlah.
Lalu segera kuambil ponselku. Aku mencari rekaman berisi percakapan kami itu. Setelah didapatkan, aku menyalakannya dan memperdengarkannya kepada Riska. Ia terkejut sejenak, kemudian diambil alihnya ponselku. Ia mendengarkannya dengan ekspresi yang berubah-ubah. Mungkin sekitar lima menit, bunyi rekaman itu.akan habis.
Setelah selesai, Riska memberikan ponsel itu kepadaku lagi. Aku menerimanya, namun belum aku simpan di kantong daster. Aku menghela napas dalam, kemudian berkata, "hanya ini yang bisa aku bantu, Ris. Aku bisa kirimin rekaman ini buat kamu. Aku tadinya spontan aja pas ketemu dia di minimarket. Kebetulan aku nggak puasa, dia minum sebotol kopi. Jadi aku ajak dia ke kafe yang masih buka."
"Tapi, Kak Fanni nggak diapa-apain, kan?" tanya Riska. Ia tampak merasa khawatir kepadaku, ia jari jemarinya tengah mencengkeram lenganku yang dua kali lipat lebih besar lengannya.
Aku menggeleng. "Aku aman. Tapi masih was-was, makanya aku minta kamu bawa dua pengawal itu biar bisa jagain aku. Aku bahkan minta tolong ke Pak Edi, biar seminggu ini malamnya tidur di sini. Dan ... sekarang semua keputusan ada di kamu, Ris. Hukum atau ampuni dia."
Riska melepaskan tangannya dariku. Ia menggigit jarinya dengan ekspresi cemas. Sepertinya keputusan mengenai masalah ini adalah keputusan yang berat. Mau bagaimanapun, Ivan tetap orang yang pernah ada di sampingnya.
"Ivan bilang sama aku, dia masih punya orang tua. Kami membuat kesepakatan, untuk saling menjaga rahasia, dan dia bisa berhenti dari ulahnya itu."
"Aku masih takut, Kak. Bisa saja Ivan mencari cara lain. Orang kalau udah kena penyakit obsesi, pasti susah sembuh. Tapi, disisi lain aku juga nggak tega. Belum lagi kalau Celvin tahu, Ivan nggak bakalan dibiarin aja sama Celvin. Mereka adalah dua orang yang sedang aku lindungi. Celvin kalau ngamuk kayak monster, lalu kalau sampai itu terjadi Celvin bisa kena masalah lagi."
"Dan Ivan juga cukup bermakna bagimu karna pernah baik padamu?"
"Iya, Kak. Sebelum adanya masalah ini, aku udah anggep Ivan kayak saudara sendiri. Aku terus minta Ivan cari wanita lain, habis itu aku pura-pura enggak peka. Mungkin salahku disitu, karna waktu itu nggak nolak dia secara tegas."
Oh, Riska. Malang sekali, nasibmu.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Hanya sebatas bantuan tidak terduga itu yang bisa aku berikan. Masalah keputusan semua berada di tangan Riska. Yah, semoga ia bisa mengambil keputusan dengan baik tanpa menimbulkan kerugian bagi pihak manapun.
Bersambung ....
__ADS_1
Budayakan like+komen