
Posisi gedung kantor milik Sanjaya yang masih sama dan tidak akan berpindah, atau tergeser begitu saja. Langit biru di angkasa begitu bebas dipandang mata pada saat diri ini berdiri di halaman gedung yang luas. Gedung ini lumayan besar yang terdiri dari beberapa lantai sesuai divisi, bahkan kantin dan fasilitas lainnya. Mewah sekali, bukan? Itulah aset berharga milik Bapak Ruddy Hariawan Sanjaya--sang pengusaha kaya raya.
Bagaimana mungkin, seorang aku tidak merasa bangga tatkala diterima bekerja ditempat ini. Tahun ke tahun, aku menghabiskan hampir seluruh hari dan ideku untuk tempat ini, maksudku untuk bisnis didalam tempat ini. Kisah kasih sebagai karyawan bawah yang mudah minder, lalu menjadi sekretaris dari CEO baru yang tampan rupawan. Sampai sekarang rasanya masih sangat sulit dipercaya. Aku mengulangi kembali kalimatku seperti beberapa saat yang lalu.
Dan hari ini adalah hari dimana aku harus mengajukan permohonan undur diri kepada Celvin Hariawan Sanjaya--selaku atasanku. Mungkin, masih ada sisa beberapa hari lagi sampai pertemuan itu dilaksanakan. Sejujurnya dalam hatiku, aku merasa enggan dan sayang. Meski aku sering kelelahan karena pekerjaan ini, namun aku sangat menikmati hari-hariku disini. Banyak tragedi dan juga emosi, banyak kenangan atau bahkan kebencian. Ada pembelajaran sekaligus jalinan pertemanan. Aku banyak berubah bukan hanya karena Mas Arlan, namun juga kehidupan yang berlangsung didalam kantor ini. Selama bertahun-tahun, aku selalu setia menjaga nama baiknya. Dan sebentar lagi, aku akan keluar begitu saja.
Baiklah, tak mengapa. Karena ada satu ganti yang sungguh luar biasa berharga yaitu calon anakku didalam kandunganku. Kemudian aku mulai memasuki gedung itu. Hatiku sedikit berdebar, aku merasa agak canggung untuk nantinya ketika menyerahkan surat pengunduran diriku. Namun, hal ini harus aku lakukan sesuai janjiku kepada Mas Arlan.
Aku memasuki lift alias elevator demi mencapai lantai atas, dimana ruang kerjaku berada. Kuhela napasku dalam-dalam, memang bukan sekarang. Mungkin ketika hendak pulang baru akan aku katakan. Entah mengapa, hati ini begitu tidak tenang dan gusar. Dalam hati kecilku, aku masih tidak tega meninggalkan Celvin begitu saja.
Sampai akhirnya aku sampai dihadapan ruang kerjaku. Kutatap daun pintu itu terlebih dahulu. Berdo'a demi memohon keberanian yang menggelora. Jika tidak saat ini, lalu kapan? Karena seharusnya seorang wanita menjadi ibu rumah tangga saja, bukan? Baiklah, aku akan membuka pintunya perlahan-lahan. Saat aku melongok ke dalam, seperti biasanya Celvin telah berada di meja kerjanya. Lalu, aku masuk penuh rasa ragu.
"Eeh, Fann. Selamat pagi," sapanya.
"Ya, Vin. Selamat pagi kembali," jawabku.
Ia tersenyum sekilas. Kemudian kembali lagi pada pekerjaannya. Aku memilih duduk di tempatku. Sedang suasana pagi ini cukup tenang dan nyaman. Haruskah aku mengajukannya sekarang? Tapi, aku belum mempersiapkan hati. Astaga! Mengapa memohon undur diri rasanya lebih berat daripada melamar pekerjaan?
Oke, sekarang aja. Mumpung dia juga lagi nggak sibuk.
Aku berdiri kembali, kuambil tasku dan kubuka perlahan. Ada sebuah amplop putih yang berisi surat pengunduran diriku. Meski ragu, aku harus bersiap dan menyerahkannya sekarang. Sehingga Celvin bisa segera membuat keputusan, kapan aku bisa berhenti. Demi suami, Selli serta anak dalam kandunganku.
Kuambil langkah semakin mendekati meja Celvin. Dan akhirnya sampai juga. Aku menaruh amplop putih itu dihadapannya. Ia menatapku sembari mengernyitkan dahi. "Apa ini?" tanyanya.
"Ma-maaf, eem ... itu surat pengunduran diriku."
"Pengunduran diri? Fanni, kamu serius?"
Aku mengangguk pelan, lalu duduk di kursi. "Iya, Vin. Sesuai perjanjian kita, aku sudah berhasil mengandung sekarang. Kamu ingat, bukan?"
Celvin menatap amplop putih itu seolah tidak percaya. Sepertinya aku berhasil membuatnya terkejut, atau bahkan kecewa. Kemudian ia mengepalkan kedua telapak tangannya menjadi satu serta menopang dagunya. Ada suatu kegusaran tersendiri yang menurutku tengah ia rasakan. Sedangkan aku hanya diam sembari menunggu respon selanjutnya.
"Sebelumnya selamat atas kehamilan kamu ya, Fanni."
"Te-terima kasih."
"Sejujurnya aku memang terkejut. Perusahaan memang sudah cukup stabil. Tepatnya pada saat suami kamu menaungi salah satu cabang perusahaan, dan berkembang cukup pesat. Aku sangat berterima kasih."
Sungguh kabar baik yang baru saja aku dengar. Sebuah prestasi yang diperoleh oleh Mas Arlan. Ia bahkan tidak memikirkan tentang status keluarga Sanjaya sebagai musuh keluarganya, ia cukup profesional. Aku sangat bangga terhadap suamiku. Ah ... aku menjadi terbawa suasana pada saat mendengar sesuatu tentang suamiku, sampai melupakan niatku untuk sesaat.
Selepas mengatakan hal itu, Celvin tampak menghela napasnya dan menghembuskannya kembali. Aku melihat suatu penolakan dari netra matanya yang jernih dan indah. Disatu sisi, Celvin pun tidak memiliki hak untuk menahanku supaya tetap disini. Inilah yang membuatku tidak enak hati, bahkan tidak tega untuk meninggalkannya. Seperti yang ia katakan dimasa lalu, bahwa diriku adalah teman pertama setelah ia terpuruk dari kesalahannya. Celvin telah berhasil menjadi pria yang lembut hatinya. Menurutku, ia tidak pantas lagi menyandang predikat pembunuh ataupun preman.
"Fann, bagiku kamu adalah teman, bahkan saudara perempuan. Kamu bukan hanya seorang asisten pribadi atau sekretaris. Kamu luar biasa."
"Terima kasih, Vin. Begitupun sebaliknya. Tanpamu, aku tidak bisa berkarir setinggi ini."
"Kamu adalah wanita yang sangat manis, bukan hanya parasnya melainkan budi pekertinya. Aku ada rasa bangga pada saat ikut menjadi saksi atas perubahan dirimu yang semakin membaik dan percaya diri."
Aku tersenyum sekilas. "Kamu pun sudah berhasil dalam perubahanmu, Vin. Kamu tidak pantas lagi menyandang gelar pembunuh, pembully ataupun preman. Celvin yang aku kenal sekarang adalah Celvin yang lembut hatinya."
"Hmm ... tapi, aku masih memiliki satu kesalahan pada orang yang aku cintai. Sampai dia belum berkenan menemuiku lagi, Fann. Aku belum berubah sebaik itu. Emm ... aku akan pastikan kamu segera berhenti, tapi aku minta waktu. Mungkin satu minggu sampai aku mendapatkan gantimu."
__ADS_1
"Baiklah, aku sudah membicarakannya dengan Mas Arlan. Aku bisa menunggu dalam waktu itu dan bekerja disini terlebih dahulu. Tapi, aku juga punya dua permintaan."
"Permintaan?"
Celvin kembali mengernyitkan dahinya. Ya, ada dua permintaan yang ingin aku sampaikan. Dan aku rasa, ini merupakan hal yang penting. Mungkin akan berpengaruh terhadap hidup orang lain. Kutilik jam terlebih dahulu. Aku ingin memastikan bahwa masih banyak waktu tersisa sebelum jam kerja dimulai. Karena seringkali banyak orang yang datang demi meminta tanda tangan dari Celvin. Belum lagi kami harus menghadiri beberapa pertemuan penting.
Setelah, merasa cukup ada waktu, aku menatap Celvin lagi dengan serius.
"Vin, aku ingin kamu mengajukan diri pada pertemuan Pak Ruddy dan Pak Gunawan."
"Itu? Memangnya Papa akan setuju? Beliau belum memintaku berbuat sesuatu. Tapi, untuk apa?"
"Kamu memiliki hak untuk ikut serta, bukan? Apalagi kalau berpengaruh pada perusahaan dan terutama Riska."
Celvin terdiam, tampaknya ia tengah berpikir. Lagipula, permintaanku cukup mudah. Paling respon kakak iparku yang tidak mudah dihadapi. Namun menurutku, Celvin perlu tahu akan isi dari pertemuan yang akan digelar beberapa hari lagi. Karena aku pun belum bisa memastikan pembahasannya mengenai apa.
Tak lama kemudian Celvin menganggukkan kepalanya. Tatapannya yang sendu, kini berubah menjadi lebih serius. Aku rasa, ia telah mempertimbangkannya dengan baik. Aku harap memang begitu.
"Aku akan memintanya pada Papa, Fann. Rasa-rasanya, ucapanmu memang ada benarnya. Aku adalah pimpinan disini."
"Bawa aku sebagai sekretarismu. Aku perlu tahu tentang suamiku juga. Jadi, kita bisa saling menguntungkan, bukan?"
"Wah! Kamu istri yang nakal. Dalam keadaan hamil, sepertinya Om Arlan tidak menyetujuinya. Lalu, kamu menggunakan cara ini, begitu?"
"Nakal apanya? Justru ini cara dari suamiku."
"Hmm ... begitu ya? Kalian pasangan yang kompak ya? Aku jadi iri, aku rindu dengan Riska. Kapan kami bisa bertemu?"
"Sudah, tapi hanya sekedar kabar via ponsel. Selanjutnya tidak ada, kata dia saat ini dia bekerja sebagai penulis. Wajar sih, penulis tidak banyak bekerja diluar. Aku rasa, Riska memutuskan hal itu karna belum mau bertemu denganku atau keluarganya. Jadi, memilih pekerjaan itu."
Aku manggut-manggut saja. Jika dipikirkan memang ada benarnya. Jadi, selama ini Riska masih mengurung diri didalam apartemenku? Menyedihkan dan miris sekali hidup wanita itu. Disatu sisi aku bersyukur, lantaran ia tidak berbuat macam-macam. Tidak depresi terlalu lama, bahkan ia bisa menciptakan suatu karya dengan kepintarannya. Mungkin, jika ada waktu yang tepat aku akan mengajak Mas Arlan untuk mengunjunginya lagi.
"Oh iya, Fann. Tentang kasus penggelapan suamimu itu?"
Aku mengernyitkan dahiku. "Kamu tahu darimana?"
"Aku dengar dari Om Arlan sendiri pada saat beliau datang berkunjung ke rumah Papa."
"Oh, aku baru tahu. Tapi, sepertinya sang pelaku adalah orang yang sangat pintar. Sampai saat ini masih diselidiki. Gara-gara padat dengan kesibukan, Mas Roni tidak bisa banyak membantu. Belum lagi Mas Arlan sudah tidak ada disana."
"Mas Roni?"
"Ya, salah satu sahabat Mas Arlan dan suami dari karyawan kamu. Si Nike."
"Oh .... memang sulit kalau dalangnya cukup pintar atau bahkan jenius. Dia bisa bergerak cepat demi membuang barang bukti. Dengan uangnya, dia bisa menyuap pihak bank. Bahkan dia bisa meng-hack data komputer milik orang lain, atau melakukan pengintaian," jelas Celvin. "Dengan begitu dia bisa tahu apa saja yang dilakukan oleh sang penyelidik. Rasanya uang itu bukanlah faktor utama yang dicari, melainkan jatuhnya harga diri suami kamu yang menjadi tujuan utamanya."
Deg! Benar juga apa yang Celvin ucapkan. Dari semua penjelasan itu, seperti ada satu peluang untuk mencaritahu siapa sang pelaku. Mungkin Mas Arlan bisa mengecek lagi semua orang yang dicurigai, mulai dari keterampilan, kepintaran bahkan jumlah uang dan koneksi yang orang-orang itu miliki. Entah dari keluarga sendiri atau mungkin salah satu pemegang saham. Ah ... mengapa tidak terpikirkan diri dulu?
Tujuan utama dari kejahatan itu yang perlu digaris bawahi. Bukan uang, melainkan harga diri dan kehancuran Mas Arlan. Ini mungkin saja terjadi. Tidak mungkin orang itu menghilangkan semua bukti sampai ke akar-akarnya, bahkan salah seorang karyawan yang terlibat tidak nampak batang hidungnya. Itu yang sempat aku dengar. Pasti ada maksud tersembunyi dibaliknya. Orang itu sangat jahat. Ah ... jangan-jangan pertemuan itu untuk berperang? Apa mungkin orang itu juga mengadukan tentang jabatan dan pekerjaan Mas Arlan di keluaga musuh?
"Fann? Fanni? Hei?"
__ADS_1
Aku gelagapan. "Oh i-iya, maaf hehe."
"Jangan banyak pikiran pas lagi hamil."
"Iya sih. Tapi, apa yang kamu ucapkan berhasil membuat otakku menganalisis."
"Itu hanya tebakanku. Belum sepenuhnya benar. Tapi tetap harus waspada saja. Orang jahat tidak ada matinya kalau tidak berubah. Karena aku juga pernah menjadi orang jahat."
"Hehe ... iya, Vin."
"Lalu, permintaan kedua kamu soal apa?"
"Soal sekretaris barumu. Tolong angkat Mita, dia telah banyak berusaha. Dia cukup pintar, lagipula dia sudah kamu anggap seperti adik sendiri, kan?"
"Mita ya?"
Mendengar permintaanku ini, Celvin kembali ragu. Bahkan ia berdiri dari duduknya. Ia berjalan menghampiri jendela ruangan yang menampilkan pemandangan luar. Aku merasa heran, jika Mita sudah ia anggap sedekat itu, mengapa ia masih saja meragukan tentang kemampuan Mita?
Sedangkan aku disini memilih diam kembali. Berharap Celvin bisa mengabulkannya. Mita sudah banyak berubah juga, ia sudah banyak terkena tekanan batin dari sang ayah. Ia memang terkesan kasar dan keras kepala, tapi dibalik itu semua ia cukup rapuh dan menahan segala cacian dari ayahnya sendiri. Aku tidak mengerti, mengapa aku melakukan hal ini. Rasanya hanya tidak tega itu saja. Lagipula, Mita adalah temanku dan dirinya cukup dekat dengan Celvin. Menurutku tidak ada salahnya, ia menggantikan posisiku.
"Fann?"
"Ya?"
"Kamu tahu, Mita telah gagal dalam misinya?"
"Aku tahu dan aku tahu penyebab dibaliknya."
"Ya, dia juga sudah bercerita padaku. Aku bersyukur percobaan pelecehan itu tidak berhasil. Namun disatu sisi, kemampuan Mita belum berkembang. Aku tidak ingin menarik orang hanya karna hubungan atau koneksi. Mita belum cukup dewasa."
"Mita sudah dewasa, Vin. Dia hanya tidak bisa menghilangkan karakter kerasnya. Dan itu wajar sebagai manusia. Vin, Mita itu pintar. Dia dekat denganmu. Bantulah dia untuk terlepas dari penekanan ayahnya. Siapa tahu dia bisa menjadi lebih lembut dan rajin."
"Kenapa kamu melakukan ini? Bukannya kamu adalah salah satu korban penindasannya?"
"Eh, kamu tahu?"
Celvin hanya menatapku dan diam. Bagaimana ia bisa tahu? Mungkinkah Mita yang menceritakannya? Tidak, aku harus melupakan hal buruk itu. Sejauh ini hubunganku dengan Mita sudah membaik, aku tidak ingin mencorengnya dengan kenangan buruk dimasa lalu.
Aku harus mengembalikan topik pembicaraan seperti pembahasan semula.
"Itu sudah tidak penting. Dia berubah menjadi lebih baik sekarang."
"Sebenarnya aku sudah tahu sejak lama, Fann. Beberapa kali memancingmu supaya menceritakannya padaku, tapi kamu tetap bungkam. Melihat Mita, rasanya melihat diriku dimasa lalu. Walaupun kami dekat, namun aku membencinya disisi itu."
"Ya, aku mengerti. Tapi, Mita sama sepertimu wahai Bapak Celvin. Dia, kamu, bahkan aku adalah insan pendosa. Kita telah banyak berubah. Jadi aku hanya ingin menyarankan saja. Tolong angkat dia, bantu dia menjadi lebih baik lagi."
Celvin menghela napas. "Ya, mungkin akan aku pertimbangkan. Permintaan pertamamu, aku pastikan berhasil. Entah, apa yang bisa aku lukiskan untuk dirimu, Fanni. Kamu sangat baik dan pintar. Om Arlan beruntung memilikimu."
Aku tersenyum malu-malu. Bersyukur atas respon Celvin itu. Selepas itu, aku mengucap terima kasih. Aku kembali ke tempat kerjaku lantaran jam kerja sudah dimulai. Ya, meja kerja yang tinggal beberapa hari lagi bisa kutemui.
Oh meja, kursi, komputer dan berkas-berkas membosankan. Sepertinya aku bakal kangen berat sama kalian.
__ADS_1
Bersambung...