Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Pernikahan


__ADS_3

****


"Enggak terasa, udah lima bulan aja ya, Mas. Banyak banget hal yang enggak terduga," ujarku sembari menatap Mas Arlan yang tengah mengancingkan kemeja batik yang ia pakai saat ini.


Ia menatapku lalu tersenyum. "Maaf ya, Dek. Dari keluarga Mas lagi, dan harus ngebebani kamu," jawab Mas Arlan.


Aku menggeleng. "Enggak kok, Mas. Justru banyak pelajaran yang aku dapatkan. Dan semua juga udah berakhir damai."


"Mas enggak lihat, dulu gimana damainya, Dek."


"Menegangkan, Mas. Tapi, aku salut banget sama keberanian Mbak Leny. Enggak cuma buat beliau sendiri, tapi juga kita sama Roby sama yang lain juga. Biar Mas Gun enggak egois lagi."


Mas Arlan telah menyelesaikan aktivitasnya itu. Kemudian, ia duduk di sampingku yang saat ini sedang memberi minum si kecil Sella. "Mbak Leny pernah bilang sama Mas, Dek. Beliau enggak tega sama kita yang hidup seadanya, padahal kita ini salah satu anggota keluarga pengusaha besar."


"Dan sampai akhirnya, kamu ambil ganti rugi itu ya, Mas."


"Iya hehe. Habis, Mas Gun maksa. Lumayan buat celengan."


"Kan kataku juga apa, ambil aja enggak apa-apa. Kecuali kalau kamu enggak berbuat apa-apa, kamu boleh nolak."


"Iya, Sayang, iya. Buta modal usaha aja, ya? Terserah kamu mau usaha apa. Yang penting telaten."


"Iya, Mas. Entar aku pikirin dulu ya?"


Mas Arlan mengangguk, kemudian mengecup pipiku. "Mas sayang kamu dan anak-anak, Dek. Makasih karna enggak pernah ninggalin Mas dalam keadaan apa pun."


Aku tersenyum, kemudian aku membalas kecupan Mas Arlan tetap di pipinya.


Waktu memang terasa cepat berlalu. Lima bulan telah berselang. Mbak Leny dan William kembali ke Canberra dengan membawa kedamaian hati. Mungkin saat itu, apa yang dilakukan William adalah sebuah trik. Ia rela mengambil resiko pertengkaran dengan ibundanya untuk mendamaikan kedua belah pihak. Mungkin kedengarannya memang keterlaluan, namun ia berhasil. Lagi pula, ibu mana yang akan tega jika melihat anaknya sangat menginginkan sesuatu.


Hampir semua permasalahan kini selesai. Pada akhirnya pun, Mas Arlan mengambil cek dari Riska itu. Dan untuk menepati janji Mas Gunawan kepada Ibu Leny, perusahaan milik Harsono akan membantu biaya pendidikan anak-anak kami. Namun Mas Arlan menolak jika secara menyeluruh, ia akan meminta bantuan ketika sedang terdesak saja. Hubungannya dengan Mas Gunawan juga semakin membaik layaknya saudara seperti biasanya.


Hanya saja, Mbak Dahlia masih dalam perawatan intensif di rumah sakit khusus penderita kanker di Singapura. Diandra dan Ajeng sudah lulus dari SMA dan memutuskan kuliah di Singapura sembari merawat ibundanya. Dengan adanya kedua putri kembar itu, Mbak Dahlia bisa lebih kuat dalam menghadapi penyakit berbahaya itu. Dan ... Mas Dian telah bebas. Beliau juga menemani Mbak Dahlia di negara itu, sampai semua bisa stabil, beliau akan kembali bekerja di perusahaan.


"Mamamama," celetuk Sella yang sudah semakin pesat perkembangannya. Sebentar lagi akan berusia satu tahun.


"Iya, Sayang. Udah kenyang ya? Yuk berangkat," ujarku kepada Sella, kemudian aku beralih kepada Mas Arlan. "Mas, Selli udah belum. Mama WA aku, udah di sana sama Papa. Mereka canggung nih, kalau kitanya enggak ada."


"Iya, Dek. Mas lihat Selli dulu." Mas Arlan mengecup pipi Sella, kemudian bergegas keluar.


Saat ini kami kompak menggunakan baju batik bermotif sama. Aku, Mas Arlan, Selli dan Sella. Namun, batikku berupa androk ikat dengan atasan kebaya jingga berlengan pendek. Rambutku tersanggul rapi, dengan makeup natural namun di bagian mata tetap cerah. Kami akan ke mana? Tentu ke resepsi pernikahan Riska dan Celvin. Ya, pada akhirnya mereka bisa naik ke kursi pelaminan.


Dua orang CEO dari perusahaan besar, kini telah bersatu. Bisa dibayangkan betapa megahnya resepsi pernikahan mereka yang akan dilaksanakan di dalam gedung mewah. Konsep yang digunakan adalah konsep "Cinderella". Aku sempat menemani Riska untuk fitting baju pengantin, dan gaun itu luar biasa bagus. Berwarna putih dengan aksen renda di bagian atas dan serpihan permata di bagian bawah yang mengembang besar. Astaga! Aku sudah tidak sabar untuk melihat kecantikan Riska nanti.


"Mama Fanni, ayo." Setelah terdengar pintu dibuka, maka terdengat suara Selli dari ambangnya. Ia terlihat anggun dengan kebaya yang sama seperti diriku dan adrok ikat yang terpasang dengan model span sebagai bawahan. Rambutnya pun tersanggul rapi, tentu aku yang merias dirinya sebelum sibuk dengan Sella.


"Ayo, Dek," ujar Mas Arlan di belakangnya. Penampilannya penuh wibawa. Terlebih ada jam tangan berwarna perak di lengan kirinya. Matanya yang sedikit sipit kini terhias sebuah kacamata.


Aku mengangguk pelan. "Iya, Mas. Tapi bantu gendong Sella dulu. Aku mau lipat strollernya dulu."


"Siap, Dek." Mas Arlan berjalan masuk ke dalam. Namun justru ia yang melipat kereta dorong alias stroller milik Sella yang kini telah diganti, karena Sella sudah bisa duduk. "Sini sama Papa dulu, Mama mau dandan," ujar Mas Arlan sembari mengambil alih Sella dari gendonganku.


"Papapapapa," celetuk Sella dengan nada yang menggemaskan.


Karena urusan kereta bayi telah selesai, maka aku beralih pada hal lain. Aku menuju cermin rias untuk memeriksa penampilanku. Saat ini pun, korset terpasang di perutku agar lemakku yang tidak pernah hilang tersembunyi dengan baik. Ya, baik, sampai saat ini aku tidak bisa berdiet. Aku berharap orang lain tidak meniru gaya hidupku. Berdiet bukan sesuatu yang mustahil untuk seseorang yang memiliki niat besar, namun bukan diriku yang memiliki niat yang ciut.


Setelah dirasa bagus, aku segera mengambil tas berukuran agak besar dan selempang kecil. Satu untuk keperluan Sella, sedangkan selempang jingga untuk menunjang penampilanku. Kemudian, aku bergegas menyusul para orang tercinta yang sudah lebih dulu keluar. Tidak lupa, aku membawa stroller tadi.


"Bi, nitip rumah ya? Kami kayaknya agak lama," ujarku kepada Bi Onah pada saat kami bertemu di teras rumah. Beliau masih menyapu lantai di sana.


Bi Onah lantas mengangguk. "Iya, Mbak. Hati-hati di jalan, Mbak sama Mas Arlan," jawab beliau diiringi nasehat hati-hati.


Aku mengangguk pelan. "Assalamu'alaikum, Bi."


"Wa'alaikumssalam, Mbak."


Aku bergegas menuju mobil hitam yang di dalamnya telah diisi oleh keluarga kecilku. Kemudian aku masuk. Kuambil Sella dari tangan Mas Arlan. Sehingga, Mas Arlan bisa segera melaju mobil ini untuk melakukan perjalanan menuju gedung pelaksanaan resepsi pernikahan Tuan Muda dan Nona Muda itu.


****


"Wah!" Aku terpana pada saat menatap dekorasi indah yang terpasang di pelaminan Riska dan Celvin. Banyak bunga mawar putih yang terpasang, bahkan aromanya begitu harum. Ini luar biasa! Seperti sebuah kerjaan saja. Terlebih dekorasi hewan yang muncul di serial "Cinderella" menambah kemewahan yang menakjubkan ini. Aku seperti masuk ke dalam negeri dongeng dalam sekejap waktu.


Riska begitu cantik dengan gaun yang mekar itu. Rambutnya juga tersanggul rapi dengan beberapa accesories tiara yang bercahaya, dan kain putih tipis yang biasanya terpasang di rambut sang pengantin. Sedangkan Celvin juga memakai pakaian pengantin berwarna putih.


"Dek ...? Kenapa bengong?" tanya Mas Arlan tiba-tiba. Tentu saja, aku tersentak kaget dan malu.


"Cantik, Mas. Luar biasa. Aku kampungan ya? Ta-tapi bagus banget," jawabku.


"Hmm ... iya, Dek. Ini bayaran untuk kesabaram mereka karna pernikahan yang terus tertunda. Dan ini semua biaya dari Celvin. Dia bertanggung jawab dalam membahagiakan Riska." Ada buliran air mata yang tiba-tiba jatuh di pipi Mas Arlan.

__ADS_1


"Lha? Kok nangis kamunya, Mas?"


Mas Arlan mengusap air matanya itu. "Riska udah kayak anak kandung Mas, Dek. Terharu aja, akhirnya dia menikah juga."


"Emm ... iya, Mas. Dia luar biasa cantik hari ini. Wajahnya juga ceria banget."


"Tapi, istri Mas jauh lebih cantik, Dek."


"Aku gendut!"


"Sexy."


"Ih! Didengerin orang."


"Biarin aja."


"Dasar!"


Mas Arlan yang sejak tadi menggendong Sella, kini mengajakku berjalan lebih dekat dengan mereka berdua. Selli pun tidak mau ketinggalan momen ini, ia berlari cepat untuk menghampiri Riska dan Celvin.


Di bagian lain, aku melihat Mas Gunawan dan Mbak Kelly sibuk menyambut tamu. Oh, ada ayah dan ibuku juga, bahkan keluarga Kak Pandhu. Aku merasa lega karena keluarga kami bisa akur seperti ini.


"Selamat ya, Riska," ujar Mas Arlan kepada Riska ketika kami sampai di hadapan mereka.


"Om." Riska menitikkan air mata. Setelah itu, ia mengecup punggung tangan Mas Arlan. "Makasih ya, Om."


Mas Arlan mengusap air mata yang membasahi pipi keponakannya itu. "Jangan nangis dong, nanti bedaknya luntur. Udah jadi istri masih cengeng aja kamu."


"Emm ... makasih, Om. Pokoknya makasih karna selama ini selalu bantuin, jagain dan sayang sama Riska." Ia menyenti pipi Sella yang masih ada di gendongan Mas Arlan.


"Papapapapa," celetuk anak gadisku itu. Sampai membuat Riska tersenyum gemas, meski pipinya masih basah oleh air mata.


"Dasar anak cengeng. Udah dibilang jangan nangis, kok keluar lagi air matanya." Mas Arlan beralih kepada Celvin. "Jaga anakku ini, Vin. Jangan dibikin sakit hati ya? Dan selamat akhirnya kamu menangkan hati Riska dan orang tuanya."


Celvin mengangguk. "Makasih, Om. Saya akan jaga Riska," jawabnya dengan mantap.


Setelah itu, aku memeluk Riska. "Selamat ya, Riska," ujarku sembari melepas pelukanku kepadanya.


Riska mengangguk. "Makasih, Tante Fanni."


"Eh?!"


"Emm ... baiklah. Hehe."


Aku menatap Celvin yang tersenyum kepadaku. Ia tampan sekali, sungguh. Seperti seorang pangeran yang sesungguhnya dan memang ia ini seorang tuan muda. Aku maju ke hadapannya. "Selamat, Vin."


Celvin tersenyum. "Terima kasih, Nona Fanni."


"Udah, jangan lihat-lihatan sama istriku," celetuk Mas Arlan yang membuatku terkesiap lalu malu. "Nikmati gelar kalian hari ini. Aku dan istriku ke tempat lain dulu."


Setelah itu, Mas Arlan menggandeng tanganku. Aku segera meraih tangan Selli yang sejak tadi begitu terpana dengan penampilan Riska. Dalam keadaan seperti ini pun, Mas Arlan masih saja menyimpan cemburu kepada Celvin. Mungkin ia takut jika aku jatuh cinta lagi kepada Celvin yang saat ini sangat tampan. Menggelikan, bukan? Aki-aki manis ini, uh!


"Mama tadi Kak Riska cantik banget!" ujar Selli kepadaku, sembari menoleh sekilas ke arah Riska yang telah kami tinggalkan.


"Iya, Sayang. Nanti kalau Selli udah besar, juga kayak Kak Riska," jawabku masih menggandeng tangannya karena takut ia hilang di antara para tamu.


"Iya, Ma. Selli juga mau."


"Tapi sekarang belajar dulu yang pinter, ya?"


"Iya, Mama. Itu ada kakek, nenek dan Dede' Dany, Ma."


"Yuk ke sana."


"Ayo, Ma."


Selli begitu antusias, gadis kecil yang baru saja naik ke kelas tiga ini begitu senang pada saat melihat ibu dan ayahku. Ya, hanya orang tuaku yang saat ini bisa ia panggil sebagai seorang nenek dan kakek. Terlebih ada Dany--anak dari Kak Pandhu dan Kak Febi yang sudah bisa berjalan, usianya pun hampir tiga tahun.


Sesampainya di hadapan keluargaku, kami menyalami mereka satu persatu. Lalu, ibuku meminta Sella dariku dan ayahku asyik bersama Selli.


"Gila, Bang. Pernikahannya mewah banget, gue merasa minder sendiri," celetuk Kak Pandhu kepada Mas Arlan.


"Lakinya yang luar biasa, Mas Pandhu. Aku aja malu, enggak bisa ngasih pernikahan kayak gini ke Fanni dulu," jawab Mas Arlan.


"Lah, sama aja, Bang. Gue juga malu sama Febi."


"Hilih!" sela Kak Febi kepada suaminya itu. Ia seperti mencibir, namun tetap menggemaskan.


Ibuku pun tidak mau kalah. "Udah, udah. Udah berapa tahun kalian menikah, ngapain malu? Fanni juga, Febi juga jangan suka banding-bandingin lho."

__ADS_1


"Iya, Mama," jawabku dan Kak Febi secara bersamaan. Setelah itu kami saling memandang dan tertawa.


"Ini berapa mil ya habis biayanya? Keuntungan Papa di toko kayaknya enggak bisa gantiin biaya mereka," timpal Papa. Beliau menatap atap gedung ini yang sudah terhias lampu mewah yang menggantung indah.


"Tukang roti mana mampu," jawan ibuku.


"Mama enggak boleh ngebanding-bandingin lho," sindir Kak Febi. Ia menatap ibuku dengan tersenyum-senyum.


Ibuku salah tingkah seketika. "Y-ya bukan gitu. Mama kan cuma ngomong doang, ih! Udah ah. Arlan mana kunci mobil kamu, biar Mama bawa Sella ke sana. Kalian masih harus di sini, kan? Barang-barang Sella di mobil, kan?"


"Iya, Ma." Mas Arlan merogoh kantong celananya. Setelah itu, ia memberikan kunci mobil kepada ibuku.


"Ayo sama Dany sekalian. Selli mau ikut? Ke mobil doang kok. Nanti kalau kami mau pulang, Mama balikin. Kasihan, banyak tamu."


Setelah mendapatkan persetujuan dariku dan Mas Arlan, ayah dan ibuku membawa anak-anak ke mobil berada atau mungkin tempat lain yang lebih nyaman. Bahkan Kak Pandhu dan Kak Febi juga ikut. Kini, hanya ada aku dan Mas Arlan.


Kami berdua menyantap hidangan yang ada. Sebenarnya, sangat tidak nyaman jika makan dan minum dengan posisi berdiri. Namun, seperti inilah yang terjadi pada sebuah pesta besar. Sembari berbincang dengan tamu lain yang datang. Dan itu yang dilakukan oleh Mas Arlan. Jujur saja, aku merasa bosan. Aku menyudahi bersantapku dan meletakkan piring pada tempat yang telah disediakan. Setelah itu, aku kembali ke sisi Mas Arlan.


"Fanni?" Suara seseorang mengejutkanku.


Aku segera berbalik badan. "Mita?" Aku terpana, Mita ada di sini. Ia juga cantik sekali, tubuhnya juga terbalut dengan kebaya berwarna keemasan dan androk span batik yang cantik. Namun ... di samping ada seorang pria yang tidak aku kenal.


"Hai, apa kabar?" Ia tersenyum manis.


"Uh! Loe yang apa kabar? Loe kemana aja sih? Aku bingung cariin loe, Mita."


"Ma-maaf, ada beberapa insiden yang terjadi. Dan gue kabur ke tempat bibi gue yang ada di Turki. Maaf, Fanni."


"Gue pikir loe kabur gara-gara omongan gue, Mita. Gue pikir gue penyebab loe pergi."


"Ih, mana ada begitu, Fanni. Gue yang mau kok. Dan ... kenalin ini, suami gue, Richard."


"Hah?!" Rahangku jatuh menganga. Kabar ini terkesan mengada-ada, namun aku mendapati tangan Mita yang merangkul pria bernama Richard itu. "Su-suami? Sejak kapan? Ah, kenalin saya, Fanni."


Richard menjabat tanganku. "Saya Richard, suami Mita." Ia tersenyum.


"Kaget ya? Hihi. Gue ketemu di Turki, anak dari temennya Bibi gue, Fann."


Aku menatap Richard lebih teliti lagi. Wajahnya memang tampan, lebih tepatnya manis dengan kulit sawo matang. Tidak ada paras Turki sedikit pun. "Tapi, orang Indo?"


Richard tersenyum. "Iya, Mbak Fanni. Saya Indo tulen, waktu itu ibu saya ke Turki untuk bertemu bibi-nya Mita. Niat mau liburan, eh malah ketemu jodoh hehe."


"Oh, hehe. Enggak terduga ya. Se-selamat kalian berdua. Tapi kenapa loe enggak undang gue, Mit?"


"Kami belum resepsi kok, Fanni. Jadi ditunggu aja ya hehe."


"Oke, Mita. Haha."


Aku masih teramat kaget dengan hal ini. Seingatku, Mita masih bertengkar dengan ayahnya pada saat itu. Ia menghilang begitu saja, namun tiba-tiba hadir di pernikahan Celvin dan Riska dengan membawa seorang suami. Dan lagi-lagi itu tanpa kabar. Namun meski begitu, aku turut bahagia atas pernikahan mereka. Aku yakin, perjalanan Mita tidak mudah dalam mencapai semua hasil ini. Mungkin nanti, jika ada waktu luang, kami bisa saling berbagi cerita.


Aku menyesap minuman yang ada di tanganku sejak. Sesekali aku berbincang hal ringan dengan Mita, bahkan kami berdua sampai mengabaikan para suami. Aku ingin sekali memeluk Mita, karena juga merasa rindu. Namun, aku tidak ingin sekonyol ini. Tampaknya, ia juga lebih tenang sekarang. Wajahnya yang ayu lebih memancarkan aura kebahagian daripada kepedihan. Ya, mungkin ia telah melewati segala rintangan dan pertentangan dengan baik.


"Hai, Guys." Tiba-tiba muncul suara familiar ini. Aku menoleh dan ada Tomi beserta Rara--istrinya di sana, juga Nike yang bersama Mas Roni dan Rafif--anaknya.


"Hai, Fanni. Ah!" Nike pun terpana. "Ya Allah, Mita!" pekiknya. Ia yang selalu polos ini, datang dan memeluk tubuh Mita. Tentu Mita merasa terkejut, namun setelah itu ia membalas pelukan dari Nike itu.


"Hai, Ke dan Tomi. Suami kamu ya Ke? Dan ini ...?"


"Istri gue, Mit. Rara namanya," jelas Tomi.


"Wah! Tomi, istri loe, cantik banget! Hai, Mbak. Gue, emm ... saya Mita." Mita menyalami Rara. Kemudian menyapa Mas Roni hanya dengan senyuman saja, karena ia tahu betapa religiusnya keluarga Nike. "Ini suami gue, Guys, Richard."


"Suami?!" Tomi dan Nike sama-sama terkejut. Ya, siapa yang tidak akan terkejut coba.


"Halo, saya Richard."


"Ha-halo." Tomi dan Nike masih terbengong-bengong.


Aku tertawa diam-diam. Kini aku memiliki teman kaget. Setelah itu, Mita dan Richard menjelaskan bagaimana merek bertemu. Penjelasan yang sama seperti yang mereka katakan kepadaku.


Ini luar biasa. Kami semua telah memiliki pasangan masing-masing. Sekelompok orang yang menjalin pertemanan. Meski pernah ada perselisihan, tetap ada kehangatan sampai sekarang.


"Ron," panggil Mas Arlan kepada Mas Roni.


"Hei, Mas. Hadir toh, yuk para cowok minggir. Biar ciwi-ciwinya numpang nostalgia," ujar Mas Roni. Ia juga mengajal Tomi dan Richard untuk mengobrol sendiri.


Kini tinggal aku, Nike, Mita dan Rara. Dan apa yang terjadi ketika para wanita berkumpul?


Maaf, Riska dan Celvin. Kami numpang reuni.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2