
Aktivitas baruku di sore hari adalah menyambut kedatangan suamiku bersama putriku--Selli. Jika Mas Arlan sudah mengirimkan pesan akan segera pulang, maka kami berdua bersiap-siap di teras sembari duduk santai untuk menunggu kedatangannya. Sudah menjadi momen yang sangat berharga mulai saat ini. Kecuali jika sudah memasuki waktu petang atau maghrib, kami menunggu didalam rumah.
Dan seperti sore ini. Selli sudah berdandan cantik sama halnya dengan diriku. Yah, meskipun aku tidak cantik-cantik amat, yang pasti lebih rapi dan wangi. Kami berdua duduk berdua tepat jam setengah lima sore sesuai perkiraan kepulangan suamiku dari kantornya. Langit sudah berwarna jingga lantaran mentari mulai menenggelamkan dirinya di ufuk barat. Indah sekali.
"Ma, nanti Papa pulang bawa apa ya?" tanya Selli kepadaku.
"Tadi Selli nitip apa emangnya?" Aku bertanya kembali sembari membelai lembut rambutnya. Sungguh hatiku teramat menyayanginya.
"Aku tadi bilang mau dibeliin cookies. Ya Allah semoga Papa enggak lupa."
"Amiiiin."
Begitulah putriku dengan segala tingkah polosnya. Tidak ada sedikit pun keluhan mengenai Nia. Aku rasa, Nia memang belum bertindak diluar batas. Atau mungkin Selli jauh lebih pintar sampai tidak termakan omongan dari ibu kandungnya. Aku sangat khawatir jika itu terjadi. Gadis kecil yang selalu aku sayangi ini, bahkan jauh sebelum aku mencintai ayahnya, semoga ia selalu menyayangiku seperti ibu kandungnya. Aku tidak banyak meminta, hanya seperti itu harapanku. Bersamanya sampai ia tumbuh besar menjadi gadis yang cantik dan tentunya berbudi pekerti baik.
Hingga akhirnya dinantikan telah datang. Deru mobil milik Mas Arlan mulai terdengar. Tak lama kemudian tukang kebun kami bergerak membuka pintu gerbang rumah ini. Tampak mobil berwarna hitam milik Mas Arlan memasuki pekarangan rumah. Senyum lega dan bahagia dari kami mulai terpancar di wajah. Lalu, Selli melepas rengkuhan tanganku dan turun dari pangkuanku. Ia berlarian kecil sembari menyerukan sang ayah, "Papaaaaaa!"
Aku pun bangkit dari dudukku. Kuhampiri suamiku. Ya, Mas Arlan sedang menyambut tubuh kecil sang putri kesayangan. Setelah kami mulai berdekatan maka aku meminta tas dan blazer yang tidak lagi ia kenakan, melainkan dibawa dengan tangan. Sambutan untuknya adalah kecupan manis di pipinya. Sampai Mas Arlan tersenyum dengan bangganya. Sepertinya keadaan seperti sekarang adalah hal yang selama ini ia dambakan, pulang kerja disambut oleh anak dan istri. Bukan menjemput istri. Suami yang sangat bertanggung jawab, bukan? Yah, semoga setiap pekerjaan yang ia lakukan memberikan berkah didalam kehidupan keluarga kami.
"Papa, titipan Selli mana?" tanya Selli demi memastikan janji sang ayah atas permintaannya. Namun Mas Arlan malah menampilkan wajah bingung sehingga membuat putri kami jatuh kecewa. Aku hanya menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepala.
"Cantik, Papa kan baru pulang. Nggak boleh di-ambekin kayak gitu ah," ujarku untuk memberikan nasehat pada anak putriku itu. Namun, yang namanya anak kecil pasti tidak akan mampu mengerti sampai sejauh itu sebelum dijelaskan secara detail.
"Nggak mau. Kan tadi Papa udah janji. Kata Papa sendiri, namanya janji harus ditepati, Ma. Ini namanya kebohongan, enggak baik, Ma."
"Eh? Pinter banget ngomongnya lho. Iya, Mama tahu kok. Tapi ... bukan berarti Selli harus kehilangan rasa hormat pada orang tua dong, Sayang. Papa kan lagi capek."
"Tapi, Ma. Selli kan udah nungguin daritadi."
Mas Arlan mengecup pipi sang putri. "Maaf ya, Sayang. Papa membuat kamu kecewa ya? Tapi Papa belum bilang apa-apa lho. Selli nggak boleh su'udzon dulu dong."
"Apa su'udzon itu, Pa?"
"Nggak boleh berprasangka buruk sama orang lain, sebelum mengetahui yang sebenarnya. Dan lagi, Papa kan belum kasih jawaban apa-apa. Emangnya Papa udah bilang kalau lupa beliin?"
Selli tampak berpikir. Kemudian ia menggelengkan kepalanya. Matanya berbinar-binar penuh harapan. "Jadi, Papa nggak lupa dong?"
"Mana mungkin Papa lupa permintaan putri Papa yang paling cantik hehe. Turun dulu ya? Papa ambilin didalam mobil."
Mas Arlan menurunkan tubuh sang putri yang sedari tadi berada di gendongannya. Ia tersenyum padaku sekilas saja. Kemudian kembali berbalik badan dan hendak menuju mobilnya. Dari sini, aku bisa melihat ia tengah mengambil sesuatu dari dalam mobilnya. Tampaknya makanan pesanan dari sang putri. Memang dasarnya usil, bukan hanya padaku, melainkan pada Selli juga. Sungguh tidak ingat akan usia. Namun, meski begitu aku terus merasa senang akan satu sikapnya itu. Mungkin malah memberikan kesan romantis didalam keluarga kami.
Tak lama kemudian, Mas Arlan kembali menghampiri kami. Dan benar seperti dugaanku, ia tengah membawa plastik putih bergambar logo toko bakery yang lumayan populer di kota ini. Kemudian ia tersenyum dan memberikannya pada sang putri. Tentu saja Selli sangat bahagia.
"Jujur kek, kalau emang beliin, Mas. Biar anak nggak rewel. Ih! Dasar! Seneng banget bikin orang kesel ya kamu?" ujarku pada suamiku yang super usil itu.
Mas Arlan hanya tertawa kecil mendengar perkataanku. "Seru tahu, Dek. Ada sensasinya tersendiri. Apalagi kalau yang Mas usilin itu kamu hehe. Luar biasa sensasinya," jawabnya.
"Parah, ih! Jahat banget jadi orang."
Mas Arlan merangkul pinggangku dan mengajakku memasuki rumah demi menyusul anak kami. "Itu salah satu bentuk keromantisan, Sayang."
"Hmm ... terserah kamu aja deh, Mas. Udah masuk, pokoknya harus mandi. Terus kalau belum shalat, segera laksanain."
"Siap, Ibu Komandan."
"Dasar!"
Setelah itu, ia berlalu lebih cepat. Aku memandang punggungnya yang tegap dari belakang. Punggung yang penuh beban kehidupan. Namun, perlahan sudah membaik seiring terungkapnya beberapa hal. Bagaimana jadinya jika ia harus kembali menghadapi kenyataan yang buruk? Seperti ancaman Nia--misalnya. Bahkan, sampai saat ini aku masih saja bimbang, untuk mengatakannya atau tidak. Rasanya tidak tega saja, ibu kami baru saja meninggal. Kesedihan pasti masih tersisa didalam hati Mas Arlan.
__ADS_1
Ah ... mengapa ada saja yang menghalangi kesempurnaan bahagianya kami? Bahkan rencana untuk berlibur bersama juga harus batal. Ya, cuti Mas Arlan habis untuk mengurus tujuh hari meninggalnya sang ibu. Aku bisa mengerti akan hal itu. Namun tetap saja, ada sedikit rasa penyesalan didalam hatiku. Aku yakin sekali pasti ada hikmah dibalik sesuatu. Dan aku rasa kepergian ibunda mertuaku akan membuat jiwa beliau menjadi lebih tenang. Bahagia di surga sembari menyaksikan anak-anaknya bahagia.
Sampai akhirnya aku menghela napasku dan mencoba menepis semua hal yang merisaukan hatiku. Aku menaruh rapi tas Mas Arlan sesuai tempatnya dan blazernya berada di keranjang khusus untuk pakaian kotor. Sembari menunggunya bebersih diri dan beribadah, aku keluar dari kamar ini lagi. Menuruni tangga rumah yang tidak berubah dengan rencana menghampiri Selli di ruang keluarga di lantai bawah.
"Selli?" Aku memanggil namanya sembari berjalan memasuki ruangan dimana ia berada. Begitu asyiknya dirinya dalam menyantap cookies dari sang ayah. Matanya tertuju pada acara televisi yang menyajikan kartun di sebuah channel yang dikhususkan untuk itu. "Mama nggak dikasih, Sayang?"
Selli menggeleng tanda menolak permintaanku. Gadis kecil itu benar-benar menyukai makanan tersebut. Kemudian aku duduk di sampingnya dan bergabung menatap acara kartun tersebut. "Beneran Mama nggak dikasih nih?"
Selli kembali menggelengkan kepalanya. "Ini kesukaan aku, Ma," jawabnya.
"Oh ... gitu ya? Nggak apa-apa sih. Mama nggak suka kok, tapi Dede'nya gimana? Selli nggak kasihan?"
Ia terdiam seketika, bahkan gerak mulutnya yang mengunyah ikut terhenti. Bola matanya bergerak menatap perutku. "Kalau buat Dede' boleh kok, Ma. Tapi kan, Dede' bayi belum lahir, Ma."
"Hmm ... kamu ternyata belum tahu ya?"
"Kenapa, Ma?"
"Kan Dede' bayi makannya lewat Mama, Sayang. Mama yang makan tapi Dede' bayi yang kenyang hihi."
"Masa' sih, Ma?"
Aku mengangguk pelan. Dalam beberapa saat Selli seperti sedang menimang-nimang. Membuatku tertawa diam-diam. Dasar diriku! Sepertinya aku ketularan virus usil dari suamiku. Ternyata memang sangat menyenangkan dalam mengerjai seseorang. Tentunya dalam batas kewajaran ya.
Tak lama kemudian, Selli memberikan keputusan. Ia mengambil dua buah cookies dari dalam kotak pembungkusnya. Ia menyerahkannya padaku. Oh ... rencanaku berhasil juga.
"Ini, Ma. Tapi ingat ya, Ma. Ini buat Dede' bayi bukan buat Mama."
Aku terkekeh kecil mendengar ucapan lugunya tersebut. "Makasih, Sayang. Nanti Mama kasih ke Dede' bayi ya?"
"Sekarang aja, Ma."
Lantas aku segera menggigit cookies tersebut. Sedangkan Selli menyaksikan tingkahku ini. Sumpah! Rasanya iba juga. Tatapan matanya seolah tidak ikhlas dalam memberikan makanan kesukaannya tersebut padaku, meski dengan alasan "si Dede' bayi". Akhirnya aku memberikan satu keping yang belum tersentuh gigiku padanya kembali. Tentunya dengan alasan bahwa calon adiknya sudah kenyang.
Benar saja, mata Selli tampak berbinar, seolah sedang mendapatkan kepingan emas yang sempat menghilang. Sepertinya aku tidak boleh menganggunya lagi dalam persoalan makanan seperti ini. Lalu, kubelai halus rambutnya dengan ketulusan sepenuh hatiku. Namun, lagi-lagi sosok Nia hadir dalam benakku jika melihat wajah Selli. Membuat keresahanku kembali hadir, meski sempat kulupakan dalam sejenak waktu.
"Selli? Mama boleh tanya sesuatu?"
Selli mengangguk mantap. "Boleh, Mama."
"Apa Mama Nia datang ke sekolah Selli?"
Selli menatapku bimbang, seolah tidak ingin memberikan sebuah kejujuran.
"Selli? Tadi katanya Mama boleh tanya, kan? Jadi harus dijawab sesuai janji Selli dong."
"I-iya, Ma. Tapi, tapi kata Mama Nia, Selli enggak boleh bilang sama Papa dan Mama Fanni."
"Kenapa gitu?"
"Kata Mama Nia, nanti Mama Nia malah dimarahin sama Mama Fanni dan Papa."
Aku menghela napasku dalam-dalam. Ada hal yang tidak beres disini. "Menurut Selli, Papa dan Mama Fanni jahat enggak?"
Selli menggeleng mantap. "Mama Fanni dan Papa adalah orang yang sangat baik. Selli sayang sama Mama Fanni dan Papa."
"Nah, kalau udah sayang harusnya percaya dong. Kalau kata Selli, Mama Fanni dan Papa adalah orang baik, berarti kami nggak akan marah sama Mama Nia. Jadi ... Selli mau bercerita soal Mama Nia, kan?"
__ADS_1
Aku terus mendesak Selli untuk berbicara. Tentunya dengan kalimat dan nada bicara selembut mungkin. Aku merasa info dari Ibu Dwi masih kurang cukup jika tidak ditambahkan pengakuan dari Selli. Aku khawatir Nia meracuni otak Selli mengenai hal buruk. Mungkin sekarang ia masih bisa mempercayaiku. Namun jika dibiarkan, bisa saja ia percaya pada perkataan Nia.
Memang dalam beberapa saat, ia terlihat bingung. Antara takut padaku dan juga pada Nia. Tidak bisa dipungkiri, ia menyayangiku dan juga Nia. Hanya saja, ia belum bisa memilih mana yang benar dan mana yang tidak benar. Apalagi ia sudah tersugesti akan sebuah janji, misal sudah membuatnya ia harus menepatinya. Dan aku rasa, ia telah berjanji untuk tidak melaporkan Nia pada kami. Disinilah yang membuatku sedikit kerepotan. Tidak mungkin aku merubah prinsip dasar sebuah janji.
"Selli? Nggak apa-apa kok, Nak. Mama tahu kamu udah berjanji. Tapi, menceritakan janji itu pada orang yang kamu percaya tidak akan ada salahnya."
"Tapi, kata Papa, kita harus menepati janji, Ma."
Duh! susah nih.
"Tapi kata Mama, menceritakan janji pada orang kepercayaan itu nggak masalah, Sayang. Selli mau bercerita, kan? Sama Mama aja bukan sama Papa. Kan Mama Fanni juga mama kamu. Masa' kamu lebih sayang sama Mama Nia sih? Jadi, Mama Fanni enggak disayangi sebesar itu dong?"
Ayolah, Nak. Kamu harus jujur. Mama melakukannya demi kamu, Sayang.
Selli memberikan tatapan mata sayu padaku. Lalu tiba-tiba saja, ia memeluk diriku seperti seekor cicak yang menempel pada tembok yang besar. "Mama Fanni jangan benci sama Selli ya? Selli sangat sayang sama Mama Fanni."
"Eh? Kenapa kamu bicara kayak gitu, Nak?"
"Kata Mama Nia, Mama Fanni sedang merencanakan sesuatu yang jahat sama Selli. Kata Mama Nia, sebenarnya Mama Fanni nggak sayang sama Selli."
"Astagfirullah! Enggak, Sayang. Demi Allah, Mama Fanni sayang banget sama kamu. Aneh-aneh aja sih. Kalau Mama nggak sayang sama kamu, pasti Mama udah jadi ibu tiri yang jahat buat kamu. Selli kan udah lama bareng sama Mama, masa' Selli percaya sama kata-kata buruk itu?"
"Kata-kata buruk apa, Dek?" Mas Arlan tiba-tiba saja datang ke tempat ini. Aku yang berusaha memeluk tubuh Selli kini tersentak kaget. Sedangkan Mas Arlan masih melaju kakinya untuk datang mendekat. Kutelan ludahku disetiap langkah yang semakin dekat itu. Apa aku harus mengatakannya sekarang juga? Sejujurnya, aku masih sangat ragu dalam ini.
"Dek?"
"Bu-bukan apa-apa kok, Mas."
"Yakin?"
Aku terdiam kemudian. Hatiku dipenuhi rasa bimbang. Luka hati Mas Arlan belum sepenuhnya menghilang. Bagaimana bisa aku menambah beban baginya. Niat hatiku untuk berbicara padanya mengenai Nia dihari kemarin masih aku tunda. Mengapa? Karena aku berharap masalah ini bisa aku atasi sendiri sebelum melibatkan Mas Arlan. Namun, pembicaraanku dan Selli sudah tertangkap basah. Pada kenyataannya, seorang istri memang harus melaporkan segala sesuatu pada sang suami. Tuhan memberikan peringatan pada diriku.
"Sebenarnya ada, Mas," ujarku kemudian
"Soal apa?" tanya Mas Arlan.
"Nia."
"Nia lagi?! Astaga! Jangan bahas dia di rumah ini, Sayang. Dia tidak pantas berada di rumah ini walaupun hanya sekedar nama!"
Selli terkejut akan ucapan Mas Arlan. "Kenapa, Pa? Mama Nia kan Mama aku."
"Mama kamu hanya Mama Fanni seorang, Selli."
"Kok Papa ngomong gitu sih?! Kan yang melahirkan Selli adalah Mama Nia bukan Mama Fanni. Mama Fanni hanya ibu tiri!"
"Selli dengarkan Papa, Nak. Mama Ni--"
"Enggak! Ternyata kata-kata Mama Nia enggak salah, Papa jahat. Papa jahat sama Mama Nia! Papa jahat!"
"Selli? Dengerin Papa, Sayang."
Oh ... sial!
Selli berlalu pergi, ia berlari sekencang mungkin. Bahkan cookies yang sedari tadi ia lindungi, kini tumpah berantakan ke lantai. Jiwa gadis kecil itu terguncang akibat perkataan Mas Arlan yang tidak kenal tempat itu.
Bersambung ...
__ADS_1
Budayakan tradisi like+komen