Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Putusan Hati


__ADS_3

Aku menatap Mas Arlan yang masih asyik menyantap sarapan. Pagi ini, ia sudah harus bekerja. Mungkin masih dalam suasana hari raya, namun mau bagaimana lagi? Seorang direktur perusahaan, meski kecil pasti akan memiliki kesibukan. Justru kecil itu, ia sangat sibuk mencari sumber dan sebagainya.


Kejadian tadi malam, tidak membuatnya acuh kepadaku. Hanya saja, aku yang masih menyimpan sedikit kekesalan. Terlebih, aku baru bisa tertidur di waktu yang sudah teramat larut, hampir jam tiga subuh. Meski kerap kali aku bersikap dingin, Mas Arlan seolah tidak menganggap perasaanku ini. Ia bersikap biasa saja, bak tidak ada perdebatan yang terjadi di antara aku dan dirinya.


"Dek, ambilin dagingnya itu dong."


"Emm." Aku mengambilkan sepotong daging sapi yang telah dimasak rendang oleh Bi Onah kepada Mas Arlan.


"Makasih, Sayang." Mas Arlan mulai memotong daging tersebut. "Ngomong-ngomong, Mbak Leny mana?"


"Masih pergi ke minimarket pake mobil aku, Mas. Sama William."


"Oh, gitu. Udah sarapan mereka?"


Aku menggeleng. "Belum."


"Hmm ...." Mas Arlan meletakkan sendoknya. Ia kini menatapku.


Posisi kami yang saling berhadapan, membuatnya lebih leluasa dalam memandang wajahku. "Kamu masih marah sama Mas, Dek?"


Aku menggeleng saja dan terus melahap makananku, karena harus segera mengurus Sella yang tadi aku titipkan kepada Bi Onah. Sedangkan Mas Arlan terdengar menghela napas dalam. Mau bagaimana pun aku menyanggah keputusannya, ia tetap tidak akan mengubahnya. Begitulah suamiku, ada sisi keras kepalanya.


Lalu, uang itu? Setidaknya ambil saparuhnya, atau mungkin seperempatnya saja, seharusnya tidak apa-apa. Namun semua adalah kemustahilan.


Baiklah mungkin aku memang harus mengikhlaskan semuanya.


"Dek."


"Hmm?"


"Nanti, Mas ada kerjaan. Mbak Leny gimana ya?"


"Aku yang antar."


"Anak-anak gimana?"


"Nitip Mama."


"Hmm."


"Jangan khawatir. Hanya bentaran kok. Tengok doang, kalau semua udah beres, aku langsung pulang."


"Oke, Dek. Mas minta tolong ya, Dek."


"Ya."


Satu sendokan terakhir, segera aku menyantapnya. Lalu, aku membereskan alat makanku yang sudah kotor. Dengan sangat tergesa-gesa aku melakukannya, bahkan tidak menatap Mas Arlan lagi. Karena Sella yang ada di pikiranku, sehingga aku bersikap demikian, di samping rasa kesalku yang masih ada.


Pukul tujuh pagi, Mas Arlan sudah bersiap hendak berangkat bekerja. Aku membantunya membenarkan dasi yang terpasang di kemejanya, sebelum ia melangkah keluar. Sedangkan kedua putriku masih tidur bersama di atas ranjang kami. Mas Arlan tersenyum sembari meletakkan rambutku yang terurai ke belakang telingaku.


"Cantik," ujarnya. Kemudian diiringi kecupan manis di bibirku.


"Udah, Mas. Ada anak-anak lho. Berangkat sana." Aku sedikit mendorong tubuh Mas Arlan agar menyudahi ulah romantisnya itu dan takut jika Selli memperhatikan kami. Beruntungnya Selli, tengah membelakangi kami dan kebiasaannya adalah tidur lagi sehabis subuh, terlebih masih hari libur.


Ia menyentil hidungku yang mancung. "Jangan marah lagi dong, Dek. Nanti cantiknya ilang lho."


"Aku enggak cantik dan aku juga enggak marah."


"Hmm ... bohong sekali." Mas Arlan mendorong tubuhku ke balik almari. Sekali lagi, ia memajukan wajahnya dan mengecup bibirku lagi.


Aku hanya diam, tidak melawan namun juga tidak membalas. Aku membiarkannya saja, meski sembari menutup mata.


Hingga beberapa detik kemudian, Mas Arlan menarik wajahnya lagi. "Parah, enggak ada balasan apa pun," ujarnya.


Aku menghela napas dalam, lalu aku hembuskan kembali. Kuusap bibirku. "Berangkat sana. Ada anak-anak ih!"


"Jangan marah lagi dong, Dek. Biar Mas tenang gitu lho."


Aku menatapnya. "Aku enggak marah, Mas. Percaya deh."

__ADS_1


"Tapi dari pagi jutek banget mukanya lho. Diapa-apain enggak merespon."


"... aku masih sebel. Nanti juga balik lagi kok."


"Maaf, Dek."


"Iya, Mas."


"Jangan marah lagi. Please."


Aku mengecup pipi Mas Arlan, lalu tersenyum. "Udah nih. Aku enggak marah lagi kok."


Mas Arlan menghela napas yang tampaknya sedikit lega. "Makasih, Sayang." Ia mengacak rambutku secara halus.


Kemudian, aku mengambilkan tas kerjanya. Ia memakai blazer yang sudah aku persiapkan di atas ranjang kami. Ia kembali berpenampilan elegan dan berwibawa. Seorang direktur yang dingin, tegas dan galak seperti kata para karyawannya. Namun ia suami yang manis dan hangat. Mas Arlan memiliki cara sendiri, dalam bersikap sesuai situasi dan tempat.


Mobil hitam yang ia kemudikan, telah hilang dari pandangan mataku. Ia sudah berangkat menuju kantornya. Kini giliran aku yang harus bersiap-siap, untuk berangkat ke rumah sakit. Namun sebelum itu, aku mempersiapkan segala keperluan anak-anakku untuk dititipkan di tempat orang tuaku.


"Kita berangkat jam setengah delapan ya, Mbak.Saya harus mampir ke rumah Mama," ujarku kepada Mbak Leny yang kebetulan baru datang dari minimarket yang buka selama 24 jam.


Beliau mengangguk. "Iya, Dek Fanni. Aku dan William juga belum bersiap-siap," jawab beliau.


Kemudian aku masuk ke dalam rumah lagi. Aku hendak memandikan Sella, lalu Selli. Berias diri secara sederhana saja. Lalu berangkat ketika sudah selesai.


Hingga setengah jam berikutnya, aku, Mbak Leny, William dan kedua putriku sudah ada di dalam mobil. Aku sebagai sopir, sedangkan Sella digendong oleh Mbak Leny. William bermain dengan Selli di belakang.


"Pasti, agak gugup ya, Mbak?" tanyaku kepada Mbak Leny yang sejak tadi terlihat gelisah.


"Sedikit," jawab beliau. Karena pertanyaanku ini, beliau mencoba tersenyum dan memandang Sella saja. Sehingga aku menyudahi keingintahuanku.


Perlahan, aku melaju mobilku meninggalkan rumah ini untuk menuju ke rumah orang tuaku demi menitipkan kedua putriku untuk sementara waktu.


Suasana pagi sangat mendung, aku rasa kali ini akan turun hujan. Dalam aktivitasku menyetir, sebenarnya justru aku yang merasakan ketegangan. Bagaimana tidak, aku akan menjadi saksi pertemuan kedua wanita yang memiliki suami yang sama. Menghadapi Nia saja, pada saat itu aku benar-benar kesal. Bahkan muak. Lantas, bagaimana dengan Mbak Leny yang bahkan sampai hancur hidup beliau? Entahlah.


"Di sini, sering macet ya, Tante?" tanya William. Saat aku melirik dari kaca yang berada di hadapanku, ia tampak melirik ke luar jendela mobil.


Aku tersenyum, meski ia tidak melihatku. "Ya, Willi. Namanya juga kota besar," jawabku.


"Ya, kan beda negara, Will."


William tampak menunduk. Ia terlihat lebih muram. Namun karena beberapa celetukan dari Selli, ia bisa tersenyum kembali. Aku terus melaju mobilku. Meski dalam kecepatan sedang saja.


Hingga sampai di kediaman keluargaku. Aku tidak masuk ke dalam gerbang rumah, melainkan menghentikan mobilku di depan gerbang. Dengan membawa Selli dan Sella, aku masuk. Tampak ayahku yang sedang menyapu halaman. Mungkin ibuku sedang memasak atau membereskan bagian dalam rumah.


"Selamat pagi, Kakek," sapa Selli untuk beliau.


Beliau menoleh ke arah kami. Awalnya tampak bingung, namun kemudian tersenyum. Beliau menghampiri kami. "Waduh, ada cucu-cucu Kakek nih. Selamat pagi juga, Cantik," jawab ayahku ini untuk Selli. Beliau menjatuhkan sapu lidi itu, kemudian berjalan dan memeluk tubuh putri pertamaku.


"Hai, Papa. Maaf Fanni ganggu."


Beliau beralih menatapku. "Enggak apa-apa, Nak. Ayo masuk dulu."


Aku menggeleng. "Aku buru-buru, Pa. Ada urusan, tapi bentaran. Aku datang mau nitip anak-anak dulu."


"Urusan?"


Aku mengangguk. "Iya, Pa. Aku mau ke rumah sakit. Setengah jam lagi udah jam besuk, aku enggak mau terlambat."


Dahi ayahku mengernyit. "Siapa yang sakit, Sayang?"


"Kakak iparnya Mas Arlan. Udah stabil kok, Pa. Jadi enggak perlu khawatir. Pa, ... aku nitip Sella juga ya? Aku belum bisa mampir masuk sapa Mama." Aku menyerahkan Sella kepada beliau.


Beruntung, ayahku pintar dalam menimang bayi. "Ya udah, kalau buru-buru. Cepetan berangkat. Hari ini, Papa juga masih libur. Hati-hati di jalan."


"Siap, Pa. Makasih, Papa." Aku menatap Selli. "Selli jadi anak baik ya " Aku mengecup punggung telapak tangan ayahku. Tak lupa kuberikan kecupan manis di pipi kedua putriku itu.


Setelah itu, aku kembali ke mobil. Aku melaju mobil merahku ini lagi, untuk menuju rumah sakit. Tentang Mbak Leny dan William, masih aku rahasiakan dari kedua orang tuaku. Mengingat ibuku yang kerap mengomel itu, rasanya tidak akan bagus jika beliau mengetahuinya.


****

__ADS_1


"Maaf." Mbak Leny menghela napas sebelum melanjutkan ucapan beliau. "Aku enggak bisa, aku menolak menjadi istri dari Dian lagi, Dahlia." Ungkapan ini, sebuah keputusan hati. Tanpa basa dan basi, terlontar begitu saja tanpa babibu. Bahkan beliau tidak bersedia duduk di kursi samping ranjang rawat Mbak Dahlia.


Siapa yang tidak kaget. Tentu saja, Mbak Dahlia terkejut. Beliau terkesiap hebat. Mata terbelalak, dengan rahang yang jatuh menganga sembari ditutup dengan tangan kiri yang dipasangi selang infuse. Beliau tidak mendapatkan sapaan apa pun, namun malah mendengar keputusan itu. "Ta-tapi, ke-kenapa? Ki-kita bisa bicarakan lagi, Mbak." Ucapan beliau terbata-bata, bahkan hampir semua suku katanya.


"Aku bukan wanita gila lagi, Dahlia. Emangnya kamu pikir aku ini masih bodoh? Setelah semua perlakuan kalian, aku akan senang hati kembali ke pelukan Dian. Bahkan, ... enggak ada rasa cinta lagi untuk dia."


Tatapan Mbak Dahlia melemah ketika mendengar ucapan itu. "Aku menyesal, Mbak. Aku minta maaf, Dian enggak bersalah. Aku, aku yang bersalah."


"Ck!" Mbak Leny tersenyum, kemudian beliau menatap Mbak Dahlia dengan sinis. "Kalian sama aja. Busuk semua. Lalu, ... apa kamu pikir dengan penyakit kamu ini, lantas membuat aku merasa iba?"


Mbak Dahlia menggeleng. "Aku rasa enggak, karna kesalahanku terlalu besar dan banyak sama Mbak."


Mbak Leny menghela napas. "Kalau kamu tahu, seharusnya kamu malu meminta adik iparmu untuk menjemputku dan anakku, Dahlia. Meskipun udah datang, bukan berarti aku menyetujui permintaan kamu, Dahlia. Hidup kita bertiga sudah hancur. Bahkan jauh sebelum ini, sebelum aku menikah dengan Dian dan harus menjadi istri kedua."


"Maaf, Mbak. Maafin aku, aku menyesal." Derai air mata mengalir membasahi pipi ibunda dari Ajeng dan Diandra ini. Pilu. Beliau tampak ingin turun dari ranjang rawat, namun tidak memiliki kekuasaan penuh atas tubuh beliau yang semakin melemah.


Sementara itu, Mbak Leny masih bersikukuh dengan keputusan dan pendirian beliau itu. Aku yang hanya menemani beliau mengunjungi Mbak Dahlia, menjadi tegang sendiri. Aku menjadi saksi atas pertemuan dua orang istri dari satu suami ini.


Dalam beberapa saat, suasana sangat tidak nyaman. Kurang enak untuk dirasakan. Hanya isak tangis yang keluar dari bibir pucat Mbak Dahlia yang terdengar. Sedangkan Mbak Leny masih bertahan dengan kaki yang tegak berdiri tanpa bergerak sama sekali. Dan aku ... aku bingung sekali harus berbuat apa sekarang.


"Enggak usah menangis, Dahlia. Air matamu udah nggak berguna. Ingat saat kamu menghancurkan hidupku, bahkan keluargaku. Sesadis apa dirimu pada saat itu?" Mbak Leny membuka suara lagi, kini beliau berjalan ke arah jendela yang terbuka. Tidak memandang Mbak Dahlia sama sekali.


Aku bergerak, lalu duduk di sebuah kursi samping ranjang rawat. Kemudian, aku berusaha menguatkan hati Mbak Dahlia dengan mengusap bahu beliau.


"A-aku menyesal, Mbak. Aku sangat menyesal." Hanya itu yang sejak tadi menjadi jawaban Mbak Dahlia bersamaan dengan air mata yang belum tuntas dialirkan pada kedua pipi cekung milik beliau.


Lalu, Mbak Leny berbalik. Beliau tersenyum, namun bola mata beliau tampak berkaca-kaca, ingin menangis tetapi masih ditahan. "Ini hukuman kamu. Aku akui, mungkin ini adalah hasil dari sumpah serapahku di masa lalu, bahkan dari kedua orang tuaku juga. Khusus untuk dirimu. Maaf, ... aku pun menyesal."


Aku menyela, "enggak, Mbak Leny. Ketika Mbak nggak berucap sumpah itupun, setiap tindakan akan kena balasan. Dan, ...." Aku menatap Mbak Dahlia. "Mbak Dahlia harus kuat, supaya bisa sembuh. Penyakit ini bisa jadi proses pembersih dosa."


Kini penyesalan hanya tinggal penyesalan yang entah berguna atau tidak. Aku pun tidak bisa menyalahkan Mbak Leny atas perasaan benci itu. Mengingat traumanya diriku atas pembullyan saja, membutuhkan waktu lama untuk bangkit dan meningkatkan kepercayaan diriku. Apa lagi Mbak Leny yang hidup beliau benar-benar dihancurkan. Dan itu oleh Mbak Dahlia, diiringi kecurangan Mas Dian.


Aku mengamati lagi tubuh Mbak Dahlia yang semakin kurus. Bahkan lengan beliau nyaris seperempat dari lenganku. Pipi yang dulu kencang karena perawatan kini semakin cekung, menonjolkan tulang pipi sampai terlihat jelas. Keriput terlihat, tidak lagi terlihat lebih muda dari usia beliau. Miris sekali pada saat menatap beliau semakin jeli.


Tiba-tiba Mbak Leny berdeham. Kami berdua--aku dan Mbak Dahlia sontak menatap beliau. Beliau menatap Mbak Dahlia dengan tajam bak ingin menembus jantung. Perlahan, beliau menghampiri Mbak Dahlia. Dan akhirnya sampai di sisi beliau, aku memutuskan untuk berdiri dan mundur.


"Dahlia ... jika kamu udah berhasil merebut Dian dariku, bahkan berkali-kali. Maka kamu yang akan bertanggung jawab atas Dian. Bukan diriku," ujar Mbak Leny. Tegas sekali.


"Mbak maafin aku. Aku mohon, sebentar lagi aku akan mati. Aku enggak mau menyimpan rasa bersalah ini. Aku ingin menebus semua kesalahanku kepada kalian semua, kalian harus bersatu," jawab Mbak Dahlia dengan derai air mata.


Terdenger helaan napas Mbak Leny yang tercampur sebuah isakan. Di detik berikutnya, beliau kembali berkata, "aku enggak mau. Nggak ada lagi rasa cinta untuk Dian."


"M-mbak ... to-tolong. Mbak aku akan mati dengan tenang, ka-kalau kalian kembali. Aku mohon. Tolong, Mbak. Mbak, hanya Mbak ya--"


"Dahlia!" Suara Mbak Leny terdengar lebih tegas lagi. "Aku udah mengalah berkali-kali. Aku dan anakku udah pergi dari hidup kalian. Seharusnya kamu senang! Seharusnya kamu berusaha untuk sembuh dan mengurus Dian!"


"M-mbak?" Mbak Dahlia masih menangis, bahkan meraung memilukan. "Ma-maaf."


Napas Mbak Leny terdengar terengah-engah. Beliau, mencoba mengatur napas lagi agar lebih stabil. "Semangatlah untuk sembuh, ... urus suami dan anak-anakmu, Dahlia." Kemudian beliau berbalik badan.


Tangan Mbak Dahlia seketika mencengkeram tangan Mbak Leny, yang akhirnya membuat Mbak Leny berhenti. "Kamu harus sembuh, Dahlia. Kamu dilahirkan sebagai pemenang. Aku enggak akan bisa menang darimu. Kali ini pun aku juga kalah," ujar Mbak Leny lagi.


"Mbak?"


Mbak Leny melepaskan tangan Mbak Dahlia. Ada buliran air mata yang membasahi pipi beliau, meski tidak ada suara isak tangis yang sepilu Mbak Dahlia. Namun aku tahu, hati beliau sangat sakit sekali. Hatiku terenyak, aku ikut menangis.


Detik berikutnya, Mbak Leny bergegas keluar dari ruangan ini. Aku bingung, entah mengikuti beliau atau tetap di dalam ruangan ini. Dalam beberapa saat, aku tetap pada posisiku tanpa bergerak sama sekali. Aku tidak tega dengan kedua wanita paruh baya itu.


"Mama!" Ajeng dan Diandra tiba-tiba masuk ke dalam. Mereka melangkah cepat dan langsung memeluk sang ibunda. Hal itu membuatku lebih tenang, setidaknya ada yang bisa menenangkan hati Mbak Dahlia.


Akhirnya aku memutuskan untuk menyusul Mbak Leny, tanpa ingin menganggu momen Mbak Dahli dan kedua putrinya itu.


"Ma, keputusan Mama adalah yang terbaik," ujar William kepada ibundanya.


"Tapi kamu, ... kamu enggak punya ayah secara sempurna," jawab Mbak Leny.


Meski menitikkan air mata, William berusaha untuk tersenyum. Kemudian, anak itu memeluk Mbak Leny. "Mama adalah yang terpenting bagi Willi. Willi ini laki-laki, Willi bisa jaga Mama, begitu pun sebaliknya. Meski tanpa Papa sekali pun."


William memang anak yang baik. Ia tidak salah langkah atau marah, ia sangat menyayangi Mbak Leny. Meski kehidupan keduanya terbilang sangat berat. Aku sangat terharu, menangis haru dan juga sedih. Entahlah, aku pun merasa bingung dengan perasaanku.

__ADS_1


Keputusan hati akhirnya mampu Mbak Leny ambil. Kendati beliau sangat membenci Mbak Dahlia, beliau masih mendorong semangat Mbak Dahlia agar bisa sembuh.


Bersambung ....


__ADS_2