
Hembusan angin dari AC kamar apartemenku terasa begitu dingin sampai menusuk dan menembus balutan lemak ditubuhku. Mungkin udara diluar sana sama dinginnya. Aku bergeliat kemudian menarik selimut diatas ranjangku.
Aku tengok sekilas jam kecil diatas meja samping ranjangku. Masih pukul tiga dini hari. Entah mengapa belakangan ini, aku selalu terbangun sebelum subuh tiba. Padahal masalahku selalu saja aku usahakan untuk terlupakan. Ataukah mungkin diusia wanita yang semakin dewasa, sifatnya pun akan berubah menjadi serajin ini?
Tidak mungkinkan? Semua tergantung sifat manusianya itu sendiri.
Aku sudah berusaha memejamkan mata kembali sambil menunggu subuh tiba. Namun, mataku enggan terlelap. Dingin ruangan begitu menusuk sangat mengangguku. Apalagi aku hanya memakai baju tidur you can see yang tipis. Remote AC yang berada jauh dariku, membuatku malas meraihnya. Aku terlalu sayang untuk meninggalkan ranjangku.
Di pagi sebuta ini, aku tidak ada yang aku lakukan kecuali berbaring. Walau meski tak akan nyenyak lagi. Ku raih ponsel yang selalu menemaniku dimana pun berada. Sisa pesan masuk dari mas Arlan, belum sempat aku baca karena sudah ketiduran. Gombalan-gombalan yang ia lontarkan setiap waktu perlahan membuat hatiku yang tadinya kaku kini sedikit lemas. Aku tersenyum-senyum, bukan geli lagi namun lebih ke perasaan tersanjung.
Setidaknya ada sedikit perkembangan dari diriku. Setidaknya aku lebih bisa menghargai mas Arlan sekarang. Untuk apa juga aku terus memelihara rasa suka pada Celvin. Meskipun rasa sayang belum juga berkembang pada mas Arlan.
Lebih baik begitu. Daripada terus mencintai, sekarang jauh lebih baik dicintai. Orang yang kita cintai belum tentu membalas hal yang sama. Namun, kita bisa belajar mencintai orang yang menerima kita apa adanya. Begitu bukan?
Aku kirimkan sebuah pesan yang berisi selamat fajar kepada mas Arlan. Aku tau ia akan membalasnya saat subuh nanti, namun aku tidak peduli. Anggap saja impas karena tadi malam pun aku mengabaikan pesannya karena tidur.
Setengah jam berlalu. Mataku yang sempat segar, kini mulai terkantuk kembali. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali tidur karena waktu masih sangat pagi. Masih ada waktu sebelum subuh datang. Toh, hari ini hari mingguku.
****
GREEEKKK!!!
Silau. Membuatku terbangun dari tidur. Aku rasa mentari sudah begitu benderang. Pagi telah tiba.
Aku terlonjak kaget saat menangkap tubuh dari seseorang yang tidak asing bagiku. Ibuku berdiri sembari berkacak pinggang. Beliau juga yang telah membuka hordeng jendela kamar di apartemenku.
"Mama?" seruku dengan mata seolah ingin keluar dari tempatnya.
"Ini jam berapa Fanni?" tanya ibuku dengan tegas sekali.
Tanpa pikir panjang aku segera mengambil ponsel disisi kiriku. Dua belas panggilan tak terjawab dari beliau dan juga dari mas Arlan. Dan yang lebih mengejutkanku sekarang adalah empat digit angka dengan batasan titik dua ditengah.
Sudah jam tujuh lewat dua puluh menit. Jadi, aku kesiangan? Oh Tuhan, aku tidak beribadah subuh. Belum lagi aku harus menghadapi nyonya besar.
"Hehe," tawaku kecut menanggapi mata tajam dari ibuku.
"Mama telpon dari tadi lho, nggak diangkat, pas kesini kok masih molor jam segini, kamu itu cewek lho Fanni... gimana mau jadi seorang istri kalau kayak gitu terus, kamu sholat nggak tadi?" ujar beliau dengan suara nyaring yang menggelegar mengisi setiap sudut ruang apartemen.
Aku terdiam sembari menutup kedua telingaku menggunakan telapak tanganku. Aku tau ini salahku, seandainya saja aku tidak tidur kembali pasti tidak kesiangan seperti ini. Bahkan aku melakukan kesalahan besar, yaitu tidak beribadah sholat subuh.
Sebelum beranjak dari ranjangku, aku kirim kembali sebuah pesan. Aku memperingatkannya untuk tidak datang ke apartemenku terlebih dahulu. Kalau sampai mas Arlan datang, bisa-bisa terjadi perang dunia kelima yang dahsyat.
Ibuku tampak menyiapkan menu didapurku saat aku hendak membersihkan diri alias mandi. Aku belum juga bicara. Kalau sedang kesal seperti ini, beliau sangat sensitif. Salah sedikit saja, pembahasannya begitu lama bahkan bisa jadi memakan waktu lima jam.
Aku membasuh diriku. Lipatan lemak besar bergelayut di perutku. Benar-benar membuatku muak. Namun, sampai sekarang aku tidak bisa berbuat apa-apa dengan monster lemak yang menempel pada tubuhku tersebut. Sebenarnya aku bisa saja menggunakan metode sedot lemak yang saat ini menjadi trend dikalangan selebriti.
Memang sangat instan. Tinggal operasi dan tunggu hasil. Namun, aku tidak mau. Terlalu takut untuk masuk ruang operasi yang berisi banyak sekali benda tajam. Apalagi jika keluargaku tau, aku bukan lagi dimarahi bisa jadi dikubur hidup-hidup karena melakukan hal tersebut. Bagi orang tuaku, lebih baik menjadi jelek yang baik, dari pada baik namun hasil dari sesuatu yang tidak murni. Lagipula terlalu sayang uang.
Yah, itu hanya anggapan beberapa orang saja.
"Fann, sarapan dulu," ujar Ibuku sembari menata rapi makanan yang telah beliau bawa dari rumah.
"Iya Ma," jawabku, aku menyampirkan handukku terlebih dahulu lalu menghampiri ibuku dengan rambut yang masih basah dan berantakan.
Kini ibuku sudah mulai dingin. Beliau tak lagi menunjukkan rasa kesalnya padaku. Jari jemari beliau sibuk menuangkan nasi untuk kami. Aroma masakan yang beliau bawa begitu menggugah selera seperti biasanya. Bagiku, ibuku adalah koki terhandal sepanjang masa.
"Fann?" ujar beliau lagi.
__ADS_1
"Iya Ma, maaf Fanni jam tiga tadi udah bangun, jadi ketiduran lagi sampe nggak denger alarm," jawabku sembari memberi penjelasan.
"Ya Mama nggak mau bahas itu."
"Terus?"
"Udahlah selesein makannya dulu, entar ngobrol lagi kita."
"Iya Mama."
Kami menyantap hidangan bersama. Menelan sesuap demi sesuap nasi putih beserta lauknya.
Bola mataku tak lepas memperhatikan ibuku. Tampaknya beliau sedang cemas, atau memikirkan sesuatu. Dahi beliau terlihat beberapa kali berkerut. Ada hal apa lagi? Sampai-sampai datang kemari sepagi ini.
Karena rasa penasaranku yang menggebu, aku mempercepat gigi-gigiku untuk mengunyah makanan. Setelah itu membantu ibuku membereskan alat makannya. Aku cukup beruntung juga, apartemenku sudah tampak bersih dan rapi. Tentu saja karena beliau yang membersihkan.
Kemudian aku berjalan kearah kamarku guna merapikan diri. Kusisir setiap helai rambutku agar tampak halus memanjang. Aku menatap cermin yang terpantul wajah bulatku, mata biru, hidung mancung, lalu bibir yang tipis. Aku rasa cantik juga, lebih cantik kalau kurus dan langsing tentunya.
"Fann sini!" seru ibuku, beliau melambaikan tangannya agar aku datang menghampirinya.
"Iya Ma bentar," jawabku.
Aku duduk disamping ibuku. Beliau tengah asyik menonton acara gosip di televisi. Sedangkan aku menunggu beliau untuk mulai berbicara.
"Fann, maafin Mama beberapa hari yang lalu ya?" ujar ibuku padaku sembari meraih telapak tanganku.
"Iya Ma, nggak apa-apa kok, Fanni juga salah, Fanni minta maaf," jawabku.
"Mama seperti itu bukan karna tidak sayang sama kamu, justru Mama sayang sama putri Mama satu-satunya."
"Mama harap kamu bisa lebih dewasa lagi, Mama tau nak Arlan bukan orang jahat... Tapi Mama tetap belum bisa setuju kalau kamu sama dia, mau bagaimana pun dia pernah gagal dalam membina rumah tangganya sendiri, membuktikan kalau nak Arlan belum mampu jadi imam yang baik lagian dia kan jauh banget umurnya sama kamu."
"Fanni tau soal kekhawatiran Mama, tapi kalau Mama menilai Mas Arlan seburuk itu Mama salah... Mas Arlan bukan tidak mampu Ma, tapi mantan istrinya yang nakal."
"Kamu baru denger itu dari Arlan kan? Belum denger dari mantan istrinya kan?"
"Ya emang belum, hubunganku sama Mas Arlan juga belum nyampe ke jenjang itu kok Ma."
"Tapi kenapa kamu belain dia sayang? Kenapa kamu sering ketemu sama dia?"
Aku terdiam. Untuk saat ini bukan waktu yang tepat. Aku belum bisa menceritakan hubunganku dengan mas Arlan pada ibuku. Jika salah sedikit, kami bisa bertengkar lagi.
Aku sendiri juga bingung, mengapa sampai seperti ini. Aku tidak tau apa yang membuatku mau menghabiskan waktu dengan mas Arlan. Jika diingat kembali, kami memang sudah sangat sering bersama. Tidak ada pemikiran apapun dalam benakku. Aku hanya menerima kedatangan mas Arlan dengan baik, begitu saja.
"Kenapa kamu diam sayang?" tanya ibuku lagi.
"Ya, itu karna kami teman baik kok Ma," jawabku seadanya.
"Itu nunjukin kalau kamu udah mulai tertarik sama Arlan, Fanni."
"Belum eh maksudku enggak Ma, kami menjalani hubungan sehat dan baik-baik aja kok."
"Ya sudah kalau gitu, Mama pengen kamu ikut kencan buta lagi."
"What??? Kencan buta lagi? Apa nggak cukup Mama permaluin aku didepan Anton dulu? Dia bahkan lebih jelek dari mas Arlan Ma, tapi banyak maunya lho."
"Enggak kali ini beda, Mama udah punya calonnya buat kamu sayang... Mama dan Papa nggak pernah minta yang mulu-mulu, nggak perlu terlalu kaya, yang penting bertanggung jawab aja."
__ADS_1
"Ma, coba deh pikirin lagi. Dari seribu satu orang aja, belum tentu ada yang bisa terima sama badan Fanni yang segede ini, jangan bikin Fanni malu lagi entarnya, cukup Anton Ma."
"Ini beda sayang, dia orangnya baik dan bertanggung jawab... Umurnya juga nggak jauh beda sama kamu."
Apa-apaan ini? Aku pikir ibuku ingin berdamai denganku. Memangnya aku Siti Nurbaya? Aku tidak ingin dijodohkan. Insiden kencan sialku bersama Anton dulu, sudah sangat mengiris hati, jangan sampai terulang kembali.
Ibuku terus menatapku dengan harapan agar aku menyetujui perjodohan ini. Namun, mau bagaimana pun aku tetap tidak akan setuju. Biarlah jika memang aku terhitung anak yang durhaka. Aku menyayangi ibu dan ayahku serta Kak Pandhu. Untuk usia setua ini, aku harus bisa mencari kebahagiaanku sendiri.
"Mau ya sayang, entar Mama hubungi orang tuanya biar atur jadwal kita. Kata kamu kan tadi bilang belum ada hubungan serius sama Arlan kan? Jadi nggak ada salahnya kamu setuju, coba dulu siapa tau cocok. Pernikahan kakakmu tinggal lima hari lagi, akan lebih bagus kalau kamu membawa pendamping," ujar ibuku yang panjang kali lebar kali tinggi.
Aku masih diam, sangat diam tanpa bergerak sedikitpun. Aku baru ingat, pernikahan Kak Pandhu tinggal lima hari lagi. Pakaian yang pantas aku pakai saja belum terpikirkan. Aku begitu sibuk sampai lupa akan hari itu. Aku tidak tau juga bagaimana sibuknya persiapan pernikahan mereka.
Dan sekarang ibuku malah menambah beban pikiranku. Beliau terus mendesakku. Aku benar-benar benci masalah seperti ini.
"Maaf Ma, aku harus pergi," ujarku pamit pergi untuk menghindari beliau.
"Kamu mau kemana Fanni? Mau ketemu Arlan? Jawab pertanyaan Mama dulu Fanni, kamu juga harus pulang bantu-bantu jangan malah kelayapan sendiri sama si duda," tegas ibuku.
"Cukup Ma! Pertama aku pikir Mama memang mau berdamai denganku tanpa membahas masalah ini lagi, kedua aku tidak enak sangat tidak enak sama keluarga karna aku belum sempet bantuin persiapan pernikahan Kak Pandhu."
"Lalu apa lagi?"
"Ketiga aku tidak mengizinkan siapapun menghina Mas Arlan, dia orang baik Ma. Aku sayang Mama, tapi ini udah keterlaluan, suara Mama udah cukup lantang tiap kali nyebut nama Mas Arlan. Fanni tau dibalik itu ada rasa benci dan pemikiran buruk Mama tentang dia."
"Fanni! Jangan kamu bela dia terus."
"Keempat, jawabanku tetap sama Ma, aku nggak mau kencan buta, aku nggak mau dijodohin."
"Ini semua Mama lakuin buat kamu Fanni, Mama khawatir... Mama pengen yang terbaik buat putri Mama satu-satunya."
"Enggak, bukan buat Fanni, tapi buat Mama... Mama akan malu kan kalau aku nikah sama duda berumur, apalagi beranak satu?"
"Fanni!"
"Ma awalnya Fanni bilang Fanni belum serius sama Mas Arlan, bahkan Fanni belum ada rasa apapun sama Mas Arlan. Tapi kalau Mama seperti ini, Fanni jadi ingin belajar mencintai Mas Arlan, daripada harus bertemu orang baru yang Fanni nggak kenal lebih baik Fanni melanjutkan hubungan sama Mas Arlan yang udah jelas sayang sama Fanni."
"Fanni! Mau kemana kamu?"
Aku segera mengambil kunci mobil danransel yang isinya masih belum aku keluarkan. Aku berjalan cepat untuk keluar. Ibuku terus saja menyerukan namaku agar kembali. Saat kulihat sekilas, beliau terduduk sembari mengelus dada. Aku menangis lagi, aku tau diriku memang buruk. Sampai diusia ini aku belum bisa membahagiakan orang tua.
Namun, aku tidak mau dijodohkan apapun alasannya. Seperti yang aku ucapkan tadi, seribu satu lelaki belum tentu menerimaku apa adanya.
Hatiku terasa sakit. Aku heran mengapa Tuhan mempersulit hidupku sampai seperti ini. Air mata tak kuasa lagi aku tahan, aku berjalan sempoyongan menyusuri lantai gedung tempat tinggalku. Jiwaku seakan terguncang, begitu susahnya kudapatkan kebahagiaan.
Disaat seperti ini yang ada dalam benakku adalah bayangan mas Arlan. Harus berapa kali lagi aku menyiksanya? Padahal dirinya begitu tulus mencintaiku. Ia memperjuangkan diriku yang penuh timbunan lemak seperti ini.
Aku tidak memperdulikan lagi pandangan orang lain tentang diriku yang menangis sesenggukan. Aku meraba mobilku dan masuk kedalamnya. Kusilangkan lengan tanganku diatas setir. Aku menunduk pasrah.
Anak mana yang tahan ketika bertengkar dengan seorang ibu. Jika diingat lagi, banyak sekali perkataanku yang membantah beliau. Atau bahkan bisa menyakiti beliau.
"Mama maafin Fanni hiks... hiks..." gumamku diiringi dengan isakan tangis.
Mas Arlan, mengapa ia terus muncul dalam benakku? Rasanya aku ingin bertemu dengannya disaat seperti ini. Namun, sebisa mungkin aku tahan. Aku tidak ingin dianggap sebagai manusia yang datang karena butuh. Selama ini mas Arlan yang selalu datang padaku, sedangkan aku terkesan biasa saja dengannya.
Bersambung...
Budayakan tradisi like+komen ya...
__ADS_1