Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Bersikukuh


__ADS_3

****


"Jadi gimana Mas?" tanyaku pada Mas Arlan.


"Ayo kita lanjut," jawab Mas Arlan.


"Tapi aku takut."


"Takut kenapa?"


"Aku takut kamu sakit hati lagi."


"Hmm... makasih ya udah khawatir sama Mas, tapi kalau nggak dicoba kita nggak bakalan tau Dek."


"Mas?"


"Jangan khawatir."


Mas Arlan terus meyakinkan diriku. Aku harus tenang dan tidak perlu khawatir, seperti itu keinginannya padaku. Namun, tetap saja. Aku masih terlalu takut. Apalagi kalau sampai Mas Arlan tersakiti lagi. Aku tidak mau menorehkan luka padanya lagi.


Kami baru menjalin menjadi pasangan. Masih banyak waktu yang ingin kuciptakan dengan indah bersamanya. Lalu aku harus bagaimana? Mas Arlan terus membujukku untuk tidak terlalu lama menunda waktu.


Ya! Kini mobil Mas Arlan yang kami tumpangi terhenti tepat lima ratus meter lagi dari rumah orang tuaku. Setelah maghrib usai kami berangkat. Mas Arlan bertekad ke rumah orang tuaku kali ini. Rencananya yang akan datang ketika Kak Pandhu menikah dibatalkan dengan alasan terlalu lama.


"Mas cuma pengen hubungan kamu sama Mama kamu cepet membaik Dek," ujarnya lagi.


"Aku tau tapi aku takut kalau Mama tetep nggak mau nerima Mas Arlan," jawabku.


"Dekku sayang, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Yang terpenting ikhtiar dan berdo'a, toh niat kita bagus buat ngresmiin hubungan kita kok. Emang kamu nggak mau kalau Mas nikahin?"


"Iya sih. Tapi aku tetep takut Mas."


"Tenang ya Dek... jadi gimana mau nikah nggak sama Mas?"


"Emm... kita kan juga baru jadi Mas."


"Iya Mas tau, tapi kita kenal udah lumayan lama kok. Kayak yang sering kamu bilang Dek, umur kita nggak muda lagi, nggak baik cari pacar terus, lebih baik cari pasangan buat berumah tangga gitu kan?"


"Iya Mas aku paham."


"Pinter! Mas juga pengen kamu dan Selli cepet bersatu layaknya anak dan ibu, apalagi kalian terbilang deket lho."


"Iya Mas, aku udah nganggep dia anak sendiri."


"Jadi izinkan Mas buat berjuang secepat mungkin ya sayang.".


"I-iya Mas."


Mas Arlan mengacak rambut depanku yang menutupi keningku. Kelembutannya hadir kembali dan mungkin akan lebih sering. Membuat senyumku merekah karenanya. Suatu energi yang halus seakan mengalun didasar hatiku. Aku tenang dan nyaman jika bersama Mas Arlan.


Meskipun aku tetap merasa khawatir tentang hasilnya. Ekspresi seperti apa yang akan ibuku pasang pada kami nanti? Aku benar-benar tidak ingin kedua orang yang penting bagiku tersebut saling membenci satu sama lain nantinya.


Segala do'a-do'a terus kupanjatkan dalam hati. Berharap semua akan berjalan baik-baik saja. Seperti kata Mas Arlan tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Apalagi Tuhan pencipta alam bisa membolak-balikkan hati manusia. Mungkin bisa terjadi pada Ibuku. Yah, aku terus berharap itu.


"Yaudah ya lanjut jalan ya?" ujar Mas Arlan padaku.


"Iya udah Mas," jawabku.


"Yang ceria dong, kamu udah laper?"


"Belum kok Mas, jalan aja."


"Iya Dekku sayang."


Mas Arlan kembali melaju mobilnya menuju rumah orang tuaku. Semakin dekat membuat degup jantungku semakin cepat pula. Gugup sekali.


Sebuah ketenangan yang sempat diberikan oleh Mas Arlan padaku seolah hilang entah kemana. Ketika kami sudah berada didepan gerbang rumah orang tua. Panas dingin kurasakan. Ku gigit jari-jariku yang menandakan aku tengah panik sekarang.


Aku berharap lagi, semoga ibuku tidak ada di rumah. Tapi mungkin itu mustahil. Habis maghrib begini, memangnya ibuku mau kemana.


"Masuk ya Dek?" tanya Mas Arlan lagi.


"Duuhhh... sumpah deh, aku takut Mas," jawabku.


"Fyuuhhh... jujur Mas juga takut."


"Tuh kan!"


"Rasanya kayak pertama kali mau lamaran aja, takut ditolak."


"Emang dulu sama Nia lancar ya?"


"Lumayan Dek, tapi kan akhirnya nggak bahagia. Kayaknya emang harus menderita dulu ya baru bahagia hehe."


"Udah yuk, pulang dulu."


"Nanggung Dek."


"Lain waktu aja ihhh..."


"Dek?"


"Mas?"


"Hmmm."


"Ya, please."


"Enggak! Oke! Kita masuk."


"Mass!!!"


"I love you."


"Iiihhh!"


Kuraih lengan Mas Arlan sebelum ia memutar stirnya masuk kedalam pekarangan rumah orang tuaku. Raut wajah memelas pun turut aku pasang untuk mencegahnya. Namun ia tetap bersikukuh. Padahal terlihat keringat dingin mengucur pada dahinya. Mas Arlan juga merasa gemetar.


Hal itu membuatku iba. Namun, apa mau dikata. Mas Arlan sama sekali tak mendengarkanku. Ia tetap masuk pada pekarangan rumahnya yang gebangnya tampak terbuka menganga.


Satu lagi bukti wujud cinta Mas Arlan padaku. Jujur saja, aku tersanjung. Namun, masalah kami belum selesai sama sekali. Hati ibuku sepertinya memang sangat susah untuk diluluhkan. Apalagi beliau bukanlah manusia yang gemar berpolitik uang. Jika Mas Arlan memang kaya, tetap tidak berguna untuk merayu beliau. Aku rasa status dudanya lah yang menjadi penghalang.


Aku tau beliau hanya ingin yang terbaik untukku. Tapi, aku tetap tak bisa mengikutinya. Bagiku, kebahagiaanku sekarang hanya datang dari diriku sendiri bukan orang lain termasuk keluargaku. Untuk mereka, selalu kudo'akan yang terbaik.


Sebuah dekorasi pernikahan yang sangat indah menghiasi rumah keluargaku. Rumah ini memang cukup besar meskipun hanya satu lantai saja. Ayahku membangunnya puluhan tahun yang lalu dengan gaya klasik. Dan sudah diberikan sentuhan modern setiap renovasinya walau beliau orang dari Belanda sana.


"Rumah kamu bagus Dek," ujar Mas Arlan padaku.


"Punya orang tuaku Mas," jawabku.


"Iya tapi kan tetep keluarga kamu Dek."


"Iya."


"Masuk ya."


"Aku takut, tapi kayaknya sepi kok, balik yuk."


"Ya ampun... Mas yang lebih takut lagi lho Dek, coba dulu siapa tau ada orang di rumah."


"Tapi Mas?"


"Tenang ya Dekku sayang."


Deg! Deg! Deg!


Degup jantungku semakin memburu. Bagaimana ini? Lagi-lagi aku gelisah. Aku masih saja berdiam diri sedangkan Mas Arlan telah beranjak keluar.


Pertanyaan-pertanyaan yang sama terus membayangi benakku. Aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi. Maksudku hubungan buruk akan terjadi.


"Ayo turun," ajak Mas Arlan padaku sembari membukakan pintu mobilnya.


"I-iya Mas," jawabku.


"Tenang ya, takut keburu malem."

__ADS_1


Akhirnya aku mengalah lagi dan hendak masuk kedalam rumahku. Kami berjalan bersama sembari menautkan jari-jari kami membentuk sebuah genggaman. Mungkin jantung Mas Arlan sama kencangnya denganku. Terbukti rasa dingin menggerayangi telapak tangannya. Namun cuaca malam yang dingin seolah menjadi panas seketika.


Sesampainya didepan pintu rumah keluargaku tersebut, aku lepas genggaman Mas Arlan. Entahlah, rasanya tidak enak saja pada keluargaku. Apalagi kami belum menikah.


"Mas ketuk ya," pinta Mas Arlan lagi padaku.


"Duhhh... takuutt," jawabku dengan pelan.


"Sama."


"Pulang yuk."


"Jangan, masa' udah kalah sebelum berperang."


"Tapi Mas..."


"Ssstttt..."


Jari telunjuknya diletakkan diatas hidungnya yang mancung. Mas Arlan memberikan isyarat agar aku diam. Ia berusaha memberanikan diri. Astaga!


"Bismillah ya Dek," katanya.


TOK... TOK... TOK...


"Duhh, bismillah... bismillah... bismillah..." gumamku sesaat setelah Mas Arlan mengetuk pintu rumah orang tuaku.


"Iya bentar," jawab seseorang dari dalam yang mungkin adalah Kak Pandhu.


GREEKKK!!! KRIEETT!


Pintu terbuka dan aku masih terpejam melafalkan do'a-do'a apapun yang kutahu. Bahkan, do'a mau tidur pun kuucapkan. Perasaanku terus berkecamuk, antara takut, khawatir, dan lain sebagainya.


"A-assalamu'alikum Mas Pandhu," ujar sapa salam Mas Arlan dengan gugup.


Tak ada jawaban dari Kak Pandhu sama sekali. Mataku yang terpejam kubuka perlahan untuk melirik kearahnya.


Duhh... Kak Pandhu terbengong-bengong. Mungkin, ia pun tak akan menyangka kami berdua akan datang kesini.


"Kakak!!!" seruku untuk menyadarkan rasa kerterkejutan kakakku tersebut.


"Eh... iya iya Wa'alaikumsalam Bang Arlan," jawabnya kemudian.


"Bang bang, emang dia tukang somay apa?"


"Hehe... nggak apa Dek."


"Lah Fann, di cowok mah udah biasa kayak gitu."


"Tetep aja."


"Yaudah... kalian masuk gih."


Aku dan Mas Arlan memberanikan diri untuk melangkah masuk. Rasanya malam ini bukan seperti diriku. Aku merasa kaku saat berada di rumah keluargaku sendiri.


Namun, entah mengapa suasananya cukup sepi. Rasanya mengherankan, setiap aku pulang pasti ada saja anggota keluargaku yang tidak nampak dirumah. Sebenarnya bersyukur juga, aku menjadi bisa menunda pertemuan Ibuku dengan Mas Arlan.


"Duduk aja Bang, enakin. Bikinin minum Dek," ujar Kak Pandhu.


"Apaan? Aku kan juga tamu baru dateng," jawabku menolaknya.


"Halah... dirumah sendiri juga, mau sok cantik depan calon ya?"


"Enggak kata siapa?"


"Yaudah sana, bikinin gih."


"Nggak mau kakak aja sana."


"Haha... udah nggak usah repot-repot Mas Pandhu," sambung Mas Arlan.


"Biarin Mas, biar Kak Pandhu gerak sidikit."


"Dihh... cewek kok malesan Fann... Fann... Bang Arlan mau kopi, teh, atau apa?"


"Nggak usah sungkan Bang."


Kak Pandhu mengalah padaku. Ia pun beranjak pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk kami.


Ku tatap wajah Mas arlan yang mengembangkan senyum simpulnya. Kini kami sedang duduk bersebelahan. Lumayan juga pertengkaran kecilku dengan Kak Pandhu. Menjadikan ketegangan kami sedikit mencair. Meski mungkin hanya sementara.


"By the way, kamu akrab ya sama kakakmu Dek," kata Mas Arlan.


"Iya Mas alhamdulillah, hubungan kami udah membaik," jawabku.


"Udah membaik?"


"Iya dulu sempet merenggang, Mas tau nggak?"


"Apa tuh?"


"Aku berterima kasih banget sama kamu Mas."


"Lho? Emang Mas ngasih kamu apa?"


"Hehe... semuanya, tepat di hari ulang tahunku kemaren, itu adalah pertama kalinya kami berbaikan."


"Iyakah?"


"Iya Mas, makasih ya."


"Syukur deh, sama-sama. Mas aja nggak sadar udah bikin hal sebagus itu Dek."


"Hehe... iya Mas."


Perbincangan kami terhenti saat mendengar langkah kaki Kak Pandhu yang akan datang. Ia membawa nampan berisi dua gelas yang mungkin kopi susu.


Kemudian Kak Pandhu menyajikannya untuk Mas Arlan. Dan...


"Aku mana Kak?" tanyaku pada saat satu gelas kopi tersebut ternyata bukan untukku melainkan untuk dirinya sendiri.


"Apaan?" tanya Kak Pandhu kembali.


"Iihh... kopilah, masa' bikin sendiri?"


"Emang minta dibikinin tadi?"


"Enggak, tapi yang peka dong!"


"Haha... nggak ada, bikin sendiri sana."


"Kakak!!!"


Aku benar-benar merasa dipermainkan oleh Kak Pandhu sekarang. Jarang sekali ia sejahil ini. Aku rasa Kak Pandhu ingin membuatku melupakan rasa takutku. Apalagi saat pertama datang, aku sudah memasang wajah menggelikan.


Meski begitu, tetap saja aku kesal padanya. Ia tidak mau mengalah dan enggan memberikan kopi susunya padaku. Dan kini Mas Arlan pun ikut-ikutan menyudutkanku diiringi gelak tawa dari kedua pria dewasa ini.


"Udah Dek, mau minum punya Mas?" ujar Mas Arlan kemudian.


"Jangan Bang, biarin aja dia," sergah Kak Pandhu.


"Apaan sih Kak, ikut campur aja!" balasku sengit.


"Nggak apa-apa nih Dek."


"Enggak Mas, buat Mas Arlan aja, aku bikin sendiri."


"Iya kamu bikin sendiri aja sana, Kakak mau ngomong berdua dulu sama Bang Arlan."


"Ngomong apaan Kak?"


"Urusan laki, dah sana ke belakang dulu."


"Tapi aku pengen denger."


"Dek, Mas juga mau ngomong berdua dulu."

__ADS_1


"Apaan sih, dasar para cowok."


Oke! Baiklah! Aku akan mengalah dan menyingkir dari mereka. Sebenarnya, aku tetap ingin tau. Namun sebelum itu, aku perlu tau dimana kedua orang tuaku.


"Entar dulu, Papa sama Mama dimana Kak?" tanyaku sebelum melangkah pergi.


"Lagi nge-date," jawab Kak Pandhu.


"Halah... serius!"


"Iya adekku yang cantik."


"Nggak mungkin, udah pada tua juga kok."


"Dibilangin kok, lagi jalan sama Febi. Dianter sama Papa."


"Oh gitu, enak ya punya anak perempuan baru yang cantik?"


"Jangan mulai deh."


"Iya iya."


"Yaudah sana cepet."


"Iya!"


Begitu rupanya. Mungkin memang menyenangkan jika memiliki seorang putri yang baik, kalem, cantik, percaya diri, dan penurut. Apalah daya aku yang gemuk, besar, jumbo dan membangkang. Biarlah, inilah karma yang yang harus aku terima karena tidak mau menuruti kemauan Ibuku.


Daripada Ibuku pusing memikirkan diriku, memang lebih baik beliau bersenang-senang bersama calon menantuku. Beliau mau menerima Mas Arlan saja, sudah sangat cukup. Walaupun pasti hal itu juga akan sulit dan sangat sulit.


Aku membelokkan langkahku kearah kamar lamaku. Rencana menyeduh kopi, aku batalkan. Jujur saja memang ada rasa iri pada Febi. Tapi mau bagaimana pun ia tak bersalah. Aku juga sudah berusaha keras membuang perasaan iri tersebut seperti rencana awalku.


Kurebahkan badan besarku diatas ranjang besarku sembari melayangkan pikiranku pada berbagai hal. Aku juga memberikan waktu beberapa saat kedepan, agar Kak Pandhu bisa menyelesaikan pembicaraannya dengan Mas Arlan.


Aku rasa Kak Pandhu akan membahas tentang masalah yang akan dihadapi dalam hubungan kami. Tidak mungkin kan jika hanya perbincangan biasa? Sampai aku tidak boleh mendengarnya. Walau sebenarnya aku punya hak untuk itu.


****


Sampai lima belas menit berlalu, namun orang tuaku belum ada tanda-tanda kepulangannya. Membuatku sebal sekaligus bersyukur.


Sebalnya, karena Ibuku dan Ayahku bersama Febi, sehingga aku merasa sidikit iri. Bersyukurnya, Mas Arlan bisa menunda pertemuan ini.


Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dan memastikan pembicaraan Mas Arlan dan Kak Pandhu telah selesai. Aku berjalan sangat pelan karena masih enggan untuk mengganggu. Takutnya belum selesai.


Benar saja, ekspresi mereka berdua terlihat sangat serius. Terbukti saat kuintip sedikit dari pintu penghubung bertirai hordeng. Mengapa aku membuat masalah sebesar ini? Tapi aku benar-benar tak bisa melepas Mas Arlan.


"Mama kami benar-benar sangat menentang hubungan kalian Bang, maaf sebelumnya," ujar Kak Pandhu yang tertangkap oleh telingaku.


"Saya tau Mas, saya juga paham tentang itu. Tapi saya dan Fanni, sudah sama-sama serius dan dewasa. Bukan masa mencari pacar lagi," jawab Mas Arlan.


Kutelan salivaku dengan ngilu. Aku masih berdiri dari tempatku, terlalu takut untuk menampakkan diriku. Jika hal itu baru dibahas sekarang, lalu apa yang yang mereka bahas selama lima belas menit tadi?


Aku memasang telingaku lagi untuk menangkap perbincangan mereka lebih lanjut. Aku punya hak untuk tau kan?


"Untuk sekarang emang sulit Bang, maaf sebelumnya. Tapi saya udah minta calon istri saya yang kebetulan pergi bersama beliau," lanjut Kak Pandhu.


"Minta? Minta bagaimana Mas?" tanya Mas Arlan.


"Buat ngulur waktu, emm... saya pikir emang rada egois. Tapi saya masih khawatir Mama saya bisa drop sebelum pernikahan kami digelar, belum lagi kalau sampe bertengkar lagi sama Fanni, Bang."


"Oh begitu, awalnya saya sebenarnya mau datang setelah acara. Tapi saya pikir kelamaan, apalagi Fanni belum berbaikan sama beliau Mas."


"Gimana ya ngomongnya, saya juga agak nggak enak ini Bang, mohon maaf banget buat hal ini. Saya minta pengertiaannya dulu Bang."


"Nggak apa-apa Mas, saya paham kok."


"Saya sama Papa selalu mendukung keputusan Fanni, Bang. Tapi Mama kami emang agak keras, tapi bukan berarti beliau nggak baik, mungkin Bang Arlan harus lebih berusaha lagi nantinya."


"Semoga membaik Mas, saya juga sangat serius dan nggak main-main sama Fanni Mas."


"Makasih Bang, udah menjaga adik saya. By the way berkat Bang Arlan juga, hubungan kami jadi membaik."


"Hehe... iya Mas, sama-sama."


Entahlah, harus berterima kasih pada Kak Pandhu atau bagaimana. Aku bersyukur ia bisa membantuku sekarang, tapi mengapa aku tidak lega? Aku bahkan sudah memberikan rasa iri lagi pada Febi.


Sungguh, terlalu sulit untuk ini. Rasanya ingin menangis, belum lagi ekspresi Mas Arlan yang terlihat kecewa. Namun, ia tetap tak mau menyerah padaku. Ia terus bersabar. Ingin sekali kupeluk dirinya dan meminta maaf dengan benar. Ya Tuhanku!


"Yaudah Mas ayo pulang," ujarku kemudian sembari menghampiri mereka.


"Enggak Fann, kamu disini dulu," sergah Kak Pandhu.


"Buat apa?" tanyaku.


"Dek... Dek... bener kamu disini dulu, biar bisa baikan ya sama Mama kamu," pinta Mas Arlan.


"Tapi kan Mas harus pulang sendiri."


"Nggak apa-apa Dek, lagian rumah kita kan juga beda hehe."


"Masih aja bisa senyum-senyum gitu."


"Fann, dengerin kata pacar kamu."


"Iya Kak iya. Yaudah Mas aku anter kedepan dulu sebelum Mama pulang."


"Iya... saya pamit dulu Mas Pandhu."


"Iya Bang, hati-hati dan maaf sekali."


Kuantar Mas Arlan sampai mobilnya. Kami berjalan bersama menyusuri pekarangan rumahku. Malam sudah mulai gelap. Kami disini dari setengah tujuh dan sekarang sudah setengah delapan lebih.


Aku terdiam, bingung. Inginku tahan Mas Arlan disini. Tapi itu tidak mungkin. Bisa-bisa kami mati bersama ditangan orang tuaku. Ibaratnya begitu.


"Kamu janji ya Dek, sama Mas?" ujar Mas Arlan padaku.


"Buat apa Mas?" tanyaku.


"Mungkin emang kita harus tunggu sampe pernikahan kakak kamu selesai seperti rencana awal, tapi kamu tetap harus baikan ya sama Mama."


"Iya Mas, aku usahain."


"Jangan nakal, hindari pertengkaran ya sayang."


"Iya Mas, yaudah keburu malem, keburu Mama dateng."


"Hmm... Mas sayang banget sama kamu Dek, Mas bakalan berusaha. Kamu tenang ya."


"Makasih Mas, a-aku ju-juga kok."


"Juga apa?"


"Ya... ya juga aja pokoknya. Yaudah cepetan gih."


"Haha... dasar suka malu-malu gitu deh, kecup dulu dong."


"Dihh... apaan sih, ini di rumah Mama lho."


"Kan belum pulang."


"Iiihh... udah sana!"


Kudorong pelan tubuh Mas Arlan agar ia segera masuk kedalam mobilnya. Dan juga tidak terus-terusan menggodaku. Aku malu pastinya. Apalagi di rumah ini. Ngeri juga rasanya.


Perlahan tapi pasti Mas Arlan melaju mobilnya meninggalkan aku di rumah ini. Aku bernapas lega, walau masih ada yang mengganjal. Tak apa, Mas Arlan masih punya waktu untuk membuat rencana lebih lanjut.


Aku kembali kedalam setelah ia dan mobilnya hilang dari pandanganku.


Bersambung...


Budayakan tradisi like+komen.. ucapan tahun baru juga boleh... banyak like sore/ malem langsung up lagi


Aku mau lanjutin Who is My Love guys


Ada yang udah baca belum?

__ADS_1


__ADS_2