Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Jawaban


__ADS_3

Sekali lagi, aku menatap raut wajah mas Arlan. Lelah, bola mata yang memerah, kusam, dan mungkin juga gundah. Aku menangkap semua itu dari paras manisnya tersebut.


Sedang mas Arlan masih terus menatapku penuh harapan. Kutelan saliva dengan perasaan ngilu. Aku iba, aku kasian sekaligus tersentuh dengan semua yang ia lakukan untukku.


Mas Arlan mengapa kamu begitu baik untuk orang sepertiku?


Kuakui hidupku memang perlahan lebih baik. Dimulai saat pertemuanku dengan mas Arlan, aku menceritakan kekesalanku atas pertengkaranku dengan ibu maupun kak Pandhu saat itu. Ya, dengan mas Arlan yang bahkan belum aku kenal sama sekali. Aku pikir takdir kami tidak seperti ini, sampai aku bisa mencurahkannya secara sembarangan.


Tuhan menentukan jalan yang mengatakan berbeda, aku semakin dekat dengan mas Arlan dan si kecil Selli. Bahkan kini mas Arlan jatuh cinta padaku. Luar biasa!


"Gimana Dek?" tanya mas Arlan lagi, ia masih mencoba mengorek apa yang sebenarnya ada dalam hatiku.


"Beri aku waktu Mas," jawabku.


"Hmm... berapa lama? Aku takut kamu kabur lagi, menghindar dari Mas lagi."


"Entahlah."


"Dek, emang nggak bisa kasih jawaban sekarang?"


"Kalau jawaban masih sama kayak kemaren, gimana?"


"Mas takut."


"Belum sampai dua hari Mas, tapi Mas Arlan udah nggak tahan dan khawatir... gimana kalau nyampe bertahun-tahun?"


"Maaf, mungkin karna awalnya Mas nggak berniat menikah lagi Dek... nyatanya takdir mempertemukan kita. Kalau kamu nolak, aku pikir nggak bakal jatuh cinta lagi setelah ini."


"Emang Mas tau kedepannya gimana? Niat awal Mas Arlan aja gagal dan ternyata Mas suka sama aku."


Mas Arlan terdiam, mungkin ia tau bahwa perkataanku memang benar. Aku menyenderkan punggungku sembari menatap langit-langit ruangan.


Aku takut menyakiti mas Arlan. Diusia mas Arlan saat ini memang terasa ambigu jika jatuh cinta lagi. Harusnya ia telah bahagia dengan keluarga kecilnya bersama anak dan istri. Namun, jalan hidup mas Arlan harus mengalami permasalahan broken home.


Tak terasa air mataku menetes membasahi pipi. Hatiku teriris membayangkan bagaimana mas Arlan menjalani hari-harinya selama ini. Aku memang tidak pernah mengalaminya. Entah mengapa terasa perih sekali di hati.


"Kok kamu nangis Dek? Maafin Mas kalau terkesan memaksa sampai kamu tertekan Dek, maafin Mas," ujar mas Arlan saat mendapatiku terisak sendirian.


Mendengar perkataan mas Arlan yang masih saja menyalahkan dirinya atas tangisanku, aku malah semakin terisak. Pria itu baik sekali, ia sama sekali tidak marah padaku yang telah menyakitinya.


"Maaf Dek, maafin Mas... Mas mohon jangan nangis kamunya, aduh."


Mas Arlan semakin kebingungan. Ia bergerak kesana kemari mengusap pipiku yang basah dan kepalaku. Ia berusaha membuatku tenang. Ucapan maafpun terus dikatakannya sampai membuatku kesal.


"Apaan sih Mas?" tanyaku berkeluh karena sikapnya tersebut.


"Maaf Dek," jawab mas Arlan.


"Maaf mulu ih!"


"Karna Mas yang bikin kamu kayak gini Dek."


"Kata siapa?"


"Nggak ada sih."


"Kenapa Mas terus merasa bersalah sih?"


"Ya, emang mungkin Mas banyak salah."


"Kenapa Mas nggak marah aja sama aku?"


"Marah buat apalagi Dek? Kamu nggak ada salah sama aku."


"Ihh!"


Aku mengusap pipiku dan melepaskan tangan mas Arlan dari wajahku. Kesal. Sampai akhir mas Arlan masih menyalahkan dirinya sendiri. Aku tidak mau seperti ini, inilah yang membuatku bisa bergantung terus-menerus padanya.


Hembusan demi hembusan napas pasrah terus terdengar diantara kami. Mas Arlan menundukkan kepalanya dengan kedua telapak tangan yang dikepal. Ia menatap lantai yang kosong. Aku tidak tau sehancur apa hatinya saat ini.


"Woe," ujarku berniat menyadarkan lamunan mas Arlan dan mencoba mencairkan suasana.


"Iya Dek," jawabnya, lirih sekali.


"Cuci muka gih, kusem banget lho mukanya, udah jelek tambah jelek."


"Hah?"


"Kok hah?"


"Kamu udah nggak marah?"


"Emang aku pernah ngomong marah?"


"Enggak sih, tapi kan tadi nangis."


"Emang kalau nangis harus marah?"


"Ihh... pinter banget sih mikirnya."


"Sakiiiit Mas, aduuuh."


Syukurlah, mas Arlan kembali tersenyum. Bahkan ia kini berani mencubit gemas pipiku. Dan hal itu membuatku mengaduh kesakitan. Lega rasanya, meskipun sampai kini aku belum memberikan jawaban pasti padanya.


Kemudian mas Arlan berdiri dari duduknya. Aku rasa ia akan menuju kamar mandiku untuk sekedar membilas wajahnya. Ya! Itu lebih baik daripada aku harus terus melihat wajahnya yang lesu. Membuatku sesak saja.


Sambil menunggu mas Arlan selesai, aku memesan makanan secara online dari sebuah aplikasi. Kupesan dua porsi ayam bakar dari restoran pilihan. Mengingat mas Arlan gemar sekali memesan makanan khas jawa dengan menu ayam yang tidak pernah ketinggalan.


"Mas mau ayam bakar kan?" tanyaku pada mas Arlan saat mendapatinya berjalan menghampiriku.


"Apa aja Dek, yang penting jangan makanan barat," jawabnya.


"Lho kenapa?"


"Nggak cocok aja sama lidah Mas yang Indonesia banget."


"Terus malah deketin cewek blasteran ya?"


"Hehe... iya ya, kenapa ya?"


"Terus kalau Mas diajak ke Belanda mau makan apa? Kalau makanan Indonesianya sulit ditemuin?"


"Mie instan Dek, hehe."


"Janganlah kena maag entar, emang kalau Mas sakit, siapa coba yang repot?"


"Lho lho kok udah bahas kesini ya? Berarti kamu mau nerima aku?"


"Apaan sih? Seandainya doang kok."


"Halah... jangan berkilah deh, coba ngaku kamu juga suka kan sama Mas?"


"Apa sih? Orang aku belum ngomong apa-apa kok."


"Ayolah jujuar aja Dek, kena-"


THING THONG!


Suara bel pintuku berbunyi berhasil menghentikan gurauanku bersama mas Arlan. Aku bernapas lega, akhirnya ada alasan untuk tidak menjawab pertanyaan mas Arlan lebih lanjut.


Mas Arlan tersenyum kecut. Mungkin ia kecewa karena belum berhasil mendapat jawabanku sama sekali. Sedangkan aku beranjak dan menghampiri sang kurir online pengantar makanan tersebut.

__ADS_1


"Sesuai aplikasi ya Mbak," ujar pria kurir tersebut.


"Iya Mas, total berapa ya? Saya lupa," balasku.


"Empat puluh dua ribu mbak sudah termasuk ongkir."


"Oh iya Mas, ini uangnya."


"Kembalian delapan ribu ya Mbak."


"Udah Mas bawa aja kembaliannya, makasih ya."


"Duh, makasih banyak ya Mbak."


"Sama-sama."


Sang kurir berlalu, setelahnya aku menutup pintu kembali. Aku berjalan kearah dapur. Kemudian menyajikan makanan tersebut pada dua buah piring agar lebih nyaman.


"Mau dibantu Dek?" tanya Mas Arlan yang tiba-tiba menyusulku ke dapur.


"Boleh Mas, bawa botol besar air putih ya di kulkas sama baskom air buat cuci tangan.


"Siap komandan."


"Makasih Mas."


"Sama-sama cantik."


"Halah gombal."


"Dibilangin kok."


Masih ditempat yang sama untuk perbincangan kami berlangsung sejak tadi. Aku dan mas Arlan menyantap makan malam bersama. Menikmati setiap gigitan ayam bakar tanpa bicara sama sekali.


Yah, mungkin terkadang aku ataupun mas Arlan saling melempar lirikan secara diam-diam.


Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...


Ponselku bergetar dari atas meja. Aku terpaksa menghentikan sejenak aktivitas menyantapku lalu meraihnya.


Aku melihat diatas layar ponsel dan terpampang jelas kontak yang bernama "My Mom". Astaga! Aku memberikan isyarat diam pada mas Arlan, berharap ia tidak menimbulkan bunyi mencurigakan atau mengeluarkan suara satu patah katapun.


"Assalamu'alaikum Mama," sapaku dengan lagak semanis mungkin.


"Wa'alaikumssalam sayang," jawab ibuku dari kejauhan sana.


"Ada apa Ma?"


"Kamu dimana sekarang?"


"Ohh... a-aku lagi belanja dikit banyak stok bulanan yang abis."


"Kok sepi?"


"I-ini kan aku lagi nyari tempat sepi biar denger suara Mama."


"Kamu nggak bohong kan?"


"Ya enggaklah ngapain bohong juga."


"Hmm... tadinya Mama mau kesitu Fann."


"Ngapain?"


"Bete... Kakak sama Papamu nongkrong berdua lagi."


"Dih... udah tua masih bete aja."


"Yeee... anak ini, yaudah kalau gitu abis belanja kamu langsung pulang terus istirahat."


"Besok jangan lupa ada fitting baju!"


Tuuuuuuttttttt...


Sebelum aku menolak, ibuku sudah mematikan panggilannya. Tampaknya beliau tau jika aku pasti akan beralasan.


Sungguh seorang ibu yang cerdas!


Setidaknya, aku bisa merasa lega karena tidak ketahuan berbohong. Aku tidak tau bagaimana emosinya beliau jika mengetahui aku sedang berdua saja bersama seorang pria dimalam hari, di apartemenku pula. Apalagi pria tersebut adalah mas Arlan.


"Kok bohong Dek?" tanya mas Arlan heran.


"Biarin Mas," jawabku.


"Nggak boleh gitu lho sama orang tua."


"Iya sih, tapi kalau aku sama Mas berduaan gini juga boleh?"


"I-iya sih seharusnya nggak boleh juga hehe."


"Makanya aku bohong, mamaku galak banget Mas."


"Berarti kamu lagi nglindungin Mas dong?"


"Yee... Ge-eR banget, makan dulu abisin."


"Hahaha... udah dua kali keliatan lho Dek kamu tuh."


"Mas! Makan dulu!"


"Iya iya, galak banget."


Kami kembali melanjutkan bersantap makan malam ini. Cukup mengejutkan juga. Padahal sore tadi aku masih sangat gemetar menghadapi mas Arlan dan aku semoat menangis. Tidak sampai lima jam, hubungan kami kembali normal.


Entah mengapa rasanya bahagia.


Selang beberapa menit kemudian aku dan mas Arlan selesai menghabiskan makanan. Aku membereskan alat makan dan mencucinya. Begitu juga mas Arlan yang begitu pengertian, ia mau membersihkan sisa-sisa makanan yang berceceran.


Lelaki idaman bukan?


"Dek aku numpang sholat ya?" izinnya padaku.


"Silahkan Mas," jawabku.


Mas Arlan berwudhu lalu menunaikan kewajiban tersebut. Mungkin terhitung kurang lebih lima menit lamanya. Kami bergantian dengan hitungan waktu yang hampir sama.


Entah berapa jam kami bersama, sekarang waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Etiskah seorang wanita lajang bersama pria bukan suaminya? Menurut agama tidak. Ada saja aturan yang belum bisa aku taati.


"Selli gimana Mas?" tanyaku pada mas Arlan.


"Masih dirumah Dek, tadi pas kamu sholat ibuku nelpon bentar," jawabnya.


"Kamu nggak kasian dia ditinggal sendiri sama neneknya Mas?"


"Kasian sih tapi kan masih ada urusan."


"Urusan sama aku? Ini nggak lebih penting daripada Selli, Mas."


"Menurutku sama pentingnya."


"Hmm... yaudah terserah kamu Mas, tapi Mas Arlan mau disini nyampe jam berapa?"

__ADS_1


"Nyampe dapet jawaban kamu."


Aku terdiam, tidak bisa berkata-kata lagi. Mas Arlan menjebakku untuk kedua kalinya. Aku sunggingkan bibir manyun yang berarti kesal. Hal ini membuat mas Arlan tersenyum-senyum.


Pria yang cerdas!


Aku mengingat kembali jawaban yang telah aku susun sejak tadi. Dalam hatiku paling dalam, aku masih bertanya-tanya. Apakah ini keputusan yang paling tepat?


Beberapa kali aku melirik mas Arlan yang masih menghujaniku dengan tatapan harapan. Netra hitamnya yang tajam, terasa menusuk-nusuk kalbuku. Meski terlihat santai, aku tau ia ingin aku untuk segera menjawabnya.


"Mas yakin suka sama aku pake hati?" tanyaku kemudian.


"Yakin sekali!" jawabnya mantap.


"Bukan karena Selli menyukaiku?"


"Jujur awalnya ia, tapi makin lama aku, Mas menyukaimu dari dalam hati sepenuhnya."


"Yakin?"


"Sangat yakin Dek!"


Kuteguk segelas air minum yang masih berada diatas meja. Aku menarik napas dalam untuk menenangkan hati lagi sebelum mengatakan jawabanku.


Mas Arlan mulai tegang sekarang. Terbukti saat rona merah menghiasi wajah dan daun telinganya. Ia tampak bersiap-siap menata hatinya dengan segala keputusan yang akan aku lontarkan.


"Hahaha..." aku terkekeh melihat sikap mas Arlan yang menurutku berlebihan.


"Kenapa ketawa Dek? Mas udah deg-degan ini lho," ujarnya heran.


"Emang mau balap kuda? Nyampe begitu banget?"


"Hehe... Aku takut aja."


"Hmm... Mas tau nggak?"


"Nggak."


"Yeee... gini Mas, jujur orangtua aku nyampe sekarang melarang aku terlalu deket sama Mas."


"Lho kenapa?"


Aku ragu-ragu saat ingin mengatakan alasannya. Ya! Aku takut mas Arlan tersinggung dan sakit hati dengan ibuku ataupun semua keluargaku.


Kurasakan sentuhan tangannya mengusap lembut diatas telapak tanganku. Seolah-olah ia sedang mengirim sejumlah energi agar aku tidak perlu merasa khawatir.


Sekali lagi aku menatap parasnya. Ya! Harus aku bicarakan apapun reaksinya nanti.


"Iya ka-karna Mas Arlan seorang duda, apalagi penyebabnya karna broken home."


"Hmm..."


Mas Arlan tampak berpikir sejenak. Aku hanya berharap ia tidak sampai tersinggung atau bahkan sakit hati dengan keluargaku.


"Mas ngerti kok Dek," ujar Mas Arlan kemudian.


"Maaf Mas," kataku.


"Terus perasaan kamu sama Mas sendiri gimana?"


"Jujur belum ada perasaan lebih Mas."


"Jadi kamu nolak?"


"Kalau aku tolak, Mas tetep mau nunggu?"


"Iya!"


"Kok gitu?"


"Karna Mas yakin kamu punya sedikit rasa sayang sama Mas, dan suatu saat bakalan tambah banyak."


"Seyakin itu?"


"Yakin sekali!"


Pria yang keras kepala. Sesaat aku berpikir kembali. Hari semakin malam, jarum jam pun terus berjalan. Membuatku berpikir harus segera bicara, daripada mas Arlan terus tertahan disini.


Tidak etis rasanya, jika semakin malam masih harus berduaan didalam apartemenku.


"Aku punya syarat buat Mas," kataku melanjutkan pembahasan ini.


"Syarat apa Dek?"


"Aku nerima Mas."


"Beneran? Kamu serius?"


"Iya tapi pake syarat."


"Apa itu?"


"Maaf Mas bukannya sok cantik tapi aku harus kayak gini demi hati siapapun."


"Nggak apa-apa Dek, Mas akan berusaha."


"Dalam dua bulan kita menjalin hubungan, Mas harus bisa bikin aku jatuh cinta sama Mas sepenuhnya, tapi kalau gagal kita udahan. Gimana?"


"Baik, Mas akan berusaha Dek."


"Satu lagi Mas."


"Apa Dek?"


"Kita harus back street dulu, kayak yang aku bilang tadi orang tuaku pasti nggak akan setuju, apalagi hubungan kita belum jelas."


"Iya Dek, Mas ngerti Mas bakal umpetin hubungan kita dari siapapun sampai jawaban kamu dua bulan nanti, abis itu Mas bakal berusaha membujuk orang tuamu kalau Mas berhasil."


"Iya Mas, yaudah sepakat kan? Jadi pulang sana udah malem."


"Yeee... Masa' pacarnya sendiri diusir sih?"


Aku berdiri lalu menarik tangan mas Arlan. Aku memaksanya untuk cepat pulang. Sedang ia masih terus menggodaku.


Sebenarnya alasanku mengusir mas Arlan agar segera pulang adalah karena gugup dan malu. Jantung berdebar tidak beraturan seolah-olah akan meledak.


Untung saja mas Arlan mau menurutiku. Ia kembali pulang tanpa aku antarkan sampai bawah. Aku berlari lalu merebahkan tubuh besarku diatas ranjang sembari menutup wajahku yang terasa mendidih.


Semoga saja ini keputusan dan kesepakatan yang tepat.


Bersambung...


Aku nggak mau nulis mulu-mulu, jadi langsung aja ya hehe


Sekarang tinggal permasalahan bagaimana Fanni akan menjalani hubungan ini dengan setengah hatinya, godaan paras Celvin yang masih membayanginya.


Lalu untuk Arlan bagaimna dia akan berjuang demi cintanya, meluluhkan hati orang tua Fanni, dan menunggu hati Fanni sepenuhnya dua bulan setelahnya.


Untuk Celvin, apakah dia ada rasa sama Fanni??????


nantikan yaa...

__ADS_1


jangan lupa budaya like+komennya..


kemaren ternyata nggak sampe 100 like jadi baru up hari ini 😊😊😊


__ADS_2