
Terhitung sudah genap seminggu, aku menekuni pekerjaan baruku. Aku mulai menikmati dalam membantu dan menjadi perantara dengan yang lain bagi Celvin. Aku juga sudah mulai memahami beberapa hal. Agar pimpinanku tersebut, tidak kelebihan beban atau masalah kecil yang tidak penting dan dapat fokus terhadap hal-hal yang lebih penting.
Sejujurnya, aku jenuh ditempat ini. Seolah-olah kemampuanku tidak begitu terkuras seperti saat masih menjadi karyawan bawah. Apalagi aku bukanlah tipikal manusia yang senang bekerja diluar. Aku tidak bangga menjadi pendamping di setiap pekerjaan luar Celvin. Dan aku juga tau setiap Celvin membawaku pergi keluar, pasti relasinya bergidik melihat tubuhku yang besar.
Aku memang memaklumi itu. Memang benar jika seorang sekretaris pribadi biasanya bertubuh langsing dan seksi. Sedang Celvin yang begitu mempesona harus membawaku. Diriku yang benar-benar jauh dari kata sempurna. Hal ini semakin membuatku tersadar, bahwa Celvin memang tidak pantas aku sukai. Maksudku, aku yang tidak pantas menyukainya.
"Fanni kok bengong aja?" tanya Celvin padaku setelah ia memasuki ruang kami, dan tanpa aku sadari kehadirannya.
"Eh oh itu Pak, agak ngantuk hehe," jawabku tergagap dan tentunya tidak enak hati.
"Ngantuk ya, kebetulan saya bawa kopi dua nih."
"Wah... terimakasih Pak, tapi nggak usah deh hehe."
"Nggak apa-apa Fann, tadi emang sengaja soalnya kamu kayak jenuh gitu, diterima ya."
"Te-terimakasih Pak, ka-kalau begitu saya terima."
"Nah gitu dong, santai aja sama saya."
"Iya Pak."
"Mau ngobrol?"
"Hehe... tidak usah Pak."
Jika Celvin seperhatian ini padaku, bisa-bisa aku luluh lagi. Tidak! Jangan lagi, saat ini aku adalah milik mas Arlan. Aku harus berusaha membuang perasaan suka pada Celvin. Aku sangat berharap perasaan ini hanya kagum. Ya! Hanya kagum saja.
Namun mengapa senyuman Celvin terus membuat hatiku tersiksa. Ya Tuhan! Aku harus bagaimana lagi? Sifat labil anak remaja kian menghampiri.
Apalagi Celvin tidak mau mendengar penolakanku untuk sekedar berbincang. Ia meletakkan kopi diatas mejaku lalu berjalan menghampiri meja kerjanya. Ia mengambil sebuah laptop yang sering digunakan dalam bekerja. Tentu saja tengkukku terasa kaku seketika tatkala melihatnya kembali datang ke meja kerjaku. Celvin duduk di kursi yang berseberangan dariku dan dibatasi meja kerjaku.
"Pak bukannya harus kerja ya?" tanyaku kemudian.
"Ini juga kerja Fann," jawan Celvin dengan santai.
"Kok disini?"
"Biar sama-sama nggak ngantuk Fann, sambil ngobrol dikit."
"Tapi saya udah nggak ngantuk Pak."
"Nggak apa-apa saya yang ngantuk aja hehe... kita sambil bahas proyek baru bulan depan Fann."
"Oh... iya Pak."
"Saya butuh bantuan kamu, atur jadwal untuk bertemu klien ya."
"Baik Pak."
"Emm... satu lagi, kamu sampaikan ini sama Mita tapi kalau udah dapet hasil nantinya ya."
"Mita?"
"Iya, ada masalah?"
"Emm... en-enggak kok Pak."
"Jujur aja Fann, setiap saya ngomongin Mita, kamunya kayak kaget gitu... Kenapa?"
"Hehe... nggak kok, mari kerja Pak."
"Hmm."
Ya! Pak, aku benci wanita ular itu. Namun, akan sangat tidak dewasa sekali, jika aku mengadu pada Celvin. Jadi, aku memilih tetap diam dan mengalihkan pembicaraan dengan pembahasan pekerjaan.
Kami berdua saling mengemukakan pendapat masing-masing. Aku senantiasa mengerahkan ide-ideku kepada perusahaan milik Sanjaya ini. Tidak berat juga kurasa daripada ketika masih menjadi karyawan bawah. Aku hanya tinggal menunggu arahan dari Celvin, membuat jadwal dan keperluannya dalam meeting serta beberapa hal lain yang berhubungan dengan pekerjaannya.
Disini titik jenuhku sering datang. Ketika kondisi perusahaan sedang prima, aku hanya mengerjakan beberapa hal kecil. Setelah itu, berpangku tangan menahan rasa kantuk.
Aku tidak tau, apakah memang pekerjaan sekretaris seharusnya seperti ini atau memang belum sampai saja pada kesibukan. Tidak mungkinkan jika aku dispesialkan oleh Celvin? Memangnya ini sinetron. Hidupku real selalu real, meski tidak sebahagia orang lain. Mungkin ditambahkan sedikit bumbu halu, mengenai perasaanku pada Celvin.
"Oh iya Fann, jadwal sama Riska ada lagi, kamu tambahin ya, nanti saya cocokin waktu sama dia," kata Celvin.
"Bu Riska lagi Pak? Oopss," jawabku terceplos begitu saja.
"Kenapa Fann?"
"Hehe... enggak kok Pak, nanti saya aturin deh."
"Harus ya."
"Iya Pak, kayaknya nggak sabar banget ya pengen ketemu?"
Celvin menatapku dengan diiringi senyumannya yang sangat abadi memukau. Aku silau dibuatnya. Meski dalam hati sedikit sebal, karena mendengar nama Riska yang cantik itu. Mau bagaimanapun perasaanku tidak bisa hilang begitu saja seperti debu yang tersapu angin.
Celvin tidak bodoh. Ia tidak langsung menjawab pertanyaanku secara cuma-cuma. Ia kembali berfokus pada laptopnya. Sedangkan aku masih bertanya-tanya penasaran tentang hal itu. Aku ingin memastikan hubungan Celvin dan Riska yang sebenarnya. Siapa tau bisa membantuku terlepas dari jerat paras Celvin.
"Emm... saya jadwalin yang paling awal aja ya Pak?" kataku dengan maksud memancing Celvin.
"Sama siapa?" tanya Celvin.
"Sama Nona Riskalah Pak, masa' sama ibu saya."
"Haha... bener juga ya, boleh deh, nanti tinggal saya hubungi dianya."
"Wah... udah nggak sabar ketemu nih."
"Apaan sih Fann, bukan begitu kok, kita kan relasi jadi secepat mungkin lebih baik."
"Ya deh Pak, rindu juga nggak apa-apa kok."
__ADS_1
"Hehehe... Udah fokusin dulu ini, mana desain yang bagus menurut kamu?"
"I-ya Pak, saya lihat dulu."
Huh! Sulit sekali menangkap isi hati Celvin. Mungkin karena kecerdasan yang ia miliki, ia bisa tahu tentang maksud pertanyaanku. Aku pun terdiam dan memilih membahas pekerjaan lagi.
Aku melihat-lihat desain bangunan yang cocok untuk proyek baru perusahaan ini. Banyak sekali gambar yang bagus sampai aku bimbang akan memilih yang mana. Setelah aku menentukan satu desain, aku memberikannya pada Celvin.
"Ini bagaimana Pak?" tanyaku.
"Boleh sih, tapi kalau untuk perhotelan bukannya agak... gimana ya?" balasnya.
"Memang ada sedikit kurang sih Pak, tapi menurut saya pas aja tinggal ngurangin dikit dibagian bangunan sampingnya biar nggak terlalu lebar saat dibangun nanti, kita kan juga perlu cocokin sama luas tanahnya juga."
"Emm... bener juga kamu Fann, nanti saya pertimbangin deh."
"Baik Pak."
"Emm... Fann?"
"Iya Pak, kenapa ya?"
"Menurut kamu Riska gimana?"
"Ehh?"
"Haha... nggak jadi kok Fann."
"Elegan, cantik, dan belum tau lagi Pak."
"Itu secara langsung terlihat Fann, tapi sebenarnya orangnya cukup tegas dan tentunya smart, dia pintar dalam segala hal, bahkan perusahaan keluarganya maju karenanya."
"Oh ya? Hebat dong."
"Ya itulah bedanya Riska sama yang lain ya walaupun agak angkuh sih hehe."
What the hell! Oh Celvin, mengapa ia tidak peka sekali seperti ini. Namun, apa yang bisa kuperbuat. Inikah yang dinamakan sakit tapi tak berdarah? Hatiku bak ditusuk sebuah pisau belati, tersayat oleh tajamnya silet. Namun, tak nampak luka apapun kecuali rasa perih.
Dadaku sesak untuk beberapa saat. Namun, hilang saat membayang mas Arlan. Aku rasa ini jalan terbaik agar aku bisa menarik hatiku dari perasaan haluku. Karena aku punya mas Arlan. Aku punya pria tersebut yang mau berjuang banyak untukku. Semoga aku segera melupakan Celvin.
Itulah semua harapanku, yang berulang kali terucap dalam hatiku. Aku juga berharap datangnya seorang Riska adalah untuk menyadarkan diriku. Aku mulai tau sekarang, bahwa Celvin bukan hanya mengagumi sosok Riski. Ia pasti juga mulai menyukai wanita tersebut. Terbukti saat ia masih tersenyum-senyum dan bersenandung kecil setelah membicarakan soal Riska.
Aku mengambil satu helai kertas putih yang masih kosong. Aku mulai membuat perencanaan untuk jadwal Celvin minggu depan. Tentu saja dengan perasaan yang masih sebal. Namun, aku tetap sengaja mendahulukan jadwal pertemuan Celvin dengan Riska.
Dengan begitu, mungkin saja hatiku akan semakin tersiksa. Mungkin juga aku bisa cepat menghilangkan wajah Celvin dalam benakku dan menggantinya dengan mas Arlan.
"Yaudah ya Fann udah waktu pulang ini," kata Celvin.
"Oh iya Pak... nggak kerasa ya hehe," jawabku diiringi senyum yang terkesan kaku.
"Oke, cukup sampai disini dulu kalau begitu, kita rapikan meja masing-masing dan pulang."
"Baik Pak."
Setelah itu, bergegas keluar dari ruangan bersama Celvin. Dan tentu saja rasa minderku datang kembali. Bedanya tidak separah dulu. Kami berjalan dengan saling diam, menyusuri setiap lorong gedung kantor. Menuruni gedung menggunakan lift seperti biasanya.
Sesampainya di parkiran aku kebingungan. Kontak mobil tak ada didalam ransel maupun kantong pakaianku. Hal ini membuat Celvin merasa keheranan dengan tingkah panik yang aku lakukan.
"Kenapa Fanni?" tanya Celvin kemudian.
"Enggak kok Pak," jawabku.
"Yakin?"
"Kayaknya kunci mobil saya ketinggalan deh Pak."
"Hmm... nggak hati-hati sih, mau ditemenin buat ambil?"
"Hehe... nggak Pak, biar saya saja."
"Ya sudah saya duluan ya Fann."
"Iya Pak, Bapak hati-hati dijalan."
"Terima kasih atas perhatiaannya Fanni."
"Sama-sama Pak."
Celvin masuk kedalam mobil mewahnya. Ia perlahan melaju kendaraan tersebut keluar dari tempat parkir meninggalkanku. Dan aku semakim panik dibuatnya, kondisi parkiran yang hanya berisi dua mobil. Dua mobil tersebut bukan mobilku.
Astaga! Apa yang terjadi? Tidak mungkin kan ada pencuri masuk gedung. Lalu dimana mobilku dan kuncinya? Wajahku terasa terbakar dibuatnya. Aku hanya bisa menggigit jari-jari dan mengingat-ingat kembali.
Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...
Suara ponsel yang berdering menyadarkan aku dari rasa gelisahku. Aku meraih ponsel tersebut didalam kantong kanan blazer. Siapa lagi kalau bukan mas Arlan yang begitu perhatian padaku. Lalu aku tekan tombol hijau pada layarnya agar terhubung dengan pria yang kini menjadi kekasihku tersebut.
"Halo, Assalamu'alaikum Mas?" sapaku.
"Halo Dek, Wa'alaikumssalam," jawab mas Arlan.
"Mas, aku lagi takut, Mas Arlan dimana?"
"Takut? Kamu kenapa Dek? Mas baru keluar dari kantor nih."
"Itu Mas."
"Ada apa? Kamu dimana Dek?"
"Aku masih di kantor, tapi mobil sama kunciku nggak ada."
"Hayo lho dimana? Kok bisa lupa gitu?"
__ADS_1
"Nggak tau, masa' ada maling."
"Haha, Dek... Dek... kamu mah ada-ada aja, mana ada maling masuk gedung elit begitu."
"Makanya."
"Kamu kangen kali sama Mas, nyampe bisa kelupaan."
"Apaan sih Mas? Aku serius ini."
"Kan dari awal Mas yang anter kamu Dek, gimana sih?"
"Ehh???"
"Mobil kamu di apartemen Dekku sayang."
"Oh iya ya, aku tadi dianter sama Mas."
"Hahaha... rindu sih rindu tapi jangan sampe pikun gitu dong."
"Hahaha... aku lupa Mas, maaf Mas, kan nggak biasanya aku dianter gitu."
"Yaudah kamu tunggu bentar, Mas jemput kamu ya."
"Iya Mas, hehe."
Rona merah menghiasi wajahku. Bagaimana mungkin aku melupakan hal tersebut? Rasanya memalukan sekali. Padahal tadi pagi aku diantarkan oleh mas Arlan setelah ia mengantar putrinya untuk pergi sekolah.
Aku berjalan meninggalkan tempat parkir. Aku akan menunggu mas Arlan di kursi panjang yang terletak di bagian lobby.
Suasana kantor sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa karyawan lembur yang masih lalu lalang atau pun baru keluar dari ruangannya. Tak ada satu pun dari mereka yang aku kenal. Mungkin merekalah yang mengenaliku, karena aku sempat viral di perusahaan ini karena jabatanku yang naik.
Yah, aku terkenala melalui hal bagus sekaligus hal yang buruk. Karena diriku sendiri tentunya.
Sekitar kurang lebih lima belas menit kemudian. Akhirnya mas Arlan sampai, ia telah mengirimkan pesan padaku. Dengan cepat aku beranjak dari dudukku untuk memghampirinya.
Tak lupa kuberi salam kepada setiap security yang kutemui. Mereka sudah sangat mengenaliku, meski hanya bagian luarnya saja. Untuk sifatku dan kehidupanku tentunya tidak. Yah, mereka mengenalku karena senyum ramah. Mungkin.
"Mas?" ujarku sembari mengetuk jendela mobil mas Arlan.
"Ayo masuk Dek," perintah mas Arlan.
"Iya Mas."
Aku masuk kedalam mobil mas Arlan. Lalu ku rebahkan kepalaku untuk sedikit melepas penat. Aroma therapy yang mas Arlan pasang membantuku rileks kembali.
Mas Arlan mulai memacu mobilnya meninggalkan gedung kantor tempatku bekerja. Aku berharap tidak mengajakku mampir kemana pun, karena aku sudah sangat merindukan kasur.
"Udah ketemu Mas nih Dek," ujar mas Arlan.
"Terus?" tanyaku.
"Nggak usah bingung lagi kalau kangen mah, biar nggak lupa segalanya hehe."
"Dih... Ge-eR banget sih kamu Mas."
"Udah ngaku aja deh, iya kan?"
"Enggak kok, enggak banget."
"Halah, sok malu-malu gitu. Mobil nggak bawa kok sampe kelupaan nyampe panik, mau nangis."
"Siapa yang mau nangis?"
"Kamulah Dek."
"Panik aja Mas, kan itu mobil kesayangan aku."
"Hmm iya sih, inget pas mogok dideket kuburan, kamunya nggak mau ninggalin dulu."
"Nah itu Mas tau."
"Mas pengen jadi mobil deh, biar kamu sayang banget sama Mas."
"Hmm."
Meski terdengar berkelakar, wajah mas Arlan menunjukan kesenduan tersendiri. Aku sampai tidak bisa menjawabnya lagi. Aku sadar aku belum sepenuhnya menyayangias Arlan.
Aku perlu waktu untuk itu. Sekarang saja, aku masih bersikeras menghalau pergi rasa sukaku pada Celvin. Kata orang perasaan tidak bisa dipaksakan bukan? Aku juga begitu, namun aku tetap berusaha menumbuhkan rasa cintaku pada mas Arlan. Meski kami tau hubungan ini tidak direstu. Aku hanya tidak mau terus-menerus menunda kedatangan jodohku.
Jika benar ia adalah mas Arlan. Aku siap melalui prosesnya. Namun, jika pada akhirnya tidak berakhir baik. Mau tak mau kami akan berpisah. Aku tidak mau nantinya mas Arlan mengalami kegagalan rumah tangga untuk kedua kalinya.
"Selli gimana mas?" tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan kami.
"Dia kan jam sepuluh udah pulang Dek kalau hari Sabtu," jawabnya.
"Iya juga sih, aku juga setengah hari kerja."
"Biasanya sekretaris pribadi mah sibuk lho Dek."
"Entahlah Mas, mungkin aku belum masuk fase sibuk aja, lagian kondisi perusahaan sedang bagus Mas."
"Hmm... gitu ya?"
"Iya Mas, kenapa?"
"Nggak apa-apa kok."
Kami terdiam. Mas Arlan mengembalikan fokusnya pada jalan. Sedangkan aku memilih untuk memejamkan mata untuk sebentar. Aku rasa mas Arlan sedikit khawatir atas hubunganku dengan Celvin.
Bersambung...
__ADS_1
Budayakan tradisi like+komen ya...