
Ketika seseorang terlahir dari rahim sang bunda, bersih suci tanpa sehelai pun dosa. Bait suara tangisan terdengar memilukan, namun mampu membuat orang lain bahagia. Kisah masa balita kemudian berlalu, tumbuhlah menjadi seorang remaja. Remaja yang berada didalam proses belajar tentang segala sesuatu, termasuk kehidupan. Mencari tahu letak mana yang benar, atau mana yang salah.
Dan waktu terus berjalan, sampai seseorang itu harus menentukan pilihan. Pilihan yang menjurus pada kepribadian baik atau malah buruk. Menjadi manusia yang baik, terkadang harus melalui fase terjatuh dengan banyaknya ujian dari Tuhan. Sampai akhirnya nanti menemukan kebahagiaan. Menjadi manusia yang buruk, tidak lantas selalu bahagia dengan segala harta bendanya. Namun, ada disuatu masa, ia terjatuh ke dalam sebuah lubang hitam yang akan menghancurkan hidupnya.
Tentunya dengan kewajiban mengingat, bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang melampaui batas kesanggupan hamba-Nya. Selama berbuat baik, pasti akan berbuah manis pula. Dan yang buruk, tinggal menunggu proses alam untuk memberikan hukuman. Maka dari itu, sebagai manusia, hendaklah memilih jalan yang benar. Tiada manusia yang sempurna, setidaknya rubah sikap buruk dihari kemarin dan terus berbenah diri menjadi semakin baik. Meminta maaf, jika salah. Memaafkan bagi yang salah.
Demikian yang menjadi pemikiran dan juga nilai yang bisa aku ambil setelah semua yang terjadi. Usia 30 tahun, aku baru menyadari tentang arti sebuah kehidupan. Jika dulu, aku lemah dan selalu merasa menjadi korban. Kini, aku menyaksikan sendiri arti sebuah perjuangan. Bukan hanya diriku saja yang terluka akibat pengalaman sebagai korban bully. Nyatanya, banyak orang lain yang lebih menderita. Mas Arlan misalnya, ia bahkan mendapat bullying dari keluarganya sendiri.
Ah... rasanya selama ini, aku tidak pandai mensyukuri hidupku. Aku banyak mengeluh dan mundur dalam berbagai hal karena satu kekuranganku. Padahal ayah dan ibuku selalu bersedia berada disampingku. Sepertinya mulai hari ini, aku harus belajar mensyukuri segala sesuatu.
"Dek, kok ngalamun sih?" Suara Mas Arlan masih terdengar parau saat bertanya kepadaku.
Lalu, aku segera menatap wajah suamiku yang tepat berada dihadapanku. Yah, kami masih asyik berbaring setelah melakukan sesuatu. Pada akhirnya aku tidak masuk kerja lagi, menemani suamiku yang kini menyandang status pengangguran untuk pertama kali setelah beberapa tahun belakangan. "Aku kecapekan, Mas. Hehe," jawabku kepadanya.
"Maaf ya, Mas terlalu kuat kayaknya haha."
"Hmm... nggak apa-apa. Yang penting kamu lega."
"Mas sayang kamu, Dek."
"Aku tahu. Dan berkali-kali lipat lebih tahu, Sayang."
"Tapi, pada akhirnya Mas harus menunda cara untuk membahagiakan kamu dan Selli."
Aku tersenyum. Seorang suami yang tidak memiliki pekerjaan memang acap kali merasa tidak berguna. Bahkan, belum ada satu hari Mas Arlan menganggur, ia sudah merasa minder kepadaku. Namun, sebagai seorang istri aku selalu bersedia menemaninya dalam keadaan apapun. Lagipula, Mas Arlan orang yang berpendidikan. Ia pasti bisa mencari cara untuk mendapatkan penghasilan. Aku rasa, perusahaan-perusahaan memang masih membutuhkan kinerjanya. Semoga saja. Amin.
"Dek, Mas pengen memberhentikan Suster, Bi Onah dan Pak Edi," ujarnya tiba-tiba.
"Apa kamu sanggup, Mas? Bukankah selama ini mereka selalu disini?" tanyaku.
"Sebenarnya nggak tega, tapi mau gimana lagi? Mas nggak mungkin biarin kamu yang bayar. Kalau suster mungkin mudah, toh dia bisa dimutasikan ke tempat lain."
"Kita bicarain baik-baik, kita diskusikan sama mereka dulu. Sebenarnya, aku nggak keberatan selama aku mampu. Lagian, hal itu bisa membantu mereka."
"Keluarga kamu sendiri aja, nggak pernah pake jasa pembantu, Dek."
"Iya. Karna mama emang udah nggak kerja selepas punya Kak Pandhu dan aku. Bukannya aku mau manja, Mas. Cuma kasian aja sama mereka, kalau diberhentikan secara tiba-tiba. Nyari kerja susah."
"Iya sih. Terus gimana?"
"Udah, jangan pikirin dulu hari ini. Kita pikirin matang-matang selama sebulan ke depan ya, Sayang? Lagipula, kalau suster nggak ada, otomatis kita masih butuh Bi Onah. Aku nggak yakin kamu mau berdiam diri di rumah."
Mas Arlan hanya mengangguk. Namun, siratan rasa risau terlihat jelas di wajahnya. Yah, bagaimana tidak? Ia terhitung tidak pernah mengalami hal seperti ini. Apalagi dimasa lalu, Mas Arlan masih bergelimang dengan harta. Ia bangkrut atas kesalahan yang sebenarnya bukan ia penyebabnya, dan juga atas perjuangannya menebus kesalahan itu yang tidak diterima dengan baik. Tak sanggup diriku, bila melihat suamiku merasakan derita itu.
Setelahnya, aku membangunkan diriku dan meraih helai pakaianku. Lantas, aku memakainya. Tentunya dengan disaksikan oleh suamiku. Ia tersenyum nakal seperti biasanya. Bersyukur dalam hatiku, ia sudah bisa seperti itu. "Jalan yuk, Mas?" ajakku kepadanya.
"Kemana, Dek?" tanyanya kembali.
"Kemana aja, buat ngerayain hari ini hehe."
"Hari pengangguran gitu?"
"Haha... iya, Mas."
"Hal buruk kok malah dirayain sih, Dek? Ada-ada aja kamu."
"Nggak lho. Cari angin aja, main ke tempat biasa sama Selli atau berdua aja gitu."
"Hmm... Mas nggak punya uang buat traktir."
Setelah merapikan pakaianku, aku kembali mendekatkan diri kepada suamiku. Kuhela napasku, kemudian menghembuskannya kembali. Mas Arlan menunduk, sepertinya sedang menahan rasa malu.
Aku mencoba mengangkat wajahnya dengan jari-jariku. Kupandangi wajah suamiku dan membelai lembut wajah itu. "Don't talk about money, Baby. Jalan-jalan nggak harus mahal. Cukup bersama dan cari angin segar," ujarku kemudian.
__ADS_1
Kini, Mas Arlan menggenggam kedua tanganku. Kemudian berkata, "aku tahu, Dek. Tapi, masa' Mas nggak beliin kalian apa-apa?"
"Selama ini, kamu udah beliin macam-macam barang, Sayang. Dan harganya nggak murah. Buat aku itu udah luar biasa banget. Ada kalanya, giliran aku beliin atau jajanin kamu sesuatu."
"Nggak, Dek. Kamu jangan ngeluarin uang nggak perlu hanya karna Mas, yang notabene adalah seorang lelaki dan suami kamu."
"Maaaaaas?"
"Deeeeeek?"
"Nggak apa-apa ya? Kita jalan-jalan aja, nggak perlu jajan. Mumpung aku dikasih libur nih. Please...."
"Hmmm...."
"Ya?"
Aku tersenyum lega, tatkala suamiku mengiyakan ajakanku dengan isyarat anggukan kepala. Dengan gerak malu-malu, aku memeluk dirinya dan berlaku manja. Yah, semakin lama aku semakin bisa bergerak secentil ini dihadapan suamiku yang paling manis ini.
Kemudian, aku menuruni ranjang. Aku berjalan keluar dan meninggalkan Mas Arlan sendiri. Dengan maksud memberinya waktu untuk tenang dalam renungan. Aku rasa, kesendirian menjadikannya bisa berpikir dengan jernih. Tentunya, memikirkan tentang rencana ke depan. Walau sebenarnya, aku tidak ingin ia terburu-buru dulu. Setidaknya ada waktu untuk mengistirahatkan lelah hatinya. Namun, segala risau tidak kunjung hilang dari dirinya. Sehingga, aku merasa lebih baik untuk membiarkan benak Mas Arlan berencana.
Beberapa saat kemudian, aku telah sampai di dapur. Tampak Bi Onah sedang sibuk dengan sayuran yang baru beliau beli. Lantas, aku mendekatkan diri ke tempat beliau berada. "Lagi sibuk apa, Bi?" tanyaku.
"Ehh, Mbak Fanni. Ini Mbak masukin beberapa sayur ke kulkas hehe," jawab beliau.
"Boleh Fanni bicara, Bi?"
Bi Onah seketika saja menatapku. Kemudian mengangguk pelan. Kuajak wanita paruh baya tersebut ke kursi yang sebenarnya adalah tempat makan. Kami duduk berhadapan dengan posisi didekat siku meja. "Jadi, ada apa, Mbak?" tanya Bi Onah.
"Nggak kok, Bi. Pengen ngobrol aja hehe," jawabku.
"Oh... jadinya Mbak Fanni nggak kerja ya?"
Aku menggeleng. "Nggak mungkin aku ninggalin kerja Mas Arlan dalam kondisi seperti itu, Bi."
Aku menghela napasku dan menghembuskannya kembali. Bola mataku menatap Bi Onah dalam-dalam dan penuh keraguan. Sontak saja, beliau merasa salah tingkah. Aku rasa, beliau tidak enak hati atas pertanyaan tadi. Lalu, aku menggenggam telapak tangan beliau yang sudah berkerut karena keriput. Beliau terkejut. Semakin tidak enak hatiku, semakin risau diriku.
Aku tidak tega jika akan memberhentikan beliau begitu saja. Bagaimana beliau mencari pekerjaan lain nantinya? Yang aku dengar selama ini, beliau adalah seorang janda yang masih memiliki tanggungan tiga orang anak. Dan dua diantaranya masih mengenyam pendidikan. Sedang anak pertama, hanya kerja serabutan sebagai kuli bangunan. Itu pun sudah memiliki keluarga sendiri.
"Ada apa, Mbak Fanni?" tanya beliau lagi.
"Emm... se-sebenarnya banyak yang terjadi, Bi. Dan kemungkinan Mas Arlan udah nggak bekerja di kantor lagi," jawabku.
"Lho, kok bisa, Mbak?"
"Panjang ceritanya. Emm... maksud Fanni, untuk saat ini Mas Arlan nggak memiliki penghasilan. Dan ke depannya masih belum tahu. Dan gaji Bi-"
"Bibi turut berduka atas segala permasalahan Den Arlan, Mbak. Tapi, Bibi mohon jangan pecat Bibi karna masalah itu. Bibi rela dibayar secara menunggak. Nyari kerja itu susah, Mbak. Kalau saya nggak kerja, keluarga saya gimana? Tolong ya, Mbak Fanni."
Ternyata Bi Onah cukup pintar dalam menangkap maksud dan tujuanku. Meski, sebenarnya aku belum memutuskan apapun. Lagipula, belum dirundingkan lagi dengan Mas Arlan. Aku pun tidak cukup memiliki hak untuk memecat siapapun di rumah ini.
Dengan reaksi Bi Onah yang demikian, membuat hati ini bergetar. Aku benar-benar tidak tega. Sebenarnya, aku mampu membayar gaji mereka. Namun, harus diperhitungkan lagi untuk biaya sekolah Selli sampai Mas Arlan menemukan pekerjaan baru. Dan tentunya, uangku tidak tersisa untuk menabung jika aku menggunakan jasa pembantu. Modal pun belum terkumpul untuk menjadi sebuah usaha. Memang ada tabungan, namun aku tidak ingin terburu-buru.
"Mbak Fanni, saya mohon. Bibi mohon, hanya di rumah ini satu-satunya harapan Bibi," rengek Bi Onah sembari menitikkan air mata. Beliau begitu tulus dalam melayani Mas Arlan selama ini.
"Nggak, Bi. Tenang aja, Bibi tetap bekerja disini. Saya akan secepatnya menghasilkan uang lagi," jawab Mas Arlan tiba-tiba.
Aku langsung menoleh kepada Mas Arlan. Ia datang menghampiri kami. "Lagipula, istri saya juga belum mengatakan sesuatu, kan? Jadi, Bibi masih resmi kerja disini," lanjut Mas Arlan.
"Terima kasih, Den. Saya bersedia melakukan apapun, Den. Saya do'akan keluarga kalian mendapatkan rezeki yang berlimpah ruah dan sehat selalu."
"Amin. Tapi, sepertinya pekerjaan Bibi bertambah yaitu mengasuh Selli. Mungkin, saya akan sibuk melamar pekerjaan dulu dalam beberapa waktu. Dan Fanni masih harus kerja."
"Siap, Den. Lagian pekerjaan saya sudah ringan. Mbak Fanni malah membantu mencuci baju."
__ADS_1
"Bagus kalau gitu, Bi. Istri Arlan yang ini emang paling beda, baik dan juga cantik hehe. Dan hari ini suster udah nggak dateng lagi, barusan saya telpon."
"Iyalah, Den. Mbak-mbak Londo hehe."
Sungguh, aku malu mendengar kelakar Mas Arlan mengenai diriku itu. Jika hanya berdua, rasanya masih biasa saja. Namun, ia mengatakannya dihadapan Bi Onah tanpa rasa tengsin sedikitpun. Oh... suamiku! Bila aku ini benar-benar cantik boleh saja. Tapi, apa? Aku masih terlalu gemuk untuk percaya diri. Apa kata hati Bi Onah nanti?
Dasar, aki-aki!
Aku baru ingat, tadi pagi kami belum sempat menyantap sarapan. Hidangan yang sudah dimasak dan tertutup sebuah alat penutup semakin lama menyeruakkan aroma lezatnya. Kemudian, tanpa pikir panjang lagi, aku mengambil empat buah piring. Karena tahu akan maksudku, Bi Onah membantuku. Tak lupa, kuintruksikan untuk memanggil tukang kebun kami. Setelahnya kami bersantap bersama.
****
Selang waktu berjalan, petang telah tiba. Sesuai janjiku, sehabis waktu maghrib dan menunaikan ibadah, aku mulai bersiap diri. Dengan balutan celana jeans besar dan atasan sebuah blouse putih, serta korset terpasang di perut, aku tampil untuk kencan halal malam ini. Riasan wajahku lebih terlihat, namun masih dalam batas wajar dan natural. Entah mengapa, jika untuk make up, aku gemar menonjolkan warna mata. Sedangkan bibir dan bagian lainnya, lebih tipis. Untuk rambut kuikat santai ke belakang.
"Mamaaaaaa!" pekik gadis kecilku memanggil namaku. Seketika aku menoleh kepadanya. Ia tampak berlarian kecil menghampiriku.
"Cantiknya, anak mama," ujarku. "Siapa yang dandanin kamu?"
"Bibi, Ma. Selli cantik kan? Lebih cantik dali Mama Fanni."
"Kata siapa? Mama Fanni lebih cantik kok," sela Mas Arlan tiba-tiba. Kami serentak menatap ke arahnya. Aku tersenyum, namun Selli memanyunkan bibirnya karena sebal terhadap ucapan ayahnya. Oke! Saat ini mereka berlawanan lagi. Namun, bukan memperebutkan diriku, melainkan level kecantikan kami di mata suamiku.
"Pokoknya Selli yang paling cantik!" tegas Selli dengan nada sebal dan terdengar melengking khas anak-anak.
"Mas...? Jangan bikin riweh anak deh," ujarku.
"Iya, iya. Para bidadarinya Papa, yang sama-sama cantik," jawab Mas Arlan. Ia merengkuh tubuh putrinya yang kemudian digendongnya.
Bahagia sekali pemandangan ini. Aku rasa, ucapan para ibu-ibu tentang anak mereka bukan isapan jempol semata. Seorang anak mampu menyegarkan hati yang lesu, meskipun hanya menatap senyumannya saja. Yah, itulah salah satu kelebihan seorang anak. Aku jadi berpikir, kapan aku bisa memberikan seorang anak untuk Mas Arlan sekaligus seorang adik untuk Selli?
Dalam kondisi seperti ini, sepertinya rencana program kehamilan itu akan terhambat lagi sampai keuangan suamiku berjalan lancar. Ah tidak! Rezeki seorang anak pasti ada tersendiri. Tidak mungkin Tuhan mengirimkan satu nyawa tanpa dibarengi dengan sejumlah berkah, bukan? Yah, aku akan tetap menjalankan rencana seperti awal. Meskipun nanti, aku masih harus bekerja.
"Dek? Kok bengong lagi?" tanya Mas Arlan.
Sontak saja, aku terkejut. Aku menggelengkan kepalaku dan menatap suamiku, "enggak kok, Mas."
"Kamu cantik banget sih? Jadi, gemes aku tuh."
"Jangan aneh-aneh lho, ada anak."
"Biarin hehe."
Mas Arlan menarik tanganku. Lantas, aku berdiri mengikuti keinginannya. Namun, kemudian ia menurunkan tubuh si kecil. Dahiku mengernyit, apa maksudnya? Satu telapak tangannya menutup mata Selli, sesaat setelah membisikkan sesuatu. Kemudian, menarik wajahku seketika. Aku terkejut sampai membelalakkan mata.
Sial! Pria ini selalu memiliki banyak cara. Ia sama sekali tidak bersedia menahannya terlebih dahulu. Lantas, tanganku ikut serta menutup mata putri kami. Kami berkecup mesra lagi, romantis lagi. Dalam durasi yang cukup lama.
Sampai akhirnya Selli mulai jengah dan mengibaskan tangan kami. Dan seketika itu, kami saling melepaskan diri. Mas Arlan terkekeh, sedangkan aku malu-malu sampai tidak berani memandang anakku.
Licik sekali, suamiku!
Bersambung...
Budayakan tradisi like+komen..
Makasih ya yang udah kasih poinnya. Salam sayang dari Arlan, Fanni dan Selli.
Sorry juga baruu up sore ini hehhehe..
BERBICARA TENTANG ANAK, SEMOGA ANAK-ANAK PARA PEMBACA SETIAKU. SELALU BERLIMPAH RUAH REZEKINYA, TAAT AGAMA, TAAT AKAN ATURAN DAN MORAL NEGARA TERCINTA INI DAN TENTUNYA TUMBUH MENJADI PRIBADI YANG BAIK.
DAN UNTUK PARA ORANGTUA, SEMOGA SELALU MENJADI SOSOK YANG BISA MENJADI TELADAN YANG BAIK DIDALAM KELUARGA, DALAM HAL APAPUN. AMIN.
AMINKAN YA GUYS hehe
__ADS_1