
Sesaat setelah berpisah di tempat parkir dengan Celvin, aku beranjak menghampiri Nike yang tengah berdiri bersender pada mobilku. Aku rasa, ia telah lama menungguku. Tak enak hati juga rasanya.
"Sorry, lama ya Ke?" tanyaku pada wanita berhijab tersebut.
"Hmm... lumayan," jawabnya singkat.
"Maaf ya."
"Santai aja Fanni hehe."
"Loe yang nyetir Ke."
"Nggak mau, nggak bisa."
"Makanya belajar suami ada, mobil ada."
"Nggak ah, takut."
"Yee... yaudah masuk yuk."
"Oke."
Aku dan Nike masuk kedalam mobil. Lalu pergi bersama meninggalkan kantor. Meski aku belum mengetahui kemana tujuan yang akan direncanakan Nike. Untuk apa? Dan juga tidak biasanya.
Alunan musik bergenre rock pop milik seorang diva dunia "Avril Lavigne" aku putar untuk menambah suasana. Mungkin akan terdengar berisik di telinga Nike. Namun, aku tidak peduli sama sekali. Sampai ia akan protes nantinya. Bisa dibilang sedikit menjahilinya.
"Sholawat ke, Fanni," kata Nike menunjukkan keprotesannya seperti yang duga.
"Hihi, biarin sih seru tau yang ini," jawabku santai.
"Berisik Fanni, lagian lagu barat tuh artinya kadang nggak senonoh lho."
"Nggak semua Nike, yang penting pinter milahnya, banyak kok yang bisa nambahin semangat."
"Iya tapi jangan rock juga, berisik ih."
"Dasar emak-emak bawel deh."
Akhirnya aku yang mengalah dan mematikan lagu tersebut. Alasan-alasan Nike selalu tepat sasaran dan sulit ditangguhkan, begitulah pikirku. Wajar saja, ada banyak keuntungan jika bersahabat dengan seseorang yang religius sekaligus ada sedikit ketidaknyamanan di beberapa momen seperti saat ini.
Apalagi aku bukanlah seseorang yang sudah kuat iman. Kuakui, aku masih lemah. Bahkan helai hijabpun belum bisa aku pakai. Meski otakku berpikir sehat, nyatanya hatiku belum mampu melaksanakan kewajiban berpakaian umat islam tersebut.
"Kita mau kemana Ke? Jalan mulu nih gue," tanyaku.
"Ke taman kota yuk," ajak Nike.
"Ngapain?"
"Cari udara seger aja Fann, lagian suami lembur kok, anak diurus si mbak."
"Tumben amat sih loe, ada apa sih? Lagi berantem?"
"Enggak kok Fann, jalan aja ih... ada sesuatu buat kamu."
"Apaan?"
"Ya ada pokoknya."
"Tadi mau nanya apa?"
"Udah nggak jadi deh."
"Lah?"
Rasanya hatiku sedang diisengi oleh Nike. Namun, untuk apa lagi? Aneh. Sudah pertanyaan awal tidak jadi diutarakan, sekarang ia bilang akan ada sesuatu untukku. Seperti bukan Nike saja.
Meski, akhirnya aku memutar setir kearah keberadaan taman tersebut. Sejujurnya, aku sedikit kesal sekaligus penasaran. Aku ingin mencari tahu jawabannya. Serta mengikuti permainan Nike yang terkesan ambigu dan amatiran. Yah, Nike bukan tipe seorang pembohong selama aku mengenalnya.
Hari sudah semakin sore, waktu hampir mendekati pukul lima. Sebentar lagi menjelang petang dan maghrib. Sekilas benakku terbayang lukisan wajah mas Arlan. Teringat kembali memori yang lalu, disaat ia menungguku didepan gerbang kantor. Mengajakku jalan, makan, lalu menyampaikan perasaannya.
Perih sekali terasa dalam hati, aku melakukan sejumlah kesalahan pada pria tersebut. Mulai dari menolaknya sampai mengabaikannya.
****
Beberapa menit kemudian, Aku dan Nike telah sampai ditempat yang dituju. Aku memarkir mobilku lalu mengajak Nike mencari tempat yang nyaman untuk menikmati udara sore hari. Meski sudah tercampur polusi.
"Sebelah sana aja ya," ajakku pada Nike yang sibuk bermain ponselnya.
"Eh... iya Fann," jawabnya tergagap.
Aku mengeryitkan dahiku dan merasa heran. Tingkah Nike terasa aneh bagiku. Seolah-olah ia sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Mungkinkah?
Aku rasa tidak. Ini hanya perasaanku saja. Hal apa juga yang akan disembunyikan Nike dariku. Toh, hubungan kami baik-baik saja selama ini.
Daripada aku memikirkan hal yang tidak-tidak. Aku bergerak lebih cepat supaya sampai di kursi panjang didekat hamparan danau buatan. Dan lagi-lagi aku teringat mas Arlan.
"Fann bentar ya aku kesana dulu, ada telpon dari suami," pamit Nike.
"Oh iya... silahkan," jawabku.
Sekali lagi aku merasa heran dengan tingkah Nike. Haruskah ia pergi sejauh itu? Padahal hanya untuk mengangkat panggilan suara dari suaminya. Padahal selama ini, ia tidak terlalu mementingkan itu.
Meski bingung, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Lagipula itu haknya. Aku memilih untuk menikmati suasana sore ini dengan tenang. Sekaligus membuang sedikit rasa penat dengan bersender pada badan kursi.
"Kangen Selli," gumamku bermonolog sendiri.
"Aku kangen kamu," balas seseorang dari arah belakangku.
Aku tersontak kaget dan spontan berdiri. Aku menengok kebelakang, tepatnya kearah pemilik suara yang terdengar tak asing.
Mas Arlan! Rasa kaget bukan kepalang menyerangku tiba-tiba. Gemetar kurasaakan diseluruh tubuhku. Jangan-jangan ini yang disembunyikan Nike dariku. Apalagi, Nike belum juga kembali.
Aku sama sekali tidak menemukan keberadaan Nike dari semua sudut taman. Mungkinkah ia melarikan diri? Sial! Aku harus bagaimana sekarang? Aku belum siap hati menghadapi mas Arlan lagi.
Uuh...
Drrrtt... Drrrrttt... Drrrtt...
Seseorang memanggilku. Terbukti saat kudengar ponselku bergetar dan menyadarkanku dari keterkejutan. Tanpa memperdulikan keberadaan mas Arlan yang belum juga bergerak dari tempatnya, aku meraih ponselku dalam ransel.
__ADS_1
Nama Nike terlihat diatas layar ponselku. Dengan cepat aku menekan tombol angkat. Berencana untuk memarahinya habis-habisan.
"Maaf Fanni, aku udah bohong, kamu harus ngomong sama Mas Arlan. Selesaikan dengan baik, jangan marahan lagi, jangan melarikan diri lagi dan jangan bikin hati orang bingung," suara Nike terdengar cepat dan kencang dari kejauhan sana, tanpa bisa aku sela sama sekali.
Lebih sialnya, ia langsung mematikan panggilannya. Wanita berhijab itu, membuatku harus menghadapi semua ini.
Aku menatap kembali pada mas Arlan yang masih saja bersabar. Mungkin, ia ingin aku merasa tenang terlebih dahulu. Hal ini membuat hatiku merasa iba serta tidak enak hati padanya.
"Hai Mas," sapaku kemudian.
"Hai juga Dek," jawabnya.
"Gabung aja Mas."
"Boleh?"
"Boleh kok, silahkan."
Mas Arlan berjalan menghampiriku. Aku pikir, mas Arlan sudah tidak tau harus bagaimana lagi untuk bertemu denganku, maksudku menghubungiku. Sejak ia menyampaikan perasaannya, aku terkesan menghindari kontak apapun dengannya.
Dengan rasa canggung yang luar biasa, aku kembali duduk di kursi taman sembari melempar pandangan jauh pada hamparan danau. Semburat jingga perlahan menampakkan warnanya di langit sana, menunjukkan waktu tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Untuk beberapa saat kami masih saling terdiam satu sama lain. Mencari ketenangan masing-masing. Meski rasanya aku ingin cepat-cepat beranjak pergi. Namun, rasanya tidak etis. Benar kata Nike, aku tidak boleh melarikan diri.
"Maaf Mas," ujarku pada mas Arlan dengan mencoba membuka perbicangan.
"Aku tau Dek," jawabnya.
"Aku nggak tau diri ya?"
"Nggak kok, Mas cuman bingung tambah gelisah."
"Kenapa?"
"Kamu menghindar dari Mas."
"Maaf, aku bingung Mas."
"Ya Mas tau kok, yaudah Mas mau nyari minum dulu, tapi kamu jangan kabur ya, aku nggak bawa mobil, tadi pake taksi mau nebeng kamu."
"Haah? Nggak bawa mobil?"
Seniat itukah? Mas Arlan seolah-olah sedang menjebak diriku. Ia paham aku tidak akan setega itu meninggalkannya. Ya! Memang benar aku tidak sampai setega itu, apalagi mas Arlan sudah berjuang seperti ini hanya untuk menemuiku.
Sungguh pria baik nan malang, cintanya disia-siakan oleh manusia seperti diriku.
Aku menghela napas begitu pasrah sembari menunggu kedatangan mas Arlan lagi. Langit senja semakin menampakkan diri. Waktu maghrib akan segera datang.
"Nih Dek," ujar mas Arlan sembari memberiku sebotol minuman dikala ia telah kembali.
"Makasih Mas," jawabku dan menerima minuman tersebut.
"Mau maghrib Dek."
"Iya... kita cari tempat ibadah dulu."
"Iya minum dulu kamu, pasti capek."
Tegukan demi tegukan aku lakukan. Tenggorokanku memang terasa kering sejak tadi. Mungkin sama halnya dengan mas Arlan.
Aku merasa lebih tenang sekarang. Meski otakku masih dipenuhi segala macam pemikiran bimbang.
Kulirik diam-diam wajah mas Arlan. Ia cukup manis, apalagi disertai tubuhnya yang atletis. Meski sudah mencapai usia kepala empat, ia masih begitu gagah. Harusnya aku bersyukur jika ia menyukaiku.
Lalu apakah ada sedikit rasa sayang padanya seperti yang ditangkap oleh Kak Pandhu dari tingkahku? Jika boleh memilih, aku ingin perasaan itu ada. Nyatanya aku masih belum menemukan jawabannya untuk diriku sendiri.
"Yuk Dek, bentar lagi adzan deh," ajak mas Arlan setelah melihat jam kecil yang menghiasi tangan kanannya.
"Iya Mas," jawabku.
Kami pergi meninggalkan kursi panjang tersebut.
Aku terkesiap saat mas Arlan meraih tanganku dan menggandengnya pada saat berjalan menghampiri keberadaan mobilku. Jantungku berdebar kencang, tengkukku pun terasa kaku. Apakah ini hal yang benar?
"Maaf ya Dek, kalau Mas mau nebeng kamu," katanya.
"Iya aku tau Mas sengaja kan?" tanyaku kembali.
"To the point banget kamu, emang iya sih."
"Kenapa?"
"Mas tau kamu orangnya nggak tegaan, jadi ya Mas nyari taksi online aja terua ngomong nggak mau ditinggalin biar kamu nggak kabur lagi."
"Kalau aku tetep kabur gimana?"
"Nggak bakalan kan?"
"Ya sih, aku nggak sejahat itu."
"Kamu yang bawa mobilnya?"
"Mas aja, aku capek."
"Oke, kamu tiduran aja dulu dibelakang."
"Nggaklah, ntar kesannya Mas Arlan kayak sopir aku."
"Nggak masalah kok, aku akan setia jadi sopir kamu."
"Ihh... geli."
Aku menyerahkan kunci mobilku pada mas Arlan. Lalu menghentikan gombalan agar tidak berkelanjutan. Entahlah, rasanya geli saja mendengarnya. Terdengar tidak cocok untuk mas Arlan yang sudah dewasa.
Tidak munafik sih, aku memang merasa malu-malu dalam hati. Pria itu begitu lembut. Mungkin bisa jadi pertimbanganku. Lagipula, aku tidak mungkin menyukai Celvin lebih lanjut. Ia atasanku, orang kaya, orang terpandang, tampan pula.
Tidak mungkin aku bersamanya. Mustahil! Karena nyatanya hidup tidak seindah drama korea.
"Mas nyetir ya?" kata mas Arlan meminta izin lagi padaku saat telah menemui keberadaan mobilku.
__ADS_1
"Iya Mas, nggak usah sungkan anggep mobil sendiri aja," jawabku sembari memasuki kendaraan tersebut berbarengan dengan mas Arlan.
"Andaikan kamu ngomong anggep aja hatimu hatiku juga."
"Ihh... apaan sih, geli tau! Hayu jalan, katanya mau jadi sopir aku."
"Hehe... iya ya Dek, maaf Mas terlena lagi kalau sama kamu."
Mobilku meluncur kembali, menikmati suasana yang sudah mulai gelap seperti hari yang lalu. Lampu-lampu setiap ruko pinggir jalan seakan dinyalakan secara bersamaan Alunan gitar pengamen pun terdengar meski waktu sudah hampir mahgrib.
Hingga sampailah kami disebuah bangunan masjid yang sama seperti hari kemarin. Bedanya kini kami tidak bersama Selli. Aku dan mas Arlan berpisah menuju tempat sesuai gender, lalu melaksanakan ibadah setelah adzan ataupun iqamah telah terdengar.
****
Setelah beberapa saat kami selesai. Aku dan mas Arlan kembali bertemu ditempat mobilku terparkir. Aku tidak tau mas Arlan akan mengajakku kemana lagi. Untuk sekarang aku hanya diam mengikutinya.
"Dek?" panggilnya.
"Iya mas," jawabku.
"Mas boleh maen ketempat kamu?"
"Ah... ta-tapi."
"Buka aja pintunya kalau khawatir, aku pengen ngomong lagi sama kamu di ruang paling deket pintu aja."
"Nggak harus selebay itu sih, aku percaya Mas nggak bakal ngapa-ngapain aku kok. Tapi Selli gimana? Ditinggal dimana?"
"Lagi sama neneknya, Mas udah pamit ada urusan gitu."
"Yaudah kalau gitu."
"Berarti boleh?"
"Iya, tapi jangan nyampe malem ya."
"Makasih ya."
Aku dan mas Arlan kembali masuk kedalam mobilku. Lalu ia menyetir kearah apartemenku berada.
Lagi-lagi aku tidak bisa menolaknya. Aku takut. Namun, mungkin ini kesempatan untuk mengakhiri kecanggungan kami. Aku harus berpikir keras di sepanjang jalan untuk mendapat jawaban hatiku yang terbaik.
Saat sampai di apartemenku, aku mempersilahkan mas Arlan untuk masuk. Aku menyuruhnya untuk duduk di sofa untuk melepas lelah. Aku percaya mas Arlan tidak akan berbuat macam-macam. Lagipula, ia terlihat begitu lelah.
"Mas mau minum apa?" tanyaku.
"Apa aja Dek," jawabnya.
"Jawab sih, jangan bikin bingung."
"Hehe... yaudah kopi apa aja kalau ada, mas rada pusing."
"Mas Arlan sakit?"
"Nggak Dek, ngantuk doang mungkin kurang tidur."
"Gara-gara aku ya?"
"Iya gara-gara kamu kabur."
"Hmm... jelas banget ngomongnya."
Segelas kopi susu aku hidangka untuk mas Arlan. Tak lupa beberapa toples cemilan yang masih tersedia.
Aku malu. Mengapa ia berusaha sekeras itu? Warna wajahnya begitu letih. Begitu tulusnya mas Arlan menyukaiku. Ia sudah kelelahan dalam waktu yang masih belum ada dua hari ini aku menghindarinya. Lalu bagaimana ia akan menungguku?
"Nih Mas, diminum dulu," kataku.
"Makasih Dek," jawabnya.
"Maaf Mas, aku nggak masak apa-apa."
"Mas udah tau kok."
"Hehe."
"Mas belum laper kok, entar aja, tapi kalau kamu udah laper makan dulu aja."
"Belum Mas, entar pesan online aja ya."
"Gampang Dek."
Mas Arlan meneguk gelas kopi yang aku berikan. Sedangkan aku berlalu kebelakang. Aku ingin bergegas mandi agar lebih segar. Kubiarkan mas Arlan untuk beristirahat sejenak sebelum pembahasan serius nantinya.
Ya! Itulah yang aku inginkan. Aku harus membuat keputusan secepatnya agar terlalu lama membuat mas Arlan menunggu. Memangnya secantik apa aku sampai harus berbuat sekejam itu?
Memang terasa ironis sekali. Aku menginginkan jodoh secara cepat. Namun, disaat seseorang datang menyambut hatiku. Aku masih saja didera bimbang dan sejumlah pemikiran lainnya. Aku bingung dengan perasaanku sendiri, belum lagi keluargaku yang pasti akan menentang jika aku berhubungan dengan mas Arlan.
Setelah semua ritual mandi aku lakukan, aku kembali menghampiri mas Arlan. Ia tampak melamun dengan posisi duduk bersender pada sofa serta tatapan matanya yang menyapu langit-langit ruangan.
"Mas jangan ngalamun," ujarku memperingatinya.
"Hehe, iya Dek," jawabnya.
"Apa yang mau Mas omongin?"
"Banyak hal Dek."
"Ngomong aja."
"Gimana perasaan kamu sama Mas? Apa kamu bener-bener nggak ada rasa sama sekali sama Mas?"
Bersambung...
Nantikan di episode berikutnya..
Aku harap likenya mencapai 100 sih, terus komen kalian gimana?
Aku pengen minta pendapat kekalian sekarang buat nentuin jawaban apa yang bakal diambil Fanni..
__ADS_1
Jadi ttep stay.. dan budayakan tradisi like+komennya.. semoga jadi 100 likee....
Kalo ada aku bakal langsung bikin naskah berikutnya,, langsung up hari ini tapi tergantung waktu riview, lolosnya kapan