Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Dia Bingung


__ADS_3

****


"Enak ya? Udah punya suami?" tanya Celvin tiba-tiba diantara kesibukan diskusi kami berdua.


Aku mengangkat kepala dan menatapnya. "Tentu," jawabku.


Celvin tersenyum. Seolah ada sesuatu yang ia pikirkan dan itu tentang diriku. Terbukti pada saat tatapan matanya tak lepas dari diriku. Aku beringsut mundur, dan kembali fokus pada berkas-berkas. Sejujurnya aku sedang salah tingkah, namun sebisa mungkin kutepis lantaran malu jika ia mengetahuinya.


"Aku jadi ingat, waktu pertama kali ketemu kamu, Fann."


Fokusku kembali terhalang karena ucapan Celvin. Kembali kutatap wajahnya yang tampan itu. "Maksudmu?" tanyaku kemudian sembari menghentikan aktivitas tangan yang sedang bekerja.


"Hehe... kupanggil manis, soalnya emang manis sih," jawab Celvin. Sontak saja, aku tersipu malu karenanya. Oh... memang benar, kami pertama kali bertemu didalam lift. Ia menyapaku kemudian tersenyum dan menyebutku dengan panggilan "manis".


"Itu, saat kamu belum sadar, Vin."


"Tentu sadar dong. Buktinya sekarang kamu semakin cantik. Sepertinya aura wanita yang sudah menikah semakin terbuka."


"Oh ya? Itu hanya mitos saja."


"Tidak, itu fakta."


"Terserah deh. Sultan bebas berpendapat. Tapi, terima kasih lho, sudah memuji saya."


"Hmm... lucu lho kamu dulu, Fann. Suka malu-malu, suka salah tingkah sampai kebelet aja ditahan saking tidak enaknya sama aku haha."


"Bapak Celvin! Udah sih, jangan dibahas yang memalukan itu. Dasar!"


Celvin terkekeh. Lagi-lagi, kelakarku mampu membuat orang lain tertawa. Apalagi untuk Celvin yang sedang dirundung masalah seperti ini. Kemudian, kami kembali berfokus pada pekerjaan. Lantaran waktu pulang tinggal satu jam lagi. Dan tentunya, aku tidak ingin menambah jam kerja alias lembur karena aku ingin cepat-cepat pulang menemui suami serta anak putriku.


Sepanjang waktu setelah pertemuannya dengan Mas Arlan, Celvin tidak bersedia membahas tentang tawaran yang ia ajukan. Ia bilang, ia ingin menunggu hasil pertimbangan Mas Arlan terlebih dahulu. Oleh karena itu, ia tidak ingin aku banyak bertanya dan supaya lebih fokus pada pekerjaan yang ada. Sehingga, membuatku enggan untuk sedikit menguliknya dan memilih diam dalam bekerja.


Sejatinya, aku malah sangat ingin bertemu kembali dengan Pak Ruddy. Setidaknya menanyakan maksud beliau dan juga Celvin terhadap suamiku. Aku dan Mas Arlan perlu tahu, agar tidak terjadi perpecahan yang lebih besar lagi. Jika untuk bekerja secara wajar kami bisa terima, namun jika bertujuan untuk menyerang, kami juga perlu waspada. Terlebih hubungan Mas Arlan dengan sanak saudaranya sudah hancur, kami ingin lepas bukan semakin menghancurkan, itu saja.


Akan tetapi, semua kembali lagi pada situasi yang ada sekarang. Jangan berprasangka buruk terlebig dahulu, sebelum menemukan jawaban yang tepat. Apalagi, jika Celvin memang berniat membantu secara profesional. Akan tidak sopan jika kami menaruh curiga sebelum mendengarkannya. Mungkin, setelah ini akan ada janji temu dengan Pak Ruddy. Karena aku paham akan sifat Mas Arlan itu, ia tidak akan sembarangan dalam bertindak.


Sudahlah, lupakan terlebih dahulu. Karena pekerjaan didepan mataku masih teramat banyak. Jika, aku berfokus pada hal lain, rencana bertemu keluarga malah tertunda karena lembur sialan.


"Aku kemarin dapat ide dari Mita, Fann. Perlu pertimbangan dulu sih. Apalagi sampai sekarang Mita belum menyelesaikan misinya," ujar Celvin.


"Ide? Misi?" tanyaku.


Celvin mengangguk. "Iya, kata dia sih, harus diadain event tertentu untuk menarik pengunjung lebih banyak lagi. Bisa jadi, kita harus bekerja sama dengan artis ibukota. Dampak negatifnya, perusahaan harus keluar dana tambahan lagi."


Aku manggut-manggut. Mencoba mencerna apa yang disampaikan Celvin mengenai saran dari mantan setan cantik itu, yaitu Mita. "Tapi, bisa dipertimbangkan, Vin. Secara otomatis banyak pengunjung yang datang. Kita nggak perlu nurunin harga sewa lho."


"Iya sih. Sebenarnya aku nungguin keberhasilan misi Mita dulu, dengan begitu kita bisa mendapat relasi yang bisa berdampak besar pada perusahaan. Tentunya keuntungan."


Misi? Oh... aku rasa si kolot yang hampir melecehkan Mita. Jadi, Celvin belum tahu? Mita benar-benar keras kepala untuk menyembunyikan hal sepenting itu. Menurutku ini sudah salah, sebesar apapun keinginan Mita, seharusnya ia tidak menyembunyikan hal berbahaya seperti ini. Lebih gila lagi, jika Celvin atau keluarganya terus mendesaknya melakukan misi itu.


Aku ragu, aku ingin mengungkapkannya. Namun, tidak ingin ikut campur juga. Terlebih, Mita sudah mempercayaiku untuk tutup mulut sampai ia menemukan jalan keluarnya. Sejujurnya, aku turut khawatir. Tentang Riska yang seperti itu bersama kekasihnya saja hampir ditebas habis oleh sang ayah. Jika, orang itu berhasil melakukan pelecehan kepada Mita, bagaimana nasibnya nanti?


"Hei!" Celvin berseru kepadaku. Sontak saja, aku langsung menatapnya.


"Eh, i-iya. Ma-maaf hehe," jawabku.


"Ada yang dipikirin?"


"En-enggak kok. Aku mikirin beberapa dampaknya aja."


"Oke deh. Karna waktu juga sudah habis, kita sambung esok hari lagi, Nona Fanni."


"Baiklah Bapak Celvin. Selamat sore."


"Selamat sore kembali."


Celvin kembali menorehkan senyuman. Setelah itu, aku berdiri dan meninggalkannya. Aku menuju tempat kerjaku demi mengambil tas dan ponselku. Kemudian, membuka pintu dan keluar dari ruangan ini. Seolah sedang menghirup udara segar dari kebebasanku dari jerat pekerjaan yang semakin banyak dan tentunya memusingkan. Mungkin, Mas Arlan juga sudah datang menjemputku.


Saat aku hampir mencapai keberadaan lift, entah kebetulan atau apa, Mita sedang melenggak-lenggok berjalan ke arah lift yang serupa. Dengan cepat, aku menyamakan langkahku meski dari arah yang berlawanan supaya aku bisa masuk ke dalam kotak penghantar itu bersama dengannya.


Dan yeah, kami berhasil bersama. Mita tampak mengernyitkan dahinya merasa keheranan akan sikapku yang kurasa terlihat konyol di mata orang lain. "A-apa?" tanyaku kemudian.


"Nggak, loe yang kenapa harusnya," jawab Mita dengan gayanya yang memang sedikit tengil.

__ADS_1


"Gue nggak apa-apa, Mit. By the way, makasih waktu itu loe udah bantuin gue."


"Iya, nggak masalah."


"Sama-sama kek."


"Nggak perlu kayaknya."


"Hmm... ya ya. Namanya juga Bu Mita."


"Itu loe tahu."


"Yaudah masuk yuk."


Kami melangkahkan kaki secara bersamaan pada saat pintu lift telah terbuka. Didalam kotak penghantar ini hanya ada kami berdua. Mungkin, menjadi momen yang tepat untuk kami saling membahas misi itu.


Yah, aku belum berani mengatakan yang sebenarnya kepada Celvin tentang masalah Mita. Karena itu merupakan amanat atau sesuatu yang ingin Mita sembunyikan. Meski sebenarnya ikut khawatir, namun sebisa mungkin aku menahan diri untuk tetap tutup mulut. Hanya ada satu cara lain yaitu dengan memberikan beberapa saran baik untuk Mita. Itupun jika ia bersedia melakukannya. Aku tidak mau ikut campur atas keputusannya.


"Mit? Soal misi itu gimana?" tanyaku.


"Masih gue tunda, kenapa? Loe nggak bilang pada Kak Celvin kan?" tanyanya.


Aku menggelengkan kepalaku dengan mantap. "Tapi, gue saranin loe batalin aja."


"Nggak, gue masih cari cara."


"Cara apa? Gue khawatir loe kena lho sama dia."


"Gue juga khawatir, Fann. Tapi mau gimana lagi, ini kesempatan gue."


"Gue yakin, kalau loe bilang ke Celvin. Celvin bakalan cari ide lain kok. Nggak mungkin Celvin tega kasih loe ke buaya tua kayak gitu. Batalin aja, terus bilang sama Celvin."


"Tapi... Kak Celvin kan mantan preman sekolah. Sifatnya sekeras batu, gue nggak yakin Kak Celvin mau bantu."


Mita terdiam. Sepertinya ia tengah memikirkan akan saran yang aku utarakan. Semoga saja, ia bisa memutuskan sesuatu dengan sebaik mungkin. Aku hanya tidak ingin nasibnya seperti Riska bahkan lebih buruk lagi. Aku sendiri tidak tahu, apakah Mita telah memiliki calon suami. Hampir setiap hari, ia berangkat sendiri kalau tidak ia bersama sopirnya.


Kalau ditilik lagi, Mita bukan tipe orang yang mudah percaya kepada orang lain. Bahkan dalam konteks percintaan. Namun, itu hanya dugaanku saja. Meskipun kami sudah berbaikan, Mita belum terbuka akan kehidupannya kepadaku selain masalah tentang misi ini. Ia pun tidak pernah bertanya apapun mengenai diriku. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan Nike.


"Yah, gue cuma ngasih saran aja, Mit. Kalau loe mau, secepatnya loe bilang sama Celvin, gue duluan ya? Suami udah nunggu," ujarku sembari melangkahkan kaki keluar dari lift pada saat pintu telah terbuka. Saat aku hendak berjalan lebih dulu, Mita menghentikan langkahku dengan cara meraih lenganku yang besar sekali jika disandingkan dengan lengannya.


Aku hanya tersenyum sembari menganggukkan kepala. "Sama-sama," jawabku.


"Jujur, ini pertama kalinya ada orang yang khawatir sama gue. Dan itu loe, Fann. Padahal gue dulu bener-bener nggak tahu diri banget terhadap loe."


"Yaudah sih. Itu kan udah lalu. Gue rasa loe juga perlahan bisa berubah. Gue pun bisa berubah, Mit. Mungkin kalau loe nggak berlaku seperti dulu, gue tetep jadi orang pemurung."


"Iyakah? Kenapa bisa gitu?"


"Karna loe memacu adrenaline gue, mancing emosi gue. Dan pada akhirnya meledak menjadi sebuah keberanian haha."


"Dasar!"


"Yaudah, gue cabut ya? kasihan suami. Kalau ada apa-apa, gue bisa sedikit bantu kok."


"Iya. Hati-hati."


Aku tersenyum dan mengambil langkah lagi. Damai sekali hati ini, ketika diriku bisa menjalin hubungan baik dengan musuhku. Dalam artian musuh yang telah menjadi teman, atau ada kemungkinan menjadi sahabat. Yah, apapun itu, semoga ke depannya, hubunganku dengan Mita semakin membaik. Lagipula, tidak ada gunanya memupuk rasa benci dan dendam.


Lupakan itu dan kembali pada tujuanku untuk bertemu suamiku. Benar seperti yang aku duga sebelumnya, Mas Arlan telah sampai lebih dulu disini. Maksudku dari rumah bukan dari kantor. Karena suamiku adalah seorang pengangguran baru. Lantas, aku menyeberang jalan dan menghampirinya serta mobil hitam miliknya. "Hai, Sayang," sapaku.


"Hai juga, Sayang," jawab Mas Arlan sembari membukakan pintu untukku, meski tanpa keluar. "Gimana kerjanya, Dek?"


"Alhamdulillah lancar, Mas. Kamu sendiri tadi istirahat enggak?"


Mas Arlan mulai melaju mobilnya, meninggalkan gedung kantor ini sembari menjawabku, "istirahat kok."


"Bohong."


"Serius, Sayang. Mas tidur tadi, ini baru bangun."


"Masa'?"


"Iya, Sayang. Kamu ngelupain sesuatu lho, Dek."

__ADS_1


Aku mengernyitkan dahi tanda bingung dan heran. Sesuatu apa yang aku lupakan? Sepertinya tidak ada. Aku rasa, Mas Arlan sedang usil kembali. Sehingga, aku memilih diam tanpa bertanya.


Namun, ia tampak kesal dengan beberapa gerutunya. Ia berkali-kali menghela napas panjang dan menghembuskannya kembali. Niat ingin membiarkan kini malah menjadi rasa penasaran. Tidak mungkin, Mas Arlan berlaku demikian jika bukan hal penting. Namun, hal apa yang aku lupakan? Bahkan aku sudah mengecek tasku dan tidak ada yang tertinggal.


"Apa sih, Mas? Kesel sendiri gitu? Aku lupa soal apa?" tanyaku kemudian.


"Halah, Dek, Dek," gerutunya sembari mengecap bibirnya.


"Ngomong dong, Mas. Susah amat, kan aku udah pernah bilang. Ingatkan kalau aku berbuat kesalahan."


"Dasar! Istri nggak peka ya gitu."


"Iiiiih! Apa sih, kamu ini."


"Kamu belum kasih kecupan di pipi Mas, Deeeeek."


"Ya Allah, Maaaaaaaas. Kayak ABG aja deh. Udah tua tuh, inget umur kenapa?"


"Jadi mau nggak?"


Cup! Cup! Cup! Terbilang tiga kali, aku mengecup pipi suamiku. Supaya ia puas karena satu kesalahan kecilku itu. Lagipula konyol sekali tingkahnya. Namun, setelah mendapatkannya, ia tampak tersenyum lebar sampai gigi-giginya yang putih dan rapi terlihat. Haruskah aku bersyukur? Atau mengeluh, atas satu sifatnya ini? Suamiku memang jagonya dalam iseng namun romantis sekali. Bersama tawa kami, mobil terus terpacu menuju kediaman kami.


****


Setelah sampai di rumah beberapa saat yang lalu, aku telah membersihkan diriku. Kewajiban ibadahku ashar maupun maghrib pun sudaj terlaksana. Dan kini, waktu sedang berada di angka 18.35 WIB. Waktunya bersantai bersama keluarga. Namun, itu hanya sebuah rencana, lantaran Selli masih sibuk menonton televisi bersama Bi Onah. Dan Mas Arlan? Sejak tadi ia tidak keluar kamar dan sangat sibuk dengan ponsel. Aku sampai jengah dan bosan karena dibiarkan seperti ini.


"Maaaaaaaaas?! Lagi apa sih? HP mulu," ujarku.


Mas Arlan menoleh kepada setelah sekian menit berlalu. "Maaf, Dek. Mas lagi nyari info," jawabnya dan masih tetap pada kesibukannya.


"Entar lagi, kenapa sih? Istrimu disini lho, baru pulang kerja masa' didiemin daritadi."


"Bentar dulu sih, Sayang. Ini kan nyari info bukan main game."


"Kan udah daritadi? Ah! Yaudah terserah deh."


Aku terdiam dengan rasa kesalku. Kemudian mengubah posisiku dan membelakangi Mas Arlan. Aku merebah diatas ranjang, tidak lagi duduk di sampingnya. Rasanya kesal sekali, entahlah aku tidak mengerti.


Namun, tak lama kemudian sebuah tangan merangkul badanku dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Mas Arlan. Ia berbisik, "iya maaf. Udah nggak lagi ini."


"Terserah," jawabku acuh.


"Jangan gitu dong, Sayang. Mas kan udah minta maaf."


"Nggak salah kok. Lagian info bukan game."


"Duh... duh... istrinya Mas lagi ngambek, coba lihat mukanya."


"Nggak mau!"


Mas Arlan bersikeras menarik diriku agar menghadapnya. Tenaganya memang kuat sampai mampu mengatasi badanku yang besar. Dan kini kami saling berhadapan. Aku belum bersedia menatap wajahnya. Sedangkan ia malag asyik mencubit hidungku yang panjang.


"Jadi, gimana?" tanyaku. "Soal tawaran Celvin?"


"Entahlah, Mas bingung. Bener sih, kalau umur Mas udah terlalu tua untuk mencari pekerjaan. Mas udah coba hubungin teman-teman, tapi mereka bilang tetep susah. Walaupun pendidikan Mas terbilang tinggi," jawab Mas Arlan.


"Aku tahu kok, Mas. Apa yang bikin kamu resah, seteganya dirimu, pasti kamu nggak mau mengkhianati keluargamu."


"Iya, Dek. Itu pasti."


Aku membelai rambut Mas Arlan yang halus. Aku paham, sangat paham atas suasana hatinya. "Mas, ikatan keluarga nggak harus kerja di lingkup keluarga. Sebenarnya, cukup silahturahmi untuk menjaganya. Tapi, keadaan memang belum mendukung. Kita bikin janji ketemu dengan Pak Ruddy dulu, kita perlu tahu tujuan atas penawaran itu. Jika dalam konteks bisnis, kita bisa pertimbangkan. Tapi kalau untuk menyerang perusahaan keluarga kamu, kamu langsung bisa menolaknya."


"Hmm... boleh juga, Dek. Nanti kita bikin janji itu. Tapi, sekarang bikin dedek dulu ya?"


"A-apa? Nggak ah, belum isya'!"


"Nggak apa-apa. Nanti mandi lagi."


"Nggak mau, Maaaaaas!"


"Hehehe."


Bersambung...

__ADS_1


Budayakan tradisi like+komen.


AMBIL YANG BAIK, BUANG YANG BURUK YAAA HEHE


__ADS_2