
Selli benar-benar merasa kecewa terhadap sikap sang ayah, maksudku perkataan sang ayah. Ia tidak mau bertemu maupun sekedar berbicara, bahkan menangis histeris jika kami memaksa masuk ke dalam kamarnya. Saat ini hanyalah Bi Onah yang bisa menjadi penenang baginya. Hatiku terasa perih harus melihat hubungan pasangan anak dan ayah itu pada saat ini. Apalagi ucapan Selli tentang Nia sebagai ibu yang melahirkannya. Memang benar adanya, entah mengapa malah terngiang-ngiang di telingaku.
Bagaimana jadinya kalau setelah ini, Selli tidak menerima diriku sebagai ibunya lagi? Aku tidak ingin melimpahkan semua yang terjadi pada Mas Arlan. Aku mengerti respon dalam bentuk ucapan itu keluar dari bibir Mas Arlan begitu saja. Namun aku tida tahu harus berbuat apa lagi. Kebencian yang mendalam pada akhirnya menorehkan sesuatu yang tidak baik. Mas Arlan atau bahkan diriku kini termakan akan rasa benci itu.
Lalu, di sudut ruang kamar kami, Mas Arlan berdiri sembari bersedekap. Pandangannya mengarah ke luar jendela yang sengaja ia buka. Sedangkan waktu masih menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Selepas ibadah maghrib, ia berlaku demikian. Mungkin ia tengah merenungkan beberapa hal. Diriku tidak berani mengganggunya walau sedikit saja. Membuat hati ini semakin nyut-nyutan.
"Dek?" Akhirnya Mas Arlan membuka suara dan itu adalah panggilan untuk diriku. Aku menatap dirinya yang kini berjalan ke arah diriku berada. "Kamu nggak apa-apa, Sayang?"
Aku menggeleng pelan. "Aku nggak apa-apa. Justru kamu, Mas. Kamu nggak apa-apa?" tanyaku kembali.
"Mas kenapa-napa, bingung, sedih dan pasti merasa bersalah." Ia berhasil sampai dan sekarang naik ke atas ranjang kami. Ia mendekatkan dirinya pada diriku yang sedari tadi duduk meluruskan kakiku sembari bersandar.
Cup! Itulah sikap pertama yang Mas Arlan berikan dalam bentuk kecupan di keningku. Kemudian salah satu telapak tangannya bergerak membelai buncitnya perutku, padahal usia kandunganku baru satu bulan. Yah, namanya juga gendut.
"Mas minta maaf atas perkataan Selli, Dek. Pasti kamu kepikiran ya?"
Aku mengangguk pelan. "Iya, Mas. Tapi perkataannya emang bener kok."
"Seharusnya Mas nggak keceplosan bicara buruk kayak tadi didepan Selli. Entahlah, Mas merasa malas kalau membahas nama wanita itu, Dek."
"Aku tengah hamil, Mas. Jangan membenci orang sampai keterlaluan. Seperti kata kamu, nanti malah nurun ke anak kita. Kita do'akan yang baik-baik aja."
"Maaf, Dek. Mas khilaf, Dek. Kayaknya hati Mas masih memiliki banyak luka karna ulah dia."
Kupejamkan mataku sejenak. Lalu merebahkan kepalaku di atas tubuh suamiku. Sedangkan benakku sedang berputar-putar, apa yang bisa kukatakan pada Mas Arlan sebagai saran? Pada akhirnya, aku tidak bisa menyelesaikan semua urusan ini. Mungkin jika aku menahan diri untuk tidak bertanya pada Selli, hal semacam ini tidak akan terjadi. Aku memang tidak pernah berpikir panjang tampaknya.
Dalam beberapa saat keheningan merasuki kebersamaan kami. Hanya denting jam yang terdengar mengisi seluruh ruangan kamar. Lama aku berpikir, sampai akhirnya aku sudah memutuskan sesuatu. Tentang masalah ini, kedatanganku ke sekolah Selli. Lalu semua info yang perlu aku ungkap dihadapan Mas Arlan. Keterbukaan itu perlu, bukan?
"Mas," ujarku sembari mengangkat kepalaku. Sebelum berbicara lebih lanjut, aku memposisikan diriku untuk duduk lebih nyaman. "Aku perlu bicara. Ya, soal Nia. Kamu jangan menghindari nama itu dulu."
Mas Arlan menatapku ragu. Ia menghela napas lalu mengembuskannya kembali. Aku rasa, ia belum ingin membahas hal ini. Apalagi Selli sedang marah padanya. Namun, jika aku terlalu lama bungkam, pasti situasi akan semakin kacau. Belum lagi jika Nia bergerak lebih cepat.
"Ya, Mas dengerin, Dek. Coba bilang semua yang kamu tahu, Sayang," jawab Mas Arlan.
"Tapi kamu jangan marah ya, Mas?"
"Tergantung. Kalau kamu salah masa' dibiarin? Kan aku suami kamu, kita harus saling mengingatkan kalau ada kesalahan, Dek. Tapi bukan berarti harus marah besar."
Glup! Aku menelan saliva dibuatnya. Boleh saja ia bicara seperti itu sekarang. Namun apa benar ia tidak akan marah besar ketika mengetahui lajuku bersama mobil merah menuju tempat belajar Selli? Ah ... sudahlah, ini sudah menjadi resiko untukku. Baiklah, mari bicara!
"Mas ... aku, aku ke sekolah Selli kemarin."
"Apa?! Deeeek?"
"Maaf, Mas. Aku nggak izin, kalau izin pasti kamu nggak kasih."
"Tapi, untuk apa, Sayang? Pulang sekolah kan Selli ikut jemputan anak-anak. Kamu masih lemah lho, Sayang. Malah sempet pingsan. Ya Allah, Dek, Dek. Ck! Pikirin diri kamu sendiri, izin dari suami itu wajib hukumnya, Sayang. Mas nggak tahu kamu ngapain ke sana. Tapi kamu salah kalau nggak minta izin sama Mas."
"Maafin aku, Mas. Aku salah dan aku nggak pikir panjang dulu. Aku terlalu berambisi mencaritahu sesuatu."
Mas Arlan mengecap bibirnya, mungkin ia kecewa. Dan aku memang bersalah, seharusnya dalam keadaan apapun aku meminta izin padanya. Tidak hanya kemarin, sebelum kepergian ibunda kami, aku datang sembarangan ke kantornya. Bahkan sampai pingsan. Aku tahu Mas Arlan hanya khawatir akan kondisi diriku yang lemah ini, apalagi membawa calon anaknya didalam rahimku. Oleh karena itu, aku terus mengucap kata maaf padanya.
Selepas membuang raut kesalnya, Mas Arlan merengkuh pundakku. Kepalaku masuk ke dalam pelukannya. Bahkan ia memberikan beberapa kali kecupan di keningku. Namun aku tahu, ia tengah kecewa padaku. Jatuhnya aku malah membuatnya seperti ini, aku seperti tidak menganggap keberadaannya.
"Maaf, Mas. Maafin aku sekali lagi, aku janji nggak akan gegabah lagi."
"Ya, Dek. Mas maafin kamu. Nggak mungkin Mas nggak maafin kamu. Tapi kamu harus bener-bener janji, minta izin padaku dulu sebelum bertindak. Karna kita nggak tahu apa yang bisa terjadi sama kamu di luar sana."
"Iya, Mas. Maaf, aku janji kok. Sumpah!"
__ADS_1
"Jangan sembarangan ngomong sumpah. Cukup janji aja."
"Iya Mas, iya Sayangku."
"Bagus. Sini Mas kangen sama kamu, Dek. Kasih stamina dulu sebelum mendengar kenyataan hehe."
"Eh?"
Ditariknya kepalaku dari pelukannya. Mas Arlan mengangkat wajahku perlahan. Bola mata kami saling melemparkan pandang. Bibir kami sama-sama terdiam. Tatapannya sayu seperti sedang meminta sesuatu. Bahkan, membuat jantungku tidak menentu. Ah ... seolah banyak bunga yang bermekaran disekeliling ranjang ini. Atau alunan musik yang lembut seolah terdengar di telingaku. Suasana syahdu yang selalu aku tunggu-tunggu. Oh ... maskudku yang Mas Arlan tunggu, bukan diriku.
Dan benar saja, perlahan namun pasti ia mendekatkan wajahnya pada wajahku. Mata kami terpejam dalam sekejap waktu. Hembusan napas kami bergabung menjadi satu. Dan keromantisan terjadi melalui bibirnya yang menyentuh lembut bibirku. Manis. Hal biasa yang menjadi favorite baginya. Terlebih disaat ia merasakan kerisauan hati yang teramat dalam. Langkah ini yang menjadi salah satu penenang. Bukan hanya tiga puluh detik durasinya, ia selalu meminta lebih dari itu.
Sampai batas, dimana aku sudah kesulitan bernapas. Aku menarik wajahku seketika dan mendorong suamiku itu setelahnya. Sudah cukup, ibadah selanjutnya masih belum dijalankan. Dan kami harus lebih hati-hati saat aku mengandung seperti ini.
"Kurang, Dek." Walau pada kenyataannya, Mas Arlan masih mencoba-coba.
"Enggak, Mas. Kita harus membahas sesuatu yang lebih penting. Aku pikir, staminanya udah terkumpul delapan puluh persen."
"Hanya lima puluh persen. Kurang banyak."
"Kamu mah kurang teruuuus!"
"Hehe ... sini lagi."
"Maaaaas?!"
"Hmm ... iya, iya. Jadi, gimana? Kamu dapet info apa disana?"
Sekali lagi, aku menghela napas terlebih dahulu. Lalu mengembuskannya lagi. Kugenggam tangan suamiku, berharap ia tidak emosi. Atau bahkan gegabah dalam menanyai Selli. Jangan sampai, aku takut kemarahannya malah membuat Selli semakin menerka buruk tentang dirinya.
"Aku harap kamu lebih bisa menguasai diri setelah mendengarnya, Mas. Dan jangan gegabah dalam bertanya pada Selli."
"Aku dengar, setiap hari Senin, Selasa, maybe Kamis. Aku sedikit lupa soal hari. Tapi Nia kerap datang ke sekolah dihari-hari itu."
"A-apa?"
"Ya, menemui Selli. Tapi, sialnya, dia berbicara buruk tentang aku pada wali kelas Selli."
"Bicara buruk tentang kamu?! Mau apa dia?!"
"Sssttt ... sabar, Mas. Kan tadi udah aku bilang jaga emosi. Jadi gini, dia ngomong pada Ibu Dwi kalau aku memperlakukan Selli dengan buruk. Dan bahkan, walaupun baik terhadap Selli, aku hanya melakukannya demi pencitraan."
"Ck! Kenapa sih, Mas pernah jatuh cinta sama orang seperti dia?! Parah, mata hatiku buta saat itu. Seandainya aku bisa ketemu kamu lebih dulu, Dek. Aku yakin Selli lahir dari rahim kamu."
"Yee, belum tentulah. Kalau bukan pelajaran dari Nia, bisa jadi kamu nyari orang cantik, langsing. Dan nggak gendut kayak aku, kamu milih aku kan gegara trauma sama yang cantik-cantik, kaaan?"
"Enggak, asli kok. Mas asli cinta sama kamu. Bukam gegara apapun itu."
"Bohong bingiiiiiiits!"
"Ih?"
Mas Arlan merasa gemas terhadap diriku. Ia memeluk tubuhku seerat mungkin. Beruntung tidak dari depan, melainkan dari samping. Sehingga calon anakku tidak tertekan. Lagipula pernyataannya kurang masuk akal. Ia mengatakan itu, namun tetap saja pernah jatuh cinta pada Nia. Bahkan sampai memiliki seorang anak. Terlebih ia sempat memperjuangkan Nia untuk tetap di rumah ini. Rasanya kurang pantas saja jika ia berkata demikian.
Dan mungkin jawabanku bisa menjadi kebenaran untuk terjadi dimasa lalu. Tanpa rasa sakit hati itu, kemungkinan Mas Arlan menilai sosok wanita dari segi fisiknya terlebih dahulu. Bagaimana tidak, Nia saja cantik. Namun setelah mendapatkan musibah hati darinya, Mas Arlan baru menyadari bahwasanya tampilan fisik tidak akan indah tanpa dibarengi kecantikan hati. Eh, tunggu! Memangnya hatiku sudah baik? Yah, setidaknya aku tidak segila Nia.
Dan lanjut kembali pada pembahasan kami. Aku mendorong tubuh Mas Arlan supaya sedikit memberikan ruang untuk tubuhku yang gendut. Beruntung ia cukup peka, lantas beringsut ke belakang. "Lalu apa lagi, Dek?" tanyanya kemudian.
Aku menggeleng sembari memberikan jawaban, "hanya itu, Mas. Hanya soal ucapan buruknya untuk diriku. Dan ... gara-gara kamu, aku jadi batal mendapatkan info dari Selli."
__ADS_1
"Ya, maaf, Dek. Mas kan kaget aja dengernya tadi. Lagian kamu juga nggak bicara apapun sama Mas lho."
"Jadi kamu mau nyalahin aku lagi? Aku kan udah minta maaf, Mas!"
"Uh ... enggak, enggak, Sayang. Sini peyuk."
"Ih! Jijik!"
"Yee, parah. Hmm ... lalu Mas harus gimana? Mas belum ada rencana. Males sih harus ketemu Nia."
"Bukannya seneng? Reuni bareng mantan istri?"
"Sembarangan banget kamu kalau ngomong, Dek. Nggak akan seneng. Eh, hati-hati lho, ucapan adalah do'a."
"Eh, amit-amit. Jangan sampai terjadi, awas aja kalau kamu sampe kayak gitu. Bahu besarku siap menghantam."
"Hahaha."
Tawa Mas Arlan terdengar sangat nyaring, bahkan berhasil mengisi seluruh ruang kamar ini. Namun buka karena merasa lucu akan ucapanku, melainkan sedang menggosaku. Tentu saja sampai membuatku malu. Aku hanya menepuk-nepuk bahunya, punggungnya dan apapun yang terkena kibasan tanganku. Sama sekali tidak etis sikapnya itu, aku sedang serius dan ia malah memberikan respon se-demikian rupa. Dasar!
"Dek, Dek, kamu mah nyiksa suami jatuhnya."
"Lagian kamu ngeledek sih! Aku lagi serius, Mas!"
"Iya, iya, becanda kok."
"Aku nggak lagi becanda, aku serius!"
"Iya, iya, Sayang. Maaf, serius kok hehe."
"Uh! Ngeselin."
"Udah dong, jangan ngambek. Selli udah ngambek sama Mas. Jangan tambah istri."
Aku menghela napas dan berusaha membuang rasa kesalku. "Soal Selli, kamu harus minta maaf, Mas."
"Pasti, Dek. Nunggu anaknya adem dulu. Masih histeris lihat muka Mas, Mas menyesal."
Menyesal sudah tidak ada gunanya. Aku tahu semua yang ia ucapkan adalah bentuk spontanitasnya saja. Namun menghadapi anak kecil justru lebih sulit daripada orang dewasa. Anak kecil begitu mudah diberi sugesti, maksudku dipengaruhi. Secara otomatis otaknya sudah menyimpan pengaruh tersebut. Baiknya jika itu dalam hal positif. Namun jika Nia pada Selli, aku tidak yakin ia mengatakan hal yang positif. Hanya memperbaiki memori otak Selli sesegera mungkin adalah solusi. Atau bahkan menjauhkan dirinya sebisa mungkin dari Nia. Mungkin libur sekolah selama empat belas hari ke depan bisa menjadi waktu yang tepat.
Bukan maksud hati ingin memisahkan anak dan ibu kandung. Hanya saja, keadaan sekarang sangat tidak menentu untuk mental Selli. Jauh di lubuk hatiku, sebenarnya ada rasa bersalah. Namun aku harus bagaimana, jika bukan dengan cara ini? Oh ... andaikan Nia adalah wanita yang baik. Pasti Mas Arlan pun tidak akan membencinya se-demikian rupa.
"Udah, Dek. Jangan dipikirin. Mas yang akan beresin semuanya."
"Beban kamu terlalu banyak, Mas. Pekerjaan, kebencian kakak ipar bahkan sekarang Nia. Sebenarnya aku nekat pergi ke sekolah karna memikirkan ini semua, Mas. Aku nggak bisa lihat kamu menanggung semuanya sendiri dan terus-menerus."
"Hmm ... makasih, Sayang. Kamu emang istri yang baik. Bahkan paling baik. Tapi kewajiban melindungi keluarga adalah tugas suami. Kamu urus Selli, jaga calon anak kita dan urus aku sebagai suami kamu. Jangan ikut campur terlalu banyak. Kalau Mas butuh saran, pasti Mas bicara sama kamu, Dek."
"Uh ... manis banget suami aku."
Mas Arlan tersenyum. Ia kembali membelai perutku. "Pokoknya tenang aja, setelah ini Mas bakal cari jalan keluar secepatnya. Mas nanti akan minta maaf sama Selli. Biarkan dia istirahat dulu. Lagipula Mas adalah ayahnya, nggak mungkin Selli benci sama Mas, Dek."
"Iya, Mas."
Waktu berlalu, adzan isya' berkumandang. Kami menyudahi perbincangan dan lekas turun dari ranjang. Tentu saja untuk bersuci diri lalu beribadah. Karena pada dasarnya, hanya berdo'a dan meminta kepada Sang Maha Kuasa, manusia bisa melepaskan semua jerat beban di hati. Bahkan diperlancar rezeki dan diberikan jalan keluar dalam masalah apapun.
Bersambung...
Budayakan tradisi like+komen
__ADS_1