
Kedua pria itu masih tetap mengetuk jendela mobil milik Mita, bahkan saking kesalnya, mereka berdua mengeluarkan sebuah ancaman. Richard pun tidak kunjung sampai di tujuan, membuat Mita benar-benar merasa kesal. Untuk apa gelar polisi, jika melindungi istrinya sendiri saja tidak bisa? Pikirannya yang sudah benar-benar marah, membuatnya tidak bisa berpikir secara jernih lagi. Ia pikir Richard tidak akan pernah datang.
Gedoran di jendalanya, bahkan di bagian belakang mobilnya semakin merajalela. Terlebih, suasana yang sudah menjelang petang seperti ini. Sialnya , tidak ada kepedulian dari pengendara lain yang kebetulan melintas. Saking khawatirnya dengan diri mereka sendiri, sampai mebiarkan keselamatan orang lain.
“Woi! Buka! Mau loe gue abisin?!” Suara salah satu dari pria itu sangat keras sekali, karena berteriak tepat di jendela samping Mita. “Woi!” Ditambah dengan beberapa umpatan yang tidak enak didengar.
Mita mengembuskan napasnya secara kasar. Dirinya benar-benar dibuat naik pitam. Ia yang memiliki sifat keras, kini seakan mengeluarkan sungut di kepalanya. Lalu ....
Duag! Pintu yang baru saja ia buka dengan keras, menghantap pria yang berjaket abu-abu dan sobek-sobek. Sampai-sampai, pria itu meraung kesakitan dengan peristiga yang tidak diduga-duga. Sang pria berjaket
hitam datang menghampiri Mita yang sudah berdiri dengan melipat kedua tangannya.
“Ih! Bikin kesel aja sih kalian! Mobil baru kelar dari bengkel ditendang-tendang, kan, sayang kalau lecet. Emangnya kalian mampu ganti?!” tanya Mita dengan tegas.
“Cewek ini, keras kepala juga, ya?!” Pria berjaket.hitam berusaha mencengkeram tangan Mita. Namun sayang, usahanya sia-sia. Ketika kaki maut yang menjadi andalan bagi sang setan cantik mendarat tepat pada benda di antara dua kaki. Pria itu terjatuh dan merasakan kesakitan luar biasa.
Sedangkan, pria yang berjaket abu-abu tidak tinggal diam begitu saja. “Awas aja loe! Gue abisin pake nafsu!” ujarnya dengan sangat kurang ajar. Setelah itu, ia bergegas mendekati Mita.
Sebuah semprotan minyak wangi secara cepat mengenai mata pria itu, sampai membuatnya gelagapan karena rasa pedih di matanya. Siapa lagi kalau bukan Mita pelakunya. Ketika sang pria berjaket abu-abu lengah, ia mengambil kesempatan untuk menendang daerah paling sensitif.
Tidak sampai di situ saja, ketika pria berjaket hitam berusaha menghabisinya, Mita menyemprotkan minyak wangi yang sejak tadi sudah ia pegang. Ketika kedua mata mereka sudah merasa pedih luar biasa, ia langsung mengambil kesempatan untuk melumpuhkan kedua preman pasar yang sangat lemah itu. Kaki tetap menjadi bagian paling handal dari diri Mita.
“Asem! Minyak wangi mahal gue abis!” keluhnya keal. Barang yang bernilai satu juta lebih itu harus terbuang sia-sia begitu saja. Tampaknya, ia sangat menyesal karena harus merelakan benda itu demi keamanannya.
Ketika melihat Mita yang seolah lengah, pria berjaket abu-abu mencoba bangkit. Sayangnya, kaki Mita begitu sigap dalam membuat betisnya merasakan sakit yang luar biasa. Dua pria itu benar-benar tidak habis pikir dengan kecekatan dan ketangkasan Mita dalam melumpuhkan lawannya, meski hanya dengan alat seadanya. Maghrib telah tiba, tidak ada siapa pun yang melintas di sana.
“Kalian suruhannya si nenek lampir, kan?” tanya Mita kepada keduanya yang masih duduk bersimpuh karena kaki mereka yang masih kram, sulit digerakkan. “Hei, jawab dong! Preman pasar doang mau sok-sokan loe berdua. Enggak tahu gue siapa hah?! Mau gue masukin penjara? Laki gue polisi, bodoh!” Tidak lagi membawa nama Ruddy atau Celvin, ia justru mengakui tentang suaminya.
Karena yang ia hadapi hanya preman suruhan biasa. Polisi sudah pasti menjadi momok paling menakutkan bagi mereka. Sedangkan ketika menghadapi Riris, rasanya tidak akan berhasil untuk menakuti. Karena Riris orang kaya, ia bisa bermain politik uang untuk kebebasan dirinya. Orang kaya akan lemah dengan orang yang lebih kaya, bukan aparat yang terkadang ada oknum yang bisa dibayar. Itulah mengapa, Mita terpaksa meminjam nama keluarga Sanjaya ketika sedang menghadapi orang-orang jahat yang berduit.
“J-jangan, Mbak. Kami hanya suruhan yang butuh uang, jangan dilaporkan, kami ada keluarga di rumah,” ujar pria berjaket hitam sembari bersimpuh di hadapan Mita.
Tidak mau ketinggalan, juga tidak ingin mengambil resiko besar, pria berjaket abu-abu pun melakukan hal yang sama. “Kami hanya orang miskin, Mbak, kami terpaksa melakukan hal ini,” ujarnya dengan maksud memohon.
Mita mengumpat. Meski tidak ada jawaban pasti, ia tetap tahu bahwa Riris memang dalang di balik kejadiaan ini. Wanita tua itu tidak akan menggunakan tangannya sendiri untuk menghabisi Mita. Namun apa daya, sosok yang sempat disebut setan cantik oleh Fanni ini begitu cerdas dan kuat. Meski tidak memperlajari seni bela diri, ia tetap tangkas dan begitu cerdas dalam menggunakan benda yang ada.
Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di sana. Richard muncul dari mobil itu, dengan langkah tergopoh-gopoh, ia mendatangi ketiga orang yang seperti sedang bermain ratu-ratuan.
“Sayang?” Richard langsung menghampiri Mita dan mencengkeram kedua bahu Mita. Namun pandangannya teralihkan oleh kedua pria yang baru dikalahkan oleh istrinya. “Ini?”
“Pergi kalian, sebelum gue jeblosin ke penjara! Lihat, kan, seragam yang bapak ini pake seragam apa?” pinta Mita agar kedua pria itu segera pergi dari hadapannya.
Karena tidak ingin mengambil resiko lebih, kedua pria itu berusaha bangkit. Dengan langkah kaki yaang pincangt, kedua menuju keberadaa sepeda motor. Kemudian, mengendarinya dengan cepat, meski rasa sakit di betis dan daerah sensitif masih tidak terkira lagi rasanya, belum mata yang masih saja berair akibat semprotan parfum milik wanita berjuluk setan cantik itu.
“Tadi? Ah, kamu enggak apa-apa?” tanya Richard kepada istrinya.
Mood Mita yang sudah hancur, membuatnya malas menanggapi pertanyaan sang suami. “Maaf, aku lelah,” jawabnya sekenanya saja, setelah itu, ia masuk ke dalm mobil yang ia bawa sendiri. Dilajunya mobil itu meninggalkan Richard seorang diri.
Sementara mobil yang dikendarai Mita semakin berlalu, Richard masih saja bergeming di tempatnya. Ia tidak mnegerti harus berbuat apa. Pekerjaan yang menuntutnya tetap menaati aturan, apalagi jika sudah menyangkut kenegaraan pasti sulit sekali untuk ditinggalkan. Jawabann sang istri juga kepergiannya begitu saja, membuat Richard menyadari bahwa dirinya tidak bisa diandalkan.
Meski kuat dan tegas, Mita tetaplah seorang wanita. Dan sejatinya, wanita butuh perlindungan, juga perhatian. Hanya saja, dua hal itu sulit ia dapatkan. Lantas, bagaimana jadinya jika ia merupakan seseorang yang lemah? Mungkin ia akan dibawa preman itu di
__ADS_1
hadapan Riris, bisa jadi ia kehilangan nyawanya.
Dalam laju mobilnya, Mita menangis. Air mata yang sudah lama sekali tidak keluar dari matanya, terakhir ketika ia bertengkar dengan ayahnya. Ia melarikan diri meminta bantua Ruddy. Sampai akhirnya ia bisa terbang ke Istanbul Turki, meninggalkan karirnya yang sudah menjabat cukup tinggi menggantikan Fanni sebagai pendamping kerja Celvin. Hanya Ruddy yang tahu perihal kepergiaannya kala itu, dan ayah dari Celvin Hariawan Sanjaya itu pula yang membantu Mita dalam membujuk ayahnya agar tidak memiliki hati yang keras lagi.
Mita pikir, ia sudah mendapatkan pendamping yangterbaik. Sosok Richard yang mampu menangani kerasnya hatinya pada saat itu. Pekerjaan dari Richard pula yang membuatnya jatuh hati. Seorang polisi pasti akan bisa melindunginya. Namun sayang, ia bahkan berupaya dalam melindungi dirinya
sendiri.
****
Berbeda dengan Mita yang masih bingung atas suasana rumah tangganya, di dalam kediaman Arlan justru berlangsung sebuah kehangatan. Ditambah dua keluarga besar yang tiba-tiba datang. Drick, Sarita, Gunawan, dan Kelly. Entah bagaimana bisa mereka bertamu dalam waktu yang sama. Membuat Srlan dan Fanni benar-benar terkejut bukan kepalang.
Tidak ada hidangan apa pun yang pantas disajikan, kecuali teh hangat dan roti yang dibawa oleh Drick—ayah Fanni. Membuat Arlan tunggang langgang, keluar mencari hidangan sebagai teman minum teh hangat, pun meski kedua keluarga besarnya sudah mengatakan bahwa itu tidak perlu.
“Ngomong-ngomong, ada apa, ya?” tanya Arlan kepada mereka untuk membuka perbincangan.
Gunawan tersenyum. “Hanya suntuk di rumah, jadi main sambil jenguk keponakan,” jawabnya.
Sarita—ibu Fanni tidak mau ketinggalan. “Sama, kami juga.” Ia mengambil alih tubuh Sella dari tangan Fanni.
Sedangkan, Gunawan lebih memilih memangku Selli. “
Jadi, gimana soal Salonnya Fanni?”
“Masih berjuang, Mas,” jawab Fanni.
“Terus, soal keadaan Nyonya Dahlia itu gimana, Dek Gun?” tanya Drick.
Sarita mengecup pipi bule cucunya. Kemudian, berkata, “keadaannya berarti sudah lebih baik ya, Dek Gun?”
“Alhamdulillah, bisa lebih memulihkan diri di sana. Semoga kalau sudah pulang, enggak ngedrop lagi.”
“Ya syukur, kasihan juga sama putri-putrinya.”
Fanni menatap semua orang yang berbinacang satu persatu. Ia tidak percaya jika tidak ada apa-apa dan tiba-tiba datang seperti ini. Mungkin momen yang kebetulan sama, membuat kedua belah pihak merasa
canggung untuk mengungkapkan. Ya, tidak masalah selama bukan sesuatu yang buruk. Kalau sudah semakin rukun, pasti akan semakin nyaman ketika ada momen kekeluargaan.
“Gimana, Riska udah berhasil belum, Mas?” tanya Arlan mengenai sang keponakan.
“Broro-boro, Lan. Pulang aja belum, terpaksa saya lagi yang harus membantu pekerjaan perusahaan,” jawab Gunawan.
Kelly memberikan cubitan di lengan sang suami. “Ya biarin dulu sih, Pa. Siapa tahu pulang-pulang bawa kabar baik.”
“Amin, Ma. Tapi ya agak pusing.”
“Terus William gimana?”
“Nanti kalau umurnya udah mencapai dua puluh tiga, dia harus diboyong ke sini. Belajar bisnis sama Riska.”
Dahi Arlan mengernyit mendengar ucapan Gunawan. “Mbak Leny gimana?”
__ADS_1
“Kami udah sepakat kok. Dia juga mau kembali tinggal di daerah asal.”
“Asal enggak deket sama Mas Dian, Mas. Takut ada perkara lagi.”
“Diupayakan, Lan.”
Sarita menghela napas dalam dan ia hembuskan perlahan. Ada rasa cemburu yang muncul dari dalam hatinya, kehadirannya bersama Drick seperti tidak diakui. Beberapa kali, ia menatap Fanni, berharap agar sang anak membawanya ke tempat lain. Dan sudah pasti akan mencurahkan kekesalannya nanti.
Berbeda dengan Sarita, Drick cukup hamble, meski tidak banyak bicara. Namun, ia bisa mengerti dan turut bergabung dengan perbincangan yang berlangsung. Di sini, perbedaan wanita dan pria itu memang sangat jelas terlihat.
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Fanni tersadar dengan permintaan sang ibu. Ia sudah sangat hapal, sehingga segera beranjak.
“Ma, ada yang aku mau tanya soal resep di dapur, bisa enggak tunjukin sebentar?” Permintaan itu hanya alasan semata, agar ia bisa membawa Sarita ke tempat yang lebih nyaman.
“Ya sudah, sini, Mama bantu,” jawab sang dalang di balik perbuatan. Ia menggendong Sella. Ketika hendak melangkah pergi, Selli berlarian mengikuti dari belakang. Ternyata, gadis kecil itu lebih nyaman ketika bersama orang tua Fanni daripada kerabat dari Arlan.
Kini, empat orang sudah berada di dapur. Duduk bersama di kursi yang merupakan kursi untuk tempat duduk ketika makan. Bagi Sarita suasana lebih nyaman, dan tidak menyesakkan daripada di ruang tamu tadi.
“Nenek, katanya mau bawain sandwich kesukaan Selli?” celetuk Selli kepada neneknya itu.
‘’Ya Allah, Nenek lupa. Haduh, besok aja ya, besok Nenek jemput Selli ke sekolah. Habis itu mampir ke toko kakek, Selli boleh pilih sendiri,” jawab Sarita merasa bersalah.
“Beneran, Nek?”
Sang nenek mengangguk. “Iya, Sayang. Tunggu Nenek ya? Jangan ikut sembarang orang.”
“Yeee!” Gadis kecil itu sangat girang sekali.
Tatapan mata Sarita beralih kepada Fanni. Ada semacam rasa kesal yang ada di hatinya, tetapibukan karena kedatangan Gunawan. Ada sesuatu yang tidak bisa ia terima, malahan menganggapnya keterlaluan. Fanni seakan-akan tidak mau menganggap keberadaannya lagi.
Fanni yang mengetahu tatapan dari sang ibu. Menelan saliva seketika. Ia menduga ada sesuatu yang salah yang ibundanya pikirkan. Tampanya persoalan Sella. Tidak ada hal lain lagi selain itu. Entah apa lagi penjelasan yang bisa ia katakan nanti agar ibundanya menerima.
“Jadi, kamu beneran mau ambil pengasuh?” tanya Sarita tanpad bas-basi lagi.
Fanni menggeleng. “Belum tahu, Ma,” jawabnya getir.
“Fanni, Fanni, daripada diserahin ke orang lain, mending sama Mama aja. Lagian Mama juga pengangguran.”
“Fanni itu enggak enak sama Kak Febi, Mama. Dan juga, kasihan Mama harus ikut kewalahahan. Kalau pengasuh, kan, bisa jagain juga di salon aku.”
“Emang Febi ada ngomong apa sama kamu? Terus, Mama enggak bisa gitu ke salon kamu.’
“Ma, bukan gitu. Emang sih, Kak Febi enggak ada ngomong apa pun, tapi Fanni tetep enggak enak. Mama bisa ke salon aku, tapi,
kan ada temen aku di sana. Pasti dia nanti jadi canggung kerjanya. Mama boleh kok kapan aja dateng, Fanni juga kash creambath gratis.”
Sarita mengembuskan napas yang sempat ia ambil dengan dalam. “Mama juga mau ngurus cucu Mam. Daripada orang lain, kita, kan enggak tahu soal tanggung jawab orang itu. Tapi kalian berusaha banget ya? Biar Mama enggak ada kesempatan.
Selalu seperti itu. Sarita menganggap dirinya seakan tidak penting. Kata orang, semakin tua usia seseorang, semakin kecil lagi pola pikirnya. Fanni yang sudah lelah menjelaskan, kini hanya pasrah. Namun, ia tetap pada pendiriannya untung mengambil pengasuh bagi Sella, mengingat salon yang sudah mulai memiliki pelanggan tetap. Ia berharap agar ucapan sang ibunda hanya sebatas keluhan semata, jangan ada respon negatif yang muncul dari dalam hati beliau.
****
__ADS_1
AYO GUYS, JEMPOLNYA MANA. INI UDAH MAU DETIK-DETIK PENGHABISAN. AKU UDAH RAJIN LHO HEHEH