Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Extra Part]-Bertemu Bahagia


__ADS_3

Dua tahun waktu berlalu. Manusia memang hidup dengan waktu yang terkadang mengalir begitu cepat. Meski begitu, tidak sedikit dari mereka yang seakan tidak merasakan jalannya waktu. Ketika waktu berputar, roda kehidupan pun ikut berputar. Ada yang sempat di atas, lalu tiba-tiba turun ke bawah, begitu pun sebaliknya. Tidak terkecuali dengan kehidupan pasangan Arlan dan Fanni, juga kedua putri mereka yang semakin tumbuh besar dan pintar.


Usia Sella yang sudah tiga tahun lamanya hidup di dunia, menjadikan gadis itu semakin lincah dan menawan. Parasnya yang ayu bermata biru abu-abu, membuatnya cukup menggemaskan. Sedangkan, sang kakak yang bernama Selli juga begitu, gadis itu sudah hampir belia. Saat ini sedang duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.


Yang paling mengejutkan lagi, Arlan sudah memberikan izin kepadanya untuk bertemu sang ibunda kandung yang tidak lain dan tidak bukan adalah Nia. Ya, setiap wanita itu pulang ke Indonesia, Arlan menyempatkan waktu untuk mempertemukan keduanya. Arlan sudah tidak bisa menahan sang putri untuk dirinya sendiri, Nia juga berhak atas Selli. Meskipun tidak memiliki hak asuh, ia tetap berhak bertemu atau membawa sang anak sebentar saja.


“Aku akan mengembalikan anak kamu, setelah seminggu, tenang saja, Arlan,” ujar Nia ketika ia bertemu di suatu tempat bersama Arlan dan Selli.


“Iya, aku percaya padamu. Asal jangan kamu bawa kabur aja, aku enggak bakalan tinggal diam,” jawab Arlan.


“Ngomong-ngomong istrimu mana? Kenapa enggak diajak? Tumben sekali, kamu itu bucin akut sama dia.”


“Begitukah? Karna aku mencintainya, Nia. Jadi ya mungkin agak berlebihan penyampaianku padanya. Istriku sedang mengurus salon sekarang, udah enggak jadi pelayanan sih, udah jadi bos di sana.”


“Wow! Bagus, usaha istrimu berjalan dengan lancar. Kamu udah dapat pengganti diriku yang lebih baik dariku, Arlan. Aku kagum dengan kalian berdua.”


“Suami kamu?”


“Enggak libur, aku mutusin pulang buat ketemu ibuku dan Selli.”


“Udah punya bayi lagi?”


“Udah, Arlan. Anakku ada satu lagi, laki-laki. Kamu gimana? Mau tambah?”


“Alhamdulillah, dia udah hamil lagi. Udah enam bulan dan kemungkinan anak laki-laki.”


“Bagus deh, alhamdulillah. Keluargamu akan semakin komplit.” Nia menghela napas dalam. Kemudian kembali berkata, “ya udah, aku harus pergi. Anakku masih bayi, nanti nyari aku. Aku bawa anak kamu dulu, ya? Aku janji akan mulangin dia satu minggu sebelum aku berangkat lagi pokoknya.”


“Ya, nikmati waktu kalian berdua.”


Arlan sedikit merunduk, ia memberikan kecupan manis di kening Selli. “Kamu jangan nakal ya sama Mama Nia.”


“Iya, Pa. Tunggu Selli pulang ya.”


“Iya, Sayang. Dadah!”


“Dadah, Papa.”


Nia mengucapkan salam terakhirnya, setelah akhirnya membawa Selli untuk bersamanya. Sedangkan, Arlan menatap mereka dari belakang dengan helaan napas sangat lega. Ya, damai itu sangat melegakan. Dan Nia sudah berubah semakin bak serta dewasa. Penampilannya yang dulu terkesan nyentrik kini lebih sederhana, tetapi tetap elegan. Namun, tidak membuat Arlan jatuh cinta lagi kepadanya. Hanya Fanni seorang yang bisa membuatnya terkesima. Memang, dulu ia yang menyukai sosok Nia, tetapi itu hanya masa lalu yang tidak perlu diungkit-ungkit lagi.


Ia berbalik badan, lalu berjalan meninggalkan tempat itu. Mengingat istrinya yang hamil masih saja sibuk di kantor mengurus data-data salon. Selama dua tahun ini, pencapaian Fanni dan Mita sangat luar biasa. Pegawai di salon mereka pun tidak hanya satu, bahkan melebihi lima orang. Banyak pengunjung yang sudah menjadi pelanggan tetap. Yang awalnya hanya salon rambut, kini merambah ke bisnis pernikahan. Bisa dibayangkan seberapa hebat dua wanita itu, bukan? Ya, karena pengalaman mereka sudah mumpuni di bidang bisnis. Bahkan, keduanya adalah mantan sekretaris dari Celvin Hariawan Sanjaya yang luar biasa.


Arlan menghentikan laju mobilnya terlebih dahulu. Ia merogoh ponsel dari dalam saku celananya. Setelah itu, ia melakukan panggilan kepada istrinya.


“Halo, Sayang. Gimana? Udah ketemu sama Mbak Nia?” tanya Fanni dari kejauhan sana.


“Udah, Sayang. Selli udah berangkat kok sama dia. Aku mau kesitu nih, kamu nitip sesuatu enggak? Pokoknya habis ini kamu harus pulang sama Mas, jangan terlalu capek dan jangan bersinggungan sama bahan-bahan kimia dulu.”


“Ya ampun, Mas. Aku aman kok di office ngurusin berkas-berkas enggak ngurusin obat-obat rambut.”


“Ini, kan, hari minggu seharusnya kamu juga . ambil libur. Mas enggak mau kalu jagoannya Papa kenapa-napa.”


“Eh, si Papa over protective. Iya, iya, jemput aku buruan, aku juga kangen sama kamu.”


“Tunggu, ya? Mau nitip apa? Buat Mita sama anaknya, anaknya diajak?”


“Enggak, Mas. Anaknya sama ibu mertuanya katanya.”


“Ya udah on the way.”


Arlan mematikan panggilan itu. Lalu, kembali melanjutkan laju mobilnya ke kantor yang satu lingkup dengan salon milik Fanni. Ia tidak menduga perjalanan hidupnya kan seindah ini. Bersama Fanni selama lima tahun, bahkan akan memiliki buah hati lagi. Selama dua tahun usaha mereka untuk mendapatkan anak lagi-lagi terbilang tidak mudah. Harus banyak konsultasi, mengonsumsi ini dan itu sesuai anjuran Dokter Wisnu. Panjatan do’a dan ibadah malam sering mereka lakukan. Sebegitu besarnya keinginan Arlan menginginkan anak laki-laki.


Terlebih ketika melihat anak dari pasangan Mita dan Richard yang merupakan balita laki-laki berusia satu tahun, membuat keinginannya untuk itu semakin besar. Butuh waktu satu tahun lebih, ia menunggu keberhasilan proses usaha dan do’a agar bisa mendapatnya. Tuhan pun tak membuatnya merasa kecewa.


Fanni berupaya menyelesaikan pekerjaan terakhirnya. Meski dalam keadaa sedang mengandung, ia sama sekali tidak kesulitan. Kehamilannya kali ini, lebih kuat daripada saat mengandung Sella. Ia lebih tahan banting, tetapi agak malas untuk berdandan, beruntungnya ia bule berparas cantik. Ataukah itu bawahan bayi? Entahlah.


“Fann, laporan pengunjung bulan ini ada peningkatan pesat,” ujar Mita sembari menghampiri Fanni bersama secarik kertas di tangannya.


“Iya, Mit, gue juga udah lihat sih tadi. Gue rasa karna promo yang Lita bikin deh,” jawab Fanni.


“Cerdas juga tuh anak ya? Efek viral juga, Fann. Jadi agak terkenal sekarang, jadi teladan orang-orang berbadan gemuk.”

__ADS_1


“Dia juga nggerakin komunitas anti bully juga. Jadi, dari situ dia bisa sekalian promo juga.”


“Yups, jadi enggak kalangan atas doang yang minta sama salon kita. Dulu, gue agak sangsi soalnya, kan, tempatnya di mal. Pasti orang-orang awam pada mikir mahal. Tapi, berkat si Lita, orang-orang biasa pun enggak malu lagi buat dateng.”


“Ya, misi kita berhasil. Enggak cuma usaha tapi juga menggerakkan soal kepercayaan diri juga.”


“Gue bangga sih. Thanks ya, udah jadi partner kerja gue selama dua tahun. Loe udah kayak jadi saudara perempuan gue sendiri, Fann.”


Fanni mengulas senyuman di bibirnya. Bukan berkat dirinya saja, usaha ini bisa sesukses sekarang. Banyak orang yang ikut andil, termasuk sosok Jelita. Gadis itu sudah berhasil menurunkan berat badannya sebanyak tiga puluh dua kilo. Yang awalnya berbobot sembilan puluh kilogram dan kini menjadi lima puluh delapan kilogram. Memang belum seramping Mita, tetapi pencapaiannya sungguh luar biasa.


Jelita yang sekarang bukanlah si gendut yang kumal dan penakut. Ia adalah gadis cantik dengan pengikut di sosial media hampir satu juta banyaknya. Keberhasilannya dalam urusan diet membuatnya mendadak menjadi selebgram. Terlebih lagi ia adalah anak pertama dari pengusaha kondang—Nur Imran. Gayanya semakin trendi dan cantik. Ia membangun sebuah komunitas tentang anti kekerasan dan bullying entah verbal maupun non verbal. Aksinya mendapat respon positif dari warganet dan sangat diapresiasi oleh beberapa petinggi negara. Saat ini ia sudah masuk ke jenjang perkuliahan.


Lalu, Arlan pun datang menjemput permaisuri cantiknya. Sifatnya kepada orang lain masih sama seperti dulu, tegas dan dingin. Ia tidak seramah Fanni, sampai ia mendapatkan julukan 'direktur killer' di kantor dari para karyawannya. Hanya Fanni seorang yang sampai saat ini menjadi orang yang bisa menakhlukkan dinginnya hati Arlan.


“Ayo, pulang,” ajak pria itu kepada istrinya tercinta.


“Dih, galak amat, Bos!” sela Mita.


“Biasa, istri lagi hamil, Mit. Saya enggak mau istri saya sampai kenapa-napa.”


Fanni mengulas senyuman tipis di bibirnya. Kemudian, bangkit dari duduknya dengan susah payah. “Ya udah, ayo, Sayang.” Ia menatap Mita. “Mit, gue balik dulu. Si bapak lagi sensitif. Itu kerjaan gue bawa balik aja, biar si bapak juga yang ngelarin.”


“Gue juga bisa kali, Fann. Loe ambil libur sana. Gue bawa asisten nanti.”


“Jangalah. Baru juga enam bulan, belum terlalu ngebebani sih.”


“Jangan dipaksainlah, nanti si bapak kepikiran.”


“Hais! Emak-emak lama kalau ngobrol. Udah yuk, saya bawa istri dulu ya, Mita.”


“Siap, Pak. Hati-hati di jalan.”


Setelah itu, Fanni dan Arlan meninggalkan Mita sendirian. Dulu, ketika Mita sedang hamil pun, ia diperlakukan seperti Fanni oleh Richard. Sehingga tidak ada sedikit pun rasa keberatan. Apalagi pegawainya sudah banyak, membuatnya tidak terbebani dengan pekerjaan. Ia sendiri masih tidak percaya bahwa salonnya bisa sesukses sekarang. Banyak sekali pelajaran berharga yang ia dapatkan.


Sementara itu, sepasang suami istri yang sedang bergegas pulang, saling melempar kata-kata manis di sela laju mobil mereka. Keromantisan mereka sama sekali tidak berkurang meskipun usia pernikahan sudah mencapai lima tahun. Yang ada, Arlan semakin mencintai istrinya, tengah hamil pula.


Fanni memang bukan sosok yang seperti Jelita. Ia terbilang gagal dalam menguruskan dirinya, bukan gagal lebih tepatnya sudah tidak berminat. Ia tidak ingin lagi jatuh sakit, itu saja. Meski pada kenyataannya banyak cara sehat untuk menurunkan angka timbangan. Namun, Fanni memilih menyudahinya. Beruntung, Arlan tidak pernah mempermasalahkan tentang hal itu.


"Love you to, Mas," jawab sang istri diiringi kecupan manis di pipi Arlan.


"Makasih."


"Sama-sama, Sayang."


"Makasih juga karna kamu bersedia mengandung anak Mas lagi, Dek."


"Anak aku juga kok, Mas."


"Mas sayang banget sama kalian."


"Iya, Sayang. Aku tahu, dan hampir setiap hari kamu ngomong begitu."


"Selama Mas masih bisa ngomong itu, Mas bakalan ngomong terus, Dek."


"Aku siap dengerin, Mas, hehe."


Mereka saling melemparkan senyuman. Ketika bertemu lampu merah, Arlan memberikan belaian halus di perut Fanni. Begitu seterusnya hingga sampai di rumah nanti.


Sella yang sudah berusia tiga tahun berlari mendatangi ayah dan ibundanya, ketika kedua orang tuanya itu baru turun dari mobil milik sang ayah. Ditangkapnya tubuh si bule mungil oleh Arlan dan dikecup pipinya habis-habisan.


"I love you, Papa," celetuknya kepada sang ayahanda.


"I love you to, Adek Sella," jawa Arlan sembari membawa masuk sang anak tercinta.


Sedangkan Fanni menjadi terabaikan oleh ayah dan anak itu begitu saja. Itulah seorang ibu, yang melahirkan yang menimang, tetapi sang anak justru dekat dengan ayahnya. Namun, tidak membuatnya merasakan cemburu. Ia sangat bahagia.


Karena sudah merasa tidak nyaman dan pegal, Fanni memilih merebahkan diri di atas ranjangnya yang sudah diganti dengan yang baru. Ia mengusap-usap perutnya di mana sang anak jagoan ada di dalam. Senyumnya mengembang indah menunjang wajahnya yang memang sudah ayu. Ia membayangkan jika anak di dalam perutnya itu sudah lahir ke dunia, rasa bahagia keluarganya juga semakin bertambah besar.


"Terima kasih, Ya Allah. Karena udah mengisi perut hamba dengan bayi laki-laki sesuai keinginan suami," gumamnya mengucapkan rasa terima kasih kepada sang maha kuasa.


Entah, bagaimana lagi ia bisa menunjukkan rasa syukur yang berlimpah ruah di dalam hatinya. Sekejap, ia seperti sedang masuk di dalam dongeng. Hidupnya terbilang sempurna ketika sudah bersanding dengan Arlan dan seluruh keluarganya. Ayah dan ibunya masih diberikan kesehatan dan umur panjang sampai sekarang. Fanni bak seorang gadis biasa yang hidupnya menjadi berubah drastis seperti permaisuri kerajaan.

__ADS_1


"Mama!" Pekikan dari si kecil Sella terdengar oleh telinga Fanni. Gadis kecil itu berlarian kecil menghampiri sang ibu yang sedang membaringkan diri. "Adek, adek," gumam gadis itu sembari mengusap perut sang ibu.


"Kamu mau apa, Dek? Mas ambilin nih," tawar Arlan yang juga masuk ke dalam kamar.


"Maaf, Mas. Aku belum minum susu, kamu mau bikinin enggak?"


"Siap, laksanakan!"


"Makasih, Sayang."


Arlan mengulas senyuman di bibirnya. Kemudian, pria yang awet muda itu bergegas. Ia menuruni anak tangga menuju dapur di bawah belakang sana. Senandung kecil ia dendangkan mengusir rasa bosan. Matanya memandang seluruh area rumahnya sendiri. Warna cat tembok yang telah ia ganti menjadi biru laut, memberikan kesan segar dan baru.


Setelah sampai di dapur, Arlan membuatkan susu untuk istrinya tercinta. Ia tidak pernah mengeluh sama sekali. Ia terlalu bahagia untuk sekadar mengatakan hal yang kurang pantas, sehingga tidak pernah ia lakukan. Semua pelayanan yang diberikannya kepada Fanni adalah murni ketulusan hati. Seorang suami yang selalu menghargai istrinya, juga menyayangi anak-anaknya, semua orang terdekat termasuk keluarga besar dari dua belah pihak.


Ketika ia hendak kembali ke kamar, ia ingat kepada sang putri kedua. Ia menunda rencana dan membuatkan susu untuk buah hatinya itu.


"Papa datang! Untuk para ladies yang cantik-cantik," ujar Arlan sembari memberikan dorongan pada pintu kamar yang masih terbuka.


"Cella mau cucu!" pekik anaknya dengan gerak kaki yang berlari menghampirinya.


"Ini buat Sella, ini buat mama." Ia memberikan masing-masing susu sesuai pemiliknya. "Hmm ... Selli enggak ada rada' sepi, Dek."


"Sabar, Mas. Baru juga sehari, gimana Mbak Nia yang selama bertahun-tahun enggak ketemu coba?"


"Iya, ya. Berarti, selama ini Mas egois dong."


"Sedikit, tapi, kan ada sebabnya. Mungkin Mbak Nia bisa ngerti juga kok, lagian dia jarang pulang ke indo."


"Iya, Dek. Tapi, emang kangen sama si kakak. Mana si kecil dari tadi juga nyariin."


"Ya mau gimana lagi, kita harus sabar, Mas."


Meski ada rasa getir di hatinya, Arlan mencoba tersenyum. Benar kata Fanni, ia harus bisa bersabar. Lagipula, Selli bersama Nia hanya satu minggu saja. Ia tidak boleh berpikir macam-macam, karena ini pun bukan pertama kalinya ia menyerahkan Selli kepada Nia.


Lalu, Arlan mengangkat tubuh Sella. Dinaikannya gadis itu ke atas perutnya, setelah mengambil posisi tiduran di samping Fanni. Mereka saling melemparkan canda tawa seperti biasanya. Meski sedikit ada yang kurang, yaitu Selli.


****


Tatapan Jane dan Jelita mengarah pada langit-langit kamar di mana mereka berada. Kedua gadis itu sudah saling memaafkan satu sama lain. Kedekatan mereka sudah tidak perlu ditanya lagi. Jelita tidak lagi menorehkan rasa iri terhadap sang adik tiri. Mereka berdua sudah selayaknya adik dan kakak kandung.


"Kak?" ujar Jane memanggil Jelita.


"Iya? Kenapa, Dek?" tanya Jelita kembali.


"Aku semalem mimpi."


"Mimpi apa?"


"Mama."


Jelita terdiam. Adiknya itu memang kesulitan dalam melupakan Riris, lagipula mana ada anak akan lupa ibu, kecuali jika anak itu anak yang nakal.


Jelita memutar badannya menjadi tengkurap. Ia membelai halus rambut Jane yang teruari jatuh di kasur. Ada rasa iba yang menggelayut di hatinya untuk adiknya itu. Andai saja, ia bisa menemukan di mana Riris, pasti Jane akan senang sekali. Dan entah ke mana perginya wanita yang pernah melakukan hal kejam kepadanya itu.


Sekilas, ia mendengar bahwa Riris bertempat tinggal di suatu perkampungan yang dekat dengan rel kereta. Namun, ketika ia mendatangi untuk memastikannya, ternyata hanya kabar burung belaka. Riris sudah seperti ditelan oleh bumi, tidak ada jejaknya sama sekali.


"Kamu yang sabar, ya? Nanti kita cari mama kamu lagi."


Jane menghela napas dalam dan ia hembuskan kembali. Setiap kali membahas tentang ibu, air matanya selalu mengalir. "Iya, Kak."


"Semoga mama enggak kenapa-napa dan sehat-sehat."


"Amin."


"Ya udah yuk, katanya kamu mau berlatih lagi. Kamu masih mau buatin lagu buat papa dan mama, kan?"


Jane mengangguk. Ia mengusap air matanya, lalu bangkit. Ia harus bisa menyelesaikan lagunya untuk kedua orang tuanya. Syukur-syukur, jika sang ibunda bisa hadir di kompetisi yang akan terlaksana sebentar lagi.


****


Masih ada lagi . Bentar ya guys

__ADS_1


__ADS_2