
Lelah sekali rasanya. Aku benar-benar dihukum oleh Ibuku karena sudah menyebut nama Mas Arlan. Yah, kuakui Ibuku memang turut membantu membereskan juga. Namun, tetap saja aku tidak suka seperti ini.
Tepat setelah kumandang isya' selesai, keluarga Kak Febi pun pamit dari rumah orang tuaku. Langit memang gelap sampai tak tau warna aslinya diatas sana. Yang pasti guntur beberapa kali bersuara. Sehingga keluarga besan memutuskan untuk pamit pulang.
Paras wajah dari orang asli Palembang memang begitu menawan. Tidak hanya Kak Febi saja, Ibunya pun tampak cantik meski belum bebersih diri. Kulit mereka putih berseri tak kalah dari kulit bule yang ku miliki. Membuatku sedikit ciut juga rasanya.
"Mama Pandhu, saya pamit dulu ya. Mau ujan kayaknya," pamit Ibu Kak Febi pada Ibuku.
"Nginep juga nggak apa-apa lho Jeng sebenernya, nggak harus buru-buru gini," jawab Ibuku.
"Gimana ya Jeng, saya nggak bisa tidur kalau nggak di kamar sendiri hehe."
"Sama lho kayak saya hehe... ya sudah hati-hati di jalan ya Mamanya Febi."
"Nitip Febi disini, tegur aja kalau salah. Anaknya agak manja kok."
"Iya tenang aja, anak perempuan memang gitu. Sama aja kayak Fanni."
"Hehe... iya sudah saya pamit dulu. Mari Nak Fanni."
"Ohh... iya Tante hati-hati di jalan."
Ibu dari Kak Febi, yang tidak aku tau nama dari beliau karena lupa, beliau menghampiri suaminya yang sedang berbincang dengan Ayahku. Setelah pamit kepada Ayahku. Kedua orang tua Kak Febi tersebut berlalu pergi. Kerabatnya memang sudah undur diri sejak tadi.
Agak aneh juga, aku memanggil Febi yang usianya lebih muda dariku dengan embel-embel kakak. Mau bagaimana lagi, kami telah resmi menjadi kakak dan adik ipar. Walau aku yang lebih pantas menjadi kakaknya.
Kata orang, pengantin baru pasti akan terlihat romantis. Karena masih hangat-hangatnya. Aku rasa memang benar. Terbukti saat kemesraan mereka berdua tak kunjung selesai. Sialnya, dilakukan dihadapanku. Berpelukan, kecup kening lalu kata-kata gombal dari Kak Pandhu untuk istrinya.
"Jijik!" ujarku kesal.
"Yeee... ngiri aja," balas Kak Pandhu.
"Enggaklah, ada Mas Arlan kok," kataku lagi.
"Fanniiiiiiii!!!"
Ooppss! Aku lupa bahwa Ibuku masih berada di ruang yang dekat dengan kami. Sontak saja beliau berseru tegas menyebut namaku setelah nama Mas Arlan tertangkap oleh telinga Ibuku.
"Enggak Mamaaaa," jawabku
"Awas kamu!" balas Ibuku.
"Hahahahaaaa..." Kak Pandhu terkekeh girang.
"Jangan gitu ah, kasian Fanni lho."
"Nggak apa-apa sayang, Fanni udah biasa. Ya kan Fann?"
"Biasa bangeeettt."
"Sabar ya Fanni."
"Iya Kak Febi."
Iya! Aku sabar! Tapi sampai kapan? Kesal rasanya. Aku ingin segera melihat pembuktian dari Mas Arlan. Ingin tau juga kehidupan dan latar belakangnya. Siapa tau, setelah itu Ibuku bisa luluh.
Aku juga ingin menikah, punya anak, punya keluarga dan memiliki pria tangguh yang bisa melindungiku. Dan aku berharap pria tersebut tetap Mas Arlan. Melihat kemesraan Kak Pandhu dan istrinya tersebut, sebenarnya membuat hatiku sesak.
Apalagi kalau bukan iri. Sudah begitu Kak Pandhu terus saja memberikan perhatian pada istrinya dengan sengaja. Sesekali ia melirik padaku sembari meledekku. Kakak macam apa itu? Padahal beberapa saat yang lalu, ia bisa membuatku menangis haru.
"Males ah, mau pergi aja," ujarku sembari beranjak dari sofa tempat kami duduk.
"Mau kemana Fann?" tanya Kak Pandhu kemudian.
"Kamu sih yang, nggak enak tau akunya," sambung Kak Febi.
"Nikmatin aja waktu berdua, gue nggak mau jadi obat nyamuk."
"Makasih lho adikku yang imut."
"Halah..."
"Hahaha..."
Kurebahkan tubuhku yang besar diatas ranjang lamaku setelah sampai di kamar. Kemudian jariku asyik memainkan ponsel. Mencari-cari pesan masuk dari Mas Arlan.
Pada satu pesannya, ia mengirim gambar dirinya memakai kaca mata. Sepertinya siang tadi, terbukti setelan jas dan kemeja membalut tubuhnya pada foto tersebut. Lalu, dilanjut dengan gambar dirinya bersama gadis kecil yang cantik. Siapa lagi kalau bukan Selli.
Ya Tuhanku! Aku rindu mereka. Aku ingin cepat-cepat kembali ke apartemenku agar terbebas dari intaian Ibuku. Berjalan-jalan bersama Mas Arlan dan Selli seperti hari-hari kemarin. Terhitung sekitar tiga hari kami tidak bertemu. Izinku masih tersisa dua hari lagi, hari Minggu sebagai libur bebas dan hari Senin sebagai sisa izin kerja.
Semoga saja, Ibuku tidak mendesakku untuk tetap di rumah. Aku ingin menghabiskan waktu bersama mereka berdua. Beruntungnya, aku mengaku hanya mendapat izin dua hari di Jum'at dan Sabtu. Jadi seandainya besok Ibu masih menahanku. Aku masih memiliki cadangan pergi bermain di hari Senin. Usil ataukah cerdas?
"Fanni!" seru Ayahku dari balik pintu.
"Iya Pa," jawabku sembari beranjak dari ranjangku dan menghampiri beliau.
"Kenapa Pa?"
"Mau temenin Papa nggak?"
"Kemana?"
"Arlan datang."
"Haaaah?"
"Ssssttt... Mama kamu entar ngamuk, pelan-pelan aja dear."
"Yes, Daddy."
"Good, my princess."
Ayahku menuntunku pelan-pelan untuk keluar. Harapan kami, Ibuku tidak tau soal ini. Selain takut, aku juga khawatir beliau syok berat. Apalagi putra beliau baru saja melangsungkan pernikahan.
Aku sendiri benar-benar tidak meyangka Mas Arlan akan datang. Aku rasa Ayahku masih menahannya untuk tidak bertemu Ibuku terlebih dulu. Keadaan masih lelah semua. Dan aku paham soal itu.
"Dimana Pa?" tanyaku.
"Di depan," jawab Ayahku.
"Mama dimana?"
"Mama di belakang lagi nggosip sama tetangga jadi nggak tau."
"Terus mobilnya Mas Arlan."
"Papa suruh diluar dulu jangan dibawa masuk."
"Kok Papa bisa tau itu Mas Arlan?"
"Sssttt... anak gadisku terlalu cerdas sampe nanya terus ya."
"Hehe... penasaran Pa."
"Ya sudah kita di teras ujung aja."
"Tapi kalau ketauan Mama?"
"Mau nggak mau kita selesein ya."
"Emmm..."
Saat sampai di teras samping rumah, terlihat Mas Arlan yang tengah duduk di kursi panjang milik Ayahku. Aku tertegun sebentar, pelupuk mataku seakan menghangat. Aku ingin menangis saking terharunya.
Mungkin, jika Ayahku tidak ada disini. Aku akan memeluk Mas Arlan denga erat. Itu juga kalau aku berani dan tidak malu juga.
"Mas?" ujarku.
__ADS_1
"Hai Dek, emm... maaf Om sebelumnya saya merepotkan," jawab Mas Arlan disambung ucapan untuk Ayahku.
"Iya nggak apa-apa Nak, santai dulu saya ambilkan minum."
"Tapi Tante?"
"Nggak usah khawatir, nanti saya ngomong baik-baik."
"Makasih Om."
Ayahku berlalu, hendak mengambil segelas minum untuk Mas Arlan. Aku menatap wajahnya. Terusa kulihat tanpa berkedip sekalipun. Rasa rinduku sedikit terobati sekarang.
Tak terasa air mataku menetes sedikit. Entahlah, aku tidak tau mengapa sekarang secengeng ini. Ingin sekali ku jatuhkan kepalaku dalam dekapan Mas Arlan, namun masih enggan. Apalagi jika Ibuku tau. Kami bisa mampus seketika.
"Kok mewek sih pacarku?" tanya Mas Arlan sembari mengusap air mataku.
"Nggak kok, tadi kelilipan," jawabku berkilah.
"Masa'? Kangen ya?"
"Enggak kok, tapi Mas Arlan kok tiba-tiba disini?"
"Hmm... aku nggak kuat nahan diri lagi Dek."
"Maksudnya?"
"Kita tiga hari nggak bertemu lho Dek, Mas pengen ketemu kamu."
"Masa'?"
"Nggak percaya?"
"Enggak."
"Dasar... uuuuhhhh gemes, ni pipi makin imut aja."
"Aduuhh sakit Mas."
"Hehehe."
Mas Arlan mengelus pipi bulatku yang sempat ia cubit gemas. Sedangkan aku masih saja mengaduh sakit.
Aku sedikit kecewa, karena ia tidak datang bersama Selli. Namun, aku juga mengerti hari sudah malam. Kurang bersyukur bagaimana lagi aku, Mas Arlan masih memberanikan diri ke rumah ini.
"Mas Arlan gugup nggak?" tanyaku kemudian.
"Banget hehe," jawabnya. Kedua telapak tangannya saling digosok-gosokkan satu sama lain.
"Maaf."
"Nggak kok, ini Mas yang mau Dek. Kalau Mas nggak serius nggak mungkin nekat juga kan."
"Iya Mas."
"Mas cuma bawa paket selimut Dek, buat Mas Pandhu gimana ya? Mas nggak paham sih."
"Nggak apa-apa kok, seharusnya juga nggak usah sih."
"Hmm... nggak gitulah Dek."
Kudenger langkah seseorang dari dalam rumah ini. Aku rasa ia akan menghampiri kami. Sontak saja aku dan Mas Arlan saling berpandangan satu sama lain. Telapak tangannya ku genggam sangat erat. Aku takut, itu Ibuku yang akan mengusir Mas Arlan.
Namun siapa sangka. Orang tersebut Ayahku yang membawa segelas minuman. Kemudian diiringi Kak Pandhu dibelakangnya.
"Ini minum dulu Nak Arlan," ujar Ayahku.
"Hehe... makasih Om, udah ngrepotin gini," jawab Mas Arlan.
"Ehh... udah lama Bang?"
"Enggak kok Mas, baru aja nyampe."
"Jangan! Nggak boleh, ntar Mama ngamuk. Fanni nggak mau."
" Takut amat Dek."
"Dah disini dulu aja, ngobrolnya. Maaf ya Nak Arlan kalau kurang nyaman."
"Nggak apa-apa Om hehe, malah seger kok."
Hujan seketika saja turun dari langit dengan derasnya. Seolah menandakan sesuatu yang tidak bagus. Kami berempat saling berbincang satu sama lain dengan hangat.
Tapi, tetap saja. Aku masih khawatir soal Ibuku. Aku juga heran mengapa beliau belum menyadari kedatangan Mas Arlan. Sebenarnya cara apa yang dilakukan Ayahku? Mustahil saja, jika Ibuku yang super duper peka itu tidak menyadarinya sama sekali. Atau mungkin hanya belum saja?
"Maaf Mas Pandhu, saya cuma bisa ngasih ini," ujar Mas Arlan sembari memberikan paket yang ia maksud, yang katanya paket selimut. Namun, aku tau bungkus yang membalutnya bukan dari sembarang toko.
"Waahhh... Makasih lho Bang, repot-repot aja," jawab Kak Pandhu.
"Emmm... istri mana?"
"Ehh... a-anu dibelakang kok."
Kak Pandhu tampak tergagap. Aku menyadari ada Kak Febi lagi yang terlibat semua ini. Ya! Mungkin saja Kak Febi yang membuat Ibuku tidak menyadari keberadaan Mas Arlan.
"Kamu serius sama anak saya Nak?" tanya Ayahku.
"Se-serius Om, beneran, iya," jawab Mas Arlan dengan gugup.
"Kamu tau kan Mamanya gimana?"
"Tau Om."
"Sulit Nak, mungkin karna Fanni pernah ngalamin masa lalu pahit makanya terlalu ketat sama anak ini."
"Masa lalu pahit?"
"Iya, Fanni belum cerita?"
"Dek?"
Benar juga, selama ini Mas Arlan tidak mengetahui sama sekali tentang kasus bully yang menimpaku. Ia pun mendesakku untuk bercerita, namun aku masih enggan.
Biarlah Ayahku yang mewakiliku. Aku terlalu mual jika membicarakan itu lagi. Bisa-bisa aku memuntahkan isi perutku jika bernostalgia tentang itu. Traumaku saja sempat bangkit karena Celvin.
"Gini Nak, Fanni pernah jadi korban bullying. Sampe-sampe anak ini diet gila-gilaan. Di kondisi tertentu Fanni bisa makan banyak, tapi abis itu muntah, kadang juga puasa dan olahraga berlebihan."
"Se-separah itu?"
"Iya Mas aku hampir gila," selaku
"Kalau nggak salah namanya Bulimia, waktu itu dia dibully secara verbal sama anak-anak lain dikampus. Dijambak juga ya sayang?"
"Emm..."
"Jadi Mama Fanni sangat khawatir tentang itu Nak. Maaf sebelumnya ya, kami juga belum tau kamu siapa, latar belakang kamu dan juga kamu bercerai karena apa?"
"Mantan istri saya tergila-gila dengan harta Om, ada dimana bisnis saya jatuh. Dan dia pergi bersama laki-laki lain, saya dan anak saya ditinggalin gitu aja."
"Gilak! Cewek macem apaan tuh Bang?"
"Kakak jangan kenceng-kenceng!"
Kak Pandhu terkesiap kaget padahal ia sendiri adalah mantan playboy gila. Sedangkan Ayahku manggut-manggut. Sepertinya beliau sedang berpikir.
Alasan seperti itu semoga saja orang tuaku bisa luluh pada Mas Arlan. Apalagi Mas Arlan sudah sejauh ini. Untuk Ibuku terutama.
"Sudah cukup!!!" seru Ibuku tiba-tiba.
__ADS_1
Aku terkesiap hebat dan gemetaran. Kami sama sekali tidak mengetahui kedatangan beliau.
Aku segera meraih tangan Mas Arlan. Lalu kugenggam erat lagi. Aku tidak ingin pisah. Apalagi hujan deras masih mengguyur. Aku tak sampai hati melihat Mas Arlan menerabasnya sendirian.
"Fanni masuk!" seru Ibuku lagi.
"Nggak mau!" jawabku.
"Masuk aja Dek," ujar Mas Arlan.
"Ma tenang dulu Ma," Ayahku pun tak kalah.
"Mama tenang," begitu juga Kak Pandhu.
"Kalian ini lho, mau ngadalin saya haah?"
"Bukan gitu Ma, ini kan masih hari buat Pandhu."
"Terus maksud kamu Mama mau merusak gitu?"
"Ma! Please deh tenang dulu, kasian Mas Arlan baru dateng."
"Kamu masih belain duda ini ya Fanni! Masuk kamu!"
"Nggak mau."
"Dek masuk aja."
"Enggak!"
Semakin kueratkan tanganku pada lengan Mas Arlan. Ibuku begitu marah sekarang. Bahkan Ayahku dan Kak Pandhu tak ada yang bisa mendinginkan beliau.
"Arlan! Saya pikir kamu udah tau masalah ini kan? Kenapa kamu masih bandel deketin anak saya? Kamu mau bikin anak orang jadi janda lagi?" ujar tegas Ibuku.
"Mamaaaaaa!" seruku.
"Diam kamu Fanni, masuk! Mama bilang masuk ya masuk!"
"Masuk aja Dek."
"Tapi Mas."
"Udah ya masuk dulu."
"Masuk cepet Fanni!"
Dengan berat hati kutinggalkan Mas Arlan. Sedangkan Ibuku masih dipegangi dan ditenangkan oleh Ayah dan Kakakku.
Aku menangis lagi sembari berlari kesal kearah kamarku. Tidak tau lagi harus bagaimana. Aku benci semua ini!
"Fann?" panggil Kak Febi dari luar kamarku setelah aku didalam.
"Emmm..."
Ia pun membuka pelan pintunya dan masuk menghampiriku.
"Maaf Kak, gue rusak acara kalian," kataku.
"Nggak apa-apa kok, dah kamu keluar lagi tarik tangan Mas Arlan aja pergi," ujar Kak Febi.
"Haruskah senekat itu?"
"Kalau kamu tidak nyaman gini, lebih baik gitu. Tapi jangan bilang Mama, aku yang nyuruh, cuman aku pernah gitu dan Mamaku luluh."
"Sama Kak Pandhu?"
"Bukan, do'i udah meninggal. Sehari setelah mendapat restu Ibuku dia meninggal kecelakaan Fann, yah tapi itu hanya masa lalu."
"Ooopss maaf."
"Sorry ya kalau terkesan menghasut, tapi aku nggak tega sama Mas Arlan jadi inget mantanku dulu."
"Oke baik. Makasih ya kakak ipar."
Aku segera beranjak dan mengambil barang-barangku yang sempat kubawa. Tak lupa ransel kecilku. Lalu berjalan kearah mereka kembali.
Aku berhenti sejenak saat kudengar omelan Ibuku pada Mas Arlan. Aku bersyukur deras hujan bisa menyamarkannya, sehingga tidak sampai ke telinga tetangga yang masih berada disini.
"Mamaaaa... I love you Mama," ujarku sembari menghampiri Ibuku.
Cup! Cup! Muachh! Muaachh!
"Apaan sih ni anak?" tanya Ibuku setalah kucium habis pipi beliau.
Tingkahku yang aneh membuat orang yang berada disini sedikit kaget. Mungkin mereka jijik. Biarlah, ini salah satu siasatku.
"Apapun yang terjadi aku selalu sayang Mama, I love you Mom," kataku.
Kulepas wajah Ibuku. Lalu aku menarik tangan Mas Arlan untuk menerabas hujannya malam.
"Fanniii... mau kemana kamu???" teriak Ibuku.
"I love you Mom, Papa jaga Mama ya," jawabku dan terus berlari bersama Mas Arlan yang masih terperanjat.
"Kamu hati-hati sayang," jawab Ayahku.
"Fanniii pulang kamu!"
Semua ucapan Ibuku aku abaikan. Aku terus berlari kecil bersama Mas Arlan. Kami basah kuyup karena hujan. Dingin sekali.
"Dek, nggak baik lho kayak gini," ujar Mas Arlan setelah kami masuk kedalam mobil.
"Nggak apa-apa kok Mas," jawabku.
"Kamu balik deh Dek, kasian Mama kamu. Kalau kenapa-napa gimana?"
"Ya janganlah Mas, jangan nyampe. Amit-amit deh."
"Yaudah kamu pulang lagi deh."
"No! Biarin aku juga berjuang buat kita Mas."
"Tapi Dek?"
"Nggak ada tapi-tapian, aku sayang Mama. Tapi Papa juga izinin kan? Makanya aku harus berani."
"Dek, sumpah Mas nggak enak gini lho."
"Please."
"Hmm... iya udah, tapi jangan kayak gini lagi ya entar."
"Nggak, aku tetep bakalan gini kalau bisa bikin kita bersatu."
"Dasar pacarku nakal ya ternyata."
"Hehe... yaudah berangkat yuk, pulangin aku sebelum disusul Mama lho."
"Iya sayang. Pake jaket Mas ya, nggak basah kok biar kamu nggak kedinginan. Ntar malah sakit lagi."
"Iya Mas makasih."
Ku pakai jaket yang Mas Arlan bawa dan diberikan padaku. Jantan sekali dirinya. Membuatku berdecak semakin kagum padanya.
Perlahan mobil milik Mas Arlan yang kami tumpangi melaju. Meninggalkan rumah orang tuaku. Untuk mengantarkan aku pulang, kemudian Mas Arlan juga
Bersambung...
__ADS_1
Budayakan tradisi like+komen yaaaa....
Next episode sore ini.... Semoga aja yaa