
****
"Loe korban bullying, ya?" tanya Mita tanpa rem sama sekali. Hal itu membuat Fanni, juga Jelita mendadak terkejut.
Bahkan, Fanni sampai berdiri dan menghampiri wanita cantik itu. "Yang sopan, Mita!" tegasnya.
"S-sorry, Dek. Gue orangnya suka blak-blakan judes lagi. Cuma pengen tahu dan nebak-nebak aja sih."
Jelita mengangguk pelan. "Enggak apa-apa, Kak," jawabnya.
"Jadi?" Tidak kapok dengan penegasan dari Fanni, Mita masih saja berusaha mengorek kehidupan gadis SMA yang sudah dua jam berada di dalam salon mereka.
Jelita menatap Mita penuh keraguan. Jika ia menceritakan yang sebenarnya, akankah ditertawakan? Itulah salah satu kekhawatiran di dalam hatinya. Tidak percaya diri, takut serta rasa malu yang sudah akut, membuatnya selalu sulit dalam membuat keputusan. Semua yang terjadi pada dirinya selama hidup adalah sebuah kesialan yang seolah tidak ada ujungnya.
Fanni kembali memberikan isyarat kepada Mita agar tidak lagi lancang bertanya. Sedangkan, wanita berparas cantik itu justru memiliki pemikiran yang berbeda. Ia harus tahu dan bahkan jika bisa, ia akan membantu. Anggap saja untuk menebus kebengisannya di masa lalu.
"Bilang aja, enggak apa-apa. Gue bisa bantu hajar pelakunya," ujar Mita lagi. Membuat Fanni benar-benar sudah lepas tangan dalam mengingatkannya.
"S-saya baik-baik aja kok, Kak," jawab Jelita berbohong.
Mita menghela napas dalam, lalu kembali ia hembuskan. "Gini nih, kalau cuma diem aja. Mana bisa loe melawan, Dek. Selama loe diem aja, orang-orang itu bakalan lebih sombong lagi. Gue tahu dan hapal banget, pan gue juga mantan anak nakal."
"Janganlah, Mit. Kita juga baru kenal beberapa jam, jangan terlalu memaksa," tukas Fanni.
"Setiap orang yang udah masuk ke dalam salon ini, wajib kita bantu. Walaupun bukan soal kecantikan. Dan gue harap, kejadian hidup loe enggak ada terjadi lagi, Fann. Ketika gue bisa bantu dia, anggap aja gue nebus dosa yang telah gue buat ke loe di masa lalu."
Tatapan Mita dan Fanni beradu. Saling melemparkan ketidaksetujuan dari masing-masing pemikiran. Mita memiliki karakter yang berbanding terbalik dengan Fanni. Namun saat ini, ia benar-benar hanya ingin membantu, tidak lebih dari itu. Luka memar yang Jelita derita, terlihat di beberapa titik bagian tubuh, bahkan bertambah jumlahnya setelah diteliti lebih serius lagi. Dan hal itu yang membuat Mita bersikukuh dengan niat hatinya.
Sedangkan Fanni yang selalu menjunjung tinggi norma kesopanan, merasa tidak setuju. Ia pun pernah merasakan apa yang diderita oleh Jelita, meski hanya bully secara verbal saja. Korban tentunya membutuhkan dukungan moral dengan cara pendekatan yang sangat hati-hati. Namun, tidak dengan Mita yang tampak tidak sabaran.
Sementara itu, Jelita menatap dua orang dewasa di hadapannya dengan bingung. Rasa bersalahnya mendadak muncul, ia merasa kehadirannya justru membuat Mita dan Fanni bertengkar. Jika kaki tidak terlalu sakit, maka ia akan pergi. Namun saat ini, ia memerlukan waktu beberapa jam lagi supaya energinya benar-benar terkumpul. Dan lagi, ia tidak tahu harus ke mana saat ini, tidak mungkin ke sekolah karena sudah telat parah. Tidak mungkin juga pulang ke rumah, pasti kemarahan dari ibu tirinya ia dapatkan.
Jelita menghela napas dalam, ia berusaha mengumpulkan sejumlah keberanian untuk berbicara dengan Fanni ataupun Mita. "Kak, Tante ...?" Suaranya lirih sekali.
Kenapa panggil gue-nya tante, ya? Emang gue setua apa? Batin Fanni. Sejujurnya, ia merasa malu, terlebih kepada Mita. Namun, ketika ia meneliti seluruh tubuh Mita, ia menemukan bahwa partner kerjanya itu memang awet muda. Mungkin faktor badan kecil juga, seperti ABG dengan style yang luar biasa keren. Mendadak hatinya berdesir, karena rasa minder yang datang menerpa.
"Kenapa? Cerita aja, gue baik kok sekarang orangnya," balas Mita. Ia duduk di samping Jelita, siap dengan telinga yang hendak mendengar segala cerita dari gadis SMA berbadan besar itu.
"Emangnya Kak Mita, dulu orangnya seperti apa?" Melihat ketulusan yang terpancar dari wajah Mita, Jelita merasa lebih tenang dalam berucap. Ia merasa heran, lantaran sejak tadi wanita cantik bak selebritis di hadapannya itu mengatakan tentang dosa dan masa lalu.
"Bisa dibilang gue seorang pembully dan korbannya si Nona Fanni."
Jelita tertegun, bahkan rahangnya menganga karena tidak percaya. Bagaimana mungkin pelaku dan korban bisa berteman? Ia menatap Mita dan Fanni secara bergantian. "K-kok bisa seperti sekarang?"
"Mita habis diruqyah, Dek," timpal Fanni dengan senyum lebar.
Mita menatapnya dengan tajam. "Emang loe pikir gue kesurupan?"
"Emang ruqyah buat yang kesurupan aja?"
"Kagak tahu."
"Kalau kagak tahu ya jangan ngomong."
"Hak gue, Nona Fanni."
"Gue juga punya hak, Nona Mita."
__ADS_1
"Loe makin berani, ya?"
"Karna gue Fanni istrinya Arlan, bukan Fanni yang jomblo akut kayak dulu."
"Hmm ... ya, ya, ya."
Jelita justru tertawa mendengar adu argumen dua wanita dewasa itu, pun meski belum mendapatkan jawaban mengenai hubungan mereka berdua. Kini, ia malah merasa bersyukur karena bertemu dengan Fanni dan Mita. Kesepian yang ia alami bak diganti dengan kehadiran keduanya, pun meski perbedaan usia yang jauh sekali.
Kemudian, Mita beralih kembali kepada Jelita. Rasa penasarannya masih sangat tinggi perihal kehidupan Jelita. Ia harus tahu, bahkan akan membantu. Meski sebenarnya, ia tidak tahu datangnya rasa antusias itu.
Mita menatap Fanni terlebih dahulu. "Cek anak loe, Fann. Takut bangun," ujarnya kepada ibu beranak dua itu.
"Iya, juga ya. Apa gue pasang alarm aja, ya?" Pemikiran itu tiba-tiba muncul dari otak Fanni.
"Jangan aneh-aneh, kalau berbahaya mah enggak usah. Yang penting loe sigap, gue bantu kok."
"Macam alarm motor itu lho."
"Ya, apa pun itu selagi enggak bahaya mah silahkan."
"Gue omongin deh nanti sama si babang manis gue."
"Ih." Mita merasa geli mendengar sebutan Fanni untuk suaminya itu. Sedangkan Fanni hanya tertawa sembari mengayunkan kaki untuk naik ke lantai dua demi menemui sang putri bulenya.
Hari ini, pelanggan juga belum ada yang datang. Masih sangat sepi, mungkin efek hari kerja juga. Kadang membuat hati Mita, juga Fanni merasa kesal. Namun mau bagaimana lagi? Itulah proses yang perlu mereka jalani demi mencapai kesuksesan.
Selepas Fanni pergi ke lantai atas, Mita kembali teringat tentang cerita tentang Jelita. Ia kembali menatap wajah gadis SMA itu. Wajah Jelita yang putih halus bak seorang bayi, sebenarnya membuatnya merasa kagum. Hanya saja, ia kurang bisa menjaga berat badannya, bahkan melebihi Fanni.
"Loe udah berapa lama dibully, Lit? Dan loe ini kelas berapa?" tanya Mita memulai interogasinya.
Sejenak Jelita terdiam, rasa malu masih tetap ada. Namun, ia merasa Mita bisa menjadi pelipur laranya. "Saya duduk di kelas dua SMA. Ya, sejak kelas satu," jawabnya dengan kepala menunduk.
"Emm ... itu enggak mungkin, Kak. Sekolah saya sangat elit dan itu pilihan orang tua saya."
"Orang tua loe kagak tahukah?"
"Mereka tetap bungkam. Terlebih, saya ini anak tiri dari istri ayahku, bahkan sejak kecil. Ibu saya itu punya anak perempuan juga. Baru-baru ini saya menyadari kalau penerapan tentang memberi makan banyak itu emang suatu kesengajaan. Bahkan ibu tiri saya itu, sering kasih saya obat penggemuk."
"What?!" Betapa terkesiapnya Mita, cerita gila itu ia dengarkan ibarat sebuah drama. Namun kenyataannya ada dan terjadi kepada orang yang kini berada di hadapannya.
Sementara itu, Fanni yang juga sudah menuruni tangga, tinggal dua buah lagi merasa sangat terkejut. Kok ada orang kayak gitu? Batinnya. Ia kembali karena Sella masih lelap dalam tidurnya. Lalu, ia melangkah lebih cepat untuk menghampiri kedua orang yang duduk di sebuah sofa panjang.
"Kamu serius, Dek?" tanya Fanni demi memastikan hal itu lagi.
Jelita mengangguk pelan. "Iya, Tante. Seharusnya saya enggak boleh buka aib keluarga, ya? Maaf, sepertinya harus dilupakan," jawab gadis SMA itu.
"Enggaklah. Terus loe masih minum obat itu?" sela Mita kemudian.
Jelita menggeleng. "Setelah duduk di SMA, saya baru tahu jenis obat itu. Jadi berhenti, dulu kata ibu saya obat itu adalah sejenis vitamin."
"Dia kayak gitu karna takut loe jadi pesaing anak dia. Terus anak dia itu satu bapak ama loe, Lit?"
Jelita menggeleng. "Enggak, Kak. Beda ayah."
"Keluarga loe kaya ya, Lit? Nyampe loe bisa sekolah di SMA elite? SMA swasta tapi fasilitasnya luar biasa yang satu komplek sama mall itu, kan?"
"Iya, Kak Mita. Satu pemilik juga."
__ADS_1
Mita menghela napas dalam, kemudian kembali ia hembuskan. Ulahnya kepada Fanni di masa lalu saja, sudah dinilai sangat buruk, terlebih dari ibu tiri Jelita itu. Ia yang sudah berniat membantu, kini menjadi bingung. Tidak mungkin ia tiba-tiba ikut campur masalah keluarga orang, apa lagi orang kaya. Kali ini, ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dengan penuh keibuan, Fanni mendekati Jelita. Ia duduk di samping gadis itu. Rasa iba menggelayut di dalam hatinya. Ingin sekali ia memeluk Jelita, tetapi tidak mungkin karena takut jika justru membuat gadis itu terganggu.
Fanni hanya membelai halus pundak Jelita, sembari berkata, "Yang sabar ya, Dek. Tante juga korban bully, meski enggak separah kamu, tapi Tante yakin suatu saat bakalan ketemu jalan yang indah. Buktinya, Tante dan Mita bisa berteman, bahkan membuka usaha bersama."
Jelita mengangguk pelan. "Iya, Tante. Tapi kadang aku juga capek," jawab gadis itu.
"Soal bully itu di mana? Rumah atau sekolah?" tanya Mita.
"Sekolah, Kak. Isinya kan orang-orang cantik, tampan, pinter. Dan aku enggak punya semua, aku hanya seorang anak dari pengusaha kaya."
"Gue tahu. Gue bakalan bantu loe, tapi loe tiap harus ke sini."
"Tapi, saya enggak mau melibatkan orang lain."
"Tenang, gue enggak kalah kaya sama keluarga loe. Apa lagi suami gue seorang polisi."
"J-jangan libatin polisi, Kak."
Mita menggenggam tangan Jelita. "Loe mau berubah enggak?"
Jelita terdiam. Bingung atas pertanyaan dari wanita cantik itu. Ia memang sangat ingin berubah, hanya saja tidak tahu caranya.
Sedangkan, Mita menarik tangannya kemudian. Ia berpikir keras. Meski sudah memberikan penawaran perihal bantuan, sebenarnya ia tidak tahu cara apa yang akan dipakai. Belum lagi, ia sudah lepas dari keluarga besarnya yang lumayan kaya. Hidupnya hanya bergantung kepada suami polisinya dan juga salon ini.
Sebenarnya, bukan hanya Mita saja, juga Fanni yang turut prihatin akan nasib Jelita. Seandainya ikut membantu pun, ia tidak tahu dengan cara apa. Belum lagi soal Arlan, yang mungkin tidak akan setuju lantaran sama saja ikut campur masalah orang. Mungkin jika konteksnya pembulliyan, Arlan bisa mengiyakan. Lantas, jika soal ibu, apa mungkin suaminya itu memberikan izin? Sepertinya mustahil.
"Loe pengen kurus enggak?" celetuk Mita tiba-tiba.
"P-pengen, Kak. T-tapi pasti mustahil sekali ...," jawab Jelita melemah.
"Iya, itu mustahil bagi seorang Fanni karna dia gampang nyerah dan males. Tapi, kalau loe nurutin gue punya tekad besar, enggak ada kata mustahil."
Fanni mengecap bibirnya. "Kenapa bawa-bawa gue sih, Mit? Asal loe tahu gue ini wakil dari emak-emak gendut tapi syantik di dunia ini."
"Yee ... kagak ada begitu. Namanya enggak ada niat sama sekali."
Jelita kembali bertanya, "Tapi kan saya lebih besar dari Tante Fanni. Dan pasti enggak ada waktunya, Kak. Nanti saya dicariin orang rumah."
"Hei, Lit! Nyampe kapan loe lembek? Lawan selama loe benar. Jangan takut, emak tiri loe sekuat apa sih? Enggak mungkin bisa salto, kan? Inget, saat ini bahu loe besar, sekali loe serang pasti jatuh."
Fanni mendesis. "Jangan ajarin anak orang kurang ajar, Mit. Gue juga emak tiri ini, namanya emak mau tiri mau kandung, ya tetep emak. Nanti jatohnya durhaka."
"Makanya dari dulu loe dibully mulu', Fann. Kalau udah keterlaluan ya enggak apa-apa dilawan. Kecuali loe yang salah. Makanya gue dulu enggak suka sama loe, lembek banget."
"Halah! Sekarang juga sayang loe sama gue."
"Gue sayang sama suami gue."
"Percaya yang udah punya suamik!"
Perdebatan kecil seperti itu, sebenarnya kerap terjadi di antara Fanni dan Mita. Ya, karena tipikal mereka yang berbeda, pun meski memiliki satu visi dan misi. Namun sejauh ini, tidak pernah ada lagi perselisihan berat. Fanni sudah cukup mengerti akan sikap Mita yang terkesan terbuka, bahkan ceplas-ceplos. Meski terkadang kerap merasa kesal, tetapi ia tidak ambil hati.
Pun seorang Mita dengan segala macam sifat-sifatnya yang unik itu. Ia hanya ingin menunjukkan suatu kekuatan yang wajib dimiliki setiap orang, terutama wanita. Tidak peduli kata orang, kali ini ia berprinsip kuat dan akan melawan demi kebenaran.
"Gue bakal bantu loe diet. Loe percaya aja sama gue, tapi kalau pertama emang agak sulit. Apa loe siap sama pelatihan gue? Seenggaknya, loe sisihin waktu dua kali dalam seminggu. Bilang aja ke ortu loe, lagi ada pelajaran tambahan. Gue kagak bisa bantu loe perihal ibu tiri loe. Tapi, ketika loe udah berubah, loe bisa melawan dengan sendirinya," jelas Mita kepada Jelita.
__ADS_1
Jelita begitu sungguh-sungguh dalam mendengarkan ucapan wanita cantik itu, pun meski ia belum tahu bisa tidaknya dalam mencari waktu. Di sisi lain, ia ingin sekali berubah, terlebih ada seseorang yang sukarela membantunya. Malam nanti, ia akan memikirkan semuanya dengan matang dan mantap.
****