
Pada akhirnya, Arlan tetap di rumah sakit hingga sore. Ia membatalkan semua meeting karena tidak ingin jika Nur Imran sampai kalap dan berbuat yang tidak-tidak di area rumah sakit. Terserah jika di rumah, itu sudah menjadi urusan mereka sendiri.
Kini, ia sudah sampai di rumah. Sudah memarkir mobilnya dengan tenang di pojok kanan pekarangan rumahnya. Setelah itu, ia masuk karena hari sudah gelap.
"Mas?" Fanni memanggilnya dari ambang pintu yang baru ia buka. "Kok pulangnya malem?" tanyanya sembari meminta tas dan blaser suaminya.
"Ada gosip hangat, Dek. Nanti, Mas ceritain."
Dahi Fanni mengernyit. Sejak kapan suaminya gemar bergosip? Rasa penasaran pun mencuat dari dalam dirinya, tetapi ia harus lebih bersabar terlebih dahulu. "Kamu udah salat maghrib?"
"Udah, Sayang. Tadi mampir masjid. Mas mandi dulu, ya? Gerah."
"Iya, Mas. Cepet ya, aku penasaran sama gosip itu.
"Hmm ... dasar mamak-mamak mah, instingnya bangkit kalau udah denger kata gosip."
Fanni mengulas senyum di bibirnya. "Udah penyakit hehe."
"Jangan dibiasain."
"Kamu, kan, yang tadinya bilang."
"Oh iya, yah. Ya udah lupain, enggak jadi."
"Enggak mau! Aku udah penasaran tingkat tinggi!"
Arlan menggelengkan kepalanya. Merasa konyol atas sikap istrinya. Setelah itu, ia berjalan menuju kamar mandi di lantai dua. Sedangkan Fanni ke kamar mereka.
Fanni menatap kedua putrinya yang sedang bermain bersama di samping ranjang miliknya. Ia melangkah masuk lebih dalam lagi ke kamar itu. Senyuman terlukis indah dan bahagia, karena wajah anak-anaknya pun tampak ceria. Kemudian, ia duduk di tepian ranjang dan bergabung bersama keduanya.
"Papa mana, Ma?" tanya sang kakak karena ia tidak melihat ayahnya yang kata ibundanya telah pulang.
"Ya Allah, Kak! Mama lupa, kan, mau ambil salin papa. Bentar ya, Kakak jagai adiknya dulu." Fanni bergegas untuk mengambil beberapa helai pakaian yang akan dikenakan oleh Arlan.
Setelah di dapatkan, ia kembali keluar. Karena ada Selli yang menjaga Sella, ia bisa lebih tenang dan memilih menempatkan mereka di bawah agar sang bayi tidak jatuh. Dijamin kebersihannya. Beruntungnya, Selli juga sangat menyayangi sang adik. Meskipun sama-sama anak perempuan, tidak ada rasa cemburu di hatinya sedikit pun. Anak itu memang sudah diajarkan lebih dewasa sejak balita.
Fanni yang sudah sampai di hadapan pintu kamar mandi, kini mencoba mengetuh pintu tersebut. Suara guyuran air membuat Arlan tidak mendengar. Namun kemudian, ia mendengarnya.
"Kenapa, Sayang? Mau ikut?" tanyanya dari dalam.
Fanni memberikan cibiran. "GR banget! Mau anter salin, di dalem ada anak-anak," jawabnya.
"Iya, bentar." Setelah itu, Arlan membuka daun pintu kamar mandi. Kepalanya melongok dan terlihat oleh Fanni.
Namun jika tidak usil, bukan Arlan tentunya. Ia tidak menerima salin itu, melainkan menarik tangan Fanni agar masuk ke dalam. Fanni yang tersentak tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menuruti. Meski sudah sangat hapal dengan sikap Arlan yang selalu usil, tetap saja ia tidak bisa memprediksi kapan akan sang suami lakukan.
"Mas, anak-anak ada di kamar."
"Kan, di sini bukan di kamar."
"Enggak ada yang jaga."
"Si kakak udah jago kok."
"Tapi ...."
__ADS_1
Yeah, dan apa yang terjadi di dalam sana, hanya mereka yang tahu. Mungkin, setelah ini akan hadir sebuah anugerah yang luar biasa.
Beberapa saat berlalu, mandi sudah, makan malam pun sudah. Sepasang suami istri itu kini sedang menyaksikan anak-anak mereka yang masih asyik bermain. Melukiskan keharmonisan yang indah. Tidak jarang, Arlan memberikan kecupan manis di pipi Fanni. Serta mengabadikan momen tingkah laku Selli dan Sella menggunakan kamera ponsel.
Indah sekali, bukan? Karena mereka saling percaya, selalu bersyukur dengan kehidupan yang sedang dijalani. Jika sudah seperti itu, rezeki akan mengucur, pekerjaan akan semakin lancar dan berkembang. Meski tidak menutup kemungkinan jika masalah akan kembali datang, asal ada iman dan selalu mengutamakan Tuhan, rasanya masalah akan terhempas dengan sendirinya. Tentunya diiringi usaha dengan sabar.
"Jadi, tadi maksud kamu, gosip apaan, Mas?" tanya Fanni ketika teringat tentang ucapan sang suami beberapa saat yang lalu.
"Hmm ... emak-emak mah inget mulu' yuk kalau sama gosip," ujarnya.
"Ih! Jangan panggil aku emak-emak!"
"Kenyataan, Dek. Kenapa harus menolak."
"Aku mau terlihat muda di depan kamu, Mas."
Arlan justru memberi cibiran. Hal itu membuat Fanni kesal dan reflek memberi cubitan. Bagaimana tidak, ia mengupayakan agar sikapnya bisa sangat manis di hadapan Arlan dan suaminya malah memberikan ejekan yang justru membuatnya jatuh malu.
Sama seperti gaya orang-orang yang bergosip, mereka saling mendekat dan berbisik-bisik. Ada apa dengan sepasang suami istri ini sebenarnya?
"Gini nih, Dek. Tadi tuh, kan, Mas mau istirahat makan siang. Habis dari meeting, kan, nah ada telepon dari Pak Nur," jelas Arlan memulai pergunjingan itu.
Fanni begitu antusias. "Terus, terus? Pak Nur mau apa?" tanyanya menimpali.
"Adiknya si Lita, itu kecelakaan gara-garanya ibunya sendiri."
"Hah?! Masa'? Kok bisa? Parah enggak? Terus hubungannya sama kamu itu apa? Kenapa kamu dipanggil? Kamu terlibat?" Saking terkesiapnya, Fanni sampai tidak menjeda kalimatnya sama sekali.
"Sabar, satu persatu. Tarik napas dulu."
Arlan berdeham, memperbaiki pita suaranya yang terganggu serak. Dengan gaya yang gagah seperti hendak presentasi bisnis, ia hendak melanjutkan penjelasannya. Sayangnya, jatuhnya gosip bukan sebuah presentasi.
Arlan mendekatkan wajahnya dengan wajah Fanni. Meski hanya ada anak-anaknya, ia tetap menggunakan suara yang sangat pelan. "Mas juga enggak tahu sih, sebenernya masalahnya apa nyampe si Jane-Jane itu jatuh kedorong. Tapi, pas baru dateng, Pak Nur nampar pipi si nenek lampir."
"Ih, nenek lampir. Dari mana kamu tahu sebutan itu?"
"Dari chat kamu sama si Lita."
"Owalah, pantes. Terus, terus gimana lagi? Kamu itu fungsinya buat apa di sana, Mas? Emangnya kamu itu siapa?"
"Ya, Mas juga enggak tahu. Orang tiba-tiba ditelepon, suara Pak Nur kedengarannya ketakutan. Mas suruh ke rumah sakit dan jagain anaknya yang nyampe sekarang Mas enggak tahu mukanya itu kayak gimana."
Fanni mencoba mengingat-ingat kejadian siang tadi. Di saat, Jelita tiba-tiba datang dengan langkah tergopoh-gopoh dan raut wajah yang masam. "Aku inget, Mas. Tadi, si Lita emang ke tempat aku. Aku bingung, kan, kok baru jam setengah dua belas, dia udah pulang."
"Emm ...."
"Katanya, ada rapat komite para guru sekota. Jadi, anak-anak dipulangin lebih awal."
"Tapi, kayaknya si Jane tadi katanya habis dari les piano deh."
"Ya mungkin, dia mampir ke les sebelum pulang. Bisa, kan?"
"Iya, sih, Dek. Udah ah, kamu jangan terlibat lagi. Si nyonya itu kayaknya kedoknya juga udah kebuka."
"Aku mah enggak pernah terlibat apa pun, Mas. Justru Mita yang terlibat, nyampe dilabrak ke salon malah."
__ADS_1
Arlan mengangkat satu alisnya. Mengapa ia baru diberitahu sekarang? Spontan, ia memastikan bahwa tubuh sang istri baik-baik saja. Jangan sampai ada yang lecet atau kurang, meski secuil lemak pun.
Sedangkan, Fanni yang diperlakukan seperti itu, justru merasa sangat risih. Ia menepuk pundak Arlan dan memberikan sedikit dorongan agar pria itu menjauh. "Ngapain sih kamu?!" tanyanya tegas.
"Mastiian kalau kamu baik-baik aja, enggak boleh ada yang kurang. Lemaknya juga enggak boleh kurang," jawab Arlan diiringi tawa lebar.
Fanni mendengkus kesal. "Kamu ngejek aku, ya?"
"Enggak, Dek. Mas itu justru sayang banget sama kamu. Enggak mau kamu nyampe lecet sedikit pun."
"Ya, enggak usah bawa-bawa lemak juga kali! Itu jatuhnya bully. Kamu mau aku laporin ke komnas perempuan?"
"Bully gimana? Mau lapor atas tuntutan apa? Itu justru salah satu bentuk rasa sayang Mas sama kamu. Secuil lemak aja enggak boleh hilang, apalagi seluruh diri kamu, Sayang."
"Ck, ada-ada aja ngelesnya."
Perbincangan dan candaan mereka berhenti, karena Sella sudah menangis. Mungkin, balita itu sedang mengantuk. Fanni segera bangkit dan memberikan kewajibannya kepada sang putri. Juga Selli yang dihalau oleh Arlan agar cepat tidur. Gadis kecil itu, meminta agar ayahnya menemaninya. Bukan Arlan kalau tidak bisa menjadi ayah yang baik, ia mengabulkan permintaan Selli. Ia tidak ingin melewatkan momen-momen seperti ini. Sang putri akan beranjak dewasa, pasti ada masa ia tidak lagi bisa menemani tidur putrinya.
****
Berbeda dengan kediaman Arlan yang damai, kediaman mewah milik pengusaha besar nomor dua sedang dirundung masalah hebat. Terjadi pertengkaran hebat antara Nur Imran dan istrinya. Sedangkan, Jane masih dirawat di rumah sakit, dan dijaga oleh sang kakak--Jelita. Sehabis dari rumah sakit, serta telah memastikan keadaan Jane baik-baik saja, Nur Imran langsung menyeret kasar sang istri.
Nur Imran yang sudah naik pitam, kini mengeluarkan semua barang-barang milik Riris. Tidak sedikit dari barang itu yang rusak dan pecah. Baju-baju mahal nan mewah sudah seperti sampah. Tidak ada lagi pengampunan untuk hari ini. Ia tidak bisa memberikan maaf sedikit pun kepada Riris. Tidak peduli lagi dengan citra dirinya yang selalu baik. Anaknya yang sudah terluka akibat ibunya sendiri, semakin membuatnya marah besar.
Riris meminta ampun, menyembah-nyembah dan menciumi kaki Nur Imran. Sayangnya, justru tendangan maut dari kaki suaminya itu ia dapatkan, sampai membuat beberapa kali jatuh terjungkal.
"Ampun, Mas. Ampuni aku, Mas." Tangisan terdengar sangat memilukan. Membuat para pelayan rumah itu bergidik serta ketakutan.
"Kamu itu wanita gila! Sudah diberi banyak uang dan harta, masih saja tidak puas. Apa? Laki-laki? Dasar serakah! Seharusnya, jika akan memiliki kesalahan, langsung katakan! Tidak sembarangan tidur dengan orang! Dasar perempuan tidak tahu diri!" Nur Imran sudah kalap, bahkan umpatan-umpatan kasar keluar begitu saja dari mulutnya.
"Mas maafin aku, Mas. Kamu seharusnya kasih aku kesempatan. Aku yang merawat anak kamu, aku, Mas!"
"Kamu masih tidak tahu malu begitu, ya? Kamu rawat anak saya dengan apa? Dengan dendam dan benci, begitu? Pil yang kamu kasih pada anak saya itu, pil apa? Vitamin? Ada yang tidak beres dengan otak kamu, Riris. Kamu gila! Pergi dari rumahku sekarang! Jangan pernah muncul di hadapan anak-anakku sedikit pun! Saya memberi talak tiga untukmu."
Riris mencoba bangkit. Ia tidak akan membiarkan semua yang ia dapat dengan susah payah, lenyap begitu saja. Ia harus membalikkan keadaan dan membuat Nur Imran merasa bersalah. "Kamu salahin aku, Mas? Kamu enggak ingat gimana sikap kamu sama anak kamu sendiri?! Gimana sikap kamu kepadaku yang selalu dingin itu?!"
Nur Imran tidak habis pikir dengan sikap Riris yang terus mencari pembelaan diri. Ia memang bersalah dan ia sudah meminta maaf. Namun, semua sikapnya itu juga hasil pengaruh dari Riris. Ia ingat bagaimana sikap istrinya yang baru ia jatuhi talak, wanita itu terus menjejalkan sikap-sikap buruk Jelita kepadanya.
Plak! Satu pukulan keras di pipi Riris. Nur Imran sudah tidak bisa menahan segala emosinya lagi. Perlakuan Riris terhadap anaknya, juga perselingkuhan yang hina itu. Sudah begitu, sang nyonya masih saja mencari pembelaan sejak tadi.
"Saya sudah bilang sama kamu, kalau saya ada salah langsung ungkapkan. Dan itu saya ingatkan sejak dulu, Riris! Tapi, kenyataannya kamu memang gila, hawa nafsumu sudah melebihi batas kewajaran milik manusia. Saya sangat cinta padamu, berharap bahwa kabar tentangmu hanya isapan jempol semata. Tapi, kenyataan berbanding terbalik dengan harapan saya. Pergilah, beri kesempatan agar saya bisa melupakan kamu." Ada setitik air mata yang mengalir dari mata ke pipi. Jika pria sampai seperti ini, sudah pasti perasaannya hancur berkeping-keping.
Dengan perasaan sakit yang luar biasa itu, Nur Imran mengatakan semuanya, tidak terkecuali pengusiran kepada sang mantan istri yang baru saja ia beri talak tiga. Harapannya sudah pupus, harapan tentang kabar burung yang menimpa wanita yang masih amat dicintainya itu. Pada kenyataannya semua terjadi dan sudah benar-benar fakta.
Riris kembali menangis, ia menyesali semua perbuatannya sekarang. Terlebih, ketika mendengar pengakuan cinta dari Nur Imran. Mengapa ia begitu bodoh dan serakah? Namun, sesal hanya tinggal sesal. Kesalahannya sudah sangat besar, ia sudah benar-benar sudah jatuh dalam kehancuran. Kehilangan suami, bisnis dan juga anak.
"Jangan pernah mengharap hak asuh atas Jane, dia putri saya. Meski bukan darah daging saya, saya amat mencintainya. Bahkan, melebihi Jelita," ujar Nur Imran sembari melemparkan setumpuk uang lima ratus juta--cash, sebelum akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan Riris yang saat ini sudah terdiam.
Nur Imran kembali berhenti, lalu berkata, "bawa itu dulu. Hubungi sopir saya, saya akan kirimkan semua barang kamu ke alamat kamu yang baru. Riris, terima kasih atas segalanya."
Dengan derai air mata, Riris meraih koper besar yang sempat dilempar oleh Nur Imran untuknya. Ia mengemasi pakaiannya dengan asal dan juga uang itu, barang-barang branded miliknya akan dikirimkan nanti ketika ia sudah benar-benar dan mendapatkan tempat tinggal baru. Setelah itu, dengan langkah gontai tidak bersemangat, Riris mengambil langkah pergi. Gunjingan dari para palayan, juga pegawai-pegawai pria terdengar samar di telinganya. Harga dirinya jatuh, hidupnya hancur. Entah setelah ini, apa yang akan terjadi kepada dirinya.
****
Gimana guys? (・∀・)
__ADS_1