
Hari berikutnya, aku masih beraktivitas seperti biasa. Bekerja dan bekerja. Menemani Celvin, ikut serta dalam meeting dan lain sebagainya. Suasana kantor sudah stabil, tidak ada lagi yang mencemooh diriku. Mita juga hanya diam, tidak membuatku kesal lagi.
Aku bersyukur, setidaknya satu masalah terselesaikan. Walau aku tau masalah Ibuku dan keluarga dari Mas Arlan belum terselesaikan.
"Fanni!" seru Nike saat aku hendak turun menuju kantin perusahaan.
"Hai Nike," ujarku.
"Mau makan?"
"Iya Ke. Loe sendiri?"
"Nggak ada jadwal sama si Boskah?"
"Lagi nggak ada Ke, Tomi mana?"
"Tomi lagi berbaur sama temen cowok."
"Duhh... terharu nih gue jadinya."
"Hihi... Alhamdulillah Fann, dia mau berubah. Nggak centil lagi."
"Haha... iya Ke, mungkin udah mau menikah kali. Makanya mau belajar jadi cowok seutuhnya."
"Hehe... yaudah yuk, gibah mulu. Dosa tau."
"Iya iya Mamah."
"Dasar Fanni."
"Mau makan diluar?"
"Boleh, yuk!"
Haluan kami berubah. Yang tadinya hendak ke kantin perusahaan kini menuju parkiran. Mencari keberadaan mobilku. Untung saja, hari ini Mas Arlan tidak mengantarkanku bekerja. Sehingga aku bisa membawa si merah kesayanganku.
Aku dan Nike naik kedalam mobilku. Lalu kupacu perlahan meninggalkan area parkir beserta gedung kantornya untuk sementara waktu. Kami hendak bersantap disalah satu restoran populer dekat sini.
Rasanya sudah lama sekali, aku tidak bersama Nike. Rindu juga. Aku sempat bertanya-tanya. Kalau Tomi bersama orang lain, lalu selama ini Nike makan siang bersama siapa?
"Fann, kita ke rumah makan Jawa aja yuk," ajak Nike padaku.
"Boleh Ke," jawabku.
Lalu aku arahkan mobilku ketempat yang Nike maksud. Ia bersenandung pelan, menyanyikan sebuah lagu islam. Suaranya cukup merdu. Sepertinya Nike memang gemar bersenandung ataupun bersholawat.
Ini yang membuatku sedikit malu padanya. Berteman dengan wanita sholehah. Sedangkan aku sama sekali belum berubah. Kikuk juga. Yah, semoga saja secepatnya aku bisa sepertinya. Namun, untuk memakai busana muslimah aku belum siap.
Kata orang sih, tidak perlu kesiapan karena itu kewajiban. Entahlah, tapi aku benar-benar belum bisa.
Tak lama kemudian, mobil milikku yang kami tumpangi telah sampai pada tempat yang dituju. Aku dan juga Nike bergegas untuk turun kemudian masuk kedalam restoran.
Kami memesan hidangan sesuai selera. Kemudian mencari bangku yang nyaman untuk duduk dan juga bersantap. Sembari menunggu pesanan datang.
"Loe kalau istirahat sekarang sama siapa Ke?" tanyaku untuk memastikan.
"Sama temen yang lain, Fann," jawabnya.
"Udah nggak canggung ya?"
"Hehe... awalnya masih Fann. Kadang juga nanyain kamu, tapi aku diem aja."
"Nanyain gue?"
"Iya Fanni, mungkin kepo soal hubungan kamu sama Pak Celvin kali."
"Sekarang masih?"
"Udah nggak, tenang aja. Aku udah jelasin kok ke mereka, kalau kamu cuman ditunjuk berdasarkan prestasi. Terus ada juga yang nanya, kamu suka nggak sama Pak Celvin."
"Wow... terus gimana?"
"Ya aku jawab nggaklah Fann, nanti malah pada gibahin kamu lagi pasti. Aku ngomong aja, kamu udah punya calon suami sendiri."
"Hahaha... sekepo itu ya mereka-mereka. Amin, semoga jodoh."
"Ya kan? Hihi."
Perbincangan kami terhenti, pada saat salah seorang pelayan datang mengantarkan makanan yang kami pesan. Karena perut sudah lapar sekali, aku maupun Nike langsung tancap gas. Menyantap hidangan dengan segera.
Tempat ini mengingatkanku pada Mas Arlan. Kami sempat berkunjung disini. Aku juga ingat Mas Arlan sangat menyukai hidangan Jawa seperti ini. Ada sedikit rencana dalam benakku untuk belajar memasak.
Siapa tau bisa. Jadi aku tidak perlu bingung, ketika kekasihku datang berkunjung ke Apartemenku. Karena telah tersedia menu makanan disana. Lagipula Ibuku masih saja marah padaku, beliau tidak pernah lagi mengantarkan sarapan untukku.
Rindu juga. Namun, apa boleh buat. Beliau memang belum bisa mencairkan rasa bencinya pada duda seperti Mas Arlan. Walau kami sudah jengah dan sebenarnya ingin cepat-cepat menikah.
__ADS_1
"Fanni, hubungan kamu sama Mas Arlan gimana sekarang?" tanya Nike tiba-tiba.
"Lancar Ke, tapi masih ada beberapa kendala," jawabku.
"Kendala apa Fann? Tau nggak sih kamu, dari awal dia itu udah suka sama kamu. Tiap berkunjung ke rumahku, dulu selalu nanyain kamu dan kamu."
"Restu Ke, masa' sih?"
"Iya sejak ulang tahun anak aku tahun lalu. Jadi, maaf kadang aku juga bocorin beberapa hal tentang kamu, termasuk ulang tahun kamu."
"Hmmm... gue udah paham tentang itu kok, Ke."
"By the way, kenapa tadi? Soal restu dari siapa?"
Aku meneguk air mineral yang terkemas dalam botol. Menghentikan santapanku sejenak. Sepertinya bukan hal buruk juga, jika aku menceritakan masalah itu pada sahabatku ini. Selama ini, aku melewati semua hanya berdua saja dengan Mas Arlan. Berat juga.
Sebelum itu, aku kembali meneguk air lagi untuk kedua kalinya. Lalu menengok jam pada ponselku yang berada dikantong. Waktu masih lumayan lama. Mungkin masih cukup. Apalagi, Nike sudah memasang wajah penuh harap supaya aku lekas menjawab.
"Dari Mamaku, Ke," jawabku.
"Tante Sarita? Terus Om Dirck gimana? Kak Pandhu juga?" tanya Nike bertubi-tubi sembari menyebut nama-nama dari anggota keluargaku.
Yah, Ibuku bernama Sarita dan Ayahku bernama Dirck. Mungkin belum aku katakan pada awalnya.
"Hanya Mamaku aja," jawabku.
"Kok bisa Fanni?"
"Nggak tau, kata beliau karna Mas Arlan itu duda. Sampai sekarang Mama masih menentang hubungan kami."
"Hmm... sedih ya pasti. Kamu yang sabar Fann."
"Gue bingung Ke, kenapa pas jodoh udah dekat malah dipersulit kayak gini. Apa gue bener-bener nggak boleh nikah ya?"
"Eeehhh... jangan ngomong gitu Fanni! Setiap orang punya pasangan masing-masing di dunia ini, dan mereka juga punya kesulitan tersendiri Fanni."
"Loe enak ngomong, kan udah punya suami dan anak."
"Yah, Fann. Aku dulu juga punya kesulitan tersendiri, apalagi aku orangnya ku-per banget. Beberapa kali dijodohin, tapi akunya selalu nggak cocok sampai menyerah. Akhirnya memutuskan ta'aruf sama Mas Roni melalui seorang kyai."
"Iya Ke, mungkin setiap orang mempunyai kesulitan masing-masing. Terus gue orangnya gampang banget down dan nyerah. Ke tapi apa loe tau soal latar belakang Mas Arlan?"
"Ehh..."
Nike tampak menghela napas diiringi gerakannya meneguk air mineral. Santapannya yang masih ada, dibiarkan begitu saja. Sekali lagi, Nike menatapku lebih tajam. Sepertinya ia ragu-ragu untuk berbicara.
"Gue udah tau kok, Ke," kataku selanjutnya.
"Ko-kok bisa? Dari siapa Fann? Mas Arlan udah bilang ya?" tanya wanita berhijab ini secara bertubi-tubi lagi.
"Jadi loe emang udah tau ya?"
"Ma-maaf Fann, Mas Arlan ingin aku dan Mas Roni diam dulu. Fann, kamu tau kan Mas Arlan pernah bercerai?"
"Iya gue tau kok, lalu?"
"Yah, aku denger katanya istrinya mata duitan. Maaf ya bukannya su'udzon sama orang lain. Tapi Mas Arlan nyembunyiin identitasnya, karena ingin cari wanita yang tulus suka dia apa adanya Fann. Kamu jangan marah ya?"
"Apalagi yang loe tau Ke? Dia termasuk keluarga mana?"
Nike menunduk untuk beberapa saat. Aku sendiri sangat berharap ia menceritakan apa yang diketahui secara detail. Aku juga punya hak untuk tau mengenai diri kekasihku. Tidak ingin terus berjalan tanpa tau apapun seperti orang bodoh saja.
Kalau menunggu Mas Arlan pasti akan lama untuk menceritakan kisahnya. Jika aku memaksa, aku takut kami bertengkar lagi.
"Ayolah Ke, lagian gue udah mulai tau kok," desakku pada sahabatku ini.
"Tapi aku belum izin sama Mas Arlan, Fanni," jawabnya.
"Gue yang bilang, dia nggak akan marah kok Ke. Please..."
"Hmm..."
Helaan napas Nike terdengar olehku. Ia menengok sekilas pada jam yang menghiasi lengan tangannya. Lalu menatapku lagi.
Sedangkan diriku semakin berharap. Berharap Nike memang mengetahui segalanya. Apalagi suaminya termasuk teman dekat dari Mas Arlan. Anak mereka pun sering bermain bersama.
"Oke Fann. Tapi yang aku denger aja ya?" ujar Nike.
"Iya Ke, apa aja," jawabku.
"Mas Arlan termasuk anggota keluarga dari pemilik perusahaan properti milik keluarga Harsono. Salah satu keluarga kaya di Indonesia. Emang masih jauh jika dibandingkan perusahaan tempat kita bekerja."
"Ohh... gue tau soal itu. Karna nggak sengaja, gue ketemu Riska yang menjalin kerja sama dengan Celvin."
"Kerja sama? Bukannya, mereka pesaing? Yang aku tau ada dendam tersendiri diantara perusahaan itu."
__ADS_1
"Dendam? Celvin dan Riska menjalin hubungan kerja secara diam-diam. Dan gara-gara gue minta jemput Mas Arlan di restoran itu, mereka ketahuan. Yang pasti Mas Arlan marah besar sama Riska maupun Celvin, Ke."
"Ya Allah! Suami aku pun nggak tau soal itu Fann. Dan siapa tadi? Riska ya? Nggak pernah dateng ke meeting kantor kita kan? Soalnya aku nggak pernah liat, CEO perempuan."
Aku mengangguk. Apa yang aku katakan berhasil membuat Nike terkesiap. Sepertinya ia memang tidak tau menahu tentang hal ini. Sama seperti Mas Arlan yang merupakan keluarga perusahaan besar itu.
Astaga! Pacarku adalah salah satu orang dari keluarga ternama di Indonesia. Aku tidak percaya ini. Semua bagaikan mimpi. Seolah aku sedang masuk kedalam sebuah drama televisi.
Namun saat kucubit lenganku, masih saja terasa sakit. Membuktikan bahwa ini semua adalah kenyataan. Lalu apa reaksi orang tuaku nanti, mengenai latar belakang dari Mas Arlan? Apa Ibuku bisa setuju atau semakin menentang kami? Yang aku ingat beliau tidak ingin aku direndahkan lagi oleh orang lain.
Kini aku paham, aku rasa Ibuku punya firasat tentang siapa Mas Arlan yang sebenarnya. Dan mungkin beliau tidak mau aku masuk kedalam kalangan orang kaya. Apalagi aku pernah terbully oleh anak-anak dari kalangan atas seperti mereka. Ya Tuhanku!
"Fann... Fannii!" seru Nike padaku sampai lamunanku tentang itu membuyar seketika.
"Iya Ke," jawabku.
"Ada satu lagi tapi abis ini kita balik ya? Jam udah mepet."
"Iya... iya. Apa Ke? Soal apa?"
"Sabar. Ini mengenai istri Mas Arlan dan keluarga Sanjaya."
"A-apa? Loe tau juga?"
Nike menenangkan dirinya lagi sebelum berbicara. Ia menengak-nengok ke penjuru rumah makan ini. Mungkin ia khawatir ada orang lain yang tau. Bisa-bisa menjadi gosip nasional nantinya.
Nike berdiri dari kursinya. Ia maju dan duduk tepat disampingku.
"Yang aku denger, dulu mantan istri Mas Arlan selingkuh," katanya lagi dengan sedikit berbisik.
"Sama siapa?" tanyaku.
"Salah satu anggota keluarga dari keluarga Sanjaya."
"Haaaah???"
"Ssssttt... pelan-pelan atuh. Nah, udah gitu mantan istri Mas Arlan itu ternyata bocorin beberapa rahasia perusahaan Harsono sama selingkuhannya itu."
"Ya Allah! Pantes Mas Arlan semarah itu, tapi tunggu deh. Kok wanita itu bisa tau?"
"Soal itu aku juga nggak paham Fann, yang aku tau beberapa tahun yang lalu perusahaan Harsono menurun. Terus perusahaan Sanjaya bisa naik sampai nomor satu di negeri ini."
"Aku nggak habis pikir soal ini, Ke."
"Sama Fanni, sebenarnya bukan hampir bangkrut sih. Cuman kinerjanya menyusut drastis. Abis itu Mas Arlan memilih mundur dari jabatan tinggi di perusahaan. Dan sekarang cuman jadi manager biasa disalah satu cabang perusahaannya sama suami aku."
"Ohh... jadi gitu."
"Untungnya saat itu Mas Arlan nggak pernah ngebuka identitasnya. Jadi cuman dilihat sebagai atasan biasa."
Wow bukan? Aku harus berkata apa lagi tentang ini? Rasa sakit yang dialami Mas Arlan dimasa lalu sangatlah dalam. Sedang kini, pria itu harus bersamaku yang selalu mempersulit dirinya.
Otakku mendadak kosong. Entah apa yang bisa aku lakukan untuknya. Aku juga belum bisa keluar dari perusahaan Celvin. Apalagi pada saat itu, Celvin belum menjabat sebagai CEO. Aku yakin Celvin tidak terlibat tentang ini.
Tapi, yang namanya dendam pasti bisa jatuh kepada siapapun yang masih ada hubungannya. Lalu apa yang bisa aku lakukan?
"Udah yuk balik, Fann. Udah mepet waktunya," ajak Nike padaku.
"Iya Ke. By the way makasih ya soal infonya," jawabku.
"Sama-sama Fann, maafin aku karna nggak ngasih tau kamu sejak awal. Karna aku pikir ini adalah amanah."
"Iya nggak apa-apa Ke. Gue paham kok, yaudah yuk."
Kami melakukan pembayaran untuk hidangan kami. Lalu berjalan keluar dari gedung rumah makan Jawa ini. Meninggalkan bangku yang menyisakan cerita tadi. Sebagai saksi bisu atas perbincangan itu.
Setelahnya, aku dan Nike cepat-cepat masuk kedalam mobil merah milikku. Kupacu perlahan meninggalkan rumah makan Jawa tersebut. Karena waktu untuk makan siang sudah habis.
Di sepanjang perjalanan aku hanya bisa diam membisu. Sama halnya dengan Nike. Mungkin ia tau kalau aku sedang terkejut dan bingung.
Banyak sekali yang aku pikirkan. Jika digabungkan antara perbuatan Celvin tantang pembullyan sampai menghilangkan nyawa seseorang. Lalu hubungan Celvin yang sempat berpacaran dengan Riska. Ditambah Celvin merupakan pewaris perusahaan Sanjaya selanjutnya. Semua memang terhubung dengan erat. Membentuk amarah tersendiri bagi Mas Arlan.
Terlebih, perusahaan yang sempat ia pegang mengalami penurunan. Karena ulah Nia, mantan istrinya. Dengan teganya membocorkan rahasia pada selingkuhannya yang merupakan anggota keluarga Sanjaya. Mungkin bukan hanya Mas Arlan namun juga kerabatnya yang lain.
Sehingga Mas Arlan tidak bisa menahan diri lagi. Sampai-sampai ia ingin aku keluar dari pekerjaanku sekarang. Tapi aku belum bisa soal itu.
'Maafin aku Mas,' gumamku dalam hati.
Bersamaan dengan deru mobil yang aku tumpangi bersama Nike. Melaju begitu cepat sehingga sampai ditujuan yaitu kantor kami.
Bersambung...
Budayakan tradisi like+komen..
Siapa tau ada yang berkenan mampir ke satu novelku yang lain.
__ADS_1