
Perdebatan tadi malam, akhirnya tidak membuahkan hasil yang baik. Entah Mbak Leny atau Mas Gunawan, tetap masih pada keinginan masing-masing. Goresan luka di hati memang sangat sulit disembuhkan daripada luka di kulit luar. Namun bukan berarti tidak bisa memberikan maaf, hanya saja prosesnya terkadang berjalan lebih lambat.
Pagi ini, suamiku masih berangkat ke kantor karena ada meeting pagi yang penting. Mungkin, setelah selesai, ia bisa segera kembali ke rumah terlebih dahulu untuk mengantarkan Mbak Leny dan William ke bandara. Putri pertamaku juga belum masuk ke sekolah dan masih minggu depan.
"Selli, bangun yuk, Sayang. Mandi dulu," ujarku kepada Selli yang masih terlelap seperti hari sebelumnya.
Ia mengerjibkan matanya, lalu menatapku. "Iya, Mama," jawabnya.
"Hmm ... anak gadis enggak boleh bangun siang-siang lho. Pamali, Sayang."
"Tapi ngantuk, Ma. Kan tiap jam empat dibangunin sama Mama."
"Kan harus ibadah, Sayang. Kalau libur gini, Mama kasih izin. Tapi tetep harus belajar rajin ya? Emang enggak malu sama Dede' Sella?"
"Emm ... iya, Mama."
Aku menyentil hidung mungilnya. "Anak pinter."
Setelah itu, Selli membangunkan dirinya dari rebahan itu. Kemudian bergegas turun. Aku memintanya untuk mencari Bi Onah supaya dibantu dalam bebersih diri, karena saat ini aku sibuk bersama si bule kecil.
Seperti biasa, aku keluar dari kamar ini. Kemudian menuruni anak tangga yang berjumlah belasan itu. Hari masih pagi, namun kali ini cerah sekali. Meski mendung dari hati beberapa orang belum menyibak pergi. Aku menghela napas dalam, lalu aku hembuskan kembali. Perasaanku juga belum nyaman, jika permasalah orang-orang itu belum selesai. Namun hakku hanya diam, aku bahkan suamiku tidak boleh ikut campur sama sekali.
Sesampainya di bawah, aku berjalan menuju teras. Ya, tentu saja untuk mencari udara yang lebih segar lagi. Sella, aku letakkan di dalam kereta dorongnya. Ia sudah terjaga, bola matanya yang memiliki warna seperti milikku itu, tampak cerah. Ia berceloteh atau sesekali tertawa pada saat aku memberikan candaku kepadanya.
Lalu ....
"Ma, tapi Willi, kita butuh uang yang banyak. Willi pengen kuliah tinggi." Tepat di depan kamar tamu yang ditempati oleh Mbak Leny, aku mendengar suara William yang berkata demikian.
Langkahku terhenti. "Ada apaan ya?" gumamku bertanya pada angin yang lewat meski tidak bisa menjawab.
"Kita masih punya harga diri. Kita harus kembali." Kini giliran Mbak Leny yang berkata demikian.
William terdengar menghela napas dalam. "Seenggaknya kita bisa berdamai, Ma. Ambil uang itu, itu hak Willi ...."
"Kenapa? Kenapa kamu selalu mikirin uang, Mama masih bisa kasih kamu makan, Willi."
"Hidup kita itu enggak kaya, Ma! Biaya kuliahku juga? Kenapa enggak berpikir realistis aja, Ma? Enggak ada salahnya juga kita pake uang mereka. Ma, kita ini miskin. Mama jangan egois!"
Plak! Astaga! Sepertinya ada sebuah tamparan keras. Dan aku rasa dilakukan oleh Mbak Leny kepada pipi William. Detik berikutnya terdengar suara Mbak Leny lagi, "Sejak kapan Mama ajarin kamu buat jadi orang serakah, Willi? Sudah banyak penderitaan kita gara-gara mereka. Hidup kita, harga diri kita, mau kamu tukar dengan uang?!"
"Willi enggak masalah kalau Mama nggak bisa rujuk lagi dengan Papa, tapi kita juga berhak mendapat nafkah dari mereka, Ma. Jangan kayak gini! Hidup kita udah susah, Ma. Kita ambil uang it--"
"Tidak akan, Willi! Jangan paksa Mama!"
Willi terdengar kembali menghela napas dalam. "Sampai kapan Mama kayak gini? Selamanya akan menyimpan dendam dengan mereka? Apa salahnya, niat mereka juga bagus mau tanggung jawab, Ma. Kalau Mama kayak gini, kuliah Willi akan benar-benar terputus. Sekali lagi, kita ambil uang itu, Ma. Kita bicarain lagi dengan mereka dan berdamai aja. Biar enggak ada lagi perasaan benci, Ma!"
Mbak Leny terdengar menangis. "Kamu! Kamu, anak Mama, Willi. Tapi, ... kenapa hari ini kamu menyakiti hati Mama? Kenapa kamu bela mereka? Kemarin kamu bilang, akan jaga Mama, Willi."
"Ya, ... aku berjanji akan jaga Mama. Willi enggak maksa Mama buat rujuk sama Papa. Tapi, ... Willi juga enggak mau kalau Mama membenci orang dalam waktu yang lama. Willi juga enggak mau kalau Mama harus bekerja keras sendiri dalam mengurus pendidikan Willi. Sendirian lagi."
"Willi ...?"
__ADS_1
"Ini keputusan Willi, Ma. Uang itu, fasilitas itu adalah hak Willi. Willi akan buang semua rasa malu demi hidup Willi. Willi ingin sekolah tinggi, bekerja layak dan membahagiakan Mama. Dan, ... dengan uang itu juga, Mama enggak perlu lagi bekerja sangat keras."
"Willi?! Willi?! Willi!"
Brak! Aku terperangah sampai menganga. Tepatnya, pada saat William membuka pintu kamar itu dan membantingnya begitu saja. Sejenak ia berhenti ketika menatapku, namun kemudian pergi. Aku tidak tahu ia akan kemana. Namun jika mengingat pertengkarannya dengan sang ibunda, sepertinya ia hendak ke rumah besar milik keluarga Harsono.
"Willi! Kembali, Nak! Kita harus pulang! Willi!" Dengan berlari, Mbak Leny menyusul William. Beliau masih dalam keadaan yang berderai air mata.
Aku mengamankan Sella di samping ruang tamu terlebih dahulu. Setelah itu, aku menyusul mereka keluar sana.
Mbak Leny tampak terduduk sembari meraung. Sedangkan di depan gerbangku, sudah ada sebuah mobil. Yang aku pikir adalah milik Riska. Tampaknya mereka berdua telah membuat janji pagi ini. Riska keluar dari ruang kemudinya dengan wajah yang bingung, mungkin ia tidak enak kepada Mbak Leny yang tengah meraung. Di sisi lain, ia perlu mengabulkan keinginan William.
"Mbak, ayo bangun. Nanti sakit kakinya." Aku membantu Mbak Leny agar terbangun dari duduk beliau yang aku rasa adalah hasil dari tersungkur.
"Wi-willi, William, William, anakku." Suara beliau terdengar sangat memilukan. Hal itu membuat Riska semakin cemas. Ingin mendatangi kami, namun William memintanya untuk segera mengajaknya berangkat.
"Mbak, ayo. Jangan kayak gini, William pasti pulang kok." Aku masih berusaha untuk menenangkan hati beliau. "Mbak, ... tolong hargai saya sebagai nyonya rumah. Maaf, ... saya memiliki bayi."
Mendengar ucapanku, Mbak Leny menatapku. Kemudian beliau terpejam, mencoba mengatur napas. Detik berikutnya, beliau mengusap air mata yang sempat berderai. "Ma-maaf."
Aku menghela napas lega. Terlebih beliau bersedia bangkit dari duduk. Aku tetap membantu beliau berjalan menuju dalam rumah lagi. William, ia agak keterlaluan. Ya, aku memang tidak tahu awal mulanya terjadi pertengkaran itu. Tetap saja, hati Mbak Leny sangat sakit jika ia pergi, bahkan tanpa menengok ke belakang lagi.
Setelah itu, aku mendudukkan Mbak Leny pada sebuah kursi di ruang tamu. Kemudian, aku menggendong Sella yang sempat terabaikan. Aku berjalan menuju dapur, untuk membuatkan teh hangat untuk Mbak Leny.
"Buat hangatin tenggorokan," ujarku sembari meletakkan secangkir teh hangat yang aku bawa bersama nampannya namun dengan satu tangan, di hadapan Mbak Leny.
"Makasih, Dek. Kamu harus kerepotan karna aku, Dek," jawab Mbak Leny tanpa menatapku sama sekali. Meski sudah tidak menangis, mata beliau masih sembab dan memerah.
Aku duduk di kursi lain yang menghadap beliau. Kemudian, aku berkata, "percaya, Mbak. William akan pulang, dia pasti punya rencana sendiri."
Dalam keadaan ini, aku benar-benar merasa bingung harus melakukan dan berkata apa. Umurku jauh lebih mudah, bahkan aku tidak pernah merasakan kepedihan hidup Mbak Leny. Semua masih terasa aneh bagiku.
Aku menyesap teh hangatku. Setelah itu, aku menghela napas dalam dan mengembuskannya kembali. Dengan perasaan bingung, aku menatap Mbak Leny lagi. "Jujur, saya enggak tahu harus bicara apa, Mbak. Tapi, ... menurut saya, Willi enggak akan setega itu buat ninggalin Mbak Leny untuk mereka," ujarku.
"Mereka punya banyak harta, Dek. Kamu pasti tahu karna kamu pun salah satu menantu. Willi selalu berkeinginan menjadi pembisnis besar, dia ingin kuliah tinggi seperti ayahnya. Salah Dian, pada saat itu, Dian menceritakan tentang masa mudanya kepadanya. Hal yang menjadi sebab munculnya keinginan hati William dalam pendidikan dan bisnis seperti ayahnya," jelas Mbak Leny.
"Buah enggak bakalan jatuh terlalu jauh dari pohonnya, Mbak. Mau gimanapun, Mas Dian udah kasih beberapa pengalaman yang bagus buat William. Tapi, Mbak ... apa benar, Mbak Leny enggak bisa berdamai aja?"
Mbak Leny menatapku. "Enggak bisa. Sejauh aku berusaha melupakan kilasan masa lalu itu, justru aku semakin membenci mereka. Jangan pikir, ketika aku bersedia menjadi istri kedua karna cinta. Aku melakukannya karna Willi. Dia butuh seorang ayah, anak lima tahun yang polos selalu ditanya ayahnya kemana."
Aku mengerti. Pembullian sepele di masa kecil. Ayahnya kemana? Ayahnya yang mana? Anak tanpa ayah dan lain sebagainya. Belum lagi jika William mendapat selintingan dari orang tua dari murid lain yang mengetahui gosip Mbak Leny dan Mas Dian. Aku paham, mengapa Mbak Leny rela menjadi istri kedua. Terlepas dari rasa cinta beliau kepada Mas Dian, beliau juga harus memikirkan William kecil.
"Mbak ... mungkin aku bisa kasih satu saran. Bu-bukan, emm ... enggak ada bela siapapun. Tapi, William juga udah besar. Umur dua puluh tahun. Dan, dia pasti juga udah jengah dengan hubungan Mbak Leny dan keluarga Mas Dian. Jadi, dia hanya ingin cari jalan terbaik aja. Maaf, saya tadi enggak sengaja dengar kalau Mbak Leny ini hidupnya sedikit sulit di Canberra," ujarku dengan penuh hati-hati. Kemudian aku menghela napas dalam setelah berhasil menyelesaikan perkataanku.
Aku melirik wajah Sella yang saat ini sedang aku berikan minum.
"Jadi, ... aku yang salah?" tanya Mbak Leny. Beliau menatapku dengan sayu.
"Bu-bukan gitu. Emm ... tapi, bisa dibicarain lagi, kan? Mungkin emang agak sulit. Tapi, Tuhan saja maha pengampun. Aku pikir, enggak ada salahnya kalau Mbak Leny juga mendamaikan hati dari kebencian itu. Supaya William pun enggak jengah lagi."
Mbak Leny tampak berpikir. Pasti sulit. Namun kembali lagi kepada Tuhan yang selalu memberikan ampunan. Aku berharap beliau juga bisa memberikan maaf kepada Mas Gunawan yang pada saat itu sempat membantu menyingkirkan Mbak Leny dari hidup Mas Dian.
__ADS_1
Deru mobil memasuki rumah ini terdengar dari dalam. Aku rasa, itu adalah Mas Arlan yang sudah menyelesaikan meeting-nya. Aku bergegas berdiri, dengan masih membawa Sella yang saat ini tertidur pulas. Aku meninggalkan Mbak Leny untuk sementara.
Cup! Kecupan manis, Mas Arlan berikan di keningku dan pipi Sella. Aku menjabat tangannya dan mengecup punggung tangannya.
"Udah pada siap, Dek?" tanya Mas Arlan kepadaku. Aku rasa mengenai Mbak Leny dan William.
Aku menggelengkan kepala. "Sebenarnya ada insiden, Mas," jawabku dengan senyuman getir.
"Hah?" Dahi Mas Arlan mengernyit. "Ada apaan emangnya?"
"Masuk dulu, yuk."
"I-iya, Dek."
Meski sudah sangat penasaran, Mas Arlan mengikuti anjuranku. Kami masuk ke dalam rumah. Meski sebenarnya aku tidak tega ketika Mas Arlan harus pulang, namun keadaannya sangat tidak nyaman.
Mas Arlan semakin bingung ketika mendapati Mbak Leny yanh duduk diam serta lesu di tempat yang masih sama. Kemudian, ia duduk di kursi yang tadi aku tempati. Aku menidurkan Sella ke dalam kereta dorongnya terlebih dahulu. Setelah itu, aku duduk di kursi sebelah Mas Arlan.
"Ada apa, Mbak?" tanya Mas Arlan dengan raut wajah yang penuh tanya namun polos sekali. Bak seorang anak yang baru masuk SD.
Mbak Leny hanya menggeleng. Sepertinya beliau enggan menjelaskan pertengkaran beliau dengan sang putra--William.
"Dek ...?" Mas Arlan menoleh ke arahku.
Aku menelan saliva seketika. "I-itu, tadi, tadi, William ke rumah Mas Gun," jawabku menggeragap. Karena aku masih merasa tidal enak dengan Mbak Leny.
"Apa?!"
"Emm ... William enggak setuju sama pendapat Mbak Leny, Mas. William ingin ambil uang dan fasilitas yang ditawarin sama Mas Gun. Sekaligus ingin berdamai."
Mas Arlan terkesiap. Mungkin antara percaya tidak percaya. Namun, ia belum memberikan pendapat apa pun mengenai hal ini. Ia hanya menghela napas lalu ia hembuskan kembali. Ditambah lagi dengan punggung yang disenderkan ke belakang pada badan kursi.
"Maaf, Dek Arlan." Kalimat itu yang terucap dari bibir Mbak Leny, masih dalam keadaan tertunduk lesu.
Mas Arlan kembali membangunkan tubuhnya dari senderan itu. Kemudian ia menatap Mbak Leny sembari berkata, "Willi udah besar, Mbak. Aku tahu, Mbak juga enggak bersedia dengan pendapat Willi. Tapi anak itu, umur segitu sedang keras kepala. Mbak ...?"
Mbak Leny tidak merespon. Hanya ada isakan tangis yang terdengar beliau lakukan.
Mas Arlan berdeham. "Aku enggak tahu, kenapa ada masalah ini. Tapi kayaknya terjadi pertengkaran ya?"
Aku mengangguk.
"Mbak, berhenti menyiksa diri sendiri. Perasaan benci hanya akan menyiksa hati, Mbak. Arlan tahu kalau masalah kalian enggak sesepele itu."
"Aku enggak bisa, Dek Arlan. Aku takut, Willi diambil sama mereka."
"Enggak bakalan, Mbak. Willi tahu akan memihak siapa. Aku yakin, saat ini dia sedang menyelesaikan perselisihan."
"Tapi, aku juga enggak mau kalau Willi makan dari mereka. Harga diri kami bisa hancur, Dek Arlan."
Mas Arlan terdiam sejenak. Membujuk seseorang sungguh sangat sulit. "Itu uang Willi. Mbak Leny enggak perlu pake, Willi juga berhak atas uang itu. Mbak ... ini Arlan, yang pernah berselisih dengan Mas Gun dan Mas Dian. Tapi, Arlan juga udah bisa memberikan maaf. Hanya maaf, Mbak. Biar beban hati lebih enteng."
__ADS_1
"...."
Bersambung ...