
Aku, Celvin dan pak Sopir berhenti di restoran yang sama dengan pertemuan awal. Celvin mengajakku masuk kedalam untuk menemui si nona cantik yaitu Riska.
Kami berjalan beriringan menuju executive room seperti kala itu.
"Selamat siang Nona Riska," sapaku saat bertemu dengan Riska dan Ivan yang baru saja datang.
"Selamat siang," jawabnya diiringi senyum simpul yang begitu menawan.
"Hai," ujar Celvin.
Lagi-lagi Riska hanya tersenyum. Ia menggerakkan tangannya untuk mempersilahkan Celvin masuk lebih dulu. Sedangkan aku memilih untuk berada di meja biasa. Aku ingin memberikan waktu berdua saja bagi mereka. Toh, kalau Celvin membutuhkanku, aku tak jauh dari keberadaan mereka.
Ku kedipkan satu mata kananku, saat Celvin menatapku. Diiringi dengan kepalan tangan menandakan semangat untuk dirinya. Ia tersenyum dengan tampan. Celvin dan Riska akhirnya melangkah masuk.
Keduanya duduk berhadapan yang terlihat dari dinding kaca yang terpangku dinding semen atau mungkin kayu. Sungguh elegan dan indah sekali. Aku sampai tersenyum-senyum sendiri. Ya! Ku rasa mereka bisa menjadi pasangan yang serasi.
Bagaikan seorang pangeran dan tuan putri. Kedua orang yang seolah datang dari negeri dongeng. Rasa sesakku tak lagi ada, kini aku lega. Aku bisa ikhlas hati menyaksikan kebersamaan mereka, meski hanya sebatas kerja sama.
"Hei Fann!" seru Ivan padaku.
"Eh iya, kenapa?" tanyaku kembali.
"Loe yang kenapa?"
"Gue nggak apa-apa tuh."
"Senyum-senyum gitu, masih naksir Pak Celvin ya?"
"Sorry Van, tapi gue udah punya pacar seperti yang gue bilang waktu itu."
"Hmm... jadi udah ikhlasin Celvin?"
"Ikhlas sekali, seperti yang gue bilang dulu juga. Gue cuman kagum sama dia."
"Yakin?"
"Yakin sekali."
Berbeda denganku, tampaknya Ivan masih terus menumbuhkan rasa sukanya pada Riska. Pandangannya tak lepas dari kedua orang tersebut. Aku paham itu, karena aku pernah merasakannya.
Seorang pelayan wanita berhasil menyadarkan lamunan Ivan. Ia menawari kami menu makanan serta minuman dari restoran ini.
"Coffe latte aja," kataku.
"Baik mohon ditunggu, bagaimana dengan Bapak?" tanya pelayan wanita tersebut pada Ivan.
"Samain mbak," jawab Ivan.
"Baik, mohon ditunggu."
Sang pelayan wanita berlalu meninggalkan kami guna mempersiapkan pesanan kami. Coffe latte seperti sudah menjadi minuman favorit bagiku. Ketika bersinggah di kafe manapun aku selalu memesan menu tersebut.
Padahal selama ini tak pernah kumasukkan dalam list biodata sebagai favorite drink. Mungkin lidahku sudah ketagihan. Rasanya enak juga, apalagi harga lumayan murah di restoran ini.
Ku tatap wajah Ivan lagi. Ia kembali melamun. Miris sekali aku melihatnya. Ia masih tidak mau beranjak dari hati Riska dan terus memelihara perasaan suka pada wanita cantik tersebut. Mungkin aku lebih beruntung darinya, karena memiliki mas Arlan disampingku.
"Hei Van!" seruku padanya.
"Iya," jawabnya singkat.
"Udah pernah coba nembak Riska?"
"Nggak pernah dan nggak mungkin."
"Kenapa?"
"Dia dari dunia berbeda dengan gue, cukup dampingi aja, gue udah bersyukur."
"Tuh tau."
"Maksudnya?"
"Coba liat mereka berdua."
Aku menunjukkan jari telunjukku pada Celvin dan Riska. Ivan mengikuti anjuranku. Ia memperhatikan kedua orang tersebut dan beberapa kali menelan salivanya. Sesak di dada sepertinya ia rasakan.
Aku tersenyum sendiri. Kuingat kembali diriku beberapa hari yang lalu. Sepertinya aku juga sefrustasi itu. Aku sempat cemburu dan kesal melihat Celvin yang bersama wanita jauh lebih cantik dan menarik dari diriku. Konyol sekali memang. Semua kenangan tersebut terasa menggelikan sekarang.
Ivan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kupikir aku bisa sedikit membagikan kisahku padanya. Siapa tau ia mau membuang perasaannya yang sudah sia-sia.
"Van, udah liat kan?" tanyaku padanya.
"Iya," jawabnya singkat.
"Ganteng dan cantik ya?"
"Ya, itu juga bener. Terus kenapa?"
"Indah kan?"
"Iya Fanni."
"Hmm... Van cari orang lain yang lebih ada harapan balas perasaan kamu."
Ivan diam saja. Perbincangan kami juga harus terhenti oleh sang pelayan yang sedang mengatarkan pesanan.
Kuseruput coffe latte pesananku dengan nikmatnya. Aku masih menanti Celvin membutuhkan sesuatu dariku. Walau sering kali aku hanya mendampinginya saja. Berkas yang selalu kubawa pun sudah pindah ditangannya. Tidak masalah, jadi aku tidak perlu mengganggu waktunya bersama Riska.
Kuambil ponsel yanh berada di kantong blazer. Kumainkan jariku diatas layarnya. Belum ada pesan yang masuk satu pun sedari tadi. Aku rasa mas Arlan sedang sibuk sekarang. Biarlah, aku hanya perlu menunggunya mengumpulkan dana untuk melamarku dan memenangkan hati ibuku nanti. Lucu sekali bukan?
__ADS_1
Aku mengetik sebuah pesan penyemangat untuk kekasihku tersebut. Berharap ia menikmati pekerjaannya dan tidak mudah lelah tentunya.
"Maksud loe tadi, gue harus lupain Nona Riska gitu Fann?" tanya Ivan sampai aku tersadar dari lamunan indahku.
"Hehe... iya Van," jawabku.
"Sulit itu pasti, emangnya gampang apa."
"Mungkin kalau buat loe susah Van, tapi gue berhasil tanpa makan waktu yang lama."
"Gue udah bareng Riska bertahun-tahun Fann."
"Halah paling setelah lulus kuliah."
"Salah! Dia temen SD sampai SMA gue, cuman kita pisah karena dia harus kuliah di luar negeri."
"Wow... amazing!"
"Dan loe nyuruh gue lupain perasaan gue sama dia gitu aja, mustahil Fann. Gue suka dia dari bertahun-tahun yang lalu."
Luar biasa! Ivan memendam perasaannya selama itu. Aku pikir hal seperti ini hanya ada dalam drama televisi. Cinta sedari kecil, sampai sekarang wanita yang ia puja menjadi atasannya. Sekejam itukah dunia untuk Ivan?
Sejujurnya aku bingung akan berkata apalagi. Padahal niatku adalah untuk memotivasi Ivan. Aku tidak menyangka akan selama itu. Kupikir Ivan hanya orang sepertiku, yang baru datang dalam kehidupan atasan kami.
Kuteguk minumanku lagi. Aku masih menyaring beberapa hal. Aku ingin diam saja sekarang. Toh, bukan urusanku. Lagipula sepertinya Ivan sudah sangat terobsesi pada Riska. Tak mungkin begitu mudahnya ia lepas dari wanita cantik tersebut.
Ternyata hidupku lebih beruntung, itulah yang aku pikirkan sekarang.
Aku lebih baik menyaksikan perbincangan Celvin dan Riska yang tidak bisa kudengar dari tempat ini. Mereka berdua masih sibuk membolak-balikkan kertas-kertas didalam map yang tadi aku bawa.
Beberapa saat kemudian ada yang membuatku kaget. Celvin memberanikan diri menyentuh tangan Riska. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Hatiku pun ikut berdebar dibuatnya.
Tapi sangat disesalkan Celvin harus memilih ruang berdinding kaca tersebut. Ia tak punya privasi pada akhirnya. Seharusnya ia mencari yang benar-benar private. Atau mungkin pihak restoran tidak mau ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi jika terlalu tertutup. Sehingga hanya menyajikan executive room yang kedap suara.
"Sial!" umpat Ivan sembari berdiri dengan tatapan geram mengarah pada mereka.
Sontak saja aku terkejut dibuatnya. Aku rasa Ivan sudah gila. Ia lebih gila dariku. Obsesinya terlihat sangat besar. Sampai aku bingung harus berbuat apa.
"Ivan, loe mau kemana?" tanyaku sembari meraih lengan tangannya untuk menghentikan dirinya.
"Gue mau nyamperin dia!" jawabnya kesal.
"Loe gilak ya?"
"Gue lebih dari gilak!"
"Ivan tenang. Ok, please jangan bikin malu Nona Riska, loe asisten pribadinya, ok. Lagian kita nggak tau apa yang terjadi didalam. Jadi tenang dulu, gue yakin Nona Riska bisa mengatasi semuanya."
"Bos loe berengsek, Fann!"
"Duduk dulu!"
Kutenangkan diri Ivan lebih dulu. Beruntungnya, ia mau menurutiku. Ia duduk kembali seperti semula. Ia pun meneguk minuman miliknya. Matanya terpejam untuk beberapa saat dengan helaan napas panjang yang kemudian dihembuskan kembali.
"Ada apa sama loe?" tanyaku ketika kurasakan ketenangan mulai menghampiri diri Ivan.
"Sorry, gue cuman kaget dan cemburu buta," jawab Ivan.
"It's ok, tapi nggak perlu berlebihan kayak tadi. Untunh badan gue gede, sampe kuat narik loe yang mau lari hajar Celvin."
"Thanks, and sorry."
"Ya ya nggak apa-apa. Mungkin cowok lebih tidak bisa menahan diri daripada cewek."
"Tapi Fann, kayaknya loe belum tau sesuatu ya?"
"Soal?"
Ivan kembali diam. Tampaknya ia sedikit ragu untuk mengatakan sesuatu. Aku yang memang memiliki rasa penasaran tinggi, setia menunggunya untuk mulai berucap.
Aku menengok jam pada ponselku dengan sekilas. Tak terasa kami sudah berada disini selama satu jam. Biasanya Celvin menghabiskan pertemuan seperti ini antara dua sampai tiga jam. Tergantung perundingan dan proses kesepakatan yang akan dibuat.
Kutatap Ivan sekali lagi. Ia masih mengunci rapat mulutnya. Membuatku tak bisa mendapat jawaban apapun dari apa yang ia maksud. Aku heran, mengapa kebanyakan pria menanyakan sesuatu yang tidak kuketahui namun tidak mau menjelaskan juga. Sama halnya seperti Celvin beberapa saat yang lalu.
Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...
Ponselku berdering. Pria yang merupakan kekasihkulah yang sedang menghubungiku. Aku tersenyum entah karena apa. Intinya aku merasa senang saja.
"Sorry Van, gue angkat dulu," izinku pada Ivan.
"Silahkan," jawabnya.
Aku beranjak dari kursiku. Aku berjalan mencari sisi ruang yang kosong dan sepi. Kemudian kutekan tombol warna hijau untuk terhubunh dengan mas Arlan.
"Assalamu'alaikum Mas," sapa salamku padanya.
"Wa'alaikumssalam Dek," jawabnya dari kejauhan sana.
"Kenapa?"
"Kangen Dek, hehe..."
"Hmm... mulai deh."
"Serius lho Dekku sayang, kamu masih sibuk? Maaf Mas Telpon, nyoba doang sih tapi diangkat ternyata."
"Nggak Mas, lagi kerja diluar, cuman nungguin doang sih bete juga."
"Duh kasian, udah mau jam makan siang lho ini."
__ADS_1
"Iya Mas, mungkin bentar lagi Celvin selesai kok."
"Yaudah deh, jangan genit ya sama dia."
"Yeee... nggaklah emang aku cewek apaan, lagian dia jijik kali digenitin sama aku."
"Halah kebiasaan kayak gitu, yaudah Dek, matiin dulu nggak enak kamunya masih kerja."
"Iya Mas, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumssalam sayang."
Aku ataupun mas Arlan menyudahi panggilan ini. Senyuman dibibirku kembali merekah. Mungkin inilah yang dinamakan indahnya kasmaran. Terimakasih mas Arlanku.
Kemudian aku kembali berjalan menuju mejaku sebelumnya untuk menghampiri Ivan. Ia masih saja frustasi menyaksikan perbincangan Celvin bersama Riska.
"Udah Van," kataku padanya.
"Sakit Fann," jawabnya.
"Gue tau kok, gue pun pernah ngerasain. Tapi gue beruntung bisa cepet lepas dari semua itu, dan itu berkat pacarku."
"Loe enak Fann, ibaratnya loe baru kenal sama Celvin. Gue udah bertahun-tahun."
"Terus mau loe gimana sekarang?"
"Nggak tau."
Astaga! Manusia ini sepertinya jauh lebih keras kepala denganku. Ingin rasanya aku cepat-cepat meninggalkannya. Namun, apa daya. Aku harus menunggu Celvin sampai selesai.
Rasa simpatiku diawal berubah menjadi kesal sekarang. Ivan masih terlihat geram beberapa kali. Celvin pun tak kunjung selesai dalam berdiskusi. Dan yeah, aku sudah sangat lapar di waktu hampir tengah hari seperti ini.
Ingin sekali kupesan makanan dari restoran ini. Namun, saat kupandangi buku menu disampingku mendadak kenyang kembali. Kisaran harga yang ditawarkan untuk satu menu saja hampir ratusan ribu bahkan juta. Luar biasa gila memang, untuk sekelas jutawan dan milyarder tentunya.
Wajahku yang memiliki aksen bule Belanda pun tak lantas membuat gaya hidupku tinggi. Aku masih sayang uang apalagi untuk sesuap makanan yang akan menjadi kotoran. Lebih baik, aku mencari warung lesehan pinggir jalan yang murah meriah dan tentunya kenyang.
"Fann!" seru Ivan padaku lagi.
"Apalagi?" tanyaku tegas.
"Sorry ya, gue udah bikin pertemuan bisnis ini jadi nggak nyaman."
"Wow... udah sadar kan? Jadi tenanglah Van."
"Iya, tapi loe nggak tau alasannya apa kan?"
"Karna loe terobsesi sama Riska kan?"
"Itu emang bener, tapi ada satu hal lagi."
Aku mengernyitkan dahiku heran. Jika ada seharusnya Ivan katakan dari awal. Supaya aku tidak penasaran seperti ini.
Namun, lagi-lagi ia seperti merasa ragu. Ku hembuskan napasku dengan kesal. Tidak perlu ia mengatakan itu, jika hanya sekedar berkata tanpa menjelaskan.
"Apa sih???" tanyaki kembali dengan kesal.
"Hubungan Celvin dan Riska sudah terjalin jauh hari sebelum ini," jawabnya.
Meski sempat kaget. Menurutku wajar saja. Toh, mereka sama-sama orang kaya. Dan itu bisa terjadi entah karena kerja sama keluarga mereka atau beberapa hal yang lain.
Aku pun terkekeh. Menganggap ucapan Ivan terdengar konyol dan biasa saja.
Namun, tanggapanku dibalas sengit olehnya. Ia menatapku tajam sampai aku membungkam mulutku dengan segera. Sepertinya serius, begitulah pikirku.
"Jelasin!" ujarku.
"Riska hanya pura-pura nyaman sekarang, dia bersikap seprofesional mungkin karna kerja sama ini."
"Iyakah? Kenapa?"
"Loe tau nggak?"
"Nggak."
"Celvin mantan pacar Riska, dan mereka sudah menjalin hubungan itu selama lima tahun sebelum akhirnya putus."
"Haaah?"
Rahangku jatuh, bibirku menganga seolah tak percaya dengan penjelasan Ivan. Selama ini yang kutau hanyalah Celvin yang mulai tertarik saja. Bahkan Celvin tak menunjukkan tanda-tanda mengenal Riska sejak lama.
Meski bukan urusanku, sepertinya aku tau apa yang membuat hati Ivan gusar sedari tadi. Ia takut Riska jatuh kedalam pelukan Celvin lagi.
"Tapi alasan putusnya kenapa?" tanyaku.
"Itu kar-"
Ucapan Ivan terpotong dengan keluarnya Riska dari exsecutive room tempatnya berada sejak tadi. Namun, aku melihat Celvin masih terduduk sendiri didalamnya.
"Van mari kembali," aja Riskan pada Ivan.
"Baik Nona," jawab Ivan. "Sorry, tanyain aja sama bos loe," sambungnya.
Aku yang masih duduk hanya menatap keduanya berlalu meninggalkanku serta Celvin yang beluk kunjung keluar. Rasa penasaranku semakin bertambah tanpa ada obat yang bisa menghilangkannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi tentang Celvin, Riska lalu orang yang katanya mirip denganku?"
Bersambung...
Budayakan tradisi like+komen, jangan pelit dong say...
__ADS_1