Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
[Season 2]-Situasi


__ADS_3

Celvin mencoba berdiri dengan bertumpu satu kaki. Ia meraih daun pintu sebagai alat bantu. Sepertinya ia telah dihajar habis-habisan oleh seseorang dari mereka. Yah, aku paham, tidak ada satupun orangtua yang menerima tindakan maksiat dari anak beserta pasangannya yang belum halal. Namun, sangat disayangkan sekali, cara kekerasan seperti ini menjadi jalan pertama yang digunakan sebagai alat pelampiasan amarah. Terlebih, dari keluarga sebesar ini.


Sedangkan, aku masih terpaku diam sembari gemetar. Tidak tahu harus berbuat apa. Kini Posisi Celvin tepat berada di samping kiriku. Wajahnya lebam di sudut bibir. Tenaga siapa yang sekuat itu, sampai membuat Celvin babak belur. Aku iba, namun sekali lagi ini bukan urusanku. Jika saja, aku memiliki kekuatan yang luar biasa, aku akan bergerak menghentikan mereka semua. Namun, disisi lain, aku mengerti akan kekecewaan yang Mas Arlan rasakan. Kekerasan yang Riska alami tampaknya bukan main-main lagi, maksudku secara verbal bukan fisik.


"Dek, ngapain?" tanya Mas Arlan sembari berjalan menghampiriku.


Aku diam saja. Bola mataku sibuk meneliti setiap orang yang berada disini. Mas gunawan beserta istri, Riska kemudian dua pria yang tidak aku kenal. Aku rasa, mereka masih memiliki hubungan darah didalam keluarga ini. Satu orang berusia paruh baya yang tidak jauh dari Mas Arlan. Kemudian satu lagi, berusia hampir sama denganku. Semua penuh dengan amarah yang menggebu.


"Dek, pulanglah," pinta Mas Arlan.


"Nggak mau!" jawabku tegas.


"Lalu untuk apa, anda datang ke tempat ini Nona Fanni? Bukankah anda sendiri yang bilang tidak akan ikut campur didalam keluarga ini? Sekalipun anda seorang istri dari adik saya." Mas Gunawan berbicara dengan nada sindiran yang menurutku sangat pedas. Apalagi, sang istri hanya diam, tidak mengingatkan beliau barang sekali saja.


Keluarga macam apa ini? Inikah yang menjadi kekhawatiran ibuku sebelum memberikan kami restu? Akhirnya diriku terjerembab ke dalam permasalahan orang kaya yang kejam. Mereka penuh dengan emosi dan amarah akibat dendam.


Mas Arlan mencoba menghalau diriku untuk berbalik dan lekas pulang. Namun, aku bersikeras tidak akan bersedia. Percuma, aku sudah banyak berusaha untuk mencapai rumah ini. Aku tidak rela, jika pulang tanpa berbuat apa-apa. Lantas, aku melepaskan diriku dari rangkulan tangan suamiku. Aku menatap dirinya tajam. Aku merasa tidak ada guna lagi untuk menyakinkannya. Ia keras kepala, sangat!


"Nggak, Mas! Terserah kamu, kalau kamu nggak mau dengerin ucapanku. Toh, Riska tidak akan dibunuh oleh mereka," ujarku kepada Mas Arlan.


"Dek!" tegas Mas Arlan. "Ini bukan urusan kamu!"


"Ya, aku tahu. Aku nggak pantas ikut campur atas masalahmu. Sampai sekarang pun, aku merasa tidak seperti seorang istri untukmu."


"Bukan gitu, Sayang."


"Diamlah! Saya disini datang bukan sebagai istri dari adik anda, Pak Gunawan. Melainkan sebagai sekretaris dari atasan saya."


Semua orang terperanjat atas ucapan yang aku katakan. Mereka menatapku begitu nanar. Bahkan Celvin tidak habis pikir. Bukan tanpa alasan, aku mengambil langkah ini. Menurutku, dengan membawa Celvin pergi, mereka akan berhenti menghujani Riska. Sekalipun, aku harus menjadi bahan kebencian berikutnya. Bahkan oleh suamiku juga. Aku hanya ingin, semua dibicarakan secara kekeluargaan dan tidak seperti ini.


Tiba-tiba Nyonya Gunawan alias ibu dari Riska datang menghampiriku. Beliau menatapku begitu nanar penuh emosi. Aku hanya bisa menelan salivaku. Sedangkan Mas Arlan masih mencoba mencegah kedekatan posisi kami. "Ayo pulang, Dek," ajaknya lagi.


"Tidak mau!" bantahku.


Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Nyonya Gunawan yang belum aku ketahui nama aslinya adalah pelakunya. Ia menatapku begitu tegas. Yah, dari awal aku selalu merasakan ada ketidak sukaan tersendiri dari beliau terhadapku. "Dasar wanita besar yang tidak tahu diuntung! Sudah jelas-jelas diangkat sebagai menantu dari keluarga ini. Masih sempat-sempatnya membela pihak lain yang notabene adalah musuh!" cerca beliau terhadapku.


Fanni, jangan nangis. Oke, emang sakit. Tapi, kamu kuat. Ingat! Kulitmu setebal badak. Tidak akan terluka dengan mudah.


"Mbak tolong jangan melakukan ini terhadap istriku." Mas Arlan maju didepanku, serta memberikan pembelaannya untukku.


"Kamu masih belain dia?! Kamu denger sendiri datang kemari atas dasar jabatannya, bukan kamu, Arlan!" jawab tegas kakak iparnya tersebut.


"Tolong, Tante. Jangan bawa-bawa Nona Fanni." Celvin pun tidak mau ketinggalan.


"Diam kamu! Dasar perusak anak orang!"

__ADS_1


Sebuah gebrakan kembali dilakukan oleh Mas Gunawan. Maksudku, Bapak Gunawan. Aku terkejut bukan kepalang. Kini Riska telah diamankan ke dalam kamar oleh salah satu pembantunya. Setidaknya, aku sudah tidak terlalu khawatir pada kondisi Riska. Lagipula, marahnya seorang orangtua, tidak mungkin sampai membunuh seorang putri. Itu hanya akal sehatku yang berpikir jernih. Bukan Mas Arlan.


"Saya harap anda bisa pergi dari sini, membawa atasan kebanggaan anda itu," ujar salah seorang pria yang tidak aku ketahui namanya.


"Tidak, Mas Dian! Fanni istriku," jawab Mas Arlan.


"Sungguh, saya menyesalkan karena Mas Gun telah melamarkan kamu untuknya. Nyatanya dia tidak cukup mampu untuk mengikuti aturan keluarga ini. Lebih parahnya lagi, dia berhubungan begitu dekat dengan musuh kami. Seperti manusia yang tidak tahu terima kasih saja."


"Tapi, aku tidak menyesal telah menikahinya, Mas. Aku sangat mencintainya. Aku tidak peduli pihak lain tidak menyukai kami. Tapi, aku tidak akan membiarkan kalian merendahkan martabat istriku.


"Kamu masih tetap bodoh, Arlan. Kamu tidak bisa belajar dari pengalaman. Kamu terlalu mudah menjadi budak cinta seorang wanita."


"Tidak! Aku selalu memiliki alasan dibaliknya. Bagaimana aku mempertahankan Nia, karena anakku. Dan sekarang, aku mempertahankan Fanni sebagai ibu dan istri yang jauh lebih baik."


"Alasan macam apa itu? Sampai merosotkan kinerja perusahaan?! Kamu bahkan tidak ingat apa kesalahanmu, dengan wanita itu. Dan lagi-lagi kamu masih ingin mengulangi hal yang sama, yaitu menjalin rumah tangga dengan orang yang masih berhubungan dekat dengan keluarga Sanjaya. Manusia bodoh, tetap bodoh."


Mas Dian? Jadi, pria itu yang masih menaruh iri kepada Mas Arlan. Seolah semua sudah di-setting untuk menjatuhkan suamiku. Pria itu nyatanya jauh lebih menyeramkan daripada ayahnya Riska. Tatapannya penuh ancaman disertai seringai sinis. Inilah bukti bahwa uang kembali merusak sebuah ikatan. Tidak pandang bulu, rajutan tali kasih dan aliran darah yang sama pun tidak membuatnya berpikiran dengan sehat.


Nyonya Gunawan menatapku untuk terakhir kalinya. Kemudian beliau kembali ke samping sang suami. Kedatanganku kemari, sepertinya cukup mengejutkan mereka. Sehingga membuat kubu terbagi menjadi dua. Namun, aku bersyukur Mas Arlan masih bersedia memberikan pembelaannya terhadapku. Acara hantam menghantam sudah tidak terjadi lagi.


"Padahal niatku datang hanya untuk melihat kondisi keponakanku saja. Nyatanya, kalian belum berubah sama sekali. Kesalahanku memang bukan kesalahan kecil, tapi kalian tidak berhak menganggapku sebagai orang yang bodoh sepanjang masa hidupku," ujar Mas Arlan.


"Kamu memang bodoh, Arlan. Kamu lagi-lagi, terlibat dalam penggelapan dana itu juga," jawab Pak Dian. "Sekarang sok-sokan membela Riska. Untuk apa? Untuk naik tahta lagi?"


"Lalu? Memangnya kamu bisa hidup tanpa naungan perusahaan keluarga? Jangan naif, Arlan."


"Mungkin, tidak. Tapi... mulai hari ini, saya memutuskan berhenti bekerja. Saya akan bergabung dengan Sanjaya!"


Semua mata terbelalak lebar atas ucapan suamiku. Semua rahang terjatuh menganga, termasuk diriku. Apa maksud perkataan Mas Arlan ini? Apakah ini terlalu berlebihan? Astaga!


"Ma-mas...? Maksud kamu apa...?" tanyaku lirih.


"Aku sudah cukup muak selama ini, terus diperlakukan seperti ini. Jika memang sudah tidak menerima diriku, aku bersedia pergi sekarang juga," ujar Mas Arlan.


"Arlan! Manusia macam apa kamu?! Kamu mau menjadi pengkhianat keluarga sendiri?!" Bapak Gunawan yang agung bahkan sampai berdiri dari duduknya. Beliau tidak menyangka akan niat sang adik yang juga suamiku. Bagaimana tidak? Selama ini, Mas Arlan selalu melakukan segalanya untuk mempertahankan perusahaan peninggalan sang ayah. Semua berubah, hanya karena permasalahan Celvin dan Riska, termasuk diriku yang gegabah dan ikut campur. Aku menyesal, sangat menyesal.


Kemudian, Mas Arlan membalikkan badannya dan menghampiri diriku. Ia menatapku dengan lesu. Tampaknya sedang menahan kesedihan yang luar biasa. Lantas, aku menerima dirinya dan kupeluk erat. Ya! Mungkin cukup disini, suamiku menjadi bahan kebencian oleh keluarganya sendiri.


"Baiklah! Jika itu maumu, pergilah kalian dari sini! Jangan pernah kembali, barang sekali saja!" tegas Bapak Gunawan.


Mas Arlan melepaskan pelukannya dariku. Ia menatap sang kakak lagi. "Hubungan darah tidak akan pernah hilang, Mas. Dalam kepergianku dari keluarga ini, aku minta Mas Gun berpikir secara sehat. Lindungi hati dan raga anakmu. Cintanya pada kekasih bukan main-main. Jangan pernah ada perjodohan," jawab Mas Arlan.


"Kau tidak perlu menasehati saya!"


"Tolong jaga Riska dan mama. Aku tetap saudara kalian dan anak dari mama. Selamat tinggal. Ayo, Dek dan emm... Celvin."

__ADS_1


Begitulah, akhir dari perdebatan tadi. Beruntungnya, aku tidak sempat melihat baku hantamnya. Bisa-bisa aku menangis hebat jika menyaksikannya. Aku dan Celvin mengikuti langkah Mas Arlan. Kami mengendarai mobil yang berbeda, lantaran membawa mobil masing-masing. Dengan membawa sejumlah lara hati, kami meninggalkan rumah megah ini. Bahkan aku belum sempat bertemu dengan ibu mertuaku. Sangat disayangkan sekali.


Sepanjang perjalanan, aku terus membayangkan kejadian yang baru saja terjadi. Tentang niatan Mas Arlan yang sepertinya tidak main-main. Akan terluka seperti apa dirinya nanti? Memutuskan hubungan dengan keluarga besar itu bukan perkara yang mudah. Yah, semoga saja Mas Arlan tetap baik-baik saja.


****


Selang waktu berjalan, aku dan Mas Arlan telah sampai di rumah. Entahlah, soal Celvin, aku tidak tahu arah mana yang ia ambil. Dengan tubuh sempoyongan, Mas Arlan masuk ke dalam rumah tanpa menungguku. Aku mengerti, saat ini hatinya sedang kacau balau. Inilah yang sempat aku khawatirkan jika ia terlalu ikut campur. Orang lain tidak selalu menerima kebaikan hatinya dan akhirnya dirinya yang hancur sendiri. Maka dari itu, aku sempat menghentikan lakunya. Namun, Mas Arlan tetap tidak mau mendengar.


Mas Arlan terduduk lesu diatas ranjang di kamar kami. Dengan ragu-ragu, aku melangkah untuk menghampirinya. Samar-samar kudengar isak tangis yang ia suarakan. "Ma-mas, a-aku minta maaf. Se-semua karna ak-"


Sebelum kuselesaikan ucapanku, Mas Arlan seketika memeluk diriku. Ia menangis meronta seperti seorang anak kecil. Sampai akhirnya, aku tersugesti dan ikut menitikkan air mata. Hatinya pasti hancur berkeping-keping. Mas Arlan terus meraung yang terdengar begitu memilukan.


Suamiku sayang. Suamiku yang malang.


"Ini waktu kamu buat istirahat, Sayang," ujarku.


"Maaf, Dek. Maafin Mas, kamu harus menjadi istri orang bodoh seperti ini. Maafin Mas, Dek."


Kulepas pelukan suamiku. Mataku menatapnya dan menelungkupkan kedua telapak tanganku di wajahnya. Aku mengusap air mata yang membasahi pipinya. "Kamu nggak bodoh, Mas. Kamu hanya terlalu baik, kamu udah banyak berjuang. Ini bukan pilihan yang tepat. Kita do'akan saja, mereka segera mendapat hidayah dan hikmah dibalik semuanya."


"Mas saat ini, udah seperti manusia sebatang kara, Dek. Mas membuang diri sendiri dan mengkhianati keluarga. Aku ini manusia macam apa, Dek? Mas menyesal nggak mendengar ucapan kamu. Mas sekarang pengangguran, Sayang."


"Jangan ngomong gitu, Mas. Kamu punya aku, Mas. Kita akan melalui semuanya dengan baik. Kita akan merintis usaha sendiri dan sukses besar. Aku akan menemani kamu dari nol, Sayang."


"Jangan pernah tinggalin Mas, Dek. Mas sayang kamu dan Selli. Kalian orang yang tidak akan pernah tergantikan. Seandainya aja, Mas bisa bawa mama kesini, pasti semua akan sempurna. Tapi, Mas bukan anak yang bisa membahagiakan beliau yang udah renta."


"Aku dan Selli selalu disini. Mama akan baik-baik aja, Mas. Kita do'akan."


Mas Arlan memeluk diriku lagi. Tangisannya belum juga reda. Semua perkataan yang ia ucapkan tersirat beberapa penyesalan. Suaranya parau dan terdengar sangat memilukan. Suamiku sedang diberikan ujian terberat dari Tuhan. Baru kali ini, aku melihat Mas Arlan tidak berdaya. Yah, ia selalu berjuang sendiri demi orang-orang tersayang, demi diakui kembali oleh anggota keluarganya. Namun, nyatanya tidak semua bisa berjalan dengan lancar.


Mungkin, jika tidak ada permasalahan Riska dan Celvin, Mas Arlan akan tetap berjuang sampai titik darah penghabisan. Ia rela diinjak-injak oleh keluarganya sendiri atas dasar satu kesalahannya dimasa lalu. Biarlah, saat ini ia beristirahat dulu.


Aku tahu, jika seperti ini sesuatu apa yang bisa membuatnya tenang. Kuberanikan diriku untuk memberikan kewajibanku sebagai seorang istri. Aku memandang wajah suamiku yang masih bengap. Aku ragu dan menghentikan rencanaku. Namun, ia menangkap wajahku seketika. Dan benar saja, aku menjadi penghibur lara di hatinya. Mas Arlan mengecup bibiirku dengan gerak tangan yang mulai tidak menentu. "Mas sayang sama kamu, Dek. Jangan pernah tinggalin Mas ya...?" bisiknya.


Aku mengangguk pelan. "Tenang aja, Mas," jawabku.


Setelah itu, sesuatu yang luar biasa terjadi. Aku tidak keberatan, jika hal itu bisa membuat Mas Arlan kembali tersenyum. Kami jatuh ke dalam suasana manis milik sepasang suami istri. Sejenak melupakan masalah dengan langkah yang positif dan tentunya romantis.


Setelah ini, kami perlu menata hidup yang baru.


Bersambung...


Budayakan like+komen...


Ya Allah, masalah milik siapa. Yang sakit siapa? Hehehehe..

__ADS_1


__ADS_2