
Pagi-pagi buta, bukan! Maksudku waktu dimana adzan subuh berkumandang. Aku berusaha membangunkan diri. Dan lagi-lagi harus merasakan mual yang tidak terkira. Aku rasa morning sickness ditahap trimester awal ini belum juga kelar. Membuatku lemas setelah membuang rasa hoek tersebut.
"Uh ...." Aku membungkam mulutku menggunakan salah satu telapak tanganku. Dengan susah payah, aku menuruni ranjang ini. Langkahku tergopoh-gopoh pada saat berjalan menuju pintu keluar. Aku buka pintu tersebut pada saat telah sampai. Lalu melanjutkan langkahku ke kamar mandi terdekat. Oh ... nikmat ibu hamil seperti ini ternyata. Pagi-pagi buta sudah dibangunkan dengan reaksi alami seperti ini.
Memang tidak ada kamar mandi didalam kamarku, namun beruntungnya ada di lantai dua. Sehingga tidak perlu berjalan jauh sampai bawah. Aku rasa, Mas Arlan sempat membangunnya untuk Nia. Ah ... Nia lagi, bukan hanya bekas suaminya, melainkan bekas fasilitasnya telah aku pakai. Seolah seperti orang yang menjilati sisa makanan dari orang lain.
"Huuuk! Uhuk." Hasil dari rasa mualku keluar sudah. Namun tetap berlanjut. Sampai tiba-tiba seseorang menekan tengkuk dan punggungku. Sepertinya Mas Arlan. Ternyata ia sampai ikut terbangun. Dengan sabar Mas Arlan memijit leher dan area punggung atas untuk membantuku mengeluarkan semua rasa mualku tanpa rasa jijik sekalipun.
"Si Dede' pagi-pagi udah nakal nih," ujarnya.
"Uh ... nggak tahu, Mas. Padahal masih subuh gini."
"Sabar ya, Sayang. Demi anak kita. Maaf Mas nggak bisa membantu menghilangkan rasa sakitnya."
"Iya, Mas. Aku masih bisa tahan kok. Lemes banget tapi kalau habis seperti ini."
"Ya udah, Mas bantu berdiri. Mas tunggu disini, Sayang."
"Makasih, Mas."
Rasa lemas menyerang tubuhku sungguh tidak terkira rasanya. Seakan kedua kaki besarku sudah tidak sanggup menopang berat badanku. Namun, inilah nikmat seorang ibu. Aku harus bertahan selama sembilan bulan sampai aku bertemu calon anakku. Disisi lain, aku merasa beruntung karena Mas Arlan sangat sigap. Betapa sabar dirinya dalam merawat diriku. Tidak pernah merasa sebal atau jijik sekalipun. Gerak tangannya selalu lembut dalam memperlakukan diriku.
Sampai akhirnya semua gejolak didalam tubuhku selesai. Mas Arlan masih setia membimbing langkahku keluar dari kamar mandi ini. Bahkan sesekali ia memastikan bahwa diriku masih baik-baik saja. Diusapnya air mata yang keluar membasahi pipiku. Ditopangnya perutku yang buncit oleh salah satu telapak tangannya. Oh ... andaikan aku lebih kurus, mungkin ia sudah menggendong diriku menuju kamar lagi. Ah ... sudahlah, diperlakukan se-demikian rupa sudah sangat cukup, bahkan melebihi ekspetasi.
"Mas, jangan ke kamar lagi," ujarku sembari menghentikan langkah kami yang tinggal beberapa langkah lagi menuju kamar. Aku teringat akan ibadah subuh yang belum dilaksanakan.
"Mau shalat ya, Dek? Kamu kuat shalat di bawah? Kalau nggak ya di kamar aja, nggak apa-apa. Ambil wudhunya di situ aja."
"Enggak ah, aku mau ikut jama'ah. Lagian kurang cocok aja kalau wudhu di kamar mandi. Padahal ada tempat yang disediakan."
"Kamu yakin? Masih lemes, kan?"
Aku mengangguk pelan. "Yakin, Mas. Kamu bangunin Selli gih. Ajarin bangun pagi."
"Ya udah, kamu tunggu disini, Dek. Mas ke kamar Selli dulu."
"He'em."
Mas Arlan melepaskan diriku perlahan, kemudian ia menuju kamar Selli. Aku memilih untuk duduk di lantai ini lantaran belum memiliki daya yang penuh. Sembari menunggunya, aku mencoba membuat diriku lebih tenang.
Terpejam sesaat menunggu suami dan anakku. Sepertinya Selli masih sulit untuk dibujuk. Hal ini membuat kami belum bisa menyamankan hati. Bagaimana tidak, otak anakku sudah dicuci oleh Nia. Hal sekecil apapun yang bertentangan dengan sugesti yang Selli terima akan sangat mempengaruhi jiwa dan pemikirannya. Entah dengan langkah apa nanti, supaya kami bisa membersihkan virus kejahatan sang ibu di benak Selli.
Aku termangu begitu lama. Menunggu keduanya keluar dari kamar putriku. Menghela dan mengembuskan napasku. Apa yang tengah terjadi didalam sana? Atau mungkin Mas Arlan masih kesulitan dalam membujuk Selli, meski hanya bangun sebentar untuk melaksanakan ibadah pagi ini? Oh ... anakku.
Tak ingin menunggu terlalu lama lagi, aku berusaha bangkit kembali. Batas waktu untuk ibadah subuh masih tetap berjalan. Aku tidak ingin kami terlambat, terlebih Mas Arlan sudah bolos untuk berangkat ke masjid. Dengan langkah pelan, aku menuju kamar putriku. Berharap suasana didalam sana masih kondusif, atau bisa dibilang hubungan keduanya sudah membaik. Namun entah, walau kenyataan terkadang jauh lebuh sulit.
__ADS_1
Sesampainya disana, aku membuka pintu kamar Selli yang tidak terkunci. Melongok sebentar, kemudian masuk. Dan benar saja, Mas Arlan masih berusaha meminta maaf pada putrinya. Berujar beberapa kata sembari membelai halus kepala Selli yang posisinya sedang tengkurap, seolah tidak ingin memandang wajah sang ayah.
Jiwaku tergugah, bukan bahagia, melainkan miris dibuatnya. Hatiku bak tersengat lebah, sakit, mungkin tertoreh goresan luka pada saat melihat pemandangan tidak bagus ini. Langkahku yang mulai mendekat, membuat mataku bisa memastikan apa yang dilakukan Selli sekarang. Ya, ia masih membenci Mas Arlan. Ia tengkurap, menutup wajahnya menggunakan kedua telapak dan bahkan terdengar senggukan tangisan dari bibir kecilnya.
"Sayang, maafin Papa." Ya, kalimat itu yang terus terucap dari bibir suamiku untuknya. Berharap, supaya putrinya memberikan maaf dan pelukan seperti hari-hari bahagia sebelumnya. Namun apa mau dikata, justru anak kecil jauh lebih sulit dihadapi daripada orang yang lebih dewasa.
Selli terus mengunci tatapannya, supaya tidak menatap Mas Arlan. Sedang belaian lembut suamiku masih setia untuk merapikan rambutnya. Hatiku bimbang, perkataan Selli dihari kemarin membuatku bernyali ciut. Ucapan yang mengatakan bahwa aku hanyalah sekedar ibu tiri, bukan ibu yang melahirkan dirinya. Ironis sekali, anak sekecil itu mampu mengeluarkan statment yang mungkin terdengar ambigu untuk seorang bocah. Yah, kecuali kalau ada yang mengajarinya.
"Maaf, maaf Selli. Mama dan Papa udah bikin Selli menangis," ujarku. Sembari mengucap kata itu, aku duduk di tepian ranjang milik Selli. "Kami berjanji nggak akan mengulangi ucapan jahat itu lagi pada Mama Nia. Ingatlah, Nak. Allah maha pemaaf, masa' Selli enggak? Apalagi kalau Selli nggak mau shalat."
"Papa yang salah, Sayang. Papa takut kehilangan Selli. Papa sayang banget sama Selli. Apa Selli tetap nggak mau memaafkan Papa seperti Allah memaafkan Papa?" sambung Mas Arlan. Namun Selli masih tetap bungkam.
Kuhela napasku perlahan-lahan, bukan! Rasanya udara memang sedikit menyesakkan. Entahlah. "Selli?"
"...."
"Baiklah, Mama Fanni dan Papa enggak akan memaksa lagi. Biarlah kami yang dihukum sama Selli. Dan biarlah Selli dihukum sama Allah karena enggak memberikan maaf pada orang tua." Berikut kata terakhir yang aku ucapkan sebelum akhirnya memasrahkan semuanya pada sang Pencipta. Kali ini, Selli sudah termakan bujuk rayuan ular. Pasti akan sulit dihentikan. Aku akan tetap berjuang, namun bukan terus mengemis. Yang ada anakku malah merasa berkuasa, setidaknya harus ada sedikit ketegasan untuk dirinya. Ia masih sangat kecil untuk menjadi manusia angkuh, bahkan tidak akan aku biarkan ia menjadi seperti itu.
Semoga gertakanku berhasil membuatnya terpengaruh, namun dalam hal yang baik. Lalu aku meminta Mas Arlan untuk turun, meski ia masih tidak rela meninggalkan putrinya. Namun kami harus bagaimana lagi? Waktu ibadah sudah semakin mendekati batas yang ditentukan. Setidaknya kami harus mengutamakan ibadah terlebih dahulu. Masalah apapun pasti akan terselesaikan ketika kita masih mengingat Tuhan, bukan?
"Mas bingung, Dek," ujar Mas Arlan disela langkah kami menuju mushola rumah ini. Ia menunduk gusar. Sedangkan tangannya memapah langkahku, khawatir diriku terjatuh.
"Sabar, Mas. Selli anak baik dan pintar. Mungkin sedang kecewa, tapi aku yakin bisa cepat kembali seperti semula," jawabku. Walau didalam hatiku belum yakin tentang itu, mengingat Nia terus meracuninya banyak hal buruk yang tidak kami ketahui secara pasti. Namun mungkin dugaanku padanya benar, secara Selli bersikap se-demikian rupa.
"Kalau Selli akan seperti ini dalam waktu yang lama, gimana? Apa sih yang dikatakan Nia padanya?"
"Mas rasa hal yang buruk. Nggak mungkin Selli yang selalu diam, tiba-tiba kayak gitu. Pake belain dia segala lagi."
"Sssstttt ... nanti dia denger, Mas. Nggak akan selesai kalau kamu emosi terus. Hati-hati kalau mau berucap untul saat ini. Selli masih kecil. Belum tahu mana yang bener mana yang salah. Sabar."
"Maaf, Dek. Mas cuma kesal."
"Ya udah, subuh dulu. Udah hampir setengah enam nih. Ambil wudhu, kali ini kamu pimpin aku. Maaf gegara aku, kamu sampai bolos ke mesjidnya, Mas."
"Iya, Sayang. Nggak apa-apa. Kamu hati-hati ya? Jangan sampai kepleset."
Aku mengangguk. Lalu, aku dipinta lebih dulu untuk mensucikan diri. Tentunya dengan penjagaan dari Mas Arlan yang tidak jauh dari posisiku. Air yang dingin kubasuhkan dibeberapa bagian tubuhku sesuai tata caranya. Seolah memberikan kesegaran untuk mata, bahkan semuanya. Inilah salah satu bentuk cinta dari sang Maha Kuasa pada hamba-Nya, melalui perantara air namun mampu memberi kesejukan. Bukan hanya di kulit, melainkan juga di hati dan jiwa.
Selepas diriku, kini berganti Mas Arlan. Aku melangkah lebih dulu ke dalam mushola rumah ini. Baiknya aku menunggu Mas Arlan untuk mengimami ibadahku. Suatu hal baik yang sering terjadi dikehidupanku saat ini. Sedangkan Bi Onah, mungkin sudah mendahului. Ya, wajar.
"Ayo, Dek. Kita mulai, sebelum matahari terbit," ajak Mas Arlan yang telah selesai. Ia mengenakan sebuah sarung yang memang tersaji di tempat ini.
"Iya, Mas."
Selanjutnya Mas Arlan mulai membaca niat sama halnya denganku. Dan tata cara berikutnya. Satu rakaat sampai kedua disertai bacaan-bacaan yang sudah diatur untuk dilaksanakan. Selesai, lalu dzikir pendek. Aku menyambut telapak tangan suamiku lalu kukecup. Ia tersenyum dan membalas kecupan di keningku. Begitulah pagi ini aku melaksanakan ibadahku bersama suami. Meski ada yang kurang yaitu Selli.
__ADS_1
****
Selepas subuh, Mas Arlan membujuk diriku untuk kembali beristirahat. Sebenarnya aku tidak bersedia, lantaran tidak baik saja rasanya untuk kembali tidur. Namun gejolak mualku subuh tadi membuat dirinya teramat khawatir. Soal desakan darinya sungguh tidak bisa kulawan lagi. Akhirnya aku menuruti. Tentunya setelah membasuh wajah dan sikat gigi, supaya lebih nyaman.
Dan kini aku sedang duduk sembari meluruskan kedua kakiku di atas ranjang kami. Segelas susu hangat telah tersaji di meja kecil yang berada di samping posisi dudukku. Ya, Mas Arlan yang membuatkannya.
"Minum dulu susunya, Sayang."
"Iya, Mas. Sini dulu, masih pagi kok."
"Emm ... Mas mau lihat Selli lagi."
"Oh, gitu. Ya udah, tapi pelan-pelan aja, Mas. Jangan terlalu ditekan juga. Kayaknya ucapan terakhir padanya juga terbilang keterlaluan. Maaf, Mas. Aku agak sebel sih gegara Nia."
Mas Arlan menghela dan mengembuskan napasnya. Ia duduk di tepian ranjang dan mendekatiku. "Kalau kamu merasa seperti itu ya jangan diulangi lagi ya, Dek. Takutnya Selli malah berpikiran negatif tentang kamu. Kan kata kamu, kita harus lebih berhati-hati."
"Iya, Mas. Maaf, aku nggak akan begitu lagi. Nanti aku minta maaf lagi."
Cup! Kecupan manis sebagai ungkapan selamat pagi mendarat di keningku. Mas Arlan tersenyum, ia berusaha memaklumi atas perkataanku pada Selli beberapa waktu yang lalu. Perkataan tentang Tuhan yang akan menghukum Selli jika tidak memaafkan kami. Kini aku menyesal, seharusnya aku tidak mesti mengucapkannya. Bagaimana kalau ia menilaiku lebih jahat karena mendo'akannya yang tidak baik? Namun apa mau dikata, hal itu sudah terlanjur.
Tiba-tiba pintu kamar kami diketuk dari luar beberapa kali. Yang aku pikir adalah Bi Onah, namun sepertinya bukan.
"Mama, Papa, Selli boleh masuk enggak?" Suara itu adalah milik putriku. Sontak, tatapanku dan Mas Arlan saling memandang. Tanpa menjawabnya, Mas Arlan segera bergegas berjalan ke arah pintu.
"Selli?" ujarnya tertegun sebentar. Kemudian dipersilahkannya Selli untuk masuk ke dalam. Namun bukannya masuk, ia malah memeluk erat tubuh Mas Arlan. Tentunya sesuai tinggi badannya yang hanya sampai di pinggang Mas Arlan.
"Papa, Selli minta maaf. Selli enggak mau dihukum sama Allah. Tadi Selli udah shalat sendiri di kamar kok."
"Wah! Putri Papa emang pinter banget hihi." Mas Arlan merunduk. Ditangkapnya tubuh Selli untuk digendongnya. "Tentu, Papa memberi maaf untuk Selli. Karna Papa juga nggak mau dihukum sama Allah. Jadi, Selli juga maafin Papa, kan?"
Selli mengangguk pelan. "Iya, Pa. Selli maafin Papa. Tapi Papa harus janji ya? Papa enggak boleh ngomong yang jelek-jelek sama Mama Nia."
"I-iya, Papa janji kok."
Ya, aku bersyukur. Sepertinya ucapan yang sempat aku sesali malah berhasil mempengaruhi hati Selli. Meski ia masih saja melindungi nama Nia, dan hal itu berhasil membuat hatiku bergetar. Namun apa boleh buat, kami tidak bisa memaksanya untuk menjauhi Nia secara terang-terangan dan terburu-buru. Setidaknya saat ini, hubungannya dan Mas Arlan sudah kembali seperti sedia kala.
"Selamat pagi, Dede' bayi. Ada Kakak Selli disini," sapa Mas Arlan pada anak didalam kandunganku sembari membelai halus perutku.
"Dede' bayi cepat keluar ya? Biar Selli punya teman main. Nanti Selli beliin cokelat," sambung Selli bersama tingkah polosnya.
Aku tersenyum, lantas menjawabnya, "sabar ya, Sayang. Dede' bayi masih mau bermanja-manja sama Mama hehe."
"Selli sabar kok, Mama Fanni."
Bersambung ...
__ADS_1
Budayakan tradisi like+komen