
Pagi sekali, tepatnya sehabis subuh. Aku berencana ingin pulang ke apartemenku. Mengingat aku tidak meninggalkan satu helaipun pakaian yang pantas aku gunakan untuk bekerja di rumah ini. Tanpa mandi dan hanya cuci muka bekas berwudhu, aku akan berangkat.
Aku menengok sekilas dari ambang pintu. Langit masih lumayan gelap. Wajar saja, waktu masih menunjukkan pukul lima pagi. Udara dinginpun masih menusuk melewati tumpukan lemak tubuhku. Aroma harum khas masakan ibuku, menambah syahdunya pagi ini.
"Sayang, Fanni?" ujar ibuku memanggilku sebelum aku melangkahkan kaki keluar.
"Ya ma," jawabku.
"Bawa ini buat sarapan ya."
Dua rantang berisi makanan, beliau berikan padaku. Aromanya begitu wangi menggugah selera lidah. Aku tersenyum. Dengan senang hati aku menerimanya dari tangan ibuku.
"Makasih mama cantik," kataku sembari bergelayut manja.
"Makanya belajar masak," balas ibuku.
"Kapan-kapan ma, masih sibuk hehe."
"Fann, Fann kerja mulu kamu, cari cowok sana."
"Entar dateng sendiri ma."
"Heleh... dari dulu juga gitu ngomongnya. Coba aja tuh sama bos kamu yang katanya ganteng hehe."
"Mama, mimpi!"
"Yee... dibilangin kok."
"Udah ah, aku mau balik dulu. Salam buat papa sama kakak ya."
"Hmm... yaudah hati-hati kamu sayang, jangan terlalu memaksakan diri ya nak."
"Iya ma, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumssalam."
Aku berlalu meninggalkan rumah dan ibuku. Karena ayah dan kak Pandhu belum juga bangun dari tidur. Aku pergi tanpa berpamitan dengan mereka.
Setelah memasuki mobil merah kesayanganku, aku memacunya perlahan keluar dari rumah setelah membuka gerbangnya. Dengan kecepatan sedang dan iringan lagu-lagu melankolis. Tenang sekali rasanya.
Suasana jalan perkotaan yang aku lewati masih saja sepi, hanya terlihat beberapa pedagang yang hendak membuka lapaknya. Polusi tak terlalu pekat, pengamenpun tak terlihat. Aku terlena seperti berada dalam sebuah film. Mungkin, karena jarang sekali aku keluar sepagi ini.
****
Mentari perlahan menampakkan sinar cerahnya dan aku sudah sampai di apartemenku beberapa menit setelah perjalananku. Setelah sampai didalam, aku kembali membaringkan tubuhku pada ranjang. Tanganku mengotak-atik ponsel yang abaikan sedari malam.
"Busyet!" ujarku ketika mendapati dua puluh pesan masuk dari Mas Arlan.
Drrtt... Drrttt... Drrtt...
Ponselku bergetar, menandakan seseorang sedang menelepon. Aku terkesiap, nomor yang tidak aku kenal terpampang disana. Gugup sekali, aku takut untuk mengangkatnya. Aku khawatir itu Mas Arlan, aku belum siap bicara dengannya lagi.
"Ha-halo, dengan siapa?" jawabku tergagap.
"Halo juga Fanni," jawab sang pemilik nomor yang merupakan seorang pria. Rasanya, suara tersebut tidak asing.
"Pak Celvin?"
"Hehe... udah hafal ya?"
"I-iya Pak, ada apa ya?"
"Kamu baru bangun ya?"
"Enggak kok Pak, daritadi."
"Masa'?"
"Bener Pak."
"Iya saya percaya sama kamu."
"Kenapa Pak?"
"Nggak apa-apa, tapi berangkat lebih awal ya Fanni."
"Baik Pak."
"Saya ada pembahasan sedikit sama kamu, dihitung lembur kok... jam tujuh kalau bisa sampe kantor ya."
"Baik Pak."
"Yasudah saya tutup ya?"
__ADS_1
Sebelum aku menjawabnya, Celvin sudah mematikan panggilannya. Sepertinya ada masalah penting. Padahal aku masih ingin rebahan. Kesibukan sudah datang tiba-tiba.
Haruskah aku bersyukur karena dapat lembur?
Sudahlah! Daripada menggerutu, aku lebih baik bersiap-siap. Jarum jam terus berjalan. Aku tidak ingin telat pastinya. Aku tidak ingin mengecewakan si bos ganteng tersebut.
Aku bergegas mandi, lalu berdandan dan sarapan disertai ritual lain. Beruntung, aku sangat rajin menyetrika baju-bajuku. Sehingga tidak membuatku gugup dan kewalahan.
Tepat pukul enam, aku melaju mobilku untuk berangkat. Aku berharap tidak menemui kemacetan di jam sekarang ini. Aku dan mobilku bergerak meninggalkan apartemen. Menyusuri jalanan kota lagi yang sudah ramai.
Drrtt... Drrtt... Drrrttt..
Lagi-lagi ponselku bergetar. Aku rasa itu adalah Celvin, jadi aku membiarkannya. Toh, aku sudah dalam perjalanan.
Sialnya getaran itu terdengar lagi sampai empat kali. Mau tak mau, aku meminggirkan mobilku sejenak. Dan meraih ponsel dalam ransel tanpa melihat siapa yang menelepon.
"Halo Pak, saya dalam perjalanan," ujarku tanpa basa-basi.
"Maaf dek, aku Arlan," jawab sang penelepon.
"Ahh, mas... ma-maaf aku sibuk mas."
Oh shit! Aku terperanjat bukan kepalang. Mungkin terlihat berlebihan, namun itulah yang aku rasakan. Jempolku bergerak sigap mematikan panggilan tersebut. Aku tidak tau apa yang dipikirkan Mas Arlan sekarang.
Namun, aku masih sangat panik. Meski hanya via suara.
"Maaf mas," gumamku sendiri.
Kemudian, melanjutkan perjalananku dengan hati gelisah. Tidak! Jangan kacau dulu. Akan ada pekerjaan yang lebih penting menanti. Aku harus fokus.
Beberapa saat kemudian, sampailah aku di kantor. Aku membuka kaca jendela mobil. Sapaan dalam bentuk senyuman diberikan oleh setiap security yang aku temui. Dan aku membalasnya sama ramahnya.
Setelah memarkir mobilku ditempat biasa, aku berjalan lebih cepat. Setidaknya, aku tidak ingin kalah cepat dengan Celvin. Aku melewati lorong, lantai dan lift yang sama seperti biasanya. Masih sepi, mungkin Celvin juga belum datang. Aku tidak tau pasti, karena tak melihat keadaan tempat parkir.
"Fanni?" panggil seseorang dari arah belakang.
"Eh... pagi Pak," jawabku, Celvin tampak disana setelah aku menengok sumber suara.
"Pagi juga, buru-buru banget?"
"Saya takut telat Pak."
"Haha, masih lewat dua puluh ini."
"Hmm... karyawan teladan. Saya suka... hehe."
Suka? Suka yang bagaimana maksudnya? Ambigu sekali jika Celvin yang berkata. Aku bingung akan menyimpulkan bagaimana, dan hal itu tentu saja membuat wajahku memerah bagaikan kepiting rebus.
"Hei jangan bengong, ayo masuk," ajaknya.
"I-iya Pak," jawabku gugup.
Entah pikiran aneh macam apa yang tumbuh dalam benakku. Mustahil sekali, jika Celvin menyukaiku menggunakan hati. Lebih baik, aku tidak memikirkannya lagi. Persoalan dengan Mas Arlan saja belum kelar. Mau sok cantik bagaimana lagi?
"Dasar aku," gumamku lirih sembari menepuk jidatku sendiri.
Aku masuk kedalam ruangan dan Celvin memberikan intruksi agar aku duduk di tempat kerjanya. Ia menggeser kursinya sendiri disamping siku kerja dan aku disebelahnya.
"Nih Fann, saya mau bahas ini," ujarnya memulai meeting kecil ini.
"Iya Pak," jawabku.
Aku meraih map yang berisi laporan tersebut. Aku membaca banyak sekali orang yang memutuskan kontrak sewa apartemen serta pembatalan beberapa pembelian perumahan.
Aku terkesiap. Mengapa sedrastis ini penurunannya? Padahal dari dua bulan kemarin masih banyak peminat. Entah dari penjualan ataupun sewa apartemen maupun hotel.
"Saya bingung penyebabnya dimana Pak?" kataku.
"Iya Fann, sama halnya saya. Harga masih sama saja, entah itu harga jual ataupun sewa, tapi banyak orang yang memilih out setelah kontrak tahun ini," jawab Celvin. "Belum lagi, beberapa kios mall kita juga kosong," lanjutnya.
"Memang sidikit membingungkan Pak, tapi ini juga nggak wajar sih."
"Iya betul, kayak ada yang nggak beres."
"Lalu kita harus bagaimana Pak?"
"Selidiki dulu masalahnya, dan atur strategi baru untuk proyek baru, nanti saya juga akan meeting sama beberapa klien dan pemegang saham yang lain."
"Saya akan atur sebaik mungkin Pak."
"Emm... satu lagi, jangan dibicarain sama yang lain dulu ya, saya mau selidiki dulu."
"Baik Pak."
__ADS_1
"Yasudah atur beberapa strategi baru dan kurangi kerugian gedung, bahas sama Mita."
"Mi-mita?"
"Ya, kenapa?"
"Anu... enggak kok Pak hehe."
Sebuah kesialan yang hakiki, aku harus bekerjasama dengan Mita. Bicara saja tidak bisa, apalagi bekerja. Bisa-bisa tidak membuahkan hasil apapun. Namun, bagaimana caranya aku menolak? Tentu tidak bisa bukan?
Aku kembali ke tempat kerjaku sendiri sembari menunggu kedatangan Mita yang tidak aku inginkan. Sedangkan Celvin sudah pergi meninggalkan ruangan setelah melakukan panggilan dengan seseorang.
KREEETTT!
Pintu terbuka lebih tepatnya dibuka oleh seseorang. Ya! Setan cantik itu bergerak masuk.
Untuk sejenak, ia menatapku tajam dengan kedua tangan yang disilangkan kedepan. Tampaknya ia malas dan kesal. Ingin rasanya membalasnya dengan lebih sengit, namun aku takut akan memperkeruh suasana. Aku khawatir kami tidak membuahkan hasil kerja yang baik.
"Duduklah," kataku.
"Cih!" balas Mita.
"Gue tau loe ogah, tapi gue lebih dan lebih ogah."
"Songong amat loe, harusnya gue yang duduk disitu bukan loe kayak babi gitu, Gak co-."
"Diam dan duduk atau gue laporin Pak Celvin, gue udah rekam kata-kata loe di ha-pe."
"Sial!"
Mita akhirnya bersedia untuk duduk. Tentu saja dengan sangat terpaksa, sepertinya bualanku cukup mempengaruhi dirinya. Aku menyerahkan laporan tersebut pada Mita, dan meminta sedikit pendapat dan idenya.
"Gimana menurut loe?" tanyaku.
"Loe pikir aja sendiri!" jawabnya bengis.
"Oke, gue bakal bilang ke Pak Celvin."
"Pengecut! Ngancem mulu loe!"
"Jangan kayak bocah loe!"
"Sial!"
Mita mengambil sebuah bolpoin dan selembar kertas putih. Aku tidak tau akan menulis apa ia dengan benda tersebut. Aku hanya menghela dan menghembuskan lagi nafas kesal. Kami sama-sama terdiam tanpa ada komunikasi yang baik.
Hingga beberapa saat kemudian, Mita tampak bergerak untuk berdiri. Ia menatapku dengan tatapan yang masih tajam. Lalu melemparkan kertas yang baru saja ia gunakan untuk menulis.
"Gue udah tulis pendapat gue, dan selesein sendiri, dan sorry ya gue nggak bakal kerja sama ama loe langsung dari bibir, bikin muntah!"
BRAAKK!
Mita pergi diiringi suara pintu yang ia banting dengan keras. Aku mengepal kedua telapak tangan dan berekspresi geregetan. Aku rasa Mita bukanlah manusia yang bisa dimanusiakan. Ia sama sekali tak punya hati damai.
Aku membaca beberapa ide dari Mita yang ia tulis secara berurutan dengan angka. Kuakui gaya tulisannya memang sangat bagus dan rapi, meski dalam keadaan kesal. Mungkin ada beberapa ide yang menurutku konyol. Namun ada juga yang menarik dan bisa membantu perusahaan.
Aku tinggal merangkum dan menyusunnya menjadi sebuah berkas strategi dengan rapi. Tentu saja, digabung dengan beberapa ideku yang menurutku brilian. Aku berusaha sebaik mungkin.
Drrtt... Drrtt... Drrtt...
Ponselku bergetar. Mau tak mau aku meraihnya dan mengangkatnya tanpa melihat layarnya lagi.
"Ya halo," sapaku.
"Dek, kamu masih marah sama mas?" kata Mas Arlan yang ternyata meneleponku lagi.
"A-anu mas, maaf aku lagi sibuk banget."
"Jangan bohong dek, kalau sibuk kenapa angkat telpon mas? Kamu ngindarin mas?"
"Enggak mas."
"Tapi kenapa dari semalem nggak bales chat dari mas?"
"Enggak apa-apa, pokoknya udah dulu ya, aku sibuk."
Aku mematikan panggilan lagi tanpa meminta persetujuan dari Mas Arlan. Aku terdiam sejenak lalu berusaha menenangkan diri dan mengembalikan fokusku. Masih ada yang lebih penting.
Aku masih butuh waktu.
Bersambung...
Budayakan tradisi like+komenn yaaaaaa...
__ADS_1