Aku GENDUT!!!

Aku GENDUT!!!
Pertanyaan


__ADS_3

Aku masih terbayang raut kesal dari wajah Riska yang ayu. Hatiku menerka-nerka apa yang telah terjadi sebelum ia berlalu pergi. Celvin pun tak kunjung mau keluar. Padahal aku sendiri juga sangat lapar, ingin makan siang.


Karena sudah tidak tahan, akhirnya aku memutuskan untuk menghampiri keberadaan Celvin. Aku melangkah dengan sangat pelan-pelan.


Disaat telah sampai didepan pintu executive room tersebut, aku menjadi ragu. Mau bagaimana pun Celvin tetap atasanku yang memiliki privasi. Meski, ia telah menginginkan aku agar menjadi teman atau sahabatnya.


Aku tak langsung membuka pintu, namun sudah memeganginya. Benakku mengingat tentang ucapan Ivan mengenai hubungan Celvin dan Riska. Jika apa yang Ivan ucapkan benar. Maka memang telah terjadi sesuatu diantara mereka.


"Baiklah, tenang Fann. Ayo masuk! Demi sesuap nasi!" ujarku untuk diri sendiri.


Pintu executive room tersebut aku buka perlahan-lahan. Satu kaki gajahku mulai melangkah masuk. Namun, akhirnya mulai berhenti lagi. Celvin tampak melamun. Entah apa yang dipikirkannya kini.


Aku cemas tapi aku takut Celvin akan marah padaku. Rasa tidak enak serta tidak nyaman terus berkecamuk didalam hatiku. Untuk sesaat aku terdiam bimbang dengan posisi satu kaki kanan didalam dan satu kaki kiri berada diluar ruang makan mewah tersebut.


"Fann!" seru Celvin padaku.


"Ehh... iya iya Pak eh Vin," jawabku gelagapan karena kaget.


"Ngapain? Mau main kuda lumping?"


"En-enggak kok hehehe."


"Masuk aja, kita sekalian makan disini aja ya?"


"Disini?"


"Iya, kenapa?"


"Mehong Vin."


"Apaan mehong?"


"Mahal lho."


"Astaga, udah tua masih alay aja."


"Tomi yang ngajarin kok."


"Tomi? Tomi siapa?"


"Cowok cantik yang sering sama aku hehe."


"Owalah dia toh."


"Iya."


"Hmm... ada-ada aja deh."


Aku mulai memberanikan diri melangkah masuk semakin dekat dengan atasanku tersebut. Ia hanya memberikan isyarat agar aku duduk di tempat yang telah digunakan Riska.


Setelah itu, Celvin tampak memanggil seseorang yang tidak lain adalan pelayan. Ia memesan banyak menu makanan untuk kami. Lidahku kelu diiringi saliva yang tertelan. Bola mataku berkedip-kedip beberapa kali karena sempat melotot takjub.


Menu makanan yang ia pesan tidak main-main. Diantaranya adalah daging sapi yang entah apa disebutnya. Lalu menu spesial di restoran ini. Disusul dengan minuman serta desert. Harganya pun luar biasa fantastis. Bukan ratusan ribu lagi namun jutaan rupiah satu menunya. Gila!


Orang keturunan Belanda seperti aku saja sangat heran. Seolah di negara Belanda sana tak pernah kutemui orang seperti Celvin. Nyatanya darah bule yang kumiliki tidak membawaku kedalam gaya hidup tinggi. Itu terjadi karena ibuku seorang pribumi asli dari Jawa yang sangat sederhana. Aku teringat ibuku selalu menasehatiku untuk tetap hemat, selalu ingat orang yang berada di ekonomi bawah dari hidup kita.


Berbeda denganku, mungkin prinsip orang kaya seperti Celvin sangat berbanding terbalik dengan keluargaku. Aku rasa ia hanya bingung, bagaimana cara menghabiskan uangnya yang angka nolnya sulit dihitung.


Yah, biarlah. Mungkin ini rezeki. Walau sejujurnya aku sangat menyayangkan hal tersebut. Aku berandai-andai, jika saja Celvin memberiku uang cash saja untuk membeli makanan, pasti kembaliannya sangat banyak.


"Kamu laper?" tanyaku kemudian, setelah sang pelayan menyajikan menu yang telah dipesan tersebut.


"Iya laper banget," jawabnya.


"Nggak perlu sebanyak ini juga Vin, walaupun gendut makanku nggak sebanyak ini juga."


"Kenapa sih Fann? Kok jadi Ge-eR gitu, kan aku yang bakal abisin."


"What?"


"Emangnya kalau badan kurus nggak boleh makan banyak?"


"Bo-boleh sih, tapi jujur ini kayaknya lagi nyindir aku kan?"


"Hahaha, jangan negatif thinking gitulah."


"Atau karna frustasi gara-gara Riska?"


"Uhuk..."


Celvin yang sedang minum sampai terbatuk mendengar pertanyaanku. Aku segera menutup mulutku yang lancang dengan kedua telapak tanganku.


"Maaf," ujarku kemudian.


Aku menyadari bahwa aku sudah keterlaluan. Baru dianggap teman beberapa jam yang lalu saja sudah seperti ini. Aku kesal pada diriku sendiri yang bertindak seenak jidat.


"No problem," jawab Celvin.


"Kalau nggak nyaman, aku bisa cari tempat makan sendiri kok."


"Nggak apa-apa, kamu duduk disini aja Fann."


"Baik Pak."


"Fann!"


"I-iya Vin, gitu ya? Hehe."


"Susah ya?"


"Iya masih susah, kayaknya butuh adaptasi lama deh."


"Iya nggak apa-apa Fann, kata kamu juga bener kok."


"Iya ya."


"Makan dulu terus balik kantor."


"Iya."


Tentu saja lidahku masih kaku memanggil Celvin tanpa embel-embel kata "Pak". Permintaan yang aneh menurutku. Padahal sudah aku tolak disaat aku baru mulai menjabat menjadi sekretaris sekaligus asisten kerjanya.

__ADS_1


Kalau bukan karena melihat Celvin yang berlinangan air mata, aku pasti tidak akan mau. Jika orang tau pasti akan salah paham. Belum lagi kalau pak Ruddy mendengar. Mau ditaruh dimana wajahku. Aku juga khawatir sampai ke telinga mas Arlan. Aku takut ia berpikir yang tidak-tidak lagi. Sudah cukup, jangan sampai kami bertengkar.


Kupotong pelan daging sapi yang tersaji menjadi steak dihadapanku. Rasanya tidak tega untuk mengunyahnya, daging tersebut terlihat seperti berlian bagiku. Dan aku merasa akan memakan uang sebanyak itu sekarang.


Namun nafsu tetap nafsu. Aromanya yang harum segera menghapus ketidakrelaanku. Apalagi sejak tadi, perutku sudah merintih karena lapar. Dengan perlahan kugigit sang daging yang super mahal tersebut.


Wow! Makanan orang kaya memang enak. Dagingnya empuk seperti brownies. Terasa lumer dilidah. Aku sampai terkesiap dibuatnya. Segera kuhentikan wajah kampunganku, sebelum Celvin mengetahuinya. Aku terlalu malu untuk ditertawakan olehnya.


"Gimana? Enak nggak?" tanya Celvin padaku.


"Lumayan," jawabku.


"Lumayan doang?"


"Iya, masakan Mamaku lebih sedap dari ini."


"Haha... enak ya kalau ada Mama."


"Lima puluh persenlah."


"Emm... maksudnya?"


"Iya sebanding, ada enaknya ada nggaknya."


"Hmm... jangan gitu, lebih baik ada daripada nggak ada, kamu bisa jadi psikopat lho kalau kurang kasih sayang."


"Hehe, aku tetep sayang Mama kok. Gimana Mama kamu?"


"Mama?"


"Ya."


"Aku nggak tau Mamaku ada dimana sekarang."


"Ohh... maaf sekali lagi."


Celvin menghentikan aktivitas menyantapnya. Aku mengikutinya. Ia tampak sedih sekali. Aku sampai tak bisa melihatnya kecuali menunduk.


Dua kali, aku berbuat lancang seperti ini. Suasana menjadi kaku sekarang. Ingin rasanya aku beli gembok, dan mulutku kukunci rapat agar tidak bicara sembarangan. Entahlah, apa yang membuatku secerewet sekarang. Padahal biasanya, aku lebih memilih diam. Ataukah ini efek dari rasa bahagia setelah bersama mas Arlan?


"Ma-maaf Vin, aku nggak tau," ujarku memberanikan diri.


"Hehe... nggak apa-apa kok, kamu nggak salah Fann," jawabnya.


"Kita lanjut makan aja ya."


"Iya, tapi aku mau lanjut curhat sama kamu Fann."


"Soal?"


"Soal Mama, dulu waktu aku masih duduk di bangku kelas lima SD, orang tuaku bercerai. Mamaku pergi ninggalin rumah yang notabennya memang milik Papa."


"Lalu?"


"Sikap Papa berubah jauh setelah itu, beliau jadi lebih dingin padaku. Mama udah nggak peduli."


"Aku ngerti, tapi Pak Ruddy sangat baik di kantor lho."


"Iya karna Papa orang yang gila bisnis, beliau akan sangat berterima kasih pada orang yang membantu bisnisnya."


"Nggak tau, tapi itulah yang terjadi sama aku Fann. Aku dikirim jauh ke Amerika."


"Hmm... gitu ya?"


"Ehh... Fann, udah jam segini, yuk balik. Udah kan makannya?"


"Udah kok. Haduh jadi terlena deh, yaudah ayok."


Aku dan Celvin beranjak dari meja makan restoran dan berjalan dengan terburu-buru. Kami menghentikan perbincangan untuk sementara. Maksudku jika ia mengingat lagi maka akan berlanjut.


Meskipun Celvin merupakan CEO perusahaan, sikap disiplinnya patut diacungi jempol. Ia selalu datang tepat waktu, apalagi ia rajin berangkat lebih awal dari karyawan lain.


"Pak ayo!" seru Celvin pada sopirnya yang tengah berbincang dengan seorang security restoran.


"Iya Den," jawab Pak sopir tersebut.


Aku dan Celvin masuk kedalam mobil melalui pintu pada sisi yang berbeda. Setelah siap, sopir pribadi Celvin segera menancap gas untuk meninggalkan restoran.


Sejujurnya, masih ada pertanyaan mengganjal dalam hatiku tentang Celvin. Namun, apa boleh buat. Waktu terus berjalan sebagaimana mestinya. Hidangan yang bagaikan berlian pun tersisa sia-sia. Andai saja, bisa diuangkan lagi. Pasti kubungkus dan kubawa pulang.


Terik matahari seolah menembus kaca mobil milik Celvin. Rasanya gerah sekali, tak ada hujan turun hari ini. Berbeda dengan kemarin. Tampaknya alam begitu memahami situasi hatiku. Saat hatiku menangis bersedih, langit tak segan-segan menumpahkan air matanya begitu deras seperti hari kemarin. Dan di saat aku telah mendapat jalan terang, langit beserta mentarinya tampak begitu benderang.


Seperti kata kebanyakan orang, akan indah pada waktunya.


"Kamu masih laper nggak Fann?" tanya Celvin padaku.


"Nggaklah, udah kenyang kok hehe," jawabku berbohong.


"Maaf ya."


"Nggak apa-apa."


Lambungku yang besar sepertinya tidak cukup jika hanya memakan daging saja. Aku masih lapar, karena telah terbiasa memakan nasi. Berbeda dengan Celvin si anak keju. Namun, aku tidak sebodoh itu untuk jujur.


Beberapa saat kemudian, sampailah kami di kantor. Aku dan Celvin segera turun dari mobil miliknya. Lalu kuikuti langkahnya untuk masuk kedalam gedung kantor. Kami berjalan menuju ruangan kami.


Setelah sampai, aku duduk di mejaku dan memilah hasil perundingan Celvin dan Riska. Aku juga mendapat tugas dari Celvin untuk menyampaikan suatu hal pada masing-masing ketua divisi termasuk Mita.


Sebal memang, tapi apa mau dikata. Sudah kewajibanku.


Kuturuti perintah Celvin. Aku keluar lagi dari ruanganku. Lagi-lagi aku membawa berkas yang membosankan.


Aku menghampiri sang ketua divisi satu demi satu. Kusampaikan dengan baik semua arahan dari Celvin kepada mereka.


Beruntungnya Mita sedang tidak ada. Kutaruh berkas tersebut di mejanya. Lalu kutulis memo tentang isi informasiku padanya pada sebuah kertas kosong. Anggap saja, aku sedang membalas dendam seperti apa yang ia lakukan padaku.


Aku menatap ruang kerja lamaku yang tidak jauh dari ruang kerja Mita. Rindu rasanya, aku selalu sibuk disana sampai tak mendengar hinaan orang lain terhadapku. Aku teringat bayangan Mita yang selalu mencaciku secara halus ditempat itu. Nike dan Tomi yang selalu menungguku, apalagi sudah beberapa hari ini kami jarang bertemu.


Setelah itu, aku buru-buru kembali. Karena tidak ingin berdebat dengan Mita jika sampai ia kembali sebelum aku pergi.


Fokusku terarah pada komputer di hadapanku. Banyak pekerjaan yang tak bisa kujelaskan secara detail, sedang kuburu sekarang. Karena, kembali telat, mau tak mau aku harus tancap gas.

__ADS_1


Tengkuk yang terasa kaku sampai mata yang terus terkantuk terus menggangguku. Semua harus kutahan sampai pulang. Aku tidak ingin lembur. Entah berapa kali, orang masuk kedalam ruangan ini untuk meminta tanda tangan Celvin. Aku tidak ada waktu memperdulikan hal tersebut, bahkan Mita sekalipun.


Sebenarnya, aku ingin segera bertemu mas Arlan. Apalagi nanti akan dijemput olehnya. Rasanya tidak sabar.


Detik demi detik, menit demi menit, semua bergabung menjadi satu menjadi sebuah jam. Waktu terus berjalan, tinggal setengah jam lagi. Aku bisa pulang.


"Finally!" ujarku dengan keras.


"Apanya?" tanya Celvin.


"Nggak kok hehe."


"Udah beres ya?"


"Udah Pak, anu maksudnya Vin."


"Bisa bawa sini?"


"Bisa."


Kumasukkan hasil kerja kerasku kedalam sebuah flashdisk. Lalu membawanya pada Celvin.


"Ini," kataku.


"Makasih ya Fann, tapi ini baru rencana kita dulu sama Riska. Karna belum ada perhitungan lebih matang lagi soal proyek baru nanti."


"Iya Pak."


"Oke Bu."


"Hehe... Maaf Vin, kagok."


"Yaudah, masih setengah jam lagi, istirahat dulu."


"Mau beres-beres meja dulu."


"Nggak usah biar office boy aja."


"Tapi kan-"


"Nggak apa-apa Fanni."


"Yaudah deh, kan jadi enak."


"Duduk sini dulu."


"Emm... ambil ponsel dulu."


"Oke."


Aku kembali pada meja kerjaku guna mengambil ponselku. Tak lupa kurapikan mejaku sebelum kembali menghampiri Celvin.


Memang benar ia mengatakan bahwa aku tidak perlu merapikannya dan biarkan office boy saja. Aku hanya merasa kurang jika tidak melakukannya. Lagipula hanya berberes kecil, mengapa harus manja. Daripada tidak enak dipandang, mending segera dibenahi.


Setelah selesai, aku kembali menghampiri Celvin. Kemudian duduk di kursi yang berseberangan dengannya.


"Ngeyel ya Fanni," katanya.


"Nggak enak aja Vin," jawabku.


"Iya sih kalau udah terbiasa."


"Nah, betul. Terus suruh ngapain?"


"Dengerin curhatku lagi."


"Oh... oke dengan senang hati."


Kupasang telingaku baik-baik dan bersiap mendengar dogeng seputar hidup Celvin. Aku tidak ingin melewatkan sejengkal kata pun darinya. Semua itu untuk mengobati rasa penasaranku.


Celvin pun begitu, ia mengepalkan kedua telapak tangannya diatas meja. Ia beberapa kali menghembuskan napas berat sebelum berucap. Sampai aku tidak bisa berkata-kata. Netra cokelatnya, kembali sendu. Ada sisi sedih di hatinya. Mungkin saja, itu hanya dugaanku.


"Kamu tau Fann?" tanya Celvin padaku.


"Enggak," jawabku.


"Ini pertama kalinya aku curhat, dan itu sama kamu."


"Iyakah?"


"Iya. Sampai sekarang aku nggak tau gimana perasaan Papa yang sebenarnya sama aku Fann, aku dikirim ke Amerika saat itu. Mamaku hilang entah kemana tanpa kabar, adikku juga dibawa beliau."


"Dibawa siapa maksudnya?"


"Mama, aku emang banyak duit Fann. Papa nggak pernah pelit ngasih aku segala macam materi, sampai aku kalap."


"Emm..."


"Aku mantan bad boy, ketemu Riska lalu kami jadian."


"Jadi bener ya?"


"Soal?"


"Bahwa Pak Celvin eh maksudku kamu mantan pacar Nona Riska? Aku denger dari Ivan."


"Iya, kami putus karna ada hal yang bikin dia takut sama aku saat itu."


"Hal apa Vin?"


"Aku... aku bad boy, mantan pembully jahanam, aku pernah bunuh orang."


"A-pa Celvin ma-maksudnya?"


Pembully? Pembunuh? Benarkah? Merinding. Badanku gemetar seketika, kupikir Celvin hanya bercanda. Namun, raut wajahnya mengatakan tidak.


Sebagai manusia yang pernah dibully, sekarang ini aku sangat takut. Semua yang diucapkan Celvin seolah tak bisa dipercaya. Bagaimana mungkin itu terjadi? Pria selembut dia?


Bersambung guys...


Ayo dong likenya, masa' nggak nyampe ke angka 100. Udah up tiap hari nih, 😔😔

__ADS_1


Hayolah say, gratis lho. Nggak bakalan ngabisim kuota juga kok, padahal statistiknya banyak yang baca loh, tapi jempolnya pada nggak keliatan deh. hmmmm.... hmmm... hmmm 😌😌


TULIS KOMENTAR KAMU MENGENAI KARAKTER FANNI YAAA,, Baik buruknya


__ADS_2