
Bedug mahrib sebentar lagi akan terdengar dengan iringan azan yang sangat merdu. Aku, ibuku dan Bi Onah sudah selesai dalam mempersiapkan hidangan buka puasa. Mas Arlan sibuk membuat es buah, Selli pun ikut memasukkan buah-buahan ke dalam wadah yang sudah di tentukan. Lalu, tidak jauh dari kami, ada si kecil yang berada di dalam kereta dorong khusus bayi.
Puasaku lancar sampai bedug akan terdengar, meski aku tidak tahu diterima atau tidak. Mengingat siang tadi, aku benar-benar emosi dan kalap kepada Celvin. Dan untuk masalah itu, aku sama sekali belum mengatakan apapun kepada Mas Arlan atau siapapun yang berada di sini. Hari ini, ibuku dipaksa berbuka bersama kami karena Mas Arlan yang menginginkan. Yah, meski beliau sering mengeluh tentang keluarga besarku yang berada di rumah, tanpa ibuku mereka akan menyantap apa. Belum lagi Kak Febi masih sibuk mengurus si Pandhu kecil--Dany.
"Udah sih, Ma. Enggak apa-apa, sekali-kali, lain kali aku sama Fanni yang pulang ke sana," ujar Mas Arlan. Mungkin ia menyadari kecemasan yang melanda hati ibuku.
Ibuku menghela napas dalam. "Enggak biasa aja, Lan. Papa-mu juga masih sibuk di toko, makan apa dia kalau Mama enggak kirimin menu buka puasa?"
"Beres itu, Ma. Arlan udah kirim sama dua pengawal tadi."
Duh!
"Oh iya, pengawal tadi siapa dan buat apa di sini?"
"Kata Fanni, biar jagain takut ada orang jahat. Pas Arlan enggak di rumah kan, enggak ada laki-laki di sini."
Ibuku menghela napas. "Makanya jangan lagi-lagi kayak gitu, apa pun dipikir dulu. Istri kamu di rumah sama anak-anak doang, Bi Onah juga perempuan. Kalau ada apa-apa gimana? Heran saya, istri siapa yang jagain siapa."
Mas Arlan menelan saliva seketika. "Iya, Ma, iya. Maaf, Arlan enggak ulangin lagi. Tadi kan udah diomelin, masa' sekarang masih?"
"Biarin, biar kamu inget. Boleh bantuin saudara, tapi ya keluarga dulu dipikirin. Untung kamu pulang, kalau hari ini masih enggak pulang, Mama bawa mereka semua!"
"Jangan dong, Ma. Arlan nanti sama siapa?"
"Itu sih urusan kamu. Mau berbuat enggak dipikir dulu. Tadinya saya emang setuju, tapi pas lihat Fanni kewalahan, mana ada saya tega. Awas aja kalau begitu lagi!"
"Hmm ... enggak, Ma."
Aku hanya tertawa pada saat ibuku mengomeli Mas Arlan. Padahal beberapa saat yang lalu setelah aku pulang, Mas Arlan bercerita banyak perihal kekesalan yang dilontarkan oleh ibuku. Nyatanya semua yang sudah dikeluarkan tadi siang, tidak lantas membuat ibuku puas. Sehingga, beliau memarahi Mas Arlan lagi dan lagi.
Untuk dua pengawal itu, sebenarnya mereka masih berada di sini. Ketika Mas Arlan bertanya, aku hanya beralasan sesuai denga. yang ia katakan kepada ibuku. Masalah Ivan, aku tidak ingin ikut campur lagi. Terserah Riska saja, aki sudah tidak peduli. Gegabah diriku, pada saat mengajak bicara Ivan. Jika tidak seperti itu, mungkin aku tidak merasa kesal, bahkan sampai bertengkar dengan Celvin.
Sampai tidak lama kemudian, bedug maghrib terdengar. Beruntung, Sella tidak sedang menangis. Aku bisa ikut serta dalam buka bersama. Riuhnya tidak terkira, pada saat Selli merengek kepada sang ayah. Belum lagi ibuku yang tidak hentinya berbicara, tentang hal yang menurut beliau salah. Aku hanya tertawa tanpa memikirkan beban hati bekas kejadian tadi siang. Kesegeran es buah buatan Mas Arlan, juga mampu membuat tenggorokan bahkan seluruh badan menjadi segar. Bayangkan ketika ada irisan melon, apel, semangga, anggur dan beberapa buah lainnya bersatu bersama sirup dan susu, belum lagi es yang berlimpah. Sedap!
****
"Kamu hati-hati di rumah, Mama mau pulang dulu. Enggak enak kalau kelamaan, kasihan Febi," ujar ibuku kepadaku sebelum masuk ke dalam mobil.
Aku mengecup punggung telapak tangan beliau. Setelah itu berkata, "iya, Ma. Hati-hati di jalan, salam sama orang rumah."
"Mas langsung berangkat ke masjid ya, Dek? Bawa Selli mau ikut nih, udah di dalem." Sembari membukakan pintu mobil untuk ibuku, Mas Arlan berpamitan kepadaku.
Aku mengangguk pelan. Sama halnya terhadap ibuku, aku mengecup pungung tangan Mas Arlan. "Hati-hati di jalan, Mas. Bawa mobilnya jangan ngebut, ada orang tua sama si bocil centik," jawabku.
"Iya, Sayang. Kamu kalau ngantuk tidur duluan enggak apa-apa, yang penting salat isya' dulu. Tarawih nyampe jam setengah sembilan kayaknya di tempat Mama."
"Iya, Mas."
Mas Arlan tersenyum, terakhir ia mengecup keningku. Setelah itu, ia masuk pada ruang kemudi. Perlahan mobil hitam itu, dilajunya untuk mengantarkan ibuku pulang. Kini aku hanya sendiri di teras rumah. Para penjaga masih ada. Setelah mobil Mas Arlan benar-benar hilang dari pandangan mata, aku masuk ke dalam.
"Udah berangkat, Bi. Bibi siap-siap tarawih dulu, enggak apa-apa," ujarku kepada Bi Onah sembari mengambil alih Sella dari gendongan beliau.
"Tapi, Mbak Fanni di rumah sendiri enggak apa-apa?" Bi Onah merasa khawatir karena itu. Membuatku tersenyum dan sedikit haru saja.
"Enggak apa-apa, Bi. Ada bodyguard hihi. Aneh ya?"
"Hehe ... iya, Mbak. Macam orang konglomerat."
"Istri dari mantan konglomerat, Bi. Tapi belum ngerasain." Aku terkekeh.
__ADS_1
"Ya, nggak apa-apa, Mbak. Yang penting cintanya melebihi harta konglomerat."
"Eh?! Tahu ya, cinta-cintaan?"
"Banyakan, nonton sinetron, Mbak. Ya udah, Mbak. Bibi mau siap-siap dulu."
Aku mengangguk pelan. "Iya, Bi."
Bi Onah berlalu menuju belakang, mungkin mengambil air wudu untuk ibadah tarawih. Sedangkan aku, aku menuju ke lantai dua bersama bule kecilku. Satu persatu anak tangga aku tapaki. Hingga di ujung atas sana, aku sampai.
Thing thong! Tiba-tiba suara bel pintu berbunyi. Aku terdiam sejenak, siapa gerangan yang datang ke rumah ini. Bahkan di waktu yang mendekati isya'. Jika orang asing, tidak mungkin dibiarkan masuk begitu saja oleh dua orang bodyguard itu. Tampaknya memang seseorang yang aku kenal.
Aku menghela napas dalam terlebih dahulu, setelah itu aku hembuskan kembali. Niat ingin masuk ke dalam kamar, kini aku batalkan. Aku kembali berjalan menuju bawah, tepatnya pada pintu utama yang tengah terdengar bel yang ditekan beberapa kali.
"Siapa, Bi?" tanyaku kepada Bi Onah yang ternyata membuka pintu itu, meski sudah memakai mukena. Juga membawa sajadah di tangan beliau.
"Non Riska, Mbak," jawab beliau.
"Riska?"
Bi Onah menganggukkan kepala. Berikut, beliau keluar dan Riska masuk ke dalam. Aku menghela napas lagi, untuk kesekian kalinya. Menatap Riska kali ini, rasanya begitu malas. Meski sebenarnya, Celvin yang lebih bersalah. Namun bukan berarti aku mengusirnya pergi, bukan?
"Masuk, Ris."
Riska mengangguk. "I-iya, Kak Fanni."
"Duduk aja dulu. Aku mau ambil keretanya Sella."
"Iya, Kak."
Mau apa lagi dia, wei?!
Kuambil kereta dorong milik Sella. Aku meletakkan putriku di dalamnya. Dengan perasaan mau tidak mau, aku kembali menemui Riska. Berharap agar perasaan kesalku segera hilang. Aku tidak ingin seperti ini, bahkan dengan saudaraku sendiri. Namun kalau rasa kecewa, pasti butuh waktu untuk menyembuhkan, bukan? Terlebih, perasaanku terbilang sensitif.
Sebelum kembali, aku membuatkan segelas orange juice yang dingin untuk Riska. Mau kesal seperti apa pun, aku wajib menghargainya sebagai seorang keponakan ipar sekaligus tamu. Meski agak kerepotan, karena harus mendorong Sella, tidak mengapa.
"Ini, Ris. Minum dulu, kamu habis puasa kan tadi," ujarku mempersilahkan Riska sembari meletakkan minuman itu di atas meja tepat di hadapannya.
Riska mengangguk. "Iya, Kak," jawabnya.
"Kenapa malah ke sini? Enggak ke masjid?"
Riska menggeleng. "Aku ada tanggal merah."
"Owalah, begitu toh."
Hanya itu yang bisa aku katakan sebagai basa-basi. Selanjutnya aku diam sembari menunggu ia mulai membicarakan perihal kedatangannya ke rumah ini. Sejak tadi, Riska bahkan tidak menatapku. Ia sering mengepalkan jari jemarinya, sepertinya ada perasaan yang tidak nyaman. Demi menghargai upayaku, ia menyesap minuman yang telah aku buatkan di detik berikutnya.
Rasa canggung kian menyusup di antara kami berdua. Sunyi, hanya ada suara helaan napas yang entah dariku ataupun Riska, bahkan Sella. Anak buleku memang tidak sedang tidur, melainkan asyik bermain mainan yang dipasang pada keretanya. Ia tidak rewel sama sekali, seolah mengerti akan keadaanku. Siapa ibu yang tidak akan berterima kasih, ketika sang putri seperti ini?
"Kak, Riska ... minta maaf," ujar Riska. Ia masih mengepalkan jari jemarinya. Perihal minta maaf, aku rasa untuk kejadian tadi siang.
"Iya, aku maafin kok," jawabku tanpa ina-inu lagi. "Tapi jujur, aku masih sebel."
"Aku yang bersalah, karna menolak ajakan Celvin untuk bicara. Apalagi di jam kerja yang masih berjalan."
Aku beralih memandangnya, setelah asyik menatap Sella. Aku hela napas sebanyak mungkin, rasanya oksigen bisa habis ketika sering aku hela. Namun tentu tidak, karena ionnya yang begitu banyak. "Riska, apa di antara kalian enggak ada keterbukaan satu sama lain?"
Kali ini, Riska memberanikan diri untuk menatapku. Ia menelan saliva, yang entah untuk menahan perasaan apa. "Kayaknya kurang, Kak," jawabnya. Ia kembali menunduk setelah menatapku.
__ADS_1
"Kurang?"
Riska mengangguk. "Aku udah bikin keputusan. Tapi dengan syarat, bukti dari Kak Fanni ada di aku, Ivan nggak aku jeblosin ke penjara."
"Kenapa Celvin tahu?"
"Papa yang bilang. Aku enggak tahu jelasnya kenapa Papa tahu kasus Ivan. Terus, Papa marah dan telepon Celvin. Papa kecewa karna Celvin nggak bisa jaga aku."
Aku terkesiap. Permasalahan Ivan sudah Mas Gunawan ketahui. Parah sudah, Riska seharusnya berkata jujur dan tidak mengemban masalah itu sendiri. Begini jadinya jika pihak-pihak penting malah mengetahui namun tidak mengerti. Aku pun sudah tidak bisa membantunya lagi.
"Aku enggak ada niat, bela siapa pun ya, Ris. Tapi kejujuran dan keterbukaan itu harus ada di dalam suatu hubungan. Aku tahu kamu ada alasan di balik semua rencana kamu, tapi akhirnya enggak baik, kan?"
"Aku menyesal ...." Suara Riska melemah. Ia seperti sudah menyerah dengan keadaan. Membuat rasa kesalku berangsur menghilang. Kini malah datang perasaan iba.
"Lalu, sekarang Celvin gimana?"
"Dia masih marah, dia bersikeras mau penjarain Ivan, Kak. Bukan hanya karna masalah sekarang, tapi juga masalah di masa lalu. Aku takut, kalau Celvin ketemu Ivan, dia ngamuk lagi."
Rumit sekali. Aku tidak tahu tempramentalnya seorang Celvin itu seperti apa. Namun jika diingat pada kasus bunuh diri dari korban pembulliannya, rasanya tidak main-main jika Celvin sedang marah besar. Apalagi, Ivan pernah menghancurkan hidup Riska meski mereka yang berbuat tidak benar. Belum lagi, karena Ivan juga Celvin harus berpisah dengan Riska selama satu tahun lamanya.
Namun kali ini aku tetap tidak ingin ikut campur. Aku terlalu kapok. Tadi siang, aku sudah disebut sebagai orang yang stress dan gila. Bukan hanya sakit hati, namun juga terbayang sampai sekarang. Parahnya, aku tidak bisa mengeluh kepada Mas Arlan. Karena jika Mas Arlan tahu, aku tidak membayangkan betapa marahnya dirinya. Yang ada semua masalah akan semakin besar.
"Aku enggak bisa bantu kamu lagi, Ris," ujarku sembari menatap Riska yang belum juga mengangkat kepala.
Dia enggak pegel apa, yah?
"Enggak apa-apa, Kak. Aku ke sini, cuma mau minta maaf soal kejadian tadi siang. Aku juga udah upayain agar semua rekan aku bisa jaga privasi."
"Kamu nggak malu?"
Riska terdiam.
"Hmm ... mau gimanapun semua juga udah terjadi. Yah, semoga aja mereka dengerin kata kita, Ris. Aku cuma kecewa aja, kalian enggak profesional malah kayak bocah SMA aja. Kalian kan udah pada tua, dewasa, bentar lagi nikah. Bisa enggak sih, kalau ada masalah dibicarain baik-baik? Saling terbuka satu sama lain, jangan kayak tadi. Ego kalian tuh masih gede banget!"
Duh! Kok gue malah kayak Mama, bawelnya?
Riska mendengarkan omelanku seperti sedang menahan napasnya. Sedangkan aku malah merasa malu setelah mengatakan semuanya. Apa yang aku katakan membuktikan bahwa aku sudah semakin tua dan bawel seperti ibuku. Memang, meski sempat merasa tidak percaya diri, aku tetap akan mendapatkan sifat dari beliau. Dan sepertinya bawel.
"Maaf, aku kayaknya terlalu cerewet, Ris."
Riska menggeleng. "Enggak, Kak. Justru sekarang aku tahu letak kesalahanku karna ucapan Kak Fanni."
"Nggak semuanya salah kamu kok. Celvin juga salah karna gegabah. Aku juga bersalah. Aku minta maaf kalau terlalu ikut campur, Ris. Seharusnya aku nggak begitu."
"Kak Fanni malah membantuku, bukan ikut campur."
"Ya udah, lupain sekarang. Kita bisa saling memaafkan, kan? Apalagi bulan suci ramadan. Besok kamu datangi Celvin aja, bicarain baik-baik."
"Iya, Kak. Emm ... aku juga ada yang perlu dibicarain."
"Oh ya? Soal apa?"
Riska menatapku tajam. Aku tetap setia menunggu ucapannya perihal yang belum aku ketahui. Semoga saja, bukan masalah lagi.
Bersambung ....
Hai, budayakan like+komennya ya.
Aku minta bantuan poin dong, biar merambah naik rankingnya. hehe. boleh kali buat THR aku. ^^
__ADS_1